Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Tidak pernah terpikir sebelumnya jika menunggu itu bisa sedemikian membosankan. Ia lebih suka membuat masalah dengan ide Changmin yang gila atau mengikuti saran Yoochun untuk menjadi anak baik.
Jaejoong menunggu dengan gelisah pertandingan basket itu selesai dan itu masih setengah jam lagi.
Kakinya yang berbalut sepatu tidak berhenti untuk menepuk lantai marmer yang licin. Ia tidak suka berdesak desakan dengan yang lain untuk melihat pertandingan yang sedang berlangsung di luar sana. Akan tetapi menunggu di kelas juga bukan ide yang bagus karena setiap menit yang berlalu ia melirik jam dinding yang sepertinya benda itu dengan senang hati mempermainkan Jaejoong dengan bergerak lebih lambat dari pada biasanya.
Kedua tangan Jaejoong saling mengait, meremas dan berkeringat. Ya Tuhan, ini gila, bagaimana bisa ia begitu menginginkan makan siang bersama yang di janjikan Yunho tadi pagi.
Diliriknya kotak bekal yang masih berada di dalam tas Jaejoong di samping meja. Apakah Yunho akan menepati Janjinya, atau pemuda itu lebih suka di temani gadis cantik yang tadi pagi ...
Mata Jaejong mendelik, bagimana mungkin ia melupakan gadis tinggi itu. Semangat yang sudah membuatnya mengebu gebu kini lenyap sudah. Oh ada apa dengan dirinya, ia tidak mampu menggambarkan suasana hatinya sendiri saat ini selain satu kata. Kacau.
Senang sedih dadanya diselimuti hawa panas dingin,berbagai pernyataan memenuhi kepalanya. Bagaimana Jaejoong bisa yakin Yunho akan menepati janjinya , mereka adalah musuh bukan? Kenapa ia begitu berharap akan makan siang romantis yang di janjikan pemuda itu.
Menyimpan tas berisi bekalnya di laci Jaejoong bangkit dengan semangat baru, ia akan mencari tahu siapa gadis yang bersama Yunho tadi pagi. Dengan begitu ia akan menyingkirkan gadis itu agar Yunho bisa meluangkan waktu berduaan denganya. Memikirkan hal tersebut membuat ia tersenyum sendiri.
Jaejoong kembali berpikir,kemungkinan Ahra atau BoA mengatahui siapa gadis itu, mereka dari sekolah yang sama, bukan?
Dan disinilah Jaejoong berada di sisi lain lapangan, di ruang peristirahatan pemain lawan. Pandanganya menyapu setiap sudut untuk mencari wajah gadis yang ia sendiri lupa ...
Ya,Tuhan. Kedua tanganya menyentuh sisi wajahnya sendiri dengan ngeri. "Jongie lupa wajah gadis itu." ujarnya entah kepada siapa.
Kemudian lengan kurus seseorang merengkuhnya dari samping. "Hi Jongie sayang, apa kau mencariku." Kwon Boa, kebetulan yang sangat menyenangkan.
Ekspresi wajah Jaejoong membuat BoA merona, lihatlah Jaejoong begitu menggemaskan dari tahun ke tahun.
"Nuna,"
Tepukan disisi lain membuat kedua tubuh yang berdekatan itu sedikit terhuyung. "Jongieee,,," satu lagi kebetulan yang membuat Jaejoong tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapi.
"Kau merindukanku, Jongie."
Jaejoong mengangguk antusias. "Ya Seulgi Nuna, kenapa kalian tidak menemuiku lebih awal," ia memberenggut. "Ahra Nuna sendirian mencariku,"
"Maaf kami sibuk, tahun ini tahun terakhir kami di Beika, jadi kami mendapat tanggungan tugas lebih berat karena harus mengurus semua perwakilan yang ikut kesini."BoA melepaskan tubuh Jaejoong dan menatapnya dari atas kebawah.
"Dia bertambah tinggi dari tahun lalu."Seulgi mengangkat tanganya sendiri dan membandingkan tinggi tubuh Jaejoong yang jauh diatasnya.
Tentu saja membuat sang empu tertawa bangga, "Aku lebih banyak minum susu," Ujar Jaejoong membanggakan diri, yang lain hanya memutar bola mata jenggah.
"Tapi kau masih tetap menggemaskan dan semakin cantik." Runtuh sudah kebahagiaan Jajeoong yang melambung tinggi, seharusnya ia sudah menduga hal ini sebelumnya, mereka tetap menganggapnya adik kecil yang menurut mereka menggemaska.
Kemudian Jaejoong teringat tujuanya kesini. " Apa kalian tahu, murid gadis Beika yang berambut hitam panjang dan tinggi"
"Banyak." Seulgi menjawab.
"Siapa namanya," BoA mengatakvan itu dengan nda menggoda."Oh, apakah adik kecil kita sedang mengincar seseorang."
"Berhenti memperlakukan Jongie seperti itu, dan jangan menggodanya atau kalian akan melihat beruang yang mengamuk." Ahra berkata di sela sela menyiapkan kotak makan siang untuk para murid.
"Beruang." Ketiganya membe'o termasuk juga Jaejoong.
"Sejak kapan kau mempunyai peliharaan beruang,Jae?" Ahra menatap gemas Seulgi, sahabatnya yang satu itu memang selalu telat mikir.
Jaejoong menjawab sedikit ketus. " Jongie memelihara kucing, bukan beruang Ahra Nuna, namanya Jiji."
Kedua gadis yang masih berdiri di kedua sisi Jaejoong menatap Ahra penuh tanya. BoA melipat tangan di depan dadanya. "Jadi, jelaskan pada kami siapa beruang yang kau maksud, Ahra?"
"Jung Yunho." Jaejoong mendelik, bahkan jantungnya mulai berdetak lebih cepat hanya mendengar nama pemuda itu. Ya Tuhan, ia harus memeriksakan jantungnya ke dokter, ia tidak mau mati muda, tidak, ibunya pasti akan menangis sedih seandainya Jaejoong meninggal, kemudian ayahnya, dan Jiji bagaimana nasib kucingnya itu, bisa bisa sang ayah memberikanya kepada orang lain.
"Jongie," Ahra bertanya khawatir melihat wajah Jaejoong yang sedikit pucat. "Kau kenapa, apa kedua gadis itu menyakitimu." Ahra menyerahkan sisa bekerjaanya kepada teman teman lain dan menghampiri Jaejoong.
Jaejoong menggeleng. "Nuna, ya." Kedua mata Jaejoong sudah berkaca kaca. "Sepertinya Jaejoong mempunyai penyakit jantung."
Ketiga gadis di sisinya menatap Jaejoong dengan keterkejutan nyata." Oh, Jongie yang malang." Seulgi berkata. Kedua tangan gadis itu menyatu do depan dadanya.
Mengabaikan Seulgi Ahra menarik Jaejoong untuk duduk. "Apa Bibi Heechul sudah membawamu memeriksakan diri ke dokter." Jaejoong menggeleng.
"Katakan padaku, bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau kau memiliki penyakit Jantung." kali ini BoA bertanya.
Menatap ketiga gadis itu bergantian Jaejoong menekan dadanya. "Aku Tahu pokoknya Jongie tahu. Ada saatnya jantung Jongie berdetak tak karuan seakan Jantung Jongie akan lepas dari tempatnya,"
Ketiga gadis itu mengeryit dan melempar tatapan satu sama lain." Kejadian ini dimula sejak kemaren saat Jongie berdekatan dengan Yunho." Kemudian Jaejoong melanjutkan dan membuat mereka tertawa geli tanpa henti.
" Pagi ini Ketika Yunho mencium kening Jongie Hampir saja Jongie pingsan." tawa ketiga gadis itu lenyap.
"Bajingan itu, "Ahra berkata tampa berpikir. " Kau tidak boleh membiarkan Yunho menciummu lagi Jongie." Semua mata disekeliling mereka menatap empat orang yang berkumpul itu penasaran
BoA menjitak Ahra gemas. "Kecilkan suaramu Ahra, kau ingin membuat semua orang menatap kita, dan membuat Jongie kita malu." Di tempat tak jauh dari ruangan Jihye menatap mereka tersenyum penuh arti.
BoA menatap Jaejoong penuh pengertian namun tegas. "Dengar Jongie sayang, itu bukan penyakit Jantung, itu hanya sebuah perasaan baru yang kau rasakan untuk,,, siapa pemuda tadi?"
"Yunho." Seulgi menyahut.
"Ya, Yunho, kami tidak akan mengatakan apapun karena itu masalah kalian berdua yang harus kau cari Tahu Jongie, adalah? Apakah Yunho juga merasakan perasaan yang sama kepadamu atau tidak."
Ahra menggeleng gemas, Jaejoong tidak akan mengerti dengan penjelasan panjang apapun, adiknya itu terlalu polos untuk mengerti tentang Cinta.
"Tidak usah menghawatirkan Apapun Jae, kau tidak memiliki penyakit mengerikan itu, itu normal, yang harus kau perhatikan adalah apakah Yunho juga punya penyakit jantung yang sama jika dia di dekatmu."
Jaejoong mengangguk meskipun pemuda itu masih tidak mengerti dengan penjelasan yang diberikan ketiga gadis tersebut. Oh seyukurlah ia tidak jadi mati muda dan Jiji akan aman, dan Ibunya tercinya tidak akan menangis histeris.
Dan iapun lupa dengan tujuan utamanya ketempat itu.
.
.
.
"Yunho, apakah jantungmu berdetak tidak karuan jika berdekatan dengan ku?,"
Pertanyaan polos Jaejoong membuat Yunho tersedak air mineral yang baru setengah di minumnya. Demi apa Jaejoong mengajukan pertanyaan tersebut, apakah karena ciuman tadi pagi.
Tangan mungil Jaejoong menepuk punggung Yunho. "Kau tidak harus terburu buru meminumnya Bear." celotehan Jaejoong mulai tidak jelas.
Wajah Yunho merona hebat. Bukan, bukan karena ia tersedak, akan tetapi ia merona mendengar pertanyaan yang Jaejoong lemparkan untuknya. Ya Tuhan, apa pemuda itu memiliki indra keenam sampai bisa menebaknya. Atau jaejoong memiliki telinga kelinci yang mampu mendengar detak jantungnya dari jarak seperti saat ini.
"Yun, kau belum menjawab pertanyaanku, Apakah jantungmu berdebar debar ketika kau ... Kau..."Jaejoong ragu ragu melirik ke kiri dan kekanan, kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat kearah Yunho." Ketika kau menciumku tadi pagi." Ujar Jaejoong malu malu.
Yunho menelan ludah susah payah. Ya Tuhan, Jaejoong membisikan kata itu dengan jatak yang begitu dekat, mwmbuatnya susah untuk bernafas.
Selesai pertandingan yang di menangkan oleh Shinki dan peluit berhenti tanda berakhirnya pertandingan Yunho buru butu berlari meninggalkan yang lain hanya untuk menemui Jaejoong.
Sesuatu pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh adalah ketika menemukan Jaejoong sedang berbicara dengan tiga wanita dari sekolah Beika. Yunho ingin menonjok mereka agar menjauhkan tangan mereka dari bagian tubuh Jaejoong manapun dan tidak mencubit atau mengusapnya. Sayangnya ia lelaki sejati dan laki laki sejati tidak memukul wanita.
Mendengar peluit yang menandakan berakhirnya pertandingan dan melihat Yunho berdiri disana dengan tubuh basah penuh keringat Jaejoong menatap Yunho dengan takjub. Kaos basah itu melekat di kulit Yunho jangan lupakan rambutnya yang lepek entah mengapa seakan menambah ketampanan Yunho berkali kali lipat. Jaejong merona dan berlari riang melompat seperti biasa menghampiri Yunho.
Dan disinilah Jajeoong menungu Yunho membersihkan diri di kamar mandi khusus yang tersedia. Dan mereka berencana makan siang bersama sesudahnya.
"Yunho, kau mengabaikanku." Jajeoing merengek.
Ya Tuhan, apakah Yunho akan mengatakan kepada Jaejoong jika jantungnya berdebar jika disisinya. Mungkinkah Jajeoong marah akan jawaban yang akan ia ucapkan, atau pemuda itu akan tersenyum seperti biasa dan mengabaikan apa yang dikatakanya, yang jelas ia tidak akan tahu hasilnya jika tidak mencoba.
Ia sudah membuka mulut ketika Jaejoong berkata. "Jantungku berdebar tidak karuang setiap kali berada di dekatmu Yun," mata Yunho terbuka lebar. Benarkah itu. Ia tidak mempercayai pendengarannya.
"Kata Ahra Nuna, itu adalah sesuatu perasaan yang baru di antara kita berdua." Jaejoong menatap langit langit seakan disana terdapat sesuatu yang lebih menarik dari wajah Yunho hanya untuk menyembunyikan kegugupanya, Demi Tuhan mengapa ia merasa gugup.
Tangan besar Yunho menarik tangan Jaejoong dan menempatkan tangan halus pemuda itu di dada kiri Yunho, tepat di jantungnya. "Kau dapat merasakan itu sendiri Jae." kata itu keluar seperti bisikan.
Hening. Kamar mandi itu masih kosong. Para pemain masih berpesta di luar sana dengan memenangan mereka dan Yunho orang pertama yang masuk kesini.
Detak itu terasa di balik telapak tangan Jaejoong, menembus seragam basah Yunho. Jaejoong menyentuhkan sebelah tanganya di jantungnya sendiri. "Sama sama cepat dan semakin cepat." Kemudian Jaejoong mendongak mendapati wajah Yunho berada begitu dekat dengan wajahnya.
"Yun," kata itu seperti hembusan angin yang lembut menyapa dagu Yunho. Yunho dapat melihat wajah Jaejoong yang sempurna dalam jarak seperti ini, ia merasakan cengkraman tangan Jajeoong pada seragamnya yang basah.
"Kau dan aku memiliki perasaan yang sama Jae," Ia tersenyum melihat rona merah menjalar di wajah putih Jaejoong. Oh betapa menggemaskanya Jaejoongnya ketika merona.
Dengan gemetar Jaejoong manarik tanganya dari dada Yunho. Yunho merasa kehilangan dan melihat Jaejoong mundur, pemuda itu tertawa kaku. "Jadi kita sama sama memiliki penyakit Jantung," ia hanya bercanda mengucapkan itu, terlalu gugup untuk memikirkan kata kata yang cocok dalam suasana seperti ini.
"Tidak, itu bukan penyakit Jantung. Tetapi itu perasaan yang belum kau ketahui alasanya?"
Tawa Jaejoong menghilang. "Kau tahu perasaan apa itu,? apa karena kita bermusuhan."
"Kita tidak bermusuhan Jae," Yunho mengatakan itu sesikit kesal, ia bisa melihat tubuh Jaejoong terjengkit sekilas. Kemudian ia melembutkan suaranya. "Kau yang menganggap kita bermusuhan, aku tidak menganggap kau saingan dan tidak pernah sekalipun tertarik untuk merebut status The Kingka yang kau sandang itu."
"Tapi kata Changmin," Jaejoong menutup mulutnya. Seharusnya ia sudah tahu kalau temanya yang satu itu membohonginya.
Yunho maju selangkah. "Apa kau tidak penasaran dengan apa yang kurasakan kepadamu Jae?" Yunho bertanya. Jaejoong menggeleng.
Tangan Yunho gatal untuk menyingkirkan rambut almond yang menghalangi keindahan mata Jaejoong ketika menatap langsung kearahnya. "Jawabanya adalah ini."
Yunho menunduk untuk menempelkan bibirnya di atas bibir Jaejoong. Mata Jaejoong mendelik lebar kedua tanganya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ya Tuhan, jantungnya kembaki melompat tidak karuan di dadanya.
Tangan Yunho kembali meraih tangan Jaejoong dan membuka tangan mungil yang terkepal itu kembali menempatkan di dadanya. Jaejoong dapat merasakan detak jantung Yunho yang berdebar lebih cepat di balik tekanan telapak tanganya.
Menarik diri Yunho menatap Jaejoong yang masih mendelik kearahnya, tersenyum ia mengacak rambut Jaejoong. "Nah bagaimana? sama bukan? Jadi kita ..."
"Jongie," Apapun yang akan di katakan Yunho terpotong dengan teriakan Changmin dan Yoochun, kedua sahabatnya itu berdiri di pintu yang baru saja mereka banting se enak mereka. "Kami mencarimu kemana mana, dan kau ..."Yoochun berhenti mendadak dengan Changmin menabraknya dari belakang.
"Kalian berdua ..."
Jaejoong mendelik lebar dan melompat menjauh. "Aku hanya menungu Yunho membersihkan diri, dan akan pergi makan siang denganya."
Changmin dan Yoochun mengeryit. "Kalian." ujar mereka berdua bersamaan.
Changmin melompat menarik tangan Jaejoong dan mendapat kejutan jitakan dari sang empu yang terkejut karena tanganya di tarik secara tiba tiba. "Kita ada perlu bisnis tinggalkan makan siang bodoh itu, atau sebentar lagi akan terlambat ." Tanpa memberi Jaejoong kesempatan untuk memprotes Changmin menarik teman badungnya itu keluar.
Yoochum masih memperhatikan Yunho dalam diam, begitu juga sebaliknya. Yoochun memutar tubuh dan berjalan. "Apapun yang kau lakukan terhadap Jaejoong , Yunho." kata itu keluar penuh dengan ancaman. "Jangan sampai kau membuat Jaejoong menangis atau aku akan menghajarmu."
Pemuda itu menghilang dan pintu tertutup. Yunho tidak mengerti dengan apa yang di katakan Yoochun, sampai ia melihat ke arah cermin. Wajahnya merona, lebih parah dari wajah Jaejoong yang merona indah ketika ia menciumnya. Ciuman pertamanya dan ia yakini juga ciuman pertama untuk Jaejoong.
.
.
.
Tiga pasang kepala berbeda warna tambut itu saling mendesak satu sama lain untuk bisa mengintip ke dalam kelas renang. Changmin menyeret Jaejoong sesuka hati tanpa memberi waktu bagi bemuda itu untuk mengambil nafas sepanjang perjalanan dari kamar mandi murid laki laki sampai ke kelas renang yang sedang digunakan para murid perempuan.
"Kau menginjak kakiku, Jongie." lirih Yoochun.
" Maaf," cicitnya.
"Kau menginjak kakiku," giliran Changmin.
"Tempat ini terlaku sempit Chwang," Jaejoong mendorong kedua sahabatnya itu menjauh dari jendela kecil yang sebenarnya fentilasi, terhubung langsung ke arah taman belakang yang jarang dilewati para murid. Mereka menemukan tempat itu beberapa hari lalu saat mencoba melarikan diri dari pelajaran sejarah. "Apa tidak ada tempat lain yang lebih besar untuk kita gunakan." Tangan Jaejoong dilipat berusaha membuat wajah garang.
"Tidak ada Jongie, sayang." Yoochun menjawab, ia berniat kembali mengintip apa yang di terjadi di dalam sana ketika bagian kerah belakangnya di tarik seseorang. Changminlah sang pelaku.
"Aku yang mengusulkan ide ini Jidat."
"Tapi aku yang menenukan tempat ini untuk kita, jadi biarkan aku lebih dulu kemudian kalian." Yoochun mengatakan itu dengan tegas.
Jaejoong menggeram. "Aku pemimpinya disini jadi biarkan aku yang pertama." Delikan mata yang menggemaskan ia tunjukan untuk kedua sabatnya yang menayapnya ogah ogah.
Mereka berdua mundur, atau telinga mereka akan panas mendengar ceramah panjang Jaejoong yang tidak jelas. "Bukankah kau tidak tertarik dengan ide yang ku usulkan ini, sebelumnya."Changmin memprotes namun ia tetap menyingkir untuk membiarkan Jaejoong maju.
"Itu sebelumnya. Lebih baik aku yang pertama dari pada kalian berkelahi untuk hal yang tidak jelas." Ujarnya sok bijak. "Jendela ini terlalu tinggi." rengeknya manja, menghadap kearah Yoochun.
"Itu sebabnya ada bongkahan Kayu disana Jongie," Yoochun menunjuk kayu besar yang ia bawa entah dari mana di sisi kaki pemuda itu.
Jaejoong mendelik lebar. "Bagaimana kalau aku terjatuh saat kayu itu tidak stabil." kalau begitu kau tidak usah menggunakanya dan berpuas hati hanya bisa melihat ujung kepala mereka. Yoochun membatin.
"Sekarang kau mau menggunakanya atau tidak Jae, kalau tidak biarkan aku ..."
"Tidak, Chwang, aku ketua disini." tangan Jaejoong mendorong pemuda tinggi itu kebelakang. "Sekarang bantu aku naik." Perintahnya.
Kedua sahabatnya itu menghela nafas lelah. Ya Tuhan tinggi kayu itu tidak lebih dari tiga puluh meter.
"Berhenti bersikap manja Jae."
"Aku tidak manja, Jidat."
"Ya, kau hanya merengek tidak jelas."Tangan Changmin terulur menjaga keseimbangan Jaejoong di sisi kiri dan Yoochun disisi kanan. Kedua lengan Jaejoong berpegangan pada kedua bahu temanya.
Lima menit berlalu, tidak terdengar suara apapun dari ketiga pemuda itu. Yoochun memiringkan kepala dan menggoyangkan alisnya menatap Changmin yang juga menatapnya dengan pertanyaan yang sama.
"Apa yang kau lihat Jongie."
Akhirnya mereka bertanya.
"Tentu saja banyak orang yang berenang, bukankah itu tujuan kita kesini," Grutunya. "Kenapa kita tidak melewati pintu saja."
Kedua sahabatnya memutar bola mata jengah. " kita akan di usir sebelum masuk selangkah." jawab Yoochun dengan geraman nyata. Ya Tuhan, temanya yang satu ini terlalu polos atau apa?
" Lainya,"
"Gadis berkulit putih, contohnya." Yoochun terkikik membayangkan hal hal yang iya iya.
Mulut Jajeoong memberenggut. "Kulitku bahkan lebih putih dari mereka."
Tawa Changmin menggema tanpa dapat di cegah. Jaejoong dan Yoochun menatapnya garang." Kau ingin membuat kita ketahuan Chwang."
Melut Changmin tertutup rapat, dan membentuk kerucur lucu akibat pemuda itu menahan senyum." Aku tahu kulitmu lebih putih dari mereka Jongie. Apa kau tidak melihat sesuatu yang lebih menarik. Body berlekuk misalnya"
Jaejoong kembali memperhatikan para gadis yang berpakaian minim." Kata Mommy Bodyku lebih menghoda dari pada para gadis." jawabnya sombong.
Ya Tuhan, Changmin dan Yoochun akan mencekik bibi Heechul karena mengotori pikiran putranya, apa dia lupa jika Jaejoong itu laki laki.
Jaejoong kembali berkata"Tidak, kecuali gadis tomboy yang menjadi pemenangnya."
Kedua sahabatnya itu mendelik lebar. Sudah selesai acaranya." sahut mereka berdua mendorong Jaejoong sampai pemuda itu terjatuh ke rerumputan. Yoochun dan Changmin berdesakan untuk melihat pertandingan renang yang telah usai.
"Sial, kita terlambat." grutunya.
Keduanya bahkan mengabaikan teriakan Jaejoong dan umpatan kasar pemuda itu. Demi Tuhan, pantatnya sangat sakit terbentur tanah meskipun rumput menghalangi secara tidak langsung.
"Kalian betiga," Sebuah suara tegas seseorang menggema di belakang mereka. "Sepertinya kalian tidak pernah lelah mendapatkan hukuman..."
Ketiga pemuda itu mendelik ngeri menatap guru olahraga mereka yang berkacak pinggang tidak jauh dari tempat meteka berada.
"Aku tidak melakukan Apa apa Mr. Son, mereka berdua yang mengintip." Jaejoong menjulurkan lidah mengejek kearah kedua sahabatnya. Rasakan, itu balasan karena kalian mendorongku sampai jatuh. Batin Jaejoong.
" Akan ku pastikan kalian mendapat hukuman yang sama Kim Jaejoong." Wajah Jaejoong berubah ngeri menatap kearah guru kiler yang mulai berjalan mendekat.
Yoochun dan Changmin mengambil langkah seribu terlebih dahulu meninggalkan Jaejoong yang berusaha bangkit dan menyusul keduanya. "Kalian tidak setia kawan." teriaknya. Berlari mengejar kedua sahabatnya itu dengan langkah kaki panjang.
Ketika pemuda itu melompati pagar tanaman setinggi dada dengan mudah, hasil latihan berkejaran setiap hari dengan para guru.
"Kau yang tidak setia kawan terlebih dulu Jongie." teriak Yoochun yang berada beberapa langkah di depanya.
"Kalian mendorongku sampai pantatku mencium tanah."
Mereka berhasil keluar melalui sisi taman sebelah kanan gedung, melewati lapangan basket yang masih terlihat ramai . Ketiga pemuda itu berpencar melompati tepat duduk yang permanen di sisi lapangan. "Sial Mr. Son cepat sekali larinya." Changmin berteriak.
" Dia guru olahraga kalau kau lupa." Jaejoong berlari melewati para pemain dari sekolah lawan. Kemudian ia di hadang oleh pria tinggi dan kurus yang merentangkan kedua tanganya di depan. "Minggir Minho." pemuda itu berhasil menangkapnya dengan mudah.
"Kau belum menyapaku pagi ini Jongie. Dan kemana saja kau..." Minho berteriak dan melepaskan pelukanya ketika Changmin melempar botol mineral yang masih tersisa setengah botol tepat di kepala minho. "Aw... Apa yang kau lakukan Changmin."
Yoochun menarik Jaejoong untuk kembali berlari. "Kau menghalangi jalan kami Choi, Mr. Son akan menagkap ..." dan entahlah apa yang dikatakan Yoochun karena pemuda itu sudah menghilang di aula depan.
Minho melompat menghindar ketika guru olahraga Shinki berlari melewati sisi lain tubuhnya.
Dan suara sorak sorai menjawab pertanyaan Minho. Mereka pasti membuat ulah sampai dikejar kejar guru Killer yang menakutkan itu.
"Mereka tidak pernah berubah."
~TBC~
Promo : Beberapa reader ada yang minta di bukuin FF The Kingka Strawberry And Vanilla adakah yang minat. Kalau iya bisa pm author di fb Sherry Kim.
Ini hanya untuk koleksi yang berminat gx ada maksud untuk jual atau nyari keuntungan karena Author sendiri tadinya hanya mau cetak 1 book khusus untuk sendiri dan karena ada yang minat sekalian aja author cetakin. Bisa ngringanin dana buat cetak kkkk.
Ff itu tidak akan Sherry hapus dari wattpat karena itu hasil karya Author yang berharga dan ingin berbagi dengan yang lain yang masih pengen baca disuatu waktu.
Kamsahamnida ~BOW~
