"Hyung, kau pasti sangat terluka karena itu" Jimin terisak didepan Seokjin dan berkali-kali menghapus air matanya yang turun tanpa permisi saat Seokjin menceritakan apa yang menimpanya kemarin.
"Hey, kenapa menangis? Aku sudah baik-baik saja, Jim" Seokjin memaksakan senyumnya dan mengusap-usap punggung Jimin yang bergetar karena menangis.
"Tapi aku yakin, kau dan Namjoon hyung pasti akan mendapatkan pengganti Apel secepatnya"
"Tentu. Kami akan mendapatkan pengganti Apel secepatnya" Seokjin mengangguk setuju. "Sudah, jangan menangis. Lihat, Mino kebingungan melihatmu menangis" Seokjin memiringkan sedikit badannya untuk menunjukkan wajah Mino yang berada dipangkuannya.
"Maaf hyung" Jimin tersenyum kecil.
"Jadi, ada apa kau kesini?" Tanya Seokjin penasaran.
"Soal Yoongi hyung" mulai Jimin.
"Ada apa?"
"Ceritakan padaku apa saja yang hyung tau soal detail pekerjaan yang dilakukan Namjoon hyung dan Yoongi hyung"
Seokjin membolakan matanya dan tersenyum kecil kemudian. "Jim, lebih baik, Tanya langsung pada suami-mu. Bukan kapasitasku untuk menceritakan secara detail tentang pekerjaan bawah tanah mereka. Hanya saja yang perlu kau tau, mereka melakukan pekerjaan illegal. Itu saja yang bisa kuberitahu"
"Kalau itu, aku juga sudah tau hyung, tapi apa yang mereka kerjakan?"
"Tanya Yoongi" Seokjin menepuk bahu Jimin.
Ditempat lain, Namjoon dan Yoongi sedang terkekeh mendengar pembicaraan Jimin dan Seokjin. Sesuai perkiraan Yoongi, Jimin pasti mencari tau dari Seokjin lebih dahulu. Yang Jimin dan Seokjin tidak tahu adalah anting pemberian Namjoon yang dipakai Seokjin merupakan alat penyadap.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Ya Tuhan..." Stella memutar bola matanya kesal saat mendapatkan satu buket besar bunga mawar merah dari Yongguk. Ini sudah lima hari berturut-turut Stella mendapatkan bunga, Stella sudah bosan memasukkan bunga-bunga pemberian Yongguk kedalam tong sampah rumahnya. Bunga terakhir pemberian Yongguk sudah Stella gunakan untuk dekorasi kamar Yoongi dan Jimin kemarin.
"Yang ini akan dibuang lagi, Princess?" Tanya salah satu pelayan di rumah Stella.
"Kalau kau suka, boleh kau makan" ucap Stella asal.
Pelayan itu hanya terdiam didepan pintu kamar Stella yang sudah tertutup dari dalam.
Stella menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Kepalanya berdenyut nyeri karena kesal. Sudah berkali-kali Stella mengirim pesan pada Yongguk untuk berhenti mengiriminya hal-hal yang tidak penting, tapi namja itu seolah sudah tidak punya kemampuan membaca lagi. Semua pesan yang Stella kirim dianggap angin lalu olehnya.
"Sudah gila apa?" Geram Stella.
Saat sibuk memaki Yongguk dengan kata-kata tidak senonoh, ponsel Stella bergetar, menunjukan nama tuan Choi disana. Stella dengan semangat mendudukan diri ditempat tidur.
"Daddy!" sapa Stella girang.
"Kau sibuk?"
"Tidak. Bagaimana dengan kencan?" Tanya Stella semangat.
Tuan Choi terkekeh diseberang telepon. "Daddy menelepon untuk mengajakmu berkencan. Mau pergi kencan berkeliling dengan helicopter?" tawar tuan Choi.
"Mau!" Stella berucap senang. "Daddy, jemput aku ditempat biasa. Oke?"
"Oke. Telepon Daddy kalau kau sudah disana"
"Yes, Daddy. I love you"
Stella melempar ponselnya dan berlari menuju lemari. Mencari pakaian seksi miliknya dan bersiap-siap untuk bertemu dengan tuan Choi. Hanya telepon singkat dari tuan Choi sudah membuat mood Stella kembali membaik dan bisa membuat Stella lupa dengan kekesalannya pada Yongguk.
.
.
.
"Stella bukan perempuan, jadi dia tidak akan luluh karena kau kirim bunga" Yoongi menatap penuh ejekan pada Yongguk yang sedang duduk didepannya, tepat disamping Namjoon.
"Lalu bagaimana?" Tanya Yongguk putus asa.
"Berikan dia sesuatu yang dia sukai" usul Namjoon.
"Iya, tapi apa?"
"Tentu saja uang!" jawab Yoongi dan Namjoon kompak.
"Dia tidak akan luluh jika kau hanya memberikan bunga. Aku yakin bungamu akan berakhir di keranjang sampah. Aku sangat tau sifatnya. Dia tidak suka bunga" jelas Yoongi.
"Tapi Stella punya banyak uang kan?" Yongguk mengernyitkan dahinya.
"Bodohnya..." guman Namjoon pelan. "Dengar, tidak ada satu orangpun di dunia ini akan menolak pesona uang. Tidak usah munafik, diluar sana yang siap membuka kaki untukmu tentu saja karena dia tau kau mempunyai uang untuk memanjakan mereka."
"Masih tidak paham?" Yoongi tertawa melihat wajah putus asa Yongguk.
"Stella akan tunduk kalau kau bisa membiayai semua keperluannya, tanpa terkecuali" sambung Yoongi. "Perlu ku beritahu kalau harga satu gaun miliknya bisa untuk biaya mambangun rumah yang cukup mewah"
"Kalau kau tidak cukup kaya, ada baiknya mundur saja" Namjoon tertawa.
"Aku yakin aku lebih kaya dari tuan Choi itu. aku lebih muda, lebih tampan, lebih segalanya dibanding pria hidung belang yang sudah punya istri itu" Yongguk membela diri.
"Kekuranganmu hanya, kau tidak menarik di mata Stella" Yoongi menambahi. Namjoon tertawa keras.
"Sial" maki Yongguk.
"Bukannya kau ada urusan lagi? Kau datang kesini hanya untuk bertanya soal Stella?" Yoongi mengalihkan pembicaraan.
"Kebetulan aku ada waktu sebentar, jadi aku kesini saja. Sebaiknya aku pergi sekarang" pamit Yongguk.
"Ya sudah kalau begitu" Yoongi mengangguk paham.
Setelah Yongguk pergi, Yoongi tersenyum kecil menatap foto Mino diatas mejanya dan kembali focus kea rah Namjoon yang terlihat sedang berpikir keras.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Yoongi penasaran.
"Aku rasa Yongguk bukan sekedar penasaran pada Stella. Bagaimana menurutmu hyung?"
"Aku rasa juga begitu. Dia sudah tau Stella itu transgender, simpanan tua Bangka, tapi dia tetap saja keras kepala." Yoongi terkekeh.
"Kenapa kau tidak membantunya saja? Yongguk orang yang sepadan dengan Stella. Disbanding taun CHoi, aku lebih setuju dengan Yongguk" komentar Namjoon.
"Bukan urusanku. Kalau dia memang suka, kejar saja sendiri." Ucap Yoongi santai. "Aku yakin tidak akan mudah untuk Stella berpaling pada Yongguk"
"Kenapa begitu?"
"Stella menemukan apa yang paling dia inginkan dari tuan Choi"
"Apa?"
"Sosok seorang ayah biasa"
.
.
.
Jimin berusaha senormal mungkin saat berjalan masuk ke dalam ruang kerja Yoongi yang sangat jarang Jimin kunjungi. Saat berpapasan dengan beberapa bodyguard yang berjaga di depan ruang kerja Yoongi, Jimin sempat takut akan dihalangi, tapi perkiraan Jimin tidak terjadi.
Jimin mengunci ruangan itu dari dalam, berjalan berkeliling ruang besar itu sendirian, mencari-cari sesuatu yang bisa Jimin gunakan sebagai alat untuk mencari informasi.
Jimin mendudukan diri dibangku kerja Yoongi, menarik laci yang tidak terkunci dan mengeluarkan kertas-kertas dari dalamnya.
Coretan tangan Yoongi yang Jimin sama sekali tidak mengerti.
Jimin meraba lagi kedalam laci dan terkejut saat tangannya tanpa sengaja menyentuh tombol didalam laci yang membuat lukisan besar yang tergantung di dinding dekat kaca bergeser. Jimin tersentak saat melihat ada sebuah lemari besi yang cukup besar dibalik lukisan itu.
Tangan Jimin meraba kearah lemari besi, membuka lemari yang dikunci dengan menggunakan password itu dengan gemetar. Sudah berkali-kali dan Jimin masih saja gagal membuka lemari besi itu.
"Apa passwordnya..." Jimin mengetuk jarinya ke dinding sambil berpikir. "Tanggal pernikahan? Tidak mungkin, Yoongi hyung bukan orang yang seperti itu" guman Jimin.
"Passwordnya tanggal kau mengatakan iya untuk menikah denganku"
Jimin tersentak kaget saat suara berat Yoongi terdengar.
"Merindukanku?" Yoongi berjalan mendekat kearah Jimin yang mematung.
Jimin sudah sangat yakin kalau dia sudah mengunci pintu itu dari dalam, lalu darimana namja pucat ini masuk?
"Jadi, apa yang dilakukan nyonya Min kami disini?" Yoongi berhenti tepat didepan Jimin, tangannya dimasukkan kesaku dengan bibir yang mengulas senyum.
"H-hyung, kau sudah pulang..." cicit Jimin.
"Tidak ingin memeluk suamimu ini, nyonya Min?"
Jimin berkedip-kedip, badannya berdiri kaku dengan mata yang menatap takut pada Yoongi.
"Sini" Yoongi mengeluarkan tanganya dari saku, memanggil Jimin untuk mendekat.
Ragu-ragu Jimin bergerak mendekat, memeluk pinggang Yoongi dengan kaku.
"Mino sudah tidur?"Yoongi mengelus kepala Jimin yang sedang memeluknya kaku.
"Sudah hyung..."
"Mencari sesuatu, nyonya Min?"
Jimin menelan ludahnya gugup. Aura yang Yoongi keluarkan membuat Jimin merinding dipelukan namja pucat itu.
"Hyung, maaf..." sesal Jimin.
"Kenapa minta maaf?"
"Maaf.." Jimin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.
Yoongi terkekeh, mencium kepala Jimin yang bergerak-gerak dibahunya. "Aku tidak marah, Jiminie. Kenapa minta maaf? Memangnya kau membuat kesalahan apa?" pancing Yoongi.
"Aku tidak bermaksud mencari tahu" ucap Jimin polos, membuat Yoongi terkekeh gemas. Jimin baru saja mengaku tanpa sadar.
"Iya, aku percaya kau sedang tidak mencari tahu pekerjaanku dibawah tanah" sindir Yoongi.
Badan Jimin menegang.
"Kalau ingin tahu, kau bisa bertanya padaku. Aku akan menjawabnya"
Jimin merenggangkan pelukannya dan menatap Yoongi tidak percaya.
"Polos sekali" Yoongi terkekeh, menarik tengkuk Jimin dan mencium Jimin tepat di bibir.
Yoongi mendorong Jimin kearah dinding, memerangkap Jimin diantara tangannya, memperdalam ciuman keduanya.
Jimin meremas kemeja bagian depan Yoongi saat lidah Yoongi bermain-main didalam mulutnya.
"H-hyungh.." Jimin tanpa sadar mendesah diantara ciuman mereka yang belum terputus.
"Jangan mendesah, Jimin" Yoongi memperingatkan dan kembali mencium Jimin.
Jimin menurut dan kembali membalas ciuman Yoongi, sama panasnya.
"Hnngh.. hyung" Jimin kembali mendesah tanpa sadar saat telapak tangan Yoongi bermain diperutnya.
"Shit" maki Yoongi. Desahan Jimin adalah perusak pengendalian diri Yoongi paling ampuh.
Keadaan makin panas diantara keduanya saat Yoongi sudah berhasil menarik baju Jimin hingga terlepas dari tubuh pemiliknya. Yoongi tidak bisa menahan dirinya lagi. Salahkan Jimin yang mendesah untuknya.
"Nyanyikan namaku semalaman, nyonya Min" Yoongi menyeringai dengan Jimin yang sudah tergelatak pasrah disofa, dibawah kukungan Yoongi.
"Hyung, M-mino..."
"Malam ini kau milikku." Yoongi menatap lurus pada mata sayu Jimin yang malu-malu menatapnya.
Yoongi yang seperti ini, Yoongi yang arogan, Yoongi yang mendominasi adalah kelemahan Jimin.
"Ayo buat adik untuk Mino" Yoongi menyeringai nakal.
Entah atas dasar apa, Jimin menyukai seringaian nakal Yoongi setiap kali mereka bercinta.
Satu informasi yang Jimin dapat, satu malaman harus Jimin habiskan dengan menyanyikan nama Yoongi diantara desahannya.
Tidak ada yang gratis di dunia ini, Park Jimin.
.
.
.
TBC
