Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Untuk kesekian kalinya Jaejoong menatap cermin setinggi tubuhnya untuk memastikan pakaian yang ia kenakan sudah rapi.
Hari ini adalah hari yang ia nanti nantikan sejak beberapa hari lalu ketika Yunho mengajaknya untuk pergi kencan. Jantungnya berdebar bedar tak karuan menunggu Yunho menjemputnya sesuai janji kekasih tampanya itu.
Jaejoong sudah berdandan sejak jam tujuh tadi, ia bahkan sudah siap sejak tiga puluh menit yang lalu. Kembali, Jaejoong mondar mandir di ruang tamu dengan perasaan was was seandainya Yunho berubah pikiran atau melupakan Janji kencan mereka.
Melirik kearah Handphone yang tergeletak di atas meja ia mendesah. Apakah dirinya harus menelfon Yunho?
Tidak. Bagaimana kalau Yunho sedang berada di jalan dan menyetir, itu akan membahayakan keselamatan kekasih tampanya. Tapi tidak ada salahnya kalau hanya untuk sekedar memastikan pemuda itu tidak lupa dengan kencan mereka, bagaimana kalau Jaejoong mengirim pesan atau ...
Suara mobil yang sudah ia kenali hanya dengan beberapa kali naik mobil Yunho berhenti di depan pintu gerbang rumah Jaejoong. Ia berlari kejendela ruang tamu. Benar saja, mobil Merah Yunho terparkir disana. Syukurlah pemuda itu tidak melupakan janjinya atau Jaejoong akan menguliti Yunho kalau sampai hal itu terjadi.
Kim Heechul berlari menuruni anak tangga dengan tergopoh gopoh, sepertinya ibu dari Kim Jaejoong itu juga menantikan calon menantu mereka yang super tampan.
Sial, ibunya itu pasti akan menahan Yunho dirumah, Ia memang sudah meminta ijin untuk keluar bersama Yunho dan dengan senang hati ibunya itu memberi ijin. "Oh cepatlah pergi dengan calon suamimu yang tampan itu, Jongie." cengiran khas Kim Heechul membuat Jaejoong ingin muntah.
Jaejoong memutar otak untuk mencegah mereka bertemu. Ia meraih handphonenya dan berlari mendahului sang ibu untuk keluar dari pintu.
Pintu depan terbuka dan ia berhenti mendadak, Jaejoong membeku. Yunho berdiri disana. Tuhan, Yunho benar benar tampan dengan kaos T-shert berwarna putih yang sama dengan yang ia kenakan. Mereka sudah merencanakan akan memakai warna kaos yang sama hari ini. Celana Jins selutut berwarna pudar memperlihatkan bulu bulu kaki indah pemuda itu.
Jaejoong mengerucut bibirnya imut. Lihatlah kakinya tidak ada satupun bulu yang tumbuh disana.
"Selamat pagi Bibi." Membungkuk memberi salam Yunho melepas kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancung pemuda itu.
"Masih juga memanggil, Bibi. Aku akan lebih senang kalau kau memanggilku Mommy seperti Jongie." Tanpa memberi kesempatan Yunho memprotes Heechul mendorong Jaejoong kearah Yunho.
Wanita paruh baya yang masih memakai pakaian santai itu menyerahkan keranjang piknik yang entah apa isinya Jaejoong tidak ingin tahu. "Bawalah bekal ini untuk makan siang kalian, Aku sengaja membuatkan bekal ini untuk kalian berdua."
Jaejoong mencibir. "Bibi Song Yang membuatnya." Ujarnya.
Dengan senang hati Heechul mendelik kearah Putranya yang cantik. Kemudian Heechul melempar senyum termanis yang pernah Jaejoong lihat yang pernah ibunya itu tunjukan untuk orang lain selain Ayahnya.
"Pergilah kalian, bersenang senanglah." mendorong dua pemuda itu keluar Heechul berbisik ketelinga Yunho." Jangan terlalu cepat pulang, lebih malam lebih baik atau kalau perlu bawa Jaejoong kerumahmu."
"Mommy." Jaejoong menggeram. Demi Tuhan, mana ada orang tua seperti ibunya ini.
Oh, ia butuh bernafas atau nafas buatan juga boleh. Ibunya itu memang sangat dan sangatlah menyebalkan.
"Terimakasih Bibi," kemudian Yunho meralat. "Amonim,,,karena memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengajak Jaejoong keluar berakhir pekan."
Dengan tidak sabar Heechul melampaikan tangan memberi isyarat untuk mereka agar segera pergi."Tidak usah sungkan sungkan bawa Jongieku yang manis jalan jalan sekarang juga." Tanpa menunggu Heechul menutup pintu tepat di depan wajah mereka berdua.
Jaejoong melongo hebat. Demi Jiji ia akan mencakar ibunya itu ketika ia kembali dari acara kencan mereka.
Yunho melepaskan Jaejoong dari dekapanya. Dengan sangat tepat Jaejoong masuk kedalam dekapan kedua lengan Yunho ketika Heechul mendorong Jaejoong dengan sengaja kearahnya. Ia tersenyum mengambil keranjang piknik dari tangan Jaejoong dan menggiring kekasihnya itu ke mobil.
Yunho memasukkan keranjang itu ke kursi belakang kemudian membuka pintu samping untuk Jaejoong. Dan ia menempatkan diri di balik kemudi . Jaejoong merasa ia seperti seorang Putri, ralat. Prince.
Mobil Yunho melaju dengan perlahan. Tanpa mereka sadari mobil lain berwarna putih mengikuti mereka di belakang.
"Kau benar mereka akan pergi kencan." Yoochun mengemudikan mobilnya sedikit lambat namun tidak terlalu jauh dari mobil pasangan YunJae supaya mereka tidak kehilangan jejak.
"Tentu saja," Changmin berkata dengan bangga. "Kebanyakan pasangan yang memiliki kekasih akan kencan di hari minggu." Bohong. Padahal ia mendengar pembicaraan Yunjae di hari sabtu ketika mereka berada di kantin.
"Caramu mengemudi seperti siput jidat, cepatlah sedikit atau kita akan kehilangan mereka." Changmin menggerutu.
"Dasar bodoh, Jongie tau kalau mobilku berwarna putih kau ingin dia melihat kita dan rencana kita berantakan."
"Lalu kenapa kau memakai mobil ini. Dan tidak memakai mobil adikmu Yonghwa atau mobil ibumu."
"Dan kenapa dengan mobilmu Chwang,"
"Jongie terlalu hapal dengan mobil biru punyaku,"
Yoochun bersumpah akan mencekik Changmin yang cerewet ketika mobilnya berhenti namun tidak sekarang ketika Mobil Yunho melaju lebih cepat kejalan tol menuju luar kota. Sial, Jaejoong mau dibawa kemana?
" Apakah Yunho akan menculik Jaejongie." Yoochun dan Changmin melirik Junsu melalui ekor mata mereka, namja cantik yang mirip dengan Jaejoong itu duduk di jok belakang.
Awalnya Yoochun dan Changmin tidak berniat mengajak namja cengeng itu, siapa sangka kalau pemuda itu adalah penghuni rumah sebelah Jaejoong yang baru. Kalau saja Yoochun tahu ia tidak akan memarkir mobilnya di depan pintu gerbang rumah Junsu. Demi apa, belum cukupkah ia melihat Junsu mengekori mereka tidap hari disekolah bahkan dihari liburnya juga harus di ganggu oleh mahluk kembaran Jaejoong yang polos bin ajaib.
"Diculik?" ChunMin berkata serempak.
Junsu mengangguk antusias. "Ya, kalian tidak lihat Yunho mendorong Jongie yang malang ke dalam mobil."
"Apa semua namja imut bermarga Kim sepolos Jaejoong." Changmin bertanya kepada Yoochun mengabaikan Junsu yang berkata ngawur. Pemuda itu hanya mengedikkan bahu.
"Dengar Junsu, Jaejoong tidak di culik kau tahu itu. Mereka pacaran..."
"Tapi Yunho benar benar menakutkan, kau tidak lihat beruang itu begitu besar dan Jaejoong begitu kecil dan lembut, dan lemah seperti Jiji." Pemuda itu mengeluh sepenuh hati. "Oh Min, bagaimana kalau Yunho menerkam Jaejoong dan kita tidak bisa menolongnya."
Mobil sedikit oleng ketika Yoochun kehilangan konsentrasinya. Sial bagaimana jika Yunho benar benar membawa Jaejoong ketempat yang sepi kemudian menerkam pemuda manis itu. Tanpa sadar kaki Yoochun menginjak lebih dalam dan menambah kecepatan.
"Aku akan mencekik Yunho detik itu juga." Changmin berjanji.
Jaejoong mengigit sendok yang ia gunakan untuk menyendok eskrim dengan gemas. Kesabaranya benar benar di uji oleh tiga mahluk di hadapanya saat ini.
Bagaimana tidak. Lihatlah kedua soulmatenya itu makan dengan lahap seperti manusia purba yang baru pertama kali menikmati makanan di restoran bintang lima. Ralat, tiga jika Junsu teman barunya ikut dalam hitungan.
Tuhan, dosa apa yang telah ia lakukan sampai memiliki tiga sahabat yang menyebalkan seperti mereka. Bukankah Jaejoong anak yang baik dan patuh kepada kedua orang tuanya.
"Kalian benar benar menyebalkan." Menyendok eskrim dengan marah, Jaejoong menyuapkan sesendok besar ke mulutnya yang mungil. Kedua pipinya menggembung imut dengan mata Doo pemuda cantik itu mendelik galak kearah tiga sahabatnya yang sibuk menikmati makan malam mereka tanpa sedikitpun meliriknya.
"Pelan pelan atau kau akan tersedak, tidak bisakah kau makan dengan tenang, Kitten." Mengusap sudut mulut Jaejoong dengan ibu jari, Yunho melempar senyum menenangkan kepada kekasih tercintanya.
Oh, Jaejoong ingin mencekik Yoochun dan Changmin saat ini juga. Seandainya saja Yunho tidak berada di sisinya saat ini.
Susah payah Jaejoong jadi anak baik di hadapan Yunho sejak pagi tadi, ia tidak akan tergoda untuk mengacaukan kencan mereka berdua hanya karena ia marah dengan kehadiran ketiga temanya yang bergabung tanpa di undang sejak siang tadi. Sialnya, bahkan Changmin Yoochun ditambah Junsu menghabiskan bekal yang ibunya berikan untuknya dan Yunho.
Lagi, Jaejoong menyuapkan sesendok penuh eskrim Vanilla kesukaannya. Ia melirik Yunho, "Eskrim disini benar benar enak lain kali maukah kau membawaku kesini." Mata Jaejoong berbinar penuh harap.
"Apapun untukmu Kitten."
"Kami juga suka dengan steak sapinya," Sahut Yoochun tanpa dosa.
"Juga makanan lainya."Kali ini Changmin menambahkan.
Junsu mengangguk antusias karena mulut namja imut itu penuh dengan eskrim sama seperti Jaejoong. "Bersihkan mulutmu dengan tissue Junsu, kau seperti anak kecil."
Junsu mengabaikan Yoochun dan menyendok eskrim lebih banyak. Entah sadar atau tidak Yoochun mengulurkan tangan untuk membersihkan sisi mulut namja itu tanpa banyak pikir, membuat sang empu merona hebat.
Jaejoong melongo hebat. Ya Tuhan, mereka menawarkan diri untuk ikut dengan tanpa dosa, seakan ini acara keluarga yang di buka untuk umum. Hey, ini acara kencan mereka Yunho Dan Jaejoong.
"Lain kali kita kesini lagi," Bisik Yunho. Pemuda itu duduk di sebelah kanan Jaejoong dengan sedikit mencondongkan tubuh agar hanya Jaejoong yang dapat mendengar bisikanya. "Hanya berdua." Tambahnya.
Jantung Jaejoong berdetak bahagia. Yunho begitu sangat perhatian hari ini, sepanjang hari Yunho menggandeng tangan Jaejoong tanpa mempedulikan larangan dan gertakan Yoochun dan Changmin juga sindiran Junsu.
Yunho begitu gentle ketika membantu Jaejoong naik dan turun dari mobil, juga ketika Jaejoong akan duduk Yunho menarik kursi untuknya. Tuhan, ia sangat bahagia terlepas dari gangguan ketiga sahabatnya yang menyebalkan.
Dengan malu malu Jaejoong mengangguk, Yunho menarik mangkuk Eskrim Jaejoong dan menyuapinya sesendok penuh. "Mulutku tidak selebar itu Bear. Itu terlalu banyak." Sengaja Jaejoong berkata sedikit manja ketika memanggil nama kekasih tampanya itu.
Yunho membuka mulutnya sendiri untuk menikmati separuh dari sendok penuh eskrim. "Nah sekarang sudah tidak terlalu banyak, bukan?" Sendok itu menempel di ujung bibir Jaejoong.
Bulu mata Jaejoong yang lentik mengerjap seperti bulu peri yang begitu menggoda. Yunho mengamati bibir Jaejoong ketik bibir merah muda itu terbuka kemudian mengulum sendok beserta eskrim itu sedikit lebih lama. Sial, apa Jaejoong sedang menggodanya.
Junsu mengerjap wajahnya tiba tiba merona lebih hebat. Pasangan YunJae yang sedang kasmaran itu benar benar melupakan tiga pasang mata yang menatap mereka dengan sorot yang berbeda beda. "Kita seperti manusia transparan yang tidak berguna." gumam Yoochun.
Changmin menghela nafas dalam, ia merasa dirinya sungguh tidak berperasaan dengan mengganggu acara kencan pertama YunJae. Sebenarnya ia hanya iseng berniat memastikan Yunho tidak mempermainkan Jaejoong dengan alasan yang Jaejoong takuti, yaitu merebut gelar Kingka Vanilla dan menjadikan Yunho sebagai Kingka Strawberry.
Sungguh. Ia tak habis pikir, siapa yang memberi nama julukan konyol itu untuk mereka.
"Sepertinya sudah sangat malam." Yoochun menghancurkan momen indah itu.
Acara pandang memandang Yunho dan Jaejoong terganggu dengan perkataan Yochun. "Kami harus pulang, aku harus mengantar kedua pengganggu ini kerumah masing masing." Changmin bangkit terlebih dahulu sebelum Yoochun.
Ah, sepertinya pikiran mereka searah untuk yang satu ini. Membiarkan YunJae berduaan untuk sesaat. Bagaimanapun juga sekarang sudah jam delapan malam. Sudah saatnya Yunho mengantar Jaejoong pulang dan mereka memiliki waktu berdua walaupun hanya sebentar.
"Tidak bisakah kita kembali bersama."
"Tidak!" ChunMin menjawab serentak. Mereka menarik Junsu dari kedua sisi dengan paksa. "Trimakasih Yunho, sudah menraktir kami."
Mereka melesat meninggalkan meja dengan menyeret paksa Junsu karena pemuda itu ingin pulang bersama pasangan YunJae.
Yunho dapat mendengar berdebatan mereka ketika berjalan menjauh. "Rumah kami searah." Junsu memprotes.
"Oh, diamlah kau bebek."
"Aku bukan bebek."
Helaan nafas Jaejoong begitu keras sampai Yunho tersenyum kearah pemuda itu. Ia juga merasakan perasaan lega, akhirnya mereka memiliki waktu hanya berdua. "Aku akan ke toilet sebentar, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."
Yunho bangkit dari kursi. Ia baru akan berbalik ketika seseorang menabraknya dari arah lain. "Maaf." Yunho mengulurkan tangan menarik lengan seorang gadis yang menabraknya tadi.
Gadis itu mendongak menatap Yunho dengan keterkejutan yang sama. Untuk sesaat tubuh gadis itu tak bergerak sampai Yunho melepaskan cengkraman pada lengan gadis itu.
"Maafkan aku, aku yang tidak memperhatikan jalan." Mata gadis itu berbinar menatap Yunho. Tentu saja, tidak ada satupun wanita waras yang akan mengabaikan Yunho. Tinggi tegap tampan dan mempesona.
"Tidak apa apa, permisi." Ia mengangguk dan berlalu, meninggalkan wanita muda itu dalam keterpesonaan yang tidak gadis itu tutup tutupi. "Tuhan, dia begitu tampan."
"Tentu saja, Yunho sangat tampan." Mata gadis itu melirik Jaejoong yang bersedekap di tempat duduknya. Memasang wajah garang yang lebih cocok menggemaskan di mata gadis itu.
"Kau siapa?"
"Kim Jaejoong, namja paling tampan seantero Seoul." ujarnya bangga.
Gadis itu terkekeh sok imut. Jaejoong merasa dirinya lebih imut ketimbang tawa gadis berpakaian ketat dan rok mini itu.
"Apa kau adik dari pemuda tadi, Yunho. Kau bilang nama pemuda itu Yunho, bukan?"
"Ya, dan dia adalah..."
"Ga eun." Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sama sexynya yang duduk di meja sebrang memotong kata kata Jaejoong. "cepatlah selesaikan urusanmu, Harabeoji sudah menunggu kita dan mengomel karena kita tidak langsung pulang kerumah."
"Baiklah, Mama." Gadis bernama Ga Eun itu kembali melirik Jaejoong." Kau pasti adik dari Yunho, tidak heran kau cukup manis karena kakakmu juga tampan." Gadis itu menyibakan rambut panjangnya dan berlalu.
Meninggalkan Jaejoong bersama umpatan kasar yang tidak jelas. Gadis menyebalkan, berani beraninya dia menggoda Yunho di depan hidungnya.
"Kau kenapa kitten, menggerutu tidak jelas?"
Jaejoong bangkit dan berkacak pinggang di hadapan Yunho. Kemudian mengayunkan kakinya menendang tulang kering kekasihnya. "Kau menyebalkan." Ia pergi tanpa mengatakan apa apa lagi.
Tendangan itu benar benar sakit, sampai Yunho harus melompat dan mengusap bekas tendangan itu untuk menghilangkan rasa nyeri di tulang kakinya. Oh, apa lagi yang membuat kekasih cantiknya itu marah.
.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang Jaejoong membisu, mengabaikan bujuk rayu Yunho dan segala cara yang di lakukan pemuda itu untuk membuatnya bicara.
Jaejoong lebih tertarik dengan cahaya lampu jalan yang berwarna warni menerpa wajahnya. Malam belum begitu larut sehingga jalan raya begitu ramai dengan mobil dan pejalan kaki di kedua sisi jalan.
Di dalam hati Jaejoong memaki diri sendiri. Yunho benar, pemuda itu tidak tahu apa apa dan kenapa dirinya begitu marah ketika mendengar gadis itu terang terangan memuji ketampanan Yunho. Sialan, Yunho memang tampan tidak perlu diingatkan Jaejoong sadar akan hal itu.
"Jongie, kau mengabaikanku, Kitten."
Mobil telah berhenti di depan gerbang rumah Jaejoong. Apakah ia melamun selama itu, sampai tidak menyadari mereka sudah sampai.
Tangan Yunho menghalangi tangan Jaejoong ketika pemuda itu akan membuka sabuk pengaman." Aku tidak akan membiarkanmu keluar jika kau tidak mengatakan kenapa kau marah." Cengraman tangan Yunho begitu kuat namun tidak menyakitkan.
Jaejoong menghempaskan tangan pemuda itu." Dasar otak udang,"
"Ya, aku otak udang. Jadi, Kitten, kenapa kau marah padaku, apa yang sudah aku lakukan sampai kau mendiamkanku sepanjang perjalanan pulang?"
Hening. Hanya terdengar suara nafas Jaejoong yang menderu karena menahan amarah yang meluap. "Kau menggoda gadis itu." kaki Jaejoong menghentak di bawah beberapa kali.
Yunho menahan senyuman keluar dari bibirnya. "Gadis...?" Gadis yang mana? Ah, gadis yang menabraknya tadi.
Kekehan Yunho membuat Jaejoong memukul kepala Yunho gemas. "Kau tertawa, baiklah tertawa sepuasmu. " Melepaskan sabuk pengamanya Jaejoong bersiap membuka pintu. Yunho berniat menahan pemuda itu dengan menarik lengan atas Jaejoong, membuat jaejoong terhempas kekursi dan wajah kekasihnya itu terayun kearahnya.
Bibir dan hidung mereka bergesekan dan berdiam diri disana. Tidak ada yang berniat menjauh atau mendekat, keduanya membeku mencoba menyerap moment indah yang tanpa sengaja mereka dapatkan.
Nafas Yunho terasa hangat menerpa bibir Jaejoong begitu juga sebaliknya. Cengkraman Yunho di lengan Jaejoong yang terbuka terasa begitu panas membakar kulit sampai Jaejoong takut akan membekas.
Suara klakson mobil lain membuat keduanya menarik diri. Keduanya mendesah entah bersyukur atau menyesal karena gangguan itu.
Dengan tergesa gesa Jaejoong keluar dari mobil. Yunho pun melakukan hal yang sama. Kedua orang tua Jaejoong sepertinya baru kembali dari bepergian.
"Selamat malam Paman, Bibi." Yunho memberi salam.
"Amonim, sayang, kau melupakan panggilan sayang itu." Heechul tersenyum lebar.
"Daddy dari mana?" Jaejoong berdiri cukup jauh dari Yunho membuat sang ibu menggeryit heran.
"Tentu saja kencan." Heechul mendahului sang suami menjawab." Memang hanya anak muda saja yang boleh berkencan."
"Jadi Mom mengakui kalau Mom sudah tua." Dengan senang hati Heechul memberi jitakan sayang di kepala putra tercintanya itu.
"Abaikan mereka Yunho." Hankyung berkata. "Kau akan terbiasa jika setiap hari melihat kasih sayang mereka yang seperti ini."
"Mom tidak menyayangiku, kalau Mom menyayangiku Mom tidak akan memukulku."
"Dasar kau anak durhaka..."
"Sebaiknya kita masuk terlebih dahulu, kalian bisa meneruskan pertengkaran kalian di dalam." Hankyung memotong ucapan istrinya.
Jaejoog menyahut cepat."Yunho sudah akan pulang, tidak usah dipersilahkan masuk."
"Dia tamu dirumah kita." Heechul menyahut. "Aku bahkan akan menawarkan dia untuk menginap" Dengan bangga Heechul mengikat tanganya di dada, angkuh.
"Tidak."
"Kurasa itu bukan ide yang bagus, Chulie." Hankyung berkata dengan nada tegas , mengingatkan bahwa ia kepala keluarga.
"Oh, diamlah suamiku, lebih baik kita masuk dan biarkan dua remaja itu menyelesaikan masalah mereka." Ia mendorong suaminya masuk sedikit memaksa. Dan melemparkan kedipan mata penuh rahasia kearah Yunho seakan berkata
'Selesaikan ciuman kalian'
Astaga Heechul memang sangat pengertian, Yunho merasa ia dan calon mertuanya itu memiliki ikatan mertua dan menantu yang berbeda. Ingatkan dia untuk berlaku baik kepada calon mertuanya itu.
"Aku akan masuk." Jaejoong berkata dengan nada ketus. Akan tetapi ia tidak beranjak sejengkalpun.
Meskipun Yunho ingin sekali tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang cemberut dengan bibir bawah mencebil keluar, ia tidak akan melakukanya jika itu hanya akan membuat Jaejong marah. "Tidak seharusnya kau marah hanya karena gadis itu menyukaiku, bukan salahku kalau gadis itu menyukaiku aku tidak memaksanya untuk menyukaiku, bukan? Dan aku juga tidak menggoda mereka." Yunho berjalan mendekat kearah Jaejoong.
Pemuda itu berdiri angkuh di sisi gerbang di bawah lampu yang membuat Jaejoong terlihat seperti peri di musim gugur. Rambut Almond Jaejoong berkilauan terkena cahaya lampu, Yunho benar benar membanggakan diri atas apa yang dimilikinya ini.
Tetapi untuk saat ini ia harus menenangkan kekasihnya yang dilanda cemburu. Cemburu? Apakah Jaejoongnya cemburu?
"Kau cemburu?" ia bertanya.
Seketika tubuh Jaejoong menegang. "Tentu saja tidak, bodoh." Rona di kedua pipi Jaejoong mengatakan kalau pemuda itu berbohong. "Jangan besar kepala, mana mungkin aku cemburu kepada gadis kurus yang tidak cantik itu." seharusnya kata kata itu terdengar meyakinkan kalau saja suaranya tidak tercekat di tenggorokan.
Kaki Yunho berayun mendekat dalam dua langkah panjang kearah Jaejoong. Kedua tangan hangat pemuda itu menangkup wajahnya dengan sedikit tarikan agar Jaejoong menatap kedalam mata dan jiwa Yunho. "Dengar baik baik Kim Jaejoong. Jung Yunho hanya mencintai Jaejoong seorang. Saat ini besok dan selamanya, aku hanya mencintaimu tidak dengan wanita cantik manapun yang mungkin lebih cantik dari Miss World sekalipun."
Jaejoong mengerjap beberapa kaki dengan keterkejutan yang nyata. Bibir Yunho menempel lembut diatas bibirnya. Tuhan, inilah yang ia inginkan sepanjang hari, ciuman pertama di kencan pertama.
Bibir kasar Yunho bergerak di atas bibir Jaejoong yang lembut. Mereka sudah menantikan ini sepanjang hari, dan terkutuklah ketiga pemuda yang mengganggu kencan mereka.
Namun saat ini yang Jaejoong inginkan hanyalah mempercayai Yunho, pemuda itu mencintainya. Jaejoomg percaya ketika pemuda itu berkata dengan sorot musang Yunho yang meyakinkan seakan mampu melelehkan kerasnya batu sekalipun. Ia hanya manusia berhati lembut dan tentu saja ia mempercayainya.
Jaejoong mengalungkan kedua lenganya di leher Yunho, menariknya lebih dekat untuk mendapatkan akses lebih dan lebih. Bibir Yunho membujuk dan memaksa begitu rakus sampai Jaejoong merasa ia akan pingsan.
Ketika bibir Yunho melepaskan pagutan bibirnya Jaejoong merasa kehilangan. Ia ingin lagi dan lagi ..."Yun," Ia merengek.
"Sial, tidak Jongie. Kita tidak bisa melanjutkan ini," Yunho menyandarkan keningnya di atas kening Jaejoong. "Jangan pernah ragu akan cintaku Kitten. Aku benar benar menyayangimu lebih dari apapun."
Jaejoong tak mampu menghentikan senyumanya. "Aku juga mencintaimu Yunho, sangat." Ia memberanikan diri memeluk Yunho. Menarik pemuda itu begitu erat sampai tubuh keduanya seakan melebur menjadi satu.
Bunyi interkome di dinding memaksa keduanya melepas pelukan mereka meski dengan tidak rela.
"Aku harap kalian sudah menyelesikan diskusi kalian dengan baik, sudah malam Yunho biarkan putraku masuk dan kau calon menantuku,,," Terdengar suara tawa Heechul dan suara Tuan rumah Hankyung yang mengingatkan." Pulanglah, hati hati di jalan."
"Masuklah." Yunho mendorong Jaejoong ke pintu. "Aku akan menguhubungimu lagi."
Bibir Jaejoong menyebil mengutuk ibu tercintanya yang suka mengganggu kesenangan orang. "Selamat malam Yunho."Ia membuka pintu kemudian berbalik untuk mencuri satu ciuman di bibir hati kekasihnya. Kemudian berlari masuk tanpa menoleh kebelakang.
Jemari lentik Yunho menyentuh bibirnya, ciuman Jaejoong memang hanya sedetik, namun telah berhasil membuat jantung Yunho berdegub tak karuan. Astaga Jaejoong benar benar menggemaskan ketika bersikap malu malu seperti tadi.
"Kyeobta." Malam ini benar benar indah, dan juga ciuman bersama kekasih hatinya.
~TBC~
