"Apa maksudmu tidak terjadi apapun?" Stella mengernyitkan dahi memandang Yoongi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Yoongi tidak melirik Stella yang berdiri didepannya sama sekali.
"Tidak terjadi apa-apa, yang terjadi hanya aku dan Jimin bercinta. Apa itu yang ingin kau tau?" Yoongi melirik dari layar komputernya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku tidak bertanya soal itu, brengsek! Apa kau yakin tidak terjadi apapun? Kau sudah periksa CCTV di rumah mu?" Stella berkeras.
"Sudah" jawab Yoongi asal.
"Tidak mungkin! Kau pasti tidak memeriksanya!" tuduh Stella.
Yoongi berdecak kesal dan menatap tajam pada Stella, "Dengar, tidak terjadi apapun, Min Stella. Kami baik-baik saja"
"Kau akan ku bunuh kalau sampai dia menyentuh Kitten karena kau lalai, asshole. Aku bersumpah!" Stella melempar asbak rokok dimeja tepat kearah Yoongi dan berlalu begitu saja dengan makian yang tidak berhenti.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Mino, jangan dimasukkan mulut" Jimin menarik mainan berbentuk bola dari tangan Mino dan membersihkannya dengan tisu. "Ini kotor, Nak, perutmu bisa sakit" nasehat Jimin dan hanya ditanggapi dengan tatapan bingung oleh anaknya.
"Tunggu sebentar, Papa akan membuatkan Mino susu" Jimin melirik keruang dapur dan meminta salah satu pelayan menemani Mino diruang bermain milik Mino.
Setelah selesai membuatkan susu, Jimin kembali keruang bermain Mino dan memberikan botol susu pada pelayannya yang sedang bermain dengan Mino karena ponsel Jimin terlihat berkedip dan bergetar diatas meja kecil.
Jimin mengernyit saat ada nomor asing yang mengirimnya pesan, ini memang bukan yang pertama kali untuk Jimin mendapatkan pesan iseng, tapi kali ini, Jimin benar-benar dibuat takut dan merinding.
'Aku melihatmu. Aku didekatmu'
Sebuah pesan aneh disertai foto Jimin yang sedang berdiri didekat Mino, muncul diponsel Jimin. Jimin melirik kesekitar dengan rasa takut yang mulai dirasakannya. Matanya menatap berkeliling dan memeriksa jendela ruang bermain itu dengan cepat. Saat Jimin tidak melihat siapapun di daerah kolam berenang yang berhadapan dengan ruang bermain Mino, Jimin langsung menarik gordennya untuk menghalangi seseorang melihat apapun yang terjadi diruang bermain.
Belum berapa detik Jimin menutup gorden, sebuah foto punggung Jimin yang sedang menarik gordeng didepannya masuk keponsel Jimin. Jimin tersentak dan berusaha sebaik mungkin menyembunyikan ketakutannya.
Buru-buru Jimin menarik Mino yang sedang bermain dilantai dan membawanya keluar dari ruang bermain.
"Tuan, ada apa?" Tanya pelayan itu kebingungan.
"T-tutup semua pintu dan jendela" ucap Jimin gugup dan memeluk Mino erat.
"Tapi tuan.."
"Tutup saja!" bentak Jimin tanpa sadar. Ketakutan mulai merayapi Jimin lebih dari sebelumnya.
"B-baik" ucap pelayan itu dan berjalan keluar ruang bermain.
'Aku didalam, bukan diluar'
Jimin ingin menangis saja rasanya saat mendapati pesan selanjutnya. Matanya menatap awas pada setiap sudut rumah dan tangannya makin erat memeluk Mino.
"Mino, Papa takut" guman Jimin pelan dan berjalan menuju dapur dimana para pelayan berada.
"Tuan, ada apa?" Tanya bibi Song penasaran saat melihat wajah Jimin yang pucat.
"B-bibi Song, apa ada orang asing yang masuk rumah?" Tanya Jimin takut dan berdiri mendekat pada bibi Song.
"Tidak ada tuan. Ada apa?" Tanya bibi Song khawatir.
"Seseorang mengirimiku pesan dan foto" Jimin menunjukan ponselnya pada Bibi Song. "Seseorang sudah menyelundup kedalam rumah" guman Jimin gugup.
"Tuan, tenanglah. Duduk dulu" bibi Song menenangkan.
"Bibi, aku takut" Jimin memegang erat tangan bibi Song.
'Takut? Aku hanya akan melihatmu, aku tidak akan menyentuh'
Jimin melempar ponselnya saat pesan itu selesai Jimin baca. "KELUAR DARI RUMAHKU!" teriak Jimin.
Mendengar suara Jimin yang keras, Mino menangis karena terkejut. Bibi Song yang juga mulai dilanda panic, berusaha menenangkan Jimin. Beberapa pelayan terlihat berlari kearah ruang makan dan menatap bingung pada Jimin.
"Tolong telepon tuan besar" perintah bibi Song dan terus memeluk Jimin yang ketakutan.
Tidak sampai satu jam, Yoongi sudah muncul di rumah. Keadaan ruang makan terlihat ramai karena hanpir semuanya merasa ketakutan dan terancam. Beberapa bodyguard yang berjaga di rumah mewah itu sudah berkeliling dan memeriksa setiap ruangan, tapi nihil. Tidak ada satupun hal yang mencurigakan.
"Ada apa?" Yoongi berlari kearah Jimin dan memeluk Jimin erat.
"Hyung, ada seseorang di rumah. Dia mengirimiku pesan dan foto. Dia mengambil fotoku, hyung. Aku takut" racau Jimin.
"Tenangkan dirimu dulu, hey" Yoongi menangkup wajah Jimin dan mengelusnya pelan, sangat terlihat kalau Jimin sedang ketakutan sekarang. "Tidak apa, aku disini…" ucap Yoongi menenangkan.
"Mino dimana?" Yoongi bertanya pelan pada Jimin yang masih ketakutan.
"Disini, tuan" pelayan yang tadi berada diruang bermain bersama Mino, berjalan mendekat dengan Mino berada digendongannya.
"Hyung, bagaimana kalau…"
"Tidak akan terjadi apa-apa, oke? Aku disini" Yoongi menarik Jimin dan memeluknya lagi dengan erat.
"Semuanya kembali bekerja, dan beritahu kalau ada sesuatu yang mencurigakan" perintah Yoongi.
Sampai malam, tidak ada lagi hal yang terjadi. Rumah kembali tenang saat Yoongi pulang. Sementara Jimin hanya bisa berdiam diri ditempat tidur dengan Mino dipelukannya. Dia masih takut, perasaannya tidak bisa tenang kalau orang yang mengirim pesan itu belum juga ditemukan.
"Tidurlah, sudah malam" Yoongi menggusak rambut Jimin sayang dan mengecup dahi Jimin.
Jimin hanya menggeleng dan mengambil tangan Yoongi untuk digenggam. Dia takut kalau ditinggal sendirian. "Hyung, aku takut…" ucap Jimin putus asa.
"Aku akan mencarinya, jadi jangan takut" Yoongi menenangkan.
Yoongi juga sama khawatirnya dengan Jimin setelah membaca pesan-pesan yang dikirim orang itu. dia tau, bahkan sangat tau, orang itu gila. Tidak seharusnya dia mengabaikan ucapan Stella. Setelah sadar CCTV seluruh rumahnya di rusak, Yoongi hanya bisa mengumpat dan memaki dalam hatinya.
"Hyung jangan ke club malam ini, ya" mohon Jimin.
"Tidak. Aku akan di rumah, jadi jangan khawatir, tidurlah." Yoongi menarik Jimin hingga berbaring ditempat tidur, sementara Mino sudah mereka letakkan diantara mereka. Bayi itu sudah tertidur sejak pukul tujuh malam tadi.
Tengah malam, Jimin terbangun karena sudah saatnya Mino minum susu. Jimin memeriksa gallon air minum dikamar mereka yang sudah kosong, terpaksa Jimin harus turun ke dapur untuk membuatkan Mino susu. Rasa kantuk yang menyerang membuat Jimin lupa tentang terror yang diterimanya siang tadi dan memilih pergi sendiri ke dapur tanpa ditemani.
Keadaan dapur terlihat sepi karena para pelayan pasti sudah tidur, Jimin berjalan kearah termos air panas, mengisinya kedalam botol susu milik Mino dan mencampurkan air dingin juga kedalamnya, saat Jimin berbalik, seseorang sudah berdiri tepat di depannya.
.
.
.
"Perasaanku tidak enak" Stella menghembuskan asap rokok yang dihisapnya ke atas. "Jantungku berdebar terus"
"Kau pasti mulai mabuk" komentar Gyuri.
"Minum satu gelas mana mungkin membuatku mabuk, kau pikir aku peminum pemula" Stella memutar bola matanya.
"Kalau begitu kau harus memeriksa jantungmu"
"Perasaanku tidak enak setiap memikirkan kitten" Stella menghempaskan punggungnya kesandaran kursi dibelakangnya. Suara musik menghentak di club mala mini tidak lagi bisa Stella nikmati.
"Kenapa tidak ke rumah Yoongi-ssi saja. Biasanya kau selalu kesana tanpa tahu waktu" ucap Gyuri.
"Aku takut" guman Stella.
"Kau bilang apa?" Gyuri menaikan alisnya karena dia benar-benar tidak mendengar ucapan Stella karena suara musik yang terlalu keras.
"Ku bilang, kau pikir aku sudah gila. Bagaimana kalau aku menggangu mereka sedang bercinta?" omel Stella.
"Kenapa marah? Aku kan hanya bertanya!" Gyuri mencibir karena nada suara Stella yang meninggi.
"Ayo minum lagi!" Ajak Stella dan menuangkan minuman ke geleas Gyuri, sisanya, Stella meminumnya langsung dari botol.
"Yah! Yah! Kau sudah gila!" Gyuri menyambar botol minuman itu dari tangan Stella.
Stella dengan kesal menarik kembali botol minuman yang ditarik Gyuri dari tangannya dan meletakkannya dengan keras diatas meja. "Aku sedang frustasi, tau!" omel Stella.
"Memangnya kapan kau tidak frustasi?" Gyuri membalas.
"Kau tau, kepalaku hampir pecah berhadapan dengan bocah Yongguk itu, belum lagi di iblis itu muncul, dan aku tidak tau kenapa dia harus datang kesini dan…"
"Stella!" Jackson berlari ke meja Stella dan Gyuri, wajahnya terlihat lega saat melihat Stella sudah berhasil ditemukannya.
"Apa? Dasar pengganggu" cibir Stella.
"Jimin-ssi! Ini soal Jimin-ssi!"
Stella mendelikkan matanya saat nama Jimin disebut, dengan cepat Stella menyambar tangan Jackson dan membawanya menjauh dari Gyuri. Bagaimanapun, Stella tidak ingin Gyuri tau soal mereka.
"Apa?" Tanya Stella penasaran.
"Jimin-ssi di rumah sakit"
"What the fuck?" maki Stella tak percaya. "Kenapa?"
"Seseorang menyerangnya di rumah dan…"
"Rumah sakit mana?" ucap Stella tak sabar.
"Di rumah sakit XX" jawab Jackson.
Tidak sampai sedetik, Stella langsung berlari menuju rumah sakit, tanpa permisi pada Gyuri.
.
.
.
Bugh!
Stella meninju rahang Yoongi begitu sampai didepan pintu kamar Jimin. Yoongi tersungkur kelantai dan mendecih kesal karena rahangnya seperti bergeser akibat mendapatkan bogem mentah dari Stella.
"Aku akan membunuhmu, Min Yoongi." Ucap Stella tenang. "Akubenar-benar akan membunuhmu kali ini"
"SUDAH KU BILANG, PERIKSA ISI RUMAHMU, BRENGSEK!" teriak Stella, tangannya sudah menarik kerah piyama Yoongi dengan geram.
"Ini rumah sakit" Namjoon berucap tenang dan menjauhkan Stella dari Yoongi.
"KALAU KAU TIDAK BISA MENJAGA ANAKKU! HARUSNYA KAU BILANG PADAKU!" teriak Stella lagi. Sementara Namjoon masih berusaha menenangkan Stella yang benar-benar mengamuk kali ini.
Yoongi yang baru saja dipukul sampai terjatuh kelantai itu, akhirnya berdiri, tatapannya dingin dan wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Stella sadar, Yoongi sedang dalam kondisi paling mengerikan sekarang.
"Yoongi hyung sedang marah besar" guman Namjoon pelan dan mendorong Stella sampai keluar dari ruang inap Jimin.
"Apa yang terjadi pada anakku? Apa yang dilakukan di brengsek itu sampai anakku masuk rumah sakit?!" Stella bertanya penuh tuntutan.
"Tenangkan dirimu dulu" ucap Namjoon putus asa. Dua kakak adik ini benar-benar temperamental. Yang satu seperti monster yang satu lagi seperti iblis betina tanpa tau aturan.
"Katakan saja ada apa!" geram Stella.
"Dengar, kita tau dia sudah kembali, aku pasti tau ini ulah siapa!" ucap Namjoon.
Stella menelan ludahnya gugup dan membuang pandangan dari Namjoon.
"Dia menyerang Jimin entah untuk alasan apa" Namjoon mulai menjelaskan. "Dia menghantam kepala Jimin ke dinding dan mencekik leher Jimin, bekas tangannya bahkan membiru dileher Jimin. Syukurnya ada pelayan yang datang kedapur dan berteriak, dan kabar burukanya, pelayan itu dibanting begitu saja sampai kepalanya bocor menghantam dinding" Namjoon menghela nafas lelah.
"Kau sama takutnya denganku…"
"Aku tidak takut!" elak Stella.
"Kau takut." Namjoon berucap tegas. "Kau, aku dan Yoongi hyung, sama takutnya." Ucap Namjoon tak terbantahkan.
"Aku benar-benar ingin membunuhnya" geram Stella.
"Ya, kalau saja kau seberani itu" Namjoon menghela napas lagi. "Aku bahkan gemetar hanya karena mengingatnya"
"Lalu bagaimana?" Tanya Stella pelan.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita tidak tau siapa yang dia inginkan. Bisa saja dia…" belum sempat Namjoon menyelesaikan kata-katanya, ponselnya berbunyi dan nama Seokjin muncul dilayar ponselnya.
"Seokjin?" Namjoon menempelkan ponselnya ditelinga dan matanya berubah gugup saat bukan suara Seokjin yang ada disana.
"Jadi, kau sudah menikah, Kim Namjoon?"
Namjoon meneguk ludahnya susah payah. Dia kenal suara itu. suara dari mimpi terburuknya.
"A-apa maumu?" Tanya Namjoon gemetar.
"Kau dan Yoongi, kalian berkhianat" ucap suara itu lagi.
"Jangan sentuh Seokjin-ku" geram Namjoon.
"Kau berani menggunakan nada itu padaku?" pria itu tertawa meremehkan. "Aku bahkan bisa menghilangkan Seokjin-mu ini sekarang juga…"
"Jangan berani-berani menyentuhnya!" bentak Namjoon.
"Ssshhh… jangan berteriak padaku. Sebaiknya kau pulang, pasanganmu sudah sekarat" pria itu tertawa sebelum menutup teleponnya.
"Namjoon?" Stella memanggil cukup keras saat Namjoon berlari kencang meninggalkan Stella.
Stella berdecak kesal karena Namjoon mengabaikannya, saat Stella ingin kembali masuk kedalam ruangan Jimin, ponselnya didalam kantong bergetar, ada nomor asing yang masuk ke ponselnya.
"Siapa?" Tanya Stella gugup.
"Princess kecilku" suara pria itu terdengar sangat mengejek ditelinga Stella.
Stella menelan ludahnya gugup.
"Lama tidak mendengar kabarmu. Atau harus ku katakan kalau kau berusaha menghindariku mati-matian?" pria itu tertawa keras. "Jangan pikir kau bisa lari, Princess." Suaa penuh ancaman itu membuat Stella gemetar.
"Apa maumu?"
"Bersenang-senang?"
"AKu tidak melakukan apapun, kenapa kau melakukan ini padaku?" geram Stella.
"Tidak melakukan apapun? Kau menjadi jalang untuk tuan Choi itu dan kau bilang kau tidak melakukan apapun? Dasar pelacur" ejek pria itu.
Stella menutup matanya untuk menahan amarahnya. "Ya, aku memang begitu. Aku sama busuknya sepertimu, aku mengeruk uang dari pria kaya sepertinya"
Pria itu tertawa keras. "Sebentar lagi giliranmu, pengkhianat"
Stella menelan ludahnya gugup setelah telepon itu tertutup. Dengan kasar Stella membuak pintu kamar Jimin dan berdiri didepan Yoongi yang sedang menunduk disamping tempat tidur Jimin dengan menggenggam erat tangan Jimin.
"Kita atau dia, Cuma itu pilihanya" ucap Stella.
"Aku tau" Yoongi berucap tenang.
"Lakukan sesuatu!" geram Stella. "Yoongi, kau tau, kalau kita tidak bisa menemukannya, dia akan yang akan membunuh kita sesegara mungkin!"
Yoongi mendongak, matanya terlihat kelam dan dingin dimata Stella. "Tidak ada pilihan, tidak ada dia atau kita. Yang ada hanya dia. Dia akan membayar ini secepatnya. Tidak ada yang bisa menyentuh milikku tanpa izin" ucap Yoongi tenang.
Stella memundurkan langkahnya, aura yang Yoongi keluarkan benar-benar mengerikan, Stella bahkan merinding melihatnya. Stella mungkin gila, tapi Yoongi, dia kejam, tanpa belas kasihan kalau dia benar-benar sudah sampai pada ambang batas toleransinya.
.
.
.
TBC
