"Hyung, ada sesuatu yang ingin kutanyakan" ucap Jimin.

Yoongi menaikkan alisnya dan menatap Jimin dari balik layar laptopnya. "Wae?"

Jimin menelan ludahnya susah payah, dia gugup. "Soal... soal Hyung dimalam hari"

Yoongi menyeringai senang. "Kita sudah sepakat soal harga yang harus kau bayar untuk bertanya" Yoongi menatap tajam pada Jimin sambil bersandar disandaran kursi. Matanya menatap naik turun dari ujung kaki sampai ujung kepala Jimin dengan penuh minat.

"A-aku tau" ucap Jimin berusaha tenang.

"Bagus kalau begitu. Apa pertanyaannya?" Yoongi tersenyum lebar.

"Beritahu aku soal orang-orang yang berasal dari masalalumu, Hyung"

Yoongi mengernyit. "Maksudnya?"

"Orang yang pernah... yang pernah tidur denganmu" ucap Jimin pelan. Saat mengatakannya ada perasaan tercubit yang Jimin rasa.

Yoongi mendengus tak percaya mendengar pertanyaan Jimin. "Dari semua hal yang bisa kau tanyakan, kau memilih itu, Park Jimin?"

"Aku perlu tau, Hyung" ucap Jimin gentar.

"Aku kehilangan minat. Aku sedang tidak ingin malam ini" Yoongi menutup laptopnya begitu saja, berjalan melewati Jimin keluar dari ruang kerjanya.

Saat ingin membuka pintu, Yoongi merasa seseorang tengah memeluk perutnya dari belakang.

"Hyung..." rengek Jimin.

"Berhenti merengek, Jimin."

Mendengar nada dingin yang dipakai oleh Yoongi, Jimin perlahan melepas pelukannya diperut Yoongi. Dia takut.

Tanpa bicara lagi, Yoongi berjalan keluar ruang kerjanya, membiarkan Jimin terdiam sendirian disana.

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

Stella menatap tak percaya pada Jimin setelah mendengar cerita Jimin yang baru saja Jimin utarakan. Berkali-kali Stella menghela nafas dan tidak tahu harus bagaimana dia menghadapi situasi yang Jimin buat sekarang.

"Mommy, katakan sesuatu..." ucap Jimin sedih.

"Kitten, Mommy benar-benar tidak tau harus bagaimana" Stella menghela nafas lagi. "Dengar, Nak, pertanyaanmu itu bisa saja membuat Yoongi tersinggung. Wajar kalau Yoongi marah. Kau seperti tidak percaya padanya"

"Tapi aku punya alasan melakukan itu, Mom"

"Oke, apa alasannya?" Stella melipat tangannya di dada.

"Ada... eum.."

"Ada jalang yang mengganggunya?" tebak Stella.

Jimin menunduk sedih dan mengangguk pelan.

Stella memutar bola matanya. "Kitten, kalau kau curiga pada Yoongi karena ada jalang yang muncul, kau harusnya mengkonfrontasi jalang itu, bukan Yoongi. Apalagi bertanya dengan pertanyaan seperti itu, jelas saja Yoongi marah"

Jimin menunduk lagi, tangannya bergerak memeluk Mino yang duduk dipangkuannya makin erat, sementara bayi itu masih sibuk sendiri mengigiti potongan apel ditangannya yang sudah banjir air liurnya.

"Aku hanya takut, Mom" cicit Jimin sambil memainkan sedotan dalam gelas jusnya.

"Apa yang kau takutkan? Percaya pada Mommy, Yoongi sangat mencintaimu, maksudku kalian" koreksi Stella saat Mino menatapnya polos. "Iya, monyet kecil, Mimo juga mencintaimu, jadi cukup dengan tatapan itu, nak. Kau membuat Mimo merasa bersalah"

Mino tertawa kecil, mengangkat potongan apel ditangannya dan menunjukan giginya yang masih berjumlah empat dibagian atas dan bawah.

"Apa yang terjadi?" Tanya Stella sambil membersihkan liur ditangan dan dibibir Mino dengan tisu.

"Mirae mengirim foto telanjang pada Yoongi Hyung" ucap Jimin pelan.

"Astaga, Mommy kira ada apa. Kirim saja video kalian sedang bercinta, beres."

"Mommy!" Jimin bersemu merah.

"Serius Kitten, kalau hanya hal seperti itu, tidak akan ada apa-apanya. Yoongi sangat mencintaimu, godaan murah seperti itu tidak akan mempan padanya" ucap Stella yakin. "Mungkin kalau kau yang mengirimnya foto telanjang, baru Yoongi panas dingin"

"Mommy!" Jimin memerah padam.

"Apa Yoongi sudah melihat fotonya?"

"Tidak, aku menghapus pesan itu langsung dari ponsel Yoongi Hyung. Aku panic melihat foto wanita telanjang, jadi... ya..."

"Ya, sekarang aku mengerti kenapa Yoongi sangat mencintaimu dan sangat-sangat melindungimu bangaimanapun caranya" Stella terkekeh. "Kau bahkan takut dengan foto wanita telanjang."

"AKu hanya panic saat melihatnya, Mom. Aku tidak percaya ada seorang gadis yang berani mengirim foto sangat pribadi seperti itu ke ponsel orang lain. Terlebih lagi gadis itu tau dia mengirim foto seperti itu ke suami orang"

"Mommy sering melakukannya, Btw" jawab Stella cuek.

Jimin menaikkan alisnya bingung.

"Ah, bukan apa-apa." Stella mengibaskan tangannya. "Jadi, Yoongi mengabaikanmu? Begitu?"Stella mengalihkan pembicaraan.

Jimin mengangguk lemah. "Yoongi Hyung tidak menciumku saat pergi kerja pagi tadi. Dia hanya mencium Mino dan mengabaikanku" cerita Jimin sedih.

"Si Asshole brengsek itu, dasar tidak tahu bersyukur" guman Stella pelan. "Coba pelan-pelan minta maaf, oke? Mau pergi ke kantornya hari ini? Mommy akan menemanimu kalau kau takut, Kitten" tawar Stella.

"Apa tidak apa, Mommy?" Tanya Jimin penasaran.

"Kalau dia marah, Mommy akan menedang wajahnya. Jangan khawatir" Stella menepuk-nepuk pelan kepala Jimin.

"Jangan ditendang..." guman Jimin pelan.

"Oh, siapa gadis yang punya nyali besar mengirim foto telanjangnya pada Yoongi?" Tanya Stella penasaran.

"Namanya Mirae. Dia gadis yang pernah berkencan dengan Yoongi Hyung dan pernah dibawa ke depan publik, Mom." Cerita Jimin.

"Huh? Siapa itu? kenapa Mommy tidak tahu?"

"Dia model, tapi mungkin sekarang sudah tidak jadi model lagi"

"Ada fotonya?" Tanya Stella makin penasaran.

"Aku tidak punya, Mom. Tapi Mommy bisa lihat di internet. Wajahnya akan muncul jika Mommy mencarinya bersama dengan nama Yoongi Hyung"

Stella mengangguk paham, mengeluarkan ponsel dan mengetik beberapa kata diponselnya. "Apa ini orangnya?" Stella menunjukkan layar ponselnya pada Jimin.

"Ne, Mommy" Jimin mengangguk lemah.

"Ya sudah, ayo pergi temui Yoongi di kantor. Mommy akan mengantar kalian kesana. Berikan Mino pada Mommy"

Stella menggendong Mino, berjalan lebih dulu menuju mobil dan memasukan ponselnya setelah mengirim pesan.

'Dimana aku bisa menemukannya?' Stella mengirim pesan untuk Jackson disertai sebuah foto seorang gadis.

.

.

.

"Stella- nim bertanya soal Mirae, Boss" lapor Jackson.

Yoongi menaikkan alisnya, menatap Jackson yang terlihat bingung didepannya. "Siapa Mirae?"

Jackson menatap Yoongi tak percaya. "Mirae, boss. Model yang pernah boss bawa ke acara penghargaan TV, saat boss terkena skandal ciuman panas waktu itu" ungkap Jackson.

"Oh.." jawab Yoongi tak peduli. "Kenapa Stella mencari gadis itu?"

"Tidak tau. Dia hanya bertanya dimana dia bisa menemukan Mirae."

"Tanya saja, dia ingin apa" balas Yoongi.

"Boss, Stella-nim tidak akan senang kalau aku balik bertanya. Bisa-bisa dia murka, bos tahu sendiri Stella-nim lebih kejam dari pada ibu tiri"

"Ya, kau benar" Yoongi mengangguk setuju. "Jawab saja pertanyaannya sebelum dia datang menghajarmu karena menjawab pesannya lebih dari 5 menit"

"Kau benar boss" Jackson mulai sibuk dengan laptop di depannya, meninggalkan pekerjaan dari Yoongi sebentar untuk mencari apa yang diinginkan Stella, setelah mendapatkannya, Jackson mengirim informasi terkait Mirae pada Stella.

Suara ketukan pintu membuat dahi Yoongi mengernyit, biasanya sekertarisnya akan menelpon jika ada perlu sesuatu atau ada tamu yang berkunjung.

"Kau ada tamu lain, Bos?" Tanya Jackson penasaran.

"Tidak"

Suara ketukan tak sabar itu membuat Yoongi mengernyit kesal, perlaha tangannya menekan tombol diatas meja dan pintu ruangannya terbuka otomatis. Didepan sana ada Stella, Jimin dan Mino.

"Lama sekali!" omel Stella dan berjalan masuk kedalam ruangan Yoongi, sementara Jimin dan Mino masih berdiri didepan pintu ruangan.

"Kitten, apa yang kau lakukan disana? Masuk!" ucap Stella.

"Kenapa kalian kesini?" Tanya Yoongi datar, matanya menatap bergantian pada Stella dan Jimin.

"Abbaaa..." Melihat Yoongi ada didepannya, Mino bergerak-gerak digendongan Jimin, tangannya terentang minta digendong.

Melihat anaknya seperti itu, Yoongi langsung berdiri dan mengambil Mino dari gendongan Jimin.

"Jimin ingin mengatakan sesuatu" ucap Stella, membuat Jimin terkejut dan salah tingkah.

Yoongi mengalihkan pandangannya dan menatap Jimin tajam, menunggu Jimin bicara.

"Hyung, itu..."

"Ah, pekerjaanku selesai. Aku permisi dulu, Boss" potong Jackson. Jackson buru-buru berdiri, merapikan barang-barangnya dan membungkuk sopan pada Jimin sebelum keluar ruangan. Dia sadar, boss-nya butuh waktu pribadi.

Perhatian Yoongi beralih pada Stella yang sedang duduk santai diatas meja kerjanya seperti sedang bertanya.

"Apa? Kau mengusirku?" ucap Stella pura-pura kesal. "Dasar Asshole!" Stella berdiri, menarik Mino dari gendongan Yoongi dan berjalan keluar ruangan menyusul Jackson. "Mommy akan membawa Mino, Kitten. Mungkin nanti malam Mommy akan memulangkan Mino" teriak Stella sebelum menutup pintu ruangan Yoongi.

"Ada apa?" Tanya Yoongi saat Jimin masih terus terdiam.

"Maafkan aku, Hyung" guman Jimin pelan.

Yoongi mendengus, mendudukan diri kembali ketempat duduknya tanpa mempersilahkan Jimin duduk.

"Aku tau aku salah. Maafkan aku" sesal Jimin. "Tidak seharusnya aku bertanya begitu, Yoongi Hyung pasti tersinggung" Jimin meremas kedua tanganya yang mendingin saat Yoongi tidak juga bicara sama sekali.

"Hyung, katakan sesuatu..." Jimin melirik sekilas pada Yoongi yang masih terus menatapnya datar.

"Apa alasanmu bertanya seperti itu, Park Jimin? Kau tidak mungkin tiba-tiba saja bertanya seperti itu tanpa alasan. Apa yang Stella katakan padamu?" Tanya Yoongi dingin.

"Bukan. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Mommy, Hyung. Jangan menyalahkan Mommy" Jimin membela Stella.

"Lalu apa?"

"Aku... Hyung, semalam aku melihat pesanmu" aku Jimin.

Yoongi mengernyit bingung.

"Ada seseorang yang mengirimi pesan dan sebuah foto telanjang" ucap Jimin pelan.

Yoongi menaikkan alisnya. "Pesan apa yang kau maksud? Kau bisa memeriksa ponselku sekarang, tidak ada pesan yang seperti itu" kesal Yoongi.

"Aku sudah menghapusnya, Hyung. Aku yang pertama kali membuka pesan itu" aku Jimin.

"Apa maksudmu, Park Jimin?" Tanya Yoongi dengan nada dingin.

"Aku cemburu, Hyung! Aku takut tanpa sepengetahuanku ada gadis lain lagi yang mengirimu pesan seperti tiu, aku takut Hyung tergoda dan lupa pada kami. Aku kalut, Hyung. Aku takut, makanya aku menanyakan hal bodoh seperti itu. Maafkan aku"

Mendengar pengakuan cemburu dari Jimin membuat Yoongi menyeringai dan sedikit berbangga hati.

"Kalau kau pikir aku selingkuh, maka bisa ku pastikan tuduhanmu salah. Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak akan melanggar sumpahku untukmu Park Jimin, apapun alasannya"

Jimin makin menunduk dalam, ada rasa takut yang Jimin rasakan karena Yoongi bernada dingin padanya.

"Maafkan aku, Hyung" sesal Jimin.

"Siapa yang kau maksud mengirimiku pesan seperti itu?" Tanya Yoongi penasaran.

"Mirae..." cicit Jimin.

Yoongi menaikkan alisnya takjub. Dia yakin mental gadis itu pasti sudah rusak sampai terlalu berani melakukan hal itu dan mata Yoongi membola saat menyadari sesuatu. Stella sedang mencari gadis itu.

"Dengar, Park Jimin, aku bukan orang yang pernah berpikir untuk memiliki komitmen seperti hubungan pernikahan, memiliki anak, menjadi seorang ayah dan yang paling tidak pernah kulakukan seumur hidupku adalah jatuh cinta pada seseorang." Yoongi berdiri dari duduknya, menarik Jimin mendekat dan mendudukan Jimin diatas meja, menatap Jimin dengan tajam tepat dimata.

"Tapi kau muncul entah dari mana dan membuatku tiba-tiba berpikir soal pernikahan, memiliki anak, dan menjadi seorang ayah." Jimin menatap gugup pada Yoongi, tangannya bergerak saling meremas gugup diatas paha.

"Oh, dan membuatku jatuh cinta. Hebat sekali" sambung Yoongi membuat Jimin menunduk malu.

"Hyung..." cicit Jimin.

"Dengan kau bertanya soal masalalu ku, kau hanya akan membuat perasaanmu sakit sendiri." Yoongi mengelus kepala Jimin pelan. "Gadis itu, biar jadi urusanku."

"Tidak mau!" tolak Jimin. "Aku akan bicara langsung dengannya."

Yoongi menaikkan alisnya tidak yakin akan keputusan Jimin. "Oke, jadi apa yang akan kau katakan padanya?" tantang Yoongi. Matanya menatapi wajah Jimin dengan teliti sampai Jimin memerah padam, bahkan tidak berani menatap Yoongi.

"I-itu... Hyung... kau terlalu dekat..." Jimin mendorong pelan dada Yoongi dan memundurkan tubuhnya.

"Bukannya kita biasa sangat dekat, Park Jimin-ssi?" goda Yoongi dan terus menatapi wajah Jimin.

Jimin menelan ludahnya gugup. "Hyung!" Jimin memukul dada Yoongi. Dia kesal diperlakukan seperti itu. ini intimidasi. Min Yoongi harus dilaporkan.

Yoongi tertawa kecil, menarik Jimin kepelukannya dan mengecup kepala Jimin berkali-kali, sementara Jimin menyamankan diri dipelukan Yoongi dengan menyandarkan dahinya dahinya di dada Yoongi. Mereka sudah baikan.

"Maafkan aku, Hyung" ucap Jimin.

"Hmm" jawab Yoongi malas.

"Tapi biarkan aku bertemu Mirae, aku ingin bertanya langsung apa maksudnya melakukan hal itu"

"Harusnya saat kau menerima pesan itu, balas saja dengan foto telanjangmu. Jadi satu sama" ucap Yoongi asal. "Lebih bagus lagi kalau kau mengambil foto dengan ponselku, akan ku jadikan wallpaper, kalau perlu ku pajang di kantor"

Jimin meninju perut Yoongi main-main. Wajahnya sudah merah padam sejak tadi, semakin diperparah dengan dadanya yang ikut berdebar-debar. "Yah! Mesum" omel Yoongi.

"Memang..." ucap Yoongi cuek.

Yoongi mengurai pelukannya, menangkup wajah Jimin yang masih memerah dengan tangannya dan mengecup hidung Jimin pelan. "Aku mencintaimu. Harus berapa kali aku mengatakannya agar kau percaya? Apa perlu aku mengiklankannya di TV agar orang-orang tau aku mencintaimu?"

Jimin tertawa malu. "Norak" komentar Jimin.

"Biar saja. Yang penting kau berhenti curiga padaku. Aku tidak masalah di cap norak"

"Maaf ya, Mino Appa" ucap Jimin lagi dan memeluk pinggang Yoongi erat.

"Hmm..."

"Tapi aku benar-benar akan bertemu dengan Mirae, Hyung. Aku butuh bicara dengannya"

"Ya, lakukan saja selama hal itu membuatmu puas" Yoongi mengelus punggung Jimin lembut. "Pastikan kau tidak terluka setelah bertemu dengannya"

Jimin mengangguk kecang dan mendongak menatap Yoongi yang masih berdiri sejak tadi.

"Appa, Cium..." rengek Jimin.

"Ah.. aku masih banyak pekerjaan ternyata" Yoongi merenggangkan tangannya dan berjalan kembali menuju tempat duduknya.

"Appaa..." Rengek Jimin, berjalan kebelakang kursi Yoongi dan memeluk pria pucat itu dari belakang. "Sekali sajaa..." renegk Jimin lagi dan menempelkan pipinya di pipi Yoongi.

"Aku sedang sibuk" tolak Yoongi.

Jimin mendengus kesal, melepas pelukannya dari belakang dan mendudukan diri dipangkuan Yoongi.

"Oh, wow..." Yoongi membolakan matanya.

"Cium!" tuntut Jimin dengan mata memicing.

Yoongi menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Jimin.

"Appaa... cium..." rengek Jimin lagi.

Ditolak kembali, akhirnya Jimin menarik wajah Yoongi, menghujani wajah pucat menyebalkan itu dengan ciuman diseluruh wajahnya, setelah puas menciumi seluruh wajah Yoongi, Jimin tersenyum lebar dan berniat turun dari pangkuan Yoongi tapi tangan Yoongi sudah melingkar dipinggang Jimin.

"Kau pikir setelah melakukan itu bisa lari begitu saja?" Yoongi tersenyum licik. "Kau berurusan dengan Min Yoongi, Park Jimin-ssi."

"Aku tidak berniat lari sama sekali" Jimin balas tersenyum dan menatap wajah Yoongi.

"Bagus, karena aku tidak berniat melepaskanmu sekarang." Yoongi tersenyum licik, melepas kancing kemeja milik Jimin satu persatu dan menenggelamkan diri di dada Jimin.

Jimin meremas rambut Yoongi kuat saat dadanya dihisap dan gigit pelan oleh Yoongi. Kepala Jimin terdongak keatas untuk memberikan akses pada Yoongi menjelajah ditubuhnya.

Tanda merah sudah mulai tercipta satu persatu ditubuh Jimin, mulai dari dada, leher, bahu, perut, bahkan paha dalam Jimin sudah memiliki tanda merah hasil dari kerja Yoongi. Kertas diatas meja kerja Yoongi sudah berserakan dilantai saat Jimin ditidurkan diatas meja oleh Yoongi.

Dada Jimin berdebar keras saat dia menaikkan sedikit tubuhnya untuk melihat apa yang Yoongi lakukan dibawah sana. Tangan Jimin meremas kuat kertas-kertas dibawahnya sebagai pelampiasan. Saat Jimin sampai, Jimin menjeritkan nama Yoongi dengan badan yang melengkung dan nafas yang memburu.

"H-Hyungh..." tangan Jimin bergetar saat menyentuh bahu telanjang Yoongi, ada sedikit cairan yang tersisa disudut bibir Yoongi, pelan-pelan Jimin membersihkan cairan itu dengan jarinya.

"Aku butuh kaki ini untuk terbuka lebar, Jim. Aku tidak akan menahan diri lebih lama lagi" Yoongi menyeringai.

.

.

.

"Gadis itu benar-benar bersih dalam bekerja. Dia mematikan sambungan listrik diapartemen Hoseok sebelum melakukannya" tuan Im berucap geram.

"Darimana kau bisa yakin kalau itu Stella? Huh?" tantang Yongguk.

"Lalu siapa pelakuknya? Aku sudah memastikan identitas Hoseok tetap bersih dimata umum! Hanya orang-orang yang terlibat yang tau persis siapa Hoseok!"

"Aku hanya masih belum yakin saja kalau Stella seperti itu"

Tuan Im mendengus kesal. "Kau terlalu banyak berpikir sampai sekarang pun kau tidak bisa menangkapnya"

"Aku sudah menjebaknya" Yongguk terkekeh.

"Apa maksudmu?"

"Dia akan datang padaku, secepatnya. Aku memakai anak kesayangannya yang lugu itu untuk memunculkan Stella dengan sendirinya" Yongguk terkekeh.

"Apa maksudmu?"

"Singkatnya aku memakai Min Yoongi secara tidak langsung, mengirim foto vulgar ke ponselnya dan memastikan kalau Jimin yang menerima pesan itu. dan seperti dugaanku, anak kesayangannya itu akan mengadu. Dan Stella akan datang padaku"

"Foto siapa yang kau pakai?"

"Mirae. Model yang dulu pernah jadi jalang Min Yoongi beberapa hari" Yongguk terkekeh.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan foto vulgarnya?"

"Gadis itu ada di rumahku sekarang, sedang ku ikat untuk keperluanku selanjutnya. Pastikan semua hal yang kau janjikan sudah disiapkan saat Stella ku berikan pada kalian. Kalau tidak, aku akan melepas lagi buruan yang membuat kalian memeras otak untuk menangkapnya" Yongguk tersenyum kecil.

.

.

.

"Gadis itu ada di Busan" ucap Amber sambil menunjukan laptopnya pada Stella yang sedang menjaga Mino agar tidak terjatuh dari atas punggung 'Yoongi', macan peliharaannya.

"Ini titik pasti keberadaanya" Amber memperbesar peta yang tertera pada layar laptopnya.

"Jaga Mino sebentar" ucap Stella dan mengambil laptop ke pangkuannya.

Stella menatap serius kearah peta di depannya. Alisnya berkerut hebat karena dia merasa tidak asing dengan daerah yang ditunjukan oleh peta didepannya. Busan, daerah hutan yang berdekatan dengan pantai.

"Bukannya ini rumah si Asshole number two?" guman Stella kebingungan.

"Mino-ya, jangan memanjat Yoongi terus. Kau berat" nasehat Amber dan menarik bayi itu menjauh dari punggung macan yang sedang tiduran diatas tempat tidur.

"Taayaa..." guman Mino dan kembali merangkak mendekat pada macan hitam itu, menjatuhkan tubuhnya dengan girang diatas perut macan yang kini sudah tidur menyamping.

"Yah, Mino-ya... kau pikir ini anjing. Ini macan. Salah-salah kau bisa di terkam" nasehat Amber lagi dan kembali menjauhkan Mino dari macan itu.

"Abbaa..." Mino kembali berguling kearah macan itu setelah Amber melepaskanya. Menepuk-nepuk hidung macan itu dengan riang.

Pekikan senang khas anak bayi itu terdengar menyenangkan ditelinga Stella yang masih sibuk berpikir, sampai suara pekikan riang itu berganti menjadi hening beberapa detik dan meledaklah tangis bayi itu dengan hebat.

Wajah Mino dijilat oleh macan.

"Yah! Amber! Kubilang..."

"Yah! Kenapa kau menjilat Mino!" suara Amber yang kuat mengalahkan pekikan kesal dari Stella, dengan cepat Amber menarik Mino menjauh dan membersihkan wajah Mino yang basah karena dijilat.

"Yoongi menjilat Mino?" Tanya Stella terkejut.

"Iya. Dasar, bikin susah saja" omel Amber dan berusaha menenangkan Mino yang masih menangis.

"Yoo, bigboy, kau cepat akrab dengan orang asing ya sekarang" Stella memukul bokong macannya bangga.

"Tidak apa, Mino-ya. itu artinya bigboy suka padamu" Stella menepuk-nepuk pelan punggung Mino yang mulai berhenti menangis digendongan Amber.

Saat sibuk menenangkan Mino, ponsel Stella bergetar, ada nama Luhan muncul disana, dengan cepat Stella menyambar ponselnya dan menekan tombol hijau dilayarnya.

"Yah, psikopat, ku pikir kau sudah tidak bernyawa karena tidak mengangkat panggilanku sejak tadi"

"Ya, aku baik. Terimakasih sudah menanyakan kabarku, simpanan ahjussi" sindir Luhan diujung telepon.

Stella tertawa mendengarnya. "Kau kenal Mirae kan?" Tanya Stella tanpa basa-basi.

"Aku seperti pernah mendengar namanya"

"Dia pernah menjadi jalang Yoongi beberapa hari"

"kau bicara seperti bos hanya punya selusin jalang disampingnya sampai aku bisa hapal nama-namanya" sinis Luhan.

Stella memutar bola matanya kesal. "Yang pernah terkena skandal di publik. Soal video ciumannya dengan Yoongi"

"Oh... dia. Aku ingat. Bos pernah memberikannya padaku sebagai mainan. Ah.. aku rindu sekali dengannya"

"Kau tau dia?"

"Tentu saja. Ada apa?"

"Cari dia untukku. Nanti malam aku akan ke Busan." Perintah Stella dan memutus sambungan teleponnya.

"Bagus, aku bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus kalau begini" Stella tersenyum lebar.

.

.

.

TBC