"Kenapa lengan atasmu di perban, Nak?" Papa Min melirik lengan Stella yang dibalut perban. Baru pagi ini papa-nya melihat itu.
"Tergores, Papa. Jangan khawatir" Stella tersenyum dan kembali mengelus macan kumbang miliknya yang sedang menidurkan kepalanya diatas paha Stella. "Dimana Amber?"
"Belum bangun. Semalam dia sampai kerumah dan langsung pergi ke club, katanya menemui Yoongi, tapi Yoongi tidak ada disana" Papa Min tertawa.
"Yoongi memang sudah jarang pergi ke club, sejak punya anak dia jadi betah di rumah" Stella tertawa.
"Perubahan yang bagus, tapi pastikan adikmu itu tidak lupa darimana dia berasal"
"Aku tau" Stella memutar bola matanya.
"Jangan kesal pada Papa, Princess. Papa hanya mengingatkan" Papa Min tersenyum lembut.
"Selamat pagiiii..." Amber berputar sebelum duduk dipangkuan Papa Min yang sedang bersantai ditaman dekat kolam bersama Stella.
"Ku pikir kau tidak akan bangun lagi" Sindir Stella.
"Aigoo Noona... aku merindukanmu. Tapi aku lebih rindu Papa" Amber memeluk Papa Min, terkekeh dan mendudukan diri disamping Stella setelahnya. "Dimana Yoongi hyung tinggal sekarang? Semalam aku ke apartemen lamanya, dia tidak ada"
"Yoongi bukan hyungmu" Stella memutar bola matanya lagi.
"Ayolah. Kau saja ku panggil Noona tidak keberatan, kenapa aku memanggil Yoongi dengan sebutan hyung kau keberatan? Panggilan Oppa itu sangat norak, iya kan Pa?" Amber melirik kesamping dimana Papa Min sedang tertawa dan mengangguk sekilas. "Jadi, dimana Yoongi hyung tinggal?"
"Dia sudah tinggal dirumahnya sendiri bersama keluarganya" Papa Min menjawab saat melihat Stella sedang sibuk melonggarkan tali dileher macan miliknya.
"Keluarganya? Hyungwon si manja brengsek itu?" Amber duduk tegak.
"Bukan. Yoongi sudah menikah, dia bahkan punya anak" Papa Min tertawa.
"MENIKAH? Siapa orang sial yang berhasil dinikahinya? Aku kasihan padanya" ucap Amber prihatin.
"Park Jimin" Stella menyahut dan tertawa.
"P-Park Jimin?" Amber menatap Stella tak percaya.
"Iya"
"Bukannya dia artis?" Amber menatap Stella dan Papa Min bergantian.
"Memang." Stella berucap santai.
"Papa, bukannya bahaya kalau Yoongi hyung terlalu sering di ekspose media? Kita bisa..."
"Jimin tidak tahu apa-apa. Aku bisa jamin dia tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kita dan dia tidak akan pernah bersinggungan dengan dunia kita." potong Stella.
"Pastikan Jimin tetap seperti itu, Nak. Kau tau Papa selalu memastikan lingkaran kita tetap kecil. Pastikan Jimin tidak mencari tahu terlalu banyak soal Yoongi, kalau dia tau terlalu banyak, Papa..."
"Aku paham" potong Stella. "Jimin jadi urusanku. Dia anakku kalau Papa lupa"
"Sekalipun dia anak kesayanganmu, jika dia mulai berontak dan terlalu mengontrol Yoongi, Papa akan menyingkirkannya. Kau tahu sendiri kalau kau dan Yoongi adalah anak kesayang Papa."
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Hyung, mau sampai jam berapa malas-malasan?" Jimin berkacak pinggang melihat Yoongi yang masih bertah diatas tempat tidur bersama Mino yang duduk diatas perutnya.
"Sebentar lagi. Lagian pekerjaanku tidak terlalu banyak, proyek sudah berjalan dan aku hanya perlu memonitornya saja" Yoongi menarik Mino kepelukannya dan mendudukan diri diatas tempat tidur. "Apa sarapan sudah siap?"
"Mandi dulu, lalu turun kebawah untuk sarapan" Jimin merangkak menaiki tempat tidur, menggambil Mino dari pelukan Yoongi.
"Cium aku dulu kalau begitu" Yoongi menahan pergelangan kaki Mino hingga membuat anaknya menggantung diantara kedua orangtuanya.
"Kalau sudah mandi, baru dicium." Jimin mendekatkan diri agar bisa memeluk Mino dengan benar. "Kaki Mino, Appa" Jimin menatap lurus pada Yoongi yang tersenyum kecil dan melepas kaki anaknya.
"Akan ku tagih setelah mandi, Nyonya Min" Yoongi bergerak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, meninggalkan Jimin yang sudah merona.
"Mino, kalau sudah besar jangan seperti Appa" Jimin menatap memicing pada anaknya yang hanya menatap polos padanya.
"Jiminie, dompetku?" Yoongi berjalan menuju Jimin yang sedang duduk bersama beberapa pelayan di ruang makan, melihat Yoongi muncul, pelayan-pelayan itu undur diri.
"Ada di kamar, Appa. Sudah ku letakkan diatas meja sofa"
"Kenapa tidak bilang?"
Jimin terkekeh. "Hyung, kau benar-benar harus ku urus setiap pagi ternyata." Jimin menyerahkan Mino yang berada digendongannya dan berjalan menuju kamar.
"Sarapannya, tuan" bibi Song menarik bangku untuk Yoongi dan mempersilahkannya duduk.
"Gomawo"
Bibi Song membolakan matanya dan terpaku, selama dia bekerja untuk Yoongi, tidak sekalipun dia pernah mendengar kata terimakasih terucap dari namja pucat ini. Saat dia tersadar dari terkejutnya, Bibi Song melirik beberapa pelayan yang berdiri tak jauh darinya dan sama-sama sedang menatap tak percaya pada Yoongi yang sudah duduk manis dengan Mino dipangkuannya.
"O-oh, ne" Bibi Song mengangguk kaku dan undur diri dari meja makan.
Yoongi sedang makan saat Jimin baru saja turun sambil membawa dompet dan ponsel Yoongi yang ada diatas meja sofa kamar mereka, bisa Jimin lihat anaknya sedang menatap pergerakan sendok Yoongi mulai dari piring sampai kedekat bibir Yoongi, anaknya terlihat sedang membuka mulutnya dan Jimin tertawa.
"Mino, belum bisa makan" Jimin terkekeh, memeluk bahu Yoongi dari belakang sambil menggusak pelan rambut anaknya.
"Aku senang melihatnya begitu" Yoongi terkekeh dan kembali pura-pura tidak menyadari keadaan anaknya.
"Kau jahat, Appa" Jimin mengecup pipi Yoongi dan mendudukan diri disamping Yoongi. "Mino, sini, Appa sedang makan" Jimin merentangkan tangannya yang langsung disambut antusias oleh Mino.
"Oh ya, Jim, nanti malam temani aku pergi ke acara relasi bisnisku" Yoongi melirik sekilas pada Jimin.
"Dimana, hyung?"
"Di hotel milik Namjoon"
"Mino bagaimana?"
"Dibawa saja, tidak akan lama"
Jimin mengangguk paham. "Hyung, nanti aku boleh pergi sebentar?" Jimin memegang paha Yoongi untuk menarik perhatian Yoongi.
"Mau kemana?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Sudah lama aku tidak pergi dengan Seokjin hyung, jadi nanti siang aku ingin pergi jalan-jalan. Boleh tidak?" Tanya Jimin dan mengelus pelan paha Yoongi.
"Pulang jam berapa?"
"Jam empat sore?" Jimin memiringkan kepala, dimata Yoongi, Jimin terlihat seperti sedang ber-aegyo untuknya.
"Kau pintar sekali membujuk, nyonya Min" Yoongi menyentik pelan dahi Jimin dan mengangguk. "Boleh, tapi saat aku pulang kerja, kalian harus sudah ada di rumah"
Jimin tersenyum lebar "Gomawo, Appa"
"Mino, tutup mata, Appa ingin mengambil jatah pagi"
Jimin terkekeh, memeluk anaknya erat dalam pelukannya dan mencium Yoongi tepat di bibir.
.
.
.
"Hyung, apa Namjoon hyung sering pergi tengah malam?" Jimin bertanya penasaran.
"Lumayan, biasanya dia hanya pergi beberapa jam saja. Kadang pergi jam satu pagi dan pulang jam empat pagi, tapi tidak sering" jawab Seokjin.
"Apa hyung tau apa yang dilakukan Namjoon hyung selama pergi diluar?"
Seokjin terkekeh. "Tentu saja. Aku tahu sekali soal suamiku, Jimin. Apa kau dan Yoongi sedang ada masalah?" Tanya Seokjin penasaran.
"Huh? Tidak. Aku.. aku hanya tidak sengaja menemukan koleksi…" Jimin melirik kesekitar ruang tamu Seokjin dan menatap anaknya yang sedang tertidur dalam gendongnnya.
"Koleksi apa?" Tanya Seokjin penasaran.
"Senjata milik Yoongi hyung, tidak hanya satu, hyung. Ada banyak" ucap Jimin berbisik.
"Namjoon juga punya" ucap Seokjin santai.
Jimin menaikkan alisnya terkejut. "Seberapa banyak?"
"Banyak, dengan berbagai bentuk. Tidak pernah ku hitung untuk jumlah pastinya"
"Apa Namjoon hyung memberitahumu secara langsung, hyung?"
"Ne. tidak ada yang tersembuyi lagi diantara kami, Jim. Aku tahu apa yang dia lakukan diluaran, meskipun aku tidak mendukung semua yang dia kerjakan" Seokjin tersenyum kecil.
"Namjoon hyung bekerja sama dengan Yoongi hyung, kan?" Jimin menatap Seokjin tepat dimata.
"Namjoon itu tangan kanan suamimu" koreksi Seokjin.
"Sama saja. Apa yang Namjoon hyung lakukan, hyung?"
"Tanyakan pada Yoongi secara langsung, Jim" Seokjin memutar bola matanya. "Kalau ada yang mengganjal, kau harus bertanya padanya, bukan orang lain"
"A-aku hanya sedikit takut untuk bertanya, hyung. Selama ini aku tidak pernah tau apa yang Yoongi hyung kerjakan diluar sana saat tengah malam, tapi, aku…"
"Yoongi belum cerita, mungkin karena kau belum siap. Lihat dirimu, Jim. Kau tau dia mengoleksi senjata saja kau sudah seperti ingin minta cerai"
"jangan sembarangn! Mana mungkin aku minta cerai" Jimin terdengar merajuk.
"Jim, kalau kau takut Yoongi macam-macam diluar, jangan khawatir, Namjoon pasti akan memberitahuku. Tenang saja" Seokjin menepuk tangan Jimin pelan. "Lagian, Yoongi sudah sangat banyak berubah"
"Aku hanya takut Yoongi hyung bekerja ditempat yang berbahaya" cicit Jimin.
Seokjin tersenyum miris. Jiminnya belum berubah, Jiminnya masih naïf dan polos yang menganggap dunia ini masih diisi orang-orang baik, tanpa menyadari kalau dia sudah menikahi ' orang penting' dari kumpulan orang jahat itu sendiri. "Setiap pekerjaan memiliki konsekuensinya, Jim"
"Ya, aku tau" Jimin menunduk. "Aku tau Yoongi hyung yang ada disiang hari dan malam hari itu berbeda. Suga dan Yoongi, orang yang sama dengan pekerjaan yang sama sekali berbeda"
"Jim, terkadang menjadi tidak tahu itu lebih baik" Seokjin tersenyum kecil dan menimbulkan tanda Tanya besar untuk Jimin.
.
.
.
"Aku tidak tahu kau sangat lihai dalam melarikan diri" Yongguk tersenyum miring menatap Stella yang sedang duduk manis di ruang tamu rumah Stella.
"Ku anggap itu pujian, jadi, terimakasih" Stella berucap santai.
"Kenapa kau pergi tanpa bilang padaku dulu?"
"Dan kenapa aku harus pamit padamu, Asshole number two?"
"Tata krama dalam bertamu?" Yongguk menaikkan alisnya.
"Lihat si penjual perempuan yang sedang berbicara soal tata krama ini" Sindir Stella.
Yongguk tertawa keras mendengar sindiran Stella. "Aku kemari hanya ingin memastikan keadaanmu, queen. Aku agak… khawatir?"
"Terimakasih, tapi aku baik-baik saja. Luka tembak tidak akan membunuhku" Stella tersenyum remeh. "Dimana koper berisi baju-bajuku?"
"Di rumahku. Kalau kau mau, kau harus ke Busan mengambilnya sendiri" Yongguk tersenyum miring.
"Kau bisa memilikinya. Aku bisa beli baju lagi"
Yongguk tertawa lagi. "Pergi ke pesta malam ini denganku?"
"Apa untungnya jika aku pergi?" Stella menaikkan satu alisnya.
"Yang kudengar kitten akan datang"
"Call" Stella mengangguk setuju.
Yongguk menaikkan alisnya tak percaya. Segampang itu? hanya dengan membawa nama anak kesayang Stella, Stella setuju pergi dengannya? Harusnya Yongguk menjual nama Jimin juga saat dia mengajak Stella kencan.
.
.
.
"Ramai sekali" Jimin merapatkan diri disamping Yoongi yang sedang menggendong Mino, berjalan beriringan dengan salah satu tangan Yoongi berada dipinggang Jimin. "Ini acara apa, hyung?" Tanya Jimin penasaran.
"Hanya pertemuan basa-basi saja" Yoongi menarik Jimin makin mendekat padanya agar tidak tersenggol oleh tamu lainnya yang lalu lalang.
"Lama tidak bertemu, Yoon" Seorang wanita dengan pakaian mahal super seksi muncul disamping Yoongi dan sepertinya dengan sengaja mengelus lengan atas Yoongi yang sedang menggendong Mino. Jimin menatapnya dalam diam.
"Ya" jawab Yoongi seadanya.
"Jadi, siapa anak kecil ini?" gadis itu menyentuh pipi Mino halus.
"Anakku" Yoongi memundurkan langkah untuk menjauhkan tangan gadis itu dari pipi Mino.
"Kau punya anak?" gadis itu menaikkan alisnya, takjub. "Tampan sepertimu" pujinya.
Jimin berdehem keras saat tangan gadis itu masih saja betah menggerayangi Yoongi.
"Park Jimin?" gadis itu menaikkan alisnya dan tersenyum lebar kearah Jimin.
"Min Jimin lebih tepatnya, Nona" Jimin menatap dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya.
"Min Jimin?" gadis itu bergerak maju dan menatap Jimin dengan raut bingung.
"Aku sudah menikah" jelas Jimin.
"Oh, wow. Maaf aku tidak tahu, aku sudah lama tidak menonton TV" gadis itu tertawa kecil. "Aku sibuk dengan bisnisku diluar negeri, iya kan, Yoon?" gadis itu berjalan mendekat didepan badan Yoongi, mengelus pelan jas Yoongi dibagian dada. "Oh, terkahir kali perusahaanku bekerja sama dengan agensimu, mungkin sekitar 3 tahun lalu? Dan aku tidak menyangka kau di undang disini, aku pikir ini acara khusus para pengusaha" ucapnya lagi.
Jimin menatap gadis itu tajam dan tetap berusaha tersenyum, menahan cemburu yang sudah mulai membakar dirinya sendiri. Dari tingkah laku gadis ini, sudah sangat jelas kalau gadis ini pasti pernah atau paling tidak satu kali, 'tidur' dengan Yoongi.
"Ya, aku kesini bersama suamiku" Jimin bergerak mendekat kearah Yoongi, memeluk lengan Yoongi. "Kenalkan, Min Yoongi, suamiku" ucap Jimin ramah.
Yoongi yang sedang berdiri didekat keduanya tersenyum licik. "Min Yoongi, suami Park Jimin" Yoongi menatap gadis itu yang terlihat kebingungan dan sediki salah tingkah.
"O-oh" gadis itu hanya ber-oh ria karena tidak tahu harus seperti apa merespon ucapan Jimin. "Aku permisi dulu" gadis itu pamit dari hadapan Jimin dan Yoongi.
"Cemburu, nyonya Min?" goda Yoongi dan terkekeh pelan.
Jimin berdiri didepan Yoongi dan menatap Yoongi tepat dimata. "Kalau keadaan dibalik, ada seseorang yang menyentuhku dan terang-terangan menggodaku didepanmu, apa yang kau lakukan hyung?"
Yoongi terdiam dan balas menatap mata Jimin yang seperti tidak ingin kalah dalam kontak mata kali ini.
Jimin mendengus dan membalikan badan saat tidak ada jawaban yang Yoongi berikan, berencana kembali berdiri disamping Yoongi sampai Yoongi menarik tangannya dan membuat pinggung Jimin bertabrakan dengan dada Yoongi dan kaki kecil Mino.
"Tidak akan terjadi apapun padamu dihadapanku, karena aku akan menghilangkannya, segera setelah dia berani menyentuh milikku tanpa izin" bisik Yoongi tepat ditelinga Jimin.
Entah bagaimana ucapan Yoongi terdengar sedikit mengerikan dan sangat seksi disaat yang bersamaan untuk Jimin.
.
.
.
"Hyungwon" Wonho berjalan mengekori Hyungwon yang sudah bersiap masuk kedalam rumah.
"Apa lagi?" Hyungwon memutar bola matanya.
"Apa.. apa besok aku boleh menemanimu lagi?" Tanya Wonho takut-takut.
Hyungwon mendengus remeh. "Tergantung."
"Oh, ini milikmu" Wonho menyerahkan paper bag bergambar lucu khas toko bayi pada Hyungwon.
"Aku sengaja meninggalkannya, kenapa malah kau bawa turun?" omel Hyungwon.
"Tapi, ini…"
"Berikan itu pada Yoongi, itu miliknya"
"Huh?"
"Astaga, mana mungkin baju-baju bayi itu muat untukku. Dengar ya, aku membeli baju-baju itu karena aku hanya ingin, bukan sengaja ingin membelikan baju untuk Mino. Jadi, karena itu baju bayi dan Yoongi punya bayi, berikan saja padanya" Hyungwon berucap tak sabar.
"O-oh.. oke" Wonho mengangguk, meskipun dia kebingungan.
"Dan satu lagi, jangan katakan itu dariku. Bilang saja kau yang membelinya" perintah Hyungwon.
"Tapi kan…"
"SSsshhhh" Hyungwon meletakkan jari telunjuknya didepan bibir, isyarat agar Wonho segera diam. "Apa susahnya tingga menurut!"
"Aku bukan bodyguardmu, jadi.."
"Aku tau! AKU TAU KAU BUKAN BODYGUARDKU LAGI! AKU TAU KAU SUDAH PUNYA PEKERJAAN YANG LAYAK!" Hyungwon mendengus dan membuang nafas kesal. "Karena itu kau bersikap seperti ini? Kau.." Hyungwon menunjuk dada Wonho dengan jarinya. "Kau lupa diri, Wonho" tuduh Hyungwon.
"Apa maksudmu aku lupa diri?"
"Kau lupa kau berasal dari mana, huh? Kau lupa kau dapat pekerjaan dari siapa? Dari keluargaku juga! Jangan bersikap menyebalkan hanya karena kau punya pekerjaan layak sekarang! Sekalipun kau bukan lagi bodyguard ku, kau tetaplah…"
"Oke, cukup." Wonho memotong ucapan Hyungwon. "Jaga dirimu baik-baik, Chae Hyungwon. Selamat tinggal" Wonho berbalik menuju mobil tanpa melihat lagi kearah Hyungwon yang sedang berdiri mematung, menyesali semua kelakuannya.
.
.
.
"Yoongi, istana itu di pimpin seorang raja, bukan tangan kanan seorang raja" Papa Min menatap Yoongi serius. "Ini kenapa aku tidak suka dengan ide kau menikah. Kau jadi lemah"
"Aku hanya istirahat sebentar, Pa" Yoongi menatap lurus pada Papa Min. "Aku tetap mengontrol pergerakan dibawah tanah…"
Papa Min tersenyum remeh. "Yoongi, rumahmu ada dibawah tanah, bukan diatas. Ingat itu"
"Aku selalu ingat itu. aku hanya…"
"Kalau Jimin membuatmu tidak bisa melakukan hal-hal yang sudah menjadi tanggung jawabmu, Papa yang akan memaksamu, bahkan dengan menghilangkan Jimin kalau perlu"
"Jangan sentuh keluargaku" geram Yoongi.
"Papa juga keluargamu, Nak." Papa Min tertawa kecil. "Kau anak kesayanganku. Dan hadirnya Mino, itu seperti munculnya generasi yang baru. Kau tahu artinya kan?"
"Mino tidak akan.."
"Jangan katakan itu, Nak. Mino itu penerusmu dan Papa dengan senang hati akan setuju, kita hanya perlu menunggu Mino besar untuk…"
"Anakku tidak akan berada di lumpur ini" tegas Yoongi.
"Lalu? Siapa yang kau harapkan menjadi mesin pembunuh dan mesin pengeruk uang selanjutnya, Min Yoongi? Park Jimin-mu yang naïf itu?"
Yoongi terdiam dan masih menatap lurus pada Papa Min. "Aku tidak akan memberikan tempatku pada siapa pun, bahkan pada anakku sendiri"
"Itu lebih baik, karena Papa lebih percaya padamu daripada orang lain, bahkan pada anak kandung Papa sendiri, Stella" Papa Min tertawa kecil. "Kita berdua sama-sama tau, Stella itu manusia bebas. Dia bertindak sesuai keinginannya dan tidak pernah menuruti peraturan."
"Ya" jawab Yoongi sekenanya.
"Kembali ke rumah, Nak. Rumahmu di bawah, bukan diatas" Papa Min menepuk bahu Yoongi sebelum berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Yoongi.
.
.
.
TBC
