Title : The Kingka Strawbeery And Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : Scoll life, Family, Comedy (gagal)
WARNING
Disclamaire : Para pemain dalam FF ini milik diri mereka sendiri. Author hanya memakai nama mereka saja.
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Cahaya senja sore menerobos melewati jendela kaca, menerangi ruangan duduk keluarga Kim yang sunyi senyap seperti hari hari biasa.
Di jendela sisi lain ruangan terlihat puncak rambur berwarna almond muncul dan timbul di ujung korden yang tebuka, disusul suara derit benda di dorong dan munculnya ujung jari berbalut kaos kaki bergambar hello kitty kemudian kepala pemuda itu mengintip seisi ruangan.
Ketika merasa aman untuk masuk Jaejoong bernafas lega, mengendap ngendap melewati ruang duduk ke arah tangga lantai dua di tengah Aula besar rumahnya sendiri.
Kim Heechul sang nyonya rumah yang sudah menunggu Putranya kembali dengan senang hati menarik kerah bagian belakang kemeja seragang putra tunggalnya sampai ia terjerembab kebelakang dengan pantat mendarat sempurna di karpet tebal pelingung lantai yang dingin.
"Aow..." Kim Jaejoong, namja berambut almond itu mengaduh dengan tidak elit ketika merasakan pantatnya mencium lantai.
Ia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan, ketika menyadari suaranya terdengar cukup nyaring. Di hadapanya sepasang kaki berbalut sandal lantai berwarna pink yang sama seperti ia miliki menghalangi jalan. Mata kucing Jaejoong menelusuri kaki jenjang dan menemukan celana pent ketat dan baju kebesaran yang sudah tidak asing di mata.
Susah payah Jaejoong menelan ludah ketika menyadari siapa gerangan yang baru saja menarik baju sampai membuatnya terjerembab. Terus menelusuri keatas sampai ia menemukan wajah sangar dengan bibir membentuk satu garis dan mata yang sama persis seperti miliknya mendelik lebar.
"Mommy,,," cicitnya. Tubuhnya semakin mengkerut di lantai.
Kim Heechul berkacak pinggang di hadapan putra semata wayangnya yang semakin hari semakin membuatnya kebakaran jenggot bahkan ia yakin ia terlihat lebih tua dari yang seharusnya karena tingkah putra nakalnya itu.
Ya, Tuhan, apa lagi yang dilakukan putranya ini setelah kabur dari pelajaran sejarah dan tidak kembali sampai matahari terbenam.
"Kau tahu kesalahanmu, anak nakal."
Kepala Jaejoong mengangguk penuh semangat. Rambut almondnya bergoyang goyang tertiup angin sampai sebagian poninya menutupi mata kucingnya yang besar.
Demi apapun di dunia ini, yang ia takutkan ialah ibu kadungnya yang paling mengerikan di antara yang mengerikan dan sekejam ibu tiri cinderella yang ia berikan dengan senang hati sebagai julukan untuk ibunya, biarlah ia di anggap anak durhaka. Batinya nelangsa.
Kim Heechul menghembuskan nafasnya kasar memperhatikan putranya yang nakal namun penakut dan menjuluki dirinya sediri The Kingka di sekolahan.
Demi Tuhan, putranya terlalu manis untuk ditakuti oleh seantero sekolah, bahkan putranya itu terlalu cengeng untuk berkelahi sampai sampai lawanya mundur takut untuk melukai kulit mulus Jaejoong yang pastinya tidak akan Jaejoong biarkan ternoda bahkan oleh debu sekalipun.
" Mr. Lee, Guru sejarah itu bertanya ..." Jaejoong memulai." bertanya ...kepada Jongie siapa yang menyerang Korea untuk pertama kali,,," Heechul mengangguk mendengarkan cerita putranya dengan ogah ogahan. "Jongie sudah mengatakan kepada Mr. Lee, bukan Jongie pelakunya karena Jongie belum lahir pada saat itu, bukan begitu ,Mommy?" Heechul mengangguk membenarkan.
Senyum Jaejoong melebar. "Namun Mr. Lee, marah marah dan menghukum Jongie berdiri di bawah sinar matahari, Mommy tahu Jongie takut panah sehingga Changmin membawakan Jongie payung. Kemudian Yoochun memberi Jongie air dingin untuk minum," Jaejoong memberi jeda menunjukan mimik wajah teraniaya yang pasti akan membuat ibunya itu melunak. "Mr. Lee mengatakan pada Jongie, Yoochun dan Changmin tidak diperbolehkan ikut pelajaran selanjutnya."
Heechul melunakkan wajahnya, ia melanjutkan kata kata Jaejoong. "Itu sebabnya kau kedua teman nakalmu itu bolos dan tidak kembali dalam pelajaran kedua. " Anggukan antusias Jaejoong tunjukan dengan cengiran lebar polosnya.
Jaejoong kembali berkata. "Kata Changmin, sebagai Kingka sekolah, akan sangat memalukan jika Jongie di hukum tanpa perlawanan."
" Jadi itu alasanmu kabur, dan tentu saja Yoochun akan ikut dengan kalian jika tidak kalian akan memaksanya."
Kali ini Jaejoong menggeleng." Bukan, bukan begitu Mommy, Yoochun sendiri yang mengikuti kami dengan sukarela, karena Jongie sudah melempar tas Yoochun keluar gerbang." jelasnya tanpa dosa.
Heechul memegangi kepalanya yang tiba tiba pening. Ya ,Tuhan, sampai kapan putranya ini berhenti membuat kehebohan yang sangat sangatlah konyol.
Jaejoong melompat menuntun ibunya untuk duduk di sofa ketika melihat ibu tercinta namun menyebalkan itu akan limbung.
"Mommy, sepertinya mommy terlalu lama berdiri."
"Ini salahmu, aku menunggumu kembali anak nakal."
Mulut Jaejoong membentuk bulatan mungil yang membuat Changmin dan Yoochun terjerembab dari balik korden. Heechul menaikkan alis, bukan sesuatu yang baru jika kedua anak itu akan takut pulang kerumah mereka setelah melakukan kesalahan.
Yoochun berdiri dengan cepat dan membantu Changmin berdiri. Mereka membungkuk memberi salam. "Aunty .. Maafkan kami."
"Malam ini kami akan mengerjakan pekerjaan rumah bersama Jongie." alasan yang sama yang selalu mereka buat. Heechul menghembuskan nafas pasrah.
Changmin menusuk tulang rusuk Yoochun dengan siku. "Aunty tidak keberatan, bukan? Tolong telfon keluarga kami untuk memberitahu mereka bahwa kami disini." Yoochun mengeluarkan senyuman terbaiknya.
Heechul sudah kebal dengan Carisma Cassanova namja itu tebarkan setiap kali mereka bertemu sejak mereka masih taman kanak kanak. Ya Tuhan, bahkan mereka sudah bersama selama itu, apakah ia sudah setua ini.
Heechul kembali menatap putranya dengan tatapan tajam yang siap mencabik cabik Jaejoong detik itu juga. "Mandilah dan turun untuk makan malam, jangan lupa gosok gigi sampai bersih." ia mengingatkan.
Jaejoong memutar bola mata, sampai kapan ibu kesayanganya ini memperlakukanya seperti anak kecil. "Jongie sudah berumur tujuh belas tahun, dan bukan anak kecil lagi! Berhenti menghawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku seorang Kingka kalau Mommy lupa."
Dengan ogah Heechul menyuruh putranya itu untuk naik ke lantai atas bersama teman teman badungnya. Kaki Jaejoong sudah akan menaiki pijakan pertama ketika suara bell berbunyi.
Seorang pelayan membuka Pintu depan, pintu terbuka disusul suara kepala keluarga Kim. "Jongie sayang, lihatlah apa yang Daddy bawa untukmu."
Jaejoong memutar tubuhnya penuh antusias, apakah ayahnya itu membawakan hadiah untuknya. Mata Jaejoong berbinar bahagia. Oh, ayahnya adalah orang paling baik di dunia yang selalu memberinya hadiah hadiah kecil ketika ia pulang dari bisnis luar negri. Dan hari ini apa yang ayahnya berikan untuknya, ia mulai menebak dalam hati.
Jaejoong sudah berjalan cepat menuju pintu depan ketika ibunya mendorong tubuh kecilnya kesisi dan berlari kecentilan menghampiri Hankyung, suaminya. Jaejoong meremas ujung seragam dengan gemas melihat tingkah ibunya yang tidak menyadari umur.
Ya, Tuhan, ibunya itu berubah centil sok cantik dan menggemaskan jika berhadapan dengan sang Ayah. Jaejoong mengigit ujung dasinya sebal, seharusnya ibunya mengalah untuk dirinya, bukan?
Setelah mendapatkan ciuman di pipi dari Heechul, Hankyung tersenyum kearah Jaejoong. "Apa kau tidak akan memberikan ciuman selamat datang untuk Daddy, Jongie. "
Changmin hampir saja menyemburkan tawa, Yoochun tetap tenang di tempatnya ketika melihat pemimpim Kingka yang paling di takuti seantero sekolah itu mencium Ayahnya dan menunjukan mimik wajah tidak rela.
"Daddy, Jongie bukan anak kecil, berhentilah mengaggap Jongie anak kecil. Jangan peluk Jongie,"
Jaejoong adalah putra mereka satu satunya dan mereka sangat menyayangi Jaejoong dengan sangat terlalu sampai sudah tak terkira.
Jaejoong melihat ke bawah ketika merasakan sesuatu benda lunak bergerak di kakinya. Anak kucing dengan mata besar mengesek gesekan tubuhnya ke kaki Jaejoong.
"Itu hadiah untuk Jongie." Hankyung mengacak acak rambut almond putranya.
Mengabaikan Ayahnya Jaejoong mengangkat kucing kecil itu, matanya mendelik melihat lidah kucing itu menjilat kakinya sendiri. "So Cute..." teriaknya histeris.
Ya, Tuhan.
"Daddy aku sangat menyukainya, lihatlah umma dia sangat lucu. Kyaaa... Yoochun, Changmin lihatlah dia menjilat tanganku. ..." ia berteriak semakin histeris. " Aku harus memberinya nama... tapi apa nama yang cocok untuknya... Oh seluruh sekolah pasti akan takut padamu karena kau peliharaan terbaik yang pernah aku miliki."
Oh, Jaejoongi. Changmin menggeleng merana. Kemana perginya Jaejoong yang mengatakan bukan anak kecil satu menit lalu.
Hankyung tersenyum bahagia, Heechul mengeleng gelengkan kepala. Changmin memutar bola mata, Yoochun tersenyum kecil melihat Jaejoong berlari mengejar kucing barunya di ruang tamu.
Jaejoong apakah kau benar benar menganggap dirimu bukan anak kecil barusan. Batin mereka semua.
Changmin dan Yoochun menyembunyikan wajah di balik tas selempang mereka sepanjang perjalanan ke sekolah. Demi Tuhan, bagaimana mungkin Jaejoong membawa peliharaan yang konon akan di ditakuti seantero murid sekolahan mereka bersama mereka, saat ini, dan kesekolah.
Akan lebih masuk akal jika peliharaan The Kingka mereka adalah Anjing besar yang menakutkan dan siap menggigit siapa saja yang mendekatinya. Akan tetapi seeekor kucing ... K-U-C-I-N-G atau tepatnya anak kucing berbulu abu abu bermata besar dan benda kecil itu lunak selunak majikanya jika didekati.
Jaejoong berjalan dengan langkah lebar dengan sedikit ayunan gembira dan senandung senandung kecil dari mulut mungilnya. Di belakangnya kucing yang sudah di beri nama Jiji setelah semalaman ia tidak tidur memikirkan nama kucing miliknya itu mengikuti Jaejoong dengan langah tergopoh gopoh takut ketingggalan sang majikan.
Apa kata seluruh murid yang melihat mereka nanti seandainya Jaejoong yang disegani dan di takuti ,sebenarnya mereka lebih takut membuat Jaejoong menangis ketimbang takut dipukul oleh namja cantik bermata kucing itu.
Derajat Kingka yang Changmin banggakan akan musnah dalam sekejab. Yoochun yang hanya mengikuti kedua teman nakalnya itu hanya pasrah diseret sana sini hanya untuk menyenangkan keduanya.
Dari ujung jalan nampak segerombolan namja dengan seragam sama yang mereka pakai membelok ke arah yang sama dengan arah yang mereka tujuh. Dengan bibir merutuk dan komat kamit Jaejoong berkacak pingggang.
"Beruang itu harus diberi pelajaran, setelah kemaren mendorong jongie sampai jatuh."
"Itu karena kau sendiri yang lebih dulu mendorong Yunho, Jae. Yunho hanya melarangmu untuk tidak bolos."
Jaejoong memutar tubuh menghadap kedua anak buahnya yang lancang, menurutnya. Dan berkacak pinggang. "Kau berdiri di pihak yang mana Yoochun?"
Changmin menjawab. " Sudah tahu Yunho itu berbadan seperti beruang, kau salah jika melawanya. Namja dingin pendiam yang memiliki banyak antek yang berpengaruh. Dan jangan lupa kalau dia namja yang menjadi incaran para gadis gadis cantik seantero Seoul."
"Aku lebih tampan darinya. Dan apa hubunganya ketampanan beruang hibernasi itu dengan dia mendorongku kemaren " jawab Jaejoong geram..
Changmin memutar bola matanya malas, "Kau lebih cocok disebut Cantik. Mana ada Kingka membawa kucing bersamanya, seharusnya anjing, Jae. Anjing besar yang akan menakuti mereka."
Dengan polosnya Jaejoong berkata. "Kau tahu Anjing bisa mengigit, bagaimana bisa kalian mengusulkan aku memelihara binatang itu, jika anjing itu mengigitku bagaimana." ia merinding membayangkan kulit mulusnya tergores gigi taring anjing anjing nakal.
"Jiji jauh lebih menggemaskan, bukan begitu Jiji?" Jaejoong menunduk ke bawah, kucing itu tidak ada di dekat kaki Jaejoong. " Dimana Jiji..." ia mulai histeris . "Apakah Jiji di culik, bagaimana ini dia terlalu lucu, seharusnya aku tidak membawanya keluar ..."
Changmin menggeram, bagaimana bisa ia memiliki sahabat yang menyebalkan seperti Jaejoong.
"Jiji disana." Telunjuk Yoochun mengarah ke ujung jalan. Mata Jaejoong menatap horor kearah siapa gerangan yang sedang menganggu Jiji~ dalam versi pandangan Jaejoong.
Ia melompat dengan gesit kearah sekelompok namja yang sedang bermain main dengan hewan peliharaanya yang seharusnya menakuti mereka. " Jauhkan tanganmu dari Jiji." teriaknya
Sontak Yunho mendongak mendengar teriakan yang sudah tidak asing di dengarnya. Jaejoong berdiri di sana berkacak pingang menatapnya dengan mata besar yang mendelik menggemaskan. Yunho tersenyum samar. "Kucing ini milikmu?"
"Namanya Jiji J-i-j-i... Jiji bukan kucing ini, dasar kau beruang madu menyebalkan." ia merebut Jiji dari tangan Yunho.
Mata setajam musang Yunho menatap interaksi Jaejoong dengan hewan berbulu tersebut." Kucing yang lucu."
Ketika mata namja cantik itu menatap mendelik kearahnya buru buru ia memalingkan wajah. "Jiji seharusnya menakutimu, dia tidak lucu dasar beruang madu gendut."
Yunho sudah pasrah memberitahu Jaejoong untuk tidak memanggilnya Bear, dalam versi apapun, apakah Yunho hewan sebesar hewan coklat putih atau hitam berbulu itu?
Ia hanya beberapa senti meter lebih tinggi dari murid namja lain. Dan ia mencoba membiasakan diri dengan panggilan romantis Jaejoong untuknya yang memang unik ketika Jaejoong sendiri tidak bersedia di panggil kitten karena mata namja cantik itu sama seperti mata kucing.
"Aku ini macan bukan kucing." kata Jaejoong suatu hari, saat Yunho memanggilnya Kitten.
Yunho dan kawan kawan tertawa terbahak bahak mendengar nada mengancam khas Jaejoong. Betapa Jaejoong-nya begitu menggemaskan.
Ya, Jaejoongnya. Biarkan Jaejoong mengatakan dirinya adalah Kingka sekolah yang paling menakutkan. Yunho harus menghindarkan namja namja yang berusaha menyaingin kitten -nya agar tidak menyakiti namja cantik itu dalam setiap perkelahian. Bahkan ia sendiri rela babak belur di hajar Jaejoong dengan pukulan yang sama sekali tidak terasa sakit ketika pukulan itu menyentuh salah satu bagian tubuhnya.
"Baiklah, Kau menakutkan seperti singa." Yunho menghibur. "Kalau boleh tahu Kitten..."
"Jongie." sela Jaejoong.
Yunho memutar bola mata. "Baiklah, Jongie, apa kau akan membawa kucing itu masuk kedalam kelas. Aku rasa Guru Choi tidak akan menyukainya... Kitten."
Jaejoong tidak begitu memperhatikan kata terakhir Yunho ." Kau lupa kalau aku ini Kingka, siapapun tidak membuatku takut," ia menatap lewat bahu kepada dua temanya. "Bukan begitu ChunMin?"
Jaejoong selalu seenak jidat Yoochun memanggil nama orang lain sesuka hati. Dasar kucing nakal. "Oh tidak,,,," seru Jaejoong ketika mendengar bell masuk sekolah berbunyi.
Dengan marah ia mendelik kearah Yunho. "Ini salahmu, Bear. Kau menghalangi jalanku sampai terlambat untuk pelajaran pertama.. Bagaimana ini, Mommy akan menghukumku kalau aku bolos lagi." Jaejoong berlari diikuti ChunMin yang juga berlari di belakang.
Menggeleng pasrah Yunho melangkah dengan santai. Ia tersenyum ketika manik matanya melihat Jaejoong sedang mengancam satpan untuk membiatkan mereka masuk. Lebih terlihat merayu jika Jaejoong melakukanya.
"Jadi, sampai kapan kau akan membiarkan Kitten -mu itu berkuasa. Aku sudah lelah bermain main dengan namja cantik itu Yunho. Sungguh Jaejoong hanya membuat aku gemas untuk mencubit pipi chubynya ketimbang menendang pantatnya." Seunghyun berkata.
"Sampai Kitten lelah."
Siwon menggeleng lemah. "Aku rasa sikapmu yang dingin, brutal dan pendendam tidak pernah muncul ketika kau berhadapan dengan Jaejoong , bahkan kau terlalu sabar kepada Namja cantik itu."
Yunho tahu apa yang ia lakukan sangatlah konyol, jauh dari apa yang ia lakukan di sekolah lamanya di LA. Sejak dua bulan lalu ketika ia melihat Jaejoong berlarian keliling sekolahan dan guru olahraga yang mengejar di belakang dengan marah, Yunho tahu ia telah terpikat oleh namja cantik bermata seperti kucing itu.
"Bantulah kittenku masuk, teman. Dia tidak akan senang seandainya aku yang membantunya melompati pagar tinggi itu."
Seunghyun dengan senang hati membantu Jaejoong dengan beberapa godaan yang akan membuat wajah namja cantik itu merona dibuatnya.
"Jika kau berani menggodanya, Seunghyun, aku akan mematahkan tulang rusukmu,,, lagi!"
Siwon bergidik membayangkan kejadian beberapa hari lalu, ketika Seunghyun menggoda Jaejoong , Yunho sangat murka dan menghajar temanya itu sampai satu tulang rusuknya retak.
~TBC~
Typo dimana mana. Sudah aku edit, maaf seandainya masih ada typo.
Ff ini memang saya buat untuk hiburan semata. Dengan sifat Jaejoong yang memang cute abies.
* author berusaha buat karakter JJ gitu, maaf jika jauh dari kata cute*
