Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate: T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Suara langkah kaki berlarian menuruni tangga menggema di rumah besar keluarga Kim pagi ini. Kim Jaejoong berteriak histeris bahkan sebelum kaki pemuda itu sampai di anak tangga terbawah.
"Mommy, Jongie telat."
Sang kepala keluarga Kim Hankyung mengalihkan pandanganya dari layar komputer, melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul enam lebih. Hankyung menggeryit kening. Sejak kapan putra cantiknya itu berubah menjadi anak baik dan berangkat sepagi ini.
Heechul membawa nampan berisi dua cankir kopi untuk sang suami dan dirinya sendiri juga segelas susu vanilla untuk Jaejoong, meletakkan di meja masing masing ia menatap gemas putranya yang sibuk mengancingkan kemeja dengan terburu buru.
"Apa Mommy sudah menyiapkan bekal untuk Jongie, bekal yang kemaren Jongie minta." Ia bertanya di sela sela kesibukanya memakai dasi.
Heechul menyodorkan segelas susu dan mengambil alih tugas Jaejoong membantu pemuda itu memakai dasi. "Sudah, sayang. Seperti apa yang kau inginkan juga strawberry segar dari kebun kakekmu itu. Kau tahu Mommy menelfon kakek kemaren sore, mendengar kau meminta strawberry kakekmu meluangkan waktu sore itu juga, tengah malam kakek sampai disini kau sudah tidur."
"Granny yang baik." ujarnya tanpa dosa."Kenapa Granny tidak menginap?"
"Granmommy dirumah sendirian, dan dia sedang tidak enak badan." Heechul menjawab.
Hankyung memukulkan koran di atas kepala putranya dengan gemas. "Minggu depan kita harus mengunjungi mereka ..." Ketika melihat bibir Jaejoong membuka ingin protes Hankyung menambahkan. "Tidak ada alasan apapun untuk menolak, atau kau akan kehilangan hadiah dari setiap perjalanan bisnis Daddy, dan juga Daddy akan memberikan Jiji kepada orang lain jika kau tidak menurut kali ini."
Mata Jaejoong mendelik ngeri. Oh, tidak. Kucingnya yang lucu itu adalah miliknya mutlak. Dan ia berkata dengan polos. "Jongie akan ikut Jongie kan anak yang patuh."
Heechul memutar bola mata jengah mendengar perkataan putranya itu."Kalau kau anak yang patuh kau tidak akan melempar sepatumu untuk melukai sahabatmu dan malah menganai Yunho dan kau harus minta maaf hari ini, mengerti." Jaejoong memasang wajah terluka dan merengek ketika Heechul menatapnya garang. Kemudian ia mengangguk.
Hankyung meraih cangkir kopinya. "Yunho,?"
Heechul menjawab. "Teman baru Jaejoong, dia anak pindahan dari LA." Heechul mendorong kening putranya dengan jari telunjuk. Berkata dengan nada penuh tekanan. "Dan putramu yang patuh ini telah membuat kening anak itu terluka."
"Bukan salah Jongie kalau Yunho terluka," rengeknya. "Salahkan Changmin yang berlari dan berlindung di atas tangga. Jongie tidak sengaja, Dad,,," Ia mencari pembelaan dari sang ayah, tau Hankyung akan membelanya.
"Daddy tahu, tapi sungguh tidak baik melepas sepatu yang kau gunakan untuk senjata, Jongie." Hankyung berkata menasehati. "Hari ini kau akan berangkat dengan Daddy,"
"Changmin dan Yoochun sudah menunggu Jongie di halte, lain kali saja Dad,,," Jaejoong memasukkan bekal kedalam tas. Ketika ia melirik jam tangan ia kembali berteriak histeris. "Terlambat, atau disana sudah penuh dengan banyak siswa. Akan sangat memalukan kalau ada orang yang tahu The kingka membawa bekal untuk meminta maaf."
Meraih dua lembar roti tawar berlapis selai Strawberry Jaejoong memakai tas punggungnya dan berlari menuju pintu depan. " Kau bangun empat puluh menit lebih cepat dari biasanya Jongie, tidak usah terburu buru." Heechul bertetiak.
Setelah berteriak sampai Jumpa kepada kedua orang tuanya, pintu tertutup dan Jaejoong menghilang.
Heechul menghela nafas. " Ia bahkan melupakan ciuman selamat tinggal. Putra kita sudah besar, sebentar lagi kita akan kehilangan Jongie yang lucu seandainya dia menikah."
Hankyung bangkit dari duduknya dan memeluk Heechul. "Masih sepuluh tahun terlalu awal kau menghawatirkan hal yang akan terjadi sayang." Ia mencium pelipis istrinya. "Jongie masih akan menjadi Jongie kecil kita meskipun anak kita menikah dan membunyai anak."
.
.
.
"Mengapa kita bersembunyi seperti pencuri yang takut ketahuan." Changmin menggerutu, berdiri di belakang kedua temanya. "Jongie, jika kau ingin memberikan bekal kepada Yunho dan meminta maaf," ucapnya jengkel." cepat lakukan sekarang juga, aku butuh tidur setelah kau memaksaku untuk bangun sejak matahari belum terbit."
Mengabaikan Changmin yang mengerutu Jaejoong mencondongkan tubuh lebih kedalam melewati jendela samping ruang istirahat, para pemain sudah bersiap siap dan berganti seragam basket. Mata pemuda itu menyapu semua sudut ruangan dan menemukan Yunho sedang berbincang dengan para Gomiho yang berdandan menor dengan pakaian kekurangan bahan sebagai Cherliders.
Mulut Jaejoong mengerucut imut.
Changmin tak habis pikir dengan sahabatnya yang super imut itu, belum cukupkah ia di ingatkan sehari sebelumnya untuk bangun lebih awal 'kau juga ikut andil dalam kecelakaan ini Chwang' itulah yang Jaejoong katakan kemaren sore, malam dan sebelum tidur di telefon untuk mengingatkanya.
Handfone Changmin tidak berhenti berdering sejak fajar terbit dan itu ulah satu orang yang membuatnya geram setengah mati. Bahkan ia tidak bisa menikmati sarapan yang biasanya tidak pernah ia lewatkan meskipun ada bencana besar melanda Seoul sekalipun. Ya Tuhan, ia benar benar gemas degan Jaejoong dan tingkahnya yang super ajaib.
Berbeda dengan Changmin, Yoochun akan dengan senang hati berangkat lebih awal dari hari biasa. Pemuda casanova itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggoda gadis gadis dari sekolah lawan yang hadir untuk mendukung tim basket andalan sekolah mereka.
Changmin mendorong Jaejoong kearah pintu, "Pegilah sendiri aku harus melanjutkan tidurku yang tertunda." Ia menatap Yoochun. "Aku yakin kau punya acara sendiri, Dude. Pergilah kita berpisah disini." Tanpa menunggu jawaban mereka Changmin melesat secepat kilat keruang kesehatan, dimana tersedia ranjang yang rela untuk berebahan.
Yoochun melambai kearah Jaejoong sebelum pemuda itu memprotes.
Menghela nasaf, Jajeoong menguatkan diri. Tidak akan susah Jongie, berikan bekalnya dan minta maaf kemudian pergi. Ucapnya pada diri sendiri.
Dengan langkah pelan Jaejoong masuk keruang yang di penuhi pemuda yang lebih tinggi darinya. Oh, ia terlihat mungil di antara pemuda pemuda lainya. Bibirnya mngerucut tidak jelas.
Disambut berbagai sapaan dari yang membuat wajahnya merona sampai memberenggut, Jaejoong melangkah gamang. Cengkraman pada bekal mengerat ketika kornea matanya menemukan Yunho di sudut lemari duduk di bangku yang tersedia dan dihadapan pemuda itu berdiri gadis berseragam sekolah Beika sedang membuka bekal untuk Yunho.
Mereka berdiri begitu dekat. "Makanlah, aku membuat ini dengan penuh cinta untukmu." Senyum hangat yang Yunho tunjukan untuk gadis itu seakan menjadi tikaman rasa aneh tepat di dada Jaejoong.
Dengan suapan besar Yunho menggunakan sumpit menyantap dadar gulung buatan gadis itu. Bibir Jaejoong memberenggut ketika memperhatikan kotak bekalnya yang masih berada di dalam tas.
Mungkin lain kali. Ia menenteng tasnya kembali ke punggung. Berbalik meninggalkan ruang istirahat ia berhenti di ambang pintu. Kenapa suasana hatinya tiba tiba buruk, wajah jaejoong berubah kaku. Namun matanya terbelalak lebar ketika melihat sosok gadis berambut panjang berjalan kearahnya dari ujung lorong.
Wajahnya yang kusut berubah secerah matahari pagi, ia meloncat girang menghampiri sang gadis tinggi berambut panjang sepinggang itu. "Ahra Nunaaaaa..."
Suara jeritan Jaejoong begitu keras sampai sebagian penghuni ruang ganti menengok keluar melalui jendela dan pintu. "Bukankah itu Kingka Vanilla kita." Mereka terkekeh melihat tingkah Jajeoong yang meloncat loncat bak kelinci girang. "Apa yang membuat si manis itu sudah di sekolahan di jam sepagi ini ."
Siwon melirik jam di dinding. "Sangat langka, mungkin dia juga menanti nanti pertandingan ini."
"Atau menanti hari bisa bertemu dengan tiga dewi Beika yang pastinya akan menempeli Jaejoong sepanjang hari." sahut salah satu dari mereka.
"Tiga gadis beika," gadis di hadapanya Yunho berkata. "Maksud kalian Ahra, BoA dan Seugi."
"Ya, mereka adalah fans terberat Jaejoong." Siwon menjelaskan. " seperti tahun lalu, Jaejoong tidak bisa melepaskan diri dari mereka bertiga."
Seunghyun terkikik membayangkan kejadian tahun lalu, oh Jaejoong yang malang, ia harus rela diseret kesana kemari bersama tiga wanita cantik itu.
Gadis yang berdiri di hadapan Yunho menggeryit bertanya. "Siapa pria yang beruntung itu, kalian tahu tiga dewi Beika sangat sulit di dekati?"
"Jaejoongie," ujar Yunho malas.
Sudut bibir Gadis itu melengkung keatas. "Seperti yang kau katakan kemaren, Jaejoong memang populer di sekolahan kalian, bukan? Tak heran mereka merebutkanya."
Gadis itu melompat ke sisi pintu, mendorong beberapa anak untuk dapat melihat Jaejoong yang beridiri di koridor bersama seorang gadis tinggi berambut panjang." Sangat manis," ucapnya. Kembali masuk kedalam kelas. "Tak heran dia populer di sini. Mekipun ia tak cocok menyandang Kingka, seharusnya Prince salju." ucar gadis itu semakin ngaco.
Seunghyun tertawa." Kau tidak berniat untuk bersaing dengan kakakmu, bukan? Jung Jihye."
Jihye bergumam tidak jelas kearah Yunho. "Selama janur kuning belum melengkung dia masih milik bersama."
"Tidak ada janur kuning itu hanya ada di indonesia." Ralat Siwon.
"Sebelum dia memakai cincin." tambah Jihye.
Yunho memutar bola mata jengah. "Tidak harus ada cincin untuk mengikat seseorang, Jihye."
Gadis itu meringis. "Nah, itu kau tahu Oppa, tapi kenapa kau masih tidak menyatakan perasaanmu padanya. "Gadis itu berbisik.
Siwon tertawa, jelas pria itu mendengar bisikan itu. "Kau tidak bisa menyalahkan Yunho, Gadis kecil. Karena Jaejoong itu licin seperti belut."
"Nah mengapa kau tidak pindah ke Shinki untuk membantu kakakmu?" Seunghyun memberi saran.
"Tidak, terimakasih. Aku tidak akan memiliki satupun teman pria jika sekolah disini, kau tahu dia selalu mengawasiku dua puluh empat jam." adunya kepada Seunghyun.
"Jangan pikir kau jauh dari pengawasanku selama kau di Beika Jung Jihye," Yunho mengingatkan. Dan memang benar apa yang ia katakan, ia selalu mengawasi adiknya melalui beberapa kenalanya di sekolahan itu.
Tawa siwon dan Seunghyun menggema menarik sebagian perhatian di dalam ruangan luas itu. "Kau tidak usah khawatir tentang itu, jika kau pindah kesini. Yunho terlalu sibuk mengawasi Jaejoong sampai tidak punya waktu untukmu."
Seunghyun yang masih bersandar di sebelah jendela menyela. "Kau harus melihat itu Yunho," jarinya menunjuk kearah Jaejoong. Pemuda itu sedang menggandeng tangan Ahra.
Mengabaikan Seunghyun, Yunho menatap adiknya. Jauhi murid laki kaki dari sekolah Shinki, karena mereka tidak ada yang benar benar baik." ia mengingatkan. Ia beralih menatap yang lain. "Kita harus mengalahkan Tim Beika di tengah pertandingan."
"Hei, aku kapten disini." Seunghyun mengingatkan." Tapi ide itu tidak buruk jika kita bisa melakukanya."
Jihye tertawa penuh percaya diri. "Jangan menganggap remeh kapten basket Beika, Choi Minho. Selain tampan ia begitu pintar dalam strategi permainan. Dia kapten terhebat yang pernah aku lihat."
Entah sejak kapan Yunho sudah berdiri di balik jendela memperhatikan Jaejoong yang sedang tertawa bahagia bersama gadis itu. " Karena kau belum melihat aku menjadi kapten basket." sahutnya. Pemuda itu berjalan keluar dengan langkah yang lebar.
Siwon, Seunghyun dan Jihye berebut untuk berdiri di ambang pintu melihat apa yang akan di lakukan Yunho kepada dua orang yang sedang tertawa bahagia disana.
Langkah Yunho begitu tegas dan panjang dalam hitungan detik pemuda itu sudah berdiri di sisi Jajeoong, mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu dan menjauhkanya dari Go Ahra.
Tiga pasang mata menatap mereka dengan berbagai kesimpulan berbeda, menebak apa yang akan dilakukan Yunho dengan tingkah konyolnya yang tiba tiba muncul di antara kedua sahabat itu.
Yah, sudah menjadi rahasia umum di sekolah Shinki jika Jajeoong dan Ahra bersahabat baik. Mereka pernah bertetangga sebelum orang tua Ahra pindah ke Incheon. Akan tetapi Yunho belum mengetahui hal tersebut.
.
.
.
"Nuna apakah kau merindukanku ," Jaejoong melompat lompat bahagia kemudian melempar tubuhnya sendiri kearah Ahra
Go Ahra tertawa lepas. Lihatlah, adiknya yang manis itu tidak berubah sesikitpun tetap saja cantik dan ia merasa Jaejoong semakin cantik dari hari ke hari, masih tetap Kim Jaejoong yang menggemaskan. Melepaskan pelukan Jaejoong yang begitu erat tidaklah mudah. " Jongie. Aku tahu kau disini, dan aku kesini mencarimu."
Dengan gemas Ahra mencubit kedua pipi chuby Jaejoong. "Tentunya, aku juga sangaaaat merindukanmu, sangat sangat merindukan adikku yang cantik."
Tawa Jaejoong seketika lenyap, kedua lenganya dilipat didada sok angkuh. "Aku tampan, Nuna,,,," rengekan Jaejoong semakin membuat Ahra semakin gemas untuk kembali mencubit Jaejoong.
"Bagaimana Nuna bisa tahu kalau Jongie disini," Jaejoong meraih tangan Ahra dan meremasnya.
Gadis itu tersenyum,"Changmin, siapa lagi. Aku berpapasan denganya sebelum dia pergi ke ruang kesehatan."
Bibir Jaejoong terbuka namun ia dikejutkan dengan kehadiran Yunho yang mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat. Pemuda itu menariknya kebelakang punggungnya, secara tidak sengaja wajah Jaejoong terbentur keras disana.
Jaejoong mengumpat garang. "Sakit," teriak bibir mungil itu. Sebelah tangan Jaejoong memegangi hidungnya yang terbentur tulang belakang Yunho.
"Maaf," tangan Yunho terulur dan menyentuh ringan ujung hidung mancung Jaejoong. "Aku tidak berniat menyakitimu , Mungil."
Di tangkisnya tangan Yunho, Jaejoong menatap Yunho garang. "Apa kau tidak tahu, tubuhmu itu sekeras batu, Bear."
Bukanya marah Yunho malah mengulum senyum ketika bibir itu memberenggut dan berdesis. "Apa yang kau lakukan, sakit." imbuhnya.
Yunho lupa jika ia telah mencengkeram pergelangan tangan Jaejoong begitu keras. "Maaf, Kitten."
Kemudian entah mengapa Jaejoong diingatkan dengan kejadian beberapa saat tadi di ruang ganti. "Untuk apa kau disini, kau mengganggu kencanku." Kedua lenganya kembali dilipat di dada dan memalingkan muka.
Mata Yunho mendelik lebar. "Kencan?." Yunho tidak mengira ia mengatakan itu cukup keras.
Kepala Jaejoong mengangguk lucu, poni almond pemuda itu bergoyang goyang di terpa angin. "Ya, K-E-N-C-A-N." ia mengeja. "kau tak tahu apa artinya itu."
Ahra masih diam memperhatikan kedua pemuda itu berdebat, jika diperhatikan secara instens mereka seperti sepasang kekasih yang mendebatkan hal hal sepele, atau ...karena kecemburuan.
Ahra tersenyum, curiga. Ia melihat kemarahan di wajah pemuda yang di panggil Jaejoong dengan nama Bear itu, namun seketika ekspresi pemuda itu berubah ketika matanya menatap Jaejoong yang menggerutu kesakitan.
" Maaf," ujar Ahra, ketika Yunho melirik ke arahnya karena barusan ia mengeluarkan tawa lebih keras. "Kau Yunho, bukan?"
Jaejoong masih memalingkan muka, akan tetapi ia melirik Yunho ketika pemuda itu berbalik menatap Ahra dengan tatapan yang ,,,berbeda dari cara pemuda itu menatap Jaejoong. Dan Ahra tahu mengapa.
"Kau dari Sekolah Beika bukan." itu bukan pertanyaan namun pernyataan.
"Bear, kau mengabaikanku."
Ahra tersenyum penuh arti mendengar nada protes Jaejoong lebih tepat disebut merengek. Yang lebih membuatnya terkejut adalah respon Yunho, yang dengan santai menjawab. "Aku tidak mengabaikanmu, Kitten. Setelah ini aku akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan.." Yunho memutar tubuh, kembali menghadap ke arah Ahra.
Gadis itu sudah tidak mampu menahan senyum , menyandarkan tubuhnya ke tembok Ahra melipat kedua tanganya dan menatap Yunho dan Jaejoong bergantian." Ya, Aku dari Beika , senang bisa melihat pemain baru yang katanya hebat dan tampan." Sengaja Ahra mengatakan itu, bola matanya melirik Jaejoong yang menatapnya penuh minat.
"Kau tahu, kau sudah menjadi bahan gosip di sekolahan kami, banyak gadis gadis yang penasaran dengan wajah Yunho, yang kata orang sangat tampan." Bohong, tentu saja itu tidak benar. Dari mana para gadis dari sekolah Beika tahu tentang Yunho.
Baiklah ia tidak akan bermain main lagi dengan adiknya yang berhati kucing, bisa bisa Jaejoong nanti memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang pastinya tidak bisa ia
jawab.
Yunho tidak seperti pemuda pada umumnya yang akan bangga dengan apa yang di katakan Ahra. Malah pemuda itu terlihat tidak nyaman, sesekali melirik Jaejoong yang berdiri di sampingnya.
Ok, ini konyol. Ahra tidak akan ikut drama anak ingusan lebih lama lagi. Menegakkan tubuhnya Ahra menatap lurus kearah Yunho. Kemudian beralih kearah Jaejoong yang menatapnya dengan mata besar pemuda itu. "Setelah kau menyerahkan bekalmu untuk Yunho, Jongie. Kita bertemu di lapangan."
Ahra melenggang menjauh tanpa dosa. Jaejoong berubah ngeri, bagaimana Ahra bisa tahu tentang Bekal yang di bawanya untuk Yunho. Sial, sial, pasti Changmin. Lihat saja nanti, ia akan mencekik sabatnya itu karena sudah membocorkan rahasia terbesarnya.
Wajah Yunho menatap terkejut kearah Jaejoong. "Bekal, kau membuat bekal untukku."
Kedua bahu Jaejoong merosot," Tidak."
"Jangan bohong, Jae."
Yunho tidak melihat pemuda itu membawa kotak atau apa, tapi..." berikan tas punggungmu,"
Wajah Jaejong berubah ngeri. Kedua tanganya menyentuh tas punggungnya menahan tas dari kedua sisi. "Tidak ada apa apa disini." Itu bohong ,Yunho tahu. Jaejoong tidak pandai untuk berbohong.
Melangkah kearah Jaejoong dan menghimpit tubuh Jaejoong yang lebih kecil darinya itu ketembok, Yunho memerangkap Jaejoong dengan kedua tanganya bersandar disana. "Benarkah?"
Susah payah Jaejoong menelan ludah, gugup. Ya Tuhan, mengapa jantungnya lagi lagi berdetak seperti akan meloncat dari tempatnya. Dan bagaimana bisa ia merasa sedikit, ya sediikit tidak lebih, ia merasa sedikit senang dengan kedekatan mereka. Apa Jaejoong sudah gila. Batinya.
"Sebenarnya," ia tediam. "Bukan aku yang membuatnya, tapi Mommy,"
"Mommy?" Hey Jaejoong sudah sangat dewasa untuk menggunakan panggilan itu.
"Persetan, ya Mommy, ada yang salah." Lupakan jika Jaejoong lebih suka menyembunyikan bagaimana caranya ia memanggil nama sayang keluarganya, biarlah Yunho menganggapnya manja atau apa terserah pemuda itu ia akan mengurusnya nanti.
Jaejoong menunggu Yunho menertawakanya, namun pemuda itu hanya diam menatapnya dalam keheningan. Jaejoong mendongak, menemukan mata setajam musang itu menatap penuh kelembutan.
" Jadi, dimana bekal itu, Kitten. Yang kau bawa untukku." Tidak ada jalan lain selain menyerahkan tas itu kepada Yunho, atau ia akan dikatakan pelit. Ya Tuhan, Ia anak yang baik dan tidak pelit. "Di dalam tas," lirihnya.
Yunho menarik tas Jaejoong tidak sabar. Dan mengeluarkan bekal yang lumayan besar dari tas pemuda itu.
"Yunho," Seunghyun memanggil dari ruangan Ganti. "Tiga puluh menit lagi pertandingan dimulai, kita harus sudah dilapangan sekarang juga."
"Aku segera menyusul," Yunho tidak menatap Seunghyun ketika berkata. Ia lebih tertarik dengan kotak yang ia coba buka.
Senyum Yunho melebar ketika kotak itu berhasi ia buka.
Jaejoong berdiri tegak, entah mengapa ia merasa sedikit kecewa seandainya Yunho tidak menyukai isi bekal yang ia bawa." Maaf kalau isinya sedikit berantakan," ujarnya ketika melirik bekal dengan dua bagian yang berisi strawberry dan nasi goreng kimci disisi yang berbeda. "Aku sangat menyukai nasi goreng kimci itu resep dari Keluarga Dady dari China."
Jaejoong merutuk, untuk apa ia menjelaskan hal yang tidak penting kepada Yunho."Kalau kau tidak suka,"
"Aku menyukainya, Jae. Gomawo." Yunho tersenyum dan nafas Jaejoong tercekat. Ya Tuhan, Ya Tuhan, pria itu terlihat menggoda jika tersenyum seperti itu. Jaejoong pasti akan pingsan seandainya Yunho tidak buru buru memasukkan kembali bekal itu kedalam tas.
"Maaf kitten, pertandingan akan segera di mulai, aku harus segera kelapangan, Nanti." Ia berJanji. "Setelah pertandingan aku akan memakanya," ia menyerahkan tas itu kembali kepada Jaejoong.
Jaejoong menatapnya heran." Bawa ini dan kau harus menyerahkan bekal itu selesai bertanding, kita akan makan siang bersama." Hati Jaejoong berbunga bunga dan ia tersenyum.
"Kau harus menang Yunho, kalahkan mereka." Ia memberi semangat.
"Tentu, trimakasih atas bekalnya." Yunho sudah berlari beberapa langkah, namun pria itu berbalik dan kembali menghampiri Jaejoong.
Senyum Yunho menyapa Jaejoong ketika pemuda itu mendongak. "Kenapa..." Jaejoong membeku. Dunia seakan berhenti.
Yunho kembali berlari setelah berhasil mencuri satu kecupan di kening Jaejoong. Dan pria itu menghilang di tikungan.
Dan Jaejoong masih diam tak bergerak di lorong yang sudah sepi. Ya, Tuhan seharusnya ia marah kepada Yunho karena sudah lancang mencuri kecupan di kening.
Jaejoong masih bisa mencium aroma tubuh Yunho ketika pemuda itu menempelkan bibir di keningnya, kelembutan bibir Yunho masih terasa meski terhalang oleh sebagian rambut di keningnya. "Ini gila."
~TBC~
Typo dimana mana. Sudah aku edit, maaf seandainya masih ada typo.
Ff ini memang saya buat untuk hiburan semata. Dengan sifat Jaejoong yang memang cute abies.
* author berusaha buat karakter JJ gitu, maaf jika jauh dari kata cute*
No Bash. Menerima masukan yang dengan kata yang lebih terarah memberitahu jika aku melakukan kesalahan.
BoW
*peluk reader satu satu
#lebay.
