Donata Dulcinea

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline : YukirinShuu

Pairing : Sasuke x Naruto

Warning! This is BL/ShounenAi/YAOI

.

.


"Lalu, setelah para tua bangka itu menyindirku, mereka bahkan mengkritik tentang program kerja yang kubuat. Sial." Celotehan Kyuubi masih setia menyapa telinga Naruto yang tengah memakan cemilan keripik kentang di meja makan.

Kyuubi yang telah merapihkan seluruh barang bawaannya semenjak tiba di rumah memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat seloyang kue pastri mengingat hal itu merupakan kebiasaannya.

"Hey, besok temani aku ke onsen." Sahut Kyuubi seraya mengeluarkan loyang berisi pastri mengembang dari oven. Naruto hanya memberi gumaman kecil dan kembali meraih potongan keripik kentang. Jemari tannya meraih sebuah majalah vogue dan mulai membacanya.

"Apa kau tidak merindukan kakakmu ini, bocah?" Ujar Kyuubi yang sempat menghentikan kegiatan menyusun kuenya. Iris rubynya melirik kesal pada pemuda blonde yang sedari tadi hanya menganggapinya dengan pendek dan bahkan gumaman.

"Tentu saja dan hey, kau menyebutku bocah barusan?" Naruto menoleh dan memasang wajah masam pada wanita yang tengah tersenyum sinis itu.

"Tapi aku lebih merindukan kaa-san, sih." Sambung Naruto mengangkat kedua bahunya ringan. Mendengar pernyataan sang adik tak luput membuat sudut perempatan muncul pada wajah wanita berkepala tiga itu.

"Ya, ya. Kau merindukan ibu tapi malah pergi ke Jepang." Ucapan Kyuubi yang lebih terdengar seperti sindiran hanya membuat Naruto memutarkan kedua bola matanya. Naruto bahkan tidak berniat menyangkal soal itu.

"by the way, apa kau menemukan sesuatu yang menarik disini?" Naruto mangangkat kepalanya memandang Kyuubi yang sudah berada di depannya tengah menggigit pastri. Pemuda pirang itu sedikit bingung dengan sesuatu yang dimaksud wanita cantik itu.

"makanan? Atau wisata alam?"

Kyuubi mendengus pelan menanggapi kelambanan sang adik. Kupikir dia sudah berubah, batin Kyuubi. Jika soal menyadari kepekaan Naruto memang bodoh untuk cepat menyadarinya. Itu pandangan menurut Kyuubi pribadi. Ia tidak salah sih.

"apa kau sedang menyukai seseorang?"

Mungkin jika sekarang Naruto sedang meminum air atau apapun itu, ia sudah menyemburkannya dengan cepat. Kakaknya ini memang tanpa basa-basi jika menyangkut hal itu. Naruto terlihat mulai berpikir tentang seseorang menurutnya yang ia sukai selama ia menetap di Jepang. Tapi siapa?

"Kau terlihat berpikir keras yah." Kata Kyuubi enteng seraya merebut majalah yang sudah terabaikan oleh Naruto.

"ah! Aku punya teman baru. Namanya Sasuke, dia menyenangkan. Aku menyukainya." Ujar Naruto dengan raut sumringah memandang kakaknya. Baru terpikir jika Naruto akui pria raven itu sebenarnya orang baik namun memang ekspresinya saja yang terlihat dingin. Itu pemikiran Naruto.

"Sasuke? Hmm..." Kyuubi terlihat menerawang walaupun matanya masih setia memandang foto seorang model pria yang terlihat menggairahkan dimatanya.

"Ada apa?" Naruto yang melihat Kyuubi sedari tadi masih mengerutkan dahinya sedikit merasa aneh.

"Rasanya aku pernah mendengar nama itu." Kata Kyuubi seraya membuka lembar halaman majalah selanjutnya.

"Sasuke- Uchiha Sasuke?"

Naruto menatap Kyuubi dengan sedikit binar terkejut di matanya. Tunggu. Apa hubungannya kakaknya itu dengan Sasuke?

"Bagaimana kau bisa tahu, sist?" Kali ini Naruto memandang Kyuubi dengan tidak biasa dan terlihat berlebihan. Sedangkan, Kyuubi dengan cueknya mengangkat kedua bahunya seraya bermain mata melirik keatas.

"dia rekan bisnis Namikaze dari Asia." Sahut Kyuubi ringan. Suaranya terkesan datar saat menjelaskan soal Sasuke pada adiknya itu. Yeah, Kyuubi memang malas jika berbicara soal pria angkuh bermarga Uchiha tersebut.

"wow.. Dunia terasa sempit." Okay, kali ini Naruto mulai mengerti dengan apa yang terjadi. Naruto akui presdir Uchiha itu memang memiliki aura yang berbeda dari setiap orang yang pernah Naruto temui. Dari caranya bersikap ataupun berbicara, bahkan kharisma kuat dan dominan tak luput dari dirinya. Tampang datar dan angkuhnya kadang sedikit membuat Naruto resah? Tidak, lebih tepatnya ingin sekali menarik wajahnya dengan kuat. Naruto terkekeh membayangi hal gila yang sekelabat terlintas dibenaknya.

"intinya dia orang yang tidak menyenangkan menurutku." Perkataan Kyuubi membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya. Ekspresi Kyuubi berubah menjadi masam ketika mengingat dirinya pertama kali bertatap muka dengan pimpinan raven itu. Wajah angkuh dan jangan lupakan mulutnya yang pedas itu, ingin rasanya Kyuubi meninjunya.

"well, awalnya kupikir juga begitu," Respon Naruto seraya mencomot satu potong pastri yang disediakan Kyuubi. Lidahnya mulai mengecap rasa manis vanilla yang mendominasi kue pastri tersebut. Jika menyangkut kue, kakak perempuannya itu memang yang terbaik kedua setelah sang ibu tentunya.

"dan yah, di awal pertemuanku dengannya, dia sudah berani mengejekku." Sambung Naruto terdengar jengkel. Oh, ia ingat sekali dengan perkataan pria raven itu saat mengejek soal rambut pirangnya. Kala itu Naruto masih bisa bertahan dengan topeng tersenyumnya. Lain kali Naruto harus menyiapkan ekstra cadangan kesabaran miliknya.

"seperti apa?"

"dia mengucapkan jika rambut pirangku adalah hasil cat warna karena pergaulan atau semacam tren, entahlah." Mendengar cerita Naruto yang terlihat serius menyampaikannya, Kyuubi menatap lucu sang adik dan sempat berkedip beberapa kali.

"apa?"

Gelak tawa yang besar meluncur halus dari bibir yang dipoles lipstick merah tersebut. Seketika membuat area mata Naruto berkedut kencang melihat respon dari Kyuubi yang terlihat sangat menyebalkan. Shit. Kakaknya ini bukannya membelanya tapi hanya menertawakan dirinya yang terlihat bodoh.

Sampai tawaan Kyuubi yang membuat iris rubynya berair berakhir, Naruto masih memandang sengit wanita didepannya. Puas sekali rasanya wanita bersurai orange ini tertawa. Mungkin lain kali giliran Naruto yang berada diposisinya untuk menertawakan kakaknya itu.

Haha iya. Pasti ada gilirannya.

"kau menyebalkan Kyuu." Sahut Naruto tanpa menggunakan embel-embel ketika menyebut nama kakaknya langsung.

"err.. maafkan aku. Tapi itu lucu sekali." Ucap Kyuubi memandang datar sang adik yang seolah tidak terjadi apa-apa. Tak luput dari kebiasaannya yang menggosok-gosok telunjuknya pada daerah antara hidung dan mulut. Iris sapphirenya yang dengan jernih merekam setiap perilaku Kyuubi membuat Naruto mendecih. Sikap kakaknya sedikit memengaruhi mood swingnya.

"Oh yeah, kudengar dia gay."

Brushh-

Kenapa sejak dulu Kyuubi selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya terkejut saat Naruto sedang menyesap tehnya dan barusan Naruto sedang meminumnya. Benar-benar kakaknya ini. Tapi tunggu, Sasuke?

"huh?"

Kyuubi kembali memutar kedua bola matanya malas. Si Naruto ini bodoh atau memang kepekaannya sangat kurang?

"Kau temannya tapi kau tidak tahu dia gay, Naruto." Ucap Kyuubi yang terdengar lelah. Yeah, lelah karena kelambanan sang adik.

"t-tidak, tidak. Hanya saja aku cukup terkejut." Balas Naruto cepat, namun pikirannya sedikit berpusat pada sesuatu. Ia menopang dagunya seraya mulai berpikir. Iya, memikirkan sebuah fakta baru yang ia dapat dari sang kakak tentang presdir Uchiha itu.

Sebenarnya Naruto tidak merasa aneh mengingat selama di kuliahnya pemuda pirang itu memiliki seorang teman yang lesbian ataupun gay. Ia menerimanya layaknya seorang teman biasa. Pemuda itu tidak terlalu mempermasalahkan tentang orientasi seksual seseorang yang menyimpang.

Well, Naruto masih menyukai oppai seorang wanita, kawan.

"mau kemana?" tanya Kyuubi saat dilihatnya Naruto beranjak berdiri dari duduknya. Wanita itu yang sebelumnya terfokus pada majalahnya menoleh ke arah Naruto.

"Istirahat."

Cukup menjawab pertanyaan Kyuubi dengan satu kata yang padat dan jelas. Jika tentang istirahat soal adiknya, Kyuubi tidak bisa memaksanya untuk kembali menemaninya sebagai teman mengobrol. Mood adiknya sedikit sensitif jika sudah seperti itu.

"Jangan lupa acara kita besok!"

.

Kyuubi dan Naruto memutuskan untuk pergi tanpa menerima tawaran dari Temujin ataupun seorang supir keluarganya. Mereka lebih baik menggunakan mobil sendiri dengan Kyuubi yang menyetir. Bukan berarti mereka menolak untuk diantar, hanya saja jika sudah ada kakak wanitanya itu berkunjung, biasanya ia yang akan sering membawa mobil.

Mereka sampai di sebuah pemandian air hangat yang berada Ooedo, Tokyo. Ooedo memang merupakan pemandian air panas yang cukup menarik banyak pengunjung baik dari lokal maupun turis selain fasilitasnya yang lengkap.

Setelah sebelumnya melakukan pembayaran segala perlengkapan onsen, kedua manusia berbeda gender tersebut pergi menuju ruang ganti secara terpisah namun berdampingan.

"wuah.. Sudah lama tidak berendam air panas disini." Ujar Kyuubi seraya merentangkan kedua tangannya. Naruto yang berada di belakang mengekorinya hanya mendengus kecil.

"sering-seringlah ke Jepang supaya mendapat lebih kepuasan berendam."

"ya ya, kau benar, pirang." Sahut Kyuubi seraya mengejek Naruto. Sedangkan, pemuda yang dimaksud hanya melirik sinis dan berlalu memasuki ke ruang ganti khusus pria. Begitu juga Kyuubi. Tidak lebih dari tiga puluh menit mereka berdua berendam seraya melepas penat masing-masing.

.

"Ugh, sial. Bisakah kau berhenti?"

Kedua kaki jenjangnya dengan menghentak terus menyusuri lorong setelah ia menyelesaikan ritual di onsen. Jujur sebenarnya jika Naruto sudah membicarakan hal-hal yang tak kasat mata membuat Kyuubi merasa risih. Bukannya wanita itu takut, ia hanya tidak nyaman akan perkataan Naruto.

"hey, aku serius. Pria itu sedari tadi masih memandangimu, Kyuu." Sahut Naruto kembali. Pemuda pirang itu berlari kecil untuk menyusul langkah Kyuubi yang panjang itu. Walaupun untuk ukuran seorang wanita, kaki Kyuubi tidak bisa dibilang pendek.

"ya ya, bicaralah pada dinding, Naruto." Sahut Kyuubi ketus.

"oh astaga! Dan anak kecil ini masih saja mengikutimu."

"shit. Diam atau kau-"

Belum sempat Kyuubi menyelesaikan kata-katanya, saat di lorong perempatan hendak berbelok, iris rubynya menangkap sosok jangkung yang tengah berjalan berlawanan ke arahnya. Sedangkan, Naruto masih menyusul kakaknya dan sedikit menubruk tubuh samping Kyuubi.

"Uchiha?"

Saat itu juga, iris biru sejernih samudera bertemu dengan onyx sekelam langit malam tanpa bintang. Mereka sedikit lama saling memandang sebelum akhirnya Naruto memutus kontak dengan mata yang tertutup akibat senyum sumringah andalannya.

"Hey! kita bertemu lagi, Sasuke."

.

Sebuah restoran yang masih berada di kawasan onsen Ooedo hanya terdapat beberapa pengunjung yang bisa dihitung jari di dalamnya. Termasuk ketiga orang yang memilih tempat bermandikan pemandangan langit sore di Tokyo.

Uchiha Sasuke, seorang presiden direktur secara kebetulan bertemu dengan kedua orang berbeda gender yang duduk berhadapan dengannya. Setelah sebelumnya mereka bertemu di jalan dengan ketiganya yang masih menggunakan piyama, kemudian acara saling sapa menyapa dan berakhir dengan janji untuk makan malam bersama.

Sebenarnya Naruto yang mengusulkan pada keduanya soal makan malam itu dan langsung di setujui oleh Sasuke. Namun, Kyuubi yang belum sempat menyuarakan pendapatnya langsung di sela oleh pemuda pirang itu yang langsung asal memutuskan itu. Sial.

"aku tidak menyangka bisa bertemu kalian." Kalimat pembuka yang di lontarkan dari Sasuke membuat kakak-beradik dihadapannya tersenyum. Maksudnya, Naruto yang tersenyum hangat dan Kyuubi yang tersenyum paksa.

"yeah, kebetulan aku kemari karena memiliki urusan dengannya." Sahut Kyuubi seraya menyenggol lengan Naruto dan tersenyum sinis. Membuat pemuda pirang itu menatapnya datar.

"Maksudmu urusan berwisata dan liburan disini?" tanya Naruto kembali sebelum akhirnya menyesap hidangan secangkir latte. Ah, nikmatnya saat cairan kopi yang di dominasi banyak susu itu menyapa lidahnya.

Iris onyxnya masih setia mengamati interaksi adik kakak di hadapannya. Dengan mudahnya direktur utama Namikaze itu memberi kontak fisik secara langsung pada pemuda blonde di sampingnya. Ada sedikit gejolak tumbuh di dalam tubuh Sasuke saat melihatnya.

Wait.

Kenapa Sasuke harus berpikir seperti itu jika mengingat kedua orang ini adalah kakak-adik?

Kakak angkat Naruto maksudnya.

"apa kabar mu, Uchiha?" tanya Kyuubi sekedar berbasa-basi terhadap pria minim ekspresi di hadapannya. Sebenarnya sedikit enggan Kyuubi menanyai hal yang menurutnya tidak penting. Wanita itu hanya sedang mencoba untuk bersikap ramah pada rekan sesama bisnis.

"Baik. Mungkin saat ini melebihi dari kata baik." Mata elangnya seraya melirik pemuda blonde yang tengah mengulum sumpitnya untuk memasukkan potongan sashimi. Fokus Naruto masih berpusat pada mangkuk kecil berisi kecap asin yang berada di tangannya. Sedangkan, Kyuubi yang menyadari perhatian pria raven di depannya mengarah pada sang adik bergerak mengikutinya.

Seketika iris rubynya mendelik saat menangkap potongan sashiminya hanya tersisa satu potong. Sejak kapan Naruto menghabiskannya? Terlebih lagi seorang diri? Hell no.

Dengan segenap tenaga, saat sumpit milik Naruto hendak ingin kembali mengambil potongan terakhir makanan mentah itu, Kyuubi langsung menahannya cepat.

"Oy."

Kedua iris berbeda warna milik kakak-beradik itu saling bertumbuk dengan kilat tajam di keduanya. Suara sumpit yang saling mengadu semakin terdengar jelas untuk merebut satu potongan salmon mentah yang tersisa.

"ah! Sepertinya itu Temujin." Sahut Kyuubi seraya menunjuk ke arah belakang Naruto. Otomatis Naruto langsung menoleh cepat untuk memastikan. Biasanya jika sudah seperti ini ucapan Kyuubi hanya sebuah kebohongan belaka. Dan itu benar. Bodohnya lagi, kenapa Naruto mendengarkannya?

"Yeah, kau memang pembohong ulung dan licik, Kyuu." Ujar Naruto seraya memandang tajam sang kakak. Sedangkan, orang yang di maksud hanya mengedikkan bahu.

"sepertinya aku akan memesannya lagi."

Selagi Kyuubi memanggil seorang pelayan restoran, pemuda pirang di sampingnya melihat kearah Sasuke yang tengah menyesap kopi hitam miliknya. Berbeda dengan bagian mejanya dan Kyuubi yang di penuhi dengan beberapa piring dan mangkuk, di bagian Sasuke hanya terdapat sepiring Maki-zushi berisi potongan sayur dan ikan laut serta semangkuk sup miso. Tak luput dari semangkuk Nimono (makanan rebus) disitu. Oh, itu terlihat lebih memenuhi standar makan malam di banding jenis makanan yang di pesan Naruto kakaknya itu.

"Sasuke, kau tidak ingin memesan sesuatu lagi?" Tanya Naruto, mau tak mau membuat Sasuke memandangnya tajam saat hendak ingin menyumpit potongan sayur rebus.

"Tidak." Balas Sasuke datar.

Naruto hanya mengangguk paham seraya tersenyum kaku. Selang beberapa menit, Kyuubi berdecak kesal saat merasa ponsel yang berada di dalam kantung kemejanya bergetar.

Beraninya mengganggu orang yang sedang berlibur, batin Kyuubi saat matanya menangkap sebuah nama salah satu tetua Namikaze tertera di layar ponsel.

Wanita berkepala tiga itu beranjak dari kursinya setelah izin dari kedua laki-laki yang sedang bersamanya. Di saat Kyuubi hendak pergi, seorang pelayan wanita datang seraya membawa sepiring Sashimi yang tidak bisa dikatakan berukuran kecil yang sebelumnya beberapa menit ia pesan. Lagi-lagi Kyuubi mendengus jengah sebelum jemarinya menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan di ponselnya dan berlalu.

"Ah, terima kasih." Ujar Naruto selepas pelayan wanita tersebut menaruh makanannya. Kedua matanya sedikit berbinar saat melihat pesanan kakaknya itu datang.

"kau makan banyak sekali." Sahut Sasuke seraya memperhatikan pergerakan Naruto yang tengah menyumpit sepotong Sashimi segar yang baru tersaji.

"hey, jangan bicara seperti itu. Aku bisa tidak makan seharian jika perutku sudah terisi penuh." Ujar Naruto sebelum akhirnya memasukkan sashimi ke dalam mulutnya. Mata birunya yang terbuka lebih lebar serta kedua alisnya yang menukik balas memandang Sasuke. Pria raven itu hanya mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan yang terdengar tidak biasa dari Naruto.

"dan lagi, sepertinya kau harus mencobanya." Bertepatan Naruto berbicara seperti itu, jemari tannya mengarahkan sumpitnya tepat di depan wajah Sasuke yang sudah terapit oleh sepotong sashimi setelah sebelumnya ia sapu dengan kecap asin.

Saat ini di hadapannya terdapat seorang pemuda pirang yang tengah tersenyum manis menyodorkan sepotong sashimi kepadanya. Cukup membuat iris onyxnya terkejut seperkian detik sebelum kembali seperti semula.

"Cobalah."

Dengan perlahan namun pasti, bibir pucat itu menyentuh daging kenyal yang diarahkan kepadanya dan melahap seluruhnya. Mata elangnya semakin menajam di kala Naruto memandangnya dengan tersenyum riang karena respon Sasuke yang menerimanya langsung.

Setelah itu, bibirnya menarik kembali dan mulai mengunyah susunan serat daging salmon. Tapi pikiran pria raven itu tidak berpusat pada makanan yang dikunyahnya.

"Lezat, bukan?" ujar Naruto yang kali ini dirinya kembali menyumpit potongan lain makanan rebusan dan memasukkan kedalam mulutnya seraya mengulum.

Huh.

Barusan ia melakukan Indirect kiss kah dengan Naruto?

Apalagi dengan khidmatnya Naruto masih mengulum sumpit yang sama. Sasuke sedikit mendesah pelan seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Iris hitamnya tidak luput dari bibir plum pemuda pirang itu.

Shit.

Sasuke mendecih saat merasa dirinya di penuhi oleh suatu gelenyar aneh di dalam perut dan merayap ke dadanya. Entahlah, tapi pria raven itu merasa tidak membencinya.

Tak lama Kyuubi datang secara tergesa sebelum akhirnya kembali menempatkan diri seperti semula. Namun auranya terlihat sedikit menggelap.

"Ada apa, kak?" tanya Naruto saat Kyuubi mulai menyumpit ikan laut dari mangkuk sup misonya. Ia melirik ke arah adiknya datar dan kembali mengalihkan pandangannya ke makanannya.

"Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen di rumah setelah ini." Raut wajah wanita bersurai orange tersebut menekuk saat mengingat suara tua dari seberang ponselnya sebelumnya.

"eh- Berarti hanya aku saja yang bermalam di Ryokan." Sahut Naruto. Well, Naruto sedikit merasa kecewa jika kakaknya tidak ikut bermalam bersama di Ryokan mengingat mereka sedang berada di pemandian air panas.

"kau yakin?" Kyuubi menoleh pada sang adik. Terdapat raut kekhawatiran pada wajah cantik wanita berkepala tiga itu. Sedangkan, Naruto hanya mengangguk kecil tanpa melihat Kyuubi. Jangan bilang nantinya jika kakaknya ini malah mengajaknya pulang. Tidak. Naruto memang berencana untuk bermalam di Ryokan.

"bagaimana denganmu, Uchiha?" Kali ini pandangan Kyuubi beralih pada Sasuke yang langsung menatapnya juga. Dahi Kyuubi berkerut setiap mereka membuat kontak mata.

"Aku bermalam di Ryokan."

Naruto yang mendengarnya menyambut dengan sangat baik. Ia tidak perlu khawatir jika Sasuke ternyata berencana untuk bermalam juga. Setidaknya Naruto memiliki seorang teman walaupun hal itu tidak menentukan letak Ryokan nya yang berdekatan atau jauh dengan Sasuke.

Kyuubi menyandarkan punggungnya pada kursi seraya bersedekap. Wanita itu memandang secara bergantian pada kedua laki-laki yang saling berlawanan itu. Yeah, jika Kyuubi perhatikan memang berlawanan dari cara mereka bersikap. Naruto yang lebih banyak berbicara dan Sasuke yang pendiam namun aura mendominasinya tidak luput dari pria raven itu.

"Kalian-"

"apa/hn."

Baru saja sepatah kata yang terlontar dari bibir wanita cantik itu, kepala pirang dan hitam yang sedang bersamanya langsung menoleh secara kompak. Cukup membuat Kyuubi salah tingkah. Sebenarnya mereka ini kenapa?, pikir Kyuubi yang merasa kesal entah kenapa. Area matanya sedikit berkedut kesal. Ah, lupakan.

"Kau harus membuat reservasi setelah ini, Nar." Sahut Kyuubi mengingat sang adik belum sama sekali memesan sebuah Ryokan untuknya. Yeah, awalnya Kyuubi dan Naruto hanya berniat berendam tanpa bermalam. Namun, siapa sangka bukan?

"reservasi?" beo Sasuke.

Kakak-beradik itu kini menoleh ke arah Sasuke saat menangkap suara bariton khas miliknya.

"Ada apa?" Tanya Kyuubi yang terdengar curiga. Sedangkan, Naruto ikut memandang Sasuke.

"setahuku Ryokan di sini sudah menutup reservasi mereka malam ini. Kapasitasnya pun sudah terpenuhi." Ujar Sasuke datar. Bahkan nada bicaranya terlalu rendah untuk di dengar.

"eh? Benarkah?" Rasanya pupus sudah harapan Naruto untuk mencari hiburan dengan bermalam di Ryokan. Bahkan aura pundung langsung menggerayanginya.

"Kau ikut aku pulang, Nar." Sahut Kyuubi tajam tanpa berusaha basa-basi dengan sang adik. Perasaan wanita itu mengatakan akan terjadi sesuatu jika ia membiarkan bocah pirang ini dengan presdir itu bersama.

"t-tapi kak-"

"Naruto bisa bermalam di Ryokan-ku." Lagi-lagi suara bariton kembali menginterupsi interaksi kedua saudara berbeda gender tersebut. Sontak membuat kepala Naruto menoleh, begitu juga Kyuubi yang menatap Sasuke sengit.

"ehh!? Kau serius!?" Naruto langsung beranjak dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke. Otomatis membuat wajah keduanya saling berpandangan satu sama lain dengan jarak yang dekat.

Sasuke bahkan tidak berusaha untuk menghindar sedikitpun saat wajah tan itu berada sangat dekat dengannya. Aroma citrus sedikit menyeruak memasuki indera penciuman Sasuke sesaat. Diam-diam bibir pucat itu mendesah halus.

"Apa!? Maksudmu berduaan denganmu!?"

Kini nada bicara Kyuubi meninggi seraya bangkit dari duduknya mengikuti Naruto, mau tak mau kedua laki-laki tersebut kembali menatapnya. Sasuke yang mengernyit dan Naruto yang menatapnya takut-takut.

"apa masalahmu?" Ujar Sasuke dingin. Mata kelamnya melirik tajam pada wanita rekan bisnisnya itu. Kyuubi juga tak kalah sinisnya memandang pria raven yang menurutnya dengan berani melakukan penawaran pada Naruto.

Maksudnya bukankah mereka baru kenal tidak lama ini? Si Naruto ini seharusnya merasa waspada jika mempunyai teman yang baru dikenalnya. Ugh, sifat overprotektif wanita itu muncul cepat jika menyangkut Naruto. Ia mencengkeram lengan Naruto dan hendak menariknya.

"Ikut denganku atau kau ingin merepotkan Sasuke?"

Seketika perasaan bimbang menyelimuti suasana hati Naruto. Pemuda pirang itu kembali menarik diri dan duduk seperti semula. Pikirannya bercampur aduk tentang dirinya nanti yang akan menyusahkan Sasuke jika ia bersama pria itu dan sangat jenuh untuk pulang bersama kakaknya. Bibir plumnya mulai menggigiti kukunya perlahan. Tak menyadari jika sedari tadi mata elang di hadapannya terus memerhatikannya tajam.

"Akan sangat menyenangkan jika Naruto menemaniku, Namikaze-san."

Jujur sebenarnya Sasuke ingin membungkam rapat-rapat mulut cerewet wanita berkepala tiga itu. Sasuke hampir saja kehilangan kendali jika tidak mengingat dirinya seorang Uchiha saat Kyuubi terlalu memaksa.

Kyuubi memicing curiga pada Sasuke saat mendengar kata-kata 'menyenangkan' menurutnya itu. Ia bertanya-tanya maksud dari kata 'menyenangkan' menurut Sasuke itu seperti apa? Wanita cantik itu hanya khawatir.

Kyuubi menghela napas pelan. Sepertinya sedikit memberi kesempatan untuk Naruto tidak masalah jika dipikir-pikir. Tapi bersama Uchiha Sasuke?

Kyuubi sedikit tidak rela.

.

"hey, jaga dirimu, Naruto."

Saat ini wanita bersurai oranye tersebut sudah berada di dalam mobil sedan putih nya. Tentunya Kyuubi sendiri yang langsung menyetir. Matanya kembali memicing ke arah Sasuke yang berdiri di samping pemuda pirang itu, sebelum akhirnya beralih menatap Naruto.

"Astaga, umurku sudah dua puluh lima tahun, Kyuu." Sahut Naruto seraya memutar kedua bola matanya. Naruto kadang merasa jengkel setiap Kyuubi selalu berkata seolah-olah dirinya bocah ceroboh yang butuh bimbingan. Yeah, Naruto akui memang dirinya agak ceroboh. Tapi tetap saja.

"Oy."

Kali ini Kyuubi mengarah pada Sasuke yang tengah menatapnya angkuh. Cukup kecil urat berbentuk perempatan muncul di wajah Kyuubi.

"Aku tidak tahu nasibmu seperti apa nanti jika kau macam-macam dengan adikku, Uchiha."

"Err.. Kyuu, Sasuke temanku." Ujar Naruto datar. Entahlah, Naruto hanya heran dengan perkataan sang kakak yang terdengar ambigu di telinganya. Oh ayolah, maksud Naruto kenapa Kyuubi terlihat sewot sekali. Terutama pada teman sesama bisnisnya.

"ya, ya terserah kau. Jaa."

.

Sepeninggal Kyuubi yang langsung tancap gas bersama sedannya, Naruto masih memandangi mobil kakaknya itu sampai hilang di belokan. Suasana seakan menjadi sunyi di antara keduanya.

"Ikuti aku."

Sampai suara bariton rendah menyadarkan kembali alam sadar Naruto. Sasuke yang sudah berjalan terlebih dahulu disusul oleh Naruto dengan berlari kecil dan mengekori pria raven itu. Langkah kakinya panjang sekali, batinnya.

Sebenarnya Naruto sangat ragu dengan keputusannya untuk bermalam di Ryokan. Apalagi dirinya hanya menumpang pada Ryokan Sasuke. Ugh, kenapa rasanya jadi canggung seperti ini, batin Naruto gelisah.

Telapak tangannya sedikit basah akibat keringatnya yang tiba-tiba muncul jika Naruto merasa gugup. Lama kelamaan menjadi basah kuyup telapaknya.

"e-etto.. A-ano,"

'shit, kenapa suaraku bergetar!?', Naruto panik sesaat mendengar suaranya yang terdengar seperti sahabat karibnya, Hyuuga Hinata. Apa-apaan ini!?

Iris birunya melirik punggung tegap yang tengah berjalan di hadapannya dan kembali mengalihkannya pada telapaknya yang berkeringat. Ah, Naruto sangat benci dengan situasi seperti ini.

"s-sepertinya kakakku benar. Aku takut menyusahkanmu, Sasuke." Ucap Naruto pelan, bahkan lebih terdengar seperti gumaman. Well, kalaupun kau berbicara seperti itu, tidak akan merubah kondisi jika akhirnya pemuda pirang ini tetap bermalam di tempat Sasuke.

Jauh berbeda dengan kondisi Naruto yang di selimuti oleh rasa gugup dan canggung luar biasa, Sasuke saat ini sedang tertawa di dalam hati. Ketika dirinya mendengar suara Naruto yang tidak seperti biasanya, pria raven itu ingin sekali membalikkan tubuh untuk melihat wajah si pirang.

'gugup kah?'

Lorong terakhir telah mereka lewati, dengan Naruto yang ingin kembali berbicara namun ragu dan Sasuke mencoba setia untuk kembali mendengar ucapan Naruto dalam keterdiamannya.

"Kau tahu, mungkin seharusnya aku tidak seperti ini. M-maksudku seha-"

Brugh.

Dengan gerakan yang sangat tiba-tiba untuk berhenti dan Naruto yang tidak fokus memerhatikan langkahnya, berakhirlah dengan pemuda pirang itu menubruk punggung kokoh milik Sasuke.

Naruto sedikit melenguh seraya mengelus dahinya. Ugh, bahkan belum apa-apa aku sudah menabraknya, batin Naruto miris. Semakin mengalir kuat kegelisahan Naruto detik ini, teman.

Seketika tubuh Sasuke berbalik menghadap pemuda pirang yang barusan menabraknya. Dilihatnya Naruto tengah mengelus pelan dahinya lalu menatapnya balik. Tersirat jelas kecemasan dalam iris sapphire tersebut.

"Maaf."

Diam-diam pria raven itu tersenyum samar mendapati Naruto yang kembali memutus kontak mata dan mengalihkannya ke bawah. Tanpa diduga-duga, jemari porselen miliknya meraih wajah tan yang sedikit merunduk dan mengangkatnya untuk langsung bertemu pandang.

"bibir ini cerewet sekali." Ujar Sasuke seraya mengelus dan menekan bibir plum alami milik Naruto. Mata elangnya memandang intens kedua belah benda kenyal tersebut.

Sasuke dapat menyadari jika pemuda pirang ini tengah mengeluarkan suara lenguhan yang tertahan. Entahlah, hanya saja Naruto merasa jika sesuatu yang panas tengah merambat ke wajahnya sekarang.

Naruto yang merasa kegugupannya sudah hampir menguasai seluruh tubuhnya kembali memutus kontak matanya ke arah lain. Ia menggigit bawah bibirnya untuk menekan rasa canggungnya ini.

Tidak menyadari sama sekali jika Sasuke saat ini sedang menahan diri untuk tidak meraup benda kenyal semerah plum itu. Sasuke bahkan tidak habis pikir kenapa akhir-akhir ini ia sulit mengontrol dirinya semenjak bertemu dengan penulis di hadapannya ini.

Wajah porselen tersebut semakin mendekat ke arah Naruto dengan posisi yang memiring layaknya orang sedang ingin mencium. Cukup membuat Naruto mati rasa seketika.

Mungkin sekitar lima centi lagi mereka bisa saling menautkan kedua bibirnya dan melakukan ciuman panas serta desahan-desahan yang memanjakan. Abaikan pemikiran kotor itu.

"Kau bisa melukai bibirmu jika terus menggigitnya seperti itu." Ucap Sasuke yang terdengar lebih membisik rendah. Iris hitamnya memandang dingin dengan kedua alisnya yang menyatu.

Naruto berusaha untuk kembali menormalkan wajahnya setelah di rasanya tangan dingin itu sudah tidak menangkup wajahnya. Namun, bukan berarti Sasuke tidak kembali membuat kontak fisik dengan Naruto. Sasuke bahkan menarik pergelangan tangan Naruto dan kembali berjalan untuk menuju Ryokan.

"Aku tidak akan memakanmu, dobe." Ujar Sasuke datar. Tangannya tidak melepas genggamannya pada Naruto yang berjalan sedikit di belakang darinya.

Hah?

"kau menyebutku apa, teme!?" Volume suara Naruto meninggi satu oktaf dari biasanya saat telinganya menangkap panggilan buruk yang ditujukan untuknya. Sial, berani-beraninya pantat ayam ini.

"dobe."

Naruto mendecak kesal saat kembali di sebut oleh suara bariton itu. Bahkan Naruto hendak ingin melepaskan genggaman tangan Sasuke yang terlihat pas di pergelangan tangannya namun Sasuke semakin mengeratkannya. Well, sepertinya kali ini Naruto hanya berpasrah diri.

Mereka sampai di sebuah Shoji yang menghubungkan langsung dengan ruang tengah Ryokan. Terdapat sekat yang memisahkan ruangan tidur dengan ruang tengah dan sekat pembatas sebagai penghubung pemandangan luar secara langsung. Pada bagian sudut terdapat ruang kamar mandi dengan beberapa atribut perlengkapan seperti halnya sepasang piyama dan perlengkapan lainnya. Tidak lupa sepasang Yukata berwarna hitam tersusun rapih pada nakas meja.

Dua buah futon telah di siapkan sebelumnya oleh seorang nakai. Pada ruang tengah terdapat sebuah meja dengan dua buah kursi rendah. Sepertinya memang Ryokan ini terlihat untuk sepasang orang. Dilihat dari penyediaan perlengkapan barangnya yang saling berpasangan.

Naruto mengamati Sasuke yang tengah melepas kancing kemejanya begitu saja tepat di hadapannya. Sedikit membuat Naruto kaku tiba-tiba.

"Sasuke." Ucap Naruto pelan.

"hn?"

Pria bermarga Uchiha tersebut langsung menoleh cepat saat dirinya telah menyelesaikan untuk membuka seluruh kancingnya, otot-otot perutnya tercetak jelas pada tubuh atletisnya itu. Hitam dan biru saling berpandangan lama setelah akhirnya Naruto memutus kontak mata dengan memandang ke arah lain.

"umm.. tidak ada." Ujarnya kembali seraya berjalan melewati Sasuke. Sepintas Sasuke dapat mencium kembali aroma citrus pada pemuda blonde itu. Manik onyxnya mengikuti jejak pergi Naruto yang tengah menyimpan tas jinjing berisi perlengkapan khususnya. Sasuke masih setia mengamati setiap pergerakan Naruto yang terlihat kaku dibanding saat mereka bersama Kyuubi.

"kenapa rasanya canggung sekali."

Pemuda bermarga Namikaze-Uzumaki tersebut memandang teduh Sasuke dengan senyumnya yang di kulum. Terasa lebih baik dari sebelumnya saat Naruto melakukan hal tersebut dan langsung memandang lurus mata hitam yang juga tengah menatapnya. Setidaknya Naruto merasa lebih santai.

"Kau ingin berganti?" tanya Sasuke seraya mendekat. Tangan pucatnya hendak membuka seluruh kemejanya yang sudah sebatas lengan. Hal itu otomatis membuat seluruh tubuhnya terekspos jelas bagaimana indahnya setiap lekuk tubuh yang Tuhan ciptakan.

"Oh, oh!" Naruto sontak berlari kecil menuju arah Sasuke dan langsung menutup kembali tubuh atletisnya dengan memasangkan kemejanya seperti semula. Yah walaupun tidak dikancing.

"kau harus melepasnya di kamar mandi, Sasuke." Protesnya dengan dahi yang mengerut.

"Apa itu harus?" Respon Sasuke seraya memiringkan kepalanya. Seperti biasa mata elangnya menatap tajam pemuda blonde di hadapannya ini.

"Aku harus menghargai privasimu." Ujar Naruto namun entah kenapa menurut Sasuke nada bicaranya seperti tengah merajuk.

Mereka saling lama berpandangan sebelum akhirnya jemari panjang Sasuke menarik pipi chubby bergaris kucing tersebut dengan gemas.

"Aww.."

Cukup panjang Sasuke menarik kulit halus tersebut di sertai rintihan dari sang empu. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Naruto yang tengah menatapnya kesal dengan bibir yang mengerucut. Tangannya tak luput untuk mengelus daerah pipinya yang menjadi korban cubitan.

Pantat ayam itu apa-apaan.

Tidak perlu menunggu lama, Sasuke telah kembali dengan menggunakan Yukata yang sebelumnya di sediakan. Kebetulan sekali saat presdir tersebut membuka pintu, Naruto berada tidak jauh di hadapan pintu. Dengan tampang datar dan salah satu bagian pipinya yang sedikit memerah. Owh.

Hampir saja Sasuke memecahkan tawanya jika tidak mengingat ia sedang berhadapan dengan siapa.

"maaf." Ujar Sasuke seraya mencolok dengan telunjuknya untuk menekan permukaan kulit yang memerah itu. Si teme ini bukannya membuatnya lebih baik malah menambah rasa sakitnya, batin Naruto dongkol.

Naruto melangkah melewati Sasuke dan menutup pintunya dengan perlahan. Tidak menyadari seutas senyum tipis tercetak pada wajah stoic tersebut.

Saat Sasuke hendak mengeluarkan Laptop miliknya, deringan ponsel mengalihkannya. Bukan. Ponsel itu milik Naruto yang terus bergetar tanpa henti. Di ambilnya benda persegi panjang tersebut untuk melihat siapa yang melakukan panggilan.

Hyuuga Hinata.

Belum sempat Sasuke hendak menjawab, deringannya terlebih dahulu mati. Sasuke melihat pada layar ponsel tersebut yang tertera empat kali panggilan dari orang yang sama dan beberapa kotak masuk. Entahlah, apapun itu mood Sasuke sedikit terusik sekarang.

Hyuuga ini bukannya sepupu dari temannya dulu Hyuuga Neji saat kuliah?

Sasuke kembali meletakkannya saat Naruto telah menyelesaikan urusannya sebelumnya. Ia memerhatikan setiap detail pergerakan dari Naruto yang tengah bersenandung. Tubuhnya telah melekat sepotong Yukata yang terlihat pas di ukuran tubuhnya yang berbentuk curvy. Walaupun tinggi mereka tidak beda jauh, mungkin sekitar empat centi Naruto berada di bawahnya, tidak menutup kemungkinan jika Sasuke tahu betul bentuk curvy yang terlihat jelas itu.

"Naru-"

"hm?"

"tidak ada." Ujar Sasuke seraya berlalu pergi menuju meja rendah di tengah Ryokan bersama laptopnya.

"Ehh..." Naruto sedikit heran dengan perilaku Sasuke yang sulit ditebak itu. Naruto tidak bisa jelas membacanya karena Sasuke menurutnya terlihat seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Setidaknya itu pemikiran Naruto.

Oh, Naruto sayang.

Tidak tahukan kau,

Suasana hati presdir raven itu sangat terusik akibat dirimu?

.

To Be Continued.


Note

-Ryokan : penginapan berfasilitas Jepang berlantai tatami.

-Shoji : pintu geser khas Jepang terbuat dari campuran kertas dan bahan sintesis.

-Nakai : pekerja wanita di Ryokan.

.

#

Gin and Amaya : arigatou atas masukannya heheheh ↖(^ω^)↗

Chiichan2806 : makasih banyakkk atas masukannya senpai! ⊙﹏⊙b汗nyahahah..

C : waahh terimakasih! Si sasu emang tajem banget mulutnya hehe jadi berasa ada aura negatifnya o(╯□╰)o

K : hehe iya, seperti nya di chapter sebelumnya sudah terjawab.. Arigatou o(﹏)o

Kyunauzunami : iya nih, si sasu diam-diam udah kena percikan Cinta ke si naru.. Sudah dilanjut yaa ~\(≧▽≦)/~

Yukayu Zuki : sudah dilanjut yaa hehe.. \^0^/

.

Hola! Terima kasih readers karena sudah membaca fict author ini. maafkan author jika alurnya yang kurang memuaskan. Chapter selanjutnya Sasunaru makin dibanyakin kok momennya nyeheheh~

Salam Hangat,

Author