Donata Dulcinea

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline : Yukirin Shuu

Pair : Sasuke x Naruto

Warning! This is BL/Shounen-Ai/Yaoi/OOC/Fem!Kyuu/AU

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam membuat cerita ini. Hanya sekedar mengisi waktu luang dan bersenang-senang saja.

.

.


Pagi ini cuaca bisa dibilang tidak secerah seperti biasanya karena rintik hujan yang semakin lama semakin membesar. Udara sedikit lebih dingin dibanding biasanya dan hal itu membuat Naruto enggan untuk turun dari ranjang.

Jiwanya sudah terkumpul, hanya saja tubuhnya masih setia bersandar pada headboard ranjang dan matanya fokus menyimak presenter wanita yang tengah menyampaikan perkiraan kondisi cuaca di televisi.

"Cuaca untuk beberapa hari ke depan tidak mendukung segala aktivitas di luar ruangan,"

"Beberapa festival yang akan diselenggarakan di jalanan Tokyo siang ini mungkin akan diundur."

Naruto meregangkan otot-otot tubuhnya dengan perasaan nikmat, lalu kembali pada ekspresi semula yang datar. Mengingat tidak ada kegiatan hari ini kecuali nanti malam, Naruto sepertinya akan tinggal di kandangnya. Kakak perempuannya itu paling tidak mengurusi pekerjaan ke kantor pusat perusahaannya. Ah, sepertinya ia akan kebosanan.

Tok Tok Tok.

"Naruto, apa kau sudah bangun?"

Baru saja sosoknya itu terlintas di benaknya. Naruto yang mendengarnya hanya merespon khas orang bangun tidur. Daun pintu menderit terbuka menampilkan seorang wanita yang memakai kemeja putih bersama jas hitamnya yang terkancing dua serta rok pensil yang sebagian mengekspos kaki jenjangnya.

"Hehe.."

Naruto mengerutkan dahinya saat melihat cengiran Kyuubi yang memiliki makna tersirat.

Pasti ada sesuatu yang ingin ia minta, pikir Naruto seraya memicing.

"Mau ikut denganku ke kantor?" Ujar Kyuubi masih menunjukkan senyum lebar nya. Dalam hati Naruto meringis saat tebakannya tepat. Tapi jika di pikir-pikir seperti ini, Naruto juga bisa mati kebosanan karena mendekam terlalu lama di rumah.

"Baiklah, aku akan mandi." Sahut Naruto terlihat ogah-ogahan saat beranjak dari ranjang. Kyuubi terkikik senang saat mendapat jawaban yang ia harapkan.

"Okay kutunggu!"

Brak.

.

Jaguar XJ hitam melintas di jalanan Odaiba yang terlihat tidak ramai seperti biasanya. Seorang supir yang terlihat formal menyetir mobil dan dua orang berbeda gender di jok baris kedua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Naruto yang tenang membaca buku rangkaian filosofi karya Will Durant, sedangkan Kyuubi, wanita itu terlihat kesal berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.

"Iya aku tahu! Dana itu sebagian sudah dialokasikan pada industri tekstil di Kyoto."

Jujur saja Naruto merasa terganggu dengan ocehan Kyuubi yang tidak bisa dikatakan kecil itu. Pikirannya tidak lagi tertuju pada tulisan-tulisan di bukunya.

"Astaga! Biarkan hari ini aku mengurus urusanku di kantor dulu! Pertemuan itu masih dua hari lagi!"

Sudut mata Naruto berkedut. Lama-lama jengkel juga ia berada dalam satu mobil bersama kakaknya itu. Pemuda itu juga bisa mendengar suara seseorang di seberang telepon yang terdengar tinggi.

Sial, repot sekali menjadi pimpinan, batin Naruto mendengus kesal.

"Bisa kau kecilkan suaramu! Aku di mobil!"

Mendengar Kyuubi berbicara seperti itu membuat Naruto memutar kedua bola matanya. Pasalnya wanita di sampingnya itu bahkan tidak juga mengecilkan suaranya. Naruto menutup bukunya dengan cepat dan mengalihkan perhatiannya pada jalanan di sampingnya. Merasa enggan untuk melanjutkan baca.

"Apa!? Tidak! Pagi ini aku ada meeting dengan Uchiha! Sampai jumpa!"

Tut.

Kyuubi langsung melempar ponselnya pada ruang yang tersisa di tengah jok. Dilihatnya wanita itu merengut kesal dan menyumpahi seseorang yang baru saja menghubunginya. Sedangkan Naruto sempat kepikiran mengenai ucapan terakhir kakaknya itu saat menelpon.

Apa dia akan bertemu dengan Uchiha?

Uchiha Sasuke maksudnya.

"Hey, nanti kau ikut aku meeting saja." Ucapan Kyuubi yang terkesan datar itu bagai sengatan yang terasa menyebalkan bagi Naruto. Ia menoleh dan menatap Kyuubi tidak mengerti.

"Tidak." Singkat, padat, dan jelas. Kyuubi yang mendengarnya memutar kedua bola matanya jengah.

"Ck. Anggap saja sebagai pemanasan." Sahutnya terdengar mutlak. Naruto melirik ke arah wanita bersurai oranye itu yang kebetulan dirinya juga tengah memandanginya. Lalu mengembalikan kembali perhatiannya pada jalanan kota yang terlihat lebih menarik.

"Merepotkan." Gumam Naruto kecil.

Dan entah kenapa kata legend yang sering diucapkan teman rusanya itu terucap begitu saja dari mulut si pirang.

.

Sekitar dua puluh menit mereka sampai di bangunan yang terlihat modern menjulang tinggi dan letaknya cukup menjauh dari keramaian kota.

Dengan sigap para petugas yang sudah menunggu di depan gedung membukakan pintu berkilat hitam itu. Sepasang kaki jenjang yang terbalut high heels hitam turun dari mobil, menampilkan sosok sang pimpinan yang selama ini para pegawainya tidak pernah langsung bertatap muka.

Mereka hanya mengetahui jika sang CEO perusahaannya itu adalah seorang wanita Jepang yang menetap di Jerman. Lagipula, pimpinannya itu cukup tertutup.

"Selamat pagi, nona Kyuubi."

Kyuubi hanya melempar senyum tipis pada pria paruh baya dan seorang wanita yang tengah membungkuk sembilan puluh derajat.

Turunnya wanita itu disusul oleh pemuda bersurai pirang yang mengenakan kemeja putih di balut sweater cokelat muda serta celana katun hitam yang terlihat pas di kakinya. Jangan lupakan sneakers hitamnya.

"Selamat pagi, tuan." Kembali membungkuk ketika giliran Naruto yang berjalan untuk mengikuti Kyuubi.

"Pagi." Ujar Naruto seraya tersenyum hangat dan sedikit membungkuk.

"Sepertinya nona Kyuubi juga baru sampai." Suara sang sekretaris yang duduk berdampingan bersama supir tidak terlalu Sasuke hiraukan. Mata elangnya masih mengamati sosok pemuda yang mengekori wanita bersurai oranye tersebut memasuki gedung.

Tepat di belakang Jaguar XJ hitam itu, Exelero menunggu setia untuk gilirannya. Setelah mobil di depannya berjalan meninggalkan gedung menuju basement untuk di parkirkan, kini sang Exelero menunjukkan moncongnya.

Namun, kali ini yang membuka langsung pintu mobil adalah sang sekretaris, Karin. Wanita berumur dua puluh tujuh tahunan itu cukup cekatan dalam mengerjakan tugasnya terutama jika menyangkut sang bos.

"Selamat pagi, tuan." Sama seperti sebelumnya mereka menyambut kedatangan sang pimpinan wanita itu, namun bagai angin lalu bagi seorang pria bersurai hitam itu. Karin menyusul dan sedikit membungkuk terhadap dua pegawai yang menanti dihadapannya itu.

"Meeting akan mulai 15 menit lagi, ruangan di lantai 7. Apa Anda akan langsung stand by di sana?" Tanya wanita bersurai merah tersebut dengan langkah cepatnya mengikuti sang raven.

"Hn."

Agak jengkel saat mendengar suara ambigu yang dikeluarkan oleh atasannya seperti ini.

Iya atau tidak!?, batin Karin memanas.

Wanita itu sedikit mendahului langkah Sasuke saat mereka mendekati pintu lift yang masih tertutup. Jemari putih berpoles cat kuku tersebut menekan tombol yang terdapat di sebelah pintu lift, lalu besi dingin itu terbuka.

Dengan langkah cepat nan angkuh, pantofel hitam itu melangkah masuk diikuti wanita yang bersamanya sebelum akhirnya pintu lift tertutup kembali.

.

"Nona, berkas ini mengenai laporan keuangan perusahaan selama satu tahun terakhir, seperti yang Anda minta." Kyuubi menerimanya dari Iruka saat telah sampai di ruangan miliknya.

Ruangan berukuran 30×30 meter persegi bernuansa klasik dengan motif toile de jouy khas negara mode menyambut baik orang-orang di dalamnya. Corak pastoral yang kompleks dengan sapuan cokelat muda menambah kesan elegan dan antik di saat bersamaan.

Wanita bersurai oranye yang duduk di kursi kebesarannya sibuk berceloteh ria dan hal itu hanya ditanggapi dengan senyuman maklum dari sekretaris. Tidak jauh dari mereka, sosok pirang duduk tenang menyendiri di sofa beludru yang berdiri manis. Kali ini yang menjadi fokus perhatiannya adalah ponsel hitamnya yang menunjukkan artikel tentang berita hari ini.

Jika dibilang bosan, itu memang benar. Sepertinya tidak ada yang berbeda dengan berdiam diri di rumah atau mengikuti sang kakak ke kantor hanya untuk sekedar menghadiri beberapa rapat di hari Sabtu seperti ini. Ya, hari Sabtu. Di mana orang-orang seharusnya menghabiskan waktu untuk menghilangkan penatnya dari pekerjaan dengan liburan.

Naruto hanya bisa mendengus pelan. Tiba-tiba saja pikirannya mengingat ajakan sang senpai yang beberapa hari lalu meneleponnya. Malam ini, orkestra akan berada di depan matanya, melantunkan berbagai macam lagu klasik yang akan dibawanya. Gesekan biola, cello yang menyayat hati, tiupan fagot bak genderang perang. Ah, nikmatnya dunia Yunani kuno.

"Sudah lama saya tidak bertemu dengan Anda, Naruto-sama." Suara laki-laki paruh baya membuyarkan lamunan Naruto seketika. Ia menoleh dan tersenyum membalas Iruka.

"Tidak perlu seformal itu padaku, paman Iruka." Ujar Naruto yang bangkit dari duduknya seraya memeluk ringan pria paruh baya dihadapannya itu.

"Sering-seringlah bermain ke sini, nak. Kau tahu, pegawai di sini banyak yang ingin bertemu denganmu." Sahut Iruka membalas pelukan ringannya seraya menepuk-nepuk pundak pemuda pirang tersebut. Kyuubi yang melihat hal itu hanya tersenyum simpul.

"Bukunya memang sudah laris manis, paman. Aku bahkan tidak terkejut saat wajahnya muncul di billboard." Suara Kyuubi yang terdengar sinis menimpali. Sedangkan Iruka yang mendengar suara sang CEO tertawa.

"Hahaha.. Kau tahu, tak sedikit dari pegawai yang menanyai keberadaanmu hanya sekedar untuk meminta tanda tangan." Perkataan Iruka membuat kakak-beradik di ruangan itu ber-sweatdrop.

Kyuubi pun bangkit dari duduknya seraya meratakan lembaran kertas yang menumpuk di mejanya. Sekilas ia membenarkan letak kemejanya dan berjalan hendak kearah pintu yang sudah diikuti Iruka.

"Apa mereka sudah datang?" Tanya Kyuubi terdengar datar memandang lurus ke depan.

"Tuan Uchiha dan tuan Sabaku sudah menunggu di ruangan." Jawaban Iruka membuat Kyuubi mendengus pelan memasang ekspresi remeh. Iris merahnya kemudian berpaling pada sosok pirang yang tak jauh darinya.

"Apa yang kau lakukan disana? Ayo ikut."

Sosok Kyuubi hilang setelah berbicara lebih tepatnya memerintah padanya. Iruka tersenyum ramah seraya menunggui Naruto yang hendak keluar ruangan, lalu pria paruh baya tersebut menutup pintu ruangan.

Entahlah, padahal Naruto tidak ikut berperan dalam rapat ini. Hanya saja selama di perjalanan menuju lantai 7, dirinya merasa gugup. Pasalnya ia orang newbie di lingkungan seperti ini. Walaupun selama jenjang pendidikannya Naruto berada di jurusan perbisnisan, tetap saja itu tak memengaruhi dirinya.

Jangan salah paham. Karirnya sebagai penulis itu bukan berarti ia salah mengambil jurusan. Naruto lulus lebih cepat dari perkiraannya dan beberapa bulan setelah kelulusan ia menjadi akut dengan tulisan. Terdengar konyol memang, tapi keinginannya untuk menjadi penulis yang terdengar tiba-tiba membuat Kushina menentang, begitu juga dengan Kyuubi.

Dan itu semua karena Kushina yang menyimpan beribu-ribu buku bacaan di perpustakaan kecil rumahnya waktu itu. Naruto membaca sebagian buku-buku tebal yang dapat membuat mata keriting itu saat membacanya.

Lalu, saat itu matanya melihat serangkai nama yang menjadikan sesuatu di dalam tubuhnya bergejolak kuat.

Namikaze Minato, 1995.

Ah, ayahnya itu pernah menulis toh. Walaupun selama hidupnya pria yang menjadi ayahnya itu mengabdi penuh pada perusahaan buyutnya, manusia mana yang tidak mempunyai kebiasaan-kebiasaan kecil? Kecuali jika kau memang tidak memiliki minat apapun dan membiarkan hidupmu berjalan begitu saja tanpa adanya perubahan. Itu terdengar menyedihkan.

"Kau melamun?" Suara seseorang membuat Naruto tersentak seketika. Pasalnya ia yakin tidak salah dengar jika suara berat ini bukan milik Iruka. Kepalanya menoleh, melihat langsung pada iris malam di dekatnya yang tengah menatapnya datar.

Jelas sekali air muka pemuda tan dihadapannya terkejut melihat dirinya. Pergerakan Naruto menjadi kaku saat itu.

"Selamat pagi, Sasuke."

Ah, mendengar suaranya menyebut nama dirinya membuat pria raven itu tersenyum samar. Iris biru bak langit musim panas itu menelusuri setiap detail tubuhnya dari atas sampai bawah, lalu memerhatikan kostum yang melekat pada tubuhnya sendiri.

"Apa aku salah kostum?" Tanya Naruto seraya kembali memerhatikan ke dalam ruangan yang sudah terisi dengan orang-orang berpakaian formal.

Maksudku ayolah, penampilan Sasuke sungguh sangat maskulin sekali dengan turtleneck hitam yang melekat pada tubuh atletisnya dibalut single breasted yang menjadi andalan pria itu. Astaga setidaknya ia terlihat lebih formal dibanding pakaian Naruto.

"Tidak. Kau cantik." Sahut Sasuke melenceng.

Wait, what?

"Selamat pagi, Uchiha-san." Kedua bergender sama yang saling menatap, fokusnya teralih pada suara wanita yang mendekatinya. Siapa lagi jika bukan Kyuubi, wanita cantik dengan senyum manisnya.

Ralat, senyum palsu.

"Wah, sepertinya kalian sudah menjadi teman dekat." Ujar Kyuubi masih dengan senyum kelewat ramah, namun terselip sarkas pada nadanya.

"Mungkin lebih."

Sangat kecil. Kyuubi bahkan tidak mendengar gumaman dari pria bermarga Uchiha tersebut. Wanita itu masih sibuk menepuk-nepuk ringan pundak Naruto.

Berbanding terbalik dengan sang kakak, Naruto sedikit memucat sekarang.

Tadi ia tidak salah dengar, kan?

Belum sempat Naruto ingin membuka mulut, Kyuubi sudah menggiring keduanya, lebih tepatnya menyeret sang adik untuk masuk dan menjauh dari keberadaan Sasuke yang mengikutinya di belakang.

"Kak, apa aku salah baju?" Tanya Naruto masih berjalan digenggam oleh tangan sang kakak.

"Tidak, sayang. Kau tunggu disana, terserah ingin menempati kursi yang mana." Ujar Kyuubi seraya mengarahkan dagunya ke beberapa kursi kosong yang tersusun rapi. Ah, gugupnya.

Berbeda dengan ruangan pribadi milik Kyuubi yang terlihat lebih bercorak, ruangan bercat putih tulang tersebut berukuran 50×60 meter dengan jendela kaca tinggi yang tersusun rapi berjarak lima meter. Seluruh lantai dalam ruangan terlapis oleh permadani bercorak rumit.

Kaki jenjangnya melangkah menuju beberapa kursi kosong yang sebelumnya ditunjuk Kyuubi. Menempatkan pantatnya pada busa terlapis kain tebal yang halus, perhatiannya mengamati setiap orang yang berada satu ruangan dengannya itu.

Beberapa diantaranya masih mengobrol ria, begitu juga dengan Kyuubi. Iris sapphire-nya berhenti pada sosok pria bersurai hitam yang terlihat menatap dirinya juga disana.

"Wow.. Apa aku melakukan kesalahan?" Gumam Naruto entah pada siapa saat Sasuke masih terus memandanginya dengan tajam. Naruto mau tak mau menanggapinya dengan senyum kaku, tapi hal itu tidak membuat raut wajah pria bermarga Uchiha tersebut berubah sekecil pun.

"Apa ini permainan tatap-tatapan?" Gumam kembali Naruto sweatdrop.

"Boleh aku duduk disampingmu?" Naruto mengalihkan perhatiannya pada suara yang menghampiri pendengarannya.

Dilihatnya sosok wanita bergaya rambut spike pirang berdiri tepat disampingnya. Matanya tajam, namun tersirat keramahan.

"Tentu, nona." Sahut Naruto seraya tersenyum manis mempersilahkan tempat duduk. Wanita tersebut duduk dengan anggun di dekatnya. Mata biru bak kristal batuan tersebut kembali mengamati para pimpinan bersama mitra bisnis sesamanya. Namun, si pria raven itu tidak lagi memandangnya. Ada perasaan tidak senang saat menyadari hal itu.

"Menunggu siapa?" Sahut wanita cantik berwajah tegas di sampingnya. Naruto melirik sekilas.

"Kyuubi." Ujarnya seraya menatap wanita bersurai oranye yang terlihat sedang fokus melakukan presentasi.

"O-oh.. Namikaze-san 'kah." Sahut wanita tersebut terdengar salah tingkah. Diam-diam Naruto melirik kearah sampingnya.

Pertemuan yang berlangsung selama empat puluh lima menit bersama para pemilik saham tersebut membuat Naruto merasa kaku. Pasalnya sang kakak terlihat lebih sering berdebat dengan beberapa orang dalam rapat. Tak terkecuali dengan pria bermarga Uchiha itu.

"Semoga ini menjadi kabar baik." Gumaman yang keluar dari mulut pemuda blonde tersebut sedikit tertangkap oleh wanita yang duduk di sampingnya. Diam-diam iris teal wanita di sampingnya meliriknya.

"Dia sangat pandai bertarung lidah," Sahut wanita yang masih belum ia ketahui namanya. Bahkan nadanya lebih terdengar menyindir daripada memuji.

"Dan itu senjatanya." Sambung Naruto menambahi perkataan wanita spike di sampingnya. Sedangkan, wanita tersebut sesekali melirik intens.

"Aku Temari. Namamu?" Kali ini Naruto yang mengalihkan pandangannya.

"Uzumaki Naruto." Katanya singkat. Naruto melihat binar keterkejutan pada manik teal tersebut.

"Penulis yang sedang naik daun itu'kah?" Pertanyaan yang lebih terdengar pernyataan dari Temari membuat Naruto tersenyum canggung mendengarnya.

"Ya Tuhan!" Hampir saja Temari lepas kendali untuk berteriak jika saja dirinya ingat ada di mana sekarang. Pasalnya wanita itu sudah berdiri dengan sedikit ribut dan hal itu membuat beberapa pasang mata dari mereka yang sedang melangsungkan pertemuan mencuri-curi pandang.

Salah satunya Uchiha Sasuke.

Ah, yeah.

"N-nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto pelan nyaris berbisik. Temari tersentak saat mendengar suara yang membuatnya kembali pada realita. Wanita itu berdehem gugup menormalkan rasa terkejutnya dan duduk kembali.

"M-maaf aku hanya terkejut." Ungkapnya pelan memandang Naruto dengan raut bersalah.

"Aku mengagumi tulisanmu." Suara Temari terdengar tidak yakin saat mengucapkan dua kata terakhir.

"Ah, tidak-tidak. Jatuh cinta pada tulisanmu lebih tepat rasanya." Sambungnya sambil tersenyum canggung.

Naruto terkekeh kecil saat melihat wanita di dekatnya itu bertipe apa? Tsundere 'kah? Haha, lucu sekali.

"Terima kasih." Ucap Naruto masih belum melunturkan senyumnya. Manik birunya menangkap sosok kakaknya yang sudah berjalan keluar dan hilang di balik pintu. Berbicara soal rapat, sepertinya urusan mereka semua sudah selesai untuk saat ini.

"Sepertinya aku harus pamit undur diri, Temari-san. Sampai Jumpa."

"A-ah iya, sampai jumpa."

Ada perasaan kecewa saat pemuda pirang itu pergi meninggalkan dirinya. Pasalnya ia lupa untuk meminta tanda tangan atau sekedar berfoto bersama dengan penulis muda itu.

Aish, narsis juga dirinya.

Kuharap kita bertemu lagi.

.

Saat dilihatnya sosok Kyuubi yang sudah hilang di jangkauannya, Naruto langsung bergegas menyusul langkah cepat wanita bersurai oranye tersebut.

Mata elangnya yang sedari tadi terus mengamati pergerakan pemuda blonde yang terlihat tergesa-gesa, berniat untuk menghadangnya terlebih dahulu. Kebetulan sekali si penulis itu tengah memberi senyum tipis kearahnya saat mereka berpapasan.

"Naruto."

"Ah, Sasuke. Ada apa?" Tanya Naruto terlihat santai. Ngomong-ngomong soal santai bukannya dia memang pembawaannya selalu seperti itu? Seperti orang yang membawa enteng masalah-masalahnya.

Maybe.

Karena tiba-tiba kepala pirangnya mengingat adegan tentang sesuatu yang tiba-tiba membuat perutnya sakit.

Ugh, ciuman panas dan pertamanya itu.

"Ingin makan siang bersama?" Bahkan Karin yakin jika pendengarannya seratus persen sangat sehat. Ia tidak perlu repot untuk datang ke dokter ahli telinga saat mendengar apa?

Bosnya mengajak seseorang makan? Bersama!?

Karin tidak terlalu mengambil pusing saat mengetahui siapa yang diajak bosnya itu, tapi masalahnya sejak kapan bos dingin dan terkenal angkuh itu mau makan siang bersama?

Setahu Karin, Sasuke adalah seorang introvert yang membenci suara sedikit saja terdengar saat di tengah ketenangannya, ia akan marah karena merasa terganggu dan hal itu memengaruhi mood-nya. Sial, sepertinya Karin harus mencatatnya baik-baik.

"Tentu saja." Jawaban yang meluncur halus terdengar tanpa berpikir panjang keluar dari Naruto. Entahlah, bukannya tidak berpikir panjang, tapi kakaknya itu pasti terlalu sibuk berkutat dengan kertas-kertas memuakkan itu. Jangan tanya jika nantinya Naruto seperti makanan hangat yang semakin lama semakin mendingin dan dikerubungi oleh lalat.

"Hn."

Dan ini membuat Naruto tersenyum canggung. Ia berteriak dalam hati berusaha mengontrol diri untuk tidak bersikap aneh. Pemuda pirang itu juga tidak mengerti apa makna dua kata yang terlontar dari mulut si Uchiha itu. Iya atau tidak?

Manik biru tersebut masih setia memperhatikan pria raven yang berjalan mendekat ke arahnya. Naruto merasa pendek tiba-tiba saat merasa tingginya hanya sedagu pria pucat di dekatnya.

"Pertemuan pertama saat itu." Suara bariton datar khas miliknya hinggap di indera Naruto. Iris malamnya sempat melirik pada manik safir di sampingnya yang tengah memandangnya juga.

Tubuh atletisnya pergi berlalu diikuti oleh seorang wanita bersurai merah yang sempat memandang pemuda blonde tersebut sekilas.

"Phew... Euforia macam apa itu?" Gumam Naruto masih memandang kepergian sosok angkuh yang berjalan hilang di balik pintu. Diam-diam Naruto menghela nafasnya lega.

Di sisi lain, mungkin jika kalian memiliki tingkat kepekaan mata yang tajam, sepertinya sangat jelas melihat senyum tipis yang tak henti-hentinya luntur dari wajah stoic bak dewa Yunani tersebut. Bahkan Karin merasakan sesuatu yang asing menguar dari dinding pertahanan pria yang menjadi bosnya itu. Asing namun terasa berbahaya di saat bersamaan. Atau hanya perasaan saja?

Jujur sebenarnya mulut berpoles lipstick merah tersebut sangat gatal untuk menghujani berbagai macam pertanyaan pada Sasuke. Maksudku ayolah, orang mana yang tidak penasaran melihat tingkah atasannya yang terkenal arogan, dingin, dan sebagian mencap-nya sebagai apatis bertingkah di luar karakter.

Seperti mengajak makan siang bersama orang lain misalnya? Ah, terdengar biasa memang. Tapi kawan, masalahnya dia yang meminta, bukan orang yang meminta padanya. Sejak kapan mulut pedasnya mau melontarkan kalimat-kalimat yang berbau permohonan, well, walaupun untuk yang tadi bisa di katakan 'mengajak'. Terlebih jika mengingat pria raven itu tidak mengampuni penolakan.

Err.. berlebihan, tapi yeah.. Umm.

Sasuke berjalan dengan langkah lebarnya keluar dari bangunan yang menjadi tempat pertemuannya, di sambut beberapa pegawai yang membungkuk sembilan puluh derajat menuju Exelero yang sudah stand by menunggu kedatangannya di depan gedung. Kali ini penjaga keamanan yang membuka pintu mobilnya dengan posisi sang bos di jok baris kedua dan sekretaris apiknya di jok depan bersama supir.

Huh, bahkan dia pandai menyembunyikan kegugupannya. Dobe.

Dan jangan tanya siapa yang sedang berbicara dalam hati saat ini.

.

Kyuubi memijat pelipisnya. Baru saja tadi ia masuk ke ruangan pribadinya bersama Iruka. Menempatkan pantatnya pada kursinya yang empuk dan nyaman, berusaha menikmatinya. Namun, tidak saat matanya kembali melihat beberapa kertas yang teronggok minta di tanda tangani. Lalu, di tambah kehadiran adik yang menurutnya santai namun tengik di saat bersamaan dengan wajahnya yang terlihat biasa namun tersirat ketegangan.

"Hoi, apa ada sesuatu?" Tanya Kyuubi yang tidak berniat beranjak dari posisinya karena sudah telanjur nikmat hanya untuk sekedar menghampiri Naruto. Sedangkan yang di tanya terlihat sedikit menoleh, lalu kembali menyembunyikan kepalanya karena membelakangi sang kakak posisi duduknya.

"Aku akan makan siang bersama Sasuke. Kau mau ikut?"

Mungkin jika sedang minum, Kyuubi akan menyemprotkannya. Sayangnya ia sedang tidak minum. Iris merah-nya masih terpaku pada punggung Naruto yang duduk di sofa agak jauh darinya.

Seriously?

Rasanya Kyuubi cukup rajin untuk membersihkan lubang telinganya itu. Jadi ia yakin tidak ada masalah pada pendengarannya. Hahaha.

BRAK.

Baik Naruto, maupun Kyuubi keduanya sama-sama terkejut saat gebrakan yang di timbulkan dari Kyuubi sendiri pada mejanya.

"AKU IKUT!"

Tidak perlu memukul meja sepertinya mudah 'kan?

"Alright. Stay calm, okay?" Ujar Naruto masih terlihat shock. Yeah, bagus Kyuubi akan ikut karena ia tidak merasa canggung luar biasa nantinya. Hanya saja wanita itu harus di beri pelajaran tentang mengontrol diri dan emosi.

Sial, bagaimana jika jantungnya berhenti?

Paling tidak mati.

"Kau mengajaknya makan siang?" Tanya Kyuubi terselip nada curiga.

"Nope. Dia yang menghampiriku." Ujar Naruto seraya mengangkat kedua bahunya ringan. Kyuubi yang mendengar kalimat apa adanya dari Naruto mengernyit heran. Wanita itu menyandarkan punggungnya pada kursi besarnya, menopang dagunya memikirkan sesuatu yang tiba-tiba membuat saraf otaknya terbelah menjadi banyak.

"Ugh.. walaupun aku bermitra dengan Uchiha, tetap saja pasti dia punya rencana terselubung." Gumam Kyuubi masih berpikir keras.

"Hati-hati Nar, dia memang predator buas yang tak segan menyakiti mental atau fisik lawan dan kawannya. Tapi memang sikapnya begitu sih." Bahkan Kyuubi terdengar tidak membantu menurut Naruto. Manik birunya tidak tahan untuk memutar kedua bola matanya jengah.

"Yeah, kau memang selalu memberinya kesan negatif karena tidak menyukainya 'kan." Sahut Naruto datar seraya menjatuhkan tubuhnya pada sofa.

"Kalau itu aku tidak menyangkalnya." Ungkapnya.

Keduanya hening. Tidak ada salah satu dari mereka untuk berniat kembali membuka pembicaraannya. Kyuubi yang mulai menandatangani berbagai macam surat namun pikirannya melayang, sedangkan Naruto yang ingin menidurkan dirinya tapi tidak bisa.

Detik suara jarum jam menyelimuti suasana di dalam ruangan. Suasana hening yang membosankan di tengah hari yang mungkin membuat sebagian orang lama-kelamaan kesal mengalaminya. Naruto sudah terpejam, namun tetap terjaga.

"Kau belum bercerita soal waktu itu padaku." Suara wanita berkepala tiga tersebut kembali memecah keheningan. Jemari berpoles cat kuku hitam miliknya mengetuk-ngetuk meja dengan penanya menahan bosan.

"Apa?" Gumam Naruto tidak merubah posisinya.

"Di Ryokan bersama Uchiha Sasuke. Bagaimana?" Suara dewasanya menyebut sangat jelas sekali setiap katanya. Naruto yang mendengarnya membuka kedua iris safirnya, namun tidak beranjak bangkit dari tidurnya.

"Yeah, seperti itulah." Balas Naruto terdengar tidak berniat untuk mengungkit. Pemuda pirang itu mendengar dengusan kesal yang pastinya berasal dari Kyuubi karena memang hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan.

"Aku butuh mendengar ceritamu, bukan jawabanmu, pirang." Kyuubi tidak tahan dengan kelambanan otak adiknya itu saat berpikir. Wanita itu melirik sengit pada kaki yang menggantung pada pegangan sofa.

Lain halnya dengan Kyuubi, Naruto kini tengah membeku. Ia harus mencari cara apapun itu untuk menghindari omongannya yang dapat menjadi bumerang sendiri. Otaknya dengan hati-hati menyusun rangkaian kalimat yang tepat dan tidak menimbulkan masalah nantinya. Kadang ia berpikir kenapa Kyuubi terlalu mencampuri urusannya itu yang bahkan tidak berkaitan dengannya. Merepotkan sekali.

"Ya ya ya, aku memang suka ikut campur. Kau tahu itu." Seakan wanita itu dapat membaca isi pikiran adiknya yang belum kunjung jawab. Diam-diam Naruto merengut kesal.

"Ck. Kami mengobrol banyak hal, lalu tidur, sarapan bersama, Sasuke bekerja, begitu juga dengan aku yang mencari ide untuk tulisan, saling bertukar pikiran, dan pulang. Selesai." Naruto berbicara seakan tidak ada hari esok untuk menjelaskan. Kyuubi bertampang cengo, lalu beberapa menit kemudian kembali pada alam sadarnya. Ia menyeringai kecil.

"Uh-huh.. Ceritamu terdengar seperti pasangan yang baru menikah saja." Ucap Kyuubi kecil tanpa sadar, membuat Naruto bangun dari tidurnya, memandang aneh pada wanita tersebut.

"Kau tadi bilang sesuatu?" Tanyanya penasaran.

"Tidak. Oh ya, ngomong-ngomong aku ingin menikah." Pernyataan melantur yang lolos dari mulut Kyuubi semakin membuat wajah Naruto mengerut sedalam-dalamnya. Demi Tuhan, ada apa dengan kakaknya itu!?

Ia tahu jika Kyuubi menyebalkan tingkat dewa dan omongannya terkadang tidak jelas dan sarkas. Tapi ini, ugh.

Ah sudahlah, lebih baik ia kembali merebahkan tubuhnya. Sekitar dua jam lagi menuju jam makan siang dan Naruto akan pergi dari gedung ini, mungkin wanita itu juga ikut bersamanya.

Di lain tempat, seorang wanita bersurai merah dengan kacamata yang bertengger cantik di wajahnya memandang tidak yakin pada sang atasan. Beberapa menit yang lalu mereka telah sampai di gedung perusahaan milik Uchiha. Seperti biasa, Karin memberi berkas-berkas berisi laporan pada Sasuke. Lalu, saat pengantar wine datang yang biasanya akan langsung menuangkan anggur, Sasuke menghentikannya.

"Ah Sasuke-sama, apa anda ingin penggantinya sebagai kopi?"

Kira-kira seperti itu Karin memberi tawaran pada pria raven tersebut saat di rasanya tidak biasa sekali bosnya menolak anggur. Namun, Sasuke menjawabnya dengan cepat.

"Tidak."

Alright, sepertinya ia sedang tidak ingin meminum sesuatu. Itulah yang berada di pikiran Karin setelahnya. Namun, pemikirannya itu hancur tergantikan saat mendengar kalimat selanjutnya yang diucapkan pria bermarga Uchiha tersebut.

"Bawakan aku perasan jeruk."

Uhm, okay. Bosnya itu sepertinya sedang menikmati dengan khidmat cairan jeruk segar itu di dalam ruangannya. Saat ini Karin sudah kembali ke tempatnya untuk bekerja, kembali menatap layar bersinar itu berjam-jam dan jarinya yang bergerak lincah kesana-kemari di atas keyboard. Hanya saja pikirannya tengah melayang pada kejadian-kejadian tidak biasa menyangkut atasan angkuhnya itu.

Sepertinya dia menemukan mangsa hangat.

.

Karin yang melihat pintu ruangan bosnya terbuka langsung sigap bangkit dari duduknya untuk memberi hormat. Dengan cekatan ia berniat mengikuti jalan pria raven tersebut untuk menyiapkan mobil namun berhenti saat melihat bosnya melirik kearahnya.

"Jangan ikuti aku. Aku akan pergi sendiri." Ujarnya dingin bersama tatapannya yang setajam mulutnya. Karin mengangguk kaku melihat kepergian punggung kokoh yang hilang di balik pintu.

Manik krimson-nya melirik jam dinding yang tergantung di dekat ruangannya. Ah, benar juga. Sekarang sudah masuk jam makan siang dan Uchiha itu pasti akan pergi kemana lagi jika mengingat ucapannya pada pemuda blonde saat rapat untuk pergi bersama.

"Apa itu semacam kencan?" Ucap Karin entah pada siapa. Wanita itu meregangkan otot tubuhnya dengan nikmat. Kakinya berjalan melangkah keluar ruangan untuk mengisi perutnya yang sudah memberi peringatan. Rasanya ia ingin makan banyak sekali hari ini.

"Semoga berhasil, tuan Uchiha."

Kriett.

Blam.

Berpindah pada posisi Sasuke, pria raven itu berjalan menuju basement gedung untuk menemui Exelero-nya. Kali ini tidak ada single breasted yang melekat pada tubuh atletisnya. Ia menjalankan tuas kemudinya, keluar menuju siang yang menghujaninya dengan cahaya silaunya.

Sebenarnya Sasuke berangkat tiga puluh menit lebih cepat. Hanya saja, yeah, kau tahu bagaimana seseorang ingin cepat bertemu dengan pendamping hidupnya. Ralat, calon maksudnya.

Itupun kalau ia berhasil merebut Uzumaki Naruto.

Sasuke mendecih. Ia tidak akan segan membunuh siapapun yang berusaha menghalangi langkahnya. Pria itu absolut, kehendaknya tidak ada yang bisa menolak. Kalaupun ada, itu hanya akan menjadi seonggok mayat yang hilang bersama debunya. Lagipula, siapa yang berani menolak segala keberadaan milik pria raven itu?

Ah, ciuman itu.

Terlintas sebuah nama di benaknya. Si penulis hangat yang memiliki seribu misteri, mungkin?

Berbicara tentangnya, entah kenapa membuat Sasuke kehabisan kata-kata. Siku tangannya menumpu pada pinggiran kaca mobil, telapak tangannya menyangga sebagian area mulutnya pada wajah. Pikirannya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dirinya lepas kendali dengan berakhirnya membungkam mulut orang itu.

Lebih parahnya, ia merasa ditolak saat itu juga.

God dammit.

Ia mendengus kasar. Sepertinya akan menjadi tantangan yang besar untuk menaklukkan pemuda blasteran itu. Ia harus memikirkan seribu cara untuk menariknya, membuat ia patuh padanya, mengikatnya.

Satu hal yang pasti yaitu memilikinya.

Apa itu terdengar buruk? Mungkin untuk sebagian orang iya, atau yang lainnya mengatakan tidak. Sasuke tidak peduli. Ia tidak menyesal memenuhi keinginan Shion kala itu untuk bertemu seorang penulis yang tengah naik daun.

Tulisannya indah, itu menurut Shion. Seseorang yang membacanya akan di buat jatuh cinta. Lagipula, siapa yang tidak mencintai pemuda bermarga Uzumaki tersebut di samping tulisannya?

"Huh, sayangnya aku membenci fakta jika mengingat pribadinya yang selalu baik pada semua orang." Entah pada siapa suara bariton yang terdengar rendah itu berbicara. Dan hey, sejak kapan ia bergumam panjang seperti itu?

Ah, merasa jealous 'kah?

Sasuke sampai pada tempat tujuannya selama sepuluh menit di perjalanan. Jangan tanya kenapa sangat cepat sekali jika mengingat pria itu selalu mengemudi 120 km/jam setiap waktunya. Yeah, kebetulan sedang senggang jalanannya.

Pantofel hitam mengkilat muncul bersamaan dengan orangnya saat tiba di restoran Perancis di pusat kota. Otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna terbalut turtleneck,membuat siapa saja yang melihatnya merasakan gejolak nikmat secara tidak langsung.

Iris onyx miliknya memandang tajam pada setiap hal yang berada dalam jangkauan pandangannya. Namun, fokusnya terhenti pada sosok yang sangat familiar tidak jauh di depannya. Langkah panjangnya sedikit mengecil saat menyadari senyum manis sosok pirang itu mengarah padanya.

"Kau tahu, kupikir tadi aku terlalu bersemangat untuk datang lebih awal, dan akhirnya kita langsung bertemu seperti ini." Suaranya terdengar cerah seperti biasanya. Pemuda pirang itu terkekeh pelan saat berbicara. Seluruh detail ekspresi itu tidak pernah lolos begitu saja dari mata elang di dekatnya. Semuanya selalu terekam jelas sejak pertama kali mereka bertemu.

Termasuk saat di pemakaman kala itu.

Mereka masuk dan mengambil tempat. Seorang pelayan wanita dengan riasan wajah menghampiri mereka untuk melayani pesanan. Naruto sesekali memerhatikan dengan teliti pelayan wanita bersurai cokelat yang juga tengah memandangnya menanyai perihal tentang makanan. Lalu, manik birunya beralih pada sosok yang duduk di hadapannya yang kebetulan sedang menatapnya tajam.

Naruto mengalihkan perhatiannya kembali pada pelayan wanita tersebut dan mengangguk seraya tersenyum sebelum akhirnya wanita tersebut hilang dari pandangannya.

"Hey, pelayan tadi sepertinya menyukaimu." Sahut Naruto seraya mengerling pada Sasuke. Sedangkan objek yang dituju hanya mengangkat sebelah alisnya. Terkesan acuh memang. Tapi bukan itu yang berada di dalam kepala pria raven saat ini. Apa barusan tadi ia melihat ekspresi wajah baru dari Naruto?

M-maksudnya, mengerling seperti tadi.

"Astaga, dingin sekali responmu." Ujar Naruto terlihat kesal saat tidak mendapati jawaban apa-apa dari Sasuke.

"Bukannya kau yang menyukainya?" Bibir pucat itu bersuara. Kedua manik kelamnya masih menyorot datar namun terkesan dingin melihat iris mata sebiru langit musim panas di hadapannya. Naruto yang mendengarnya terdiam beberapa menit, terlihat berpikir.

"Aku tidak menyukainya, tapi kuakui wajahnya cantik." Ujar Naruto ringan tanpa ragu. Apalagi melihat kembali senyumnya yang menurut Sasuke tidak sinkron dengan ucapannya, membuat pria raven tersebut mengalihkan pandangannya dingin.

"Kau berbicara seolah-olah memang menyukainya." Ujar Sasuke datar.

"Hey, aku 'kan hanya memujinya." Balas Naruto mengerucutkan bibirnya tak mau kalah. Yeah, lama-lama ia merasa jengkel juga pada sifat Uchiha di depannya ini.

Walaupun tidak semenjengkelkan Kyuubi.

Ngomong-ngomong soal kakaknya itu, Naruto memang tidak bersamanya. Sebenarnya saat di kantor, Naruto sempat tertidur selama 60 menit dan ia terbangun. Matanya menelusuri ruangan Kyuubi yang terlihat hanya dirinya seorang di dalam. Naruto mencari cukup lama, dan bertemu dengan Iruka yang mengatakan jika Kyuubi sedang keluar kantor.

Well, karena ketidakjelasan keberadaan sosok sang kakak yang entah kapan kembali lagi ke kantor, Naruto memutuskan untuk pergi makan siang diantar oleh supir. Tidak rela juga sih saat mengetahui Kyuubi tidak ada menemaninya makan siang bersama.

Bukan apa-apa. Jika seperti ini, Naruto harus menyiapkan mental dan menjauhi kegugupan yang membuat orang jadi repot.

Uchiha Sasuke.

Tiba-tiba saja Naruto merasa tubuhnya tersengat listrik bertegangan tinggi. Kepala pirangnya mengingat pria raven itu yang tiba-tiba melumatnya saat di Ryokan. Ya Tuhan, demi bulu kakinya Kyuubi, kenapa ia harus mengalaminya?

Lebih parahnya lagi, kenapa ia merasa menikmatinya saat itu?

Ugh.

Naruto segera menepis segala pikiran anehnya. Sebagai laki-laki tulen yang ciuman pertamanya direnggut oleh sesama lelaki juga, ia harus kuat. Lagipula, ia masih straight kok. Percayalah. Bahkan ia sedikit menyimpan hati pada sahabat wanita bermarga Hyuuga-nya. Mungkin alasannya karena Hinata sangat baik, selalu baik malah padanya.

"Sasuke."

"Hn."

"Kenapa kau menciumku?"

Kedua mata berbeda warna tersebut saling bertubrukan, menatap lurus satu sama lain. Dibalik jernihnya biru itu, Naruto menyimpan perasaan campur aduk. Sedangkan Sasuke, yah.. umm.. bukannya dia selalu angkuh dan keras kepala?

"Kau berisik, dobe."

Singkat, dingin, dan menembus dada. Selamat Sasuke, kau berhasil membuat mood Naruto menjadi hitam legam. Pemuda pirang itu bangkit dari duduknya hendak menggebrak meja, namun niatnya ia urungkan saat pelayan wanita datang bersama troli makanannya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat melihat tingkah ambigu si blonde.

"Hey, apa yang kau lakukan?"

Bagai angin lalu, Naruto tidak menghiraukan ucapan Sasuke. Ia masih berdiri. Matanya melihat setiap makanan yang disajikan oleh pelayan wanita bersurai cokelat itu. Setelah selesai, Naruto memandang tajam pada si pelayan.

"Terima kasih." Ujar Naruto, lebih terdengar mengancam. Hal itu membuat pelayan wanita tersebut sontak kaget, dan menggigil. Rasanya tadi dia selalu melihat senyuman yang menawan itu dari si pirang selama melayani. Apa dia melakukan kesalahan?

"S-selamat menikmati."

Pelayan itu mengundurkan diri. Naruto masih belum merubah posisinya yang berdiri dan memandang kearah dimana tempat si pelayan berdiri tadi.

"Kau mau makan atau terus berdiri menghabiskan waktu seperti itu?" Sahut Sasuke dingin. Naruto langsung menghempaskan pantatnya kembali.

"Itadakimasu."

"Hn."

Keduanya hening. Naruto memusatkan perhatiannya pada Cassoulet yang disajikan dalam coupe alumunium. Cassoulet terbuat dari campuran sosis dan kacang putih yang dimasak dalam satu panci, bentuknya menyerupai sup dengan kuahnya yang lebih kental karena berbagai bumbu dan rempah-rempah.

Sasuke tidak terkejut saat mengetahui makanan itu yang dipilih Naruto sebagai makan siang jika mengingat pemuda itu makannya banyak. Jemari tan-nya mulai menyendok kuah kental tersebut, lalu menikmati aroma pekat yang terasa nikmat di hidungnya. Sepertinya ia akan melupakan terlebih dahulu masalahnya.

Keduanya masih diam menikmati makanan yang tersaji. Sesekali mata elangnya melirik pada manusia di depannya yang terlihat khidmat dengan makanannya.

"Lain kali, kau harus diet." Sahut Sasuke di tengah kegiatan makannya. Naruto meliriknya tajam saat mendengar sesuatu yang terdengar tidak mengenakkan.

"Maksudmu aku gendut?" Tanyanya ketus. Naruto sudah berapa kali diberi nasihat untuk jangan makan terlalu banyak, tapi mereka tidak pernah bilang Naruto gendut. Tapi ini Sasuke seakan mengatakan jika ia manusia gendut. Well, seharusnya ia tidak peduli. Tapi kenapa terasa menjengkelkan?

"Hn."

Dan apalagi ini? Hn-mu itu iya atau tidak!?

"Kau menyebalkan, teme." Ujar Naruto sambil memasukkan makanannya ke mulut, lalu mengunyahnya. Perhatiannya masih mengarah lurus pada pria raven yang duduk di hadapannya.

"Aku tahu, dobe." Jawab Sasuke tanpa emosi. Iris hitamnya masih menyorotnya datar. Padahal ia hanya mengutarakan isi pikirannya, tidak berniat untuk mengatainya gendut. Lagipula, postur tubuh Naruto terlihat pas di mata dan pelukannya.

Ekhem.

Sepertinya Naruto harus terbiasa dengan tabiat Uchiha mulai sekarang. Tidak boleh bawa perasaan. Mulutnya memang tajam dan ucapannya berbisa, dapat mematikan seseorang secara tidak langsung. Bahkan ciumannya juga.

Ugh.

Naruto memandang objek di depannya yang tengah menusuk potongan ratatouille, lalu memakannya. Kalau dipikir-pikir, Uchiha ini memang tampan menurut Naruto.

"Jangan terus memandangiku, nanti kau bisa mencintainya." Perkataannya sukses membuat Naruto terbatuk karena makanannya. Pemuda pirang itu langsung meraih gelas yang terisi penuh infused water dan meminumnya. Diam-diam Sasuke menyeringai penuh kemenangan.

Naruto menghela nafasnya lega, lalu matanya memicing kearah Sasuke yang kebetulan belum melunturkan seringainya itu.

"Jangan berpikir macam-macam, Sasuke. Kau tahu tadi aku sempat berpikir jika model rambutmu itu mirip seperti pantat ayam." Jelas Naruto merengut, namun diakhiri senyuman kecil terkesan mengejek.

Rasakan itu, batin Naruto merasa puas setelah akhirnya ia dapat membalas ucapannya.

Pergerakan tangan Sasuke berhenti. Auranya menjadi terasa berat. Naruto yang sebelumnya terkekeh pelan, berhenti. Ia sedikit beringsut pada kursinya. Okay, yang tadi itu menurut Naruto memang lucu, tapi kenapa efeknya menjadi seperti ini?

"Sasuke, kau marah?"

Hening.

Naruto bertanya saat melihat Sasuke kembali melanjutkan pergerakannya untuk menyesap kopinya. Namun, pria itu tidak membuka suaranya. Hal itu membuat Naruto pucat seketika.

Astaga, dia benar-benar marah padaku, batinnya merutuki kebodohannya.

"Sasuke, maafkan aku." Ujar Naruto seraya memajukan wajahnya. Hal itu bertepatan saat Sasuke sedikit mengangkat wajahnya, membuat jarak wajah keduanya sangat dekat. Bahkan Sasuke menahan napasnya. Manik biru, tiga garis kumis kucing, lalu bibir kenyalnya yang selalu terlihat basah.

Sasuke ingin menggigitnya.

Jemari porselen miliknya menekan kedua sisi pipi yang terasa penuh itu. Membuat sang empu mengerucutkan bibirnya. Ekspresi Naruto terlihat kesal saat mendapati pria raven di depannya memandang datar.

"Hey! Jangan seperti ini, aww-" Naruto meringis pelan saat dirasanya jemari panjang milik Sasuke menekannya kembali. Naruto berusaha melepaskan wajahnya, dan berhasil.

"Padahal 'kan aku tidak mencubitmu." Sahut Naruto yang sudah kembali duduk menyandarkan punggungnya seraya mengelus kedua pipinya.

Sasuke mendengus pelan. Hampir saja ia hilang kendali. Kenapa pikirannya terkadang tidak fokus jika sudah membicarakan penulis blasteran ini, huh? Tidak Uchiha sekali.

Mereka menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit di tempat. Untuk Naruto, makan siang bersama Sasuke serasa menunggu satu abad. Namun, menurut Uchiha itu sendiri, kenapa rasanya waktu berlalu sangat cepat, sedangkan ia sendiri masih ingin bersama dengan si dobe!?

Andai saja Sasuke si time traveller.

Tidak. Uchiha itu jenius. Ia akan mendapatkan targetnya dengan berbagai cara. Namun, ia juga harus tajam dan cepat. Tidak boleh targetnya hilang begitu saja hanya karena ia keduluan orang lain. No, no.

"Tidak ada yang bisa merebutmu, dobe."

.

Dua orang bergender sama berjalan berdampingan menuju mobil sport yang terparkir apik tepat di depan pintu utama restoran. Sebenarnya Naruto dipaksa Sasuke untuk menaiki mobilnya dan mengantarnya kembali ke kantor perusahaan Namikaze.

Kedua orang itu sama-sama keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah. Naruto padahal sudah berjanji pada supir kakaknya untuk menjemputnya kembali, namun Sasuke merebut ponselnya.

"Tidak usah menjemput Naruto. Aku yang mengantarnya."

Hal itu membuat Naruto kesal setengah mati. Berani-beraninya Uchiha Sasuke mengatur dirinya. Berontak pun percuma karena sedari tadi ia sudah melakukannya dan Sasuke terus menariknya, tidak menghiraukan.

Naruto terus memandangi jalanan yang menurutnya terlihat lebih menarik saat ini ketimbang membuka suara. Sedangkan, manusia raven satunya sibuk menyetir. Atmosfer di antara keduanya bisa di bilang cukup buruk sekarang. Naruto yang sesekali mendengus dan Sasuke yang tentunya mendengar hal itu semakin menajamkan pandangannya ke jalanan.

"Hentikan dengusanmu."

"Kenapa!? Aku 'kan yang mendengus, bukan kau!" Sahut Naruto langsung menolehkan kepalanya, sedikit meninggi nadanya. Sasuke yang mendapati hal itu berdecak pelan.

"Itu mengganggu konsentrasiku." Ujar pria raven itu datar. Sedangkan, Naruto langsung membuang muka memandangi jalanan kembali. Sasuke melirik sekilas pemuda di sampingnya.

"Dobe."

Naruto menolehkan kepalanya. Ia seperti mendengar sesuatu walau tidak terlalu jelas, dan pastinya itu dari Sasuke.

"Kau bilang sesuatu?" Sahutnya masih terdengar ketus.

"Apa aku berbicara?" Tanya Sasuke tanpa menjawab pertanyaan Naruto. Hal itu membuat area mata Naruto berkedut kesal mendengarnya. Untuk kedua kalinya Naruto kembali membuang muka memandang jalanan.

"Pendengaranku tidak pernah salah." Gumam Naruto kecil, namun Sasuke masih bisa menangkapnya.

Baru kali ini Naruto merasa pikirannya dibuat kalut. Ia bahkan baru sekarang berjumpa dengan pria yang memiliki bahasa alien sendiri. Gumaman 'Hn' yang menurutnya tidak jelas apa itu artinya, ucapannya yang tajam menusuk, dan terkadang membuatnya salah tangkap.

Dan lagi, Naruto masih sempat kepikiran mengenai ucapan Sasuke saat di restoran tadi. Siapa yang direbut? Dirinya? Siapapula yang merebutnya jika Naruto saja tidak merasa ada yang memperebutkannya? Atau itu sesuatu yang lain? Atau jangan-jangan pelayan wanita tadi!?

Argh, memikirkan kalimat Sasuke memang membuat otaknya lama-lama menyusut.

Mereka sampai di gedung yang menjadi tempat bernaungnya perusahaan buyut Namikaze yang merupakan cabang Jepang.

Sasuke sebenarnya tidak rela untuk melepas Naruto pergi. Keduanya masih hening. Naruto yang belum beranjak dari duduknya, dan Sasuke yang tengah berpikir jika sebenarnya ia masih ingin bersama dengan sosok pirang di sampingnya itu.

"Sasuke/Naruto"

Keduanya sedikit terkejut saat menyadari ucapannya masing-masing. Naruto tersenyum canggung menanggapinya, sedangkan Sasuke?

Ugh, seperti biasa mata tajam dan dinginnya.

"Terima kasih untuk hari ini." Ujar Naruto melempar senyum tipis. Sudah seperti kencan saja, whoops.

"Tidak masalah."

Cukup mengejutkan saat Sasuke menjawabnya dengan kalimatnya yang jelas, tidak memakai dua huruf alien itu. Samar-samar bibir pucat itu tertarik ke atas.

"Yeah, kau sudah mengantarku dan aku menghargai itu." Ujar Naruto kembali, semakin membuat Sasuke menatapnya hangat.

"Walaupun kau sedikit menyebalkan." Sambung Naruto seraya terkikik kecil. Rasanya memang sakit jika perasaanmu telah di terbangkan oleh doi, lalu terhempas jatuh sampai ke inti bumi.

Be patient, Sasuke.

Baru saja Naruto ingin kembali berbicara, namun ia urungkan ketika melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan di depan pintu utama gedung. Itu Kyuubi. Wanita itu tengah berjalan cepat dan ia disusul oleh seorang pria yang terlihat tergesa-gesa, berusaha untuk meraih Kyuubi.

Menyadari perhatian Naruto teralih darinya, Sasuke berniat untuk menyadarkannya.

"Naruto." Sahut Sasuke mampu membuat Naruto kembali menatapnya.

"A-ah Sasuke, lihat." Telunjuk Naruto mengarah pada sosok kakaknya di sana, dan Sasuke mengikuti arah lihatnya.

Jelas sekali jika raut wajah Kyuubi tengah marah. Wanita itu mengacungkan telunjuknya tepat di wajah sosok pria bersurai kecokelatan yang mengikutinya. Uh, Naruto tahu jika kakaknya itu sedang mengumpati atau menyumpah serapahi siapapun yang diacunginya.

Sepertinya Kyuubi terlihat banyak masalah, dan Naruto khawatir. Ia takut jika hal itu memengaruhi kesehatan sang kakak. Naruto dan juga Sasuke terus memerhatikan setiap gerak-gerik kedua manusia berbeda gender tersebut dengan serius. Apalagi saat Kyuubi mengarahkan tamparannya yang terlihat keras pada pria yang sedang bersamanya tersebut.

"Itu pasti sakit." Gumam Naruto tanpa sadar.

Setelah itu, Kyuubi masuk ke gedung seorang diri dengan sosok pria tersebut yang masih berdiri mematung memandang kepergiannya. Naruto mulai berpikir apakah pria itu kekasih Kyuubi? Masalahnya interaksi antara keduanya itu terlihat seperti sepasang kekasih yang dimana hubungannya telah kandas. Malang sekali jika memang itu benar.

Sasuke kembali melihat pemuda blonde di sampingnya. Jelas sekali rautnya menyiratkan kekhawatiran.

"Naruto, kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke sedikit cemas saat tidak melihat pergerakan sama sekali dari Naruto sejak menonton adegan sang kakak dan sosok prianya.

"Sepertinya iya." Ucap Naruto terdengar tidak yakin menatap Sasuke.

"Hubungi aku jika terjadi sesuatu, okay?" Perkataan Sasuke membuat Naruto tidak tahan untuk tersenyum hangat. Ah, Sasuke itu baik, hanya saja memang sifat Uchiha-nya memang seperti itu.

"Tentu saja, Sasuke." Ujar Naruto tanpa ragu.

"Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa." Naruto melepas seatbelt dengan cepat seraya membuka pintu mobil. Pemuda pirang itu sekilas melambaikan tangannya pada Sasuke, lalu sedikit berlari memasuki gedung.

Sasuke melajukan mobilnya setelah memastikan Naruto masuk. Ia menghela nafas pelan. Pemuda pirang itu selain suka berbicara sendiri, wajahnya juga ekspresif. Sangat berlawanan sekali dengan muka temboknya. Yeah, Sasuke mengakui itu.

Tapi dia 'kan tampan.

Dan detik itu, Sasuke terkekeh.

.

Langkah panjangnya menyusuri jalanan kota di malam hari. Naruto mengeratkan mantelnya yang melekat pada tubuhnya. Bersama orang-orang yang berlalu lalang, Naruto berjalan sendirian untuk bertemu seorang senpai yang beberapa hari lalu menelpon.

"Hey, Naruto!"

Matanya beralih saat mendengar seseorang memanggil namanya. Wanita bersurai merah muda tengah berlari kecil melawan arah menuju dirinya seraya melambaikan tangan.

"Sakura-chan!" Sahut Naruto tersenyum tipis.

"Aish, adik kelasku yang imut ini!" Ujar Sakura terdengar gemas seraya mencubit pipi Naruto. Sedangkan pemuda itu meringis sambil berusaha untuk melepaskan diri.

"Ayo!" Perintah wanita yang lebih tua dua tahun diatasnya itu seraya merangkul lengan pemuda pirang tersebut. Naruto melempar senyum kecil. Namun terbesit sebuah pikiran yang mengingatkan percakapannya dengan sang kakak siang tadi di kantor. Saat setelah dirinya pulang dari makan siang bersama pria raven tersebut.

Flashback On

Naruto berjalan menuju pintu mahoni berukuran rumit yang merupakan ruangan Kyuubi. Tangannya yang hendak memutar knop pintu tergantung di udara saat mendengar suara pecahan benda berasal dari dalam. Ia sedikit terkejut.

Pasti yang tadi, Batin Naruto.

Dengan segenap keberanian, ia memutar knop pintu sangat pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Dilihatnya sang kakak tengah duduk membelakangi dirinya di kursi kebesarannya. Mata Naruto menangkap sebuah vas bunga yang tinggal menjadi serpihan kaca tak terbentuk bersama bunganya yang rusak.

Naruto berjalan pelan menuju Kyuubi, berniat untuk melihat keadaannya. Sebenarnya ia merasa ngeri jika sudah seperti ini. Tabiat beringas wanita bersurai oranye tersebut bisa semakin menjadi-jadi.

Kyuubi tengah menyangga sebelah pipinya dengan buku jari tangannya, menatap sinis pada hamparan kota di luar sana lewat sekat kaca.

"Kau melihatnya 'kan." Ujar Kyuubi masih belum merubah posisinya. Sedangkan Naruto yang berdiri tepat di sampingnya bergumam mengiyakan.

"Lelaki itu orang Jerman, kami berkenalan saat di pameran buku Frankfurt, mengenal satu sama lain lebih dalam dan berkencan." Ujar Kyuubi mengangkat bahunya acuh.

"Lalu?" Sahut Naruto, mengernyit.

Selama ini Kyuubi tidak pernah bercerita menyangkut kisah percintaannya pada Naruto. Paling tidak wanita itu hanya menyinggungnya sambil membuat lelucon yang terdengar payah.

"Kau tahu siklus pacaran? Pendekatan, menjadi kekasih yang seakan saling mencintai, lalu berakhir." Jelas Kyuubi datar terkesan dingin.

"Saat itu kami memiliki janji makan malam. Mungkin bisa dibilang kami sedang menjalani sebuah hubungan waktu itu." Ucap Kyuubi mulai bercerita. Pandangannya menerawang lurus.

"Kau tahu, kupikir dia lelaki yang bijak. Namun kepercayaanku padanya pupus hanya karena melihat itu." Kyuubi melempar ponsel hitamnya ke arah meja kerja. Naruto yang melihatnya meraih benda tersebut, lalu menekannya.

Seketika iris sapphire-nya melebar. Seorang pria yang tengah bercumbu dengan seorang wanita.

"Aku memotretnya." Ujar Kyuubi pendek.

Naruto masih terkejut. Matanya melihat fokus salah satu objek dalam foto yang di potret kakaknya itu. Masalahnya adalah, kenapa wanita tersebut mirip seseorang yang ia kenal?

Jemari Naruto bergerak di permukaan layar ponsel untuk memperbesar gambar. Tidak. Perasaannya yakin jika matanya tidak salah lihat dan pikirannya berkata, jika wanita yang di dalam foto itu memang benar.

Haruno Sakura.

Flashback Off

.

Sasuke adalah seorang workaholic. Semua orang tahu itu. Hidupnya selalu menekankan pada pekerjaan. Tiada hari tanpa bekerja. Tidak aneh jika jam pulangnya selalu larut malam.

Sasuke menyetir mobilnya tanpa supir malam ini. Lagipula ia akan ke apartmen-nya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebenarnya pria raven itu jarang merasa kantuk dalam perjalanan jika mengingat dirinya sering insomnia.

Exelero berkilat hitam akibat pantulan cahaya lampu dari toko-toko yang buka di malam hari melambatkan laju mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah. Iris onyx tajam miliknya memerhatikan satu per satu orang-orang yang berlalu lalang untuk menyebrang.

Namun mata elangnya memicing saat melihat sosok familiar berada pada kerumunan orang menyebrang. Yang membuatnya mengernyit adalah saat ia melihat sosok pirang tersebut tidak berjalan sendiri, melainkan seorang wanita yang terlihat bergelayut di lengannya.

Seketika manik kelamnya mendingin. Rahang tajamnya mengeras. Ah, instingnya mengatakan jika si pirang itu sedang berjalan bersama si jalang. Tanpa sadar Sasuke meremas kuat stir kemudinya.

"Brengsek."

.

To be continued.


Halo readers! Lama tak jumpa dengan kalian yang membaca fic saya ini! :)

Saya tahu jika fic ini terlalu lama update dan baru kesampaian di penghujung akhir tahun ini. Saya tahu jika cerita saya banyak kekurangan baik dari segi penulisan atau alurnya yang mungkin terlalu lambat atau kecepatan dan saya minta maaf mueheheh~

Saya berharap jika readers akan terhibur dengan karya yang telah saya buat. Jikapun merasa tidak atau kurang maafkan saya, karena tidak ada manusia yang sempurna hikseu hikseu

Saya usahakan untuk update chapter baru untuk cerita yang lain juga, semoga :) itupun jika ada yang menunggu fic saya wkwkwk #plak

Terima kasih untuk readers yang telah membaca cerita saya, I appreciate that! dan saya juga mengharapkan berbagai macam review yang memberi dukungan dan saran apapun, kecuali jika yang memang tidak berbobot.

Salam hangat dari author :)