Titl : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author: Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Matahari sudah akan menyingsing ketika bebetapa murid berseragam itu berjalan berurutan melewati taman yang biasanya di penuhi pejalan kaki di waktu yang lebih siang, keluarga atau para baby siter yang membawa anak asuh mereka untuk menghabiskan waktu sore di taman tersebut sudah tidak tampak. Hanya beberapa orang yang lewat pada jam seperti ini.
Sisa matahari yang mengintip malu malu menjadi warna Jingga di kaki langit menimbulkan siluat panjang yang separuh bayangan berada di gedung pertokoan di sisi lain jalan.
Langkah kaki Jaejoong terhenti, kemudian merentangkan kedua tanganya. "Lihatlah aku lebih tinggi darimu Changmin."
Sontak, Changmin ikut menghentikan langkah dan menatap Jaejong mengeryit heran. Pemuda itu berdiri menghadap sisi lain matahari sore dengan menggoyang goyangkan kedua tanganya. "Kau masih ada waktu bercanda setelah apa yang kita alami hari ini, aku lelah setengah mati setelah mendapatkan hukuman yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup." ia mengeluh.
Mengabaikan Changmin Yoochun melakukan hal yang sama seperti yang Jaejoon lakukan." Lihatlah Jongie Ini kelinci, kelinci melompat kearahmu Jongie," Yoochun menyatukan kedua tanganya dan siluet di gedung sebrang membentuk hewan bertelinga panjang.
Jaejoong tertawa keras ketika melompat kearah Changmin. "Kelinci itu kan mengigitku," teriaknya manja. Pemuda yang ceria itu telah melupakan hukuman yang mereka jalani akibat ketahuan mengintip murit perembuan di kelas renang.
Mereka bertiga tidak menduga akan mendapat hukuman, tapi siapa sangka hukuman kali ini lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan, Kepala sekolah dan guru olah raga kiler itu mengawasi mereka membersihkan sisa sisa sampah tanpa memberi keringanan sesikitpun.
Bayangkan itu. Lapangan dan aula yang dipenuhi sampah sisa pertandingan yang luas dan kotor hanya di bersihkan oleh tiga 'Berandal kecil ' Itulah julukan yang di berikan kepala sekolah untuk mereka bertiga. Dan tanpa bantuan siapapun mereka harus membersihkan taman yang luasnya melebihi lapangan bola itu sampai bersih. Tidak mendapat ijin pulang sebelum mereka membersihkan tempat itu sampai selesai atau mereka akan mendapat skors.
Oh tidak, ibu mereka pasti akan memanggang mereka hidup hidup seandainya mereka tahu anak mereka yang baik mengintip gadis.
Seluruh badan Changmin meronta karena lelah, ia ingin cepat cepat pulang dan berendam air hangat. Bahkan mereka ketinggalan bis sekolah terakhir dan dengan terpaksa berjalan kaki ke pemberhentian Bis umum.
Namun kelelahan itu menguap seperti asap ketika mendengar tawa kedua sahabatnya yang kekanak kanakan. Mereka berlomba membuat siluet bayangan dengan kedua tangan mereka dari pantulan sisa sinar matahari.
Changmin ikut bergabung dengan mereka, dan membuat Jaejoong menggerutu karena Changmin meniru apapun yang di lakukanya.
"Sudah hilang." Kedua bahu Jaejoong merosot lelah.
"Sebaiknya kalian cepat pulang."
Yoochun melirik kearah Yunho yang mengikuti mereka sejak tadi siang, bahkan pemuda itu menunggu mereka atau lebih tepatnya menunggu Jaejoong menyelesaikan hukuman.
"Seharusnya itu yang kami katakan padamu, Jung." sindir Yoochun. "Jalan pulang menuju kerumahmu berlawanan arah dengan kami, apa kau lupa itu?"
Mengabaikan perkataan pedas Yoochun, Yunho mendekati Jaejoong. Sisa sinar jingga menyinari wajah lelah pemuda itu. "Kau lupa memberikan bekal makan siang itu padaku Jongie."
Astaga, jadi karena itu Yunho mengikuti mereka. Dasar beruang pelit.
Tangan Jaejoong menepuk keningnya. "Ya,Tuhan Bear, aku melupakan makan siang kita karena hukuman dari guru killer itu." Jaejoong melepaskan tas punggungnya, menyerahkan bekal yang sudah di pastikan dingin itu kepada Yunho. "Mungkin saja sudah basi, atau ..."
"Tidak apa apa," Yunho segera merebut kotak itu sebelum Jaejoong berniat mengambilnya kembali. Memasukkanya kedalam tas punggungnya sendiri pria itu mengacak surai almond Jaejoong. "Kau sudah membawakan khusus untukku, aku sangat senang." Yunho tersenyum hangat.
Senyum Jaejoong kembali cerah. "Lain kali aku akan membuatkanya lagi untukmu"
Changmin menyahut. "Bibi Heechul yang membuatkanya." sebenarnya Changmin geram dengan tingkah Jaejoong. Hampir sumur hidup ia berteman dengan pemuda cantik itu belum pernah sekalipun dirinya atau Yoochun mendapat bekal khusus dari Jaejoong. Tidak termasuk makan malam di rumah Jaejoong, itu urusan lain lagi.
Bibir Jaejoong mengerucut imut. Namun ia mengabaikan Changmin dan kembali fokus kepada Yunho. "Pulanglah ,Yun, kau sudah mendapatkan bekalmu."
"Sebenarnya aku akan mengantarmu pulang."
"Kami bisa mengantarnya,"
"Dan Jongie membenci hal itu," Sahut Changmin." Aku bukan anak kecil yang perlu kalian antar." nada pemuda itu meniru ucapan Jaejoong ketika pemuda cantik itu menolak tawaran baik Yoochun maupun Changmin pada suatu hari.
Yoochun tertawa terpingkal pingkal mendengar sahabatnya itu meniru Jaejoong, bahkan Changmin mengatakan sambil melambai lambaikan tangan seperti yang Jaejoong lakukan.
"Aku tidak seperti itu." Jaejoong membela diri.
"Nah, anak kecil yang suka memprotes tidak akan mengakui kelakuanya yang manja."Ujar Yoochun. Sungguh sangat menyenangkan bisa menggoda sahabatnya ini.
Lelah yang mereka rasakan tidak seberapa di banding kekonyolan dan pejaran yang mereka dapat hari ini. Tidak termasuk membersihkan seluruh lapangan.
Sudut bibir Yunho terangkat. Ia sempat menghawatirkan Jaejoong ketika pemuda itu kepanasan dan wajahnya berubah merah, untunglah langit tiba tiba mendung seakan langit bersekongkol menjaga kelinci manisnya itu.
Yunho sempat menawarkan bantuan untuk mewakili Jaejoong, bahkan bukan hanya dia seorang, banyak murid murid lain yang rela membantu namun di tolak mentah mentah oleh kepala sekolah.
"Tidak, itu hanya akan membuat mereka besar kepala. Jaejoong bukanlah pemuda yang lemah seperti yang kelian lihat." ujar kepala sekolah saat sebagian murid memprotes untuk menawarkam bantuan mereka.
Yunho sempat cemburu dan marah ketika mendengar mereka bertiga melakukan tindakan yang senonoh. Ya Tuhan, mereka mengintip lomba renang khusus murit perempuan. Apakah Jaejoong tertarik kepada para gadis gadis itu.
Namun amarahnya segera menguap ketika melihat ketiga pemuda itu membuat kegaduhan dimana mana, bahkan kekacauan yang mereka timbulkan tidak sampai disana. Mereka masih sempat beradu mulut satu sama lain ketika mendapat hukuman yang sama. Saling menuduh dan berakhir saling lempar benda apapun yang mereka dapatkan dan membuat seliruh siswa tertawa yang berujung pengawasan langsung dari kepala sekolah dan Mr. Son.
Teriakan bahagia Jaejoong menarik Yunho kedunia nyata, pemuda itu tidak sadar telah memikirkan kejadian konyol hari ini yang panjang, sampai tidak menyadari trio biang masalah itu telah menyebrang ke sisi lain jalan.
Menyusul mereka dengan terburu buru, Yunho mengintip dari balik bahu Jaejoong dengan penasaran, gerangan apa yang membuat Jaejoong berteriak histeris di depan sebuah toko hewan.
Wajah Jaejoong menempel di kaca dan Yunho bersumpah, mungkin dia akan tertawa seandainya melihat wajah Jaejoong dari sisi lain kaca.
"Kau mengotori kaca itu dengan air liurmu," protes Yoochun.
"Aku tidak mengotorinya." Jaejoong tidak berniat menjauh dari kaca sesikitpun.
Yunho menarik bahu Jaejoong menjauh. "Kaca itu kotor Kitten,"
Jaejoong tetap mengabaikan apapun yang tiga pemuda di belakang dan sisinya debatkan. Ia lebih tertarik dengan sesuatu yang bergerak gerak di balik kaca dan binatang itu berada do dalam kandang, matanya yang berkilau sedang menatap Jaeoong.
"Lihatlah Yoochun-a Anjing itu sangat lucu, bukan?"
"Bersyukurlah Bibi Heechul alergi dengan Anjing." Kesadaran akan hal itu tidak membuat kebahagiaan Jaejoong luntur. "Aku tidak berniat membelinya, aku sudah mempunyai Jiji, anjing dan kucing tidak bisa dibesarkan bersama."
Yunho melihat ke balik bahu Jaejoong lebih intens, dan ia melihat anak anjing sedang begelung di atas bantalan empuk di dalam kandang.
"Sepertinya si Coklat itu sudah di beli seseorang," Changmim berkata sambil mengedarkan mata kesekeliling toko hewan.
"Juga, si pudle," ujar Yoochun.
Dan Yunho tahu ketiga sahabat itu setiap hari melewati toko ini sampai hafal dengan anjing mana yang telah laku terjual. "Kenapa salah satu diantara kalian tidak mencoba membeli si putih ini."
Ketiga pasang mata itu menatap Yunho ngeri, tidak termasuk Jaejoong. Mata pemuda satu itu sudah berbinar bahagia, kemudian melirik kedua sahabatnya bergantian. "Pleas!" ia memohon sepenuh hati.
"Tidak." Keduanya berkata serempak.
"Kau tahu adikku takut anjing." Changmin menolak tegas.
Jaejoong menatap Yoochun penuh harap. "Kau sudah memaksaku membeli salah satu dari mereka satu tahun yang lalu Jongie, aku tidak akan membuat ibuku kerepotan mengurus anjing kecil baru lagi." tolaknya mutlak.
Jaejoong memasang wajah paling teraniyaya, Ya Tuhan. Kedua sahabatnya memalingkan muka, teganya mereka.
Yoochun dan Changmin memiliki alasan sendiri untuk tidak menatap wajah Jaejoong. Demi Bibi Heechul yang cerewet, mereka tidak akan bisa menolak keinginan Jajeoong jika sudah melihat wajah mengenaskan itu.
Alis Changmin Terangkat sebelah, matanya mendelik kearah Yunho, "Yunho bisa membelinya."
Dua mata lain menatap Yunho penuh harap. Oh, sial. Tidak seharusnya Yunho memberikan ide konyol itu tadi. Ia hanya tidak tega melihat wajah sedih dan kehilangan Jaejoong ketika menatap anak anjing yang memang ia akui sedikit menggemaskan. Namun tidak, jika ia harus membelinya.
"Tidak ada yang akan menjagannya seandainya aku membeli Anjing itu." Komentar Yunho. "Orang tuaku selalu di luar negri untuk urusan bisnis. Dan aku tidak punya waktu untuk mengurusnya."
Dan kini tiga pasang mata menatapnya tajam, terutama mata Jaejoong yang berbinar penuh harap kepadanya. "Bahkan kau lebih menggemaskan di banding anjing itu," lirih Yunho..
"Kau mengatakan sesuatu," Jaejoong bertanya.
Kedua tangan Yunho terangkat bergerak menyangkal. "Tidak."
"Kalau begitu sudah di putuskan," ujar Jaejoong. Pemuda itu menerobos masuk ke toko di ikuti dua antek setianya. Ya Tuhan, tiba tiba Yunho merasa pusing oleh ulah Jaejoong.
.
.
.
"Yunho, bangun."
Samar samar Yunho mendengar suara Jaejoong memanggilnya. Mimpi, ini pasti mimpi. Yunho berkata pada diri sendiri.
Jaejoong memanggilnya, menarik selimut yang membalut tubuh, bahkan pemuda itu menguncang guncang tubuh Yunho. Mimpi yang sangat nyata. Yunho membatin.
Mimpi yang sama yang selalu hadir di setiap malam sejak hari pertama ia melihat Jaejoong.
Waktu Itu seperti biasa Jaejoong sedang mencoba melarikan diri dari kejaran guru olah raga, tanpa sengaja Yunho menghalangi satu satunya jalan keluar ketika Yunho berdiri di pintu utama sekolah yang memang terbuka sebagian ketika jam pelajaran berlangsung.
Jaejoong kehilangan keseimbangan dan menerjangnya. Yunho telah siap jatuh membentur lantai ketika sadar pemuda itu telah tertangkap oleh guru kiler mereka. Sejak saat itu Jaejoong membencinya, Yunho hanya bisa menyesali pertemuan pertama mereka yang mengenaskan ketimbang mengesankan.
Sendainya, seandainya mereka di pertemukan di waktu yang tepat mungkin ia dan Jaejoong bisa bersahabat lebih awal.
Mata Yunho mengerjap ngerjab kembali, ketika gendang telinganya masing mendengar suara Jaejoong memanggilnya. Ia menarik selimut lebih tinggi menutupi kepala. "Sebentar lagi, Jung Jihye," Suara Yunho serak namuan masih terdengar ketegasan disana.
Jaejoong mengerutu. Memutar otak ia harus mencari cara untuk membangunkan beruang itu, "Dasar beruang, bahkan gaya tidurmu lebih jelek dari pada Aku." Jaejoong menggerutu, lagi.
Jaejoong menyempatkan bagun lebih awal hanya untuk datang kerumah Yunho di pagi buta, menelfon hampir seluruh teman sekolah yang dikenalnya hanya untuk bertanya alamat rumah Jung Yunho.
Demi apa? Jaejoong bahkan melewati sekolahan yang ia tuju untuk Memencet bell rumah dengan gila gilaan dampai satpam rumah, bukan... rumah Yunho lebih cocok disebut istana. Satpam itu mengatakan Jaejoong anak nakal.
Demi Jiji dan ibunya. Jaejoong kan anak baik, satpam itu tidak sadar Jaejoong hanya takut bunyi bell itu tidak terdengar mengingat besarnya bangunan yang menjulang di balik pintu gerbangnya saja tingginya dua kali lipa jauh lebih tinggi dari Jaejoong.
Sekali lagi, Jajeoong manarik selimut Yunho. Kali ini membuang selimut bulu yang lembut itu ke lantai. "Kalau kau tidak bangun Bear, aku akan mengigit hidungmu." Ancamnya.
Bibir Yunho menggerutu, sepertinya pemuda itu benar benar tidak biasa bangun pagi pagi sekali..
Pandangan Jaejoong terpaku pada bibir hati Yunho yang berwarna merah alami. Ya Tuhan, Ya Tuhan. Ia memegangi jantungnya sendiri, bagaimana bisa Jaejoong teringat akan ciuman pemuda itu kemaren.
Sebelah tangan Jaejoong terangkat menyentuh keningnya sendiri, ia tersenyum mengingat bibir itu menciumnya disana. "Apa yang kau pikirkan Jongie." ucapnya pada diri sendiri. "Sepertinya kau sudah mulai tidak waras. Omo...Apa Jongie juga akan masuk rumah sakit jiwa karena sering melamun." melupakan tujuan utamanya, Seketika ia bangkit dari ranjang Yunho yang empuk dan berdiri melompat kesana kemari, histeris.
Yunho merasa mimpi kali ini begitu nyata, Jaejoong membangunkanya. Dan ini bukan pertama kali hal itu terjadi, hanya saja ia dapat merasakan ranjangnya bergetar kemudian hidungnya mencium aroma manis Jaejoong dan lagi, suara histeris yang biasa keluar dari bibir mungil Jaejoong menggema di telinganya.
Mata Yunho terbuka dengan malas. Ia sudah terbiasa sadar sepenuhnya ketika dirinya terbangun di pagi hari, namun sepertinya tidak untuk pagi ini.
Yunho menutup mata dan telinga sekali lagi. Mungkin dengan begitu Jaejoong akan menghilang dari kamarnya, kemudian ia membuka mata, mengerjap kemudian mendelik lebar, Jaejoong masih disana, histeris sendiri dan entah apa yang bibir mungilnya itu ucapkan Yunho tidak bisa menyerap apapun yang dikatakan Jaejoong.
"Jongie." Panggil Yunho.
Lompatan Jaejoong terhenti. Pemuda itu menatap Yunho yang duduk di atas ranjang dan menatapnya seperti melihat sosok hantu. "Tutup mata itu beruang aku bukan hantu."Dengan kesal Jaejoong menghentakkan kaki berjalan kearah Yunho.
Jaejoong melupakan selimut yang masih teronggok di lantai dengan kesal ia kembali menghentakan kakinya, namun langkah selanjutnya membuat keseimbangan tubuhnya Goyang.
Yunho mendelik lebar melihat Jaejoong menggerakan kedua tanganya untuk menjaga keseimbangan ia mencoba bangkit namun tubuh Jaejoong lebih dulu limbung kearahnya. Jatuh tepat di atas tubuhnya.
Jaejoong merasakan sesuatu yang keras menghantam keningnya. Oh, wajahnya yang tampan hilang sudah, ia tak mampu membayangkan sedikit goresan saja pada kulitnya yang indah.
Rintihan keras seseorang terdengar. Jaejoong mengangkat kepala dan mendapati wajah Yunho tepat di depan mata dan pemuda itu kesakitan.
Buru buru ia bangkit. "Maaf kan aku Yunho,apakah Sakit." Tentu saja sakit. Untuk apa ia bertanya jika sudah melihat bibir pemuda itu berdarah.
Yunho memang merasakan benturan yang cukup keras di mulutnya, giginya tanpa sengaja membentur bibirnya sendiri sampai berdarah. Mata Yunho mendelik melihat kening Jaejoong,
"Ya, Yuhan, kitten, keningmu berdarah." ia bangkit dari ranjang dan menghampiri Jaejoong.
Menarik pemuda itu untuk duduk di sofa, Yunho berlari ke pintu dan berteriak kepada pelayan untuk membawakan kotak obat segera mungkin.
"Jaejongie, apa yang kau lakukan dikamarku, sepagi ini." Yunho memberondong pertanyaan ketika ia kembali berdiri di hadapan Jaejoong.
" Dan bagaimana kau bisa masuk," Yunho menyeks darah di kening Jaejoong menggunakan tisue. Mengabaikan darah di bibirnya yang menetes mengotori karpet.
Jari Jaejoong menunjuk pintu tanpa berkata.
"Seingatku, aku selalu mengunci pintu sebelum tidur." Berlutut di hadapan Jaejoong Yunho lupa jika dirinya hanya memakai celana boxer tanpa kaos.
"Adikmu membukakan pintu untukku."
"Jihye," ujar Yunho. Jaejoong mengangguk.
Wajah Jaejoong merona menyadari ketelanjangan Yunho, bahkan Jaejoong takut hidungnya akan mengeluarkan darah kalau sampai Yunho tidak segera memakai apapun untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Demi Tuhan, tubuh Yunho sangat sempurna meskipun umur pemuda itu masih belum terlalu matang.
Yunho memiliki tonjolan otot tubuh di tempat tempat yang seharusnya, hasil latihan olah raga setiap hari.
Tidak seperti dirinya. Jaejoong berjanji ia akan giat olah raga mulai sekarang.
"Se ...sebaiknya aku menung...gu di bawah, Yunho." kata itu diucapkan terbata bata." Aku akan meminta tolong Jihye untuk mengobatiku. Lebih baik kau mandi terlebih dahulu." Tanpa menunggu jawaban Yunho, Jaejoong berlari keluar kamar tanpa menutup pintu.
Oh, Jantungnya yang malang, Jaejoong yakin jantungnya akan berhenti berdetak untuk selama lamanya seandainya ia masih tetap berada di dalam kamar Yunho lebih lama lagi.
.
.
.
Tidak biasanya Yunho mampu menyelesaikan ritual mandi dan memakai seragam secepat pagi ini. Tiga puluh menit adalah rekot tercepat sepanjang hidupnya.
Kaki panjang berbalut sepatu Adidasi berlari menuruni tangga dengan cepat. Bukan, bukanya ia tidak sabar untuk melihat Jaejoong, namun Yunho lebih takut Jaejoong membuat ulah di rumahnya, atau tersesat untuk kembali keruang tamu adalah kemungkinan yang paling besar mengingat mansion Jung sangatlah besar.
Alih alih melihat Jaejoong berlarian sepanjang ruang tamu Yunho mendapati pemuda itu duduk manis di sofa besar berwarna mocca di ruang tamu. Sangat manis sampai Yunho mengira pemuda itu tertidur.
Melangkah mendekat Yunho duduk di sisi Jaejoong. Pemuda itu sedang sibuk membalas pesan melalui handfon milik Jaejoong.
Alis Yunho mengeryit, melihat poni pemuda itu diikat keatas seperti pohon palem beserta daunya yang mengembang lucu. Jaejoong terlihat imut dengan plaster beruang yang bertenger manis di kening sebelah kanan.
"Apa masih sakit."
Mengalihkan mata dari layar Handfon, Jaejoong melirik Yunho dengan enggan. "Tentu saja sakit," jawabnya ketus. "Kata Jihye mungkin ini akan membekas." Jaejoong berkutat kembali dengan handfonya.
"Apa yang kau tulis Jongie?"
Bukanya menjawab Jaejoong malah melihatkan apa yang menjadi kesibukanya. Disana, di setatus jejaringan sosial Jaejoong menguploat foto dirinya sendiri plus plester beruang dan pohon palem dikepalanya. Sepertinya foto itu di ambil tidak lama sebelum ia turun karena Yunho bisa melihat suasana rumahnya di belakang Jaejoong.
Yunho membaca tulisan yang tertera di atas foto Jaejoong. 'Pagi ini Jaejoongie membangunkan beruang, dan lihatlah beruang itu mengigit Jongie' dengan icon bergambar cartoon menangis.
Disana sudah lebih dari seratus orang yang like foto Jaejoong bahkan handfone Jaejoong tidak berhenti berdering, bunyi akan sebuah coment yang masuk.
Yunho merebut Handfon Jaejoong sambil menggeram karena di kucilkan. Ya Tuhan, untuk apa pemuda itu kesini di pagi buta, memencet bell seperti orang gila sampai membuat seluruh pelayan berhamburan keluar. Itulah yang di katakan pelayan yang menyiapkan baju seragam Yunho.
"Aku ingin membalas comentar itu..." Tangan mungil Jaejoong mencoba meraih handfon yang berada di sisi lain meja.
Yunho menarik Jaejoong untuk menghadap kearahnya. "Katakan padaku, Kim Jaejoong. Untuk apa kau kesini di pagi buta? Bukan berarti aku tidak suka kau datang kesini, aku sangat menyukai itu."
Ah. Ia lupa untuk tujuan apa ia kesini. Jaejoong melihat sekeliling. "Dimana Taepong?"
"Taepong?"
"Ya, Taepong, siapa lagi."
"Boleh aku tahu siapa itu Taepong."
Dengan gemas Jaejoong menghantamkan bantalan sofa kearah Yunho. "Tentu saja anjing itu,"
Anjing...? Astaga anjing yang Jaejoong beli untuknya kemaren. Yunho menyerahkan kepada salah satu pelayanya kemaren malam dan belum melihatnya pagi ini. "Ah, Ya Taepong. Jadi kau kesini hanya untuk anjing itu?"
"Tentu saja, untuk apa lagi aku kesini kalau bukan untuk memastikan kau merawat anjing itu dengan baik." Kekecewaan merasuk ke dalam diri Yunho. Bagaimana mungkin ia bisa berharap lebih pada Jaejoong.
Tapi tidak ada salahnya bukan? Jika ia berharap. Mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua kemaren pagi. Yunho khawatir Jaejoong masih belum paham dengan apa yang mereka lakukan kemarin, ia harus memastikan itu dan bertanya apakah Jaejoong juga menyukainya.
Ia sudah akan berkata ketika Jihye datang dengan Taepong dalam gendonganya. "Kau tidak perlu menghawatirkan Taepong Jongie," Adiknya itu memanggil Jihye begitu akrab. Seakan akan mereka adalah teman lama. "Kami punya banyak pelayan untuk membantu merawat Taepong."
Kemudian Jihye beralih mengjadap Yunho."Oppa apa kau akan sarapan dirumah."
"Tidak, aku akan mengajak Jaejoong sarapan diluar bersamaku."Yunho melirik jam tangan mahal di pergelangan tanganya. "Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Kami akan mengantarmu sebelum berangkat."
Jaejoong melompat dari sofa mengabaikan kedua kakak beradik itu, ia menghampiri Taepong. Pemuda itu sudah mengoceh kesana kemari seakan anjing itu mengerti dengan apa yang diucapkannya. "Kau akan mengotori seragammu, Kitten."
Jaejoong mengabaikan kekhawatiran Yunho. Ia melepaskan Taepong agar anjing itu dapat menikmati sarapan yang sudah di sediakan di sisi lain ruangan. Bahkan Yunho sudah membeli rumah rumahan untuk Taepong, kapan pemuda itu mendapatkan benda itu. Diam diam Jaejoong melirik Yunho dan tersenyum.
"Sekarang aku punya alasan untuk dekat dengan Yunho, yaitu kau" bisiknya kepada anjing yang hanya menatapnya dan menggoyang goyangkan ekornya.
Jihye menghampiri sang kakak yang tersenyum senyum sendiri melihat tingkah Jaejoong yang menggoda Taepong dengan menarik narik ekor anjing itu. "Kau tidak boleh menarik ekornya, Kitten. Atau Taepong akan mengigit tanganmu." Yunho mensehati.
Jihye masih memperhatikan ekspresi kakaknya yang berbinat bahagia pagi ini. Oh Yunho akan senang seandainya ia memberitahu sebuah rahasia tentang Jaejoong.
"Oppa."
"Hm," Yunho menjawab tanpa menoleh.
"Kau tahu, Kim Jaejoong sudah akan membunuhku jika para pelayan tidak menariknya tadi pagi." Sontak mata Yunho menatap sang adik dengan keterkejutan yang tidak ditutup tutupi.
"Jaejoong ...apa?"
Bukanya marah, Jihye malah tertawa semakin keras. "Kau tahu, alasanya hanya sepele, Jaejoong cemburu karena kemaren melihatku membawa bekal untukmu dan dia melihat kau tersenyum untukku."
Jihye bisa membaca ketidak percayaan kakaknya itu dengan jelas. "Kalau kau tak percaya tanyakan saja kepada Mr. Park, satpam kita."
"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa yang kau lakukan kepadanya."
Ya Tuhan, apa kakaknya itu tidak mendengar apa yang baru dikatakanya, Jaejoong mencekiknya. "Demi Tuhan, Jung. Kau sudah di butakan oleh cinta." Jihye menahan nafas dan menghembuskan nafasnya kasar.
Kemudian melanjutkan. "Jaejoongie mengira aku menggodamu kemarin, makanya dia sangat marah ketika melihat ku turun untuk melihat kegaduhan yang ia timbulkan, dan siapa sangka dia malah mencekiku."
Kenyataan itu menusuk Yunho seperti panah kebahagiaan yang di tembakkan cupit mengarah langsung kehatinya, berpedar seperti kembang api warna warni di semua syaraf dalam tubuh. Benarkah Jaejoong cemburu kepada Jihye? Oh ia sangat bahagia jika benar hal itu terjadi.
Teriakan Jaejoong membuat Yunho melompat dari sofa, ia berlari menghampiri Jaejoong yang sudah duduk di lantai dan ... menangis
"Tuhan, apa yang terjadi." Berlutut di samping Jaejoong Yunho membantu pemuda itu untuk berdiri.
Air mata membasahi kedua pipi chuby Jaejoong. Pemuda itu menunjukan Jari telunjuknya yang berdarah. " Taepong mengigitku." adunya. Ia kembali menangis keras.
Ya Tuhan, Yunho hampir saja jantungan mendengar teriakan Jaejoong. Dan hanya karena digigit anjing kecil yang saat ini duduk di sisi mangkok susu yang sudah habis dan menatap mereka polos, persis seperti mata polos Jaejoong.
"Bukankah sudah ku katakan, untuk tidak menarik ekor Taepong sebelumnya." Bukanya menghentikan tangisanya, Jaejoong malah menangis semakin keras.
Untuk pertama kali dalam hidup Jihye, ia melihat Yunho kehabisan kata kata untuk menenangkan Jaejoong. Kakaknya yang malang, dia benar benar telah jatuh cinta kepada namja cantik yang bertolak belakang dengan sifatnya. Ketabahan Yunho benar benar akan di uji.
~TBC~
Lebih dari 3 k. 3,5 tepatnya. Semoga tidak membuat reader merasa ngantuk sat baca.
Promo : Beberapa reader ada yang minta di bukuin FF The Kingka Strawberry And Vanilla adakah yang minat. Kalau iya bisa pm author di fb Sherry Kim.
Ini hanya untuk koleksi yang berminat gx ada maksud untuk jual atau nyari keuntungan karena Author sendiri tadinya hanya mau cetak 1 book khusus untuk sendiri dan karena ada yang minat sekalian aja author cetakin. Bisa ngringanin dana pokok buat cetak, inipun mungkin Akhir tahun mulai cetaknya ~ di jitak~.
Ff itu tidak akan Sherry hapus dari wattpat karena itu hasil karya Author yang berharga dan ingin berbagi dengan yang lain yang masih pengen baca disuatu waktu.
Kamsahamnida ~BOW~
Maaf sebelumnya, Author tidak ada niat pindah karena Author dari wattpat bagi cabang (?) pindah kesini, bukanya dri FFn pindah ke wattpat.
Sepertinya banyak yang salah paham, karena ff yang aku update disini juga sudah update di wattpat aku sama worldPress. Author gx akan ngilang kalau tidak ada faktor yg buat Author ngilang ~emang hantu~ Abaikan.
Di wattpat banyak FF author yg sudah end, bagi yang minat silahkan kunjungi : SulisKim.
jangan luoa vote ya, buat tambah tambah suntikan tenaga.
*Kabur*
