Jimin: Appa, kami memotong poni Mino X)
Jimin meletakkan ponselnya setelah mengirimi Yoongi pesan. Dia kembali sibuk mengurus anaknya yang sudah mulai merangkak keliling ruang bermainnya. Sesekali Jimin mengangkat anaknya menuju tengah ruangan karena Mino selalu berusaha sembuyi dibawah meja plastic milikya. Pengasuh Mino juga terlihat ikut-ikutan merangkak bersamanya, bermain terlalu heboh sampai suara pekikan Mino terdengar ke dekat pintu utama.
Saat Jimin mendudukan diri di kursi plastic kecil milik Mino, ponselnya bergetar diatas meja. Jimin tersenyum lebar saat melihat nama Yoongi muncul di layarnya.
Yoongi: kenapa dipotong?
Jimin: terlalu panjang, hyung.
Yoongi: coba kirim foto
Jimin terkekeh, dengan sengaja dia mengirim fotonya pada Yoongi.
Jimin: seperti ini? ini baju tidur Appa tadi pagi. hehehe
Yoongi: Kau sengaja?
Jimin: Tadi Appa minta foto, kan?
Yoongi: Mino, nyonya Min.
Jimin terkekeh lagi sebelum mengirim foto anaknya.
Jimin: lucu kan, hyung? X)
Yoongi: KENAPA PONINYA DI POTONG BEGITU?
Jimin: Kan lucu :(
Jimin: Appa?
Yoongi: hmm?
Jimin: Aku dan Mino nanti boleh pergi sebentar?
Yoongi; kemana?
Jimin: ke mall. Kami bosan di rumah...
Yoongi: Nanti saja tunggu aku pulang ke rumah.
Jimin: tapi kami bosannya sekarang, Appa :(
Yoongi: Ke mall mana?"
Jimin: yang di dekat rumah saja, ada baju keluaran terbaru dan aku ingin beli itu, tapi pakai uang Yoongi hyung bayarnya hehehehe.
Yoongi: ya sudah, nanti saja.
Jimin mengernyit. Dia tidak ingin kehabisan, baju itu sudah sejak kemarin Jimin inginkan, dia sudah melihat baju itu di majalah fashion ternama dan baru hari ini baju itu di datangkan ke Korea.
Jimin: pleaseeee?
Jimin mengirim fotonya lagi, berharap Yoongi mau luluh padanya.
Jimin: Appa, Pleaseee? Sebentaaarrr saja. Setelah beli baju, langsung pulang...
Ada sekitar lima menit Jimin menunggu sampai akhirnya pesannya dib alas oleh Yoongi.
Yoongi: sebentar saja! Kalau ingin pergi bermain, nanti saja tunggu aku pulang. Dasar perayu.
Jimin: I love you, Mino Appa. Sekalian bayar semua tagihannya, ya, Appa.
Jimin terkekeh menang dan berjalan riang menggendong Mino untuk mengganti pakaian.
"Ayo pergi belanja, Mino-ya" Ujar Jimin girang.
"Kenapa aku lemah sekali setiap melihat wajahnya?" Yoongi mengeluh pada dirinya sendiri.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
"Kenapa kita kesini?" Luhan menatap horror bangunan rumah megah di depannya. Rumah yang sudah Luhan sumpahi tidak akan pernah didatanginya lagi, rumah yang lebih mirip rumah hantu dari pada rumah manusia. Rumah Yongguk.
"Jalang itu ada disini" ucap Stella enteng. Memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah megah itu dan berjalan ke depan.
"Kau yakin ini bukan jebakan?" Tanya Luhan panic dan berjalan mendekat pada Stella.
Stella menbuang puntung rokoknya asal, memencet bel di gerbang itu seenak hatinya dan memukul-mukul gerbang itu tidak sabar.
"Kau gila?" geram Luhan melihat tingkah Stella. "Bagaimana kalau hantu disini marah karena kau terlalu berisik?" ucap Luhan takut.
"Mereka keluargaku" ucap Stella enteng.
"Huh? Yongguk?"
"Bukan, hantunya" ucap Stella enteng.
Luhan berlari kecil menuju belakang punggung Stella, menarik baju Stella kecil agar tidak ditinggal.
"Mencari Tuan Yongguk?" Tanya penjaga rumah itu dari balik gerbang.
"Iya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku Stella Min" ucap Stella dingin.
Mendengar nama Stella, Penjaga itu dengan cepat membukakan gerbang "Silahkan" ucap penjaga itu sopan,membuka pintu gerbang agar Stella dan Luhan bisa masuk kedalam.
Tidak ada ucapan terimakasih terlontar baik dari Stella ataupun Luhan. Keduanya hanya melewati penjaga disana dan berlalu begitu saja.
"Sombong" cibir salah satu penjaga yang sedang duduk didalam pos kecil disudut gerbang.
"Kebiasaan orang kaya. Arogan." balas penjaga yang tadi membukakan gerbang.
Luhan terus membuntuti Stella dengan memegang baju bagian belakang Stella, dia bahkan tidak berani melirik ke kiri dan kananya dimana banyak pohon besar yang tumbuh, membuat keadaan jalan menuju pintu rumah Yongguk terlihat teduh dan cenderung gelap.
"Mereka membiarkan kita masuk dengan mudah, bukannya aneh? Ini pasti jebakan" cecar Luhan.
"Aku sudah tau" ucap Stella enteng. "Demi bokong kecil Mino, Luhan, apa yang kau lakukan dibelakangku sejak tadi!?" Stella berbalik dan berkacak pinggang.
"Apa? Tidak ada"
"Kau memegangi bajuku sejak tadi, apa tidak bisa kau berjalan disampingku saja?" omel Stella.
"Apa tidak bisa kau mengabaikanku dan membiarkanku berjalan seperti ini saja?" balas Luhan.
"Terserahmu" ucap Stella menyerah dan melanjutkan langkahnya.
Saat kaki Stella menginjak tangga pertama dari lima tangga didepan pintu rumah Yongguk, pintu rumah itu terbuka otomatis dan membuat Luhan lari.
"Yah!" reflex yang tidak main-main membuat Stella berhasil menarik tangan Luhan yang sudah meronta minta dilepaskan.
"Sudah ku bilang rumah ini banyak hantunya! Aku tidak mau ada disini!" ronta Luhan.
"Ikut. Aku. Sekarang!" kesal Stella dan menyeret Luhan masuk ke dalam rumah.
Keadaan remang dan terkesan gelap menyambut kedatangan Stella dan Luhan di rumah itu.
"Sela..."
Bugh! Luhan meninju seseorang yang memegang pundaknya.
"What the F*ck!" Stella terkejut dan berbalik, menatap Luhan kesal. "Kenapa kau meninjunya!"
"Dia mengagetkanku! Itu salahnya!" ucap Luhan tak terima.
"Huks.. aku.. aku tak apa" ucap pria itu dan berusaha berdiri dengan darah yang keluar dari hidungnya. "Maaf membuat anda terkejut. Uhuk.. selamat datang" ucapnya lagi.
"Kau pelayan di rumah ini, kan?" ucap Stella saat mengingat-ingat wajah pria di depannya.
"Benar, Nona" ucapnya sopan sambil membersihkan noda darah dengan lengan bajunya.
"Dimana dia?" Tanya Stella tanpa basa-basi.
"Dia?" ucapnya Bingung.
"Wanita itu. Mirae, atau siapalah namanya" ucap Stella tak sabar.
"Ada di kamar tuan besar." Ucapnya lagi.
"OKe" balas Stella dan berjalan menuju tangga menuju ruang bawah tanah didekatnya. Tangga menuju kamar Yongguk.
Saat Stella mencapai tangga terakhir, Stella terhenti sebentar. Matanya menatap keatas tempat tidur dimana gadis itu sedang tertidur dengan tangan yang terikat dikepala tempat tidur, tanpa pakaian, tanpa ada selimut yang menutupi tubuhnya sama sekali.
"Sampah" maki Stella marah. Dengan cepat Stella melepas bajunya, menyisakan bra berwaran hitam miliknya dan meletakkan baju itu dibagian tubuh gadis itu dibagian bawah.
"Lepaskan kemejamu, Lu" paksa Stella.
"Huh? Kenapa?" Tanya Luhan tak bingung.
"Kau tidak lihat dia telanjang?" geram Stella.
"Lihat. Lalu?"
"Dimana isi kepalamu? Cepat lepaskan kemejamu dan tutupi dadanya" perintah Stella.
Dengan setengah hati Luhan melepas kemejanya, meletakkannya diatas tubuh gadis itu untuk menutupi dada. Saat Luhan ingin menegakkan tubuhnya, Luhan membolakan matanya.
"Ini gadis yang pernah ku tatokan?" guman Luhan pelan.
Bunyi gemerincing dan sirine terdengar saat Stella melepas paksa ikatan tangan Mirae. Terdengar suara gaduh dari atas, tidak sampai satu menit, sudah muncul orang-orang milik Yongguk didepan mereka dan mengarahkan pistol kea rah keduanya.
"Ramai sekali" cibir Stella. Luhan hanya menatap datar orang-orang yang mulai berturunan dari tangga.
"Angkat tangan!" ucap salah satu dari mereka sambil mengarahkan senapan kearah Luhan.
Dengan santai keduanya mengangkat tangan dan tersenyum remeh.
"Oke cukup" suara Yongguk terdengar dengan suara kekehannya. "Mereka tamuku. Kalian boleh pergi" ucap Yongguk.
Saat semua bawahan Yongguk pergi, Yongguk tetap bertahan dianak tangga terakhir sambil tersenyum menatap Stella.
"Welcome home, Queen" ucapnya senang.
"Ya ampun, basa-basi perusak telinga" ejek Stella sambil mengusap-usap telinganya.
Yongguk tertawa kecil.
"Jadi, kau melepaskan ikatan tangan gadis itu?"
"Kau sampah, Asshole number two" maki Stella.
Yongguk tertawa keras. "Aku suka panggilan itu."
Stella mendegus kesal. "Aku tau kalau kau yang ada dibalik semua ini"
"Kau menuduhku dibagian mana? Dibagian mengirim foto telanjang ke ponsel Min Yoongi?atau yang mana?" Yongguk tersenyum puas.
"Kau memanfaatkan gadis yang tidak bersalah. Pengecut"
"Dia menikmatinya" Yongguk menaikkan bahunya. "Dia kesepian dan butuh seseorang dan aku berbaik hati menawarinya tempat. Dan tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk kebaikanku, Min Stella"
Stella menatap kebingungan. "Kapan kita akan menghajarnya? Dia banyak omong. Aku kesal" bisik Luhan.
"Kalau aku tidak melakukan ini, kau tidak mungkin kembali ke sini. Benar?" Yongguk tersenyum makin lebar. "Ada banyak hal yang harus kita selesaikan berdua saja"
"Aku datang kesini untuk bertemu gadis ini. Bukan denganmu. Maaf-maaf saja membuatmu besar kepala" ejek Stella.
Yongguk tertawa. "Yang aku tau kau tidak sepeduli itu pada orang lain, Min Stella"
"Kau benar. Kecuali orang itu hanya dimanfaatkan dan keberadaannya mengganggu kesenangan anakku" Stella berjalan mendekat.
"Tetap diposisimu, Queen" Yongguk memperingati. "Ini rumahku kalau kau lupa"
Stella menaikkan bahunya tak pedulu dan terus berjalan kearah Yongguk. Saat sinar laser berwarna merah bermain-main diwajahnya, Stella berhenti berjalan.
"Tidak ada hal yang bisa kau lakukan disini selain menuruti apapun kataku, Queen. Aku yang memerintah disini" ucap Yongguk dingin.
Stella memaki dalam hati.
"Hanya dengan satu perintah, maka nyawamu bisa melayang saat ini juga. Peluru bisa menembus kepalamu kapan pun kalau kau tidak menurutiku" lanjut Yongguk.
"Apa maumu?" tantang Stella kesal.
"Penjelasan"
"Ya sudah, tembak saja kepalaku." Ucap stella enteng.
Yongguk membolakan matanya tak percaya.
"Stella!" ucap Luhan horror.
"Aku lebih baik mati daripada menjelaskan apapun padanya, Lu" Stella memutar bola matanya. "Dimana ank buahmu itu? cepat tembak"
Yongguk dengan kesal berjalan kearah Stella. Menarik paksa tangan Stella mendekat padanya dan menatap Stella tajam. "Apa kau bilang?" geram Yongguk.
"Kau punya masalah pendengaran ternyata" ejek Stella. "Lebih baik aku mati daripada menjelaskan apapun padamu" ucap Stella dingin. Matanya menatap penuh arogansi pada Yongguk. Benar-benar pemberontak sejati.
"Jaga bicaramu" geram Yongguk.
"Aku tidak akan menjelaskan apapun. Aku tidak akan pernah memuaskan egomu itu, Asshole." Stella tersenyum remeh.
"APA KAU TAU DILUAR SANA ORANG-ORANG MENGINCARMU!" Yongguk meledak marah.
Stella tersentak mundur saat Yongguk mengguncang bahunya. Bekas cengkaram tangan Yongguk dilengannya terlihat jelas memerah. Stella mendesis marah.
"Lepaskan gadis itu, brengsek. Kau menggunakan cara paling rendah yang bahkan tidak sudi untuk ku lakukan."
"PERSETAN DENGAN GADIS ITU!" bentak Yongguk. "Demi Tuhan Stella, Mereka mengincarmu! Mereka ingin kau ditangkap entah dalam keadaan hidup ataupun mati. Apa kau tidak sadar kalau kau dalam bahaya!"
"Setiap detik. Aku sadar aku dalam bahaya setiap detik. Tidak perlu kau peringati" ucap Stella dingin.
"Ya ampun, drama percintaan macam apa ini" ucap Luhan kesal, ikut berbaring diatas tempat tidur dan menutup matanya disamping Mirae yang sepertinya diberi bisu.
"Jangan pikir aku tidak tau kalau kau mengambil keuntungan dari hal ini. Kau sengaja memancingku kesini agar kau bisa menangkapku, kan?" ejek Stella. "Kalau kau pikir aku semudah itu? kau sudah salah berurusan denganku"
Yongguk tidak siap saat tiba-tiba Stella menusuknya berkali-kali. Kesadarannya mulai hilang saat wajah Stella yang dingin terlihat mengabur dipandangannya.
"Kau menusuknya?" Luhan terduduk panic saat melihat darah Yongguk yang terciprat diperut rata Stella.
"Pengkhianat, tetap pengkhianat, Luhan." Ucap Stella dingin.
"L-lalu bagaimana sekarang?" ucap Luhan panic.
"Mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa keluar dari pintu, kita keluar dari jendela saja" ucap Stella enteng.
"Kau gila! Itu laut lepas!" ucap Luhan makin panic. Matanya menatap kalut pada jendela kamar Yongguk yang langsung menuju ke laut.
"Kau bisa berenang"
"Lalu gadis ini?"
"Tentu saja harus dibawa" ucap Stella sambil membuka jendela. "Ternyata ada tebing disini" Stella terkekeh melihat kearah bawah.
"Aku bisa gila kalau berteman denganmu terus" Luhan menggusak rambutnya frustasi.
.
.
.
"Hyung, Stella membuat masalah" lapor Namjoon.
Yoongi menghela nafas panjang. "Dengan siapa?"
"Dengan Yongguk"
"Oh, biarkan saja" ucap Yoongi cuek.
"Dia menusuknya berkali-kali"
Yoongi menaikkan alisnya tak percaya. "Kenapa?"
"Yongguk bekerja sama dengan tuan Im untuk menangkap Stella. Kau tau, sekte yang pernah kita bahas?Tuan Im menjadi bagian dari mereka dan Mereka ingin Stella membeberkan hasil temuannya yang dulu"
"Keadaan semakin kacau saja" Yoongi memijat pangkal hidungnya.
"Hyung, kalau hasil temuan Stella dibuat ulang dan dijual, kau tahu berapa banyak uang yang bisa dia dapat? Bahkan sepuluh kepala masih terlalu murah untuk itu" ucap Namjoon.
"Orang-orang sakit jiwa itu benar-benar pantang menyerah." Yoongi menghela napas. "Jelas saja sepuluh kepala masih terlalu murah. Mereka ingin melakukan penelitian langsung dengan manusia dengan menggunakan senjata biologi. Jenius dan psikopat itu perpaduan paling mengerikan"
"Senjata biologi? Semacam penyakit baru?" Tanya Namjoon penasaran.
"Iya. Mereka ingin bermain di obat-obatan dengan menggunakan virus baru itu sebagai titik masalah. bisa kau bayangkan berapa juta dollar dana yang akan turun? mereka akan berpura-pura sebagai 'the good guy' dengan membuat obat penangkal penyakit itu, sementara mereka sendiri dalang dibaliknya. Lagi-lagi ini masalah bisnis, Namjoon" jelas Yoongi.
"Kenapa kita tidak terlibat saja?"
"Kita tidak bermain dengan orang-orang seperti itu. Berbisnis dengan melibatkan terlalu banyak orang itu menyusahkan. Jangan terlalu serakah, Namjoon. Cukup habisi uang-uang pengusaha dan politisi saja."
Namjoon terkekeh. "Tapi aku melihat itu sebagai bisnis yang menggiurkan"
"Kau benar. Tunggu sampai Stella mendengar ucapanmu dan kepalamu akan berpindah ke kaki"
Namjoon tertawa. "Kau benar hyung, dibalik sifat kasar dan seenak hatinya itu, dia pria yang baik"
Yoongi tertawa. "Kau masih melihatnya sebagai laki-laki?"
Namjoon mengangguk. "Berubah secantik apapun, tetap saja dimataku dia tetap laki-laki"
Yoongi tertawa kecil, mengangguk menyetujui ucapan Namjoon.
.
.
.
"Jimin? Kau Jimin kan?"
Jimin menatap bingung dengan gadis didepannya. Tangannya bergerak memperbaiki masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Kau pasti tidak ingat dengaku. Aku datang keacara pernikahanmu dan Yoongi. Aku masih keluarga Min" ucapnya ramah.
"Oh, hai.." sapa Jimin kaku.
"Itu Mino, benar?" ucapnya sambil membungkuk menatap Mino yang terduduk di strollernya dengan sebuah biscuit ditangannya.
"Iya, ini Mino" ucap Jimin sambil menarik Stroller Mino merapat padanya, menjauhi gadis itu.
"Kau pasti merasa asing denganku" ucapnya sambil berdiri kembali tegak. "Tidak apa, itu wajar kalau bersikap waspada pada orang yang belum kau kenal"
Jimin menatap gadis itu lama, memperhatikan dengan baik wajah gadis didepannya.
"Kau tau Jimin..." mulai gadis itu dengan mimic wajah yang berubah menjadi serius. "Entah aku harus berbahagia karena akhirnya Yoongi menikah dan memiliki keluarga kecil atau malah harus bersedih karena kau terlibat dengan monster sepertinya"
Jimin tetap diam, menatap gadis itu dengan serius.
"Sepertinya aku harus berduka untukmu yang sudah menikah dengan monster sepertinya. Suamimu, Min Yoongi, dia menyimpan banyak hal darimu, termasuk pembunuhan yang dilakukannya terhadap Appa-nya sendiri"
Jimin terdiam dengan tangan yang mulai mendingin.
.
.
.
TBC
