"Iya, aku tidak bermaksud bolos kerja. Nanti aku datang ke club" Wonho memutar bola matanya kesal mendengar omelan Luhan ditelepon.
Wonho berjalan masuk kedalam kamarnya lagi yang terlihat redup, diatas tempat tidurnya, Hyungwon sedang tertidur. Wonho sebenarnya ingin mengantar Hyungwon pulang, tapi dia tidak tega membangunkan Hyungwon yang terlihat tidur sangat nyaman dengan guling dipelukannya.
"Bangunkan… tidak?" Wonho terlihat kebingungan sendiri.
"Aku pasti kena masalah besar kalau dia tidak ku pulangkan" Wonho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Merasa buntu, Wonho menelepon Chae Appa untuk memberitahu keberadaan Hyungwon.
"Tuan maaf menelepon anda selarut ini, ini aku Wonho. Hyungwon, dia ketiduran di apartemenku, b-bisakah tuan mengirimkan supir untuk menjemput Hyungwon ke apartemenku?" ucap Wonho tak enak hati. "Aku harus bekerja malam ini tuan" lanjut Wonho.
"Mwo? Apa tidak apa tuan?" Tanya Wonho memastikan pendengarannya tidak salah. "Baik tuan, besok pagi akan ku antar pulang. Maaf mengganggu tidur anda, selamat malam" Wonho memutus sambungan teleponnya dengan tuan Chae dan menatap Hyungwon yang tertidur diatas tempat tidurnya sekali lagi.
Wonho berjalan mendekat ketempat tidur, memperbaiki posisi selimut Hyungwon dan menggusak rambut Hyungwon pelan. "Aku bekerja dulu. Jangan mengamuk kalau nanti kau bangun masih di apartemenku" guman Wonho pelan dan berjalan keluar kamar.
Saat pintu kamar Wonho terdengar tertutup dari luar, Hyungwon membuka matanya dan terkekeh menang. Dia sudah bagun sejak Wonho meletakkannya diatas tempat tidur. Hyungwon hanya bingung harus seperti apa dia bersikap di depan Wonho saat sedang berduaan, jadi Hyungwon memilih pura-pura tidur saja.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
Bugh!
Satu pulukan dari tongkat baseball di tangan Stella mendarat di wajah samping namja berjas maroon itu.
"Apa ibu-mu tidak pernah mengajarimu sopan santun pada yang lebih tua, huh?" Stella menarik rambut namja itu hingga mendongak dan tersenyum manis padanya. "Sakit?" Tanya Stella pura-pura khawatir.
"S-sakit…" namja bernama Kenta itu merasa telinganya berdenging keras sekarang akibat pukulan yang diterimanya.
Tak jauh dari Stella, Yongguk sedang duduk sambil menghisap rokok. Memperhatikan bagaimana Stella melampiaskan kekesalannya pada pria yang berlutut di depan Stella itu.
"Anak yakuza manja sepertimu lebih baik mati saja" ucap Stella merasa iba. "Kau hanya berlindung pada para bodyguard sampahmu itu. Miris sekali" ejek Stella.
"Katakan, kau ingin segera selesai atau kau masih ingin bertahan? Pistol atau tongkat baseball?" Stella mendudukan diri didepan Kenta dan menatap lurus pada mata yang setengah tertutup karena darahnya yang menetes dari kepala sudah turun kewajahnya.
"Keduanya sama saja, dengan pistol, kau hanya akan merasakan sedikit terkejut dan kemudian kau akan kembali ke rumah Tuhan, jika pakai tongkat, kau bisa menikmati setiap detik dari kematianmu, ini hanya soal waktu saja" Stella merobek gaunnya dan menggunakan robekan itu untuk membersihkan darah yang menetes diwajah Kenta.
"Kau tampan juga" Stella terkekeh.
"Aku mendengar ucapanmu, Queen" Yongguk menyahut dari belakang punggung Stella.
"Shut Up! Asshole number 2" Stella memutar bola matanya kesal.
"Kau… kau akan habis sebentar lagi" Kenta tersenyum sinis menatap Stella.
"Aku takut sekali" Stella menutup mulutnya berpura-pura ketakutan.
"Bodyguardku akan datang kesini dan kalian akan hancur!" ucap Kenta susah payah.
"Listen to mommy, kid…."
"Boss, ada yang menyerang" seorang pekerja Yongguk muncul dengan wajah panic.
"Giring mereka kesini." Yongguk berdiri dan mengokang senjatanya. "Siap untuk pesta darah, Queen?"
Stella berdiri dan tersenyum senang. "Peliharaanmu benar-benar datang ternyata" Stella tersenyum senang. Tidak ada sedikitpun raut ketakutan terlihat diwajahnya.
"Perhatikan bagaimana Mommy mengirim sampah-sampah masyarakat milikmu itu ke rumah Tuhan, nak" Stella mengedipkan matanya dan merobek kembali gaunya dan membuatnya bergerak lebih leluasa.
Suara tembakan terdengar bersahutan diluar ruangan, Stella melepas sepatu miliknya dan meleparnya tepat kewajah Kenta dan membuat hidung namja itu berdarah.
"Oops" Stella tertawa dan berjalan kearah Yongguk.
"Ini akan melelahkan" Yongguk tersenyum senang melihat Stella yang sudah berdiri disampingnya.
"Dasar lemah. Kau bisa bersembunyi kalau kau mau" ejek Stella.
Yongguk mendengus dan tertawa keras. "Kau membuatku semakin semangat. Kencan denganku jika aku selesai menghabisi mereka semua?" tawar Yongguk.
Stella melirik dan tertawa sinis. "Teruslah menjadikanku objek fantasi seksualmu, Asshole number two. Aku tidak tertarik berkencan denganmu"
Tepat setelah Stella menolak mentah-mentah Yongguk, Stella melepaskan satu tembakan dan mengenai kepala salah satu Bodyguard milik Kenta berkedip bingung.
"Pesta dimulai, Asshole number two" Stella berjalan menuju pintu dan berhadapan langsung dengan berhadapan langsung dengan segerombolan pria berpakaian super formal.
"Siap bertemu dengan Tuhan, tuan-tuan?" Stella menyambut mereka dengan ramah dan suara tembakan kembali bersahutan dilorong menuju gudang tempat Kenta berada.
Yongguk yang sudah sadar dari keterpanaannya, berkedip dan menyusul Stella yang lengannya sudah berdarah terkena tembakan. Gadis itu bahkan masih sanggup memegang pistolnya dengan kokoh sekalipun tangannya terluka. Tanpa berpikir panjang lagi, Yongguk membereskan sisa kekacauan yang ada. Lorong gudang itu penuh darah, banyak mayat tergeletak disana.
"Boss…" salah satu pekerja Yongguk muncul dan menatap menganga melihat banyaknya orang tergeletak di lorong gudang.
"Buang semua sampah ini ke laut dan masukkan batu kedalam kantung mayatnya. Aku tidak ingin mereka muncul lagi kepermukaan" perinta Yongguk dan menggendong Stella saat wajah gadis itu mulai memucat karena banyaknya darah yang keluar dari lengannya.
"Dan anak itu, benamkan dia di laut hidup-hidup" Yongguk berucap dingin dan meninggalkan gudang rumahnya yang sangat mengerikan.
.
.
.
Jimin mengernyit heran saat lagunya terdengar samar-samar didalam rumah. Jimin melangkahkan kakinya ketangga dan tersenyum hangat melihat Yoongi dan Mino yang sedang menonton video klip Jimin yang terkakhir. Keduanya terlihat serius dan Jimin tertawa kecil melihatnya.
Mino yang duduk dipangkuan Yoongi terlihat serius menatap televise, begitu juga dengan Yoongi yang terlihat berwajah datar.
"Papa tampan sekali ya…" Jimin memuji dirinya sendiri dan berhasil mengalihkan perhatian Yoongi dan Mino.
"Kau terlihat imut disini" Yoongi menunjuk layar TV yang memutar MV Jimin.
"Imut bagaimana?" Jimin memutar bola matanya dan mengambil Mino dari pangkuan Yoongi.
"Kau dan selimut kuning dan kucing dan teleskop." Yoongi menjelaskan.
"Appa terpesona?" Jimin menaik turunkan alisnya.
"Aku suami yang beruntung sekali" Yoongi gantian menaik turunkan alisnya dan membuat Jimin merona malu.
"Yah! " Jimin memukul bahu Yoongi pelan.
Yoongi terkekeh, merentangkan tangannya dibahu Jimin, mengusap pelan bahu Jimin dan mengecup kepala samping Jimin. "Kau luarbiasa" puji Yoongi.
"Hyung pasti ada maunya!" Jimin menatap memicing dengan wajah memerah padam.
Yoongi tertawa dan menggusak rambut Jimin sayang. "Lihat papa-mu Mino, kalau tidak dipuji dia minta di puji, sudah Appa puji, Appa dicurigai" adu Yoongi.
Mino hanya menatap kedua orangtuanya polos tanpa ekspresi dan tersenyum lebar saat Yoongi meletakkan kepalanya diatas paha Mino yang berada dipangkuan Jimin. Dengan sigap, Mino langsung menjambak rambut Yoongi pelan, menarik-narik rambut Appa-nya yang terasa geli dipaha kecilnya.
"Mino, tidak boleh menarik-narik rambut Appa seperti itu" Jimin menarik pelan genggaman tangan Mino dirambut Yoongi.
Bukannya menurut, Mino malah menggunakan satu tangannya lagi untuk kembali menarik rambut Yoongi dan berguman kecil dengan senang. Yoongi? Dia tidak keberatan sama sekali, toh tidak sakit.
"Mino, minum susu dulu. Ayo pegang botolnya" ucap Jimin dan kembali menarik tangan Mino dari rambut Yoongi.
"Appa, jangan tiduran di paha Mino, nanti dijambak" Jimin mengelus pelan pipi Yoongi.
"Hmm" jawab Yoongi tak peduli dan tidak beranjak sama sekali.
"Ham hem ham hem" omel Jimin dan menyangga kepala Yoongi dengan tangannya, membuat kepala Yoongi beranjak dari paha kecil Mino.
Yoongi mendudukan diri lagi disamping Jimin dan menatap datar pada Jimin.
"Apa?" Jimin bertanya bingung.
"Lapar" ucap Yoongi polos dan membuat Jimin tertawa kecil.
"Ya sudah, Appa pegang Mino dulu. Mau makan disini apa di meja makan?" Tanya Jimin.
"Disini saja. Aku dan Mino sedang sibuk fanboying" Yoongi berucap dengan wajah datarnya dan membuat Jimin tertawa keras.
"Saranghae, hyung" Jimin tertawa dan mengecup pipi Yoongi.
"Hmm" ucap Yoongi dan kembali sibuk menonton video-video Jimin.
Saat sedang sibuk menonton, Chae Appa dan Chae eomma muncul diujung atas tangga, tersenyum kecil melihat kegiatan ayah dan anak itu yang sedang sangat serius menonton Jimin di TV.
"Kalian lucu sekali" komentar Chae eomma dan mendudukan diri disamping Yoongi.
"Eomma, Appa, kenapa tidak bilang dulu mau datang?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Kami kesini ingin mengunjungi cucu kami" tuan Chae tersenyum dan mendudukan diri di sofa tunggal.
"Oh, ini hadiah dari Hyungwon. Tertinggal dirumah" Chae eomma meletakkan bungkusan besar diatas meja.
"Gomawo eomma" Yoongi berucap datar.
"Kemarikan Mino, biar eomma saja yang memberikannya susu"
Yoongi menyerahkan Mino ke pangkuan ibu-nya.
"Ingin minum sesuatu, eomma, appa?" tawar Yoongi.
"Tadi Jimin sudah bertanya dan pelayanmu sedang menyiapkan minum" ucap tuan Chae.
"Oh, eomma dan appa sudah makan?" Yoongi kembali bertanya.
"Sudah. Sebelum kesini, kami sudah makan. Apa Hyungwon ada kesini tadi?" Tanya tuan Chae.
"Tidak ada" jawab Yoongi jujur.
"Oh, Appa pikir dia ada kerumahmu. Dari semalam dia belum pulang, masih bersama Wonho sepertinya"
Yoongi menaikkan alisnya dan tersenyum. "Kalau bersama Wonho, dia pasti baik-baik saja"
"Ya, Appa yakin dia akan baik-baik saja" ucap tuan Chae.
Jimin muncul bersama seorang pelayan dan Jackson dibelakangnya, Jackson tersenyum canggung saat melihat ada orangtua Yoongi disana.
"Boss, tuan-nyonya" Jackson membungkuk sopan.
"Ada masalah?" Tanya yoongi penasaran.
"Boss, Wonho sedang bersama anak manja itu, jadi dia…" Jackson terkejut dan menutup mulutnya saat dia menyadari ucapannya. "M-maksudku. Wonho sedang bersama tuan Hyungwon. Tuan Hyungwon memaksa Wonho untuk menemaninya…" ucapan Jackson memelan diakhir kalimatya. "Juga, Luhan masih di Busan boss. Aku agak kewalahan" ucap Jackson.
"Oh, aku akan ke club nanti, mungkin jam dua belas malam aku kesana" ucap Yoongi.
"Tapi Boss, club sedang ramai sekarang" ucap Jackson tak enak hati.
Yoongi melirik Jimin yang juga sedang menatapnya seperti sedang meminta izin.
"Makan dulu baru pergi" ucap Jimin dan meletakkan nampan berisi makanan Yoongi diatas meja.
"Ya sudah, kau, kembali saja ke club, selesai makan aku akan pergi"
Jackson tersenyum lega saat mendengar ucapan Yoongi. Dengan semangat Jackson membungkuk dan langsung pamit kembali ke club.
Jimin mendudukan diri disamping Yoongi dan menatap suaminya yang sedang makan, sedangkan Chae eomma dan Chae appa sedang sibuk bermain dengan Mino.
"Eomma, Appa, menginap disini, kan?" Tanya Jimin.
"Bagaimana?" Chae Eomma menatap kearah tuan Chae.
"Besok pagi eomma dan appa akan pergi ke Daegu. Mungkin sepulang dari Daegu eomma dan appa bisa menginap disini" jawab tuan Chae.
"Sayang sekali" ucap Jimin kecewa.
"Maaf ya" Chae eomma mengelus lutut Jimin dan Jimin hanya mengangguk tersenyum.
Jimin mematikan TV didepanya dan sibuk bercerita soal Mino pada mertuanya itu sementara Yoongi masih sibuk sendiri dengan makanan didepannya. Setelah Yoongi selesai makan, Jimin membersekannya dan menelepon pelayan di dapaur agar mengambil piring Yoongi.
"Aku siap-siap dulu" ucap Yoongi dan pamit dari ruang tamu menuju kamar.
Jimin sedang sibuk mengganti pakaian Mino yang basah karena terkena susu, saat Chae eomma meminta Jimin mengurus Yoongi lebih dulu.
"Biar eomma saja yang mengganti pakaian Mino. Sebaiknya kau mengurus bayi besarmu yang satu lagi, Jim" ucap Chae eomma.
Jimin terkekeh dan mengangguk. " Eomma, aku titip Mino, ya" Jimin pamit menuju kamar.
"Hyung, mau pakai kemeja atau kaos saja?" Tanya Jimin saat Yoongi selesai mandi.
"Kaos saja" Yoongi menggusak rambutnya yang basah dengan handuk ditanganya, Yoongi berjalan menuju laci disamping tempat tidur dan mengambil ponselnya dari dalam laci.
"Keringkan rambutmu dengan benar, Appa" Jimin berjalan kearah Yoongi yang sudah duduk diatas tempat tidur dengan ponsel ditangannya.
Jimin bisa melihat kerutan didahi Yoongi dan tersenyum kecil saat suaminya itu tidak menanggapi ucapan Jimin. "Hyung, dahimu berkerut" Jimin mengelus bahu telanjang Yoongi.
Yoongi mendongak dan tersenyum. "Keringkan rambutku" perintah Yoongi dan memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
"Apa Stella ada menghubungimu?" Yoongi mendongak menatap Jimin yang sedang menggeringkan rambutnya dengan handuk.
"Tidak. Aku sudah mengirimi pesan pada Mommy beberapa kali, tapi sepertinya Mommy masih sibuk" ucap Jimin.
Yoongi mengangguk, menarik pinggang Jimin mendekat dan menenggelamkan wajahnya diperut Jimin.
"Maaf tidak bisa menemanimu menonton film horror malam ini" sesal Yoongi.
Jimin terkekeh dan mengecup rambut Yoongi. "Tidak masalah, tapi hyung harus membelikanku sesuatu" Jimin tersenyum licik.
Yoongi mengangkat kepalanya dan mengernyit menatap Jimin. "Apa aku sedang diperas?"
Jimin tertawa dan mengecup bibir Yoongi. "Hanya setelan jas saja, tuan Min. boleh ya?"
"Jas apa?"
"Kemarin aku melihat ada salah satu jas keluaran baru dari brand favoritku, hyung" ucap Jimin dan mengalungkan tangannya dileher Yoongi. "Aku ingin punya. Boleh ya?"
"Semua uangku sudah ada padamu, kan?"
Jimin tertawa dan kembali mengecup bibir Yoongi. Semenjak mereka menikah, uang Yoongi seluruhnya dipegang oleh Jimin, dan Jimin yang menjatah uang bulanan Yoongi. Perlu diingat, uang Yoongi adalah uang Jimin, uang Jimin adalah uang Jimin.
"Tapi aku juga harus izin jika ingin menggunakan uangmu kan hyung?"
Yoongi mengangguk dan tersenyum dengan mata yang menajam.
"Kita beli kembaran ya?" ucap Jimin dan membuat Yoongi mengernyit protes.
"Tidak. Kau saja." Tolak Yoongi, Jimin mencibir.
"Ya sudah kalau begitu. Hyung, nanti pulang jam berapa?" Tanya Jimin lagi.
"Jam empat subuh mungkin" ucap Yoongi tak yakin.
"Ya sudah, pakai bajunya, kasihan Jackson kalau sendirian" Jimin hendak beranjak dari depan Yoongi saat Yoongi menarik Jimin hingga terduduk ditempat tidur dan menarik tengkuk Jimin kemudian mencium bibir Jimin panas.
Jimin meremas rambut Yoongi gemas saat lidah Yoongi menari-nari didalam mulutnya, Jimin merasa tubuhnya terasa lemas, dengan perlahan Jimin melepas ciuman Yoongi dan tersenyum malu saat jarak mereka masih begitu dekat.
"Saranghae, Park Jimin" bisik Yoongi didepan bibir Jimin.
Jimin merasa dadanya meledak karena bahagia. Jimin menarik tengkuk Yoongi dan mencium bibir Yoongi lagi sampai suara ketukan dari luar kamar menyadarkan keduanya. Jimin terkekeh saat ciuman mereka terlepas.
"Nado, Mino Appa" ucap Jimin malu-malu dan melepaskan diri dari pelukan Yoongi.
"Eomma, masuk…" Jimin mempersilahkan nyonya Chae masuk kedalam kamar.
"Jim,Yoon, eomma dan appa harus pulang, ada tamu yang datang ke rumah" ucap Chae eomma dan menyerahkan Mino pada Jimin.
Oh, ne Eomma. Biar ku antar" ucap Jimin.
"Tidak perlu. Aku saja. Aku juga akan pergi" ucap Yoongi dan segera memakai bajunya, berjalan kearah pintu, mengecup dahi Jimin dan mencium pipi Mino.
"Tapi hyung…"
"Sudah jam Sembilan malam. Mino pasti sudah mengantuk. Kalian dia kamar saja" ucap Yoongi. "Aku pergi dulu. Ayo eomma" ajak Yoongi sambil merangkul bahu ibu-nya.
.
.
.
"Apa maksudmu dia tertembak lagi?" Yoongi memijat pangkal hidungnya saat rasa pusing menyerang kepalanya.
"Dia sudah baik-baik saja. Aku hanya ingin memberitahu keadaan Stella padamu"
"Tolong rantai saja dia ditempat tidurmu agar tidak membuat masalah lagi" ucap Yoongi asal.
Diujung telepon, Yongguk tertawa. "Aku akan menjinakkannya, tenang saja"
"Aku tidak yakin kau bisa. Aku khawatir kau yang jadi jinak" ucap Yoongi.
Yongguk tertawa lagi. "Aku menelepon hanya ingin mengabarimu itu tuan. Jangan khawatir, serahkan saja Stella padaku"
"Ya. kalau dia mulai banyak tingkah, bius saja" ucap Yoongi.
"Aku tidak akan tega" ucap Yongguk.
"Kabari aku perkembangannya lagi nanti" ucap Yoongi dan memutuskan panggilan teleponnya.
Yoongi memejamkan matanya erat untuk menghilangkan kepenatannya. Rasanya dia ingin pulang dan memeluk Jimin erat-erat. Kepalanya selalu sakit jika dihadapkan dengan Stella seperti ini.
Saat Yoongi sibuk dengan pikirannya, ponsel Yoongi yang berada diatas meja bergetar dan nama Jimin muncul dilayar.
Jimin: Appa, coba tebak siapa yang sudah mulai merasa besar dan tidak mau tidur padahal sudah tengah malam.
Yoongi tersenyum dan menaikkan alisnya. Tidak sampai beberapa detik, foto Mino yang sedang telungkup diatas bantal masuk kedalam ponsel Yoongi.
Yoongi: Kenapa belum tidur?
Jimin: sepertinya Mino menunggu Appanya pulang. Bagaimana ini?
Yoongi: Appa sedang bekerja.
Jimin: tebak siapa yang hanya bisa menatap bos kecil kita yang sedang bermain dengan pasrah?
Yoongi terkekeh.
Yoongi: siapa?
Sebuah foto masuk lagi ke ponsel Yoongi. Foto Jimin.
Yoongi: Aku pulang sekarang.
.
.
.
"Yoongi hyung, Stella Noona, Adik kecil kalian kembali" sosok itu menarik kopernya dengan semangat, masuk kedalam mobil mewah yang sudah siap membawanya menuju kediaman Papa Stella.
.
.
.
TBC
*Lari naruto*
Maaf kakakk yorobun, aku updatenya lama. Lagi sibuk di RL.
Tapi aku usahain update kalau senggang LOL
Ketjup jidatnya satu satu
