Cold Heart
Story zhaErza
Naruto Masashi Kishimoto
Chapter 1
Hyuuga Neji, Sakit?
o
o
o
Musim semi di bulan Maret, itu artinya satu tahun pernikahan Naruto dan Hinata dan lima tahun sejak kematian Uchiha Sasuke. Menatap semerbak sakura yang bermekaran di sepanjang taman Konoha, membuat perasaan Haruno Sakura tidak juga membaik. Kehilangan membekas tajam, walau coba ia tutupi, tetapi orang-orang terdekat bisa menyadari kilau menghilang yang tak juga terobati.
Mengehela napas, Sakura pun melangkahkan kaki menuju rumah sakit tempatnya bertugas, kali ini jadwalnya dari pagi hingg sore hari.
Beberapa teman-temannya telah menyusul pasangan Naruto dan Hinata, seperti Sai dan Ino yang telah menikah empat bulan lalu, kemudian Shikamaru dan Temari sekita sebulan lalu dan tidak ketinggalan pendekatan antara Chouji dan Karui juga pasangan spektakuler Kiba dan si gadis kusing yang lagi hangat diperbincangan oleh kalangan rookie sembilan. Melihat perkembangan percintaan teman-temannya yang berhasil, membuat Sakura menghela lega.
Tatapannya kini mendadak sayu, berpikir bagaimana dengan dirinya sendiri. Semenjak kematian sosok yang dicinta, Sakura merasa dirinya hampa. Menolak segala lamaran yang datang dan terlihat lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan bahkan setelah lima tahun berlalu, keinginannya untuk tetap menutup hati tidaklah goyah. Ia bahkan berniat mengikuti jejak sang Guru—Senju Tsunade. Mengabdikan diri untuk desanya dan menjadi kepala rumah sakit untuk layanan anak-anak adalah tugas mulia yang membuatnya selalu bisa mengalihkan pikiran dari bayang-bayang kelam di masa lalu.
Memasuki gedung, Sakura pun menyapa para suster dan resepsionis, kemudian ke ruangannya. Memeriksa beberapa laporan para pasien yang akan dia tangani nanti. Hari ini ada satu oprasi saja dan akan dilakukan beberapa jam lagi.
Matahari telah berubah menjadi oranye, baru saja melepas pakaian hijau, sarung tangan dan masker, Sakura pun dikejutkan dengan kedatangan Naruto secara tiba-tiba. Lelaki pirang maniak ramen itu berwajah cemas dan menariknya untuk bicara. Meminta Sakura untuk ke kediaman Hyuuga karena kakak sepupu dari istrinya membutuhkan perawatan seorang ninja medis terbaik.
Walau merasa agak lelah karena chakranya terkuras, Sakura pun dengan sigap menerima permintaan mantan sahabat setimnya dulu. Mendengar cerita Naruto membuatnya merasa harus cepat melihat keadaan Hyuuga Neji, apalagi lelaki itu mengatakan bahwa kakak sepupu Hinata telah tidak sadarkan diri.
Ia bertanya apa penyebab hal itu terjadi dan apakah sakit Neji separah itu? Lantas kenapa tidak langsung membawa ke rumah sakit agar dirawat lebih insentif. Namun, Naruto hanya mengatakan sebaiknya Sakura bergegas untuk menyaksikannya sendiri.
Mereka pun mampir sebentar ke ruangannya dan membawa beberapa peralatan medis untuk menunjang pemeriksaan.
Rambut pendek Sakura tertiup angin ketika ia melompati atap-atap rumah warga agar lebih cepat sampai ke tujuan, di depannya Naruto memimpin perjalanan ini, hingga sampailah mereka di distrik Hyuuga. Mereka menuju ke kediaman Souke—kalangan atas, dan memasuki ke tempat yang tak pernah Sakura tahu, selama ini ia hanya pernah berkunjung beberapa kali. Dan yang ditapakinya dahulu adalah rumah inti kepala Klan dari orang tua Hinata.
"Ayo cepat, Sakura. Hinata sudah berada di bawah menemani Neji." Naruto menarik tangan Sakura saking tidak sabar, gadis itu sempat tercengang ketika mereka masuk ke ruangan rahasia, ruangan bawah tanah dan dijaga oleh beberapa pengawal. Gelap, pengap dan hanya diterangi nyala obor di dinding.
Ini lebih mirip seperti penjara bawah tanah, dan benar saja karena di sana terdapat sel-sel tahanan yang sepertinya tidak tepakai. Dari banyaknya sel, tidak ada satu pun orang yang mendekam. Namun, kenapa Naruto membawanya ke tempat seperti ini? Bukannya ia akan memeriksa Hyuuga Neji yang sakit? Apa jangan-jangan—ah, tidak mungkin. Hyuuga tidak sekejam itu, bukan?
Langkah kakinya terhenti, ia melihat beberapa pengawal berdiri di depan sebuah sel tanahan yang di dalamnya terdapat dua orang berjenis kelamin berbeda. Hinata dan Neji. Matanya melebar, kala melihat bagaimana mengenaskannya kondisi si Hyuuga Jenius itu, tengah dirantai dengan kedua tangan tengakat dan berposisi berlutut. Tidak memakai atasan, hanya celana hitam dibawah lutut yang dikenakan dan lebih parah lagi, seluruh tubuh terdapat bekas luka cambuk.
"A-apa-apaan i-ni?" Sakura seketika berbisik, tubuhnya terkaku sejenak dan ia bisa melihat Hinata yang sudah menangis menatapnya. Wanita yang telah menikah itu kini menghampiri Sakura dan menarik tangan gadis itu agar lekas memeriksa kakak sepupunya.
"Sakura-chan, kau datang. Cepatlah, tolong Neji-niisan."
Hanya anggukan kepala, kemudian ia mendekat dan berjongkok, melihat wajah pucat Neji dan memeriksa nadi dan suhu tubuhnya.
Wajah Neji tertunduk, rambut panjangnya yang indah kini kusam, sudah berapa lama lelaki itu berada di tempat ini? Dua hari? Tiga hari? Atau lebih?
"Naruto, aku akan menghentikan pendarahan pada luka-lukanya, jadi aku ingin kau mengambil sebaskom air hangat dan handuk. Dan Hinata, aku ingin kau membuatkan hidangan, sup kaldu dan bubur, kemudian teh dengan gula cukup banyak. Aku akan menyadarkannya dan dia harus diberi asupan agar tak kekurangan nutrisi dan dehidrasi."
Sakura mengatakan semua itu sambil mengeluarkan cakranya, menghentikan pendarahan pada luka-luka sang Lelaki dan kemudian berkonsentrasi ketika Naruto dan Hinata pergi melakukan tugas mereka masing-masing. Di dalam benaknya, ia masih bingung apa yang terjadi hingga Neji dihukum seperti ini? Ia tahu Hyuuga adalah klan terpandang yang memiliki tradisi dan peraturan keluarga sendiri yang ketat, tetapi jika sampai hukuman seperti ini menimpa Neji, apakah artinya sang Lelaki melakukan kesalahan fatal?
Menghela napas, setelah selesai menghentikan pendarahan pada luka-luka tersebut, Sakura pun menyentuh dahi berlambang status Bunke Hyuuga dan mengalirkan cakra dari telapak tangannya. Beberapa saat kemudian, ia menarik tangannya memasang sarung tangan karet agar lebih higienis ketika membersihkan darah dan luka-luka Neji. Ketika mempersiapkan perban dan antiseptik, ia mendengera suara sang Lelaki yang sudah sadarkan diri.
"Sa-kura, kah?" Neji bersuara pelan hingga lebih mirip bisikan. Mata lelaki itu terbuka sayu dan melirik Sakura yang berada di sampingnya. "Apakah, Hiashi-sama, telah ... mengizinkan?"
Mengerutkan alis, Sakura pun berbicara bahwa ia berada di sini karena dibawa oleh Naruto, pemuda maniak ramen itu mengatakan bahwa Neji membutuhkan bantuannya dan hanya dirinya lah yang paling bisa dipercaya mereka—Hinata dan Naruto.
Seperti yang diperintahkan Sakura, Naruto datang membawa sebaskom air hangat dan beberapa handuk kecil kering. Ia pun menaruh baskom itu dan memberikan handuk kepada Sakura. Sang Gadis kemudian menyerukan agar borgol yang membelenggu tubuh Neji dilepaskan supaya dirinya bisa lebih leluasa membersihkan luka dan membalutnya nanti.
"Apakah ... Hiashi-sama sudah mengizinkan?" kembali suara serak Neji menginterupsi, Naruto pun menganggukkan kepala, dan mulai melepaskan borgol, dari arah belakang Hinata datang dengan membawa teh hangat.
Tubuh Neji diangkat Naruto atas perintah Sakura untuk meluruskan kaki sang Lelaki. Bahu itu dipegangi pemuda maniak ramen agar bisa duduk tegak, kemudian Hinata memberikan teh kepada Sakura, membiarkan gadis itu untuk membantu kakak sepupunya menghilangkan dahaga. Setelahnya, Hinata harus kembali ke dapur untuk membuat sup dan bubur seperti yang disarankan Sakura tadi.
"Sedikit demi sedikit, Neji-san." Teh di gelas tembikar tinggal setengah, Sakura memberikan gelas kepada Naruto agar kembali diletakkan di nampan. Setelahnya, Sakura pun mengambil handuk dan mulai mencelupkannya kepada air hangat.
"Mungkin ini akan membuatmu tak nyaman, Neji-san, tetapi setelahnya kau akan merasa lebih baik." Setelah memeras handuk, dengan perlahan Sakura mulai membersihkan darah dan luka-luka pada tubuh Neji. Lelaki itu tidak bersuara, tetapi alisnya berkerut karena rasa tak nyaman disebabkan sengatan sakit yang mulai menjadi.
Wajah Neji benar-benar letih, kantung mata menghiasi dengan kulit pucat dan sorot mata sendu. Melihat air yang telah berubah warna, maka Sakura pun menyerukan agar Naruto kembali mengambil air baru, sementara itu tubuh Neji sekarang dipegangi oleh Sakura.
"Setelah lukamu dibalut, kau harus makan, Neji-san. Jadi, pertahankan kesadaranmu atau kau ingin memejamkan mata sejenak, nanti bisa aku bangunkan?" rambut Neji sejak tadi sudah diikat seadanya oleh Sakura sebelum ia memulai membersihkan luka, walau luka Neji telah mereka tangani, tetapi tubuh lelaki ini memang begitu kotor, terutama rambut yang kusam dan banyak terdapat darah kering sehingga menjadikan surai itu lengket dan kaku.
Kelopak mata Neji terpejam, napas lelaki itu teratur sekarang, beristirahat walau sejenak meski keadaannya membuatnya tak nyaman, tetapi ia benar-benar lelah dengan kondisi yang ia hadapi.
Naruto yang baru kembali terkejut, mengira kakak sepupu iparnya itu tidak sadarkan diri, sebelum kemudian ia mendengar penjelasan Sakura dan membuatnya lega. Kembali, setelah luka itu dibersihkan, maka Sakura melepaskan sarung tangannya yang penuh dengan bekas darah, memberikan luka-luka itu salep khusus untuk menyembuhkan luka luar dan membalutnya dengan perban.
Selesai, Sakura menggunakan tangannya untuk memeriksa tubuh Neji yang lainnya dengan cakra, mencari tahu adakah luka lainnya yang diderita lelaki itu.
"Sudah tak apa, bersyukur Neji-san hanya luka luar, tetapi karena cambukan terus menerus membuat darahnya cukup banyak hilang. Tapi, sekarang sudah tidak masalah Naruto, tubuhnya sudah stabil karena pendarahan sudah dihentikan." Ia berhenti sejenak dan melihat Hinata membawa baki dengan dua mangkuk yang mengeluarkan harum menawan, mengepulkan asap. Wanita yang dulunya adalah Hyuuga Souke itu berlutut dan meletakkan baki di atas lantai. "Tapi, akan lebih baik setelah makan nanti Neji-san beristirahan di tempat bersih, Naruto, Hinata."
Kedua orang yang adalah pasangan suami-istri itu saling memandang, Hinata langsung beraut sedih karena ini di luar kuasanya, begitu pula dengan Naruto.
"Neji-niisan, tidak boleh meninggalkan tempat ini sampai lusa," bisik wanita yang sekarang bemarga Uzumaki.
Menghela napas, Sakura mencoba mengerti walau ia kesal bukan main, ia tidak tahu kesalahan macam apa yang telah dibuat Neji hingga harus berakhir mengenaskan dengan hukuman seperti ini. Ia tidak mengira Hyuuga sangat ketat kepada bawahan mereka, bukan hanya itu, dahulu ia juga tahu tubuh Hinata babak belur karena harus menjalankan ritual latihan entah apa hingga Hinata selalu meringis kesakitan. Berada di dalam keluarga bangsawan tidaklah mudah.
"Aku mengerti, tetapi jika dibiarkan seperti ini keadaannya akan memburuk, Naruto. Sudahlah, sebaiknya Neji-san harus mengisi perutnya terlebih dahulu."
Dengan perlahan ia membangunkan Hyuuga Neji dengan menepuk pelan pipi lelaki itu, beberapa tepukan, kelopak mata Neji bergerak dan lelaki itu berkedip. Terlihat sekali sang Hyuuga kesusahan untuk bangun karena keletihan yang dirasakan, bisa ia lihat sekarang alis hitam itu mengerut dalam untuk mempertahankan kesadarannya karena rasa kantuk yang mendera.
"Kau harus makan, Neji-san, setelah ini kau bisa kembali beristirahat."
Hanya gumanan yang terdengar, Hinata pun mendekat dan memberikan mangkuk berisi sup dan bubur kepada Sakura, dan gadis bersambut merah muda itu mulai mengambil sendok dan memberikan sang Lelaki hidangan hangat yang tercium lezat. Sementara Sakura sedang menyuapi, Naruto sedang menahan tubuh Neji, Hinata pun beralih untuk memberisihkan baskom air dan handuk yang bernoda darah, ia mengangkat kemudian membawanya.
Hidangan itu hanya disantap setengahnya saja, setelahnya kepala berambut cokelat gelap itu menggeleng pelan dan Sakura pun tidak ingin memaksakan karena setidaknya perut Neji sudah terisi.
"Neji, kenapa tidak kau habiskan?" Naruto memandang tak percaya, baginya kalau bisa dihabiskan pasti tenaga lelaki ini akan pulih.
"Tidak apa, Naruto. Lebih baik tidak dipaksakan. Dan dua hari setelah ini aku harap Neji-san ke rumah sakit agar perbannya bisa diganti."
Menganggukkan kepala, Neji dan Naruto pun mengerti, tetapi ia hanya berharap agar keadaan lelaki Hyuuga itu tidak kembali memburuk karena tidak boleh keluar dari tempat ini. Bagaimanapun, Neji sedang tidak sehat, dan beristirahat di sel penjara yang jauh dari kata layat tidaklah pantas bagi orang yang terluka apalagi dengan kedua tangan dan kaki dirantai dan harus berlutut seperti tadi.
"Naruto, kuharap Neji-san tidak dirantai lagi, bisa-bisa peredaran darahnya tidak lancar."
Laki-laki yang masih dipegangi Naruto hanya diam, setelahnya Sakura mengambil air dan memberikan lelaki itu obat untuk meredakan rasa sakit.
"Kalau begitu, aku harus kembali. Semoga lekas sembuh, Neji-san, dan Naruto, kau bisa panggil aku jika terjadi sesuatu kepada Neji-san."
o
o
o
Bersambung
Erza Note:
Yeeee sudah updateeee. HUhuhu chapter pertama sengaja dibuat gini waahhha.
Ahaha ditunggu komentarnya, maaf Erza gak bisa balas komen karena up dari hape huhu.
