"Hyung" Jimin mengguncang bahu telanjang Yoongi yang sedang tertidur dengan memeluknya erat, wajah Yoongi bahkan tersimpan didada Jimin.
"Hmm.." suara serak khas bangun tidur Yoongi teredam di dada Jimin.
"Aku mau mandi, hyung. Ini sudah pagi, sebentar lagi Mino pasti bangun, eomma dan appa juga pasti bangun sebentar lagi" Jimin mengelus rambut Yoongi yang malah membuat Yoongi semakin nyenyak dalam tidurnya.
"Sebentar lagi…" guman Yoongi dan mengeratkan pelukannya pada Jimin.
"Hyung, Mino sebentar lagi bangun dan harus mandi. Lepaskan aku" rengek Jimin.
"Iya, sebentar lagi" Yoongi makin menenggelamkan wajahnya didada Jimin yang tanpa pakaian.
"Astaga. Kalau Eomma dan Appa bangun dan melihat kita yang tanpa pakaian seperti ini, aku bisa malu sekali, hyung"
"Kamarnya sudah ku kunci dari semalam, tenang saja" ucap Yoongi tak peduli.
"Hyung, eomma dan appa sebentar lagi akan bangun, aku tidak enak jika belum keluar kamar sebelum eomma dan appa bangun" rengek Jimin lagi.
"Mereka akan mengerti. Tenang saja"
"Hyung!" Jimin melepaskan diri dari pelukan Yoongi dengan paksa dan mendudukan diri ditenpat tidur.
"Pelit sekali, Cuma minta waktu tambahan untuk dipeluk saja tidak boleh" Yoongi protes dan membalikan tubuhnya membelakangi Jimin, tangannya merayap kearah bantal guling yang tidak jauh darinya, memeluk guling itu dan kembali melanjutkan tidurnya.
Jimin terkekeh, mengusap lembut rambut Yoongi dan mengecup pipi pucat itu sebelum beranjak dari tempat tidur untuk mandi.
Saat Jimin hendak membuka pintu kamar mandi, suara Yoongi menghentikan langkah Jimin dan membuat Jimin memerah malu.
"Seksi sekali, nyonya Min" goda Yoongi. Matanya bahkan tanpa ragu menatap lurus pada tubuh Jimin yang tidak memakai apapun ditubuhnya.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Apa? Dengar ya, karena eomma sedang membuatkanmu susu dan appa sedang dibawah, kau ku izinkan memegang jariku. Hanya jari saja" Hyungwon menatap memicing pada Mino yang sedang terbaring ditempat tidur orangtua-nya dan mengarahkan jari telunjuknya untuk Mino genggam.
"Dengar, jangan pikir karena kau ini imut, aku akan ramah padamu" ucapnya lagi dan tetap membiarkan Mino memegang tangannya.
"Oh, dan jangan pikir aku…."
"Huuum…" Mino mengguman dan mengerjab menatap Hyungwon.
"H-huh? Kau pikir aegyo seperti itu mempan untukku?" Hyungwon melotot menatap Mino.
Mino hanya menatapnya polos.
"Tunggu sebentar disini." Hyungwon melepaskan jarinya dan berjalan kearah lemari Chae eomma dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah kotak dengan bungkusan ber-aksen kekanankan Hyungwon letakkan pelan-pelan disamping Mino.
"Aku memberimu hadiah karena terpaksa, oke? Jangan besar kepala" Hyungwon menatap memicing lagi pada Mino. "Pegang tanganku" Hyungwon mengarahkan lagi jarinya kedalam genggaman Mino.
"Hyungwon, Mino tidak menangis, kan?" Chae eomma baru muncul bersama botol susu ditangannya.
"Tidak, eomma."
"Kau menjaga Mino dengan baik ternyata" Chae eomma menggusak rambut Hyungwon dan mendudukan diri diatas tempat tidur dimana Mino terbaring.
"Apa hyung dan Jimin sudah bagun?" Hyungwon bertanya penasaran.
"Jimin hyung" koreksi Chae eomma. " Jimin sedang menemani Appa sarapan dibawah, hyung-mu masih tidur" jelas Chae eomma.
"Oh…" Hyungwon hanya ber-oh ria. "Eomma, boleh aku yang memberikan Mino susu? Tapi ya.. aku tidak terlalu ingin sih, hanya penasaran saja, tapi…"
"Pegang" Chae eomma memberikan botol susu ditangannya pada Hyungwon dan tersenyum lebar melihat anak bungsunya itu.
"Eomma, aku tidak terlalu ingin, tapi kalau eomma memaksa ku untuk memberikan Mino susu, aku bisa apa"Hyungwon mengambil alih botol susu itu dan memberikannya pada Mino.
Chae eomma tertawa menanggapi ucapan Hyungwon, siapa juga yang memaksanya?
"Kau sudah memberikan hadiahmu untuk Mino?" Chae eomma melirik pada bungkusan kotak besar yang ada diatas temat tidur.
"Itu yang pertama dan terakhir" ucap Hyungwon.
Chae eomma kembali tertawa.
"Mino sudah ucapkan terimakasih pada samchon?" Chae eomma menggerakkan tangan Mino kearah Hyungwon.
"Euw.. aku tidak mau dipanggil dengan itu. Panggil aku Hyungwonie, mengerti?" Hyungwon menatap kearah Mino yang sedang sibuk minum susu.
"Gomawo, Hyungwonie…" Chae eomma tertawa dan menggusak rambut Hyungwon.
Selesai minum susu, Mino dibawa turun kebawah bersama dengan Chae eomma dan Hyungwon. Jimin yang melihat Mino turun, berjalan mendekat dan mengambil tubuh Mino untuk digendong.
"Apa kabar, Hyungwon?" sapa Jimin ramah.
"Baik" jawab Hyungwon seadanya.
"Jimin, di kamar eomma ada hadiah dari Hyungwon, tadi lupa dibawa turun" ucap Chae eomma.
"Gomawo, Hyungwon" Jimin tersenyum tulus.
"Hmm" jawab Hyungwon dan berjalan melewati Jimin, kemudian duduk disamping Appa-nya yang sedang makan.
"Yoongi belum bangun juga?" Chae eomma merangkul pinggang Jimin dan berjalan kearah meja makan.
"Belum eomma. Sebentar lagi akan ku bangunkan" Jimin memperbaiki gendongannya ditubuh Mino.
"Berikan Mino padaku, dan bangunkan suami-mu" Hyungwon berucap ketus dan tangannya bergerak seperti meminta Mino ke gendongannya.
Jimin melirik kearah Appa dan Eomma Chae bergantian sebelum memberikan Mino pada Hyungwon.
"Ne" jawab Jimin akhirnya dan menyerahkan Mino pada Hyungwon.
.
.
.
"Hyung, bangun" Jimin mengguncang pelan bahu Yoongi yang masih saja tertidur. Jam sudah menunjukan pukul Sembilan pagi, tapi namja pucat ini masih enggan bangun dari tidurnya.
Yoongi bergerak merenggangkan ototnya dan duduk ditempat tidur, matanya terlihat menyipit karena cahaya matahari yang sudah masuk kekamar setelah Jimin membuka tirai jendela.
"Jam berapa sekarang?" Yoongi menggusak rambutnya dan memperhatikan Jimin yang sedang mengaitkan tali pada gorden jendela.
"Sembilan. Eoma, appa dan Hyungwon sedang sarapan, cepat bangun" Jimin bergerak kearah tempat tidur dan merapikan rambut Yoongi yang berantakan.
Yoongi hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Hyung mau kopi hitam atau teh?"
"Kopi saja"
"Ya sudah, cepat mandi. Aku menunggu di meja makan" Jimin mengecup pipi Yoongi dan berjalan keluar kamar.
Setelah Jimin pergi, Yoongi terdiam dengan mata terpejam beberapa menit. Setelah kesadarannya terkumpul, Yoongi baru ingat kalau semalam Stella membuat ulah, dengan gerakan cepat, Yoongi mengambil ponselnya dan mengernyit heran saat tidak ada laporan apapun yang masuk ke ponselnya.
"Jackson, beritahu aku dimana keberadaan Stella. Lacak ponselnya" Yoongi akhirnya menghubungi Jackson karena penasaran.
Tidak sampai dua menit, Jackson sudah mengirimkan letak keberadaan Stella. Stella masih di Busan, tepatnya dirumah Yongguk.
"Kau dimana?" Yoongi berucap tanpa basa-basi saat teleponnya diangkat Stella.
"Ditempat penitipan" jawab Stella acuh.
"Kemana kau semalam?"
"Berpesta."
"Apa maksudnya kau mengirim foto seperti itu? Dan kau bahkan belum sembuh! Bisa-bisanya kau pergi berpesta" geram Yoongi.
"Bosan, stupid. Kau pikir aku tidak mati bosan hanya melihat laut dikamarnya"
"Jangan membuat masalah, atau aku akan memberitahu papa"
"Cerewet. Kau bukan tuan Choi yang harus ku patuhi. Sudah, aku ingin mandi" Stella menutup sambungan teleponnya sepihak.
Yoongi memutar bola matanya kesal. Sial sekali, Stella hanya bermain dengan mengirim gambar seperti itu.
Yoongi berjalan keluar kamar setelah selesai mandi dan berpakaian. Dia duduk disamping Jimin yang sedang sarapan roti dengan Mino dipangkuannya.
"Hyung, pegangkan Mino sebentar. Aku akan membuatkan hyung kopi" ucap Jimin.
"Tidak perlu, Jim. Suruh pelayan saja" Chae eomma menahan gerakan Jimin.
Jimin melirik pada Yoongi dan hanya mengangguk untuk setuju. Tangannya bergerak mengambil tubuh Mino dari pangkuan Jimin dan mengecup pipi anaknya itu berkali-kali.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Yoongi tanpa melihat kearah Hyungwon sama sekali.
"Baik-baik saja." Hyungwon yang merasa pertanyaan itu tertuju padanya, menjawab seadanya.
"Baguslah. Berapa lama kau akan disini?"
"Tiga minggu" Hyungwon memasukan potongan roti ke mulutnya. "Hyung, Wonho…"
"Dia sibuk. Tidak bisa menemanimu lagi" potong Yoongi tegas dan membuat Hyungwon merengut sedih.
Jimin yang melihat perubahan diwajah Hyungwon langsung memegang paha Yoongi dan menatap suaminya itu yang sedang sibuk bermain dengan Mino. Dan Yoongi tidak mempedulikannya.
"Tapi Wonho bisa menemanimu setiap Weekend. Iya kan hyung?" Jimin meremas pelan paha Yoongi dan membolakan matanya.
"Kata siapa?" Yoongi mengernyit menatap Jimin.
"Kataku barusan" Jimin menatap lurus pada mata Yoongi.
"Hyungwon, Wonho sudah sibuk bekerja sekarang, dia tidak bisa menemanimu jalan-jalan" Chae appa menggusak rambut Hyungwon.
"Wonho tidak sesibuk itu, Appa. Dia pasti bisa meluangkan waktu untuk menemani Hyungwon" potong Jimin.
"Kata siapa?" Yoongi menatap lurus pada Jimin.
"Kataku, hyung. Aku barusan bicara" Jimin berucap gemas.
"Kami sedang sibuk untuk pembukaan club baru, sayang. Semalam itu hari terakhir Wonho bisa bersantai. Iya, kan Mino?" Yoongi mengelus kepala anakknya yang bersandar dibahunya.
"Hyuuunng…" Jimin berbisik gemas. Matanya melirik-lirik pada Hyungwon yang sudah kehilangan selera makannya. "Satu hari saja… berikan Wonho izin.." bisik Jimin pelan.
"Kenapa harus?" Yoongi balas menatap Jimin. "Tidak ada untungnya bagiku"
Jimin melirik lagi pada Appa, eomma dan Hyungwon yang sedang sibuk dengan makanan masing-masing dan mendekatkan tubuhnya pada Yoongi untuk berbisik. "Aku milikmu nanti malam" bisik Jimin cepat.
Yoongi menyeringai. "Call."
"Licik sekali" Jimin memukul pelan bahu Yoongi.
Yoongi tersenyum lebar. "Mungkin nanti sore Wonho bisa menemanimu lagi jalan-jalan" ucap Yoongi.
"Benarkah?" raut wajah Hyungwon berubah ceria dalam sekejap. Jimin tersenyum hangat melihatnya.
"Ne. terimakasih pada Jimin. Dia berkorban untukmu" ucap Yoongi cuek. Karena ucapan yoongi, Jimin jadi ditatap dengan tatapan bingung oleh Hyungwon, Appa dan Eomma Chae.
"Gomawo, Jim" Hyungwon tersenyum kecil.
"Jimin lebih tua darimu." Tegur Yoongi.
"Aku tau" Hyungwon memutar bola matanya. "Gomawo Jimin hyung"
.
.
.
"Boss bilang, aku harus menemanimu jalan-jalan lagi" Wonho berdiri disamping mobilnya, berhadapan dengan Hyungwon yang baru saja keluar dari rumah dengan tangan terlipat di dada.
"Perlu kau ingat, kalau aku dipaksa olehnya!" Hyungwon berjalan angkuh melewati Wonho menuju pintu samping tempat penumpang. "Yah, buka pintunya" ucap Hyungwon.
"Oh, ne" Wonho menekan tombol unlock pada kunci mobilnya. Tanpa bicara apapun, Hyungwon langsung masuk mobil dan duduk dikursi penumpang.
Keduanya berjalan meninggalkan halaman rumah keluarga Chae. Dalam perjalanan, sesekali Wonho melirik kesampinya, Hyungwon sedang menatap keluar jendela disampingnya. Anak manja ini tidak banyak berubah ternyata. Dia masih ketus dan seenaknya kalau bicara.
"Kita mau kemana?" Wonho akhirnya buka suara saat mobilnya sudah masuk kejalan besar.
"Kemana saja"
Wonho berkedip bingung. Dia tidak tau harus membawaa Hyungwon kemana. Selama ini dia hanya menuruti kata-kata Hyungwon. Biasanya, Hyungwon yang mengarahkan kemana mereka akan pergi.
"Ada sesuatu yang ingin kau beli atau ingin makan sesuatu?" Tanya Wonho lagi.
"Pergi ke pusat jajanan kaki lima saja" putus Hyungwon.
"Myeongdong?" Wonho bertanya untuk memastikan.
"Ne"
Sampai disana, Wonho dan Hyungwon berjalan bersisian dengan sedikit jarak diantara mereka. Banyak orang lalu lalang dan kebanyakan adalah para muda-mudi dan turis. Hyungwon melirik ke kiri dan kanan dimana ada banyak gerobak jajanan berjejer. Sudah lama sekali rasanya Hyungwon tidak membeli jajanan disini.
"Ingin makan apa?" Tanya Wonho sambil melihat pada Hyungwon yang masih sibuk menentukan jajanan apa yang lebih dulu ingin dia coba.
"Aku ingin semuanya" ucapnya pelan.
"Kau yakin? Perutmu bisa pecah kalau makan semua" Wonho tertawa kecil.
"Wonho Oppa!"
Hyungwon yang lebih dulu berbalik saat mendengar nama Wonho dipanggil. Disana berdiri seorang gadis yang berpakaian lucu dengan rok mini dan kaos yang dimasukkan kedalam rok.
"Ternyata benar. Astaga, kita kemarin bertemu di club. Ingat denganku?" ucap gadis itu senang dan berdiri membelakangi Hyungwon yang terdiam kesal.
"Yang mana ya?" Tanya Wonho bingung dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kemarin aku duduk disampingmu, Oppa. Aku yang menuangkan minuman untukmu" ucapnya ceria.
"O-oh, itu kau" ucap Wonho gugup saat dilihatnya mata Hyungwon yang menajam melihatnya.
"Ne. ingat kan? Oppa sedang apa? Ayo ikut aku minum" gadis itu menarik tangan Wonho.
"T-tapi…"
"Pergi saja, aku bisa sendiri" Hyungwon berjalan menjauh membuat Wonho menjadi panic. Akan sulit untuknya menemukan Hyungwon dikeramaian seperti ini. Hal ini makin rumit karena gadis itu tidak juga melepas tangan Wonho.
"Ayo oppa" ajak gadis itu lagi.
Baru sedetik Wonho memalingkan wajahnya dari Hyungwon, Hyungwon sudah menghilang ditengah keramaian.
"Maaf, aku tidak bisa. Mungkin lain kali. Maafkan aku" Wonho buru-buru melepas tangannya dan membungkuk beberapa kali pada gadis itu.
Hyungwon berjalan sendiri, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apapun disana. Dia kesal, tapi tidak mungkin juga untuk mengkonfrontasi Wonho. Memangnya dia siapa? Mungkin kalau Wonho masih jadi bodyguardnya, dia masih bisa mengamuk seperti biasa dan menyeret Wonho bersamanya, tapi keadaan sudah tidak sama lagi.
Hyungwon berhenti ditempat penjual odeng. Membeli beberapa tusuk dan memakannya tidak jauh dari tempat penjual itu. Matanya terlihat kosong menatap jalanan ramai didepannya. Ingatannya kembali berputar saat dirumah. Sesaat sebelum Yoongi dan Jimin pulang ke rumah mereka. Hyungwon tidak sengaja melihat kearah kamar tamu yang tidak terkunci, dimana Yoongi dan Jimin menginap. Tadinya dia ingin mengembalikan botol susu Mino yang tertinggal di kamar orantuanya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Yoongi sedang memeluk Jimin dan belakang.
Saat melihat itu dada Hyungwon berdebar keras. Ada rasa kesal dan iri yang Hyungwon rasa saat melihat Jimin dan Yoongi bermesraan, tapi itu belum apa-apa jika dibandingkan dengan perasaannya sekarang saat Wonho bahkan tidak mau repot-repot mengejarnya. Dia merasa bukan siapa-siapa lagi. Ada perasaan tidak diinginkan saat Wonho tidak mengejarnya seperti sekarang. Hyungwon harus akui, dia merasa sangat sedih.
"Haus…" guman Hyungwon tanpa semangat dan melangkahkan kakinya dari samping gerobak penjual odeng itu.
Hyungwon berhenti ditempat penjual bubble tea yang cukup ramai, mengantri didepan seorang gadis yang sedang menunggu pesanannya selesai dibuat.
"Hyungwon!" Wonho tersenyum lega saat akhirnya menemukan Hyungwon setelah beberapa menit mencari.
"Kenapa kau kemari?" Tanya Hyungwon kesal.
"Mencarimu…" guman Wonho pelan.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri"
Bukannya pergi, Wonho malah tetap berdiri didekat Hyungwon, menunggu pesanan Hyungwon sampai selesai dan berjalan mengikuti Hyungwon kemana pun anak manja itu pergi meskipun dia diabaikan.
"Berhenti mengikutiku!" Hyungwon berbalik dan menatap kesal pada Wonho.
"Kenapa?"
"Aku akan bilang pada Yoongi hyung kalau kau melakukan tugasmu dengan baik. Kau tidak perlu menemaniku lagi. Pergi sana" usir Hyungwon.
"Aku mengikutimu bukan karena perintah dari Yoongi hyung"
"Lalu apa?" tantang Hyungwon. "Kau hanya takut aku mengadu pada Yoongi hyung kan? Padahal jelas sekali kau ingin pergi minum-minum dengan gadis itu" Hyungwon berucap sarkas.
Wonho memilih diam. Percuma dia menjawab, pada akhirnya mereka akan bertengkar seperti biasa.
"Aku benar, kan?" Hyungwon menatap remeh pada Wonho.
"Sebenarnya kau ingin aku bagaimana? Kau ingin aku pergi? Aku tau kau terpaksa ku temani" Wonho menghelan nafas lelah.
"Ya sudah, pergi sana!" Hyungwon mengamuk dan berjalan meninggalkan Wonho.
Terlalu lama bersama Hyungwon membuat Wonho paham kalau Hyungwon itu memiliki gengsi selangit. Hyungwon tidak akan menjatuhkan harga dirinya hanya untuk meminta seseorang bertahan disampingnya, maka dari itu, Wonho tetap berjalan mengikuti Hyungwon dibelakang anak anak manja itu.
"Tunggu" Wonho akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan Hyungwon untuk pertama kalinya. "Aku minta maaf"
Hyungwon berhenti berjalan dan menatap kearah Wonho. "Aku mau pulang…"
"Oke, kita pulang" ucap Wonho mengalah.
"Ke apartemenmu"
"Mwo?"
.
.
.
"Ada apa dengan topeng mini mouse mu itu, nona perkasa?" Yongguk terkekeh dan menggeleng melihat topeng yang Stella kenakan.
"Dengar Asshole number two, sekalipun ingin membuat kekacauan, aku harus tetap tampil feminim" ucap Stella cuek dan berjalan turun dari mobil Yongguk.
Yongguk tertawa dan ikut turun dari mobil. Mereka sudah sampai di parkiran basement sebuah hotel. Ada seorang anak pengusaha yang sedang mengadakan pesta ulang tahun dengan tema pesta topeng, dimana anak Yakuza yang menembak mereka juga berada di pesta ini.
"Baiklah, my queen" Yongguk tertawa dan mengokang pistol miliknya. "Siap untuk berpesta lagi malam ini?" Yongguk menawarkan siku tangannya untuk Stella gandeng.
"Yes,servant" Stella mengokang pistolnya dan menyembunyikkannya dipaha. "Ayo berpesta" Stella berjalan menuju pintu kaca dan meninggalkan Yongguk dibelakangnya.
"Oke, baiklah. Belum jinak ternyata" Yongguk terkekeh dan berjalan dibelakang Stella.
Keduanya sudah sampai di aula dimana pesta topeng diselenggarakan. Gaun merah super ketat dengan belahan sampai paha yang milik Stella, melambai-lambai saat tubuhnya berjalan dikerumunan tamu.
Yongguk yang berada disamping Stella memperbaiki letak headset Bluetooth ditelinganya.
"Arah jam dua belas" Yongguk melirik kedepan saat suara seseorang terdengar ditelinganya.
"Jas berwarna maroon" ucap suara itu lagi. Yongguk mengangguk mengerti.
"Kau ingin yang mana untuk di bereskan malam ini?" Yongguk berdiri merapat disamping Stella.
Pesta topeng ini bukan pesta topeng seperti pesta topeng kuno. Kebanyakan mereka mengenakan topeng karakter seperti yang dipakai oleh Stella. Yongguk merasa aneh dengan keadaan pesta ini.
"Anak ini masih 17 tahun?" ucap Stella dengan nada bingung.
"Memang. Tapi jangan Tanya pergaulan miliknya. Dia liar" ucap Yongguk.
"Aku akan memotong Mino kalau dia minta pesta ulang tahun seperti ini di umurnya yang ketujuh belas" Stella berucap remeh.
Yongguk tertawa kencang. "Jadi, yang mana?"
"Yang berjas maroon"
"Itu target utama. Aku yang akan membereskannya" Yongguk mengernyit menatap Stella.
"Yah, aku yang lebih dulu di tembak, jadi aku yang akan membereskannya" Stella menatap tajam dibalik topengnya.
Tidak sampai sedetik setelah ucapan Stella keluar, Yongguk sudah menembak tepat kearah namja ber-jas maroon itu.
"Fu*ck you!" maki Stella saat keadaan pesta ulang tahun itu berubah mencekam. Banyak orang berlari lalu lalang untuk menyembunyikan diri saat suara pistol itu terdengar.
"My pleasure, Queen" Yongguk mengedipkan matanya pada Stella dan berjalan ketengah ruangan, dimana orang-orang sudah membungkuk ketakutan.
Orang-orang milik Yongguk yang sudah lebih dulu berada di pesta itu mengunci pintu masuk dan mengarahkan satu tembakan lagi kelangit-langit aula dan membuat jeritan beberapa perempuan terdengar menyakitkan telinga Stella.
"Shut up, bitch" guman Stella kesal dan berjalan mengikuti Yongguk ketengah aula.
"Ingat aku?" Yongguk membuka topengnya didepan namja berjas maroon saat semua cctv sudah dirusak oleh orang-orang miliknya.
Stella menepuk pelan bahu Yongguk dan menggeser tubuh Yongguk kesamping. Matanya terlihat kelam saat melihat darah yang mengotori lantai dengan namja berjas maroon sedang memegangi perutnya kesakitan, bekas tembakan Yongguk.
"Bukan begitu caranya memperkenalkan diri, Asshole number two" Stella berjalan memutari tubuh namja berjas maroon itu. Saat tepat berada dibelakang namja itu, Stella menodongkan pistolnya dibahu namja itu dan tersenyum manis kemudian belutut dibelakang pria itu
"Ingat tidak kau menembakku dibahu kemarin?" bisik Stella tepat di telinganya.
"Queen, kau membuat darahku naik ke ubun-ubun" Yongguk menatap tak suka kearah Stella yang membiarkan namja itu bersandar ditubuhnya.
"P-pengecut…" ucap namja itu meremehkan.
"Lebih pengecut mana jika dibandingkan denganmu yang berani menembak kami dari jarak jauh, huh?" Stella menarik rambut namja itu hingga bersandar dibahunya.
"Kau membuat malu ayah-mu yang sudah lebih dulu ku masukkan ke dalam neraka" Stella terkekeh. Tanpa aba-aba Stella menembak bahu namja itu dan membuat Namja itu tersungkur dibawah kaki Yongguk.
Stella berdiri dan ada bekas darah di bajunya. "Apa aku juga harus menyeret anak ini sendiri?" Stella menatap Yongguk dengan tenang.
"Kita punya pelayan yang siap mati untuk mu, Queen"
"Oww… so bullshit!" Stella mengelus pipi Yongguk dan tersenyum manis. "Bawakan dia sebagai hadiah untukku kalau begitu, asshole number two" ucap Stella riang.
"Untuk apa?" Tanya Yongguk penasaran.
"Dia harus diajari sopan santun" ucap Stella santai.
"Kalian, bereskan kekacauan ini dan bawa dia kerumah" perintah Yongguk.
"Ah.. dan untuk kalian. Anggap tidak terjadi apa-apa ya. kalau sampai hal ini mucul diluaran, kalian akan bernasib sama dengannya. Paham?" Yongguk tersenyum dan menatap berkeliling ruangan. "Ya sudah, diam kalian akan ku anggap sebagai jawaban kalian paham" putus Yongguk sendiri dan berjalan menikuti Stella yang berjalan keluar ruangan seperti tidak terjadi apapun dibelakangnya.
.
.
.
"Bangun" Stella menumpahkan air diatas kepala namja berjas merah itu. Keadaannya sudah sekarat, tapi Stella seperti tidak mempedulikannya.
"Bagun, nak. Kau harus Mommy beri pelajaran agar kau mengerti caranya menjadi anak yang penurut" Stella menepuk pipi namja itu beberapa kali dan menggesekkan tongkat baseball ditangannya kelantai berdebu dibawahnya.
.
.
.
TBC
