Naruto by Masashi Kishimoto
BAB X
Membuka Hati
.
.
.
Pasangan Uzumaki baru saja menerima kabar bahwa sepupu mereka terluka di dalam misi yang tengah dijalankan. Untungnya, misi itu tetap sukses walau memakan korban yang harus segera di bawa ke rumah sakit. Mereka berjalan dengan wajah panik, Naruto terlihat menggenggam telapak tangan Hinata, menuju resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan sang Sepupu sedang dirawat.
Mereka langsung menuju ke tempat yang ditunjukkan, di sana Hyuuga Neji terbaring dan belum sadarkan diri. Mereka pun mendekat dan menatap sang Jenius yang masih memakai infus ditangannya. Hinata menaruh bunga matahari di vas kosong, bunga yang sengaja dibawanya untuk Neji, guna untuk memberikan laki-laki itu semangat agar segera sadarkan diri.
"Tidak biasanya Neji-niisan terluka separah ini, Naruto-kun."
Sang Suami hanya mengangganggukkan kepala, mata birunya masih memandangi wajah pucat Neji yang sekarang segel khas Bunke tertera jelas di dahi. Tubuh laki-laki itu dibalut perban, sepertinya mengalami luka dada yang cukup serius.
"Sakura-chan di mana? Jangan-jangan dia belum tahu?"
Mendengar hal itu, Hinata tersenyum.
"Tidak mungkin, Naruto-kun. Sakura-chan pasti terlebih dahulu yang tahu daripada kita, mungkin dia sedang mengurusi sesuatu sekarang."
Menatap Neji kembali, Naruto dan Hinata melihat kakaknya itu menghela napas dan mengedipkan kelopak mata, hingga terbuka sepenuhnya dan menatap mereka yang mengucap syukur dengan cukup keras. Hinata bergegas keluar untuk memanggil perawat yang berjaga, menginformasikan kepada mereka bahwa sang Pasien telah sadarkan diri, sementara Naruto sekarang tengah menanyai perasaan Neji dan sebagainya.
"Apa kau sudah baikan? Hinata sedang memanggil perawat, Neji."
"Sudah tak apa, hanya saja … belum bisa bergerak leluasa."
"Ah, jangan memaksa. Sebaiknya tidur saja lagi, di mana Hinata dan perawatnya?" kepala pirang itu celangak-celinguk, kemudian ruangan pun terbuka.
Sang Perawat memeriksa Neji, dan gadis itu tersenyum dan mengatakan sang Pasien sudah lebih baik walau masih harus banyak istirahat dan baru pulih beberapa waktu ke depan. Seperti yang mereka duga, beberapa saat setelahnya Neji kembali tertidur, mungkin masih merasa lelah dan reaksi obat yang baru saja diminumnya.
"Apa Bibi Mebuki dan Paman Kizashi sudah diberi kabar?" Hinata bertanya, sedangkan Naruto menggelengkan kepala.
Kemudian, Naruto berinisiatif untuk menjemput mertua Neji, baru saja sampai di depan pintu, ia sudah melihat kedua orang itu berada di koridor rumah sakit dengan wajah panik bersama Ino yang membimbing. Mereka berjalan cepat, dan ketika melihat wajah Naruto, kepanikan Mebuki tidak bisa ditutupi lagi.
Mereka bersama-sama memasuki ruangan rawat inap, Ino yang berada di sana pun menjelaskan keadaan Neji kepada mertua lelaki itu agar tidak khawatir lagi. Setelahnya, Hinata dan Naruto pun undur diri karena lelaki Uzumaki itu harus menyiapkan keberangkatan misi beberapa jam lagi. Di ruangan, tinggallah Mebuki dan Kizashi yang duduk di sofa kamar rawat inap. Mereka berbicara dengan suara pelan, menanyai kenapa Sakura belum juga datang sampai sekarang.
Sejam sudah Mebuki dan Kizashi menunggui Sakura, tetapi anaknya itu tidak kelihatan juga batang hidungnya, kemudian tiba-tiba saja Neji terbangun dan langsung saja kedua orang yang menjeguk pun mendekatinya.
Ketika pandangan mata Neji kembali fokus, sontak saja laki-laki itu langsung mencoba mendudukkan diri, tetapi nyatanya hal itu tidak mudah dilakukan. Membantu sang Menantu, Kizashi pun mendekat dan memegangi pundka dan sebelah tangan Neji.
"Ayah, Ibu, kapan kalian datang?"
"Nak Neji, jangan memaksakan diri." Menghela napas, Kizashi mengelus kepala Neji setelah berhasil mendudukkan sang Menantu di ranjangnya.
Laki-laki itu yang awalnya terdiam dan menundukkan kepala, kini mengangkat wajahnya karena merasakan belaian di kepalanya. Ketika matanya menatap sang Ayah, yang Neji temukan adalah senyuman teramat tulus Kizashi, entah kenapa membuatnya menjadi teringat dengan sosok ayahnya sendiri yang telah tiada.
Matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca, hingga air mata jatuh menetes ke pipi. Melihat hal itu, sontak saja Kizashi terkejut bukan main dan langsung menarik tangannya dari kepala Neji, berpikir bahwa karena ulahnya sang Menantu merasa denyutan sakit pada luka.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit?"
Neji tersentak, ia berkedip dan mengahapus air matanya. Namun, ia malah mendapatkan sang Ayah memeluknya hingga wajahnya tersandar penuh di dada lelaki paruh baya itu. Ia mendapatkan usapan pada kepala dan punggung, dan membuat hatinya merasakan sengatan rasa teraduk-aduk.
"Tidak apa, jika terasa sakit bisa Ayah pijat, Nak Neji."
"Ayah, jangan sampai terkena lukanya. Ah, biar Ibu bantu mengikat rambutmu, Neji-Kun."
Laki-laki muda itu hanya mengangguk, ia menangis dalam diam di dalam rengkuhan mertuanya.
Sang Rokudaime menasihati Sakura untuk kesekian kalinya, memang laki-laki yang adalah gurunya itu memiliki analisis luar biasa dan terlalu bisa memahami sifat sang Wanita musim semi. Mendengar untaian kata tersebut, ia pun menyadari betapa bodohnya ia tenggelam dalam perasaan kecewa dan benci. Memang para Hyuuga patut ia salahkan dan masih tak bisa ia terima cara-cara yang mereka pakai, tetapi tidak dengan Neji yang juga sama menderita seperti dirinya.
Mungkin Neji memang telah mengecewakan, tetapi seharusnya ia juga memahami kondisi mereka. Seingatnya, Neji juga mengatakan laki-laki itu mabuk hingga di malam pernikahan, mereka sama-sama tidak bisa mengendalikan diri. Apa ia sekarang sudah menjadi sosok yang kejam dan egois? Tidak memedulikan Neji dan hanya berfokus pada perasaan tragis yang ia anggap hanya menimpa dirinya, tidak memandang bahwa Neji juga mengalami kondisi yang sama.
Mengehela napas, setelah dari ruangan sang Guru, ia pun berjalan menuju rumah sakit. Berpikir, sebaiknya sekarang Sakura lebih membuka hati agar bisa berbaikan dengan Neji dan menerima semua yang terjadi. Ia melangkah di koridor yang cukup sering dilewati para suster ataupun pasien, beberapa banyak juga merupakan keluarga dari penghuni kamar rawat inap. Saat ingin membuka pintu kamar Neji, ia melihat sesuatu yang tidak biasa dari jendela kecil di pintu.
Ayah dan ibunya sedang memeluk Neji, seperti memberikan semangat dan limpahan kasih sayang. Berkedip, Sakura tidak tahu apa yang terjadi. Sayup-sayup ia mendengar suara sang Ayah yang cukup besar, mengatakan agar Neji harus bersabar dengan rasa sakit ini. Mereka akan segera memanggilnya untuk memeriksa tubuh sang Menantu.
"Sudah tidak apa-apa, Nak Neji? Hapuslah air matamu, Ayah akan segera mencari Saki." Laki-laki itu menolehkan wajah dan berjalan menuju pintu. Melihat hal itu, Sakura pun melakukan sandiwara seperti baru saja tiba di lokasi.
"Ah, Saki. Kau sudah datang, cepatlah periksa suamimu, sepertinya ia kesakitan."
"Ayah, Ibu, kapan sampainya? Neji, kau seharusnya jangan memaksakan diri untuk duduk dahulu." Ia mendekat, memperhatikan wajah datar Neji yang memang kalau dilihat lebih dekat akan menemukan embun pada lensa mutiara itu.
Apa yang menyebabkannya bersedih? Tidak mungkin hanya karena rasa sakit pada tubuhnya. Apakah itu adalah aku?
Membantu Neji untuk kembali menidurkan diri, Sakura pun menggunakan cakranya untuk melihat perkembangan tubuh Neji. Beberapa saat berkonsentrasi, ia pun menyudahi pemeriksaannya.
"Sudah tidak apa-apa, mungkin memang rasa sakit akan Neji rasakan untuk beberapa saat. Namun, setelah obatnya bereaksi dan perlahan pulih maka rasa sakitnya juga akan berkurang."
"Syukurlah, Saki. Kau harus terus menjaga Neji-kun. Nah, Neji-kun, kau juga harus banyak istirahat seperti kata doktermu ini." Mebuki tersenyum, kemudian menyelimuti tubuh Neji dan memperbaiki posisi bantal. Sang Lelaki terlihat menggumamkan terimakasih dan menganggukkan kepala, terlihat masih canggung dengan keluarga Sakura yang memang sangat perhatian.
Beberapa saat setelah Neji kembali tertidur, orang tua Sakura pun memutuskan untuk pulang. Mereka mengatakan akan berkunjung lagi esok hari sampai Neji benar-benar sehat nantinya. Sakura hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, mengatakan pasti suaminya itu sangat bahagia karena diperhatikan oleh ayah dan ibunya. Sekarang, tinggalah Sakura sendiri bersama Neji yang sudah telelap, laki-laki itu mengembuskan napas dengan teratur dengan wajah sepolos malaikat.
Sakura mendekati, memperhatikan wajah suaminya itu, seperti perkataan sang Guru, ia pun menatap lamat wajah Neji yang menunjukkan garis-garis lelah di sana, bercampur dengan rona pucat dan kantung mata. Sepertinya laki-laki ini kekurangan tidur sejak beberapa hari lalu. Tentu saja, selain karena misi, Neji juga pasti tertekan karena tingkahnya yang sangat keterlaluan.
Ia mengembuskan napas, memasukkan tangan berselang infus itu ke dalam selimut, dan merapikan anak rambut Neji yang akan mengganggu lelap lelaki itu. Ketika ia sibakkan rambut Neji, ia bisa melihat segel Bunke menghiasi dahi, perlahan ujung jarinya menyentuh kemudian turun hingga membelai wajah sang Suami.
"Maafkan aku," bisik Sakura. Wanita itu lalu berjalan dan menghadap ke arah jedela, menatap langit yang sudah menggelap.
Seperti yang dikatakan kedua orang tua mereka, Mebuki dan Kizashi tiap hari menjenguk Neji di rumah sakit, tentu saja karena hal itu membuat sang Menantu dari keluarga Haruno menjadi sungkan. Mengatakan kepada orang tuanya untuk tidak usah merepotkan diri, kali ini juga mereka mebawakan bubur dan juga sup panci untuk Neji. Tentu saja walau Sakura tidak mengizinkan lelaki Hyuuga itu sembarangan menyantap hidangan apalagi masih di rumah sakit, ia hanya bisa pasrah ketika Neji mengatakan tidak apa-apa.
"Astaga, sekarang tidak ada yang mendengarkanku. Akulah dokternya Neji di sini, Ibu, Ayah!" wanita muda itu menggembungkan pipinya, bersidekap ketika Mebuki membantu menantunya itu makan.
"Sudahlah, Neji akan kurus jika harus menyantap hidangan rumah sakit yang tidak menyelerakan itu. Hahahaha!" Kizashi malah tertawa, padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Melihat hal itu, kontan saja Sakura merotasikan emeraldnya.
"Tidak apa, aku sudah lebih baik, Sakura."
Wanita itu memelototi Neji.
"Sudah lebih baik apanya? Bersyukurlah tubuhmu merespons baik obat yang kubuat, hingga penyembuhan tulang-tulangmu lebih cepat daripada orang normal. Dan kau itu masih belum sembuh, Neji." Sakura mendekat dan menarik semangkuk sup di tangan Neji, sebelum hal itu dihentikan oleh Mebuki dan kembali lah adu argumentasi terjadi.
Keesoakan harinya, Neji sudah bisa kembali ke kediaman mereka. Kali ini Naruto dan Hinata yang menemani, laki-laki Uzumaki itu terlihat selalu berada di belakang Neji, takut tiba-tiba sepupu iparnya terjatuh atau tiba-tiba tak sadarkan diri. Padahal, Neji sudah bisa berjalan normal walau masih harus terlilit perban di dada. Sakura menggandeng tangannya, ikut berjaga-jaga, sedangkan Hinata berada di sebelah Naruto tengah tersenyum.
"Apa kau lelah, Neji?" Menolehkan wajah, Neji menjawab tidak sama sekali.
"Sebentar lagi sampai, Naruto-kun."
Dan mereka pun memasuki kediaman Bunke, di sana langsung saja Hinata dan Naruto masuk terlebih dahulu dan membukakan pintu, hingga di kamar mereka pun ikut membantu menggelar futon dan menuangkan teh untuk Neji.
"Kau harus makan dan setelahnya meminum obat ini. Beberapa kali lagi setelahnya akan sembuh, mungkin seminggu lagi sudah bisa mengambil misi, Neji." Sakura tersenyum, kemudian menekan beberapa kali dada Neji dengan telunjuknya, tidak terlalu keras. "Bagiaman? Sakit, sedang, teramat sakit atau bahkan sudah tidak terasa sakit?"
"Masih terasa sakit."
"Kau terlalu banyak bergerak, sebaiknya aku siapkan makanan dan setelah meminum obat, lalu lekas istirahat."
Namun, sebelum Sakura berdiri, beberapa pelayan sudah datang dan menghadap mereka, memberikan hidangan untuk disantap Neji. Ternyata, sebelum menjemput Neji, Hinata dan Naruto telah menyampaikan agar pelayan menyiapkan makanan untuk sepupu mereka yang sedang sakit. Langsung mengambilnya dan mengucapkan terimakasih, Sakura pun memberikannya kepada Neji.
Beberapa saat setelahnya, Sakura dan Neji hanya berdua saja karena laki-laki itu harus mengganti pakaiannya. Dan sekarang mungkin adalah saat yang tepat untuk berbicara, apalagi keadaan Neji telah lebih baik. Sakura mendekat, membantu membuka baju yang dikenakan laki-laki itu. Cukup sulit menggerakkan tangan karena luka di rusuknya, maka Sakura pun membimbing agar dilepaskan secara perlahan.
Perban terlihat, beberapa bagian yang masih membiru karena benturan jelas tertera. Sakura menyentuhnya, mengalirkan cakra hingga ruam biru itu mereda.
"Aku tidak melihat ada ruam biru di dekat sikumu beberapa hari lalu?" sorot mata Sakura sayu, menatap perban di dada, sedang Neji pun ikut menundukkan kepala.
"Terjatuh di kamar mandi, kemarin malam."
"Apa? Terjatuh? Bagaimana bisa? Aku 'kan sudah bilang—"
Tersenyum, Neji mengangkat kepalanya dan menatap wajah khawatir Sakura, kali ini adalah ekspresi sesungguhnya. Sejak kapan? Sejak kapan Sakura memperlakukannya seperti sekarang tanpa ada kesinisan dan juga ekspresi palsu?
"Kau terlihat lelah dan sedang tertidur," potong Neji cepat.
Menghela napas, Sakura mendecak.
"Lain kali jangan seperti itu lagi, untungnya hanya sikumu yang biru, kalau kepalamu sampai cedera lagi, bagaimana? Kau masih belum pulih, Neji."
"Aa, terimakasih, Sakura."
Sekarang tiba-tiba saja menjadi hening, Sakura mengambil kantung terbuat dari kertas dan mengeluarkan obat Neji, ia memberikan sesuai dosis dan mengambil air mineral. Mennyuruh laki-laki itu untuk membuka mulut, Neji pun melakukannya dan Sakura langsung memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya.
Air diberikan, dan langsung saja obat itu tertelan.
Sakura sekarang merasa canggung, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia gelisah, bagaimana caranya untuk meminta maaf dengan segala prilaku buruk yang ia lakukan kepada Neji. Suaminya itu kini masih memandangnya dan ia pun entah kenapa melakukan hal yang sama.
"Luka ini, aku benar-benar minta maaf, Neji." Sebelah tangan Sakura menyentuh dada Neji, tetapi bukan di sumber luka malah di bagian jantung laki-laki itu.
"Ini bukan salahmu, Sakura. Sudahlah, aku yang memang tidak fokus."
Menggelengkan kepala, gadis itu menatapnya dengan bola mata yang menunjukkan rasa penyesalan.
"Kau tahu apa maksudku, Neji. Aku memang bodoh dan egois. Hanya memikirkan diriku sendiri," bisiknya, menundukkan kepala. Air matanya menggenang, tetapi Sakura berusaha untuk tak menangis. Ia membayangkan bagaimana wajah Neji ketika dipeluk oleh kedua orang tuanya, ketika lelaki itu teramat sedih karena tindakannya yang menudingkan segala yang terjadi adalah karena Neji.
Sakura merasakan punggung tangannya yang masih menyentuh dada Neji digenggam oleh lelaki itu, ia pun mengangkat kepala. Wajah Neji memang datar, tapi sorot mata lega dapat ia lihat sekarang.
"Kemarilah," ujar sang Lelaki, membuat Sakura mengerutkan alis tidak mengerti dengan maksud dari suaminya itu. Bibir tipis Neji tersenyum, sambil mengucapkan sederet kata. "Kau tidak ingin memelukku, Sakura?"
Maka sang Wanita pun melakukan ujaran suaminya, bergerak dengan lutut dan memeluk kepala lelaki itu. Membenamkan wajahnya di bahu lebar berhias perban, pun dengan Neji yang melakukan hal yang sama dengan menaruh dagunya di pundak Sakura dan menempelkan bibir dan hidungnya di leher sang Bunga. Menghirup pelan wangi sakura yang begitu ia sukai, hingga kelopaknya terpejam.
"Aku benar-benar meminta maaf," bisik Sakura, kembali membenamkan wajahnya.
"Hm, aku juga. Aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa." Telapak tangannya mengelus punggung Sakura, merespons ucapan gadis itu dan memberinya kekuatan. "Ini baru pertama kali terjadi di hidupku, Sakura. Aku rasa aku bingung setengah mati," bisiknya dengan tawa lirih.
Sakura bergerak, mengendurkan pelukan mereka dan sekarang menatap wajah Neji, mata mereka saling menumbuk, jarak mereka teramat dekat.
"Aku juga sama," aku Sakura. "Aku jadi mengkambing hitamkan kau atas kefrustrasianku, Neji."
"Memang tidak mudah, apalagi bagimu, Sakura. Aku sempat tidak percaya saat Hiashi-sama mengatakan akan menjodohkanku dengamnu karena aku tahu hal intu tidak mungkin terjadi."
Sorot mata Sakura menunjukkan rasa tidak nyaman, ia tahu prihal Sasuke pasti memengaruhi semua ini dan Neji pun tahu. Namun, kembali ia melihat senyuman lelaki itu, membuat perasaannya menjadi lebih baik.
"Tapi, ketika menikah, aku benar-benar tulus menjadikanmu istriku."
"Karena kewajiban seorang suami?"
"Kukira semacam itu, aku tak pernah merasakan cinta. Tapi, mengetahui istriku mencintai laki-laki lain, ternyata memang tidak bisa dikesampingkan." Sekali lagi, Neji tertawa lirih. Membuat Sakura menjadi merasa bersalah, apalagi disinggung tentang perasaannya yang belum berubah kepada Sasuke.
"Itu sebabnya aku memutuskan untuk tidak ingin menikah, ini tidak semudah yang kau kira, Neji." Hati Sakura bergetar, mungkin beberapa waktu lalu ia tidak memedulikan perasaan Neji, tetapi lain halnya dengan sekarang. Ia sudah berjanji untuk membuka hati agar bisa bahagia, sesuai dengan nasihat gurunya. Namun, ini benar-benar tidak mudah karena ia telah mencintai Sasuke begitu lama.
Neji mengerutkan alis, terdiam. Ia tahu konsekuensi inilah yang didapat ketika menerima perjodohan untuk menikah dengan Sakura, tidak akan mudah membuatnya dipandang wanita itu sebagai sosok lelaki yang dicinta. Uchiha Sasuke tetaplah merajai hati Sakura sekarang, ia hanya orang baru yang kebetulah berstatus sebagai suami Sakura. Mereka bahkan awalnya tidak terlalu dekat, kalau bukan karena Naruto menikah dengan Hinata, dan kakek Hinata tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit, mungkin mereka sama sekali tidak akan berjalan berdua dan menghabiskan waktu bersama.
"Aku ingin bertanya," ucap Neji, kembali memandang Sakura. Wanita itu terlihat gugup, mungkin takut disinggung tentang sesuatu yang berhubungan dengn Sasuke. "Apa yang kau rasakan ketika bercinta denganku, Sakura. Kuharap kau mengatakannya dengan jujur." Ia melihat bola mata wanita itu membesar, wajah Sakura pun memerah. Kepanikan terlihat beberapa saat, bahkan Sakura berusaha melepaskan diri dari jarak mereka yang teramat dekat, tetapi Neji tidak mengizinkan dan terus memegangi pinggang istrinya itu.
"Aku … aku tidak tahu, Neji. Saat itu aku benar-benar dalam kondisi yang buruk, kau tahu sendiri saat itu akan benar-benar masih marah dan kecewa."
"Kalau setelah ini kita bercinta, apa kau akan merasa sesuatu yang berbeda?"
"Eh, ta-tapi kau sedang sakit, Neji?" tertawa kecil, Neji menjelaskan kalau yang dimaksud adalah perumpamaan. Sakura pun tidak menatap wajah Neji dan mengembungkan pipinya.
"Aku mengerti, tidak perlu memaksakan diri walau sekarang kau adalah istriku. Kita akan jalani semuanya dengan perlahan-lahan, aku tidak ingin membebanimu dengan segala tanggung jawab ini, Sakura."
Menggelengkan kepala, sekarang Sakura tersenyum.
"Aku … sebenarnya aku sudah memutuskan untuk menjalaninya dan membuka hatiku. Kau adalah laki-laki yang baik, Neji. Aku tidak ingin kita saling menyakiti lagi, walau ini tidak mudah, ayo kita berusaha bersama."
Sekali lagi, Sakura memeluk Hyuuga Neji yang wajahnya terlihat lebih lega. Akhirnya, ia bisa berbaikan dengan Sakura, dan yang terpenting Sakura tidak menyakiti dirinya sendiri dengan berpura-pura bahagia. Memang, menikah karena perjodohan tidaklah mudah, tetapi ia berharap agar mereka bisa saling memahami isi hati dan saling menerima. Untuk sekarang itu saja yang Neji harapkan, karena menggapai cinta Sakura bukanlah sesuatu yang ia inginkan untuk saat ini. Baginya, melihat senyuman tulus Sakura dan melihat keceriaan wanita itu sudah teramat cukup, hatinya menghangat karena perkataan istrinya beberapa saat yang lalu.
"Terimakasih," bisik laki-laki itu, mengecup kembali leher Sakura.
Rokudaime Hokage baru saja menerima pesan dari Desa Sunagakure, di tengah penyisihan ujian Chunnin, sang Kazekage termuda meminta bantuan untuk permasalahan desa mereka yang memang sudah terjadi setahun belakangan ini. Bahkan ketika pembukaan sebulan lalu, Rei Gaara hanya bisa berkunjung ke Konoha selama satu hari saja. Adanya kelompok pemberontak yang tidak puas dengan kepemimpinan Gaara membuat desa cukup kewalahan dengan segala serangan yang belakang semakin sering dilancarkan. Untuk itu, seperti perkataan sang Kazekage di dalam surat, maka dibentuklah dua tim untuk menjalankan misi.
Neji, Sai, Lee dan Tenten tiba terlebih dahulu di ruangan Hokage, selanjutnya Naruto dan Hinata pun menyusul dan diakhir dengan kedatangan Sakura dan Ino yang baru saja selesai dengan segala macam tugas di rumah sakit. Mereka terdiri dari dua kelompok yang dijadikan satu dan dipimpin oleh Neji sebagai ketua tim dan Sai sebagai wakil.
"Dengar, urusan kelompok aku ingin kalian sendiri yang membagi jika harus memisahkan menjadi dua kelompok. Neji dan Sai yang akan mendiskusikan hal itu, Mengerti."
Semuanya serentak mengatakan mengerti.
"Misi kalian adalah untuk membantu membereskan kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan kepemimpinanan Kazekage Gaara."
"Apa? Kenapa bisa kepemimpinan Gaara ingin digulingkan, kurang aja mereka. Akan langsung kuhajar—aduhh ampun Sakura-chan, lepaskan telingaku-tebbayou!"
"Diam dan dengarkanlah penjelasan Sensei, Naruto!" Sakura memelototi lelaki maniak ramen yang sekarang memegangi telinganya, meski sudah menikah tetap saja Naruto tidak berubah dan selalu over aktif terhadap apa pun.
"Baiklah, Naruto. Jadi, mengingat Sakura yang sangat ahli dalam antidot racun dan pernah menangani Kankuro-san dahulu, para Tetua juga menginginkan Sakura dan satu lagi ninja medis untuk berjaga-jaga. Penyerangan beberapa kali menggunakan racun yang selalu berfariasi, sepertinya mereka melakukan eksperimen terhadap hal itu. Kelompok pemberontakan digadang bernama Arashi, tidak diketahui di mana letak persembunyian mereka. Itu sebabnya membutuhkan Hyuuga dan Sai untuk menyelidiki hal ini.
Kemudian, nantinya Gaara akan membimbing langsung apa yang harus kalian lakukan, untuk sekarang memang keadaan masih bisa mereka kendalikan walau mereka kewalahan karena penyerangan melibatkan rakyat sipil, jadi misi kali ini akan membawa kalian pada tugas penyelidikan dan penjagaan. Kalian adalah yang terbaik dari para ninja yang Konoha punya. Nah, ada yang ingin ditanyakan?"
Mereka semua telah memahami, dan sekarang yang harus dilakukan adalah sampai ke Suna terlebih dahulu untuk bisa lebih lengkap mengetahui misi mereka nanti. Gaara yang akan menjelaskan secara langsung, untuk nantinya mereka akan bertugas menyelidiki kelompok Arashi dan membereskan mereka, kemudian berjaga di benteng Suna agar tidak mendapatkan serangan.
Memutuskan untuk berkumpul dua jam setelah keluar dari kantor Hokage, mereka pun mempersiapkan diri.
Sekarang, mereka berada di pintu keluar desa Konoha. Semuanya telah berkumpul dan memakai pakaian misi dan jubah.
"Membutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke Suna tanpa beristrahat, tetapi tidak mungkin kita menghabiskan cakra hanya untuk itu, jadi setiap pagi, siang hari dan malam kedua dari perjalanan, kita akan berhenti. Malam kedua kita akan berkemah atau mencari tempat untuk menginap, karena ini juga bukan misi rahasia, kita tidak perlu menyembunyikan keberadaan. Ada pendapat lain?" Neji menatap timnya, satu persatu dan sepertinya semuanya menyetujui keputusan dirinya.
Mereka pun memulai perjalanan menuju Sunagakure, mungkin sekita empat hari baru sampai di desa dengan ciri khas padang pasir itu. Melompati cabang demi cabang dan berlari.
.
.
.
Bersambung
Setelah sekian lama baru bisa buka ffn yang susah login, harus pake situs bebas blok huee.
Salam sayang,
zhaErza.
