Cold Heart
Story zhaErza
Naruto Masashi Kishimoto
Chapter VII
Segel dan Pernikahan
Hyuuga Neji dibawa ke kamar setelah tubuhnya disembuhkan oleh Sakura, minimal seluruh luka yang menggores telah diobati hingga darah tidak mengalir lagi. Naruto mengangkat kakak ipar sepupunya itu karena melihat sang Lelaki kesulitan untuk melangkah, seperti yang dijelaskan Sakura, Neji mengalami mati rasa dibagian kaki dan pandangannya pun mengabur karena efek dari hukuman yang diterima.
Kamar sang Pria lebih lebar dari kamar Sakura, tetapi tidak banyak perabotan yang terdapat di sana, setelah menyuruh Naruto untuk membantu Neji membersihkan tubuh dan ketika futon telah digelar maka Neji pun ditidurkan. Sekali lagi, Sakura memeriksa keadaan tubuh lelaki itu, beberapa saat setelahnya Hinata masuk dan bagai déjà vu mereka kembali mengulang kegiatan saat merawat Neji seperti beberapa minggu lalu.
"Bagaimana keadaan Neji-niisan, Sakura-chan?"
"Sudah tidak apa-apa, Hinata. Naruto, bantu dia untuk mendudukkan tubuh, dirinya membutuhkan nutrisi untuk cepat pulih."
Sup dan bubur telah dihabiskan, kali ini memang Hinata membuatnya lebih sedikit, tau kakaknya itu tidak akan memakan hidangan sampai habis. Dan sekarang, pias wajah Neji terlihat lebih baik. Beberapa saat setelahnya, Sakura pun membereskan barang bawaannya dan berniat untuk berpamit diri karena keadaan Neji telah lebih baik, tetapi sang Gadis tidak jadi berdiri karena mendengar suara sang Lelaki.
"Aku ingin berbicara denganmu, Sakura." Dengan terdengarnya perkataan itu, membuat Hinata dan Naruto memahami dan bersegera keluar dari kamar ini. Tinggallah sang Gadis musim semi dan Hyuuga Neji.
Suasana menghening, wajah Neji masih terlihat lelah, walau tak sememprihatinkan ketika dipenjara. Namun, sorot mata lelaki itu sayu, sesekali ia merasa kabur dan berdenyut di bola matanya. Telapak tangannya menyentuh ke sumber rasa sakit, Sakura pun menatap dengan pandangan bertanya.
"Kau tak apa?"
Gelengan kepala terlihat.
"Daripada itu, apa kau yakin dengan semua ini, Sakura? Jika kau tidak mau menikah, tidak apa karena biar aku yang menanggungnya. Ini tidak ada hubungannya denganmu, ini adalah hukumanku."
Kerutan alis terlihat di wajah Sakura, gadis itu menatap Hyuuga Neji tajam. Menarik napas, Sakura menggerakkan tangannya menyentuh tangan Neji yang masih berada di dahi laki-laki itu, menariknya perlahan dan menggantikan dengan tangannya, memberikan aliran cakra penyembuh.
"Selalu saja, kau bertindak gegabah dengan tidak mendiskusikannya denganku. Ini bukan hanya menjadi tanggung jawabmu, Neji-san. Kuharap kau mengerti."
Laki-laki itu menggumamkan kata maaf, tidak menatap Sakura karena kepalanya tertunduk.
"Lagi pula, aku sudah berjanji dan aku tahu walau tidak mudah, aku tidak boleh melarikan diri lagi. Sekarang istirahatlah, kondisimu akan pulih setelah cukup tidur nantinya, aku permisi."
Gadis itu berdiri, tersenyum singkat dan membalikkan tubuh.
"Sakura, terimakasih."
Perkataan itu tidak terlalu kencang diucapkan, tetapi seharusnya Sakura mendengarnya. Namun, gadis itu tetap berjalan, dan keluar dari ruangan ini. Neji tidak tahu, wajah Sakura terlihat murung dan resah. Tau pernikahan ini memang bukan diinginkan oleh mereka, apalagi Sakura masih terbelenggu cinta masa lalu.
Berpamit kepada Naruto dan Hinata, Sakura pun langsung menuju ke rumahnya kembali. Ingin beristirahat, kalau perlu ketika tertidur nanti, ia harap dirinya tidak terbangun lagi. Namun, langkah kakinya tidak membawa ke rumah, ia malah berada di sebuah danau, jalanan kayu dipijak dan ia berdiri di sana. Menghela napas, kemudian menutup wajah dengan telapak tangan. Di belakang gadis itu ada Naruto dan Hinata yang khawatir, mereka mengikuti dan bahkan Sakura tidak mengetahuinya.
Merasakan pungungnya tersentuh seseorang, Sakura menegang, air matanya kini menetesi masing-masing pipi.
"Apa yang kaulakukan?"
"Sakura-chan, kau menangis?" Naruto jelas kaget, ia mendengar suara Sakura yang parau dan ketika berusaha membalikkan punggung gadis itu, Sakura benar-benar memberontak. Hingga tanpa sadar, Sakura menyikut wajah Naruto dan lelaki itu terpental ke pematang di belakang mereka. Sakura tidak mau melihat, dan menutup mata dengan kedua belah telapak tangan.
Melihat hal itu, Hinata langsung membantu Naruto untuk bangun, ada noda darah di bibir Naruto, ketika telah bangkit dan berniat melangkah kembali karena benar-benar khawatir, seseorang memegangi bahunya untuk menghentikan tindakan Naruto. Menoleh, bola mata biru itu melebar, melihat sang Rokudaime sedang berada di belakangnya.
Menggelengkan kepala, Kakashi menyerukan agar Naruto tidak memaksa Sakura untuk memperlihatkan kesedihan sang Gadis.
Kakashi melangkah, berada di samping belakang Sakura dan menunggu beberapa saat, sebelah tangannya terangkat dan meletakkannya ke atas kepala Sakura.
Kali ini Sakura benar-benar terlihat kaget, ia tahu siapa yang sering memegang kepalanya selain orang tuanya dan Godaime Hokage, tentu sang Sensei—Hatake Kakashi, apalagi Sakura juga mendengar desahan gurunya itu.
"Apa kau sedang dikendalikan kesedihan, jangan tidak acuhkan orang-orang yang memedulikanmua, Sakura. Yang mereka lakukan semata-mata karena khawatir kepadamu." Nasihat sang Guru pun terdengar, Sakura menggelengkan kepalanya.
"Rasanya aku tercekik, Kakashi Sensei." Kembali Kakashi menghela napas dan memegang sebelah tangan Sakura untuk menarik gadis itu ke rengkuhannya.
"Kau sudah seperti anakku sendiri, kau gadis kecilku. Kami pun akan sedih jika kau sedih Sakura, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Kau adalah gadis yang baik yang berhak mendapatkan kebahagiaan, dan aku yakin Hyuuga Neji sanggup membuatmu bahagia Sakura. Jangan berkecil hati dan merasa tertekan, semua ini pasti ada hikmahnya."
Kembali Sakura menggelengkan kepala, ia bingung, tetapi merasa bersyukur memiliki orang-orang yang selalu berada di sisinya baik dalam keadaan suka maupun duka. Beberapa belaian di kepala merah muda itu Kakashi lakukan untuk memberikan kekuatan.
Setelah beberapa saat, Sakura pun mulai mereda dan mengangkat kepalanya. Kakashi agak menundukkan diri dan mengusap poni gadis itu, melihat mata Sakura yang terdalam, bibirnya tersenyum ketika telah melihat binar yang sejak beberapa minggu lalu memudar.
"Lebih baik?" anggukan terlihat.
"Terimakasih, Sensei. Belakangan aku memang terlalu putus asa." Sorot matanya menatap Naruto yang berada di belakang agak jauh dari Kakashi. Sakura pun tersenyum dan berjalan mendekati laki-laki itu. "Maafkan aku, Naruto. Aku panik dan tidak sengaja." Sebelah tangan Sakura menyentuh sudut bibir Naruto dan mengeluarkan cakra hijaunya.
"Ini bukan apa-apa dibandingkan dengan kau, Sakura-chan." Naruto tersenyum lega, melihat Sakura telah kembali ceria.
"Aku benar-benar bersyukur memiliki kalian semua."
Sekarang perasaan Sakura telah lega, bebannya berasa berkurang teramat banyak. Memang tidak ada yang lebih baik selain menumpahkan apa yang ia rasakan, mendapatkan nasihat dari orang terdekat dan juga perhatian. Sekarang ia merasa lebih mantap untuk melaksanakan pernikahan dengan Hyuuga Neji, mereka bisa belajar bersama untuk saling mengisi. Ia berdoa semoga saja kehidupan mereka bisa mengalir kelak dan mendapatkan hikmah di balik peristiwa ini.
o
o
o
Satu hari menjelang pernikahan, ia pun sudah bersiap-siap dengan keluarganya yang tinggal di kediaman Hyuuga. Upacara akan dilakukan di kuil Hyuuga secara tertutup dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja.
Sore harinya ia dipanggil oleh sang Tetua dan Hiashi, menuju ruangan latian dan melihat Neji yang juga telah berada di sana, kontan saja ia mengerutkan alis. Tidak tahu apa yang akan dibicarakan di tempat ini. Namun, setelahnya Sakura nyaris murka kembali. Tidak bisa dimaafkan, ketika mendengar perkataan sang Tetua yang menginginkan cakra Sakura untuk disegel agar tidak sembarangan memukul seseorang dengan tenaga teramat besar.
"Ini demi kebaikan kita bersama, selain nyaris memukulku tempo hari, kau juga memukul Naruto sampai pipinya memar."
"Ini tidak bisa kuterima, Hyuuga-san. Aku memang sudah setuju menikah dengan Neji-san, tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya."
"Haruno Sakura, tidak menampik nantinya di kehidupan pernikahan kalian, kau menyakiti Neji dengan tenagamu. Aku tidak ingin itu terjadi."
Sakura tertawa sinis, menggelengkan kepala.
"Oh, sepertinya Anda salah menuduhkan hal seperti itu kepadaku, seharusnya Anda lah yang diperingati seperti itu karena menyakiti Neji-san. Permisi." Sakura langsung melangkahkan kaki dan keluar ruangan, melihat hal itu Neji pun ikut permisi dan mengikuti langkah Sakura. Gadis itu memutuskan untuk pergi ke taman belakang distrik Hyuuga yang sepi, di sana ada sungai kecil dan terlihat nyaman untuk menenangkan pikiran.
Mencelupkan kakinya, tiba-tiba ia melihat bayangan di atas air. Hyuuga Neji.
Sakura mencoba tidak peduli, ia menggoyangkan kaki hingga menyebabkan bayangan itu mengabur dengan riak air yang ditimbulkan. Sementara itu, Neji mendudukkan tubuh dan ikut mencelupkan kaki ke dalam sungai.
"Maafkan Tetua dan Hiashi-sama, Sakura."
"Oh, kau tak perlu membela mereka. Jika kau berusaha membujukku, enyahlah, Neji-san."
Neji merogoh sakunya, ketika menemukan sesuatu yang dicari, ia pun menarik sebelah tangan Sakura dan memasangkan gelang terbuat dari tali yang dianyam dan berbandul sakura dan bulan sabit. Sakura mengerutkan alisnya, ketika Neji telah selesai memasangkannya.
''Kemarin aku tidak bisa memberikan apa pun, terimakasih sudah menggunakan banyak cakramu untuk menyembuhkan seluruh lukaku."
Gelang itu indah, terlihat kukuh walau hanya terbuat dari anyaman tali dan bandulnya juga unik, apa artinya itu adalah Sakura dan Neji?
"Kau masih sempat mencari hadiah?" sorot mata Sakura sekarang menatap Neji yang juga sedang menolehkan kepala menghadapnya.
"Hiashi-sama yang memberikannya kepadaku, itu segel untuk mengekang cakramu, Sakura."
Kelopak mata Sakura berkedip, maniknya melebar dan ia sekali lagi menatap gelang dan wajah Neji bergantian, tidak percaya dengan perkataan lelaki itu. Apa Neji hanya ingin membuatnya kesal? Namun, laki-laki Hyuuga satu ini bukanlah orang yang suka bercanda. Sebelah tangan Sakura menarik gelang itu, mencoba melepaskan, tetapi memang tidak bisa ia putuskan. Sekuat tenaga, gelang itu ia tarik-tarik dan hasilnya tetap sama. Sekarang bola mata Sakura mendelik tajam, menatap Hyuuga Neji dengan murka.
"Aku tidak bercanda, kalau itu yang kau pikirkan, Sakura."
Seketika kerah baju Neji ditariknya, tidak peduli air menciptrati tubuh mereka.
Sakura berdiri, sedang Neji duduk di pinggir sungai, mereka saling menatap, setelahnya Neji memejamkan mata dan mengembuskan napas. Sebelah tangan laki-laki itu menggenggam pergelangan tangan Sakura, melepaskan secara perlahan telapak tangan Sakura yang mencengkeram kerah bajunya.
"Aku tahu kau sangat marah. Apa yang kau inginkan untuk menebusnya, bahkan jika kau menginginkan bola mataku ataupun kematianku, aku akan memberikannya."
Neji merasa sengatan panas pada wajahnya, ketika ia mendapatkan tamparan dari tangan Sakura yang berhiaskan gelang segel. Kontan bola mata bak purnama itu membesar beberapa saat sebelum kembali seperti semula.
"Ini akan percuma, tidak akan berhasil jika kau terus bersikap seperti ini, Hyuuga Neji!" Sakura meneriaki Neji di akhir kalimat, ia tidak menyangka Neji terus mengulangi kesalahannya, melakukan apa pun secara sepihak dan tidak mendiskusikan bersamanya. Apa laki-laki itu tidak bisa memahami persaannya? Apa laki-laki itu benar-benar menganggap pernikahan ini sebagai perintah yang harus dipatuhi dari Souke-nya? Sekarang Sakura benar-benar skeptis dengan pernikahan ini.
Seharusnya semua orang melihat bagaimana Neji memperlakukannya, apakah Kakashi Sensei akan tetap berpendapat bahwa Neji akan memberinya kebahagiaan nanti?
Laki-laki itu diam saja, tidak menatap Sakura, tidak berekspresi.
"Seharusnya aku sudah tahu, bahwa akhirnya selalu begini." Sakura keluar dari air, dan berjalan dengan kaki telanjang sambil membawa sepatunya. Ia mengerutkan alis dan menjambak rambutnya, tidak tahu harus bagaimana lagi.
Sementara itu, Neji tinggal sendirian di tepi sungai. Menatap air dengan sorot matanya yang kosong, ia terus duduk di sana hingga malam menjelang.
Ia memang terlalu bodoh tentang hal seperti ini, terlalu sering berpikir sendirian sebagai Jounin, apalagi dengan sosok dirinya yang sejak kecil telah kehilangan orang tua, membuatnya memutuskan segala sesuatu seorang diri. Namun, pernikahan tidak sesederhana itu, bukan? Dan ia terus saja seperti tidak menghargai kehadiran Sakura sebagai calon istrinya, gadis itu memang pantas kecewa terhadap pecundang sepertinya.
o
o
o
Malam hari, Sakura mendapatkan nasihat dari petua wanita Hyuuga, para wanita berkumpul. Yang berusia lanjut, paruh baya, juga seperti Hinata dan Sakura. Mereka mendengarkan segala pengajaran untuk menjadi seorang istri yang baik. Tak lupa langkah demi langkah yang akan dilakukan di upacara pernikahan pun dijelaskan.
Bagi pengantin, mereka tidak boleh bertemu lagi kecuali di hari pernikahan esok. Sakura sendiri merasa perasaannya campur aduk, bagimanapun pernikahan adalah hal yang sakral dan karena itu membuatnya menjadi resah bukan main. Mebuki menatapnya sambil tersenyum, menyentuh kepalanya dan merasa sangat bahagia karena akhirnya sang Putri akan menyusul teman-teman seangkatannya.
Ketika pagi menjelang, mereka anggota Hyuuga dan Haruno sudah bersibuk diri dengan bersiap, mendandani pengantin dan ada juga yang mendandani diri masing-masing. Sakura memakai kimono pernikahan bernama Shiromuku, kimono putih dengan semacam hiasan kepala mirip topi. Sedangkan Neji memakai kimono putih dengan haori hitam, di belakang punggung tertera lambang keluarga, walau tertutupi dengan rambutnya yang panjang nyaris sepinggul.
Mereka pun dibawa ke kuil, di sana pendeta sudah besiap untuk mensucikan mereka terlebih dahulu, setelahnya dilakukan upacara menghirup sake sebanyak sembilan kali, kemudian berlanjut dengan perjanjian suci yang disaksikan oleh orang terdekat mereka.
Mengucapkannya, tidak menyangka Sakura ternyata terbata-bata, Neji berada di sampingnya dan Sakura merasa teramat gugup. Kemudian cincin pun diserahkan, Neji memakaikannya dan begitu pula dengan Sakura.
"Hyuuga Neji, kau bisa mencium pengantinmu, Hyuuga Sakura." Pendeta mengatakan, dan sang Pengantin laki-laki pun mengangguk, mereka bertatapan untuk beberapa saat, Neji terlihat dengan perlahan menarik napas dan mendekatkan wajahnya. Tidak berani untuk mendeskrepsikan apa yang terjadi, Sakura pun menutup mata, dan ia merasakan bibir sang Lelaki menyentuhnya di bagian dahi, memeberinya kecupan teramat lembut sebelum kembali menarik diri.
Orang terdekat yang menyaksikan bertepuk tangan, Ino yang ada di samping suaminya pun mengeluh karena melihat kepecundangan Neji yang tidak berani mencium bibir Sakura.
"Dasar, Neji Bodoh." Dengan kesal, Ino menatap si pengantin pria.
Para tamu dipersilakan meminum sake mereka, sebagai pertanda bahwa dua belah pihak sudah dipersatukan sebagai keluarga. Euphoria dari kebahagiaan pun sangat terasa, sebagian tamu yang sudah selesai melihat acara kini memberikan selamat kepada pengantin. Neji membimbing Sakura untuk melangkah bersamanya, keluar dari kuil dan menjumpai orang-orang yang sedang menyantap hidangan yang disajikan.
Para tamu begiliran mendatangi mereka, memberikan selamat dan juga petuah baik bagi pengantin pria dan pengantin wanita. Sesekali Sakura tersenyum, ketika menjumpai orang-orang terdekatnya. Melangkah ke hadapan Neji dan murid perempuan kesayangannya, Kakashi kemudian tersenyum di balik masker. Telapak tangannya kembali membelai bahu gadis itu untuk memberikan kekuatan agar tetap tegar. Tersenyum palsu, Sakura kemudian memeluk gurunya itu, menjatuhkan wajahnya ke dada lebar Kakashi.
"Stttt, kau gadis yang baik, Sakura. kebahagiaan akan melingkupi kalian." Sebelah tangan Kakashi menepuk-nepuk pelan punggung muridnya itu, menatap Neji dan kemudian ia tersenyum. "Sekarang, kembalilah ke sisi pengantin priamu dengan rekahkan senyuman di wajah. Aku tak ingin dia salah sangka terhadapku."
Di belakang Kakashi, Ino dan Sai pun mendekat. Memberikan mereka ruang, laki-laki bujang itu memisahkan diri dari mereka dan melangkah setelah memberikan nasihal sekali lagi sambil tersenyum kepada Neji dan Sakura.
Ino berwajah masam dan menatap Neji dengan kesal, wanita Yamanaka itu bersidekap dan menunjukkan rasa kecewanya kepada sang Pengantin Pria.
"Apa-apaan kau, Neji? Benar-benar mengecewakan hanya mencium dahi Sakura, dasar."
"Ahahah, sudahlah, Ino. Neji-san sengaja menahannya untuk malam pengantin mereka."
Sakura kontan mengerutkan alis, tangannya mengepal karena ingin menonjok mulut Sai yang selalu berbicara sembarangan, walau sekarang wajahnya memerah mengerikan. Lagi-lagi ia digoda prihal malam pertama, memikirkannya membuat Sakura kembali merasa resah.
Entah bagaimana nanti, ia tidak mau berfantasi lebih jauh lagi. Lagi pula, ia masih merasa kecewa dengan Neji yang sekarang terlihat tersenyum dan sesekali tertawa kecil karena berbicara dengan Ino dan Sai.
Sekarang giliran Tenten dan Lee yang datang, Sai dan Ino masih berada di sana, berdiri bersama mereka dan membicarakan banyak hal.
"Selamat, ya, Neji dan Sakura. Kuharap kalian selalu mendapat kebahagiaan." Gadis bercepol dua itu tersenyum agak dipaksakan ketika menatap Neji, kemudian bersuara riang kembali. "Kami menunggu kabar bahagia tentang kehadiran Hyuuga berambut merah muda tentunya, hahaha," lanjutnya menatap Sakura dan tentu saja hal ini langsung disahuti oleh Ino.
"Huaaaa benar sekali, tidak bisa kubayangkan, setelah Uzumaki bermata Byakugan. Sekarang, Hyuuga berambut merah muda. Ahahahah, kalian harus lekas membuat bayi agar aku tidak mati penasaran."
Mata Sakura langsung melotot, gadis mencubit perut seksi Ino karena teramat kesal dan malu untuk kesekian kalinya digoda.
"Pig! Awas saja kau, pikirkan dirimu sendiri sana!" suara Sakura memang kecil, tetapi berhiaskan geraman karena pembicaran Ino yang terlalu blak-blakan.
Mereka tertawa bersama karena berhasil menggoda pasangan pengantin, Neji sendiri hanya menghela napas dengan senyuman tipis di bibir. Hinata dan Naruto pun bergabung, melihat situasi yang sudah riuh menjadi semakin riuh saja, canda tawa tidak terelakan dan untuk beberapa saat Sakura dan Neji terbebas dari perasaan resah dan beban mereka.
Setelah ini mereka akan berfoto bersama, juga makan malam antar keluarga Haruno dan keluarga inti Hyuuga. Mereka berada di ruangan yang sudah disediakan oleh para pelayan, masing-masing dari keluarga telah duduk dan ketika mereka berdua datang, Tetua pun menyerukan agar mereka bergabung. Hinata dan Naruto ada di samping Hanabi, wanita Uzumaki itu tersenyum karena menatap kecanggungan Sakura.
Mereka duduk membentuk sebuah persegi panjang, dengan bagian kepala diisi oleh Tetua dan Hiashi, dan bagian ekor diisi oleh Kizashi dan Mebuki.
Tetua menyampaikan beberapa petuah dan juga rasa terimakasih kepada para keluarga, mendoakan Neji dan Sakura sebelum ditutup dengan menyantap hidangan masing-masing di meja kecil di hadapan mereka.
Pukul delapan, setelah makan malam para keluarga berbincang-bincang sejenak. Membentuk kelompok masing-masing, orang tua laki-laki, orang tua perempuan, pemuda dan juga para perempuan muda. Hanabi bergabung dengan kelompok Sakura, Hinata dan gadis Hyuuga lainnya. Gadis yang adalah adik dari Hinata dan merupakan calon pemimpin klan Hyuuga itu terus saja tertawa kecil karena memergoki Sakura yang berkali-kali wajahnya memerah karena digoda. Belum lagi ketika tiba-tiba bibi mereka datang dan membawa Sakura untuk bersiap-siap. Hanabi mengatakan agar Sakura harus semangat, yang langsung mendapatkan teguran dari Hinata.
Begitu pula dengan Neji, pukul sembilan malam, dirinya dibawa oleh sang Paman untuk berbicara mengenai upacara terakhir sebelum malam pertama mereka. Berdua di ruangan kerja Hiashi, Neji pun mendudukkan diri setelah dipersilakan.
"Neji, selanjutnya adalah ritual meminum sake. Kau sudah mengerti bukan bagaimana cara menjalankannya?"
"Ya, Hiashi-sama. Saya telah mendapat pengajaran."
"Ini adalah hari besarmu, Neji. Aku selalu mendoakanmu agar bahagia, maafkan aku yang terlampau keras kepadamu, Anakku." Pundak Neji ditepuk sekali, laki-laki itu mengangguk dan tersenyum melihat sorot hangan Hiashi. "Nah, saatnya telah tiba, pergilah ke kamar pengantinmu, Neji."
Laki-laki itu mengangguk, sebelum mengucapkan terimakasih dan berpamit diri.
o
o
o
Sakura berada di kamarnya, kamar penganti mereka. Sebelum berada di tempat ini, ia telah mendapat bimbingan untuk upacara terakhir, meminum masing-masing tiga cawan sake sebagai lambang cinta, kesetiaan dan kerelaan sebagai istri. Sedangkan untuk Neji, tiga cawan yang berarti, cinta, melindungi, dan membahagiakan. Sakura merasa tangannya mulai berkeringat dingin karena ia tahu setelah meminum sake maka ….
Ah, Sakura tidak mau memikirkan hal itu. Namun, apakah bijaksana jika ia tidak ingin melakukannya? Karena ia sendiri sudah berjanji hanya akan bercinta dengan sosok yang dicintai dan Neji bukanlah bagian dari hatinya.
Pintu digeser, dan Sakura tercekat karena mendapati kehadiran Neji di kamar ini. Laki-laki itu terdiam sesaat di depan pintu, sebelum menutupnya dan berjalan ke arahnya.
Neji duduk di bantalan yang sudah disediakan di samping Sakura, menatap meja yang sudah tersedia sake untuk melakukan upacara terakhir.
"Sakura," laki-laki itu bersuara, nyaris seperti bisikan. Hening di kamar ini membuat Sakura bisa mendengar jelas suara sang Lelaki. "Upacara terakhir adalah berbagi sake, yaitu meminum tiga cawan sake untuk masing-masing dari kita. Apa kau sudah tahu bagaimana menjalankannya?"
Kelopak mata gadis itu berkedip, ia mengingat perkataan para bibi untuk membimbingnya mengenai upacara terakhir ini. Meminum tiga cawan sake, masing-masing dari mereka. Tidak sesederhana itu, karena mereka akan membagi sake dengan menggunakan bibir. Tiba-tiba, Sakura merasakan sengatan di seluruh tubuhnya. Sama saja berciuman sambil meneguk sake, itulah upacara berbagi sake. Itulah upacara sebelum malam pertama, tubuh Sakura tiba-tiba merinding dan keringat di tangannya semakin banyak, ia gugup setengah mati.
"Melihat reaksimu, sepertinya mereka telah menjelaskannya kepadamu." Neji tidak menatap Sakura, sementara itu kedua tangannya menuang caira fermentasi dari beras itu ke enam buah cawan. "Kalau kau mau, kita bisa meminumnya seperti biasa saja, bagaimana?"
Sakura menolehkan wajahnya, untuk pertama kalinya mata mereka menatap satu sama lain.
"Ah, apa … apa itu tidak masalah? Ini adalah upacara keluargamu, Neji-san?"
Kelopak mata Neji berkedip, alisnya mengerut bertanda ia sedang berpikir.
"Aku tidak sempat bertanya, tentang tidak melakukan upacara seperti semestinya. Namun, aku tidak ingin memaksamu, Sakura."
Menggunakan sebelah tangan untuk menyentuh dagu, Sakura pun terlihat sedang mempertimbangkannya.
"Tapi, Neji-san. Ini tradisi Hyuuga, dan memiliki filosofinya tersendiri."
"Menurutku, yang terpenting kita memahami makna yang terkandung di masing-masing cawan sake. Bagaimana denganmu, Sakura? Kali ini kupikir akan lebih bijaksana mendiskusikannya, dan kau lah yang memutuskan, Sakura." Neji mentap bola mata Sakura yang membesar, laki-laki itu tersenyum tulus, sedang Sakura terkesima atas perkataannya.
Menganggukkan kepala dan tersenyum, mereka pun meminta pendapat masing-masing, hingga akhirnya Sakura memutuskan untuk menjalankan upacara secara sempurna karena tidak ingin menghianati teradisi Hyuuga.
o
o
o
Bersambung
Erza Note:
Halo, terimaksih untuk yabg sudah komentar hehe.
pertama, Gaara saku itu cuma bumbu ya, pair tetep nejisaku *
kedua, kalian harus tahan2 baca ff karya saya. soalnya saya Cinta angst dan karakter cowo terutama anak sulung tertindas. xD
ketiga, ff ini make genre drama dan roman jadi tau sendiri lah bekibetnya pasti.
keempat, di wattpad akun zhaErza sudah sampai chap 14 kalau gak salah, jadi yabg penasaran sila cek ke sana hehe.
Chapter ini bahas pernikahan, dan Sakura mulai merasa pernikahan mereka ada harapan karena Neji mulai mengubah sikapnya yang selalu memikirkan semuanya sendirian. Walau, Sakura tentu masih marah sama Hiashi dan Tetua dan juga Neji prihal segel gelang yang ngekang cakranya.
Chapter depan tentang upcara berbagi sake dan juga ahahahaha gak usah dijelasin nyeheheh. Oh, iya. Bagi kalian yang belum cukup umur jangan ngikutin fic Cold Heart, peliss yaaa. Ini rating mature untuk 17 tahun ke atas, tema perasaan dan pernikahan, kurang bijaksana dibaca sama remaja dibawah umur.
Ok, salam sayang dari istri Itachi,
zhaErza.
