Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
"Mom, Dad Jongie pulang..." Suara Jaejoong menggema di rumah keluarga Kim.
Pintu depan tertutup begitu keras, lebih tepatnya di banting oleh Jaejoong.
Kaki jenjang pemuda itu berlari kearah ruang baca tempat favorite sang ibu, dimana wanita itu sering membaca buku di sela sela waktu senggang setelah kesibukan yang Jaejoong sendiri tidak tahu entah apa.
Kim Heechul melompat dari pangkuan sang suami ketika Putra nakalnya itu menyerbu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hankyung, sang kepala keluarga Kim segera mengancingkan dua kancing kemeja yang terbuka, dan sepertinya Ayahnya itu juga baru pulang dari kantor.
Jaejoong mengkerut ketakutan ketika sang ibu berkacak pinggang dan jangan lewatkan mata yang sama persis seperti miliknya itu mendelik galak kearahnya.
Jika tatapan tajam dapat dapat menusuk seperti jarum dan ia adalah kertas, bisa di pastikan Jaejoong sudah berlubang dimana mana . "Dimana sopan santunmu, Jongie. Kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk."
"Oh. Aku... maafkan aku, Mom, Dad..." Ia berbalik keluar ruangan dan menutup pintu.
Kepala keluarga Kim tersenyum kearah sang istri yang dan mengedipkan sebelah mata. "Kau tidak boleh terlalu keras kepada, Jongie, sayang." Terdengar suara ketukan dari arah pintu.
Jaejoong mengintip di balik pintu yang terbuka beberapa senti. "Boleh Jongie masuk Daddy?" sengaja ia menyebut nama sang ayah, karena ia tahu ibunya sedang marah kepadanya.
"Masuklah, Sayang." Hankyung menepuk sofa di sebelahnya menyuruh putra nakalnya itu duduk di sana. "Bagaimana harimu disekolah Jongie. Apa kau membuat masalah lagi hari ini?"
Ia memberenggut, apa ia senakal itu sampai setiap hari Ayahnya yang tampan itu selalu menanyakan hal yang sama setiap malam, atau sepulang sekolah. "Menyenangkan, Dad... Tentu saja tidak, Jongie kan anak baik." mendudukan pantatnya di sisi kiri Hankyung dan mencium pipinya. Kebiasaan yang tidak boleh ia langgar, atau ia akan di kutuk oleh ibu tiri Cinderella yang masih menatapnya galak itu.
Ia melirik takut takut kearah sang ibu." Kemarilah, berikan Mommy sebuah ciuman." Heechul berkata. "Kau tidak berniat melupakan ibu yang mengandungmu selama sembilan bulan ini kan?" Tuhan, tentu saja tidak. Apa hanya karena masalah sepele ia akan melakukan hal konyol seperti itu.
Jaejoong menurut untuk mencium pipi Heechul dan kembali ketempat duduknya. Menatap sang Ayah penuh sayang "Daddy, bolehkah Jongie meminta sesuatu."
"Tidak," Heechul menyela. "Hari ulang tahunmu masih lama, ini masih hari kamis untuk meminta uang jajanmu. masih dua hari lagi untuk mendapatkanya ."
"Bukan itu Mom." Oh, bisakah ibunya itu mendegarkan ucapanya terlebih dahulu sebelum menjawab. " Aku ingin seorang adik bayi."
Permintaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Heechul.
Kedua orang tua Jaejoong hanya mengerjap ngerjam beberapa saat, heran menatap putra tunggalnya Itu. Wajah ibunya memerah, ayahnya hanya tersenyum kemudian mengusap sayang rambut almond Jaejoong. "Katakan kepada Daddy mengapa tiba tiba kau menginginkan seorang adek bayi."
Mata besar Jaejoong menatap Ayahnya penuh harap. "Hari ini ada murid baru di sekolahan kami, dia memiliki adik bayi yang baru lahir. Jongie juga ingin adik bayi, Jongie kesepian." rengeknya manja.
Heechul menghela nafas kasar." Jongie sayang, memiliki adik bayi tidak segampang yang kau bayangkan. Butuh proses..." ia tergagap." kau tahu, dan ... lama." mata Doo Jaejoong hanya menatap polos dan menggeleng.
"Itu juga yang di katakan Changmin dan Yoochun. Mereka marah padaku sampai Changmin juga pulang sendiri karena aku meminta mereka memberikan adik bayi untukku."
Tuhan. Heechul mengerjap cepat dan kagum. Oh, kepalanya mulai pening. Ia duduk di sofa tunggal di sebelah lain meja.
Bagaimana bisa ia melahirkan anak seperti Jaejoong yang tingkat gemasnya atau lebih tepat kadar otaknya di bawah rata rata. Jaejoong tidak bodoh, hanya saja kadang kadang ia merasa putranya itu tidak akan pernah bisa dewasa lebih cepat. Apa karena ia terlalu memanjakan Kim Jaejoong.
"Jangan konyol, Jaejongie." Hankyung menyentuh punggung tangan Heechul, menepuknya ringan sekedar untuk menenangkan. Anehnya, ibunya yang galak itu selalu bisa tenang setiap kali Ayahnya tersenyum kepadanya.
Menatap penuh sayang kearah Jaejoong Hankyung menasehati. "Tidak hanya kasih sayang yang kau butuhkan untuk mendapatkan seorang adek bayi, Cinta juga termasuk di dalamnya. Aku dan ibumu saling mencintai dan hadirlah kau sebagai kado terindah di tengah tengah kami. Kau akan mengerti pada saatnya,"
Mengerjapkan bulu matanya yang lentik Jaejoong menatap ayahnya. " Yunho juga mengatakan hal yang sama."
"Anak baru itu?"
Jaejoong mengangguk singkat. " Daddy, kami pacaran mulai hari ini."
Heechul duduk tegak di kursinya. "Ya Tuhan, lihatlah putramu Hanny, dia sudah berani berpacaran di usianya yang masih belum genap dua puluh tahun."
"Mom, kenapa harus menunggu dua puluh tahun."
"Kau mengalahkan aku anak nakal, aku bertemu ayahmu di umur dua puluh tahun, seharusnya kau tidak cukup hebat untuk lebih cepat bertemu seseorang yang kau cintai lebih cepat dari ibumu"
Hankyung menghela nafas melihat bertengkaran kedua orang yang disayanginya. "Itu karena aku pindah kesini ketika kau berumur dua puluh Tahun Chulie, kalau aku tau ada kau yang menungguku, aku akan meminta ayahku pindah lebih cepat." namun sang istri dan putranya tak menghiraukan ucapanya.
Betapa ia bahagia memiliki Heechul dan Jaejoong sebagai keluarga tentu saja. Hankyung akan sangat senang seandainya memiliki anak lagi, akan tetapi kondisi kesehatan Heechul tidak memungkinkan untuk mengandung kembali putra atau putri kedua mereka. Meskipun Heechul berkeras ingin hamil kembali ia tidak akan mempertaruhkan keselematan sang istri untuk seorang anak yang belum pasti bisa di dapatkanya. Ia sudah sangat bahagia memiliki mereka berdua.
"Tenanglah kalian." Hankyung menarik Jaejoong dan memeluknya menjauhkan pemuda itu dari istrinya yang bertempramental tinggi.
" Jongie, Kau tidak mengatakan kepada kami, kau mengajak teman barumu untuk berkunjung sayang."
Sial. Ia lupa Yunho mengantarnya kembali dan melupakan pria itu di ruang tamunya seorang diri, salahkan Changmin dan Yoochun yang meninggalkan Jaejoong untuk pulang sendirian dan untunglah Yunho bersedia mengantarkanya pulang, kekasih yang baik, bukan!
Menatap penuh kagum kearah pemuda yang berdiri tegap di luar pintu ruang baca, Heechul berdiri dari duduknya. "Dasar anak nakal, kau tidak mempersilahkan tamu kita untuk duduk."
"Mommy yang membuatku lupa." ujar Jaejoong mencari alasan.
Sebenarnya Yunho tidak ada niat untuk masuk kerumah Jaejoong. Tidak di hari pertama mereka jadian, namun ia tidak bisa menolak permintaan kekasih cantiknya ketika memohon dengan mata penuh harap memandangnya. Tuhan, ia sangat menyukai mata indah itu.
Jaejoong melupakan keberadaan Yunho ketika menutup pintu depan dengan penuh semangat, lebih tepatnya membanting pintu malang itu. Pemuda itu bahkan meninggalkanya di ruang tamu seorang diri. Dengan perasaan berdebar Yunho melepas sepatu dan memakai sendal lantai yang sudah tersedia disana.
Di rumah inilah Jaejoong tinggal, disinilah Jaejoong tumbuh besar bersama keluarganya. Rumah itu tidak besar seperti rumahnya, akan tetapi ada sesuatu yang tidak di temukan di Mansion besar keluarganya. Keceriaan dan kehangatan keluarga yang ditunjukan keluarga Jaejoong, seperti saat ini yang terjadi di ruang baca.
Pintu itu terbuka, tempat dimana Jaejoong masuk dan Yunho mendengarkan pembicaraan keluarga yang menghangatkan perasaan. Terutama ketika Kepala keluarga Kim menasehati dan memperhatikan dua keluarga lain yang berdebat.
Ia berdiri tegak, merasa gugup untuk pertama kali dalam hidupnya, kegugupan yang berbeda dengan yang ditimbulkan sejak pertama bertemu Jaejoong. Rasanya tidak seperti ini ketika ia mengikuti rapat di perusahaan sang ayah untuk di perkenalkan sebagai pewaris tunggal kekuarganya. Ini kegugupan lain karena bertemu keluarga kekasihnya, orang tua Jaejoong.
Kepala keluarga Kim menatap kearahnya dan tersenyum. Yunho tahu dari mana Jaejoong mendapatkan senyum hangat dan menenangkan itu, sama seperti Mr. Kim Hankyung. Dan keceriaan yang dimiliki Mrs. Kim Heechul sama seperti Jaejoong. Mereka berdebat seperti layaknya seorang sahabat. Keluarganya tidak seperti itu, bahkan tidak juga Jihye, adiknya.
"Maaf, menggagu Mr. Kim, Mrs. Kim. Jung Yunho imnida." ia memperkenalkan diri.
.
.
.
Nyonya rumah Kim Heechul menatap Yunho dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memicingkan mata seperti agen rahasia yang menyelidiki suatu kasus yang sangat berbahaya.
"Jung Ilwo dan Lee Yoori itu nama orang tuamu, bukan?" ulang sang nyonya rumah beberapa kali.
Jaejoong duduk manis di samping sang Ayah, memperhatikan Heechul yang mengintimidasi Yunho. Pemuda itu berdiri di tengah ruang tamu seperti nara pidana yang akan di gantung detik berikutnya, tegang.
"Mom, kau sudah bertanya yang keseribu kalinya."
"Tidak sebanyak itu anak nakal, diamlah dan tetap duduk disitu." Heechul mengacungkan jari telunjuknya tegas memperingatkan Jaejoong untuk tetap duduk.
Dengan patuh Jaejoong menurut sampai Yunho heran, kagum dengan kepatuhan kelinci nakal kecintaanya yang terkenal pembuat onar di sekolah namun begitu takut kepada sang Ibu. Hal yang jarang di temukan di jaman sekarang. Patuh kepada orang Tua, dan ia sendiri tidak terlalu mempedulikan larangan apapun yang di buat orang tuanya.
" Aow..." Yunho memegangi kepalanya akibat jitakan sayang calon mertua. "Jauhkan matamu dari putraku, nak. Aku tahu Jaejoong sangat manis sampai mampu membuat orang diabetes hanya dengan memandangnya."
Terdengar gerutuan Jaejoong di belakang, berbisik kepada sang Ayah. "Aku bukan gula gula kan Dad, bagaimana bisa membuat orang diabetes." Hankyung hanya tersenyum menenangkan putranya.
Mengabaikan bisikan itu Heechul kembali fokus kepada Yunho. Pemuda itu terlihat menahan senyum. "Kau lulus dalam ujian fisik, tampan tinggi dan gagah." Heechul menyentuh otot di lengan Yunho, hasil olahraga pemuda itu tiap hari. Heechul tertawa nista.
"Yunho tidak sedang mendaftar jadi angkatan darat Mom, kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih, Jongie tidak membutuhkan saran Mommy untuk ..." Jaejoong terdiam. Dengan sekali pandangan yang di berikan Heechul untuknya membuat putranya itu kembali diam, meskipun sambil menggerutu.
" Apa pekerjaan Ayah dan Ibumu, Jung muda?" Berkacak pinggang di hadapan Yunho Heechul kalah tinggi dengan Yunho, pemuda yang cukup tinggi keren dan ehem ..."Aku bukanya bermaksud lain, meskipun kau kaya akan lebih baik. Aku tidak akan membiarkan Putraku hidup susah bersama pria tampan tapi kelaparan jika sudah menikah nanti."
Menikah? "Mom, Jongie masih terlalu muda untuk itu." rengek Jaejoong.
Kali ini Hankyung menimpali. "Mereka masih dalam penjajakan hubungan Chuli, kau tidak harus bertanya ataupun berpikir sampai sejauh itu."
"Oh, diamlah kalian." Kedua pria yang duduk disofa semakin beringsut tengelam disana. Benar benar ibu yang tegas atau lebih tepatnya -galak. Pikir Yunho.
"Nah, kau belum menjawab."
Yunho tersentak sebelum menjawab."Ayahku Presiden Directure perusahaan yang di dirikan oleh kekuarga kami, dan ibuku seorang disainer."
Kembali terdengar Jaejoong berbisik di telinga Ayahnya. "Directure, seperti Dad. Lebih baik lagi ibu Yunho tidak seperti Mommy. Mom bukan seorang disainer, dia hanya membeli baju di butik dan berbelanja menghamburkan uang Daddy setiap harinya." Hankyung menahan tertawa mendengar putranya mengeluh.
"Jangan lupakan Perhiasan ibumu yang mahal itu, sayang." Hankyung ikut berbisik. Yunho mengulum senyum melihat interaksi kedua ayah dan anak itu.
Heechul mendelik kearah mereka. Hankyung duduk tegak dan berbisik. "Diamlah Jongie, atau Mommy akan mengigit kita sebentar lagi."
Dengan polos Jaejoong berkata. "Mommy hanya suka mengigit Daddy tidak suka mengigit Jongie."
Hankyung tiba tiba tersedak dan wajah Heechul memerah. Yunho tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. Oh, Jaejongienya yang menggemaskan, ingin rasanya Yunho mengigit bibir yang mengerucut imut itu.
Heechul berdeham dan kembali menatap Yunho. "Apa nama perusahaan Ayahmu anak muda, bukanya aku tidak akan menerimamu sebagai menantu kalau kau bukan dari anak seorang directure, akan lebih baik kau menjadi penerus perusahaan besar dan menjamin masa depan putra cantikku."
"Jongie tampan, Mom."
Heechul mengabaikan rengekan putranya. Menunggu jawaban Yunho.
"Jung Emperor Crop" Yunho berkata tegas." Itu nama perusahaan kami, apakah aku perlu menghubungi Papa dan Mama karena mereka berada di Canada dan tidak dapat datang kesini jika Bibi ingin mereka datang ."
Heechul mengerjap, menggoyangkan tanganya. "Tidak usah, kami merasa memaksamu untuk melamar Jongie detik ini juga" ia memang tidak tahu nama nama perusahaan seluruh Korea, jadi jangan salahkan dia kalau tidak mengenal perusahaan itu.
Berbeda dengan Hankyung, pria berdarah China yang berusia awal empat puluhan itu sedikit kagum. " Jung Emperor Crop, yang bergerak dalam bidang eksport impor dan memiliki pabrik mobil di amerika, pusat perusahaan di LA, dan memiliki beberapa anak perusahaan di luar negri. Di korea perusahaan itu masih terbilang baru akan tetapi perusahaan itu masuk sepuluh besar perusahaan tersukses di dunia." Hankyung tersenyum lembut, pria itu tidak sedikitpun terlihat kagum atau apapun itu yang biasanya Yunho lihat di wajah para penjilat yang hanya mengagumi akan kekayaan keluarga ketimbang usaha mereka yang mendirikan perusahaan Jung emperor sampai sehebat sekarang.
"Ya, Jung Emperor adalah perusahaan Papa saya." Yunho berkata datar.
Heechul membisikan sesuatu kepada suaminya untuk memastikan, mungkin? Akan tetapi suara wanita itu cukup keras untuk terdengar oleh telinga Yunho yang tajam. "Apakah perusahaan keluarga Jung sekaya itu, Yeobo."
Lagi. Hankyung hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan sang istri.
"Daddy apakah perusahaan Yunho jauh lebih besar dari perusabaan Daddy di Korea dan China." Kali ini Jaejoong bertanya. Keningnya mengkerut ketika ayahnya hanya mengangguk singkat. "Pantas rumah Yunho seperti istana." gumam Jaejoong.
Berbeda dengan kedua pria keluarga Kim yang tetap tenang, sang nyonya rumah tersenyum cerah kepada Yunho, sampai Yunho merasa memerlukan kaca mata untuk menghalau binar di mata ibu dari kekasihnya itu.
"Menantuku yang manis," menyeret Yunho paksa ia mendudukan pemuda itu di sofa bersebelahan dengan Jaejoong. Ia melirik sang suami," Hanny bukankah kau mengatakan kau akan mengecek pabrik sebentar, pergilah sayang. Aku akan mengurus calon menantu kita ini." ujarnya mengusir.
"Aku tidak pernah mengatakan itu Yeobo," Hankyung bisa membaca akal licik sang istri, oh putranya yang malang harus bersiap siap menerima ceramah ibunya. Dalam versi baru untuk menjadi seorang istri.
Menatap sang suami dengan mata mendelik Heechul tersenyum hambar. "Tentu saja kau tidak pernah mengatakan itu, karena aku yang menerima telefon dari pabrik dan lupa mengatakanya kepadamu." ujarnya.
.
.
.
"Apa ibumu selalu seperti itu?" Yunho bertanya. Mereka berada di depan gerbang rumah Jaejoong.
Hari sudah berganti malam, selama tiga jam lebih ia berada di rumah Jaejoong. Salahkan ibunya yang menahan Yunho setiap kali pemuda itu akan berpamitan. "Apa kau tidak ingin menginap?" bahkan ibu tiri cinderela itu menawarkan kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Jaejoong. Ya Tuhan, dengan nada pria terhormat Yunho menjawab.
"Tidak terimakasih, mungkin lain kali." diam diam Yunho melirik Jaejoong yang tertunduk dengan wajah merona, entah karena malu atau apa.
"Biasanya Mommy tidak seperti itu, kecuali dengan orang yang disukainya." bibir Jaejoong mengerucut imut. Lihat saja ia akan memberi perhitungan kepada ibu tiri cinderela itu karena telah mengumbar kebiasaan buruknya kala dirumah. Teganya ia kepada anak kandungnya sendiri mengatakan kebiasaan Jaejoong kepada Yunho ketika bangun tidur sampai malam menjelang tidur.
"Ibumu sangat baik."
"Semua orang akan mengatakan itu jika belum mengenal ibu tiri Cinderella itu dengan baik."
Yunho berhenti di sisi mobil, dan menatap kekasihnya yang terlihat sedih. "Maaf, aku tidak berniat mampir dan menginap untuk makan malam, aku juga tidak berniat membuatmu tidak nyaman atas kehadiranku, jika itu membuatmu tidak senang."
Menarik tubuh Jaejoong kedalam dekapanya, Yunho berbisik. "Kau marah karena aku tidak menolak tawaran ibumu untuk makan malam bersama, hm?"
"Tentu saja tidak," ia marah kepada ibunya. "Aku senang kau bersedia menikmati makan malam dirumahku. Maaf jika masakan ibuku tidak seenak masakan koki dirumahmu."
Jaejoong merasakan tangan Yunho membelai punggungnya dengan sayang. "Aku tidak berkata begitu, aku sangat senang bisa makan malam bersama keluarga calon istriku." Jaejoong merasa wajahnya merona. Calon istri Jung Yunho. Kata itu tersengar sangat indah jika Yunho yang mengucapkanya.
Mendorong dada Yunho untuk lepas dari pelukan pemuda itu Jaejoong mendaratkan jitakan sayang di kening pemuda tersebut." Ini hari pertama kita pacaran, kau sudah berkunjung dan makan malam kerumahku."
Yunho tersenyum lebar. Jaejoongnya yang nakal telah kembali. Dan ia lebih suka Jaejoong yang hiperaktif ketimbang Jaejoong yang duduk manis di ruang makan dan menyembunyikan wajahnya dari Yunho. "Apakah kau takut kepada ibumu, apa Bibi Heechul...?"
"Tidak, meskipun kadang kadang Mommy menyebalkan seperti nenek sihir dia begitu baik dan memanjakanku."
"Kalau begitu kau bersedih karena aku,"
Tuhan, apa itu yang dipikirkan Yunho tentangnya. Ia malu dengan apa yang di ceritakan ibunya ketika Jaejoong masih kecil. Untuk apa nenek sihir itu menceritakan Jaejoong yang masih ngompol ketika Sekolah dasar kepada Yunho.
Senyum Yunho berkembang, ia mengacak surai poni yang menutupi sebagian mata Jaejoong. "Bagaimana kalau minggu ini kita kencan."
Bola mata Jaejoong mengerjap. Apa tadi yang dikatakan Yunho. Kencan?
"Minggu pagi jam delapan, kita akan bersenang senang." Mencuri ciuman dari kening Jaejoong Yunho masuk ke mobil Ia tidak butuh jawaban Jaejoong, kekasihnya itu sudah tentu akan senang bukan, mereka akan berkencan.
"Masuklah kedalam Kitten, aku akan menelfonmu lagi nanti." Jaejoong masih mengerjap bahkan saat mobil Yunho melaju ke ujung jalan dan menghilang di jalan raya.
Kencan...
Ia melompat lompat senang seperti kelinci. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu minggu datang. Kencan pertama mereka.
"Jongie. Kau kah itu."
Kim Junsu berdiri di pintu gerbang sebelah dengan sekantong belajaan di tangan kananya. "Kim Junsu, sedang apa kau disini?" Jaejoong membeo menatap pemuda manis itu.
"Aku tinggal disini, kami pindah kemaren malam, bukankah aku sudah mengatakan itu kepadamu. Dan kau, sedang apa kau disini?"
Tentu saja Jaejoong tidak tahu, kemaren malam ia pulang larut, paginya kerumah Yunho di pagi buta.
"Aku tinggal disini." senyum Junsu mengembang sempurna pemuda itu menghampiri Jaejoong melupakan belanjaanya di depan gerbang rumahnya.
Mencubit pipi Jaejoong dengan gemas."Jongieee aku senang kita tetangga... Kita bisa kemana mana berdua, shoping, ke sekolah ..."
Dan entah apa yang dikatakan pemuda itu selanjutnya karena Jaejoong sudah tidak tertarik. Di kepalanya kembali memikirkan kencan minggu ini dengan Yunho, kekasihnya.
Oh, jika ia beruntung ia akan mendapatkan ciuman pemuda itu lagi di kencan pertama mereka, ciuman yang indah dan takkan pernah ia lupakan.
~TBC~
