Cold Heart
Story zhaErza
Naruto Masashi Kishimoto
Chapter V
Lamaran
o
o
o
Pagi hari, Tetua tiba-tiba saja memanggil Hyuuga Neji dari kediaman Bunke untuk memui dua orang paling berpengaruh di distrik ini. Mendapatkan informasi tersebut, tentu saja dirinya langsung melangkah ke tempat pertemuan yang dijanjikan. Ia melihat seorang bawahan lainnya dan menganggukkan kepala. Membimbingnya untuk masuk dan membukakan pintu.
Di dalam sana, mata perak sang Lelaki mendapati Tetua dan Hiashi sedang duduk, ditengah-tengah mereka ada meja rendah yang sudah tersedia teh dan pendampingnya. Menatap sang Tetua, Neji pun membungkuk memberi hormat. Ia mengangkat kepalanya ketika mendengar Tetua menyerukan agar dirinya mendekat dan duduk di hadapan mereka.
Neji mengucapkan terimakasih ketika Hiashi menuangkan teh dan memberinya pendamping teh.
Awalnya ia sama sekali tidak tahu untuk apa dirinya dipanggil secara pribadi seperti ini, apalagi bukan hanya ayah dari Hinata saja yang berada di tempat ini, bahkan sang Tetua pun ada di hadapannya.
Sang Tetua menanyakan usianya, dan ia pun menjawab. Ketika sang Tetua menjelaskan prihal pernikahan Hinata dan Naruto, barulah Neji memahami maksud dari pertemuan ini. Mereka menginginkan dirinya untuk menikah, dengan calon yang sudah ditentukan juga. Itu berarti, rencana pernikahan ini sudah dipikirkan oleh dua orang berpengaruh itu masak-masak. Namun, pupil mata Neji yang perak melebar beberapa saaat karena mendengar nama dari calon istri yang akan dinikahinya.
Haruno Sakura. Dan malam ini, mereka akan melakukan lamaran kepada keluarga gadis itu.
Ia berpikir, apakah nanti lamaran ini akan diterima? Mungkin kedua orang tua Sakura menginginkan pernikahan ini, tetapi bagaimana dengan gadis itu?
Hiashi menyadari diamnya Neji, bertanda sang Lelaki sedang menganalisis sesuatu, mungkin tentang calon istri yang tidak disangka-sangka.
Menjelaskan, Hiashi pun menyerukan nama sang keponakan.
"Neji, kuharap kau menerima hal ini."
Neji menganggukkan kepala.
"Saya mematuhinya, Hiashi-sama. Namun, Haruno Sakura, dia memiliki orang yang dicintainya." Walau hal ini sebenarnya tidak dipantaskan untuk diperbincangkan, apalagi mengenai perasaan seorang gadis, tetap saja Neji tidak bisa tenang. Ia sangat tahu hati sang Haruno telah lama membeku karena kehilangan orang yang paling dicintai.
Menghela napas, sekarang giliran Tetua Hyuuga yang menjelaskan kepada satu-satunya pria muda di ruangan ini.
"Haruno Sakura memang bukan berasal dari keluarga bangsawan, bahkan gadis itu tidak memiliki Kekke Genkai. Namun, dia adalah calon pendampingmu yang paling tepat, Neji. Haruno Sakura merupakan murid dari Hokage Kelima, Kunoichi terhebat di desa, dan ninja medis yang bisa menandingi Hokage kelima. Selain itu, kalian juga adalah rekan yang sudah saling mengenal."
"Kami meyakini, kedua orang tua Haruno pasti menyetujui lamaran ini, Neji. Kau adalah seorang Hyuuga, siapa yang tidak ingin menjadikanmu sebagai menantu mereka. Apalagi reputasimu yang benar-benar luar biasa. Kau salah satu ninja terhebat dan sang Jenius, Neji. Jadi, jika pun Haruno Sakura tidak menerima pernikahan ini, sebagai calon suaminya, aku ingin kau membujuknya, Neji."
Laki-laki muda itu menganggukkan kepala, kemudian memohon diri karena pembicaraan telah selesai, ditambah lagi sang Tetua dan Hiashi akan mempersiapkan lamaran nanti malam.
Keluar dari ruangan, Neji berhenti sejenak dan menatap awan, menyaksikan burung-burung yang berterbangan. Sekali lagi, takdirnya sebagai Bunke Hyuuga telah diatur, sepeninggalan orang tuanya, Hiashi lah yang menjadi pengawasa Neji. Memberinya nasihat dan menggantikan kewajiban ayahnya Hizashi dalam hal-hal semacam ini.
Ia sendiri tidak tahu apakah perjodohannya adalah yang terbaik atau tidak? Benar yang dikatakan ayah dan kakek Hinata, tentu orang tua Sakura tidak akan menolak lamaran ini, tetapi Neji sangat tidak yakin Sakura akan menerimanya.
Sakura bahkan tidak mau dirinya dianggap sebagai kekasih oleh keluarga gadis itu, ini semua membuktikan bahwa Sakura tidak mau membuka hati untuk urusan percintaan ataupun ikatan suci. Menarik napas, ia memutuskan untuk mencari gadis yang akan dipersuntingnya.
o
o
o
Menggunakan Byakugan, Neji tidak menemukan Sakura di rumah sakit ataupun di kediaman Haruno. Bahkan, ketika ia memutuskan untuk bertanya kepada Ino, gadis itu mengatakan bahwa Sakura sedang menjalankan misi tunggal ke luar desa dari pagi tadi. Tentu saja mendengarnya membuat Neji terdiam sejenak, jangan-jangan Tetua dan ayah Hinata telah mengatahui hal ini, sehingga memutuskan untuk melakukan lamaran nanti malam.
"Kenapa, Neji? Ada yang ingin disampaikan ketika nanti aku bertemu dengan Sakura?" Ino yang sedang menjaga toko bunganya pun bertanya.
Menggeleng, Neji malah berpamit diri sambil mengucapkan terimakasih. Kemudian menghilang bersama angin.
Kalau seperti ini, maka sudah dipastikan tidak ada jalan untuk menolak pernikahan ini. Tetua dan Paman Hiashi telah merencanakan teramat matang, ditambah dengan ketidakhadiran Sakura nanti, orang tua gadis itu pasti menjadi satu-satunya syarat untuk menyetujui lamaran ini. Dan tinggalan mereka yang akan menetapkan tanggal pernikahan, undangan disebar dan lainnya. Mungkin, ketika kembali ke desa, Sakura akan murka bukan main.
Kali ini ia pergi ke kantor Hokage, menjumpai Hatake Kakashi yang masih disibukkan dengan laporan yang menumpuk di meja ataupun lantai.
"Neji, apa kau ingin mengambil misi lagi?" Hatake Kakashi berwajah malas, bosan dengan kertas-kertas yang terus dihadapinya. Kemudian ia duduk bersandar dan mengambil buku kesayangannya dari balik saku. Membacanya sambil sesekali menatap sang Hyuuga.
"Tidak, Rokudaime-sama. Saya hanya ingin bertanya, berapa lama Sakura akan menjalankan misi tunggalnya."
"Mungkin lima hari, paling lama satu minggu. Kau ada keperluan dengannya? Mau kusampaikan sesuatu ketika dia kembali nanti?"
"Tidak, hanya itu yang ingin saya tahu, Rokudaime-sama. Terimakasih, saya mohon diri."
"Ah, ya. Lalu, bisakan kau memanggilku tanpa embel-embel 'sama'?" sekarang Hyuuga Neji tersenyum, kemudian menundukkan kepala hormat sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
Terlalu lama, Sakura menjalankan misi dan tidak akan sempat bagi mereka untuk mendiskusikan hal ini. Ia yakin ketika nanti mereka bertemu setelah lamaran ini disetujui dan kemungkinan undangan telah disebar, maka gadis itu akan mendatanginya dengan keadaan murka. Hari telah beranjak sore, maka ia pun bersegera untuk kembali ke distrik Hyuuga.
o
o
o
Seperti yang telah diberitahukan, malam harinya mereka datang ke rumah keluar Haruno, untuk melakukan lamaran. Namun, tidak Neji sangka karena tuan rumah pun telah bersiap-siap, memakai pakaian lebih rapi dan hidangan yang berada di atas meja. Sepertinya memang hal ini telah direncanakan oleh kedua belah pihak.
"Neji dan Sakura juga lebih dekat dari yang kita kira, mereka sering terlihat pergi bersama-sama. Tapi, keduanya tidak ada yang mengakui kalau mereka tengah berkencan." Mebuki mengatakan hal sedemikian sambil tertawa kecil, yang juga disauti oleh Hiashi, lelaki itu mengatakan bersyukur karena hubungan kedua calon sangatlah baik.
"Kalau begitu, karena pihak calon istri tidak berada di sini, maka orang tua lah yang akan menjadi pengganti."
"Tentu saja ini adalah salah satu kehormatan bagi kami, Hyuuga-san. Saya sangat bersyukur mendapatkan menantu seperti Nak Neji."
Obrolan berlanjut, mulai dari perencanaan pernikahan yang akan menggundang orang-orang terdekat, hingga waktu yang digadang semakin cepat, semakin baik. Mereka menyantap hidangan makan malam sambil menyarankan tanggal yang tepat. Dan dipilihlah tanggal pernikahan yaitu dua minggu dari sekarang, sebelum ulang tahun Sakura.
Acara berlangsung dengan baik dan sesuai keinginan, walau Neji merasa perasaannya benar-benar sedang tidak tenang. Ia memikirkan Sakura, gadis itu pasti kecewa karena diperlakukan seperti ini oleh kedua orang tuannya. Mungkin, ia mengerti yang dilakukan orang tua Sakura karena ingin gadis itu mencairkan hatinya yang beku. Dengan pernikahan, perlahan keluarga Sakura dan keluarganya yakin gadis itu akan mendapatkan cinta baru.
Ia juga mengingat perkataan sang Tetua. Kalau sebenarnya sifat Neji dan Sakura yang bertentangan adalah sebuah kesempurnaan dalam hubungan. Saling melengkapi, Neji yang kaku dan Sakura yang ceria. Neji yang tidak banyak berbicara dan Sakura yang bisa tidak berhenti untuk bebicara. Neji adalah bulan dan Sakura adalah matahari. Namun, benarkan sesederhana itu? Karena dalam pernikahan, dibutuhkan sebuah kerelaan dalam mengikat hubungan.
o
o
o
Dan seperti yang sang Lelaki duga, kepulangan Sakura setelah seminggu menjalankan misi pun, menjadi polemik bagi mereka. Haruno Sakura ketika telah menyelesaikan misi menjalani harinya seperti biasa, ia bersama seorang Anbu dengan kode nama Hoshi berjalan bersama dan menuju ruangan Hokage untuk melaporkan keberhasilan misi. Kemudian, tiba-tiba mantan gurunya itu menginginkan agar Sakura tinggal karena ingin menyampaikan sesuatu.
"Neji mencarimu sepekan lalu, dia sampai menanyakan kapan kau akan pulang dari misi, Sakura."
"Ah, begitukan? Apakah ada yang penting?" Sakura mulai berpikir, jangan-jangan lelaki itu ingin mengucapkan terimakasih karena telah menyarankan sebuah kado yang cocok untuk Tenten.
"Sebaiknya kau temui saja dia." Menganggukkan kepala, Sakura pun berpamit diri sambil mengucapkan terimakasih.
Sebelum mencari Neji, Sakura ingin pulang dahulu untuk membersihkan dirinya dan membuat laporan misi. Ia sendiri cukup penasaran dengan apa yang akan dilakukan Neji sampai mendatanginya ke ruangan Hokage karena ingin mencarinya? Apa benar tentang ucapan terimakasih atau jangan bilang kakek dari Hinata sakit lagi dan membutuhkannya? Mengingat, Tetua Hyuuga itu tidak mau diajak untuk pergi ke rumah sakit.
Sakura mengeringkan rambutnya dan bersiap untuk turun dan makan siang. Di lihat Ayah dan Ibu sedang berada di dapur, seperti biasa. Ayahnya tengah membaca koran dan ibunya tengah memasak. Waw, hidangan sangat menyelerakan dan cukup banyak dan bermacam. Ada apa ini?
"Sepertinya akan ada yang spesial, Ibu? Wah, ini sih makan mewah."
Mebuki dan Kizashi tersenyum, mereka memulai makan dan sebelumnya sang Ibu telah mengatakan bahwa mereka akan memberikan sebuah kabar gembira kepada sang Gadis.
"Jangan bilang kalian ingin merayakan ulang tahunku, ahahaha?" Sakura menambah lauknya, ia teramat berselera sekarang.
"Akan lebih mewah daripada sekadar pesta ulang tahun, Saki." Ayahnya tiba-tiba menjelaskan dan membuat sebelah alis Sakura terangkat. Yang benar saja? Ia tidak tahu pesta macam apa yang akan disajikan ketika ulang tahunnya nanti di saat usianya sudah dua puluh dua tahun.
Dan Sakura benar-benar terkejut ketika selesai bersantap siang, ayah dan ibunya menjelaskan tentang pesta yang dimaksud. Awalnya, Sakura mengira bahwa kedua orang tuanya tengah bercanda. Ia tahu ayahnya ini sangat hobi membuat lelucon walau memang kebanyakan tidak lucu. Hingga sang Ibu menjelaskan bahwa seminggu lalu, keluarga Hyuuga datang untuk melamar Sakura. Mereka tentu menerima, undangan mungkin juga telah disebar, mereka hanya akan mengundang orang-orang terdekat saja.
Mencoba menjadi dewasa, Sakura yang teramat kesal dan marah pun bertanya secara baik-baik kepada kedua orang tuanya, tetapi tidak ada jawaban yang cocok untuk bisa nemerima pernikahan yang direncanakan dengan si Hyuuga. Malahan, kedua orang tuanya mengatakan bahwa menjadi menantu dari Hyuuga adalah sesuatu yang luar biasa. Lelaki itu teramat tampan dan terkenal jenius diangkatannya. Berperangai baik dan sopan, tidak kalah dari lelaki mana pun, contohnya seperti Uchiha Sasuke.
Merasa disinggung oleh sang Ibu, Sakura pun memutuskan untuk pergi karena sudah tak tahan lagi, ia tak ingin meneriaki orang tuanya dan tak ingin peduli dengan masalah ini, satu-satunya yang bisa membuatnya tenang adalah dengan duduk di bangku taman. Tempat pertama kali ia bertemu Sasuke, dan terakhir kali ia mencegat lelaki itu untuk tak pergi darinya.
Duduk sendirian di bangku taman membuatnya lebih bisa mengendalikan emosi, ia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Bagiamanapun ia hanya ingin menikah dengan orang yang dicintainya, walau ia tahu hal itu teramat tak mungkin, itu sebabnya ia berpegang teguh untuk mengikuti jejak gurunya dengan tidak menikah.
Matahari telah berubah mejadi oranye, Sakura tentu tidak ingin pulang untuk beberapa saat lagi karena ia yakin jika ia melakukannya maka akan menambah masalah dengan emosinya. Ia tidak ingin hal itu terjadi, jadi untuk sekarang ia akan mencari Hyuuga Neji dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia yakin lelaki itu juga tidak ingin menikah dengannya.
Sungguh adalah sebuah lelucon jika tiba-tiba Hyuuga Neji jatuh cinta dengannya hanya karena kedekatan mereka beberapa saat lalu. Lagi pula, mereka memang tidak sedang mengalami ketertarikan khusus.
Mereka bertemu, entah bagaimana berapa meter setelah beranjak dari bangku, ia melihat Hyuuga Neji berjalan mendekatinya. Awalnya ia jalan tanpa menegur bahkan menatap lelaki itu, kemudian ia sadar Neji mengikuti langkahnya dari belakang dan ia pun menuju taman yang telah sepi karena senja hari.
Mereka berada di bawah pohon untuk melindungi dari sengat sang Mentari yang menyilaukan meski telah menungkin di ufuk Barat. Neji bersandar di batang pohon, bersidekap dan Sakura berada di sampingnya menolehkan wajah ketika menatap sang Pria.
"Neji-san, langsung saja, kutahu di antara kita tak ada keinginan untuk menikah. Jika kita menyuarakannya bersama, kuyakin orang tuaku dan juga keluargamu akan mengerti."
Lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu menghela napas, matanya yang sejak tadi terpejam pun ditampakkan, memantulkan sinar senja yang oranye.
"Sakura, jika kau menolak ... aku tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, aku tidak bisa membantumu." Mata keperakan itu menatapnya, hanya lirikan dan membuat Sakura langsung mengerutkan alis.
Sang Gadis menegakkan tubuh, berpindah tempat agar berhadapan dengannya dan menjelaskan hal-hal yang membuatnya merasa tak perlu melakukan pernikahan ini. Segala macam hal lainnya, bahkan mengenai karakter mereka berdua yang sama sekali tidak cocok. Namun, ucapan pria itu membuatnya kesal bukan main, setelah segala penjelasannya, Neji malah mengulangi perkataan yang tadi sudah dikatakan lelaki itu.
"Aku tidak bisa membantumu, Sakura."
"Apa alasanmu? Hah?" Sakura menggeram.
"Tidak ada," ucap sang Lelaki datar.
"Hyuuga Neji, apa kau menganggap semua ini adalah lelucon?" telapak Sakura sudah mengepal, bersiap melayangkan tinju ke wajah mulus sang Lelaki. Sorot mata Sakura teramat tidak main-main, salah bicara, Neji yakin gadis itu akan meninjunya dengan kekuatan penuh.
Menggelengkan kepala, akhirnya setelah sekian lama, Neji menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di batang pohon, dan kini menatap kepada Sakura.
"Aku tidak sedang berada di posisi untuk menolak, Sakura. Tapi, jika kau tidak menerima semua ini, kau bebas mengikuti kehendakmu."
Mengembuskan napas kasar, gadis itu menarik kerah baju Neji dan mendorong pemuda berambut panjang tersebut ke batang pohon. Sekarang wajah Sakura mendongak karena perbedaan tinggi tubuh, mereka saling menatap dengan jarak teramat dekat.
"Apa karena kau adalah kelas bawah di Hyuuga, Neji-san. Kau bahkan tidak bisa menentukan takdirmu sendiri, Pecundang. Percuma saja Naruto pernah meninju wajahmu di ujian Chunin dulu, itu bahkan tak merubahmu sebagai pecundang yang menerima takdir tertindas. Terserah saja, aku tidak akan peduli dan menarik kata-kataku."
Sakura tahu, perkataan pasti benar-benar menyakiti Neji, tetapi ia tidak peduli. Bahkan orang tuanya berbuat seenaknya dan tidak peduli apa pembelaannya, dan ia juga melihat Neji tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka sama sekali tidak cocok. Memejamkan mata untuk meredakan amarah, Sakura pun pergi.
Saat itu, Hyuuga Neji hanya terdiam, memandangi punggung Sakura yang perlahan menghilang dari pandangannya, ia menghela napas dan menatap mentari senja yang indah, ia sangat ingin menjadi elang-elang yang bebas beterbangan di angkasa. Bebas, dan tak dikekang.
Perkataan Sakura terus terngiang di kepalanya, memang semengenaskan ini, semenyedihkan ini. Ya, Bunke Hyuuga dulunya hanyalah budak, tetapi sekarang mereka memiliki drajat sebagai kelas bawah. Walau para Souke telah berbaik hati, para pendahulu Bunke selalu menasihati agar mereka tidak melanggar aturan dan selalu patuh terhadap Souke mereka. Dahulu ia memang teramat membenci para klan atas, ia melampiaskan kekesalannya dengan menyiksa Hinata di pertandingan Ujian Chunin. Menyalahkan gadis itu atas meninggalnya sang Ayah, tetapi tentu saja setelah Naruto memberinya nasihat, ia sadar dan menerima takdirnya sebagai Bunke dan akan menjaga Souke-nya.
Ia termasuk diistimewakan oleh Hyuuga Hiashi, ia memimpin perang besar terdahulu walau pendahulu Bunke tidak menerima hal itu, tetapi Hiashi tetap menginginkan Neji, sebab dia adalah salah satu Hyuuga jenius dan teramat bisa diandalkan. Dan sekarang, kembali, Tetua dan Hiashi menginginkan sesuatu darinya, ini adalah salah satu keistimewaan lainnya karena mereka orang paling berpengaru sampai memikirkan pernikahannya.
o
o
o
Esok hari, berita pernikahan Sakura telah menyebar nyaris ke seluruh orang-orang yang dikenalnya. Semuanya dari mulut ke mulut menceritahan hal yang sama, hingga siapa pun telah mengetahuinya, baik di jajaran ninja, bahkan pasien dan para juniornya. Tiada yang tidak mengenal Sakura dan Hyuuga Neji. Laki-laki itu pun sama terkenalnya, seorang lelaki jenius yang telah menjadi Jounin semenjak remaja. Mereka bilang dia tampan, keren dan misterius karena jarang berbicara.
Beberapa perawat bahkan pernah mengatakan, bahwa Neji dan dirinya sangat cocok, tentu saja Sakura yang sayup-sayup mendengarkan merasa tak mengerti. Entah dari mana orang-orang itu berspekulasi, yang jelas pernikahan ini harus dihentikan olehnya. Ya, jika Neji tidak bisa berbuat apa-apa karena sifat pengecut lelaki itu, maka ia lah yang akan mengurusnya.
Naasnya, sahabatnya pun mendukung pernikahan mereka. Bahkan Ino, Hatake Kakashi, hingga Tsunade dan Shizune. Yang paling tidak ia percayai adalah wanita Yamanaka itu, gadis itu teramat mengetahu perasaannya dan gadis itu juga mendukungnya. Kontan saja ia benar-benar kecewa.
"Sakura, tidak ada salahnya menerima semua ini. Mungkin dengan pernikahan ini, akan membuatmu bahagia." Wanita berambut pirang itu berkata, dan Sakura langsung menatap tajam dan tak suka.
"Tidak dengan jalan pernikahan, Ino. Semua ini bukanlah lelucon dan permainan sekali coba? Ino, aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai dan aku sama sekali tidak memikirkan Hyuuga Neji dalam benakku."
"Sakura, percayalah padaku, Neji adalah laki-laki yang paling tepat dan cocok."
"Kau sama saja seperti Ibu, Ino. Dan semua orang." Sakura menarik napas, kemudian ia merasakan kedua bahunya dicengkeram Ino, tidak terlalu kuat, dengan mata yang menatapnya yakin.
"Karena itu memanglah fakta, Sakura. Neji berkebalikan dengan sifatmu dan itu akan membuat kalian saling melengkapi. Ditambah lagi, dia mirip dengan Uchiha Sasuke secara karakter."
Menghela napas, Sakura menggelengkan kepala.
"Kau berlebihan. Neji sama sekali tidak mirip dengan Sasuke-kun. Sudahlah, Ino. Ini tidak akan membantuku. Lebih baik aku pulang, terimakasih atas waktunya. Setidaknya aku agak lega telah mencurahkan dan berdebat dengamu, Pig." Gadis itu tersenyum, sarat akan rasa lelah dan kesedihan. Melihatnya membuat Ino merasa khawatir, dan miris. Sahabatnya, masih terjebak di cinta masa lalu.
Gadis itu keluar dari toko bunga, kemudian Ino yang menatapnya pun menggumamkan sesuatu.
"Sudah lima tahun, ya?" dilihat jarinya yang sudah terlingkari cincin, ia berharap Neji memanglah orang yang tepat yang bisa memuka hati Sakura. Walau ia yakin, laki-laki itu sangat kaku dalam hal percintaan.
Lima hari menjelang pernikahan, Neji dan Sakura tidak diizinkan untuk mengambil misi. Segala cara telah Sakura lakukan hingga gadis itu bertengkar hebat dengan ibunya, tetapi ia sangat tahu bahwa Mebuki adalah wanita yang sama keras kepala dengan dirinya. Puncaknya, Sakura merasa hancur ketika melihat wanita yang telah melahirkan itu menangis di hadapannya, menyesalkan nasib yang telah menimpa putri semata wayang yang mereka punya. Melihat hal itu, Sakura terdiam, menundukkan kepala dan meneteskan air mata.
Pagi hari ketika tidak melakukan misi, rutin bagi Neji untuk berlatih di lapangan yang biasa mereka gunakan atau kelompok lain gunakan. Melakukan pemanasan, ia pun mulai menggerakkan otot-ototnya untuk membentuk jurus-jurus klan Hyuuga. Urat-urat pada pelipisnya bermunculan, ketika Byakugan diaktifnya. Tetap menggerakkan tubuh ketika beberapa rekannya mulai berdatangan, Tenten yang tiba terlebih dahulu, kemudian Lee.
Menarik napas, Neji mengembuskan dengan perlahan ketika telah selesai berlatih. Pun dengan Tenten yang sekarang terlihat tengah duduk dan meneguk minumannya, sedangkan Lee, pemuda hijau itu masih asik melakukan pust up.
Tenten mendekat, gadis itu baru saja pulang dari misi kemarin sore, lalu memberikannya air yang baru saja dibeli dari toko.
"Aku membelinya sebelum datang, untuk Lee juga." Cengiran mewarnai wajah gadis bercepol itu.
"Ah, terimaksih banyak, Tenten." Si gadis terlihat mengambil duduk beberapa langkah di depan Neji. Untuk beberapa saat, mereka memerhatikan Lee yang tenaganya belum terkuras juga. Ya, satu-satunya tenanga Lee bersumber dari semangat masa muda lelaki itu.
"Aku dengar kau akan menikah dengan Sakura, apa itu benar? Aku baru mengetahuinya ketika kembali ke desa, semua shinobi membicarakan kalian."
Anggukan terlihat, Neji mengusap bibirnya dengan ibu jari.
"Aa, lima hari lagi upacara akan diadakan."
Tenten tediam, sorot matanya berubah, cukup tak percaya dengan semua ini. Karena Neji, bukanlah orang yang gampang memiliki perasaan kepada seorang gadis, laki-laki itu terlalu kaku.
"Apa kalian dijodohkan, Neji?"
"Ya, Tetua dan Hiashi-sama yang menjodohkanku dengan Sakura."
"Dan kau menerimanya begitu saja, padahal kalian tidak memiliki perasaan apa-apa?" gadis itu menyeletuk, tidak percaya bahwa Neji mengindahkan keinginan tetua mereka.
Sang laki-laki meletakkan air minumnya, kemudian menghela napas dan menatap Tenten yang duduk beberapa langkah di hadapannya.
"Tenten, aku tahu kita adalah rekan dan teman. Tapi, ini adalah urusanku dan keluargaku. Aku menerima pernikahan ini, itu artinya aku telah memikirkannya masak-masak." Tepat setelah ucapan Neji berakhir, datanglah Lee yang berlari dan mengatakan lelaki itu telah memecahkan rekor barunya.
Neji tersenyum menanggapi Lee, kemudian dia menantang lelaki itu untuk adu kekuatan selama satu menit.
o
o
o
Bersambung
Erza Note:
Halo, yang belum tau, di prolog itu cuma penggalangan isi cerita ya. jadi di chapter awal mulai alur pertama dan selanjutnya sesuai alur yang saya buat hehe.
ok, selamat menikmati. sila bertangis ria di cerita ini hehe.
