Donata Dulcinea

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline : YukirinShuu

Pairing : Sasuke x Naruto

Warning! This is BL/ShounenAi/YAOI

.

.


Perasaan Naruto menjadi tidak enak saat menemukan ponselnya mendapat beberapa panggilan tidak terjawab dari sahabatnya itu. Bahkan Hinata yang merupakan teman sesama penulisnya, terkenal dengan sikapnya yang pemalu dan pendiam, sampai melakukan sepuluh panggilan lebih. Jangan lupakan pesannya yang cukup banyak di terima Naruto darinya.

"Ara.. Sepertinya sangat penting." Gumam Naruto seraya membalas satu per satu pesannya. Rupanya Hinata hanya sekedar memberi ucapan selamat untuk novel Naruto yang baru terbit sekitar dua minggu lalu. Yeah, mengingat Hinata sedang melakukan kegiatan amal bersama pamannya di negara Timur tengah, komunikasi di antara keduanya sedikit merenggang.

Naruto tersenyum tipis saat kembali mendapat balasan pesan dari wanita bersurai indigo tersebut. Tidak menyadari iris hitam terus mengintai di balik pekerjaannya bersama laptop. Jujur ada perasaan mengganjal yang menggerogoti hati pria raven dalam diamnya. Apa yang di bicarakannya? Apa hubungan Naruto dengan perempuan itu? Apa mereka kekasih atau hanya sekedar teman? Ah, posesif sekali rasanya. Dan yang terpenting,

Apa ada perasaan di antara keduanya?

Setelah merasa cukup, Naruto meletakkan kembali ponselnya pada nakas meja. Kaki jenjangnya melangkah menuju meja rendah tempat Sasuke berada. Ikut menempatkan posisinya yang saling berhadapan.

"Teh atau kopi?"

Sasuke menoleh saat suara tenor menyapa indera pendengarannya. Mata elangnya melihat pemuda pirang tersebut yang tengah menawarinya seraya tersenyum.

"Teh."

Mungkin kali ini Sasuke beralih terlebih dahulu pada minuman yang lebih ringan dibanding cairan hitam yang mengandung kafein itu.

Dengan gerakan yang tidak menimbulkan banyak suara tapi terlihat efisien, Naruto mulai menuangkan teh hijau dari poci pada dua buah cawan yang telah tersedia. Jemari tannya perlahan menyodorkan cawan tersebut pada Sasuke.

"Terima Kasih."

Sasuke mengarahkan cawannya pada bibir pucat itu. Menikmati citra rasa daun teh yang mengalir pecah dalam lidahnya. Mata elangnya melirik sekat pembatas penghubung langsung dengan lingkungan luar. Terlihat jelas rintikan air hujan yang masih berupa butiran kecil. Lalu pandangannya mengarah pada Naruto yang terlihat larut dalam pikirannya.

"Memikirkan sesuatu?"

Naruto menoleh saat menangkap suara bariton menyapa telinganya. Ia tertawa pelan, kemudian menyesap teh hijau nya dengan penuh penghayatan.

"hanya mencari ide untuk cerita baru." Jawab Naruto ringan. Wajahnya tak luput dari senyum khas miliknya.

"Kau sedang bekerja?" kali ini Naruto yang bertanya. Seperti biasanya Sasuke hanya menggumamkan dua huruf andalannya. Cukup membuat Naruto mengangguk paham.

Kesunyian datang menyelimuti diantaranya. Pikiran Naruto kembali menerawang ke arah sekat kaca di sampingnya. Berupaya untuk mencari topik pembicaraan saat ini.

"Oh yeah, berbicara soal keponakanmu waktu itu, dia terlihat manis." Ujar Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Kau juga." Sahut Sasuke datar. Mau tak mau membuat Naruto menolehkan kepalanya seraya mengangkat sebelah alis.

"Zoey bilang hal yang sama sepertimu." Sambung Sasuke yang kali ini mendapat respon kernyitan dari Naruto.

"aku tidak manis." Ketus Naruto. Sedangkan, pria raven tersebut kini menautkan kedua alisnya.

"tidak juga." Ia tentunya sangat tidak menyetujuinya ketika Naruto mengatakan hal sebaliknya dari sebuah fakta. Jelas-jelas wajah tan blasteran itu memang manis dan cantik di saat bersamaan. Sasuke hanya sedang menyanggah.

Naruto menyentuh tengkuknya sebagai pengalih rasa aneh yang merambat ke dalam tubuh. Ucapan Sasuke cukup membuatnya salah tingkah dan canggung di satu waktu. Entahlah, tapi Naruto rasa, mata elang di depannya terus memandangnya intens.

Manik birunya melirik benda persegi panjang yang di ketahui sebagai remote televisi di sisi meja. Jemarinya meraih benda tersebut dan menekan tombol hijau. Yeah, setidaknya ia bisa menetralisir kegugupannya kembali.

Mencoba untuk mencari acara TV yang sesuai dengan moodnya. Itu yang sedang Naruto lakukan.

"Ck."

But why?

Kenapa dari setiap acara TV tidak ada yang normal menayangkan sebuah berita selain adegan-adegan DEWASA!?

Dengan cepat Naruto kembali mengganti saluran TV yang menurutnya kebanyakan menampilkan adegan tidak senonoh di matanya. Sudut perempatan mulai menghiasi wajahnya. Berbanding terbalik dengan Sasuke yang menyaksikan layar televisi-nya bersama tampang datar seolah tidak ada apa-apa.

'Ah, ini dia.' Batin Naruto tenang saat tayangan menampilkan sebuah berita tentang perkembangan cuaca di kota-kota besar. Iris birunya dengan serius menyimak apa yang di bicarakan presenter tersebut. Hingga sebuah ad kembali menampilkan gambar seorang pria dan wanita yang sedang melakukan f-frenchkiss. APA!?

Layar televisi berubah hitam akibat Naruto yang langsung mematikannya. Mungkin niatnya ia urungkan untuk melihat acara TV sekarang. Kelopak matanya beralih menatap riak cairan teh yang berada di cawannya.

"Sasuke." Ujar Naruto pelan.

"Hn."

"kenapa acara TV disini kebanyakan adegan dewasa?" tanya Naruto memandang Sasuke lekat seraya menautkan kedua alis.

"ah, kau tahu,"

"saat aku hendak mereservasi Ryokan disini, mereka mengatakan jika Ryokan yang tersisa hanya khusus untuk pasangan pengantin." Sahut Sasuke datar tanpa ekspresi. Bahkan suara pria bermarga Uchiha tersebut terkesan santai tanpa ada gejolak apapun didalamnya. Yeah, Sasuke hanya mengatakan hal yang sebenarnya, kawan. Maka dari itu ia berniat untuk mengajak Naruto bermalam karena mungkin akan terasaaneh jika hanya seorang diri di Ryokan bukan? Maksudnya, akan lebih baik jika bersama-sama.

Yakin?

"Mungkin karena itu." Sambung Sasuke seraya mengedikkan bahunya.

Hampir saja Naruto menumpahkan cawannya dengan ceroboh ketika mendengar penjelasan dari Sasuke. What? Pengantin!?

Di saat Naruto masih shock perihal Ryoukan khusus pengantin, kilatan yang di susul oleh suara petir menambah keterkejutan Naruto hingga dirinya terlonjak. Astaga, kenapa rasanya Naruto ingin cepat-cepat berlindung dibalik selimut. Bukannya ia takut, hanya saja suara petir terdengar seperti kedatangan hantu besar menurutnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke datar, namun kilat cemas tak luput dari manik kelamnya saat menangkap raut takut pada wajah tan itu. Naruto mendesah halus dan menggelengkan kepala.

Tapi tunggu, tunggu.

Pikiran Naruto kembali berpusat pada ucapan Sasuke sebelumnya. Pantas saja Naruto melihat setiap perlengkapan di Ryokan ini terlihat seperti untuk sepasang kekasih, maksudnya suami-istri. Sigh.

Setidaknya Naruto cukup berterimakasih pada Sasuke yang mengajaknya untuk bermalam di Ryokan. Pikirannya tidak sejenuh seperti biasanya. Jangan pikir yang macam-macam!

Seperti sebelumnya, keadaan dilanda kembali dengan keterdiaman. Sasuke masih fokus pada deretan angka di laptopnya. Mencoba untuk menilik perihal kemajuan agensinya yang berkembang. Hingga mata elangnya menangkap Naruto yang sedang bergumam pelan.

Iya, bergumam sendiri. Seperti saat di pemakaman.

"Naruto." Desah Sasuke berat. Jemari porselennya mengurut batang hidungnya perlahan. Niatnya ia ingin memanggil pemuda pirang itu. Entahlah, kepalanya tiba-tiba terasa berat.

"ada apa?" Naruto menoleh sesaat telinganya menangkap suara rendah itu. Iris birunya memandang Sasuke yang terlihat seperti orang kelelahan. Naruto pun bangkit menuju ke tempatnya dengan perasaan gelisah yang menyebar dalam diri.

"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto lembut seraya menyentuh kedua bahu kokohnya pelan. Ia dengan setia menunggu respon dari Sasuke. Dilihatnya presdir itu merunduk sehingga sulit untuk melihat ekspresi wajahnya.

Seketika kepala raven tersebut bergerak menuju pundak Naruto. Menenggelamkan wajahnya pada pundak yang terasa lembut itu. Aroma citrus bercampur vanilla mulai menyeruak memasuki hidungnya. Rasanya Sasuke sedikit tenang akan hal itu.

"hanya sebentar." Gumam Sasuke.

Entahlah, mungkin efek dari dirinya yang kurang tidur akhir-akhir ini. Sasuke akui memang ia sering mengalami insomnia yang berlebihan mengingat sifatnya yang workaholic. Ia merasa lemah sekali jika sudah seperti ini. Bahkan kepalanya terasa berat.

"Istirahatlah. Lagipula ini sudah malam, Sasuke. Kau tidak mungkin kan bekerja secara terus menerus." Sahut Naruto seraya mengelus lembut punggung lebar itu. Jujur Naruto sangat cemas dengan keadaan Sasuke yang tidak terlihat baik-baik itu. Dirinya tahu betul jika pekerjaan sebagai pimpinan suatu perusahaan tidak bisa dibilang enteng.

Mungkin itu salah satu alasan mengapa Naruto sempat menolak bujukan sang ibu.

Naruto dapat mendengar gumaman kecil dari Sasuke dengan posisinya yang masih sama. Rasanya sudah lama sekali pria raven itu tidak mendapat perlakuan khusus yang menghangatkan hati. Well, dirinya terlalu sibuk untuk hal-hal kecil berjuta arti seperti ini.

Kepalanya kembali terangkat dan membuat kontak mata dengan Naruto. Dilihatnya wajah porselen itu sedikit pucat dari biasanya dan Naruto dapat menyadarinya dengan cepat.

"kau harus tidur." Sahut Naruto terdengar memerintah. Bagaimanapun juga Naruto tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan pria stoic itu. Sasuke yang merasa perkataan Naruto tidak ada salahnya, akhirnya menuruti pemuda pirang tersebut setelah sebelumnya Sasuke mematikan terlebih dahulu laptopnya.

Naruto pun bangkit hendak menuju sebuah kamar yang sebelumnya sudah di siapkan oleh seorang nakai, disusul oleh Sasuke yang mengekor di belakangnya.

Ada perasaan lain saat memandang punggung tan berbalut yukata itu. Ugh. Sasuke sendiri bahkan merasa sulit mengontrol diri jika sedang bersama Naruto. Walaupun di saat-saat dirinya mengalami sakit kepala seperti ini. Merasa aneh mengingat dirinya sering kesulitan menahan gelenyar aneh dalam tubuhnya.

Mungkin Naruto juga yang menjadi salah satu penyebab insomnianya kambuh setelah pertemuan-pertemuan yang mereka alami.

.

Tubuhnya bergerak gelisah. Naruto sudah mencoba semua posisi tidur dari menyamping, lalu terentang dan telungkup. Namun, tetap saja kelopak matanya tidak kunjung terlelap. Ia bahkan sudah mencoba menutup wajahnya dengan bantal dan hasilnya tetap nihil.

Dilihatnya Sasuke yang sudah terpejam disamping dirinya. Ah, tidak biasanya pemuda pirang itu merasa sulit tidur. Naruto mendengus dalam hati. Pandangannya menatap lurus langit-langit kamar di atasnya.

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Biasanya jika Naruto tidur, pemuda pirang itu terkadang akan terbangun sekitar pukul satu dini hari dan saat ini keadaan sedang berbanding terbalik. Telinganya masih setia mendengar suara rintikan hujan yang belum kunjung berhenti.

Kali ini tubuh Naruto menyamping menghadap Sasuke. Cukup membuat Naruto terkejut saat iris hitam di sampingnya tengah menatapnya lekat dengan posisi Sasuke yang juga menyamping menghadapnya. Naruto bahkan tidak mendengar sedikitpun pergerakan dari pria disampingnya itu. Atau mungkin Naruto yang membangunkannya?

"belum tidur?" bisik Sasuke.

"aku tidak bisa tidur." Ujar Naruto pelan. Iris birunya memandang lurus Sasuke yang juga tengah menatapnya. Cukup lama mereka melakukan kontak mata. Saling mengagumi keindahan di antara keduanya dalam diam.

"Sasuke."

"hn."

"Ingin mendengar cerita?" tanya Naruto dengan senyum tipis. Sasuke yang mendengarnya hanya bergumam menyetujui. Hey, manusia mana yang ingin menyia-nyiakan waktunya ketika bersama seseorang yang menarik perhatiannya?

"Ada seorang gadis cantik," kata Naruto, mulai bercerita dengan halus.

"Ia juga baik dan pintar, banyak orang menyukainya,

dan tentunya ia pun dibenci."

Sasuke menangkap raut muka Naruto yang mendingin. Mata elangnya tidak berniat sama sekali untuk mengalihkan pandangan dari wajah tan bergaris kucing itu.

"Suatu hari, dalam perjalanan pulang sekolah, ia diculik." Kali ini Sasuke menangkap binar sendu pada manik biru milik Naruto. Sepertinya Naruto memang gemar mendongeng hal-hal yang berbau tragedi atau mungkin mistis juga? Mengingat dirinya termasuk anak yang tidak biasa.

"Gadis itu dibunuh dengan cara dimutilasi,

Dan mayatnya dimasukkan ke dalam kotak."

Indera pendengarannya menangkap suara milik Naruto yang bergetar dalam ceritanya. Jangan remehkan Sasuke yang sangat tajam dirinya untuk mendengar hal-hal kecil seperti itu.

Naruto sedikit terkejut saat jemari Sasuke menyentuh sudut matanya seketika. Ia paham betul dengan ekspresi Naruto yang seolah mengatakan 'ada apa'.

"kau menangis." Ucap Sasuke pelan. Tatapannya tanpa bisa diartikan saat merasa jemari panjang itu mengelus halus permukaan wajahnya.

"Lalu?" tanya Sasuke ketika bibir plum itu tak kunjung melanjutkan ucapannya. Naruto yang sebelumnya sempat larut dalam pikirannya kini mengerjapkan kedua matanya.

"l-lalu, dia.."pria stoic itu dapat menangkap jelas kelopak mata Naruto dilanda kantuk. Namun, Naruto berusaha kembali ke alam sadarnya. Mungkin sedikit lagi Naruto akan masuk ke alam mimpinya jika fokusnya berkurang. Dan Naruto mengalaminya.

"ditemukan." Desah Naruto bersamaan kelopaknya yang tertutup sepenuhnya. Sedangkan, jemari Sasuke masih setia menelusuri setiap lekuk wajah Narutoyang terasa hangat di kulitnya.

Sasuke bergerak mendekat pada tubuh ringkih tersebut. Mencoba untuk merengkuhnya dalam tidur. Wajah pucatnya merunduk, hendak menenggelamkannya pada perut datar yang bergerak sesuai irama pernapasan.

Tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang tan yang terlihat pas dalam genggamannya. Bahkan aroma citrus khas Naruto semakin tercium pekat. Membuat Sasuke berpikir jika si dobe ini maniak jeruk.

Sejenak pikirannya di selimuti rasa bimbang yang berlebihan, mengenai dirinya yang benar-benar terperangkap dalam hati pemuda blasteran itu atau hanya perasaan sesaat yang hinggap pada dirinya? Bahkan selama menjalani hidupnya, Sasuke tidak pernah terbesit sebuah pikiran mengenai percintaan atau sesuatu yang berkaitan dengan itu.

Ia hanya merasa tidak membutuhkan hal-hal yang terasa tidak penting menurutnya, sebelum akhirnya menerima ajakan Shion saat itu.

Apalagi mengingat fakta bahwa dirinya menyimpang.

Manik kelamnya terpejam. Mencoba untuk mengistirahatkan dirinya bersama menyelami alam mimpi bersama sosok pirang di sampingnya.

Entahlah,

Tapi perasaan itu tidak kunjung mereda.

Dan Sasuke sedikit khawatir.

.

"astaga, sudah kubilang dia tidak melakukan apa-apa." Sasuke dapat mendengar jelas percakapan telepon yang dilakukan kakak-beradik saat jam sarapan pagi tiba. Sepertinya wanita keras kepala itu overprotektif sekali pada Naruto, pikirnya dongkol.

Sasuke tahu betul jika suara Kyuubi dari seberang panggilan terdengar melengking, tak ayal membuat Naruto langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Bahkan pemuda blonde itu merasa jenuh akan ocehan Kyuubi yang menyambut paginya dengan tidak indah.

/ "ugh, baiklah baiklah. Sayang sekali aku tidak bisa menjemput, Nar. Pekerjaanku menumpuk. Ah, aku akan menyuruh Temu-"/

"A! Tidak perlu, kak. Aku bisa pesan taksi nanti." Potong Naruto cepat. Manik birunya sempat melirik ke arah Sasuke yang juga menatapnya datar. Pemuda blonde tersebut membungkukkan tubuh ke arah Sasuke saat dirasa suaranya yang sedikit mengganggu, mungkin?

Tidak sayang, suaramu indah. Terutama saat dirimu mendesah.

Abaikan itu.

Seperti biasa, saat ini kedua laki-laki yang sebelumnya bermalam bersama, tengah duduk berhadapan pada meja rendah di ruang tengah. Menunggu seorang nakai hingga selesai menyajikan porsi menu makanan pagi dengan senyum ramah.

Ketika menjelang pagi tiba, dua orang nakai akan datang berkunjung untuk melakukan pengecekan dan sarapan pagi. Dan saat Naruto bangun, ia sudah disambut oleh Sasuke yang sudah berpakaian rapih. Naruto yang melihatnya sedikit panik, apakah ia telat bangun atau memang terasa masih pagi?

"tidak. Kau bangun tepat waktu. Aku yang terlalu cepat untuk bersiap."

Kira-kira seperti itulah respon Sasuke.

"Go yukkuri douzo." Setelah menyajikan porsi makan pagi, kedua nakai pamit undur diri dan akan kembali jika sarapan sudah terselesaikan. Naruto tersenyum hangat menanggapi seraya mengucapkan terimakasih dengan baik. Sedangkan, Sasuke yang tidak berucap sepatah kata apapun menurutnya sudah terwakili oleh Naruto. Tipikal Uchiha.

"Itadakimasu."

Bersamaan Naruto mengucapkan salam makan pagi, Sasuke pun ikut menyusul dengan mulai menyumpit nasi putih yang masih beruap. Indera pengecapnya mulai menjejaki rasa alami dari nasi yang sebagai penyambut sarapannya hari ini. Kemudian, seperti biasanya presdir itu mendahulukan makanan rebusan bergizi sehat.

"Selain kopi, yaitu makanan rebusan." Sasuke yang mendengar Naruto berbicara mengalihkan perhatiannya. Dilihatnya Naruto sedang mengamati dirinya saat ini. Cukup membuat Sasuke mengangkat sebelah alis dengan heran.

"Tomat." Ujar Sasuke pendek.

"Eh?"

"selain kopi, aku suka tomat." Sahut Sasuke kembali saat mendengar Naruto bergumam. Sebenarnya itu hanya sebagai pengalih hidangannya walau ia rasa tidak buruk juga dengan rebusan.

Keduanya kembali terdiam. Namun, tak luput dari suara dentingan alat makan yang menyelimuti keduanya. Naruto kini sibuk menikmati hawa panas yang menguar mengenai wajahnya dari semangkuk miso. Mungkin saat kuliah, sangat sulit rasanya melakukan hal-hal yang sering dilakukannya di Jepang. Dan ia amat rindu akan kekentalan kuah ramen di negeri Sakura ini.

"Oh yeah, Sasuke." Ucap Naruto tiba-tiba.

"hn."

Iria birunya berfokus pada Sasuke setelah ia memasukkan sebuah maki-zushi berisi potongan salmon. Mulutnya mengunyah beberapa kali dan langsung menelannya.

"Masih ingat ceritaku semalam?" Tanya Naruto terdengar sing a song. Sedangkan, Sasuke yang tengah menyumpit potongan tofu pada sup miso-nya menghentikan pergerakannya. Tentu saja pikiran di kepala raven itu masih hangat untuk mengingat setiap detail hal-hal yang terjadi malam.

Terutama pemandangan yang pertama kali Sasuke lihat saat membuka matanya.

"Itu kisah dari pemilik Ryokan sebelumnya."

.

Sasuke kembali terjaga dari tidurnya saat dirasa sosok yang masih berada di rengkuhannya menggeliat. Iris hitamnya langsung disuguhkan pemandangan yang membuat orang lapar jika melihatnya. Entah angin apa yang dapat menyingkap yukata milik Naruto sehingga perut datarnya terekspos tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi pandangan Sasuke secara langsung.

Mungkin bagi seseorang yang memiliki niat baik, ia akan kembali menutupnya. Hanya saja, Sasuke juga merupakan orang baik dengan tujuan yang berbeda. Matanya memandang dalam untuk mengamati setiap detail dari permukaan kulit itu. Jemari panjangnya mengarah pada kulit yang terasa halus itu saat disentuh. Sedikit heran kenapa untuk pemuda seukuran Naruto yang bahkan umurnya hanya terpaut tiga tahun darinya memiliki kulit seperti anak kecil?

Apa si dobe melakukan perawatan kulit?, pikir Sasuke.

Dengan perlahan dan berusaha untuk tidak membuat Naruto terbangun, Sasuke menelusuri setiap bagian perut datar tersebut yang bergerak naik turun. Mencoba untuk meresapi sensasi yang muncul merambat ke pembuluh darah. Sampai sesuatu yang terasa janggal pada kulit perut Naruto membuat tatapan Sasuke menjadi sulit diartikan.

Ada rasa terkejut yang berlebih pada iris hitam Sasuke saat menangkap sebuah bekas jahitan yang sudah terlihat menyatu dengan kulit, namun masih terasa jelas. Sasuke membelainya dengan hati-hati. Menyusuri setiap jahitan yang mungkin sekitar delapan senti memanjang pada sisi perut.

Kekhawatiran menyebar luas dalam pikiran kepala raven tersebut. Tak luput dari rasa keingintahuannya yang besar. Sasuke dapat memahami seperti apa rasa sakit dari luka seperti ini. Entahlah, hatinya merasakan sakit yang mendalam sesaat pandangannya tidak beralih sama sekali.

Bahkan Sasuke tidak mengetahui seluruhnya tentang kehidupan penulis blasteran itu. Ia benci melihat Kyuubi. Ia benci saat melihat orang-orang di kediamannya terlihat dekat. Ia benci saat melihat nama Hyuuga yang menghubungi Naruto. Ia benci pada dirinya karena menjadi pendatang baru yang tidak tahu benar tentang kehidupannya, tentang Naruto.

Apa barusan Sasuke melakukan pernyataan pada dirinya mengenai penulis penuh misteri itu?

Walaupun ia meminta Kakashi untuk mencari tahu tentang penulis novel yang menjadi idola kakak iparnya itu, Sasuke bahkan belum merasa cukup. Presdir itu semakin haus akan semua tentang si blonde itu. Semakin ingin mendalaminya ketika melihat wajah penulis indigo tersebut. Saat bibir plum tersebut mulai berbicara dengan teman tak kasat matanya, Sasuke selalu memperhatikannya tiada hari esok.

Wajah stoic itu mendekat ke arah perut tan itu. Lagi-lagi citrus khasnya menyeruak masuk pada hidung Sasuke. Jujur menurutnya itu terasa memabukkan saat menciumnya walau hanya sekilas.

Bibir pucatnya bertemu dengan bekas jahitan yang terukir indah pada kulit tan itu. Entah apa yang berada di pikiran presdir muda tersebut hingga melakukan hal yang menurutnya diluar dugaan. Bibirnya masih setia mengecup pelan area jahitan milik Naruto. Berharap perlakuannya tidak membuat Naruto terbangun dan melihatnya sedang berposisi aneh.

Tidak. Sasuke tidak peduli jika sekalipun Naruto memergokinya.

Setelah melakukan hal yang bukan seperti dirinya, ia bangkit dari tidurnya. Mencoba untuk menjernihkan pikirannya terlebih dahulu sebelum manik kelamnya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi hari. Ia memutuskan untuk bersiap-siap lebih cepat, tidak lupa kembali memasangkan selimut untuk menutupi tubuh ringkih yang masih larut dalam mimpinya.

Yeah, sepertinya keputusannya sangat bagus untuk mengajak Naruto bermalam bersamanya.

.

"kau melamunkan sesuatu?" sahutan Naruto kembali menyadarkan Sasuke. Sebelumnya Naruto sedikit khawatir saat dirinya tidak diberi respon sedangkan Sasuke hanya memandangnya lama. Naruto bahkan sempat ingin mengguncangkannya.

"hn. Aku masih mengingatnya." Ujar Sasuke datar dan kembali menyumpit potongan tofu, lalu memakannya. Naruto yang mendengarnya hanya mengangguk paham seraya mengulum sumpit. Dirinya terlihat tengah memikirkan sesuatu yang akan kembali ia tanyakan pada Sasuke, namun sepertinya ia urungkan niat itu.

Naruto memandang seluruh makanan yang tersaji pada mejanya. Makanannya memang lezat, namun ia merasa hambar saat memakannya. Moodnya sedikit surut sekarang. Mata birunya melirik cawan yang terisi teh krisan. Sedikit larut dalam pikirannya.

"Sasuke." Ujar Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya pada bunga krisan yang terlihat cantik menghiasi cawannya.

"ada apa?"

"kau sudah menikah?" pertanyaan Naruto sontak membuat Sasuke menghentikkan aktivitasnnya. Bahkan Naruto terbelalak mendengar ucapannya sendiri. Naruto yang mendapat tatapan tajam nan dingin dari manik onyx didepannya bergerak kikuk dan menundukkan kepalanya.

"ignore my question."

Naruto meremas celana kainnya saat Sasuke belum kunjung merespon. Dalam keterdiamannya ia tengah merutuki kebodohannya saat ini. Kenapa ia selalu ceroboh untuk menanyakan hal privasi milik orang lain? Terlebih lagi ia termasuk orang baru bagi Sasuke.

Dan lagi yang membuat tubuh Naruto menegang adalah ceritanya Kyuubi yang terlintas di benaknya. Bodoh. Kenapa ia melupakan ucapan kakak wanitanya itu?

"Oh yeah, kudengar dia gay."

Bagai petir di pagi hari yang menyambar tubuh Naruto. Naruto itu bodoh dan ia tahu itu. Ini bahaya. Ia merasa tidak tahu diri karena sudah lancang mengenai pertanyaannya. Apalagi mengingat Sasuke yang sangat baik untuk menawarinya bermalam di Ryokan miliknya. Bahkan Sasuke berlaku baik padanya dan Naruto membalasnya dengan kekurangajaran pertanyaannya tadi?

Oh, kuburlah aku, batin Naruto.

"tidak."

Suara bariton yang menyapa indera Naruto, membuat ia sedikit mengangkat wajahnya ragu-ragu. Namun, iris birunya berusaha untuk melihat wajah stoic di depannya. Bahkan mata elangnya masih memandangnya tajam.

"m-maaf aku-"

Sial. Lagi-lagi Naruto tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Siapapun itu tolonglah bantu Naruto untuk mengatasi tekanannya sekarang. Naruto tidak ingin hubungan pertemanan yang ia jalin bersama Sasuke hancur begitu saja.

Sasuke mendesah pelan melihat perilaku Naruto yang terlihat kaku padanya. Jujur Sasuke tidak terlalu mempermasalahkan apa yang menjadi pertanyaan Naruto tadi. Bahkan dengan senang hati Sasuke akan memberinya jawaban.

"aku tidak menikah, Naruto."

Naruto kini memberanikan diri untuk melihat Sasuke saat presdir muda tersebut kembali berbicara. Namun, saat kedua iris berbeda langit tersebut bertemu, lagi-lagi Naruto mengalihkan pandangannya dengan liar. Tak luput dari bibir plumnya yang ia gigit cukup keras.

"kau menyakiti bibirmu lagi." Ujar Sasuke tanpa emosi apapun dalam suaranya saat menangkap pemandangan kedua kalinya Naruto melakukan gigit bibir. Bukan apa-apa, hanya saja saat Sasuke melihat hal itu, gelenyar aneh kembali menyerang tubuhnya dan ia khawatir tidak dapat mengontrol. Sigh.

Naruto langsung menghentikannya dan kembali melakukan kontak mata dengan raut wajahnya yang terlihat menyesal. Bahkan di mata Sasuke tingkah laku Naruto sekarang terlihat seperti Zoey yang telah ketahuan melakukan kesalahan. Diam-diam bibir tipisnya tertarik.

"bagaimana denganmu?" kali ini Sasuke yang bertanya. Haha. Tentu saja ia tidak akan melewatkan percakapannya ini untuk bertanya suatu hal yang dari kemarin ia sendiri bahkan ingin mengetahuinya sangat. Kehausan masih menguasai presdir muda tersebut tentang hal yang berkaitan adik dari rekan bisnisnya ini di Jerman.

Naruto memandangnya dengan pandangan sulit diartikan ketika pertanyaan yang sebelumnya ia ucapkan, kini kembali dilemparkan untuknya. Naruto merasa buntu untuk menjawab pertanyaan itu.

"a-aku belum." Jawab Naruto yang terdengar mencicit. Bahkan sesekali pemuda pirang itu menundukkan kepalanya walaupun pandangannya bergerak liar. Sasuke baru saja ingin kembali berbicara jika saja-

"aku bahkan belum berpikir kesana."

Naruto tidak menyelanya. Cukup terkejut saat Sasuke mendengar kalimat yang dilontarkan Naruto. Well, jika seperti itu tidak apa, tidak masalah menurut Sasuke. Namun yang menjadi pikirannya, Naruto belum ingin menikah atau tidak ingin menikah?

Ingat! Belum dan tidak memiliki definisi yang berbeda, kawan.

Bagi Sasuke atapun Naruto, entah kenapa waktu berjalan terasa begitu lama untuk sarapan pagi ini. Keadaan kembali menghening dengan kesibukkan masing-masing. Naruto yang sekarang menyesap cawannya, sedangkan Sasuke yang sepertinya sudah menyudahi sarapannya.

Dan setelah ini, Naruto akan meminta maaf dengan benar.

.

Sebelumnya Sasuke telah memenuhi panggilan telepon dari Kakashi yang mengabarkan jika laporan terbaru mengenai perusahaannya akan di konfirmasi. Naruto bahkan yang sebelumnya masuk ke dalam kamar mandi belum kunjung keluar.

Baru saja Sasuke berpikir tentang pemuda pirang itu, Naruto langsung menampakkan dirinya dari balik pintu. Kali ini Naruto hanya menggunakan kaos bercorak stripped yang bagian depan kaos ia masukkan ke dalam celana bahannya, membiarkan bagian belakang stripped shirt-nya menjuntai begitu saja.

Saat mata keduanya bertemu, Naruto hanya tersenyum tipis. Kesan canggung tak luput dari wajah bergaris kucing itu.

"etto- Sasuke." Ucap Naruto pelan dan mendapat respon cepat dari Sasuke.

"hn?"

"aku ingin minta maaf dengan benar tentang pertanyaanku tadi yang menyinggungmu." Ujar Naruto pelan. Iris birunya masih memandang lurus Sasuke yang berdiri tidak jauh darinya. Berbeda dengan Naruto, Sasuke masih memandangnya datar.

Naruto yang merasa dirinya diacuhkan oleh presdir muda tersebut mengalihkan perhatiannya dengan liar, sesekali menunduk.

"a-aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang buruk-" ujar kembali Naruto tanpa melakukan kontak mata dengan Sasuke.

"aku juga sangat berterimakasih atas kebaikanmu untuk mengajakku bermalam." Naruto masih mengutarakan isi hatinya untuk meminta maaf dengan baik. Ia sudah bertekad mengatakan permintaan maafnya dengan jelas saat sebelumnya ia berada di kamar mandi. Tak menyadari jika kaki jenjang tengah mendekat ke arahnya tanpa menimbulkan suara hentakan pada tatami.

"Aku minta maaf, Sasuke." Bersamaan berakhirnya Naruto berbicara, sebuah tangan yang besar menangkup wajahnya dan mengangkatnya. Mempertemukan kedua belah bibir tanpa ada keraguan pada kelamnya malam.

Sedangkan, Naruto?

Ia terbelalak dan mati rasa di tempat. Saat bibirnya bersentuhan dengan bibir pucat yang terasa dingin itu. Naruto bahkan seperti tidak memiliki syaraf untuk menggerakkan tubuhnya.

Hingga Sasuke menggigit bibir plum tersebut yang membuat Naruto tersentak dan membuka akses mulutnya. Oh, respon yang bagus Naruto sayang. Saat sebelumnya Naruto yang sering melakukan gigit bibir, kali ini Sasuke yang menggigit bibirnya.

Lidahnya melesak masuk pada rongga mulut yang belum terjamah oleh siapapun. Mencoba untuk menyusun deretan gigi dan melilit lidah milik Naruto yang terasa kaku menurutnya.

"pertama kali, huh?" desah Sasuke di sela-sela ciumannya yang mulai terasa panas.

Tunggu. Bukannya hari ini suhu terlalu dingin untuk dibilang panas?

"apmmmffhh-" seakan tiada hari esok untuk kembali melumat bibir plum yang selalu menarik perhatiannya. Sasuke kembali memperdalam ciumannya dan sedikit mendorong tubuh Naruto hingga punggungnya menabrak pintu toilet tersebut. Lidahnya kembali menggelitik daging kaku Naruto yang malah menurutnya menggoda. Melilitnya dengan nakal membuat Naruto mengeluarkan lenguhan tertahan.

"Keluarkan suaramu."

Lagi-lagi suara yang terkesan santai semakin membuat Naruto melotot horor. Sepertinya Tuhan tidak memberkatiku pagi ini, batinnya miris. Saat dirasanya Sasuke mulai menelusuri lidahnya pada langit-langit mulut Naruto yang terasa menggelitik, sekuat tenaga Naruto mendorong tubuh Sasuke sehingga membuatnya mundur beberapa langkah. Tak luput dari benang saliva keduanya yang menjuntai dan terputus sesaat Sasuke menjauh.

Dilihatnya Naruto terengah-engah karena pasokan oksigennya yang menipis akibat kegiatan yang tiba-tiba dan mengejutkan menurutnya. Otaknya semakin lambat untuk berpikir mengenai peristiwa yang barusan ia alami dan itu pertama kali untuknya. Walaupun selama dua puluh lima tahun hidupnya, Naruto berjanji untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu jika dirinya memiliki seorang kekasih. Tentunya Naruto akan menjaganya hingga saat berdiri di pelaminan yang di ucap sumpah sehidup semati sebagai suami-istri.

Dan sekarang ia melanggar janjinya.

"a-apa yang kau l-lakukan?" Jujur Naruto masih terasa sulit untuk menormalkan napasnya walaupun ia sudah memenuhi kebutuhan oksigennya. Manik birunya menatap tajam pada pria raven yang terlihat normal tanpa kehabisan napas seperti Naruto. Terdapat cairan saliva pada bibir pucat tersebut yang entah milik siapa. Dengan santainya Sasuke mengarahkan ibu jarinya untuk mengusap jejak saliva tersebut. Mata elangnya tak luput untuk melihat wajah tan yang masih terengah.

"membungkam mulutmu yang banyak bicara itu." Ujar Sasuke datar. Bahkan wajahnya menyirat ketidaksukaan mengingat Naruto sebelumnya masih mempermasalahkan tentang pertanyaan itu. Hal itu semakin membuat Sasuke gatal untuk membungkam mulutnya dengan mengatakan perkataan yang seharusnya ia utarakan.

Bukannya membungkam dengan menubrukkan kedua belah bibir.

Dilihatnya Sasuke membalikkan tubuh dan berjalan menjauh. Naruto masih setia memandang punggung tegap tersebut dengan napasnya yang sudah membaik, lalu mengalihkan perhatiannya pada jam dinding yang terpasang.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh dan mereka akan melakukan check out sekitar lima belas menit lagi. Naruto memutuskan untuk memesan taksi jika saja Sasuke-

"ah. Kau pulang bersamaku dan jangan pesan taksi."

tidak menyelanya. Layaknya seorang penyihir yang dapat membaca pikiran manusia, mungkin itu yang ada di pikiran Naruto saat mendengar Sasuke langsung berbicara. Ada perasaan yang mengganjal saat Sasuke memerintah dirinya seperti itu. Naruto terkesan seperti orang yang sangat merepotkan di titik ini.

"a-ano Sasuke, t-ta-" lagi-lagi Naruto mengurungkan niatnya untuk menolak saat dirinya langsung dihujami pandangan Sasuke yang mendingin dan semakin menajam. Naruto yang hendak menyusul pria raven itu langkahnya terhenti dengan cepat. Sepertinya jika sudah berhadapan dengan presdir angkuh ini memang jangan sekali-kali membantahnya.

Mungkin lain kali, Naruto akan membantahnya.

"aku tidak menerima penolakan, Uzumaki-san." Sahut Sasuke dingin. Kalimatnya barusan bagai pukulan telak yang menghujam tubuh pemuda pirang itu. Apalagi saat telinganya mendengar marganya yang disebut dengan formal. Oh tidak, Naruto tidak ingin marganya disebut seperti itu. Ia sudah berteman dengan Sasuke dan Naruto ingin nama kecilnya yang disebut. Rasanya seperti asing yang baru kembali mengenalinya.

Melihat Sasuke yang sudah berdiri di ambang shoji hendak membukanya, Naruto menyusul sedikit tergesa ke arahnya. Naruto hanya berharap setelah ini tidak ada kecanggungan yang merusak moodnya. Serta ia berharap jika Sasuke menerima permintaan maafnya walaupun ada perasaan milik Naruto yang tidak bisa diartikan mengingat perlakuan presdir muda tersebut pada dirinya.

Kau temannya tapi kau tidak tahu dia gay.

.

Jalanan wilayah Tokyo seperti biasanya di padati kendaraan, terutama oleh pejalan kaki yang lebih mendominasi. Sebuah Ferrari hitam legam melintasi persimpangan jalanan Odaiba. Berbeda dengan suasana Tokyo di siang hari yang ramai dan banyaknya lalu lalang orang, Sasuke dan Naruto hanyut dalam keheningan.

Sebenarnya tidak seperti itu juga. Naruto terus menatap Sasuke yang fokus menyetir, sesekali ia mengalihkan perhatiannya ke depan seraya berpikir, apakah Sasuke masih marah dengannya. Sasuke tidak bodoh untuk menyadari tingkah Naruto sekarang. Ia tahu betul Naruto yang terus menatapnya sedari awal perjalanan. Cukup membuat sudut perempatan muncul di wajah stoic itu.

Kini mereka tengah berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Dilihatnya Sasuke menghela napas seraya menyandarkan punggungnya pada board kursi.

"Sampai kapan kau melihatku seperti itu." Suara bariton khas miliknya menyapa indera pendengaran Naruto. Sesaat membuat Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengalihkan pandangannya untuk berpikir.

"Aku hanya berpikir, apa sebenarnya kau marah padaku atau tidak, Uchiha-san." Ujar Naruto yang terdengar seperti sebuah pernyataan dibanding pertanyaan. Ada nada keraguan disana dan Sasuke tahu. Pikiran tersebut terus hinggap di kepala pirang nya saat sebelumnya Sasuke memanggil marga, bukan nama kecil.

Sasuke yang mendengar ucapan Naruto yang terdengar aneh melirik tajam. Bibir tipisnya mendecih di saat Naruto mengatakan marganya kembali dengan formal.

"Panggil aku Sasuke." Titah Sasuke mutlak. Mau tak mau Naruto yang mendengarnya mengangguk cepat.

"Panggil aku Naruto." Kali ini Naruto mengikuti suara Sasuke dengan kata terakhir yang berbeda. Namun tidak seperti Naruto yang merespon santai tanpa ada tekanan, Sasuke hanya meliriknya sinis. Tentunya disadari Naruto yang tersenyum canggung.

Naruto yang pandangannya masih terpusat pada Sasuke sedikit beralih pada trotoar pejalan kaki yang berada di luar mobil. Pandangannya semakin larut pada objek yang menarik perhatiannya di luar.

"ada apa?" tanya Sasuke seraya mengangkat sebelah alisnya saat iris sapphire di depannya tidak lagi menatapnya. Pertanyaan Sasuke membuat Naruto kembali seperti semula dan sedikit terkekeh.

"Kupikir tadi aku melihat teman lamaku." Ucap Naruto ringan. Yeah, memang rasanya ia melihat surai merah yang mengingatkan dirinya pada teman SMA bernama Gaara. Ngomong-ngomong tentang pemuda itu, Naruto sudah lama tidak bertemunya sejak kelulusan. Awalnya mereka berencana untuk saling mengirim pesan saat mengetahui Naruto tidak akan di Jepang setelah lulus. Namun, semakin bertambahnya kesibukan masing-masing membuat hubungannya merenggang dan akhirnya tidak saling kabar-mengabari.

Entahlah, Naruto hanya merindukan pemuda bersurai merah itu mengingat mereka adalah teman dekat yang sangat menempel saat SMA.

.

"Kau tidak ingin masuk terlebih dahulu?" Kini Naruto tengah merendahkan dirinya saat bercakap dengan Sasuke melalui board pintu supir. Sepertinya Naruto harus lebih berhutang budi pada Sasuke mengingat presdir tersebut sudah berbaik hati padanya. Pengecualian untuk bibirnya itu.

"Sama seperti kakakmu, ada beberapa urusan yang harus kutangani setelah ini." Jawaban Sasuke membuat Naruto tersenyum maklum mendengarnya.

"Berkunjunglah lain kali. Rumah ini selalu terbuka untukmu." Sahut Naruto kali ini dengan senyum hangat miliknya. Hari ini sepertinya belum ada hal-hal yang mungkin merusak mood Sasuke seperti biasanya. Tidak dengan pertanyaan tentang pernikahan dari Naruto. Tidak dengan tingkah formal Naruto. Semuanya semakin menambah euforia milik seorang Uchiha Sasuke mutlak.

Mendengar Naruto berbicara membuat Sasuke tersenyum miring sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada Naruto. Ferrari tersebut kembali melintasi jalanan pekarangan di kediaman bergaya Jepang tersebut dengan elegan. Sampai menghilang pada belokan, Naruto membalikkan tubuhnya dan memasuki pintu utama yang disambut sapaan oleh Temujin.

"Selamat siang, tuan muda." Sapa Temujin dengan memasang senyum terbaiknya. Naruto yang melihatnya membalas dengan senyum tipis dan berlalu masuk seraya Temujin mengekorinya. Tak lupa tas jinjing yang sudah berada pada pemuda selaku asisten dari Naruto itu.

Seketika sebuah getaran yang berasal dari saku celana Naruto membuatnya menghentikan langkah. Diraihnya ponsel tersebut dan dilihatnya tertera sebuah nomor tidak dikenal tengah menghubunginya. Ada sedikit keraguan untuk Naruto menjawabnya, namun jika itu adalah hal penting yang terlewatkan, tidak baik juga.

"Hello?"

/ "moshi-moshi, Naruto?" /

Naruto sedikit terhenyak dengan suara wanita di seberang teleponnya yang terdengar tidak biasa. Ada perasaan yang mengganjal saat mendengar namanya disebut layaknya teman lama oleh suara wanita itu. Sungguh, walaupun jika itu teman semasa SMA nya terutama perempuan, ia hanya berteman dengan Ino pemilik toko bunga, Tenten yang berada di klub Kendo dan seniornya di atas satu tahun yang sangat menempel dengan Naruto.

Haruno Sakura.

"Maaf, anda?" Ujar Naruto terdengar bimbang.

/ "Hey! Kau tidak mengingatku, baka!?" /

Yeah, siapa lagi yang sering membentaknya dengan nada seperti itu jika bukan senior perempuannya yang sering membaca manga bersama saat bolos sekolah di atap. Jangan lupakan traktiran ramennya di kedai Ichiraku milik paman Teuchi.

Berbicara soal Ichiraku, Naruto sudah dua minggu tidak mengunjunginya.

"kau.. Sakura-chan?!" Kali ini nada Naruto sedikit meninggi jika dirinya tidak salah menebak tentang perempuan yang meneleponnya sekarang. Tanpa diketahui, jika wanita yang dimaksud saat ini tengah memutar kedua bola matanya.

/ "ugh, apa kau sudah tua hingga pikun untuk mengingat senpai-mu, Naru!" /

Yeah, Naruto sudah tahu betul dengan ejekan khas perempuan bermarga Haruno tersebut jika sudah menyangkut dirinya. Naruto tersenyum tipis saat sebelumnya ia berpikir telah melihat teman SMA-nya di jalanan Odaiba. Dan sekarang seorang senpai yang satu sekolah dengannya kini menghubunginya.

"Baiklah, aku mengingatmu sekarang." Sahut Naruto ringan. Pemuda pirang itu berjalan ke arah dapur berniat untuk mengambil beberapa makanan ringan. Sepertinya Matsuri bersama satu pelayan yang lain sedang tidak berada di rumah melihat keadaan sunyi. Hanya ada Temujin seorang bersama dirinya sekarang.

/ "mengingat kau berada di Jepang, akhir pekan ini aku ingin mengajakmu ke orkestra." / Ujar Sakura terdengar antusias. Membuat Naruto mengernyit sebelum akhirnya memahami maksud dari senpai-nya itu.

"Baiklah. Aku ikut." Jawab Naruto terkesan datar. Sakura yang mendengar respon kurang memuaskan dari pemuda pirang tersebut hanya mendengus keras.

/ "Hey, harusnya kau bersemangat. Bukankah kau menyukai permainan musik itu?" / Tanya Sakura dari seberang panggilan yang terdengar mencibir. Sedangkan, Naruto hanya memutar kedua bola matanya.

"Tentu saja aku menyukainya, senpai. Dan tanpa kau ketahui sekarang aku memang sedang bersemangat." Sahut Naruto sedikit melebihkan.

/ "Ya, ya terserah. Jangan lupa bertemu di tempat seperti biasa, ok? Good bye!" /

Baru saja Naruto ingin meresponnya, perempuan bersurai merah muda tersebut sudah terlebih dahulu memutuskan panggilannya.

"che! Tidak berubah sama sekali." Gumam Naruto seraya mengerucutkan bibirnya kesal. Ponselnya ia simpan pada meja ruang tengah yang menjadi tempat bersantai kesehariannya. Bungkusan keripik kentang tergeletak begitu saja pada sofa sebelum Naruto berlari meninggalkan ruang tengah.

Tujuannya adalah wastafel. Sejenak dirinya memandangi pantulan wajahnya pada cermin. Matanya berpusat pada benda kenyal yang sebelumnya telah ternodai oleh sentuhan dari orang itu.

Jemarinya memutar kran wastafel dan menyapu tangannya dengan aliran air yang terasa dingin pada kulit. Mengusapnya pelan pada kedua belah bibirnya. Ini bahaya. Naruto sendiri bahkan tidak pernah sedikitpun berpikir jika pria bermarga Uchiha tersebut akan melakukan hal seperti itu. Terlebih pada dirinya.

Apa dia sering melakukan itu dengan orang lain?, batin Naruto miris membayangkan jika memang pikirannya benar, maka Sasuke adalah seorang brengsek. Lalu pikiran Naruto beralih pada kakaknya, Kyuubi. Mendengar perkataan kakaknya itu memang Naruto akui, Kyuubi adalah wanita dengan intuisi yang tajam.

Ada pikiran yang terbesit pada kepala Naruto, apakah ia akan membicarakan hal ini pada kakaknya atau tidak mengatakan apapun. Namun, kemungkinan besar Kyuubi akan menjauhkannya dari Sasuke apabila ia bercerita. Tapi jika tidak, Naruto sendiri merasa aneh dengan dirinya. Benar. Ada perasaan yang membuatnya kurang nyaman dan Naruto tidak memahaminya.

Sepertinya ada yang salah dengan pikiran dan tubuh pemuda pirang itu.

Dan Naruto harus mencari tahu.

.

To be continued.


Hello minna-san! Maafkan saya jika alurnya kurang memuaskan mwueheheh~

Untuk kritik dan saran, silahkan di review. saya sangat terbuka dengan segala komentar dari readers. Kecuali jika komentar yang memang tidak berbobot dan kurang pantas di publikasikan :)

Untuk chapter-chapter selanjutnya akan dikupas satu persatu dari segala konflik yang ada pada cerita ini. Dan saya sebenarnya tidak ada niatan untuk bashing karakter-karakter yang ada, kebetulan mereka memang sudah saya rencanakan untuk dibuat masing2 pertokohannya seperti itu. Entahlah, saya jadi bingung lagi untuk berbicara apa #SLAP

Terimakasih untuk readers yang telah meluangkan waktu untuk membaca fict ini heheh~

Salam Hangat,

Author