Donata Dulcinea
Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto
Storyline : YukirinShuu
Pairing : Sasuke x Naruto
Warning! This is BL/ShounenAi/YAOI
.
.
Pemuda Tan itu dengan teliti membersihkan sela-sela jarinya. Setelah dirasa cukup, jemarinya mengambil sapu tangan yang berada dekat dengan wastafel untuk mengeringkannya. Naruto bahkan tidak perlu repot untuk menggunakan pengering disana. Ia mendesah pelan. Pertemuan itu cukup menguras tenaganya namun tidak buruk. Sikap introvertnya terkadang muncul di saat yang tidak tepat.
"apa kau memang sering berbicara sendiri?" seketika dirinya menoleh saat suara seseorang menyapa Indera pendengarannya. Cukup terkejut bagi Naruto mendapati seorang pria bersurai hitam kelam yang tengah bersandar pada tepian wastafel. Tangan porselen tersebut seraya menyalakan pemantik api pada sebatang rokok yang sudah bertengger manis di bibir tipisnya. Mata elangnya melirik pemuda pirang disampingnya dengan menyelidik, cukup membuat Naruto tidak nyaman.
"maaf, tuan?" kini pemuda pirang itu dilanda keheranan. Uchiha Sasuke, pria bersurai raven yang sebelumnya menjadi tamu dalam pertemuannya. Lebih tepatnya pendamping Shion saat itu. Naruto tahu jika Sasuke memang sepertinya memiliki rasa ketidaksukaan pada dirinya. Entahlah, ia tidak terlalu mementingkannya.
"Aku yakin mataku sangat tajam saat melihatmu kemarin di pemakaman, Uzumaki-san." Ujar Sasuke selepas menghembuskan asap putih dari mulutnya. Naruto yang masih dengan kegiatan membersihkan tangannya dengan sapu tangan sedikit terhenti. Namun, pemuda pirang itu berusaha untuk menormalkan kembali gejolak yang ada dalam dirinya.
"apa ada masalah, Uchiha-san?" tanya Naruto seraya tersenyum kaku. Kini Naruto membuat kontak langsung dengan pemuda stoic itu. Cukup lama mereka saling berpandangan dan Naruto berusaha menekan rasa gugupnya saat ini. "aku hanya ingin mengatakan, hentikan perilakumu dan caramu berbicara sendiri." Lontaran kata dari Sasuke seakan menyengat tubuh Naruto yang masih berdiam diri untuk mendengarkan. Naruto bahkan menyadari sejak awal jika pada saat itu dirinya memamg sudah diperhatikan terlalu lama saat berkomunikasi sendiri. Runtuh sudah tembok yang dibangun Naruto dalam menetralisir kecanggungannya.
Dengan gerakan perlahan Naruto menyimpan kembali sapu tangan pada saku celananya. Sasuke sangat menyadari memang jika ucapannya menembus langsung pada si pirang. "bagaimana jika aku mengatakan padamu, saat ini seorang wanita yang tewas beberapa tahun lalu tengah mengamatimu?" ucapan Naruto sukses membuat mata elang itu melirik ke sekitarnya namun tetap dalam keadaan tenang.
"Apa kau sedang mencoba menakutiku?" tanya Sasuke seraya mengernyit. Pandangannya semakin menyirat keanehan pada Naruto yang juga memandangnya datar. Iris biru itu tidak secerah seperti sebelumnya saat pertemuan tadi. Bahkan terkesan lebih dingin. "untuk apa aku menakutimu? Aku hanya seseorang yang berkata apa adanya." Jawab Naruto seraya memejamkan kedua belah matanya. Ia hanya meresapi perkataan yang dilontarkan dari mulutnya sendiri mengenai dirinya yang berkata apa adanya. Oh benarkah, Naruto telah jujur kepada dirinya sendiri selama hidupnya?
"orang lain hanya mengganggapmu sebagai lelucon bodoh." Naruto tahu. Ia paham mengenai orang lain yang baru mengenalnya atau bahkan melihatnya secara langsung. Sasuke termasuk orang yang mengenai titiknya, itu yang Naruto pikirkan. Bahkan pemuda pirang itu baru mengenalnya sekitar beberapa jam yang lalu, namun dengan beraninya secara langsung pria raven ini mengatakan hal-hal secara frontal pada dirinya.
"Kau tahu, baru kali ini ada seseorang yang baru kukenal telah mengetahui jati diriku." Sasuke mencoba untuk mendengarkan dengan baik ucapan dari seorang penulis di hadapannya. "kau sama seperti mereka yang mencoba untuk mengatakan aneh atau bodoh." Ujar Naruto dengan tenang. "namun yang membedakan, kau menyuruhku untuk berhenti sedangkan mereka hanya mencemooh." Sambungnya dengan iris biru yang memandang tajam pada obsidian yang juga tengah memandangnya dingin.
"dan bicaramu seolah hanya dirimu yang mengalami penderitaan." Ucap Sasuke sinis. Ia mencoba untuk menghisap kembali benda batangan yang berada di mulutnya. Mencoba menikmati rasa manis dari rokok tersebut. "kau benar tuan. Aku bahkan tidak tahu apa yang pernah kau alami selama hidupmu." Sahut Naruto. Iris birunya memandang pantulan wajah dirinya disana. Rambut pirang halusnya dengan beberapa helai sedikit menutup kelopaknya.
Iris hitam itu dapat menangkap jelas raut wajah pemuda di hadapannya yang terlihat sendu. Tidak ada seutas senyum yang terpasang seperti sebelumnya. "bahkan dalam kehidupan, kau harus rela Tuhan mengambil sesuatu yang berharga darimu." Kini wajah Naruto menoleh pada pria raven disampingnya. Bibir plumnya menarik sudut bibirnya tipis. Naruto mencoba tersenyum hangat sebagai balasan wajah dingin Sasuke yang memandangnya dengan ekspresi tanpa bisa diartikan.
Saat itu juga, Sasuke mencoba merekam setiap lekuk wajah secara mendetail dari wajah Tan blasteran tersebut. Onyxnya tidak bisa melepas pandangannya pada wajah itu. Bahkan senyumanya, seolah menarik dirinya jauh lebih dalam pada suatu berkas cahaya. "aku mungkin bukan orang suci yang hanya bisa menunjukkan senyum, tapi ibuku bilang, tunjukkanlah pada mereka dengan senyum terbaikmu meskipun banyak hal buruk menimpa." Perkataan itu membuat sesuatu sedikit menyengat dalam tubuh Sasuke. Tidak. Ia sedikit terkejut dengan kata-kata itu. Iris hitamnya sempat melebar seperkian detik walau akhirnya kembali dengan cepat.
"hey, tersenyumlah walaupun banyak hal buruk terjadi."
Kalimat itu persis seperti apa yang diucapkan oleh mendiang kakaknya. Hari ini, Uchiha Sasuke menemukan sesuatu yang membuat dirinya keluar dari tembok kokoh yang dibangunnya selama beberapa tahun. Bibirnya terasa kelu hanya untuk mengeluarkan sepatah kata.
"aku percaya, walaupun mulutmu memang sangat tajam tapi kau orang baik." Kini tubuh Naruto sepenuhnya menghadap pada Sasuke yang mana pria raven itu masih bergeming dalam posisinya. Seketika, tubuh atletis itu kembali menegakkan posisinya, mencoba untuk mematikan batangan rokok yang tersisa seperempat. Kini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Mungkin Sasuke sekitar lima senti tingginya berada di atas Naruto. Kaki jenjangnya melangkah maju mengarah pada pemuda blonde yang masih bergeming memandangnya. Wajahnya sedikit merunduk kearah pundak si penulis. Aroma citrus memasuki indera penciumannya kala dirinya berada pada dekat Naruto.
"bagaimana kau percaya bahwa aku orang baik, Uzumaki-san?" suara bariton itu semakin merendah. Sasuke cukup mengetahui bahwa pemuda blasteran itu menegang. Apa dia gugup, batinnya tertawa. "bagaimana jika saat ini pemuda yang kau percayai sebagai orang baik tiba-tiba memperkosamu, hn?" saat itu juga, tubuh Naruto sedikit menjaga jarak dari pria yang berada sangat dekat dengannya.
"ah maafkan aku, aku harus pergi tuan. Senang bertemu denganmu." Sasuke menangkap jelas jika nada bicara Naruto sedikit tidak stabil tapi iris hitamnya tidak dapat melihat jelas ekspresi wajah pemuda itu karena ia membungkukkan tubuh. Naruto pergi meninggalkan dirinya seorang diri yang mana Sasuke bahkan tidak menatap kepergian pemuda pirang itu. Dirinya masih bergeming.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Tidak, itu bahkan bukan sebuah senyum tipis atau senyum hangat. Itu seringaian.
.
"Hey, darimana saja kau?" Shion sangat kesal terhadap Sasuke yang memakan banyak waktu untuk bertemu dengan seseorang. Sasuke bahkan tidak mengidahkan celotehan Shion yang sangat kesal terhadap dirinya. Namun yang pasti, moodnya sangat bagus sekarang. "Kau bahkan menghabiskan tiga puluh menit yang berharga." Mereka saat ini telah berada di luar kawasan restoran berbintang lima itu. Menyusuri jalanan Tokyo dengan waktu yang sudah menunjukkan sore hari. "hanya memperbaiki moodku. Itu saja." Jawaban Sasuke membuat Shion memutar kedua bola matanya. "siapakah orang hebat itu yang bisa membuat perubahan moodmu membaik, huh?" pertanyaan Shion, lebih tepatnya berupa sindiran hanya ditanggapi sebagai angin lalu oleh Sasuke.
Kini mereka pergi ke tempat Tayuya karena memang sudah waktunya Zoey untuk pulang. Sasuke berencana untuk mengantarkan Shion dan Zoey ke rumah utama. Sepertinya Shion akan mengistirahatkan dirinya untuk tidak berpergian jauh terlebih dahulu. Sedangkan, Sasuke berniat pergi ke apartementnya.
.
Uzumaki Naruto. Entah kenapa, Sasuke merasa bersyukur untuk memenuhi permintaan Shion bertemu dengan penulis itu. Sasuke akui memang dirinya terkejut saat pertemuannya bersama Shion tempo lalu. Sasuke sendiri bahkan tidak mengetahui mengapa dirinya sampai rela menghabiskan waktunya untuk mencari data pemuda berdarah campuran itu. Namun, moodnya semakin memburuk saat dirinya hanya menemukan karya-karyanya dan sangat minim mengenai kehidupan pribadi orang itu. Sampai suara deringan ponselnya membuat dirinya dengan cekatan mengangkatnya.
"Kau mendapatkannya?"
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum saat mendengar jawaban yang cukup memuaskan untuk dirinya di seberang sana. Ia pun kembali menyimpan benda persegi panjang tersebut pada meja makannya. Jemarinya meraih secangkir kopi hitam hangat yang telah disajikan oleh dirinya sendiri. Sasuke bahkan lebih memilih tinggal seorang diri di apartemennya mengingat dirinya memang jarang ke rumah utama.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, sebuah lampiran masuk pada kotak suratnya. Dengan teliti, iris onyx itu membaca setiap rangkaian kata yang tertera dalam lampiran yang barusan dikirim oleh Kakashi. Lampiran itu berisi mengenai kehidupan pribadi seorang Uzumaki Naruto yang mana di internet pun tidak ada sama sekali informasi tentang itu. Orang kepercayaannya itu memang membuat Sasuke cukup terkesan atas kepiawaiannya.
Sampai suatu kalimat yang membuat mata elang itu terhenti. Sasuke mencoba fokus terhadap apa yang dibacanya itu. Naruto merupakan seorang anak dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Minato merupakan pemilik perusahaan Namikaze yang telah dikelola secara turun temurun di Jerman. Sedangkan Kushina, wanita berdarah Jepang murni yang merupakan wanita karir sebagai desainer.
Namikaze Minato telah tewas saat peristiwa jatuhnya pesawat penerbangan dari Boston menuju Jepang pada tanggal 5 Mei.
Seakan Sasuke merasa telah dihantam oleh sesuatu yang besar dan berat dalam tubuhnya. Jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Berita ini, berita yang sama kejadiannya yang telah menimpa kedua orang tuanya.
"bahkan dalam kehidupan, kau harus rela Tuhan mengambil sesuatu yang berharga darimu."
Seketika, ucapan itu terlintas dalam pikirannya. Bagaimana wajah itu dengan mudahnya memberi senyum yang seakan dirinya tidak pernah mengalami masalah? Senyum itu, kata-kata itu. Saat ini, seorang Uchiha Sasuke merasa sangat menyesali perbuatannya pada pemuda pirang itu. Bagaimana dengan mudahnya bibir tajam itu berbicara seperti itu pada orang yang bahkan Sasuke tidak tahu seperti apa kehidupannya.
Pemuda raven itu memutuskan untuk bersiap-siap pergi meninggalkan apartemennya. Tujuannya adalah satu, yaitu kediaman Naruto. Ia harus membicarakan semua yang ada dipikirannya saat ini pada pemuda tan itu.
Kakashi bahkan mencari tahu terlalu dalam tentang Naruto. Sasuke bersyukur telah mengetahui segalanya tentang pemuda bermarga Namikaze-Uzumaki itu.
.
"Astaga, tuan. Itu berbahaya." Suara Temujin yang terdengar meninggi saat melihat pemuda bersurai pirang meloncat bebas dari lantai dua hanya dibalas senyum tipis dari Naruto. "itu tidak apa. Jarak kedua lantai ini hanya berkisar beberapa meter, tidak terlalu tinggi." Jawab Naruto enteng. "tapi tetap saja, tuan. Itu berbahaya." Seru Temujin tidak mau kalah. Sedangkan Naruto hanya memaklumi sifat cemas dari Temujin itu.
"Hey, berbicaralah seperti biasa okay?" ujar Naruto saat menangkap kata pemanggilan yang menurutnya kaku. "Baiklah, Naruto-kun. Apa kau ingin cokelat panas?" tentunya penawaran Temujin disambut anggukan kepala dari Naruto. Saat ini memang Naruto tengah berada pada kediamannya yang berpusat di Tokyo. Disana terlihat sepi terkecuali para pelayan yang sibuk bekerja. Bahkan Naruto sempat merasa kesepian karena tidak adanya teman untuk menyalurkan ceritanya.
Setidaknya Kiba, teman masa SMAnya saat di Jepang kadang mengunjunginya. Pemuda pecinta anjing itu sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter hewan. Kini Naruto berada di ruang tengah bersama lembaran-lembaran kertas yang keberadaannya tidak bisa dibilang rapi serta Laptopnya yang sudah menyala dari beberapa jam yang lalu.
Suara rintikan hujan bahkan terdengar semakin membesar. Mungkin kata jenuh sangat cocok untuk menggambarkan isi hatinya. Jari-jari tangannya mengetuk meja yang menjadi alas Laptopnya. Berusaha memikirkan ide macam apalagi untuk ia tuangkan dalam tulisannya. Hingga suara langkah pelayan menginterupsinya.
"Terima kasih, Matsuri." Ucap Naruto seraya tersenyum lembut sesaat sebuah tangan menyajikan mug berukuran sedang berisi cokelat panas. "tentu, tuan. Apa anda ingin memakan sesuatu?" tanya Matsuri lembut. "hmm.. Sepertinya cukup cokelat hangat saja." Respon Naruto seraya tersenyum maklum. Setelah Matsuri meninggalkan seorang diri tuan mudanya, Naruto mulai menghirup dalam aroma manis dari mug tersebut. Sampai sebuah ketukan pada pintu yang langsung terhubung dengan ruang tengah membuat Naruto menghentikan aktivitasnya.
Pemuda blonde itu bangkit dan berusaha untuk merapikan beberapa kertas yang terlihat berceceran. Setelah itu, kakinya melangkah menuju pintu yang berukiran gaya Jepang kuno. Tangannya meraih knop pintu dan menariknya.
"Apa aku mengganggu?"
.'
To Be Continued.
*Author sangat mengharapkan kepada readers untuk meninggalkan review dan saran untuk fict ini. Terima kasih banyak :)
