PENUH ADEGAN KEKERASAN! JANGAN DIBACA KALAU GA KUAT.

JIMIN GA MUNCUL DI CHAP INI.

"Boss, aku menemukannya" Jackson menutup panggilan teleponnya dan terus mematai pria berjas formal itu dari jauh. Jackson meminum minumannya dengan buru-buru dan berbaur kedalam kerumunan manusia yang berada dilantai dansa untuk menari, matanya terus menatap awas pada pria yang sedang bergerak mengikuti musik di bangkunya.

'Jack, menjauh dari sana' Wonho mengirimi pesan singkat pada Jackson dan dengan cepat menurut. Jackson tidak jadi mendekat dan berdiri kesudut club dimana Wonho juga sedang berdiri dengan gusar.

"Kenapa?" Tanya Jackson kebingungan.

"Boss memintamu menjauh. Dia gila. Kalau dia mengenalimu, bisa-bisa kau habis juga" ucap Wonho.

"Siapa dia sebenarnya?" Jackson kebingungan.

"Entahlah, yang pasti bukan orang sembarang. Jangan terkecoh dengan sikap feminim dan badan tegapnya. Dia gila." Wonho terkekeh dan memutar kursi untuk membelakangi lantai dansa.

"Bagaimana dengan Seokjin-ssi? Ada kabar lain?"

"Keguguran. Dia mendorong Seokjin-ssi dari tangga. Dia bahkan tidak punya rasa kasihan pada bayi di perut Seokjin-ssi" Wonho bergidik ngeri. "Boss kita masih jauh lebih baik, setidaknya, boss tidak menyentuh anak kecil. Yang ini benar-benar monster"

"Namjoon pasti benar-benar marah sekarang" Jackson berucap sedih.

"Entah kenapa kali ini aku merasa boss akan mengotori tangannya lagi setelah sekian lama tidak membunuh" Wonho menghela nafasnya. "Kau tau, jika boss tidak lagi menggunakan Kai atau pembunuh bayaran lain untuk menghilangkan seseorang, itu artinya orang ini benar-benar orang penting. Mana mungkin boss mau repot-repot membunuh orang yang berada dibawahnya"

"Apa menurutmu yang akan boss lakukan kali ini?" Tanya Jackson penasaran.

"Aku yakin dia akan membunuh orang itu seperti singa merobek mangsanya. Kau tau, kalau suudah marah, boss kita berubah jadi manusia yang haus darah"

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

"Aku turut berduka" Yoongi menepuk bahu Namjoon yang sedang berdiri memandangi makan anaknya yang tanahnya masih basah.

"Aku tidak akan menahan diri lagi kali ini, hyung" ucap Namjoon tenang. Matanya menatap kosong pada tanah kuburan didepannya.

"Aku. Aku yang akan melakukannya untukmu"

"Terimakasih, hyung. Tapi aku akan melakukannya untuk Seokjin"

Yoongi terdiam disamping Namjoon. Keluarga Namjoon sudah pulang kembali ke rumah setelah acara pemakaman, sementara Seokjin masih belum sadarkan diri setelah dilakukan oprasi pengangkatan janin miliknya.

"Jelaskan pada Seokjin dengan perlahan. Dia pasti terguncang" Yoongi meletakkan bunga mawar putih diatas pemakaman anak Namjoon.

"Aku tau." Namjoon mengangguk paham. "Hyung, carikan dia untukku"

Yoongi melepas kaca mata hitam yang digunakannya dan menatap Namjoon dengan teliti. "Kau tau dia mimpi buruk untuk kita"

"Kau benar. Dia sudah menjadi mimpi burukku selama bertahun-tahun, tapi kali ini aku sudah menghadapi yang terburuk. Aku sudah kehilangan anakku, itu jauh lebih buruk. Jadi, berhadapan dengannya tidak lagi ada apa-apanya"

.

.

.

Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Mr. Min. pria berperawakan tinggi tegap dengan sikap feminim. Seseorang yang sudah berjasa membentuk Stella dan Yoongi menjadi seperti mereka yang sekarang. Gila dan menyeramkan.

Mr. Min dimata Stella dan Yoongi yang masih kecil saat itu adalah gambaran monster yang sesungguhnya. Pria itu tidak segan mencambuk, mengikat, memukul, bahkan menusuk keduanya kalau keduanya membuat masalah ataupun tidak memenuhi harapannya.

Sedikit kesalahan kecil yang mereka ciptakan, maka hukuman yang tidak setimpal akan mereka dapatkan. Tidak heran kalau dulu sangat banyak luka dibadan keduanya. Sampai Papa Min keluar dari penjara, akhirnya Yoongi dan Stella, kembali diasuh oleh Papa Min.

Pria penyayang yang selalu menuruti kemauan anaknya, tidak peduli segila apapun permintaan itu, bahkan kalau kau meminta kepala sebagai kado, kau akan mendapatkannya.

Terlalu lama mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari Mr. Min membuat jiwa Stella dan Yoongi sedikit terguncang. Ditahun pertama mereka kembali diasuh papa Min, keduanya sering mimpi buruk, menangis saat tidur dan sering gemetar saat melihat Mr. Min datang ke rumah Papa Min.

Puncak dari kegilaan yang sudah diserap dengan baik oleh Yoongi dan Stella adalah saat keduanya bersekongkol untuk membunuh ayah kandung Yoongi. Sejak kecil Yoongi sudah sering dipukuli ayahnya, begitu juga dengan ibu-nya. Itulah alasan kenapa Yoongi kabur dari rumah. Dan Yoongi remaja adalah Yoongi yang tumbuh tanpa rasa sayang dan belas kasihan, sama seperti Stella. Mereka membunuh ayah Yoongi dengan kejam saat ayah-nya lagi-lagi memukuli Ibu Yoongi saat dia mabuk.

Catatan kelam itu hanya Papa Min, Yoongi dan Stella yang tau. Dan itu juga alasan kenapa Yoongi dipindahkan keluar negeri bersama Stella selama beberapa tahun.

Mr. Min tau setakut apa Yoongi dan Stella padanya dan itu dimanfaatkannya sebaik mungkin untuk menekan keduanya sampai ketitik terendah dalam hidup mereka. Saat Namjoon muncul sebagai anak baru Papa Min, Namjoon diberikan pada Mr. Min dan disanalah mimpi buruk Namjoon berasal. Pria itu masih sama, dia pemarah, gila, dan tidak segan memberi hukuman sampai kau nyaris mati karena hukumannya.

.

.

.

Namjoon memasang sarung tangan kulit dikedua tangannya, dengan sabar Namjoon menunggu disamping mobil milik Mr. Min dengan sebuah pisau tersembunyi didalam saku jas miliknya. Udara dingin pukul dua pagi tidak lagi Namjoon rasa. Yang dia tau, dia harus segera menyelesaikan orang ini sekarang juga.

Saat pria itu keluar dari club dengan senyum lebar di wajahnya, Namjoon mengeratkan genggamannya pada pisau ditangannya. Yoongi yang berada tidak jauh dari sana ikut mendekat dan menjaga jarak aman.

Hanya sekedip mata bagi Yoongi saat keadaan berubah. Namjoon berlari kearah Mr. Min dan menancapkan pisau di bahu pria itu. bukannya meringis atau merasa kesakitan, pria itu malah dengan santai menarik pisau dari bahunya dan tertawa seperti mengejek pada Namjoon.

Namjoon sudah siap dengan segala konsekuensinya, Pria itu menyeringai menghadap Namjoon dan menebaskan pisau ditangannya kearah leber Namjoon.

Yoongi gemetar. Pria itu adalah mimpi buruknya.

Leher Namjoon terlihat mengeluarkan darah, tapi Namjoon tidak juga berhenti melawan.

"Kita akan mati bersama" Namjoon terkekeh dengan lelehan darah yang sudah mengotori bajunya. Lukanya tidak lebar, hanya sedikit saja bagian dari leher Namjoon yang terkena ujung pisau.

Mr. Min tertawa keras dan berdiri menjaga jarak dari Namjoon. "Kau yang akan bersama dengan anakmu secepatnya" pria itu meludah dan berlari menedang Namjoon hingga terjatuh kelantai parkiran.

Mr. Min menduduki perut Namjoon dengan mata pisau yang bergerak-gerak didepan wajah Namjoon. "Pertama. Aku akan membuatmu buta…"Pria itu tersenyum senang.

Beruntung bagi Namjoon saat ujung pisau itu tidak berhasil mengenai matanya dan berakhir berada satu senti dari kepalanya.

"Ckck… percobaan pertama gagal, mungkin bisa percobaan kedua" tanpa aba-aba, Mr. Min menancapakan pisau ditangannya ke perut Namjoon.

Teriakan kesakitan terdengar nyaring ditelinga Yoongi dan membuat Yoongi memejamkan mata. Tidak ada jalan mundur, Yoongi menutup matanya erat dan saat mata itu terbuka, matanya terlihat dingin dan kelam.

Ini adalah cara paling pengecut yang pernah Yoongi lakukan. Yoongi memukulkan tongkat baseball miliknya ke kepala Mr. Min dan membuat telinga milik Mr. Min mengeluarkan darah dan tersungkur disamping Namjoon begitu saja.

"Lama tidak bertemu" Yoongi tersenyum dan mengangkat tongkat baseball.

Mr Min tertawa saat melihat Yoongi-lah yang muncul didepannya. "Banyak sekali perubahan, Min Yoongi. Kau sudah berani melakukan ini padaku"

"Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang" Yoongi terkekeh sinis.

"Lihat siapa yang bicara sekarang"

Yoongi membiarkan Mr. Min berdiri dan tanpa aba-aba kembali memukulkan tongkan Baseball-nya kearah kepala tuan Min hingga kepalanya mengeluarkan darah.

Tanpa Yoongi duga, pria itu tetap berdiri tegak dan berhasil menggapai leher Yoongi dan mencekik lehernya tanpa ampun. Wajah Yoongi terlihat memerah karena kesulitan bernafas, sementara Namjoon sudah berusaha untuk tetap sadar dan mencoba mencabut pisau diperutnya.

"Itu tidak sopan, Min Yoongi" Pria itu terkekeh melihat wajah kesakitan Yoongi.

"L-lepas!" Yoongi berusaha menahan cekikan dilehernya yang semakin lama semakin menguat.

Tidak sampai seditik, tubuh Yoongi dihempaskan kelantai dan darah segar mengalir dari kepala Yoongi. Mata Yoongi terasa berkunang-kunang dan rasa sakit mulai menjalari Yoongi.

Ingatan masa kecilnya kembali masuk dan membuat Yoongi gemetar. Pria yang sedang menduduki perutnya saat ini adalah penyebab mimpi buruk dan trauma terbesar milik Yoongi.

"Aku sudah bilang, jangan coba-coba berkhianat dengan memiliki pasangan. Apa sesusah itu untuk mengerti?" sekali lagi pria itu menghempaskan kepala Yoongi ke lantai.

"Kau pikir dengan melakukan perlawanan seperti ini, kau sudah cukup kuat? Tidak, Min Yoongi" pria itu terkekeh dan menguatkan cekik-an tangannya dileher Yoongi.

Yoongi bergerak liar karena kesulitan bernafas. Tangannya masih setia memegangi pergelangan tangan pria itu agar tidak semakin menekan leher Yoongi sampai satu ide melintai di kepala Yoongi. Yoongi mencakar bagian mata sampai wajah Mr. Min.

Keadaan berbalik dengan Yoongi yang berhasil mencekik leher Mr. Min yang sudah berada dibawahnya. Yoongi tersenyum lebar dan matanya berkilat dingin.

"Kau terlalu percaya diri dengan kekuatan yang kau punya" ejek Yoongi.

"L-lepaskan! Min Yoongi!"

"Hehehe aku tidak sepenurut itu. Min Yoongi yang itu sudah mati" Yoongi menekan leher Mr. Min dengan erat sampai kuku-kuku milik Yoongi menancap di leher Mr. Min.

"K-kau… kau akan mendapatka…"

"Ssshhh…" Yoongi menggeleng dan terkekeh. "Kau harus menuai bibit monster yang kau tanam dulu. Kau terlalu terlena dengan kekuatan milikmu itu dan lupa kalau monster didikanmu juga bertumbuh dan menjelma jadi malaikat kematianmu" Yoongi tersenyum makin lebar.

"Ini untuk bekas luka dileher Jimin-ku" Yoongi menghempaskan kepala Mr. Min kelantai berkali-kali tanpa belas kasihan.

"Yang ini untuk bekas luka di dahi Jimin-ku"Yoongi memukulkan kepalan tangannya di dahi Mr. Min.

"Dan yang ini untuk anak Namjoon" Yoongi menyeringai. Yoongi menancapkan pisau dimata milik Mr. Min. teriakan kesakitan terdengar mengerikan, tapi tawa Yoongi yang terdengar menggema, jauh lebih mengerikan.

"Dan yang ini untuk anakku" Yoongi mengeluarkan pistol miliknya dan menembak tepat di dahi tuan Min.

Tubuh pria tegap itu bergetar sebelum dia kehilangan nafasnya. Yoongi terkekeh dengan darah yang membanjiri bajunya. Perlahan Yoongi bangkit, membersihkan noda darah yang makin melebar diwajahnya, darah milik Mr. Min.

Sebelum benar-benar pergi, Yoongi melirik Namjoon dan tersenyum sinis.

"Aku sudah melakukannya untuk anakmu."

Namjoon menelan ludahnya kesulitan. Rasa sakit diperutnya akibat tusukan tidak lagi terasa, berganti dengan rasa ngeri yang menyelimuti tubuhnya. Yoongi beberapa menit yang lalu benar-benar bukan seperti Yoongi yang selama ini dia kenal.

"Bisa berdiri?" Yoongi merapikan jasnya yang sudah berlumuran darah.

Namjoon mengangguk kaku.

"Sial kepalaku pusing" Yoongi terkekeh dan memegang belakang kepalanya yang berdarah.

"B-Bos…" Wonho menatap ngeri pada keadaan Yoongi dan Namjoon.

"Bawa aku dan Namjoon ke rumah dokter Kim." Perintah Yoongi.

"Lalu, dia?" Jackson bertanya bingung sambil menatap mayat didepannya.

"Berikan pada Yoongi. Pastikan Yoongi mengabiskannya tanpa sisa. Orang sepertinya tidak akan di terima tanah" Yoongi tertawa dan berjalan menuju mobil, meninggalkan Wonho, Jackson dan Namjoon yang merinding merasakan aura Yoongi yang menguar.

.

.

.

Sementara itu…

Stella terduduk lemas diatas rumput, tidak jauh dari lokasi parkir yang sudah sengaja disterilkan agar tidak ada orang yang masuk kedalam lokasi parkir. Matanya berkedip kosong dengan dada yang berdebar keras. Dia melihat semuanya tanpa terkecuali.

Dia melihat dengan jelas bagaimana Yoongi berubah menjadi Yoongi yang sedang marah, dan Stella merinding mengingatnya.

"Hyung…"

Stella menegakkan tubuhnya saat suara yang sangat Stella kenali memanggilnya. Stella berbalik dan mendapati Jisung sudah berdiri tidak jauh darinya. Tak jauh dari Jisung berdiri, Stella bisa melihat Yongguk yang berlari menuju padanya.

"Stella…" panggil Yongguk pelan.

Mendengar suara Yongguk, Jisung berbalik dan menatap bingung pada Yongguk.

"Kau?" ucap keduanya bersamaan.

"Stella" Yoongi memanggil Stella dan membuat ketiganya menatap Yoongi dengan ekspresi terkejut bukan main. Pria pucat itu bersimbah darah dan yang membuat itu semakin mengerikan adalah, senyum Yoongi yang terlihat terlalu ceria.

"Ayo pulang." Perintah Yoongi.

Stella berkediap sesaat sebelum berdiri dan berlari kearah Yoongi. Hal terakhir yang Stella lakukan adalah memeluk Yoongi erat-erat dan mengusap punggung Yoongi berkali-kali.

"Tolong kembali, tolong kembali menjadi Min Yoongi, cepat kembali, ingat Mino dan Jimin. Kau bukan monster, ku mohon kembali pada dirimu lagi" mohon Stella.

Mata itu, mata yang menyorot kejam itu, Stella pernah sekali melihatnya dan dia tidak ingin melihat itu untuk kedua kalinya.

"Sepertinya kau membuat dua orang bodoh itu terkejut" Yoongi tertawa.

"Cepat kembali, Yoongi. Cepat kembali" mohon Stella.

Yoongi tertawa keras sebelum kepalanya mulai semakin sakit dan dia kehilangan kesadarannya.

.

.

.

TBC