"Sebentar-sebentar, mungkin telingaku ada masalah" Stella menggosok-gosok telinganya dengan telapak tangan dan mendudukan diri dengan tegak diatas tempat tidur. "Coba ulangi" Stella menatap serius kearah Amber yang sedang berdiri di depannya.
"Yoongi Hyung mengirimkan Jimin surat cerai" ulang Amber.
"Katakan sekali lagi dan akan ku patahkan lehermu" Stella tersenyum lebar.
"Sudahlah, aku pergi saja" Amber menarik tali yang melingkar di leher macan milik Stella yang sedang tertidur dibawah kaki Stella dan berlalu meninggalkan Stella yang masih memproses informasi yang didapatnya dari Amber.
"Bercerai?" Stella terkekeh dan matanya mengelam. "Did that Asshole just testing me?"
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Asshole!" teriakan Stella dibawah tangga membuat pelayan di rumah Yoongi berlarian menuju pintu rumah dari dapur. Mereka seperti sedang mengisyaratkan Stella agar diam dengan meletakkan jari mereka di depan bibir.
"Dimana si brengsek itu?" geram Stella.
"Princess, tuan besar sedang tidak dalam kondisi yang baik" bujuk salah satu pelayan Yoongi dengan memegang tangan Stella erat-erat, menghalangi Stella untuk naik ketangga menuju kamar Yoongi.
"Aku harus bicara dengannya. Sudah berapa hari dia tidak keluar rumah?" Stella melepas pelan tangan pelayan yang sedang memeganginya.
"Sekitar seminggu, sejak tuan Jimin dan tuan Mino pergi" adu pelayan itu lagi.
"Dia tidak keluar kamar selama itu? tidak makan juga?" Tanya Stella penasaran.
"Kami mengantarkan makanan ke kamar, Nona. Dan… minuman"
"Minuman apa?" Stella melirik tajam pada pelayan disekitarnya.
"Tuan minta dibawakan minuman beralkohol di kamar"
Stella mengangguk dan berjalan menuju tangga, tapi para pelayan dengan sigap menghalangi langkah Stella.
"Ya Tuhan, aku memang jahat, tapi tolong singkirkan pelayan-pelayan tidak berdosa ini dengan keajaibanmu, sebelum aku menyingkirkan mereka" guman Stella pada dirinya sendiri.
"Nona tidak boleh naik keatas. Tuan bilang dia tidak mau bertemu siapapun" pelayan rumah Yoongi merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menghalangi Stella berjalan.
"Menyingkir" Stella memberikan peringatan.
"Tapi Nona"
"Satu.." Stella mulai berhitung.
"Nona, nanti anda…"
"Dua" Stella merogoh kantongnya dan mengeluarkan pisau lipat dari sana.
"B-baik-baik.." tiga pelayan yang menghalangi Stella membuka jalan untuknya.
"Membuat kesal saja" Stella mengibaskan rambutnya dan berjalan ke kamar Yoongi yang auranya terlihat suram bahkan dari depan pintunya saja.
.
.
.
Jimin di infus. Dia menolak makan dan minuman yang diberikan Jungkook untuknya sejak dia menerima surat dari pengacara Yoongi. Mino yang berada di gendongan Jungkook terlihat sedang menatapi Jimin dengan pandangan polos dan membuat Jungkook makin mengeratkan gendongannya pada Mino.
"Aku harus memberitahu Seokjin Hyung kalau begini" ucap Jungkook.
Jimin membuka matanya yang bengkak karena menangis tanpa henti sejak seminggu ini, wajahnya terlihat kuyu dan pucat, seperti tidak ada semangat lagi dalam hidupnya. Menyedihkan. Hanya itu yang bisa disimpulkan jika orang melihat keadaan Jimin sekarang.
"Jungkook, jangan" pinta Jimin lemah.
"Tidak bisa. Aku akan memberitahunya. Ini demi Mino. Jujur saja, aku belum becus menjaga bayi, jadi aku harus memberitahunya" putus Jungkook dan berjalan keluar kamar Jimin untuk menelepon Seokjin.
Tidak sampai setengah jam, Seokjin sudah datang. Wajahnya terlihat panic dan berjalan terburu melewati Jungkook dan Mino begitu saja didepan pintu, Seokjin langsung berjalan cepat menuju kamar Jimin dan matanya berkaca-kaca saat melihat Jimin terlihat sangat hancur sekarang.
"Jim…" panggil Seokjin pelan.
Jimin tersenyum lemah, berusaha mendudukan diri diatas tempat tidur dengan tangan yang masih terinfus. "Kau datang, Hyung"
"Jim, kau…" Seokjin kehilangan kata-katanya dan memeluk Jimin erat-erat.
"Dia menceraikanku Hyung" Jimin memeluk Seokjin erat-erat. "Aku bingung, apa yang kulakukan sampai aku diperlakukan hiks… Hyung, aku ketakutan hikss" Jimin menangis keras dipelukan Seokjin, bahunya bergertar hebat karena tangisnya.
"Dia tidak akan melakukannya, Jim. Tidak akan" Seokjin menggusap-usap punggung Jimin yang bergerak naik turun.
"Dia melakukannya, Hyung… hiks.. aku bingung.. apa salahku hiks.. aku… aku butuh penjelasan hiks …" Jimin meraung-raung.
"Tidak, dia tidak akan melakukannya" hibur Seokjin.
"Aku harus apa.. hiks.. Hyung … tolong… hiks.. tolong aku" isak Jimin.
"Tenangkan dirimu dulu, Jim…" Seokjin mengeratkan pelukannya pada Jimin dan ikut menangis bersama Jimin yang sedang meracau betapa bingungnya dia dengan sikap Yoongi kali ini.
Di depan pintu, Jungkook sedang menghapus air matanya sendiri dan tersenyum kecil saat Mino hanya menatapnya dengan pandangan polos. "Ayo minum susu" ucap Jungkook pelan, meninggalkan Jimin dan Seokjin didalam kamar.
.
.
.
Stella membuka paksa pintu kamar Yoongi dengan cara menendangnya. Saat pintu kamar itu terbuka, Stella bisa melihat ruangan itu penuh asap rokok dan bau alcohol menyengat dari dalam ruangan. Keadaan kamar itu masih sama saat terakhir kali Stella meninggalkan Yoongi sendiri di kamarnya. Hancur berantakan.
Stella berjalan masuk kedalam kamar dan sayup-sayup Stella bisa mendengar suara musik, saat sampai didepan Yoongi yang sedang telungkup diatas tempat tidur, Stella meringis melihatnya. Yoongi sedang berbaring dengan tangan dan wajah yang mengarah ke lantai, tangannya bergerak memutar kotak musik milik Mino disana dan Stella bisa melihat tiga botol besar minuman beralkohol yang tergeletak begitu saja dilantai dan jangan lupa entah berapa puluh puntung rokok berserakan dilantai.
"Hey, calon duda" Stella melipat tangannya didepan dada dan menatap miris pada Yoongi tidak bergerak , meskipun Stella yakin Yoongi masih bisa mendengarnya.
Merasa di abaikan, Stella berjalan ke jendela kaca besar dikamar itu, membuka tirai, jendela dan pintu yang menuju balkon, sangat sesak rasanya harus menghirup asap rokok yang sangat pekat dikamar Yoongi.
"Kalau mau mati, tembak saja langsung kepala bodohmu itu" omel Stella.
Yoongi tersenyum miring dan terkekeh, kepalanya terangkat hanya untuk melihat Stella yang sedang berdiri di dekat pintu balkon lalu kembali menatapi mainan milik Mino yang ada ditangannya. Kotak musik yang selalu Jimin putar sebelum Mino tidur malam hari.
"Bangun" perintah Stella dan tersenyum senang saat melihat tongkat baseball milik Yoongi yang menyembul dibalik sofa. "Sepertinya aku punya cara yang bagus aga kau bangun" Stella berjalan senang menuju dekat sofa, mengambil tokat baseball Yoongi dan menngetukkannya di telapak tangannya.
"Sudah lama kita tidak saling menghajar, kan? Ayo bermain" Stella menyeringai dan mengayunkan tongkat baseball Yoongi dua kali sebelum melemparkannya kearah Yoongi yang langsung telak mengenai kepala Yoongi.
Yoongi hanya melirik sekilas dan kembali sibuk dengan mainan Mino. Rasa sakit akibat pukulan tongkat baseball yang melayang ke kepalanya, sudah tidak bisa lagi Yoongi rasa.
"Tidak seru" Stella mendengus saat Yoongi tidak melawan. "Jujur saja, aku ingin sekali membunuhmu…"
"Lakukan saja" guman Yoongi.
"Tidak seru! Paling tidak kau harus melawan dulu, itu baru seru!" geram Stella dan mendudukan diri dilantai, dekat dengan botol-botol minuman yang sudah kosong.
"Kenapa kau melakukannya?" Stella menggusak kepala Yoongi dan menatap Yoongi tajam.
"Apa?"
"Kenapa kau lakukan itu pada Jimin. Dia tidak salah."
"Aku tau. Aku yang salah dan aku sadar diri. Dia tidak sama dengan kita, kau sendiri yang pernah bilang begitu, jadi aku melepasnya. Dia layak hidup normal" Yoongi meringis saat mengatakannya.
"Kau yakin akan melepas Jimin? Bagaimana dengan Mino?" Stella bergeser dan menyandarkan punggungnya disamping tempat tidur, bersisian dengan kepala Yoongi yang menggantung kearah lantai. "Jimin pasti sedang menangis sekarang" guman Stella.
Tidak ada yang bisa Yoongi katakan lagi untuk merespon ucapan Stella.
"Kau tau, kalau kau menurut, Papa pasti luluh lagi."
"Dia memaafkanku dengan cepat, tapi tidak dengan Jimin"
"Ini kan salahmu, brengsek!" Stella menyiku kepala Yoongi.
"Aku tau aku yang salah! Tidak perlu menyalahkanku lagi!" Yoongi menaikkan suara.
"Benar, kau harus meresponku begitu, kau harus marah, jadi aku tidak akan segan-segan lagi menghajarmu" Stella tersenyum bangga dan menepuk kepala Yoongi beberapa kali.
"Jadi, kau tetap dengan keputusanmu untuk bercerai?" Stella melirik Yoongi yang memanikan rambut Yoongi dengan jarinya.
"Ya, Jimin tidak pantas ada dilumpur"
"Kau benar. Anakku terlalu naïf untuk ada disini. Dia masih berpikir polos, dia hanya tau dunia ini baik-baik saja tanpa sadar keadaan sudah sangat berubah drastis."
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darinya" guman Yoongi. "Aku ingin jujur, aku ingin dia tau pekerjaan seperti apa yang kulakukan di malam hari, tapi saat dia menatapku seperti monster yang siap membunuhnya, aku yakin dia tidak akan siap, jadi, aku melepasnya"
"Kau mencintainya, Min Yoongi" Stella terkekeh. "Kau dan otak bodohmu ini tidak pernah memikirkan seseorang sampai seperti itu. Kau hanya takut ditolak" Stella tertawa keras.
Yoongi terdiam.
"Kau tidak ingin melepas Jimin, jauh didalam hatimu yang sudah lama tidak terpakai itu, kau ingin Jimin tetap tinggal. Kau sedang kalut makanya mengambil keputusan sembarang. Aku rasa Jimin menerimamu apa adanya. Kau suaminya. Dia hanya butuh penjelasan, kurasa?" Stella menaikkan bahunya.
"Dia takut padaku. Dia bahkan memutus kontak denganku" guman Yoongi lagi.
Stella tertawa. "Kau akan menyesal kalau tidak mencarinya , Asshole"
"Kau mau kemana?" Yoongi mengernyit saat melihat Stella berdiri.
"Pulang, kau pikir aku babysitter mu?"Stella memutar bola matanya. "Oh ya, nanti malam aku tidak bisa ke club, kau urus ya. Aku sibuk" Stella berlalu.
Stella menutup pintu dari luar, mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Asshole number two, belikan aku pistol baru dan aku akan kencan denganmu"
.
.
.
"Mommy" Jimin terkejut melihat Stella yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Hey, anak Mommy" Stella tersenyum lebar dan mendudukan diri disamping Jimin yang terlihat sudah cukup segar daripada keadaan sebelumnya. Berbicara dengan Seokjin membuat Jimin jau lebih tenang. "Kau pucat"
"Aku agak kurang sehat, Mom" Jimin menundukan pandangannya, menghidari tatapan Stella.
"Ayo pergi" ajak Stella.
"Kemana?" Jimin menatap membola pada Stella.
"Makan malam. Kita perlu bicara sepertinya" Stella menarik tangan Jimin pelan.
"Mom, tapi.."
"Mino sedang bersama Seokjin dan Namjoon, Jungkook sedang syuting. Kita hanya pergi sebentar"paksa Stella. "Ganti bajumu. Mommy membelikanmu baju baru" Stella tersenyum lebar. "Oh, dan rias sedikit wajahmu, Kitten, kau terlihat lusuh, Mommy tidak suka" perintah Stella. "Mommy tunggu lima belas menit"
Jimin menahan tangan Stella saat Stella mengajaknya ke club milik Yoongi. Jimin terlihat enggan dan berusaha pergi, tapi Stella berhasil menarik Jimin hingga masuk kedalam club.
Keadaan club itu ramai, musik menghentak, lampu yang kelap-kelip, dan asap rokok yang memenuhi ruangan. Jimin berjalan menunduk disamping Stella dan berkali-kali memperbaiki posisi kerah bajunya yang terlalu turun. Kalau Yoongi melihat Jimin berpakaian seperti ini keluar rumah, Jimin bisa-bisa di kurung di kamar oleh Yoongi, saat lintasan soal Yoongi mampir dikepalanya, Jimin tersentak dan perasaan sedih kembali menghampirinya.
"Duduk disini" Stella menarik Jimin duduk didepan bar yang menjual minuman, beberapa orang yang mengenal Jimin melirik dan berbisik terang-terangan didepan Jimin dan ada juga yang mengambil foto Jimin entah untuk alasan apa. Stella yang melihat Jimin merasa tak nyaman diperlakukan seperti itu, langsung melirik tajam dan mengancam orang-orang tersebut melalui matanya.
"Mommy, nanti Yoongi Hyung.."
"Hey, jangan pikir Mommy tidak tau apa yang terjadi. Kalian akan bercerai, kan? Ini saatnya kau mencari pengganti Asshole brengsek itu. tenang, Mommy dipihakmu" Stella menepuk bahu Jimin pelan.
"Tapi Mom…"
"Ini, Minum ini untuk merayakan lepasnya kau dari si brengsek itu." Stella meletakkan gelas didepan Jimin yang hanya ditatapi Jimin begitu saja. "Tenang saja, kau hanya akan bertemu lagi dengannya saat dipersidangan, jadi, ayo minum" Stella menaikkan gelasnya kearah Jimin.
Jimin mengambil gelas diatas meja itu dengan ragu, meminum sedikit minuman beralkohol itu yang langsung terasa panas ditenggorokannya.
"Ayo minum lagi" Paksa Stella dan menahan gelas Jimin didepan bibir Jimin hingga minuman didalam gelas kecil itu habis. Stella menyeringai.
Dilantai dua, Yongguk sedang berhadapan dengan Yoongi, keduanya sedang bicara soal harga senjata yang ingin dibeli Yongguk. Sesekali Yongguk melirikkan tatapannya menuju pintu masuk diantara ramainya tamu yang ada, mencari Stella.
"Orang gila macam apa yang ingin membeli senjata berwarna kuning terang?" Yoongi tersenyum miring, menggeleng tak percaya dengan permintaan Yongguk.
Yongguk tertawa dan enggan menjawab pertanyaan Yoongi. Musik menghentak membuatnya malas untuk mengeraskan suara hanya untuk menjawab.
Yongguk membolakan matanya saat menangkap sosok Stella yang sedang menari diatas meja bar mengikuti musik dan makin membelalak saat melihat siapa yang ikut menari dengan sangat seksi disamping Stella.
"JIMIN!" Yongguk takjub dan melirik Yoongi yang terlihat tersentak saat Yongguk mengucapkan nama Jimin.
"Tuan Min, kau pria yang beruntung" Yongguk terkekeh dan melongokkan kepalanya kearah Stella yang terlihat jelas dari atas sini. "Jimin penari yang hebat, dia pasti hebat diatas ranjang" sambung Yongguk sambil menggelengkan kepalanya.
Yoongi yang duduk agak jauh dari pembatas, bergerak mendekat dan matanya membola sempurna melihat Jimin yang sedang menari diatas meja bar. "What the fuck" maki Yoongi.
"Tuan, kau terkejut? Kau tidak datang dengan Jimin?" Yongguk yang memang tidak tau apa-apa hanya menatap Yoongi kebingungan.
Dibawah sana, Jimin sedang menari dengan liar, beberapa orang terlihat memenuhi meja dan ikut menari dilantai. Yongguk bisa melihat rahang Yoongi yang mengeras dengan tangan terkepal diatas meja.
Yoongi membuang pandangannya dari Jimin, sementara Yongguk hanya menatapi Stella yang sedang menari diatas meja. Saat Stella balas menatapnya seperti memberi kode untuk turun, Yongguk mengangguk dan dengan sengaja meninggalkan pistolnya didepan Yoongi.
Stella tersenyum puas saat melihat Yoongi yang sedang menahan amarahnya mati-matian. Saat keadaan semakin ramai dengan beberapa orang yang ikut naik keatas meja dan menari bersama Jimin, Yoongi tidak tahan lagi. Dia mengambil pistol Yongguk dan menembakkannya kearah Jimin.
Keadaan club berubah mencekam dengan beberapa orang berlarian untuk melindungi diri. Tembakan itu berhasil memecahkan kaca penghias yang tepat berada dibelakang Jimin.
Stella berdiri tegak menantang Yoongi yang berada dilantai dua, sementara Jimin berlutut, tangannya menyentuh lantai dengan kepala menunduk. Diantara kehebohan yang tengah terjadi dilantai bawah, Yoongi dan Stella seperti sedang perang lewat tatapan mata.
Kontak mata antara Yoongi dan Stella terputus saat Yoongi melihat Jimin menegakkan kepalanya, memandang kearah Yoongi dengan wajah yang terlihat polos dengan kepala yang sedikit miring, Jimin terus membuat kontak mata dengan Yoongi dengan tatapan mata yang sama hingga sedetik kemudian, Jimin menyeringai dan mengedip nakal pada Yoongi.
Yoongi yang berada diatas seperti terkena serangan jantung dadakan dan tersentak tanpa sadar.
"Ku bunuh kau, Hyung" geram Yoongi sambil menyumpahi Stella tanpa henti. Dia yakin, Jiminnya pasti sedang mabuk sekarang. Jiminnya?
.
.
.
TBC
