"Selamat pagi..." Bisik Stella tepat ditelinga Hoseok yang masih lelap tertidur. Jam masih menunjukan pukul empat pagi saat Stella menyelinap masuk kedalam apartemen milik Hoseok.

Merasa tidak ada pergerakan dari Hoseok yang masih nyenyak tertidur, Stella mencibir kesal. "Mungkin cara berbisikku kurang mesra. Bagaimana biasanya Kitten kalau berbisik ditelinga Asshole? Bukan urusanku." Stella berguman sendiri dan memperbaiki posisi tidurnya yang menyamping.

"Bangun, brengsek..." Bisik Stella lagi.

Merasa ada yang asing disampingnya, Hoseok yang tertidur telungkup mengerjabkan matanya yang masih mengantuk beberapa kali sampai dia berbalik dan mendapati seorang perempuan sedang tidur menyamping kearahnya.

"Selamat pagi..."

Sapaan dari Stella berhasil membuat Hoseok kehilangan kantuknya, sangkin kagetnya Hoseok bahkan sampai terjatuh dari tempat tidurnya. Buru-buru Hoseok mengambil gunting diatas meja dan berdiri mengacungkannya pada Stella.

"Siapa kau?" Hoseok memperhatikan secara serius pada Stella yang masih tertidur diatas tempat tidurnya dan sedang tertawa. Suasana kamar yang gelap membuat Hoseok kesulitan untuk melihat siapa yang ada ditempat tidurnya.

"Kau lupa?" Stella terkekeh, menduduka diri diatas tempat tidur, berhadapan dengan Hoseok yang berjalan mundur kegorden belakangnya.

Tangan Hoseok perlahan membuka tirai, membuat penerangan dari luar berhasil masuk ke kamarnya dan Hoseok tidak bisa untuk tidak terkejut dengan tamu tidak diundangnya kali ini.

"Stella!" Hoseok menguatkan pegangannya pada gunting ditangannya dan terus mengacungkannya pada Stella.

"Aku terharu kau ingat padaku" ucap Stella haru. "Sebentar, air mataku hampir menetes"

Hoseok tau itu sindiran, dan Hoseok merasa muak akan hal itu.

"Apa maumu!" geram Hoseok.

"Huh? Bukannya kau mencariku?" Stella memiringkan kepalanya, menatap dengan wajah bingung dibuat-buat. "Aku sudah disini, tangkap aku, Daddy" lanjut Stella dan memajukan kedua tangannya kearah depan.

"Keluar dari sini!"

"Huh? Sudah jauh-jauh datang, menerobos masuk, lalu aku di usir? Jahat sekali" rajuk Stella.

"Ku bilang, apa maumu!" bentak Hoseok.

"Aku kesini karena kau mencariku, sayang."Stella berdiri diatas tempat tidur Hoseok, menunjukkan bagaimana menerawangnya dress yang sedang dipakai Stella, bahkan Hoseok bisa melihat dengan jelas pakaian dalam Stella dari tempatnya berdiri. "Ayo tangkap..." rengek Stella lagi.

Hoseok menelan ludahnya takut, dia sudah banyak diberitahu bagaimana bahayanya orang didepannya ini sekarang. Bahkan 'mereka' meminta Hoseok jangan pernah menghadapinya sendirian. Terkenal sebagai ratu psikopat, jelas Stella bukan lawan yang seimbang untuk Hoseok.

"Ya sudah, kalau kau tidak mau menangkapku, aku saja yang menangkapmu. Ayo bermain, calon budak." Stella menyeringai.

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

Yoongi baru saja sampai di kamar, melepaskan jas dan kemejanya, berniat berganti baju sampai matanya menangkap sosok kecil yang sedang terduduk diatas tempat tidur, bergoyang-goyang kecil seperti sedang menahan kantuknya.

Disampingnya, ada Jimin yang sedang tertidur pulas tanpa tau kalau anak mereka setengah terbangun dan sedang terduduk menahan kantuknya.

Yoongi berjalan mendekat setelah memastikan tidak ada bau rokok yang menempel dibadannya, mendudukan diri dan tersenyum lucu melihat anaknya yang terkantuk-kantuk diatas tempat tidur.

"Tidurlah..." Yoongi mengambil Mino dari atas tempat tidur, menimangnya dipangkuannya. Bukannya tertidur, Mino malah membuka mata dan terkekeh saat melihat Yoongi sudah pulang.

"Cepat tidur, nanti Papa marah pada Appa" Yoongi mengusap kening Mino, kembali menimang anaknya yang sudah bergerak-gerak minta dilepas.

"Abbaa..."

"Sshh... jangan keras-keras, nanti Papa terbangun. Bisa-bisa Appa dituduh sudah mengganggumu tidur, Mino-ya"

"Abba...aaababa..." Mino menunjuk-nunjuk perut Yoongi dan tertawa kecil.

"Astaga..." Yoongi menunduk, menyerang anaknya dengan ciuman-ciuman kecil. "Ayo ke balkon, nanti Papa terbangun. Dasar tidak penurut" omel Yoongi, tapi bibirnya tersenyum hangat.

Keduanya keluar menuju balkon yang menghadap ke kolam berenang, udara dingin pagi langsung menyerang keduanya, untungnya Yoongi sudah membawa selimut kecil milik Mino dan memakaikannya pada sang anak.

Yoongi memilih duduk di sofa yang ada dibalkon, menikmati waktu subuh bersama anaknya yang sedang duduk dipangkuannya dan sedang mengigiti pergelangan tangan Yoongi hingga dibanjiri air liur.

"Mino-ya, kau tidak boleh cepat-cepat bangun, kasihan Papa" ucap Yoongi, seolah anaknya sudah mengerti apa yang sedang dia bicarakan.

"Hey, kau dengar Appa, tidak?" Yoongi menggerakkan tangannya yang digigiti Mino pelan untuk menarik perhatian anaknya.

"Apa yang ku lakukan, mana mungkin anakku mengerti" Yoongi terkekeh dan mengeratkan pelukannya diperut Mino.

Yoongi memilih diam, menatapi langit yang gelap dan menikmati keadaannya saat ini. Yoongi sangat jarang ada di rumah, Jimin-lah yang selalu menjaga Mino nyaris 24 jam dan Yoongi sadar, menjaga anak kecil bukanlah pekerjaan yang gampang.

Yoongi sering membandingkan dirinya dan Jimin, terkadang Yoongi merasa kalah dalam menarik perhatian anaknya. Mino tidak masalah kalau Yoongi pergi bekerja, tidak ada pernah ada drama tangisan Mino kalau Yoongi pergi.

Berbeda kalau jimin yang pergi, hanya di tinggal 10 menit, Mino akan mulai mencari Jimin dan akan menangis kalau Jimin pergi. Rasanya Yoongi tidak terlalu dibutuhkan anaknya.

Jimin meraba tempat tidur disampingnya dan terduduk dengan panic saat tidak merasakan Mino ditangannya, Jimin melirik ke kiri ke kanan bahkan kebawah tempat tidur untuk mencari keberadaan Mino, tapi anaknya tidak juga ditemukan.

Jimin buru-buru turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar mereka, pintu itu terkunci dan membuat Jimin mulai pucat pasi. Saat Jimin nyaris menangis, Jimin menemukan Yoongi dan Mino yang sedang duduk dibalkon.

Mino sedang dipangku Yoongi, sedang menatap serius pada jarum jam ditangan Yoongi setelah membasahi tangan kanan Yoongi dengan liurnya. Sementara Yoongi sedang bersandar disandaran sofa dengan kepala mendongak keatas.

Braak...

Yoongi meneggakkan tubuhnya dan menatap Jimin yang terduduk lemas didekat meja dibalkon.

"Jim? Ada apa?" Yoongi cepat berdir dan berjongkok didepan Jimin dengan Mino digendongannya.

Tanpa bicara, Jimin memeluk leher Yoongi erat. Yoongi bisa merasakan bahu telanjangnya basah, Jimin pasti sedang menangis.

"Kenapa?" Tanya Yoongi pelan, tangannya bergerak mengelus punggung Jimin dengan lembut.

Jimin menggeleng keras, berusaha meredakan tangisnya.

"Kau mimpi buruk?" Yoongi mengecup kepala Jimin untuk menenangkannya, sementara Mino sudah mengemut anting ditelinga Yoongi.

"Aku pikir Mino hilang" guman Jimin pelan.

Yoongi tersenyum kecil, menggusak kepala Jimin dan mengurai pelukannya.

"Anak kita baik-baik saja. Dia sedang mencari tahu rasa anting ditelingaku" Yoongi berusaha mencairkan suasana.

Jimin terseyum lembut, menatap lurus pada wajah Yoongi. "Hyung, peluk aku" pinta Jimin lemah.

Yoongi tersenyum lebar, mendudukan diri di depan Jimin dan menarik kepala Jimin untuk dipeluk. Jimin memeluk pinggang Yoongi erat, menyandarkan dahinya didada telanjang Yoongi, sesekali Jimin menggusakkan hidungnya pada paha Mino yang sedang sibuk sendiri di gendongan Mino.

"Bau rokok" protes Jimin.

"Tadinya mau mandi, tapi aku melihat Mino terduduk diatas tempat tidur, jadi aku ingin menidurkannya lagi dengan membawanya kesini agar kau tidak terganggu" jelas Yoongi.

"Kau membuat jantungku hampir copot, hyung" kesal Jimin.

"Aku hanya ingin kau istirahat lebih lama, tapi kau malah menangis" Yoongi terkekeh, mencium kembali kepala Jimin lembut.

"Setidaknya beritahu aku"

"Kalau diberitahu, sama saja aku mengganggu" Yoongi mengernyitkan alisnya. "Mino-ya, berhenti memakan telinga Appa" Yoongi menjauhkan sedikit kepalanya.

Jimin yang mendengar ucapan Yoongi, terkekeh pelan, mengecup dagu Yoongi sekilas sebelum duduk tegak.

"Hyung, disini dingin, kasihan Mino. Ayo ke kamar" ajak Jimin.

"Abbaba..." Mino terdengar bernada protes, tangan kecilnya berusaha menangkap telinga Yoongi lagi, tapi tangan Jimin menghalanginya.

"Tidak boleh, Mino-ya. itu bukan makanan" Nasehat Jimin.

Seperti mengerti kalau dia sedang dilarang, Mino menurut dan berhenti menggapai telinga Yoongi.

"Apa-apaan ini" ucap Yoongi tidak senang. Anaknya menuruti ucapan Jimin, sementara ucapannya dianggap angin lalu.

"Wae?" Tanya Jimin polos. Dia bingung dengan nada protes Yoongi.

Yoongi menghela nafas, bukan salah Jimin kalau Mino menurut padanya. Ini salahnya karena sangat jarang menghabiskan waktu dirumah bersama anaknya. "Bukan apa-apa, ayo masuk" .

Yoongi mendudukan Mino diatas perutnya, anaknya sedang memukul-mukulkan mainan mobil-mobilannya diatas perut Yoongi, tidak masalah untuk Yoongi, toh tenanga anaknya tidak sekuat itu.

Disampingnya Jimin sedang memeluk dadanya, meletakkan kepalanya di lengan Yoongi dan salah satu kakinya menimpa paha Yoongi.

"Lama-lama kalian berdua berat juga" ucap Yoongi pelan.

Jimin tertawa kecil, menaikkan sedikit wajahnya untuk melihat wajah suaminya yang sedang mengernyitkan hidungnya.

"Kami tidak peduli" Jimin terkekeh dan menyurukkan wajahnya keleher Yoongi.

"Ya.. ya.. bagus sekali, sekarang kalian berdua sudah tidak menurut padaku lagi. Tunggu sampai kita punya anak lagi, Park Jimin dan kau Nak," Yoongi menatap memicing pada Mino yang menatapnya polos. "Tunggu sampai kau punya adik, Mino-ya"

"Appa akan punya teman sekongkol kalau adikmu lahir dan kau jadi nomor dua, Min Mino. Lihat saja nanti" ancam Yoongi.

Jimin tertawa, tangannya memukul dada Yoongi. "Kalau aku tidak mau, bagaimana Appa?"

"Aku akan memaksa, lihat saja kalian berdua"

Jimin tertawa lagi, mengecup rahang Yoongi dan menggusakan hidungnya dirahang Yoongi.

"Kami sayang Appa. Kami juga penurut" Kekeh Jimin.

"Tidak, kalian menjadikanku nomor dua. Aku tau. Aku bisa merasakannya" Yoongi memutar bola matanya kesal.

Jimin terkekeh lagi. Quality time seperti ini tidak sering mereka lakukan mengingat pekerjaan Yoongi yang sangat banyak, jadi Jimin sangat menikmatinya.

"Kalau punya anak lagi, mau perempuan atau laki-laki?" pancing Jimin.

"Apa saja, tidak masalah. Saat nanti adik Mino lahir, kalian berdua akan menjadi nomor dua" Yoongi menatap sinis pada Jimin yang tersenyum lebar dipelukannya.

"Oh ya? memangnya Appa tega menjadikan kami nomor dua?" Jimin menjepit dagu dan pipi Yoongi dengan tangannya, membuat bibir suaminya mengerucut lucu. "Yakin Appa bisa setega itu? huh? Huh?" goda Jimin.

Yoongi menggerakkan sedikit kepalanya agar tangan Jimin terlepas. "Kita lihat saja nanti, Park Jimin, kau juga, Nak..." ucap Yoongi sambil menatap Mino.

"Iya, ya sudah. Kami yakin Appa tidak akan tega." Jimin menaikkan sediki wajahnya, mencium pipi Yoongi sekilas dan kembali menidurkan pipinya di dada Yoongi.

"Hyung, kau belum tidur sama sekali. Ini sudah jam enam pagi" Jimin mengingatkan.

"Aku belum mengantuk"

"Itu karena hyung membiarkan Mino bermain-main. Hyung tidurlah, biar aku yang menjaga Mino" ucap Jimin.

"Nanti saja. Aku belum mengantuk"

"Tapi..."

"Nanti, Park Jimin" tegas Yoongi.

Jimin menurut kali ini, dia sangat suka saat Yoongi membiarkannya bermanja-manjaan seperti ini. Belum lagi tangan Yoongi yang mengelus helai rambutnya pelan dan sesekali juga Yoongi mengecup kepala Jimin cukup lama, membuat Jimin merasa sangat disayangi oleh Yoongi.

.

.

.

"Kapan kau akan menyerahkan Stella pada kami? Kau sudah menerima uangnya, Yongguk" tuan Im menatap dingin pada Yongguk.

"Secepatnya. Kalian akan mendapatkannya secepatnya. Ngomong-ngomong, kenapa 'organisasi' kalian sangat menginginkannya"

"Jangan terlalu banyak bertanya, serahkan saja kriminnal itu pada kami dank au mendapatkan semua yang kau inginkan"

Yongguk tertawa keras mendengarnya. "Kriminal, ya..." ulang Yongguk.

"Kau hanya belum benar-benar mengenalnya, Yongguk. Percaya padaku, dia sakit jiwa"

Yongguk mendengus remeh. "Ya, terserahlah"

"Tuan maaf mengganggu" salah satu ajudan tuan Im membungkuk hormat padanya.

"Ada apa?" Tanya tuan Im penasaran.

Ajudannya melirik pada Yongguk, seperti bertanya apakah Yongguk boleh mendengar apa yang akan dia katakan atau tidak. Setelah mendapat anggukan dari tuan Im, ajudan itu mengangguk lagi.

"Jung Hoseok koma di rumah sakit. Seseorang menusuk perutnya berkali-kali dengan benda tajam." lapornya.

"Apa?" tuan Im menaikkan alisnya tak percaya.

"Dan detektif yang bertugas mengintrogasi tuan Min Yoongi, pagi ini ditemukan tewas terkubur semen di dinding gudang rumahnya, tuan. Seseorang menyelinap dan membunuhnya."

Yongguk menaikkan alisnya mendengar dua berita yang cukup menarik perhatiannya. "Mengubur seseorang dengan semen di dinding? Wow, psiko mana yang melakukannya"

"Kau bisa pergi" ujar tuan Im pada ajudannya.

"Apa ini perbuatan Stella?" Tanya Yongguk penasaran.

"Dia bisa lebih gila dari itu. itu kenapa dia perlu kau bawa kesini sekarang!" geram tuan Im.

"Aku makin penasaran, sebenarnya apa yang kalian inginkan darinya?" Yongguk menaikkan alisnya. Ada kilat yang terlihat dari matanya, yang tidak bisa tuan Im tangkap artinya.

.

.

.

Jimin melirik ke sofa kamar dimana jas dan kemeja Yoongi terletak begitu saja disana.

Yoongi dan Mino sedang tertidur ditempat tidur satu jam lalu, sementara Jimin yang merasa sudah tidak lagi mengantuk, memilih untuk pergi mandi dan mempersiapkan keperluan Yoongi untuk bekerja nanti.

Suara getaran ponsel dari dalam jas Yoongi menarik perhatian Jimin. Jimin melirik sekilas ketempat tidur dan memilih merogoh saku jas Yoongi untuk mengambil ponselnya.

Alis Jimin mengernyit saat ponsel Yoongi terbuka, ada pesan masuk kedalam ponsel suaminya dan mata Jimin membola terkejut.

0xxxxx

Masih ingat denganku, Min Suga?.

Itu sebuah pesan disertai foto telanjang seorang gadis yang Jimin kenal. Mirae.

.

.

.

TBC