Donata Dulcinea

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline : YukirinShuu

Pairing : Sasuke x Naruto

Warning! This is BL/ShounenAi/YAOI

.

.


"Apa aku mengganggu?"

Pemuda pirang itu bahkan sempat cengo saat melihat laki-laki yang menjulang tinggi bersama payung hitamnya. Mata elang itu memandang intens pada iris biru di hadapannya. Naruto yakin betul jika pria dihadapannya ini adalah laki-laki yang saat itu membuat dirinya merasakan ketidaknyamanan super hebat.

"Masuklah."

Naruto membuka pintu lebih lebar untuk mempersilakan Sasuke masuk. Pria raven itu menurunkan payung hitamnya dan sedikit mengibaskannya untuk mengurangi tetesan air yang mengenai. Sasuke sempat mengucapkan salam sesaat iris hitamnya menyapu pandangan di setiap sudut bangunan itu.

"Apa kau tinggal sendiri?" tanya Sasuke saat merasa keberadaannya hanya berdua dengan si blonde. Sasuke hanya berpikir apa pemuda pirang ini tidak kesepian tinggal sendiri di rumah yang terlalu besar itu?

"seperti yang kau lihat." Balas Naruto seraya mengangkat kedua bahunya ringan. Sasuke mengekori Naruto yang mengarahkannya pada ruang tengah. Pria bermarga Uchiha tersebut dapat melihat beberapa lembar kertas menumpuk yang penuh dengan tulisan disana. Tak luput dari Laptop yang masih menyala menampilkan beberapa artikel tentang sesuatu.

'sepertinya ia sedang bekerja', batin Sasuke. Pria raven itu mendudukkan dirinya pada sofa berbahan beludru hitam. Sasuke akui memang kesan modern dalam mansion ini tak luput jika mengingat tatanan dasarnya bergaya Jepang.

"apa kau ingin cokelat panas?" tanya Naruto seraya menunjukkan mug berukuran sedang dengan cokelat panas yang masih penuh. Sasuke hanya mengangkat sebelah alis dan hendak menjawab sebelum Naruto kembali menyelanya.

"ah, mungkin espresso? Saat di pertemuan aku hanya melihatmu menyesap secangkir kopi hitam." Sebenarnya Sasuke tidak masalah dengan apa yang sebelumnya Naruto tawari. Wajah stoic itu bahkan sempat berkedut saat Naruto kembali menyela dan membuat Sasuke bungkam. Si dobe ini cerewet sekali, pikir Sasuke.

Saat Naruto hendak membalikkan tubuh, kebetulan sekali Matsuri sedang melewati ruang tengah dengan membawa beberapa tangkai bunga mawar layu. "ah Matsuri-chan, apa Temujin sudah kembali?" pertanyaan Naruto membuat Matsuri memasang pose berpikir untuk mengingat kapan terakhir kali ia melihat Temujin.

"sepertinya belum kembali. Kau membutuhkan sesuatu, Naruto-kun?" ucapan Matsuri hanya dibalas senyum maklum dari tuan mudanya itu.

"kau tahu, kupikir Temujin sangat pintar dalam membuat kopi hitam mengingat rasanya yang tidak buruk." Ujar Naruto berekspresi risorius.

"Apa anda meremehkanku? Tentu aku bisa membuatnya, tuan." Jawab Matsuri seraya bersidekap dada. Jujur Matsuri merasa tuan mudanya ini agak meremehkan kemampuannya, bukan? Tentu saja iya.

"astaga. Kau memang yang terbaik, Matsuri-chan." Respon Naruto seraya mendekap ringan wanita yang lebih tua dua tahun darinya. Bahkan pemuda bermarga Uzumaki itu sudah mengganggap Matsuri sebagai kakaknya sendiri. Kelakuan tuan mudanya membuat Matsuri tak tahan untuk memutar bola matanya, namun senyum tipis tak luput dari wajah wanita itu.

"bahkan sikapnya tidak seperti tuan muda kebanyakan." Gumam Sasuke yang menangkap pemandangan tak biasa menurutnya mengingat keberadaannya tidak jauh dari Naruto dan Matsuri.

Setelah melakukan percakapan singkat dengan Matsuri, Naruto kembali menuju ke tempat semula. Jemari tannya meraih sebuah mug yang sebelumnya sempat tertunda untuk ia minum. Naruto mendudukkan dirinya tepat berhadapan dengan pria raven yang juga tengah menatapnya.

"Bagaimana kau tahu tempatku, Uchiha-san?" Tanya Naruto sebelum dirinya menyesap cokelat panas dengan khidmat. Ah, nikmat sekali rasanya. Biasanya Naruto lebih memilih jeruk hangat di saat-saat seperti ini. Mungkin sekarang Naruto akan memasukkan cokelat hangat ke dalam list favoritnya.

"entahlah, sangat mudah bagiku untuk menemukannya." Ujar Sasuke apa adanya. Tentunya tidak seperti itu, kawan. Rasanya seperti seorang stalker akut jika pria raven itu mengatakan hal yang sebenarnya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan respon apa yang didapat dari Naruto jika mengatakan 'ah, aku mendapatnya dari tangan kananku yang mengobrak-abrik tentang riwayat hidupmu'. Hell no.

"eh, benarkah? Kupikir selama ini tidak ada seorangpun yang mengetahui tempatku." Ujar Naruto dengan tampang sedikit terkejut, tapi kesan innocencenya tidak hilang. Hal itu pengecualian untuk teman dekatnya seperti Kiba. Tak lama, Matsuri datang dengan secangkir espresso hangat di nampannya.

"selamat menikmati, tuan." Ucap wanita itu seraya tersenyum manis. Sedangkan Sasuke, Presdir itu hanya menanggapinya dengan gumaman khas seorang Uchiha. Ia bahkan tidak menggerakkan sedikitpun posisinya. Dengan manner khas seorang pelayan, Matsuri pun meninggalkan tuan mudanya bersama pria yang berstatus sebagai seorang tamu.

"selain menulis dan tersenyum, hal apa yang sering kau lakukan di tempat membosankan ini?" oh, Sasuke. Semua orang tahu jika mulut presdir itu sangat pedas, tapi ini dalam situasi yang berbeda. Lain kali ia harus memilih kata-kata yang lebih tepat dalam berkomunikasi. Sedangkan respon yang Naruto berikan, pemuda pirang itu hanya tersenyum canggung menanggapinya.

"Kau benar. Aku bahkan merasa sangat jenuh hanya berada disini setiap hari." Naruto bahkan sempat merasa mati rasa jika harus mendekam di mansion ini saat dirinya mengalami deadline yang mengejar. Iris birunya setia memandangi cairan cokelat kental itu yang membuat riak air.

"mungkin dengan menghadiri sebuah orkestra atau pergi ke pusat perbelanjaan." Sambung Naruto seraya memandang pria raven yang juga memandangnya datar dan tajam. "bagaimana denganmu?" kini Naruto mencoba untuk menanyakan hal yang sama kepadanya.

"entahlah, bahkan berhadapan langsung dengan kertas-kertas cukup membuat hari liburku terampas." Naruto hanya menanggapinya dengan senyum teduh mendengar perkataan Sasuke yang dingin. Yeah, setidaknya pemuda pirang itu lebih baik dari Sasuke jika soal memenuhi kebutuhan hobinya. Paling tidak Sasuke hanya menghabiskan waktunya dengan membaca buku berhalaman tebal tentang mekanisme perbisnisan.

Suara alami rintikan hujan terdengar semakin membesar di sore menjelang malam itu. Iris biru milik Naruto mengalihkan perhatiannya pada kaca patri bermotif phoenix yang terpampang tiga buah dari sudut ruangan.

Dengan gerakan yang tidak menimbulkan banyak suara, Naruto menaruh kembali mug berukuran sedang itu dan menuju ke arah kaca patri tersebut. Cukup jelas untuk melihat air hujan yang terlihat deras seperti biasa. Sedangkan Sasuke tengah menyesap cairan hitam yang disajikan oleh Matsuri sebelumnya. Pandangannya tak luput untuk mengamati pergerakan pemuda blonde itu.

"Hei, apa yang kau lakukan saat di pemakaman?"

Sasuke tidak bodoh untuk menanyakan hal itu jika mengingat jawaban dari semua orang yang ditanyainya akan terdengar sama. Tentunya mengunjungi orang yang telah meninggal entah itu untuk menyalurkan rasa duka atau mungkin rindu.

Pemuda pirang itu masih bergeming di tempatnya. Pandangannya masih terfokus pada objek yang menarik perhatiannya diluar. Sedikit lama untuk Sasuke mendapati jawaban dari Naruto. Iris onyxnya masih setia untuk merekam ekspresi seperti apa yang dikeluarkan dari Naruto.

"hanya mengunjungi orang lama."

Nada bicaranya terdengar seperti biasa, namun terdengar pelan. Walaupun wajah Naruto terlihat normal, Sasuke dapat melihat jelas raut wajah yang di selimuti oleh duka itu. Pria raven tersebut sangat paham mengingat dirinya juga ditimpa oleh hal yang sama.

"Bagaimana denganmu saat itu, Uchiha-san?" Naruto memalingkan wajahnya untuk membuat kontak mata dengan Sasuke. Sedangkan, Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya. "setelah pembicaraan yang cukup panjang, apa kita harus memanggil dengan marga masing-masing?" Pertanyaan yang dibalas pertanyaan oleh Sasuke membuat Naruto mengangkat kedua alisnya, lalu tersenyum tipis.

"Sasuke-san?"

"cukup Sasuke."

"baiklah, Sasuke." Setelah merasa cukup puas dengan itu, Naruto kembali memfokuskan dirinya untuk mendengar jawaban dari pria minim ekspresi itu. "Sama sepertimu." Ujar Sasuke singkat. Ia bahkan tidak seperti berniat untuk membahasnya lebih jauh. Tujuannya saat ini hanya satu, memastikan segala hal secara langsung dari Naruto.

"apa kau memiliki seorang kakak?" pertanyaan Naruto cukup membuat Sasuke terkejut dibalik tampang stoicnya. Sedangkan Naruto masih bergeming di tempatnya seraya menempelkan telapak tangannya pada kaca patri tersebut. Ingin sekali merasakan hujan turun pada sore itu.

"yeah, seperti itulah." Jawaban Sasuke membuat Naruto menatapnya seketika. "oh benarkah? Padahal aku hanya menebak." Sasuke cukup terkesan dengan perkataan sederhana dari pemuda pirang itu. Iris onyxnya terfokus pada satu titik sebuah bingkai foto yang tertata rapih pada nakas meja yang tidak jauh darinya. Foto itu menunjukkan dua orang dengan gender yang berbeda. Seorang pria paruh baya bersurai pirang dengan iris birunya dan seorang wanita bersurai merah yang terlihat cantik dengan balutan long dress.

"dimana orang tuamu?"

Sungguh Sasuke sudah berusaha untuk menanyainya dengan hati-hati, tapi rasanya ia sedikit menyesal karena terlalu mencampuri urusan orang lain. Apa boleh buat? Sasuke merupakan tipe yang langsung berucap tanpa basa-basi.

"orang tua?" Naruto sedikit memandang lama Sasuke dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Lalu, pemuda pirang itu kembali mendekat dan mendudukkan diri tepat disamping pria bermarga Uchiha tersebut.

"hey, bagaimana jika kita saling bertukar cerita?" respon Naruto seraya meraih lembaran kertas yang tertumpuk pada meja. Terlihat jelas pada kertas itu yang berisi tentang frasa-frasa pepatah kuno.

"tidak masalah." Ujar Sasuke pendek. Ia bahkan memperhatikan setiap mimik muka Naruto yang tengah membaca setiap rangkaian kata pada lembar kertas tersebut.

"orang tuaku, mereka berada di Jerman." Ucap Naruto dengan yang terdengar santai. "ayahku meninggal lima tahun yang lalu." Jemari tannya menaruh kembali selembar kertas yang sebelumnya dibaca. Punggungnya menyandar pada board sofa tersebut.

"yeah, saat itu pesawatnya jatuh menuju Jepang." Sambung Naruto tanpa membuat kontak mata dengan Sasuke. Pemuda blasteran itu memandang lurus ke depannya. Terlihat sedang menerawang sesuatu yang jauh.

"Itu terdengar menyedihkan memang." Sahut Naruto kembali. Pikirannya melayang jauh saat dirinya menerima kabar yang membuat seluruh tubuhnya shock. Kala itu Naruto sedang menjalani kuliahnya yang sudah berjalan satu tahun. Rencana Tuhan memang tidak ada yang tahu.

"diluar sana banyak yang lebih menyedihkan dari itu." Sasuke tahu. Entah kenapa, dirinya menangkap raut wajah yang tidak cerah seperti sebelumnya dari Naruto dan pria raven itu agak membencinya. Sasuke benci melihat cahayanya yang lebih redup. Bahkan Sasuke akui, ia lebih suka jika melihat penulis itu tersenyum.

"kau benar, Sasuke. Tuhan menghukumku dengan memberi sebuah duka yang mendalam." Ujar Naruto seraya memberi senyum tipis.

"pernah mendengar pepatah yang mengatakan, di setiap jengkal kehidupan, kadang hari-hari memang harus dilalui dalam selingkup awan kelabu dan kedukaan." Sasuke yakin jika saat ini adalah kalimat terpanjangnya yang pernah ia ucapkan dengan Naruto. Menurut pria raven itu, pepatah tersebut sangat cocok untuk menggambarkan kondisi seperti sekarang ini. Dan hey, sejak kapan dirinya terdengar layaknya orang bijak?

Naruto yang mendengar ucapan Sasuke menolehkan kepalanya. Pemuda pirang itu mencoba untuk meresapi setiap rangkaian kata dari Sasuke. Bagaimana tepatnya pepatah itu menembus suasana hatinya. Iris biru tersebut langsung memandang lurus tepat ke manik obsidian yang tengah menatapnya dalam.

Jujur sebenarnya Sasuke agak sedikit tidak menyetujui saat penulis dihadapannya berkata seolah dirinya adalah seorang pendosa yang mendapat ganjaran sang pencipta. 'Aku bahkan lebih buruk darimu, Naruto' Sasuke memang tahu diri jika ia lebih buruk dari Naruto mengingat sikapnya selama ini. Penulis itu dengan mudahnya memberi seutas senyum yang bahkan wajahnya terlihat luput dari masalah. Sedangkan, dirinya hanya bisa meratapi sebuah garis takdir yang telah diberi Tuhan. Terdengar miris.

"keluargaku telah tiada." Ujar Sasuke datar.

"lima tahun silam tepatnya pada 5 Mei, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat dari Boston." Pria raven itu bahkan tidak mengerti bagaimana dirinya bisa begitu saja untuk menceritakan hal yang sensitif terhadap orang lain. Apalagi mengingat Naruto yang merupakan orang baru.

"sedangkan, kakakku penderita Leukimia." Sambungnya. Sasuke mendesah pelan setelah akhirnya ia meluncurkan sebuah kisah yang pernah dialaminya. Ada sedikit sengatan dalam tubuhnya. Sampai mata elangnya melirik posisi pemuda bermarga Uzumaki tersebut tengah membungkukkan badannya ke arah Sasuke, lalu kembali memandang wajah stoic itu dengan ekspresi sedih namun menggemaskan layaknya bocah TK yang hampir menangis karena kehilangan sesuatu.

"Hey, apa yang kau lakukan?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Ia akui jika wajah pemuda blasteran itu sangat terlihat seperti anak kecil. Entah kenapa, jemarinya sangat gatal untuk menarik kedua belah pipi bergaris halus itu. Dan asal kalian ketahui, saat ini presdir muda itu tengah menggigit pipi dalamnya untuk menahan sebuah senyuman. Ugh, tsundere.

"Das tut mir Leid." (maaf, aku menyesal.)

Kawan, jangan remehkan seorang Uchiha Sasuke yang merupakan seorang pimpinan agensi raksasa di kawasan Asia Timur. Selama dirinya menjabat dari lima tahun yang lalu, pria raven itu sudah membentuk hubungan yang terjaring luas sampai ke wilayah Eropa. Ia bahkan sudah mempelajari beberapa macam bahasa asing. Salah satunya Jerman.

"bukankah kau sendiri yang memintanya, dobe?" tanya Sasuke masih mempertahankan mimik mukanya. Sasuke bahkan sudah tidak bisa menahan bibirnya untuk mengucap panggilan baru Naruto yang terdengar jahat itu.

"hey, barusan kau bilang apa?" telinganya menangkap sesuatu yang terasa menjengkelkan saat Sasuke berbicara. Naruto memang agak sensitif jika menyangkut sesuatu yang bodoh apalagi ditujukan untuk dirinya. Hei, manusia mana yang ingin disebut seperti itu?

"kau tahu, kau memang aneh." Tanpa mengidahkan protes dari Naruto, Sasuke malah semakin berbicara lugas tentang Naruto. Ia mendengus pelan seraya menyangga pelipis kanannya dengan buku jari tangannya. Mata obsidiannya melihat jelas wajah tan tersebut yang terlihat mengerutkan dahi.

"aku tahu. Mungkin dirimu sudah menjadi orang yang keseribu untuk mengatakan hal itu padaku." Sahut Naruto seraya memalingkan wajahnya. Sudah tidak aneh dirinya mendapat cibiran seperti itu.

"well, aku tidak terkejut mendengarnya." Balas Sasuke seraya mengangkat kedua bahunya ringan. Pria raven itu berpikir jika Naruto merupakan seorang penulis yang terlihat melankolis dimatanya saat pertemuannya bersama Shion. Walaupun kesan aneh tak luput saat bertemu di pemakaman sebelumnya.

"aku turut berduka cita atas ceritamu, Sasuke." Ujar Naruto seraya memandang langsung ke arah Sasuke. Sedangkan, pria raven itu hanya mengeluarkan dua huruf andalannya sejak dulu.

Akupun turut berduka atasmu, Naruto.

.

.

"Kenapa? Kenapa Sasuke-kun tidak pernah sekalipun melihat kepadaku?" wanita bersurai merah muda yang telah menyandang status sebagai istri dari Uchiha bungsu tersebut sejak lima bulan yang lalu tengah melampiaskan amarahnya.

Dihadapannya terdapat seorang wanita bersurai pirang pucat memandangnya tajam. Shion bahkan tidak pernah berpikir sedikitpun jika akhirnya, secara resmi Sasuke menerimanya sebagai pendamping hidup.

Perempuan ini gila, batin Shion. Iris lavendernya menatap intens pada wanita bermarga Haruno yang tengah menggerutu. Hampir setiap Shion bertatap muka dengan Sakura, rasanya sesuatu yang kurang menyenangkan hinggap dalam moodnya.

"Aku akan mengatakan ini padamu, Sakura. Sasuke tidak akan pernah mencintaimu." Ujar wanita berdarah eropa tersebut secara lugas. Ia bahkan tidak terlalu memikirkan jika kata-katanya akan semakin merusak suasana hati Sakura.

"Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa tidak ada kesempatan untuk membuat Sasuke-kun berpaling kepadaku? Aku bahkan akan melakukan apapun untuk membuatnya melihatku." Sahut Sakura yang terlihat hampir menangis. Bahkan penampilannya saat ini cukup berantakan.

"Sakura, kusarankan kau untuk berhenti mengejar cintamu itu." Shion menyesap minuman bunga seruninya dan membuat kontak mata dengan perempuan bermarga Haruno didepannya.

"huh? A-apa yang kau bicarakan, Shion?" Iris emeraldnya menatap tidak percaya pada kakak ipar berdarah eropa itu. Kenapa Shion tidak memberi sedikitpun dukungan pada dirinya jika mengingat selama ini sikap Shion terlihat menyenangkan.

"Sasuke menyimpang."

.

To Be Continued.