"Hyung?" Jimin menyamankan dirinya di dalam pelukan Yoongi.

Keduanya sedang berada di dalam bathtub berisi air hangat. Hanya berduaan karena Mino masih bersama eomma dan appa Chae.

"Hmm?" jawab Yoongi malas-malasan. Yoongi sedang sibuk mengecupi leher dan bahu telanjang Jimin yang memiliki wangi sabun yang menenangkan kepalanya.

"Badannku rasanya aneh sekali semalam" adu Jimin, menarik tangan Yoongi agar makin erat memeluknya dari belakang.

"Kalau begitu, sering-seringlah merasa aneh" jawab Yoongi asal.

Jimin tertawa mendengar jawaban Yoongi yang terdengar malas-malasan. Ini mandi pagi mereka yang sudah lama tidak mereka lakukan semenjak memiliki Mino. Jelas keduanya memanfaatkan waktu berduaan sebaik-baiknya sebelum bos kecil pulang ke rumah.

"Serius, Hyung. Badanku rasanya aneh. Tidak biasanya aku begitu"

"Tolong dibiasakan"

"Hyung, serius!" Jimin memukul pelan tangan Yoongi didalam air. Dari tadi Yoongi tidak benar-benar menanggapi ucapan Jimin.

"Iya, iya. Memangnya kenapa? Mungkin kau merasa begitu karena kau melihat aku terlalu tampan, semalam?" ucap Yoongi makin terdengar asal.

Jimin memutar bola matanya. "Aku melihatmu tiap hari, hyung. Lagian, semalam…"

"Yah, Park Jimin, Memangnya kenapa denganmu semalam? Aku saja senang kau begitu, kenapa kau mempermasalahkannya?"

Jimin merona malu mendengarnya. Jimin hanya merasa aneh, tidak biasanya dia sangat 'ingin' sampai sebegitunya. Jimin bahkan merasa dia benar-benar kehilangan urat malunya semalam. Memikirkan tingkahnya diatas tempat tidur, Jimin kembali memerah.

"Tapi kan, hyung…"

"Sudahlah. Anggap saja itu hadiah darimu. Lagian aku suka melihatmu seperti itu. sangat… seksi" bisik Yoongi tepat ditelinga Jimin.

Dada Jimin berdebar keras. Jimin dengan sengaja memercikkan air kearah Yoongi.

"Jadi biasanya aku tidak seksi?" Tanya Jimin malu-malu.

"Seksi, tapi tidak nakal. Ah, tapi kau pasrah sekalipun kau sangat menantang"

"Yah!" Jimin memukul lagi tangan Yoongi di dalam air. Telinganya sudah memerah karena ucapan Yoongi.

"Maluu…" ejek Yoongi. "Lagian apa yang membuat mu malu, nyonya Min? aku sudah melihat semuanya. Bagian tubuhmu yang mana yang belum ku cium?"

"Hyung! Hentikan, oke? Jangan berkata vulgar seperti itu lagi!" omel Jimin.

"Kau yang mulai" cibir Yoongi dan mengeratakan pelukannya pada tubuh Jimin.

"Hyung, bagaimana kalau aku tidak ada? Apa hyung akan menikah lagi?" Jimin mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja" jawab Yoongi enteng.

Mendengar ucapan Yoongi, Jimin dengan cepat melepas pelukan Yoongi, memiringkan sedikit tubuhnya dengan dahi yang mengeryit.

"Wae?" Tanya Yoongi polos.

Jimin enggan menjawab, dengan cepat Jimin keluar dari bathtub, membasuh tubuhnya di shower dengan buru-buru. Sementara itu, Yoongi sedang memperhatikan Jimin terang-terangan. Memperhatikan dengan teliti setiap inchi tubuh Jimin yang terlihat dari ruang shower yang hanya dibatasi dengan kaca transparan.

Merasa di perhatikan, Jimin melirikkan wajahnya pada Yoongi. Keduanya saling bertatapan, tidak lama, karena Jimin langsung memutuskan kontak mata diantara mereka.

Yoongi tau Jimin tengah merajuk dengan ucapannya tadi.

Merasa tidak dibujuk atau ditahan sama sekali, Jimin menyambar handuk baju berwarna hitam milik Yoongi yang tergantung, memakainya asal dan keluar dari kamar mandi menuju walk in closet milik mereka. Sebelum benar-benar menghilang, Jimin melirikkan lagi wajahnya pada Yoongi yang masih saja menatapnya dengan tajam.

"Mau disusul ternyata" Yoongi terkekeh melihat Jimin yang sedang merajuk.

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

Jimin sedang menggeser pintu lemari didepannya untuk mencari pakaian yang akan digunakannya untuk pergi menjemput Mino nanti, sementara Yoongi sudah mengenakan handuk, hanya berdiri didepan pintu sambil terus menatapi Jimin yang dengan sengaja mengabaikannya. Yoongi menyeringai.

"Carikan bajuku, Jiminie" ucap Yoongi didepan pintu.

Jimin hanya melirikkan matanya sekilas, berhenti mencari pakaian untuknya dan membuka lemari Yoongi, dimana jejeran setelan jas sudah tergantung rapi didalam lemari.

Setelah mendapatkan jas, Jimin berjalan ke kotak kaca besar yang ada ditengah ruangan, memilih dasi, jam, ikat pinggang, dan jam tangan yang akan Yoongi kenakan untuk bekerja hari ini.

"Tidak ingin bertanya soal pendapatku?"

Jimin terlalu kesal, sampai tidak menyadari Yoongi yang sudah mengurungnya diantara tubuhnya dan kotak kaca di depan Jimin.

"Hyung mengganggu" Jimin mendorong Yoongi hingga mundur beberapa langkah dan berjalan ke lemari lagi untuk mencari kemeja yang cocok untuk jas Yoongi.

Yoongi terkekeh pelan, membuat Jimin berbalik menatapnya.

"Apa yang lucu, Min Yoongi?" kesal Jimin.

"Oh, wow, Park Jimin-ssi" Yoongi masih tertawa, ada kilat jahil yang tertangkap dimata itu. "Min Yoongi? Sopan sekali"

Jimin mengabaikan Yoongi lagi. Dia makin kesal karena Yoongi tidak juga mengatakan apa-apa soal jawabannya saat di bathtub.

Jimin sudah akan berjalan meninggalkan Yoongi menuju kamar sampai Yoongi menahan tubuhnya dengan merentangkan satu tangannya untuk memeluk perut Jimin dari belakang.

"Marah?" Tanya Yoongi basa-basi.

Jimin hanya memberontak pelan sebagai jawabannya. Dia keberatan untuk dipeluk sekarang.

"Aku hanya bercanda, sayang"

"Tidak lucu!" Jimin menyiku pelan perut Yoongi yang memeluknya dari belakang.

Jimin bisa mendengar tawa kecil yang keluar dari pria pucat yang sedang memeluknya dari belakang.

"Hyung, lepas…" kesal Jimin.

"Tidak sebelum kau memaafkanku" Yoongi menggosokkan hidungnya di leher Jimin yang masih lembab dengan wangi sabun yang masih tersisa dikulitnya.

"Kau bahkan tidak mengatakan maaf, hyung" Jimin memutar bola matanya kesal, tapi membiarkan Yoongi terus mengecupi lehernya begitu saja.

Yoongi kembali terkekeh dileher Jimin. "Apa aku harus meminta maaf karena aku menjawab seperti itu? kau sendiri yang bertanya, lalu kuberi jawaban, dan kau marah?"

Lagi Jimin kembali memberontak kecil untuk dilepas, tapi lagi-lagi Yoongi mengeratkan pelukannya diperut Jimin.

"Lepas, hyung" geram Jimin.

"Dengar, Park Jimin-ssi. Aku tidak akan menikah lagi…"

Jimin mendegus. Aneh memang, dia yang bertanya, dia yang marah. Hanya memikirkan Yoongi akan menikah lagi jika dia tidak ada, Jimin merasa sangat cemburu. Dia tidak rela membagi Yoongi-nya pada siapapun.

"Bukannya tadi hyung sendiri yang bilang akan menikah?"

Yoongi terkekeh, mengecup pipi Jimin sekilas dan meletakkan dagunya dibahu Jimin. "Aku tidak akan menikah lagi, karena kau tidak akan kemana-mana. Kau hanya boleh disini, karena kau milikku pribadi."

"Kalau aku pergi, bagaimana?"

"Kau tidak akan pergi karena aku tidak pernah memberi izin, bahkan dari awal pertemuanpun aku sudah bilang, kau tidak boleh pergi tanpa izin dariku."

"Egois" cibir Jimin.

"Memang. Sudah tau egois, masih saja mau diajak menikah" balas Yoongi. "Aku egois karena aku mencintaimu. Ingat itu"

Yoongi berjalan menuju kamar, meninggalkan Jimin yang tengah memerah menahan malu dan debaran dadanya yang menggila.

"Dasar menyebalkan" cibir Jimin dengan pipi yang memerah.

.

.

.

Yongguk tidak bisa tidur semalam. Setelah berhasil kabur dengan memakai granat, Yongguk membawa Stella ke rumah salah satu rekan bisnisnya. Seorang politisi terkenal yang disegani di Negara mereka. Siapa yang akan menyangka kalau buronan polisi internasional, tidur di rumah orang penting seperti tuan Im.

Entah sudah berapa kali Yongguk mendudukan diri dipinggir tempat tidur dan kembali berdiri sambil memandangi Stella yang sedang tertidur tanpa pakaian ditempat tidur dan hanya ditutupi selimut tebal dibaliknya.

"Kenapa tidak berekasi, ya" guman Yongguk lagi, kembali mendudukan diri disamping tempat tidur sambil memandangi wajah Stella yang sangat lelap.

"Apa dosis-nya kurang? Masa sudah seperempat tablet tidak berpengaruh apa-apa?" Yongguk mengernyitkan alisnya.

Harusnya, obat yang Yongguk masukkan ke dalam minuman Stella memiliki efek perangsan. Tapi, ini bahkan sudah hampir jam enam pagi, tidak ada yang terjadi.

"Kau benar-benar tertidur apa pura-pura saja?" Yongguk mengelus rambut Stella pelan. "Kalau tidur begini cantik sekali. Siapa sangka kalau dia seorang mafia" Yongguk terkekeh pelan, tangannya masih terus mengelus rambut Stella.

Merasa bodoh karena bicara sendiri, Yongguk menghela nafas. "Apa aku harus punya istri dan anak dulu supaya kau tertarik?" Yongguk menatap lurus pada Stella yang tertidur miring dengan memeluk guling. "Dasar pembuat masalah" kesal Yongguk dan menjentikkan jarinya pelan di dahi Stella.

"Aku sedang memarahimu, hey, nona perkasa." Ucap Yongguk pelan dan terus menggusap kepala Stella.

Ketukan pintu membuat Yongguk berhenti berbicara pada Stella yang sedang tertidur. Yongguk menarik selimut sampai sebatas dagu Stella dan mematikan lampu sebelum menuju ke pintu.

"Maaf tuan, tuan Im ingin bicara" asisten tuan Im berucap sopan.

"Pacarku belum bangun. Bisa nanti saja?"

"Tuan Im hanya perlu berbicara dengan anda saja" ucapnya sopan.

"Apa jaminannya kalau pacarku akan aman-aman saja saat ku tinggal?" Yongguk berkeras.

"Rumah ini tidak mengizinkan tamu masuk sembarangan. Kami akan memastikan pacar anda baik-baik saja"

"Itu bukan jaminan" Yongguk memutar bola matanya.

"Anda bisa mempercayakan pacar anda pada bodyguard disini. Pacar anda akan aman. Kami berjanji"

Yongguk menghela nafasnya, menatap kearah tempat tidur dimana Stella sedang terlelap. "Aku kesana sebentar lagi" ucap Yongguk akhirnya.

Setelah mengunci Stella dari luar, Yongguk berjalan mengikuti asisten tuan Im menuju ruang kerja tuan Im.

"Tidurmu nyenyak?" Tanya tuan Im ramah begitu Yongguk sampai didalam ruang kerjanya.

"Perhatian sekali. Aku merinding mendengarnya" Yongguk tersenyum remeh.

Mendengar ucapan Yongguk, tuan Im tertawa cukup keras. "Duduk" tuan Im mempersilahkan.

Yongguk mendudukan diri didepan tuan Im dengan berbatas meja kerjanya. Yongguk bisa melihat seorang pria lain yang duduk di sofa tidak jauh darinya. "Siapa?" Tanya Yongguk basa-basi.

"Oh, kenalkan, Jung Hoseok" tuan Im menatap Hoseok yang juga sedang menatap padanya.

"Yongguk" ucap Yongguk memperkenalkan diri pada Hoseok. "Ada apa?"

"Aku ingin membuat penawaran. Jumlahnya fantastis kalau kau mau bekerja sama" mulai tuan Im.

Yongguk tersenyum, menaikkan satu alisnya dan menatap tajam pada tuan Im. Dia sangat senang berbisinis dengan jaminan keuntungan fantastis.

"Oke, apa kali ini?" Tanya Yongguk semangat.

"Oh, sebelumnya, Hoseok adalah seorang produser, anggap saja begitu." Ucap tuan Im membuat Yongguk mengernyit bingung.

"Penawarannya begini, kau akan mendapatkan kilang minyak yang baru dengan pembersihan pajak dan kejadian semalam dianggap tidak ada, juga ini" tuan Im menggeser sebuah cek dengan nominal yang membuat Yongguk hampir meneteskan air liur. "Jumlah yang tidak sedikit, kan?" tuan Im menyeringai melihat mata Yongguk yang berkilat lapar.

"Aku pasti harus melakukan sesuatu yang cukup penting untuk mendapatkan semua ini, kan?" Yongguk bukan orang bodoh. Jelas dia tahu, tidak akan ada orang yang mau memberi semua itu dengan Cuma-Cuma.

"Tentu ada hal yang harus kau lakukan untuk mendapatkan semua ini, Yongguk" tuan Im tersenyum lebar.

"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Yongguk penasaran.

"Serahkan Dokter Joo pada kami" Hoseok berucap tenang.

Yongguk mengernyitkan dahinya bingung. "Dokter Joo?"

"Iya, Dokter Joo, atau yang sekarang kau kenal dengan nama Stella" Hoseok menatap Yongguk lurus.

Yongguk tertawa kencang. Stella? Dokter? Nona perkasa-nya seorang dokter?.

"Aku serius!" geram Hoseok. "Serahkan transgender itu dan kau dapat semuanya!" Hoseok menggebrak meja karena kesal dengan tingkah Yongguk yang tidak serius.

"Kenapa aku harus menyerahkan dia padamu?" Yongguk meremehkan.

"Dimana dia?!" Hoseok mengarahkan pistolnya pada Yongguk karena kesal.

"Ah, aku takut sekali" ucap Yongguk main-main.

"Hoseok, tenanglah" tuan Im memperingatkan.

"Dengar Yongguk, cepat atau lamban, Stella atau dokter Joo, atau siapalah itu, akan tertangkap. Dia itu pengacau paling berbahaya. Mereka memberikan penawaran ini karena mereka yakin tidak akan semudah itu menangkap criminal sakit jiwa sepertinya." Jelas tuan Im.

"Lalu kalian pikir aku bisa menangkapnya?" ejek Yongguk.

"Aku tau dia ada di rumah ini" ucap tuan Im tenang. "Dia gadis yang semalam kau bawa kesini"

"CIA mengincarnya" ucap Hoseok.

Yongguk menaikkan alisnya terkejut. "CIA?"

"Iya"

"Lalu kau siapa?" Tanya Yongguk penasaran.

"Jung Hoseok. Dia produser, anggap saja begitu. Seperti kau yang dikenal sebagai pemilik kilang minyak" ucap tuan Im.

Yongguk terkekeh. "Kirim padaku uang DP-nya, ku pastikan dia ditanganmu" Yongguk berdiri, menepuk bahu Hoseok dan berjalan meninggalkan ruang kerja tuan Im.

.

.

.

"Anda ikut kami ke kantor" Yoongi hanya tertawa kecil saat dia disergap di parkiran bawah tanah kantornya.

Tanpa melawan sama sekali, Yoongi dimasukkan kedalam mobil berlapis baja dengan penjagaan ketat. Disamping kiri, kanan, dan depan Yoongi sudah duduk polisi dengan baju pengaman lengkap serta senjata laras panjang.

Bunyi sirine memekakan telinga berbunyi bersamaan dengan mobil yang membawa Yoongi menuju kantor polisi berjalan. Jika dilihar dari luar, seperti presiden sedang melewati jalanan karena banyaknya penjagaan disekitar mobil yang membawa Yoongi.

Keterdiaman Yoongi yang mencurigakan membuat polisi yang bertugas menjaga Yoongi merinding karena Yoongi hanya menatap kebawah dengan seringaian dibibirnya.

"Pastikan dia tidak kabur" suara dari salah satu ponsel milik penjaga itu terdengar, membuat Yoongi mendengus dan tertawa.

Yoongi dibawa keruang bawah tanah, tempat dimana para tersangka kejahatan di introgasi. Ruangan itu sangat dingin begitu Yoongi masuk dan di dudukan paksa disalah satu bangku yang ada.

"Tidak ku sangka bisa bertemu muka langsung dengan criminal kelas atas yang paling sulit ditemui" ucap salah satu detektif yang Yoongi yakin bukan warga Negara mereka.

Mendengar ucapan yang logatnya cukup asing itu membuat Yoongi menyeringai remeh dan menatap tajam pada detektif yang duduk didepannya.

"Tipikal psikopat. Tidak ada takutnya" ejek detektif itu lagi.

Yoongi menyeringai lagi, sikapnya benar-benar tenang, hingga detektif yang berada didepan Yoongi kesulitan membaca emosi Yoongi yang sebenarnya. Yoongi terlalu dingin.

"Kau tidak selicin itu Min Suga, atau harus ku sebut Min Yoongi mulai sekarang?" detektif itu tersenyum remeh, mengimbangi permainan Yoongi yang terlalu tenang.

Yoongi bersandar santai, mendengar ocehan dari pria didepannya membuatnya muak. Belum lagi dengan tangannya yang diborgol dibelakang punggungnya, membuat pergerakan Yoongi terbatas.

"Kau bahkan bisa sesantai ini setelah tertangkap?" emosi pria itu mulai tersulut dengan sikap Yoongi yang termasuk dalam kategori kurang ajar dimatanya.

Menanggapi ucapan pria itu, Yoongi hanya menguap lebar.

Detektif itu menggebrak meja, emosinya benar-benar tersulut dengan sikap Yoongi yang tidak sopan padanya. Beberapa polisi yang ikut menjaga, menarik pria itu agar mundur dan kembali duduk dikursinya. Sesuai arahan dari atasan mereka, Yoongi tidak boleh disentuh sama sekali sebelum mereka berhasil mendapatkan informasi yang mereka inginkan.

Yoongi tertawa sinis, memejamkan matanya beberapa saat dan saat mata itu terbuka, kilat mata itu berubah marah.

.

.

.

TBC