Title: The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C :Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Sepanjang perjalanan Jaejoong terus berpikir, apakah ini nyata? Benarkah Yunho telah menyatakan cinta padanya? Tuhan semoga tadi itu bukanlah sekedar mimpi belaka.
Diam diam ia melirik Yunho yang duduk di sebelahnya, di balik kemudi. Mereka baru saja mengantar Jihye setelah Yunho membawanya kerumah sakit untuk di periksa.
Kembali, Jaejoong teringat kata kata yang di ucapkan pemuda itu untuk menenangkanya ketika ia berteriak histeris tidak ingin disuntik.
Demi ibunya yang sejahat ibu tiri Cinderella ia takut setengah mati dengan benda kecil panjang itu. Membayangkan jarum menusuk kulitnya yang lembut Jaejoong bergidik ngeri.
Oh, Jaejoong hanya ingin diperhatikan lebih oleh Yunho, dan ia berteriak histeris bahkan menangis ketika Taepong mengigitnya, meskipun ia akui gigitan itu sangat sangatlah menyakitkan, jarinya berdenyut nyeri dan berdarah.
Mobil sport berwarna merah milik Yunho baru saja memasuki pintu gerbang Shinki ketika Jaejoong berterik frustasi dengan pikiranya sendiri.
Oh, telinga Yunho yang malang, pagi ini sudah mendengar teriakan pemuda cantik itu berkali kali.
"Kau tidak usah berteriak seperti itu Kitten, lukamu akan sembuh dalam beberapa hari." Yunho salah mengartikan jeritan Jaejoong.
Untuk pertama kali sejak Yunho masuk sekolah Shinki, pemuda itu mengendarai mobil pribadinya. Kalau bukan karena kekasih cantiknya yang berteriak histeris hanya karena di gigit Taepong dan harus membawanya kerumah sakit, Ia lebih memilih naik Bus.
Rumah sakit. Tuhan, hanya karena gigitan Taepong yang tidak melukainya begitu dalam. Akan tetapi berbeda jika gigitan itu mengenai jari seorang Kim Jaejoong, pemuda cantiknya itu benar benar histeris karena luka yang dialaminya, belum lagi kening pemuda itu yang terbentur gigi Yunho. JadiJihye menyarankan untuk membawa Jaejoong kerumah sakit, agar Jaejoong berhenti membuat gaduh mansion yang biasanya sepi.
"Bagaimana ini," Seru Jaejoong.
Mobil Yunho berhenti di parkiran sekolah, Yunho melepas sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya sendiri juga sabuk pengaman Jaejoong. Ia tersenyum melihat wajah kekasihnya itu gelisah. Ya, Jaejoong adalah miliknya.
" Bagaimana, kenapa? Tidak ada yang berubah dengan hari ini masih sama seperti hari hari biasanya." Bohong, tentu saja hari ini spesial, hari mereka jadian.
"Beda, jelas beda." bentaknya. Oh Jaejoong menutup mulut dengan kedua tanganya. Bagaimana bisa ia membentak Yunho, yang sudah resmi menjadi kekasihnya.
Wajah Jaejoong merona. Ia harus memastikan ucapan Yunho ketika di rumah sakit. Ia bertanya dengan malu malu. "Yunho apa benar kalau kita ..." Jari jari Jaejoong tertaut di atas kedua paha.
Tuhan, ia begitu gugup." Kau tidak bohong tentang,,, hubungan kita yang ..." Jaejoong kembali terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mengatakanya.
Mencondongkan tubuhnya kedepan, Yunho mengecup kening Jaejoong. "Iya, Kitten. Aku serius dengan apa yang aku katakan tadi, kita jadian, kau adalah milikku aku adalah milikmu. Aku tidak berbohong saat mengatakan aku mencintaimu untuk membuatmu terdiam agar dokter itu bisa menyuntikan obat untuk lukamu, supaya luka tersebut tidak infeksi."
Mata besar Jaejoong mengerjap imut, kedua rona merah menjalari wajahnya semakin parah. Ia menunduk, oh ia sangat bahagia. Yunho mau menjadi kekasihnya. "Tapi Yun, "ia mendongak. "Aku masih tetap Kingka disini, dan kau harus mendengarkan kata kataku, bukan?"
Kingka? Apa hubunganya dengan mereka yang jadian?
"Tentu saja," Jawab Yunho yakin.
"Kalau begitu bisakah kita merahasiakan hubungan ini," menunjukkan wajah memelas, Jaejoong memohon.
Senyum Yunho lenyap ketika mata musangnya menatap mata Doo kekasih cantiknya. "Tidak. Demi Tuhan Jaejongie bagaimana mungkin kau memintaku merahasiakan hubungan kita?"
Ya Tuhan, apakah Yunho membentaknya."Kau membentakku Bear," cicitnya.
Wajah Yunho melunak, ia tidak berniat membentak Jaejoong. Akan tetapi keinginan kekasih barunya itu sungguh tidak dapat di toleri seperti kesalahan kesalahan apapun yang pernah di lakukan Jaejoong sebelumnya." Tidak, sayang. Aku hanya tidak suka merahasiakan hubungan kita dari siapapun, titik."
Apa Yunho baru memanggilnya, sayang. Oh, jantungnya berdetak penuh kebahagiaan." Aku Kingka disini, Yun. Mereka akan menertawakanku seandainya mereka tau aku memiliki kekasih,"
"Itu konyol."
"Kingka seharusnya kejam dan tidak berperasaan, kau tahu itu, bukan?"
Yunho duduk tegak di kursinya. "Jadi kau menganggap dirimu sendiri kejam sedangkan hatimu berubah begitu lembut ketika melihat anjing yang terkurung di toko hewan," Jaejoong terdiam, menatap Yunho sedikit memberenggut tidak suka.
"Apa kah seorang kingka akan menangis ketika melihat darah dan seorang Kingka beteriak histeris karena gigitan anjing kecil yang bahkan gigi anjing tersebut belum sepenuhnya tumbuh." wajah Yunho melunak ketika melihat wajah sang kekasih berubah sendu. "Tuhan, jangan." ia menarik Jaejoong agar pemuda itu duduk di pangkuanya.
Dengan segera Jaejoong menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Yunho, dan ia terisak. "Kitten, maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu, selamanya kau Kingka di sekolahan ini. Kau dengar, aku akan mendengarkanmu, apapun itu! " Tangan besar Yunho menepuk nepuk punggung Jaejoong. "Baiklah, aku tidak akan mengatakan pada siapapun kalau kita pacaran,"
Ketika Jaejoong menarik diri dan tersenyum Yunho menambahkan. "Tapi, aku tidak dapat berbohong ketika seseorang bertanya kepadaku apakah kau kekasihku, dan aku berharap kau juga melakukanya. Kita tidak akan mengatakan apa apa, tapi tidak akan menyangkal ketika ada seseorang bertanya, demi Tuhan, aku tidak dapat mengendalikan emosiku ketika melihat seseorang mendekatimu baik itu pria maupun wanita."
Apakah Yunho cemburu? Senyum Jaejoong mengembang dibibirnya yang menggoda. Oh, ia sangat bahagia memiliki kekasih seperti Yunho, selain tampan pemuda itu pengertian juga mencintainya. " Itu sama saja bohong Bear, kau tidak ..."
"Tidak, tidak, aku tidak akan mengambil resiko seseorang mengejar ngejarmu dan berharap mereka bisa merebutmu dariku, tidak akan ku biarkan. Aku tidak akan membagi milikku dengan orang lain." Betapa posesifnya Yunho. Dan itulah yang Jaejoong suka dari kekasihnya.
Memberanikan diri, Jaejoong mengecup ringan bibir Yunho yang pecah akibat berbenturan dengan kepalanya pagi ini. Lihatlah bibir hati itu, bagaimana bisa Jaejoong tidak berhati hati dan membenturkan kepalanya yang keras di bibir Yunho yang ia akui secara diam diam sexy, "Apakah sakit?" jari Jaejoong menyentuh luka di bibir bawah Yunho. Ia masih ingat bagaimana rasa bibir itu di bibirnya.
Menangkap tangan jahil Jaejoong yang berbalut perban, Yunho mengenggam tangan yang lebih lembut dan mungil darinya itu. Meremas ringan kemudian mencium tangan Jaejoong. "Hanya luka kecil, tidak sakit." Tangan lain Yunho menyentuh plester di kening Jaejoong yang tertutup sebagian poninya. "Kuharap ini tidak membekas."
Senyum malu malu Jaejoong membuat pertahanan Yunho benar benar di uji. Tuhan Jaejoong sangat menggemaskan jika tersipu seperti itu.
"Aku rela luka itu membekas," cicitnya. Mata mereka bertemu, Yunho mengeryit heran. "Karena luka ini akan menjadi kenangan manis kita." Lihatlah wajah kekasihnya semakin merona hebat.
"Oh Jaejongie." Mendekap tubuh Jaejoong semakin erat Yunho mengabaikan bunyi bell masuk sekolah. "Aku sangat mencintaimu, sayang. Sejak kita pertama kali bertemu."
"Aku tahu, kau sudah mengatakanya berkali kali di rumah sakit. " ia menyela. "Tapi aku tidak keberatan mendengarnya puluhan kali lagi setelah istirahat nanti, jadi Bear." Tangan mungil Jaejoong menepuk nepuk punggung Yunho. "Bell masuk sudah berbunyi, aku tidak mau kau menjadi murid nakal sepertiku."
Tawa Yunho menggema di dalam mobilnya. Oh ia sangat bahagia, akhirnya mereka benar benar bersama.
.
.
.
Yoochun dan Changmin memperhatikan bibir mungil Jaejoong menggamit sedotan dan meminum milkshake vanilla nya sampai habis.
Mereka berdua memasang wajah sangar yang sedikitpun tidak membuat Jaejoong takut. Pemuda itu dengan santai menghabiskan makan siangnya tanpa mengatakan sepatah kata atau menjawab pertanyaan yang mereka ajukan.
Setelah Bell istirahat berbunyi Yoochun dan Changmin memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang di abaikan Jaejoong. Dasar anak manja sialan. Grutu Changmin kepada Jaejoong.
"Kami kerumahmu, dan Bibi Heechul mengatakan kau sudah berangkat pagi pagi sekali."
Jaejoong hanya mengangguk menjawab, pemuda itu melenggang santai ke arah kantin sekolah. Kedua anteknya mengikuti Jaejoong dengan semangat seperti biasa.
"Seharusnya kau memberitahu kami."
"Untuk apa?" ujar Jaejoong. Jemarinya menyingkirkan tangan Yoochun yang menarik ujung kemejanya yang tidak rapi.
"Tentu saja mengikutimu kemanapun kau pergi, kau pemimpin kami."
Jaejoong tidak lagi menjawab apapun yang dilontarkan kedua sahabatnya itu. Ia kelaparan setengah mati, bahkan Yunho tidak membelikan sarapan untuknya. Beruang hibernasi yang tidak berperasaan, salah Jaejoong juga seandainya mereka tidak punya waktu ketika ia menangis histeris dan dibawa ke rumah sakit.
"Oh diamlah aku kelaparan, tunggu sampai aku kenyang baru menjawab pertanyaan kalian." ujar Jaejoong dengan geram.
Dan begitulah, mereka menunggu dengan setengah hati sampai Jaejoong selesai menghabiskan makan siangnya. Changmin menyodok tulang rusuk Yoochun. Kedua sahabatnya itu berbicara lewat tatapan mata.
Di sela menggamit sedotan minumanya dengan gigi Yoochun bertanya. "Katakan padaku dari mana kau dapat luka itu?"
Menyentuh luka di keningnya Jaejoong tersenyum cerah. "Berbenturan dengan gigi Yunho." jawabnya polos tanpa merasa berdosa.
Changmin mengumpat kasar ketika Yoochun menyenburkan minuman pemuda itu kewajahnya. "Sialan."
"Maafkan aku." Yoochun tersedak.
Jaejoong menyodorkan tisue kearah dua sahabatnya itu. Yoochun membantu Changmin membersihkan wajahnya. "Maaf ,Dude."
Kedua pasang mata mendelik lebar menatap Jaejoong dengan penuh penasaran." Kim Jaejoong, bagai... bagaimana?" Yoohun terdiam. Ia kembali terbatuk batuk.
"Bagaimana kau bisa terbentur ..."Changmin tergagap. "Gi,,,ginya kau bilang,? Yunho ...?"
Jaejoong mengangguk imut. "Aku kerumahnya pagi ini, aku tidak mengajak kalian karena aku yakin kau akan menggerutu seharian seandainya aku membangunkanmu seperti kemaren lusa."
"Aku akan lebih memarahimu kalau kau berani kerumahnya lagi tanpa mengajak kami," Suara Changmin menggema di kantin besar yang penuh dengan para murid.
Yoochun menyiku Changmin. "Kecilkan suaramu bodoh." menatap Jaejoong kembali Ia bertanya, "Lalu luka di jarimu?"
"Jangan katakan padaku itu gigitan Yunho." dengan senang hati Jaejoong menepuk kepala Changmin.
Tuhan, bagaimana bisa ia memiliki dua sahabat yang menjengkelkan seperti mereka. "Taepong mengigitku,"
Taepong?
Ah, Ya. Anjing kecil yang Jaejoong beli untuk Yunho.
"Jadi, kau kerumah Yunho pagi pagi buta."
Jaejoong menepuk tangan Changmin yang jelalatan mengambil beberapa buat buahan dari eskrim pencuci mulut yang belum ia cicipi. "Jauhkan tangan nakalmu."
Ia beringsut menjauh dari kedua sahabatnya. "Ck, kalian berhenti mempertanyakan hal hal yang aneh, aku bukanlah anak kecil yang perlu kalian awasi dua puluh empat jam."
Kedua sahabatnya tersentak hebat. Ya Tuhan, apakah pemuda itu tidak menyadari jika kelakuanya saat ini begitu menggemaskan seperti anak kecil umur tiga tahun. Memeluk mangkuk es seperti ia memeluk harta karun untuk menjauhkan benda itu dari jangkauan Changmin.
"Lain kali kau harus mengajak kami."
"Kenapa? Bukankah kalian tidak menyukai Yunho."
Yoochun menjedukan kepalanya di atas meja. Bukankah itu sebaliknya, Jaejoonglah yang selalu meributkan status Kingka miliknya takut akan di rebut pemuda tampan seperti Yunho.
"Kami menyukai Yunho,"
"Lain kali kau harus mengajak kami."
"Baiklah, diamlah cerewet. Aku sedang memikirkan alasan yang tepat untuk Mom, ...maksudku Ibuku." lagi lagi Jaejoong meralat ucapanya. "Kau tau ibu tiri Cinderella itu akan bertanya dari ujung sampai pangkal dan bagaimana aku mendapatkan luka ini." Jaejoong mencibirkan bibirnya untuk meniup poninya. Tepat di arah luka berbaluk plaster itu berada.
"Ceritakan saja yang sebenarnya."
"Kalau kau meggedor rumah orang di pagi buta."
"Ibuku akan membunuhku,"
"Dia tidak akan berani melukai seujung kukupun dari kulit mulusmu Jaejongie." Yoochun menggeram. " Bibi Heechul terlalu memanjakanmu."
Jaejoong mendelik, ia tidak manja bukan. "Aku tidak manja,"
"Ya, kau manja." ujar Changmin dengan santai. Pria itu meraih permen Loly rasa strawbery dari saku jasnya. "Aku heran bagaimana aku bisa bertahan memiliki sahabat sepertimu."
Melepas bungkus permen kemudian memasukkan permen bulat itu ke mulutnya ia bergumam. "Juga pelit."
Sebelah pipi Changmin terlihat menyembul berbentuk permen yang pemuda selipkan kesamping. Jaejoong memandang dengan tatapan tergiur kearah kiri kanan setiap gerakan yang dilakukan Changmin terhadap permenya.
"Apa kau masih punya permen itu, dimana kau membelinya" sial, uang jajanya sudah ia habiskan untuk milkshake, spageti dan es krim.
Menangkap rasa ketertarikan akan Loly miliknya di mata Jaejoong Changmim menyerigai. Ia melupakan fakta Jaejoong pengagum benda manis manis apalagi Loly vanilla. "Sayangnya ini rasa Strawberry," mengeluarkan benda bulat dan mencodorkan dengan sengaja ke wajah Jaejoong.
Yoochun memutar bola mata menatap kedua sahabatnya yang kekanak kanakan. Tuhan, mereka murid kelas 11 dan masih pencinta Lolipop. Tidak butuh waktu lama mereka akan ... See!
"Ku tukar permen itu dengan separuh Eskrim milikku." Jaejoong menyodorkan eskrim miliknya.
Changmin melirik tanpa minta, dan Yoochun tau pemuda itu hanya memasang wajah palsu untuk menggoda Jaejoong. "Tidak, terimakasih." Ia sudah akan memasukan benda bulat kecil itu ketika Jaejoong bangkit dari duduknya dan menyambar tangan Changmin. "Kau tidak boleh memakanya Chwang,"
"Ini punyaku." Changmin mempertahankan sama kuatnya.
"Tidak, kau akan memberikanya padaku, kau sudah janji."
"Kapan aku berjanji."
"Sekarang." seru Jaejoong tidak mau kalah.
Menghembuskan nafas lelah Yoochun mengambil minumanya dan mengabaikan dua sahabatnya yang bertengkar tidak jelas. Oh, sabarkanlah dirinya Tuhan.
.
.
.
Ketika Yunho melangkah masuk ke kantin hal pertama yang terdengar di telinganya adalah teriakan kekasih cantiknya yang terdengar marah.
"Kau akan memberikan permen itu atau aku akan memukulmu." acaman Jaejoong terdengar meyakinkan, dan Yunho tidak meragukan itu.
Kemudian Changmin berteriak sama tegasnya. "Dasar kucing nakal, suka merebut milik orang."
Suara mereka menjadi tontonan para murid lain. Dan seperti biasa Kingka mereka tidak peduli sekeliling. Mata Yunho mendelik ketika Jaejoong mengangkat tangan dan memukul kepala Changmin.
"Demi Tuhan, Kim Jaejoong." Melangkah lebar ketempat mereka duduk Yunho menjulang tinggi di antara ketiga pemuda itu. "Kau tidak boleh memukul temanmu."
"Mengapa begitu?"
Yunho mendelik, bukan Jaejoong yang menjawab tetapi Changmin si korban. "Kenapa?" suara Yunho tinggi dan tegas. "Karena itu tindakan kekerasan."
"Kau akan dipenjara Jaejoongie." Seunghyun muncul di belakang Yunho.
Jaejoong mendelik ngeri namun suara Yoochun menenangkanya. " Mereka sudah terbiasa seperti itu, bahkan mereka sering saling membanting dan menindih jika perkelahian itu terjadi di kamar dan di atas ranjang ."
"Ranjang." Suara Yunho menggema. Kecemburuan membuatnya lupa dengan tujuanya menghampiri ketiga berandal sekolah itu. Tuhan, Jaejoong sudah keterlaluan.
Jaejoong yang tidak peka menjawab dengan bangga. "Dan aku pasti selalu memenangkan pertempuran itu," matanya berbinar bangga menatap wajah Yunho yang keras karena marah bercampur cemburu.
"Karena kau menindihku dengan seluruh berat tubuhmu duduk di punggungku dengan memelintir sebelah tangan atau menggigit salah satu bagian tubuhku." Changmin tidak akan berkata jujur kalau ia mengalah. Bahkan berat pemuda itu tidak lebih ringan dari adiknya yang berumur dua belas tahun.
Yunho merasa dadanya panas, kepalanya pening dan susah bernafas, wajahnya sudah merah dan ia sudah siap menyembur mereka ketika suara centil dan antusias bergabung dengan mereka.
"Hi,,,"
Yoochun melirik sekilas pemuda manis yang muncul di sisi lain Yunho. Ia belum pernah melihat anak itu sebelumnya.
"Hari ini hari pertamaku di sekolahan ini." Ucapnya dengan senyum lebar dan mata berbinar binar.
Yoochun melonggo ngeri. Pemuda itu sangat mirip seperti Jaejoong. Bukan, bukan wajahnya tetapi dalam bersikap dan senyum tanpa dosa dengan mata berbinar seperti anak anjing minta di pungut.
Jaejoong telah mendapatkan permen yang diinginkanya, dan Changmin sudah duduk menyantap eskrim Jaejoong. Dan mereka kembali duduk di bangku mereka dengan tenang
"Namaku Kim Junsu."
Kim. Lagi!
Batin Yoochun merana.
Yunho menghembuskan nafas lelah, berbalik menghadap Junsu. "Berhenti mengikutiku Junsu." ia memperingatkan.
" Aku tidak mengikutimu." Dengan santai Junsu duduk di samping Jaejoong.
"Nuguya?" Akhirnya Jaejoong menyadari kehadiran pemuda itu.
"Aku Kim Junsu, murid baru dan aku sekelas dengan Yunho Seungyun dan ..." Ia memperhatikan sekeliling. Kemudian tersenyum menunjuk Siwon yang sedang memesan menu makan siang." Siwon, disana." ia menunjuk.
"Aku belum pernah melihatmu, apa hari ini hari pertamamu , dan kau ..." Jaejoong melompat girang dari kursinya. "Lucunya,,,"
Tangan Jaejoong menarik jam tangan Hello kitty berwarna merah muda milik Junsu. Matanya berbinar binar bahagia. "Di mana kau membelinya, kau tahu aku menyuruh Dad membelikan versi terbaru untukku tetapi Mom mengatakan aku akan bertambah tampan kalau tidak memakai benda Hello kitty. Padahal aku akan bertambah tampan kalau mengoleksinya, bukan? ..." Celotehnya panjang lebar dan entah apa lagi yang di ocehkan kedua pemuda itu.
Suara tawa tertahan di kantin sangat jelas terdengar. Lihatlah Jaejoong begitu menggemaskan di mata mereka apalagi ketika bibir mungil itu berceloteh tanpa kenal lelah. Dan anehnya Kim Junsu sama sama antusias menceritakan dari mana ia mendapatkan jam tangan yang mereka berdua katakan Limited edision itu.
Seunghyun menarik kursi di samping dan bergabung di meja Jaejoong Cs yang memang panjang. Ia menarik kursi untuk Yunho. "Duduklah Dude, aku khawatir kau akan pingsan sebentar lagi." wajah Yunho memang merah padam, entah karena rasa cemburunya tadi atau perasaan lain.
Siwon datang dengan menu makan siang untuk tiga orang mengambil duduk di sebelah kursi Yunho yg kosong.
Dengan kesal Yunho mengaduk aduk minumanya menggunakan sedotan dengan gemas. Jaejoong mengabaikanya, oh baiklah ia akan membuat pemuda itu menyesal nanti karena telah membuatnya terbakar api cemburu.
"Siwon, kau tidak mengambilkan untukku." Junsu menatap Siwon polos.
"Aku." alis Siwon terangkat. Apa tidak salah, anak baru itu memerintahnya.
"Choi Siwon." Jaejoong menatap tajam kearah Siwon dan Siwon menarik nasaf lelah. "Oh berhenti menatapku dengan mata itu Jaejoongie, kau akan membuatku merasa sangat tidak berperasaan."
Melihat Siwon bangkit dan pergi Jaejoong tertawa bangga memukul dadanya sendiri. "Kau tahu aku selalu berhasil menakuti mereka dengan sorot mataku yang menakutkan." Adu Jaejoong menyombongkan diri kepada teman barunya Kim Junsu.
Keempat pemuda lain memutar mata jengah mengabaikan komentar aneh Kim Jaejoong. Tuhan tahu itu tidak benar, siapa yang akan takut di tatap mata kucing yang hampir menangis.
"Jadi kau memiliki adik bayi." Jaejoong bertanya. Entah kenapa obrolan mereka bisa sampai disana.
"Em, ibuku baru melahirkan dua bulan lalu, itulah sebabnya kami pindah ke Seoul, rumah itu lebih besar dari rumah kami sebelumnya."
Keempat pemuda di sisi lain meja merasa dua pemuda di hadapan mereka itu seperti Bibi Bibi yang doyan gosip dan tidak kenal lelah terus berceloteh panjang lebar, dan mereka yakin mulut mereka akan bebusa sebentar lagi.
"Dari mana ibumu mendapatkan adik bayi." Memiringkan kepalanya sedikit heran Jaejoong bertanya. Ia juga menginginkan teman kecil yang menggemaskan. Seandaianya dirumahnya bertambah satu penghuni lagi pasti akan tambah seru.
"Kata Ayahku karena mereka saling menyayangi jadi ibuku mengandung Junho."
"Apakah orang yang saling menyayangi bisa memiliki adek bayi?" pertanyaan Jaejoong di jawab anggukan antusias Junsu.
Duduk tegak di kursinya Jaejoong menghadap Yoochun dan Changmin di sisi lain meja. Kemudian ia berkata polos. " Aku menginginkan adek bayi yang lucu. Kau Yoochun dan Changmin aku perintahkan untuk mendapatkan adek bayi untukku, karena kalian juga saling menyayangi."
Changmin tersedak eskrim di tengorokanya yang tiba tiba berubah seperti batu. Yoochun tersedak ludahnya sendiri. Yunho menepuk keningnya frustasi.
Seunghyun dan Siwon sudah tertawa lepas sambil memegangi perut mereka. Ya Tuhan, salahkan Jaejoong yang selalu tidur di setiap pelajaran Biologi.
Namun Junsu menjawab dengan santai. "Aku tidak yakin, aku akan bertanya dengan orang tuaku selepas sekolah."
"Aku juga akan bertanya kepada Mom dan Dad. Siapa tau aku juga bisa memiliki adek bayi sendiri."
Mengangkat kepalanya, Yunho mendapati tatapan Jaejoong kearahnya. Benarkah Jaejoong sepolos itu, atau ... "Demi Tuhan Kim Jaejoong hentikan berbicangan konyol kalian." ujar Yunho.
Yunho tak mengira ia berkata cukup lantang. Sampai sampai semua mata kembali menatap ke meja mereka.
~TBC~
