Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author: Sulis Kim
Main C :Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Victoria shop.
Butik itu terlihat lenggang ketika Mr. Jung bersama Yunho memasuki Toko di sore itu.
Pemilik Victoria Shop. Miss Vichy menyambut hangat kehadiran Mr. Jung kemudian menggiring mereka ke lantai dua dimana terdapat segala jenis pakaian dari yang bahan sampai yang sudah terpajang di lemari kaca menunggu seseorang untuk mengenakan gaun indah tersebut.
Yunho mendesah lelah, butuh waktu berjam jam sampai Ibu tercintanya itu selesai dengan urusan wanita yang membosankan... Ia akan mati bosan jika tetap disini alih alih ia meminta ijin, Yunho memberi tahu ibunya untuk menunggu di lantai dasar.
Yunho baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia melihat segerombolan gadis gadis berlarian menaiki tangga. Ia ingat Ms. Vichy memiliki dua orang putri salah satunya bersekolah di sekolahan yang sama dengan Yunho. Jessica kalau ia tidak salah ingat.
Mengikuti kata hati ia akan merasa nyaman duduk di ruang ganti, Yunho berpikir itu tempat yang aman untuk bersembunyi. Masuk keruangan tunggu yang menjadi satu dengan ruang ganti, betapa terkejutnya ia ketika menemukan seorang gadis dengan balutan Gaun warna putih berdiri di tengah ruangan. Gadis itu menatapnya terkejut dari balik bahunya.
"Maaf aku pikir tidak ada orang."
Sejenak, Yunho tak dapat mengalihkan tatapan dari bidadari cantik di hadapanya, mata gadis itu seakan memanggil Yunho mendekat ketika tatapan mereka bertemu. Bola mata besar yang ...familiar.
Tanpa sadar Yunho melangkah dan berhenti di belakang gadis itu. Sangat cantik. Gadis itu memiliki tubuh ramping namun berisi di tempat yang sempurna dengan tinggi yang sama dengan Yunho. Ketika gadis itu memutar tubuh berniat menjauh darinya, gadis itu kehilangan keseimbangan, dengan sigap Yunho merengkuh pinggang gadis itu untuk mencegahnya terjerembab ke lantai yang keras.
Demi Tuhan, gadis itu sungguh ringan. Ketika gadis itu menoleh, Yunho sadar, wajah itu benar benar familiar. Detak jantungnya yang memang berdetak lebih cepat hanya untuk satu orang semakin menambah keyakinan Yunho tentang siapa gerangan gadis dalam pelukanya itu. Tapi, tidak mungkin!
Ketika tatapan matanya menyusuri mata, alis dan turun ke pipi, sebuah tanda samar yang ia kenali bertengger manis di bawah mata gadis itu.
Mengeratkan pelukan, tangan Yunho terangkat membelai kulit wajah Gadis itu ..."Apa kita pernah bertemu Nona?"
Yunho melontarkan pertanyaan yang singgah pertama di dalam otaknya meskipun ia tidak yakin dengan penglihatan matanya. Tidak, ia tidak salah lihat. Ia yakin ketika menemukan tanda lain di leher yang hanya dimiliki satu orang yang ia kenal .
Susah payah Yunho menelan ludah ketika matanya menamperhatikan bibir merah muda setengah terbuka tepat di depan hidung, garis wajah lembut dan rahang tegas, jangan lupa, kulit putih gadis itu.
Jaejoong bergerak gelisah dalam rengkuhan Yunho, berusaha membebaskan diri. Dengan setengah hati Yunho melepaskan lenganya namun tak berinat untuk beranjak lebih jauh.
Rambut pirang Jaejoong tergerai menutupi sebagian wajah dan Yunho menyibakkan rambut itu kebelakang telinga Jaejoong. Sorot mata terkejut Jaejoong tunjukan dengan gamplang.
Mundur selangkah Jaejoong mencoba berdiri di atas High hell setingi tujuh sentimeter itu. Kemudian ia menggeleng, menjawab pertanyaan yang Yunho lontarkan.
"Kau sangat mirip dengan salah satu temanku,,,"
Kepala Jaejoong mendongak. Teman?
Senyum di bibir Yunho berkembang. "Dia teman sekolahku, tapi dia namja." jawaban yang tidak pernah Jaejoong bayangkan. Mungkinkah pemuda itu menganggapnya teman ketika ia sendiri menganggapnya saingan.
Bibir Jaejoong mengerucut imut membuat Yunho susah payah menahan diri untuk tidak menyambar bibir merah muda menggoda Milik Jaejoong.
Ya. Tuhan, ia sudah cukup gila dengan melihat Jaejoong di sekolah setiap hari dengan tampilan urak urakan. Apalagi saat ini ketika pemuda itu berpakaian bak peri terdampar membuat pertahanan diri Yunho semakin menipis untuk tidak menyentuhnya.
Pintu ruangan kembali terbuka kemudian masuklah sembilan ekor Gomiho berdesakan disana dengan wajah terkejut dan penasaran.
Mundur dengan pelan, Yunho menjauh dari Jaejoong tanpa berkata apapun. Kemudian membalik badan dan tersenyum kepada gadis gadis yang histeris dan berdesakan untuk berdiri di kedua sisinya.
"Yunho Sunbae, kebetulan sekali kita bertemu disini."
"Sunbaenim, kami mencarimu ke atas, tapi Bibi mengatakan kau ada disini.."
Yoona menyodok Sunny dengan siku, ketika gadis itu kelepasan bicara.
"Aku baru keluar dari toilet ketika melihat kalian berlari menaiki tangga." jelas Yunho. Pria itu dengan mudah menyembunyikan ekspresi tidak sukanya di depan orang lain.
Jaejoong berdiri disana memperhatikan para gadis itu mengrubungi Yunho seperti lalat kelaparan. Ya Tuhan, ia harus kabur atau Yunho akan tahu siapa dirinya. Ia beringsut masuk keruang ganti dan berniat mengganti pakaian ketika otak cerdasnya menjerit.
Menepuk keningnya sendiri Jaejoong mengumpat. Tidak mungkin ia keluar sebagai Kim Jaejoong dari ruang ganti, bukan?
Dengan lemas Jaejoong beringsut di sudut yang dingin duduk disana meratapi nasipnya yang sial.
"Jiji, semua ini karenamu jika kau masih juga nakal akan ku cabuti bulumu seperti yang akan di lakukan sembilan ekor Gomiho itu kepadamu."
.
.
.
Pagi yang cerah secerah bunga yang tersiram embun ketika fajar dengan kesejukan angin dari pepohonan di taman sekolah Shinki.
Pelajaran pertama baru saja usai Changmin merebahkan diri di rerumputan bersama Jaejoong disisinya, Yoochun duduk dan merelakan kakinya sebagai bantalan untuk kedua sahabatnya.
"Kau Yakin Yunho tidak mengenalimu?"
Jaejoong telah menceritakan kejadian kemaren malam kepada kedua sahabatnya.
"Aku yakin, Yunho melihatku pagi ini, dan laki laki itu tidak mengatakan apa pun selain menatapku dengan mata musangnya yang tajam seperti biasa."
"Apa mereka marah karena kau kabur ketika mereka sibuk bersama Yunho."
" Sembilan ekor Gomiho yang kau maksud? Tidak. Malah, mereka merasa gembira dengan kehadiran si Jung brengsek itu sampai melupakanku dan Jiji. Ketika Yunho menenui Ibunya di lantai atas dengan mereka mengekor di belakangnya aku melarikan diri bersama Jiji." Jaejoong menceritakan dengan bangga, ia duduk dan memperlihatkan lenganya.
Yoochun menatap tangan mulus tak tercela itu sembari menggeryit. Tatapanya menatap Jaejoong bertanya. "Jiji mencakarku karena aku menggendongnya terlalu erat, Mommy bilang lukanya akan sembuh dalam dua atau tiga hari." ia mengadu, kemudian memperlihatkan luka yang hanya goresan ringan itu kepada Changmin. "Sakit, bahkan kemaren berdarah."
Changmin menghembuskan nafas lelah. Ia gemas setengah mati dengan pemimpin mereka yang manja tingkat dewa. Bagaimana mungkin Jaejoong masih tidak berubah sedikitpun setelah di didik menjadi pemuda nakal olehnya. Di mulai dari hal yang ringan sampai mendapat skors-pun tidak akan mengurangi sifat manja yang sudah mendarah daging dalam diri Jaejoong. Bukannya Changmin ingin menyalahkan orang tua Jaejoong yang memanjakan anaknya, tapi Changmin tidak memiliki orang lain untuk disalahkan dalam masalah ini.
Dengan gemas Changmin menarik tangan Jaejoong, alis matanya naik mengeryit melihat luka kecil yang sudah hampir mengering. Ia menunduk dan mendaratkan ciuman di atas luka itu. "Semoga cepat sembuh."
Jaejoong mendelik. Apa apaan sahabatnya itu, ia pikir dirinya itu gadis yang mengadu pada sang kekasih. "Kenapa kau menciumku." mata besar Jaejoong menatap Changmin heran.
Changmin tidak memikirkan konsekuensi jawaban yang ia lontarkan secara asal. "Karena kau menggemaskan setengah mati ketika merajuk, seperti seorang gadis yang meminta perhatian kekasihnya." Changmin mengigit lidah ketika mendapatkan sodokan siku dari Yoochun.
Otot di kening Jaejoong terlihat begitu nyata dan wajah pemuda itu berubah merah karena marah. Sebelum Jaejoong menjerit mengumpat dan menendang melempar apapun yang tertangkap tangan, Changmin sudah berlari kearah gedung sekolah diikuti Jaejoong di belakangnya sambil menyumpah tidak jelas.
Yoochun menghela nafas. Ya. Tuhan, sampai kapan kedua sahabatnya yang hiperaktif itu berkelakuan sedikit lebih dewasa, bisakah sehari saja mereka berhenti mengajak dirinya untuk tidak mengelilingi sekolahan di kejar satpam maupun guru dan hidup tenang seperti murid murid lain.
"Justur itu alasanku berteman dengan mereka."gumam Yoochun memunguti tas dan jas kedua sahabatnya.
Ya itu benar justru itu adalah daya tarik persahabatan mereka yang akan tetap ia jaga sampai kapanpun. Jaejoong yang menggemaskan dan sok berkuasa. Changmin si cerdas dengan segala kecerdasan yang ia salah gunakan untuk mengerjai siapapun yang ia inginkan. Dan dirinya Park Yoochun yang akan selalu berdiri di belakang kedua temanya untuk menegur kemudian akan mendapatkan hukuman yang sama dan ia tidak menyesal dengan persahabatan ini.
Langkah kaki Changmin cukup panjang berlari menghindar untuk menjauh dari Jaejoong sampai pemuda itu melupakan apa yang di katakanya barusan. Itu hanya gerakan reflek yang tidak ia rencanakan sebelumnya, sampai kulit lembut Jaejoong berada di bawah bibir, kemudian sesuatu yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum Changmin.
Umpatan Jaejoong terdengar semakin keras di belakang Changmin. Puluhan pasang mata hanya melirik dan tertawa melihat mereka berlari melewati aula bawah menuju tangga memutar untuk sampai ke lantai berikutnya.
"Sialan Kau Chwang, aku akan memukul bibirmu yang sudah lancang mengotori kulitku..."dan entah apapun umpatan Jaejoong yang berikutnya Changmin sudah menghilang di undakan tangga teratas ketika Jaejoong sampai di undakan pertama di lantai dasar.
Kemudian pemuda itu muncul kembali dan menjulurkan lidah mengejek. "Kemarilah Jongie yang cantik, kalau kau bisa mengejarku. Kau tidak takut berkeringat dan lihatlah wajahmu...lucunya"
Seandainya asap dapat muncul karena tingkat kemarahan Jaejoong sudah di ambang batas mungkin sekolahan itu sudah di penuhi asap. Ia bersumpah akan mencabik cabik tubuh temanya itu dan membuang mayatnya ke sungai Han.
Sapatu Jaejoong melayang kearah Changmin, pemuda itu mendelik terkejut dengan serangan tambahan yang tidak masuk dalam perhitungan sebelum ini. Ia mundur dan jaejoong tak melihat Changmin , namun ia mendengar suara mengaduh seseorang menggema di lantai atas.
Lompatan lincah Jaejoong dan teriakan kesuksesan keluar dari bibir mungil pemuda itu. Kepuasaan dengan lemparan sepatu itu begitu nyata, "Rasakan itu anak nakal." ia melirik Yoochun yang sudah di berada di sampingnya . "Kau lihat itu Yoochun." ucapnya histeris. "Aku berhasil memukulnya."
"Sepatu itu menghantamnya," Yoochun mengingatkan.
"Apapun itu, kita lihat bagian mana yang perlu kita beri tambahkan benjolan."
Yoochun masih terenggah sebelum mengikuti Jaejoong menaiki anak tangga.
"Rasakan itu Chwang ..." Jaejoong membeku begitu juga Yoochun.
Disana Changmin memegangi salah satu sepatu Jaejoong berlutut bersama seorang pemuda lainya yang memegangi kepalanya, akan tetapi salah jika ia berpikir lemparan itu mengenai teman badungnya, lemparan itu mendarat indah sayangnya di tempat yang salah.
"Yunho,,," lirih Jaejoong, kedua bahunya lunglai. Ia melirik Changmin, yang menatapnya dengan wajah ngeri. Sial ! Kenapa sahabatnya itu selalu mujur.
Jaejoong menghambur bersama mereka. "Yun, maaf. Salahkan Changmin yang tidak mau berhenti berlari, memaksaku melempar sepatu kesayanganku kearahnya dan sialnya mendarat di atas kepalamu," Jaejoong mengoceh seperti burung yang membuat kepala Yunho semakin berdendam seperti drum di pukul.
Tangan mungil Jaejoong menggantikan tangan Yunho mengusap kening pemuda itu. Ia meringis melihat warna merah terlihat semakin kentara di sana. Ia melupakan fakta sepatu boot yang keras, model terbaru hadiah Ayahnya sebulan lalu, sepatu bermerk yang memang di disain untuknya seorang.
Jaejoong meringis ngeri melihat pemuda di hadapanya itu menahan sakit. "Pasti sakit."
Changmin memutar bola mata. "Tidak!" bantahnya. "Laki laki tidak akan mengeluh hanya karena terkena lemparan tidak sengaja ."
"Kau meragukan sepatuku yang mahal, Chwang? Itu merek asli dan harganya sangat mahal, Dad..." ia meralat." Ayahku yang memesanya . Khusus di buat hanya untuk putra satu satunya yang tampan ini."
Ya, Tuhan. Changmin mengacak rambut frustasi. "Aku tidak meragukan sepatumu, tapi aku meragukan tenagamu untuk melempar sepatu dan juga meragukan kekebalan Yunho,"
" Aku melemparnya sekuat tenaga," ia meyakinkan." Kau tidak perlu meragukan kekuatanku." geraman Jaejoong begitu nyata. "Yunho jelas jelas tidak dalam kepompong atau kura kura yang memiliki pelindung diri."
Demi apapun Changmin lebih baik berdebat dengan Jiji dari pada berdebat dengan pemuda Cantik yang cerewet dan ingin menang sendiri seperti Jaejoong.
Yunho masih duduk di lantai yang dingin ketika Jaejoong bergabung denganya dan Changmin. Bergeser lebih dekat ia mengusap ringan benjolan ringan d kening Yunho. "Bagaimana ini, besok pertandingan antar sekolah. Yunho akan hadir di acara besar itu dengan luka ini."
"Demi Tuhan," geram Changmin. "Itu hanya luka ringan dan tidak akan mengurangi ketampanan Yunho."
"Apa kau ingin mencoba, aku akan dengan senang hati melempar sepatu itu kearahmu sekali lagi. Kali ini aku pastikan akan mengenai kepalamu yang penuh ide ide aneh itu." ucah Jaejoong tanpa dosa
"Tidak. terima kasih."
Yunho menahan senyum ketika melihat bibir Jaejoong bergumam tidam jelas. Jika biasanya Jaejoong akan bersikap galak judes dan pembangkang terhadap Yunho. Tidak untuk kali ini. Pemuda itu terlihat tulus menghawatirkan keadaan dirinya. Yunho berniat kelapangan untuk latihan ketika Changmin berlari kearahnya dan menunduk di depanya. Dan ia sudah akan bertanya ketika sesuatu benda terbang kearah wajahnya sampai sesuatu yang keras mendarat indah mencium kening ketika ia tidak berhasil menghindar.
Yunho bersumpah akan mencincang siapapun pemilik sepatu itu. Ia kehilangan keseimbangan dengan tidak elit pantatnya mendarat indah di lantai yang keras.
Ketika itu ia melihat kelinci kecilnya Kim Jaejoong berdiri di depan sana dengan wajah ngeri. Kemudian ekspresi rasa bersalah, penyesalan juga kekhawatiran yang di tunjukan pemuda itu menghangatkan hatinya. Tidak, Yunho tidak meragukan kekhawatiran itu tidak nyata. Itu nyata, Jaejoong-nya khawatir oleh luka yang sesungguhnya tidak terasa sakit.
Lebih sakit di bagian belakang tubuh yang menghantam lantai, akan tetapi tidak mungkin baginya untuk mengaduh di antara puluhan pasang mata yang memperhatikan dirinya dan memegangi buttnya, bukan? Dan ia mengalihkan rasa sakit itu di kening yang tak lebih sakit dari pukulan kelinci kecilnya.
"Sudahlah Kitten, aku tidak apa apa." Yunho berseru mengalihkan kedua sahabat itu dari berdebatan sengit yang mulai tidak masuk akal.
" Bisakah kau membantuku untuk berdiri." ia tidak sungguh sungguh untuk meminta itu. Yunho berpikir Jaejoong akan mengabaikanya dan pergi, dengan begitu ia bisa berdiri tanpa rasa malu ketika mengeluhkan pantatnya yang sakit.
Namun, Jaejoong membantu Yunho untuk berdiri. Sentakan keterkejutan begitu nyata seperti sengatan listrik ketika kulit lembut tangan Jaejoong memengangi lengan bagian atas dan menaruh lenganya di bahu Jaejoong.
Ya, Tuhan. Yunho akan mempertaruhkan apapun untuk menghentikan waktu detik ini juga. Aroma vanilla bercampur keringat dari tubuh Jaejoong membuatnya menutup mata dan menghirup udara sebanyak yang ia mampu.
"Apakah begitu sakit?" Jaejoong salah mengartikan gerakan mata Yunho. Pemuda itu menggeryit khawatir. "aku akan membawamu ke ruang kesehatan. Aku juga akan memintakan ijin untuk tidak mengikuti latihan dan pelajaran selanjutnya."
Mata besar Jaejoong mengerjab menunggu Yunho mengatakan sesuatu, pemuda itu hanya menatap balik dengan mata musang yang sama besarnya. Jantung Jaejoong berdetak tak menentu ketika ia mengingat kejadian kemaren sore. Ya, Tuhan, lagi lagi Yunho menatapnya dengan sorot mata yang Jaejoong sendiri tidak tahu apa.
Dengusan Changmin menarik Jaejoong untuk menatap pemuda tinggi tersebut, "Dia bisa berjalan sendiri Jongie, tidak lama lagi pelajaran di mulai apa kau akan bolos lagi?"
"Tapi Jaejoong harus mengantar Yunho terlebih dahulu keruang kesehatan. Jaejoong yang melukainya." Yoochun memberi saran. Dan mendapat sebuah lirikan maut dari Changmin.
Mengabaikan kedua sahabatnya yang selalu berbeda pendapat itu, Jaejoong menuntun Yunho atau lebih tepatnya menarik pemuda itu dengan gemas agar menjauh dari kedua soulmatenya yang aneh.
Gerakan kaki pertama yang sangat menyakitkan dirasakan Yunho. Oh sial, rasanya begitu sakit. Namun rasa sakit itu perlahan menghilang di langkah berikutnya. Menjaga jarak agar dirinya tidak begitu dekat, Yunho berusaha menjaga nafasnya tetap teratur. Ia tidak akan membiarkan Jaejoong mendengar degub Jantungnya yang semakin menggila hanya dengan sentuhan fisik biasa.
Jaejoong manarik pergelangan tangan kiri Yunho agar pria itu bersandar padanya. "Bear, kau harus bersandar padaku."
"Apa harus?"
Anggukan singkat Jaejoong membuat Yunho semakin berkeringat. " Aku pikir sudah agak mendingan, Jae. Biarkan aku sendiri ..."
Jaejoong menahan lengan Yunho agar tetap di tempat. "Tidak, aku adalah Kingka yang bertanggung jawab. Jadi aku tidak akan membiarkanmu sendirian, aku akan memastikan siapapun yang bertugas di sana akan merawatmu sampai sembuh."
Kingka yang bertanggung jawab? Yunho heran bagaimana Jaejoong bisa begitu menyanjung dan membanggakan sebutan yang tidak penting itu. Ia menghela nafas, percuma ia melawan, Jaejoong bukanlah orang yang mau mendengarkan pendapat orang lain, pemuda yang keras kepala tepatnya.
Dengan perasaan yang semakin tidak karuan Yunho menyandarkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Kehangatan tubuh yang lebih kecil Jaejoong menyebar secepat kilat kesemua indra dalam tubuh Yunho. Ia merasa perutnya seakan di aduk aduk, sekuat tenaga ia menjaga nada suaranya ketika berkata. "Kau hanya perlu mengantarku, tidak usah menunggu." Semua orang pasti akan menertawakanya jika ia membutuhkan perawatan hanya karena luka goresan kecil di kening.
"Aku tidak suka di bantah, Bear."
"Aku tidak membantahmu, Kitten."
"Berhenti memanggilku dengan nama itu, sangat tidak elit sang Kingka mendapat nama lain yang menggemaskan seperti hewan peliharaanku sendiri." sahut Jaejoong dengan sebal. Ia heran bagaimana bisa Yunho memanggilnya seperti itu, ia tidak lucu seperti JiJi. Ia tampan dan menakutkan.
"Kau memang menggemaskan, kitten." Yunho tidak merasa ia mengucapkanya secara gamplang. Akan tetapi lirikan mata sadis Jaejoong mengatakan hal yang berbeda. "Baiklah," Yunho berkata pasrah. "Jaejongie."
"Itu lebih bagus, Bea... Yunho."
Sial. Ini bukan ide bagus untuk membiarkan dirinya begitu dekat dengan pemuda gula gula yang manis seperti Jaejoong, ini hanya akan membuat Yunho semakin mengagumi sosok Jaejoong yang lembut dan menggoda. Oh, semoga Tuhan menolongnya.
Jaejoong sendiri ngeri merasakan hal yang sama ketika tubuh besar Yunho melingkupinya. Besar hangat seperti beruang, tentunya Yunho tidak berbulu. Ia terkikik.
"Apa ada yang lucu?,"
Jaejoong mendongak, dengan kedekatan keduanya seperti ini hidung Jaejoong tepat berada di depan bibir Yunho. Bibir hati itu sangat menggoda dan terlihat manis, Jaejoong ingin mencicipi dan membuktikan kebenaran tersebut. Ia menggeleng mengalihkan pandangan ke janggut Yunho yang halus. Mungkin, mungkin beberapa tahun kedepan akan tumbuh rambut di janggut pemuda itu, Jaejoong membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika bakal rambut yang tumbuh akan sangat membuatnya geli seperti Ayahnya ketika menciumnya.
Ia menggeleng. Ya Tuhan, apa yang ada di dalam pikiranya.
"Kenapa kau begitu marah sampai melempar sepatu kearah Changmin? Bukankah kalian teman baik?"
"Tentu saja kami berteman baik," ia menjelaskan dengan kesal mengingat pemuda itu mengatakan ia cantik seperti seorang gadis. "Tetap saja aku marah ketika Chamgmin mengatakan aku cantik apalagi dia menciumku."
Langkah kaki Yunho terhenti, Jaejoong merasakan tubuh pemuda itu menegang. "Yun," ia menatap cemas wajah pemuda yang mendelik ngeri kearahnya. "Kau tidak apa apa bukan? Kepalamu sakit?"
Yunho tidak bereaksi.
Jantungnya sekan mendapat tikaman yang kasat mata ketika membayangkan Changmin mencium Jaejoong. Jaejoong adalah miliknya ia tidak rela membagi Jaejoong dengan siapapun. Ia menarik lenganya dari bahu Jaejoong.
"Kau salah paham, bukan...bukan." kedua tangan Jaejoong melayang kesana kemari di depan wajahnya. "Bukan ciuman seperti yang kau bayangkan, aku masih menyukai gadis cantik. "Ia salah mengartikan keterdiaman Yunho. "Changmin mencium tanganku tidak lebih,"
Helaan nafas Yunho begitu nyata. Oh sial, syukurlah bibir Jaejoongnya masih suci. Hanya dirinyalah yang boleh mencium Jaejoong titik.
Kemudian ia teringat kata kata Jaejoong barusan 'aku masih menyukai gadis cantik' sayatan itu lebih menyakitkan dari apapun yang pernah Yunho bayangkan. Jaejoong mungkin akan menertawakan dirinya jika ia berniat menciumnya bahkan pemuda itu akan menghina dan menganggap aneh perasaan mendampa yang dimiliki Yunho untuk Jaejoong.
Apakah Jaejoong akan menjauh darinya , atau lebih parah dari yang ia bayangkan sebelumnya jika ia mengatakan 'Aku mencintaimu Kim Jaejoong'
"Yun, jangan berpikir yang tidak tidak, aku ..."
"Aku bisa ke ruang kesehatan sendiri, Jae. Tidak usah kau temani." Suara pemuda itu begitu dingin, dan Jaejoong tidak yakin Yunho akan suka seandainya ia mengejarnya.
Alih alih ia hanya menatap punggung tegap pemuda itu semakin menjauh. Dan ia merasakan sesuatu dalam dirinya menghilang. Ia tidak tahu mengapa? Ia ingin menjelaskan sesuatu yang Jaejoong sendiri tidak tahu apa?
~TBC~
