Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : T~M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...
Yoochun mengeluarkan sumpah sarapah pada siapapun yang tidak menanam rumput di gang kecil sisi gedung Shinki. Bibirnya tidak berhenti mengomel ketika pantatnya mengenai tanah yang keras. Oh, apakah ia tertular penyakit Jaejoong yang suka mengomel tidak jelas.
Demi Tuhan, kenapa ia mengikuti saran Jaejoong untuk membolos dan merutuk Changmin yang mendukung tindakan pemuda itu dengan memberi saran kabur dari hukuman mereka, kelas dan Jung Yunho. Kim Heechul dan keluarganya pasti akan mencekik mereka kalau mereka tahu.
Braaak.
Dua tas pungung yang sama dengan miliknya mendarat tepat di hadapan Yoochun ketika pemuda itu mencoba bangkit. Untunglah ia tidak mendaratkan pantatnya di tempat tas itu jatuh, atau kepalanya akan benjol tertimpa kedua tas sahabatnya yang super berat.
"Apa diluar aman." suara dari bali tembok membuat pemuda itu mendongak.
"Lompatlah, Jaejoongie." Yoochun memungut kedua tas itu, kemudian mendongak mendapati Jaejoong sudah duduk di atas tembok, pemuda itu menatap ngeri kebawah.
"Aku akan membantumu." Yoochun berdiri menempel ke dinding agar Jaejoong bisa turun dengan menjadikan pundaknya sebagai pijakan. Akan tetapi Jaejoong sudah melompat turun dari atas sebelum Yoochun membantunya. Diikuti Changmin yang melompat beberapa detik berikutnya. "Cepat kabur sebelum ada seseorang yang lewat."
Ketiga pemuda itu mengendap endap kesalah satu kebun milik pasangan kakek dan nenek yang ternyata sudah menunggu mereka di belakang rumah. "Membolos lagi anak nakal," Wanita tua itu duduk di atas kursi goyang seperti hari hari biasa ketika mereka membolos sebelumnya.
Cengiran polos ketiganya membuat Kakek tua itu tersenyum hangat. "Apalagi yang membuat kalian kabur di jam pelajaran sekolah?"
"Ada nenek sihir baru di sekolahan, Kakek." Jaejoong menghampiri pasangan tua itu. Duduk di lantai kayu bersama kucing berbulu lebat yang sedang bergulung di kaki sang Nenek. "Hi sobat, kita bertemu lagi."
"Dan kemana perginya nenek sihir lama itu?" Jaejoong Yoochun dan Changmin melongo hebat menatap Kakek itu. Kemudian tawa sang Kakek menggema.
"Lihatlah, bahkan suamiku ini tertular penyakit nakal kalian anak anak." Nenek itu berkata. "Pergilah sebelum satpam itu menemukan dan menyeret kalian kembali kesekolah."
Ketiga pasang mata itu menatap ngeri satu sama lain. Mereka melupakan kamera CCTV dan tentunya satpam itu sekarang sudah berjalan ketempat mereka saat ini juga.
Jaejoong melompat menyusul Yoochun Changmin yang sudah berlari meninggalkan mereka. "Sampai Jumpa." Jaejoong berteriak.
"Aku berharap tidak akan melihatmu lagi melompat dari atas sana anak anak, pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian." Jaejoong dapat mendengar suara tawa pasangan tua itu ketika mereka sudah berlari cukup jauh.
Chun Min telah sampai di sisi jalan yang lebih lebar ketika Jaejoong bergabung dengan mereka. "Ingatkan aku untuk berkunjungi mereka saat kita liburan, Kakek itu sepertinya kesepian." Mencoba mengatur nafasnya yang naik turun Jaejoong duduk di pondasi pinggir jalan.
"Jadi, kemana kita akan pergi,"
Jaejoong terdiam. Tidak seharusnya ia bolos, ibunya pasti akan mengomel panjang lebar sampai telinganya panas. Ia tidak menghawatirkan sang Ayah, karena Ayahnya itu selalu pengertian dan dengan senang hati membantunya menenangkan sang ibu.
Menatap kedua sahabatnya Jaejoong berkata. "Tidak seharusnya kalian ikut denganku."
Untuk pertama kali dalam persahabatan mereka yang panjang mereka kehabisan kata kata untuk di debatkan. Jaejoong membenci tatapan mengasihani dari kedua sahabatnya itu. Dia baik baik saja, tidak butuh belas kasihan siapapun.
"Aku baik baik saja, sungguh! Kalian bisa kembali kesekolahan tanpaku," Sorot mata Jaejoong tidak mengatakan hal yang sama dan Yoochun maupun Changmin bersumpah Ini pertama kalinya Jaejoong terlihat sesedih itu.
" Apapun yang akan kau lakukan, kami akan terus bersamamu." ujar Changmin.
Yunho akan membayar apa yang sudah dilakukanya kepada Jaejoong, "Apa kau tahu Kalau Ga Eun mengenal Yunho sebelumnya?"
"Siapa?" Jaejoong bertanya. "Ga Eun...?"
"Anak baru itu, kau lupa namanya Kim Ga Eun." Yoochun mendelik. "Marga gadis itu juga Kim tapi dia tidak menggemaskan seperti dirimu dan Junsu."
"Sejak kapan kau setuju kalau Junsu menggemaskan."
Mengabaikan pertanyaan Changmin Yoochun kembali kepada Jaejoong." Pantas saja kau tidak tahu namanya, kau belum masuk ketika Mr. Lee memperkenalkan Ga Eun."
"Lalu."
"Dia terlihat akrab dengan Yunho. Aduh,,, apa yang kau lakukan Park." Mata dambi Changmin mendelik kearah sabatnya. "Diamlah, Chwang, kau hanya membuat Jaejoong sedih."
"Tidak apa apa. Kau benar, mereka terlihat,,,, terlihat begitu,,, akrab." Jaejoong mengatakan itu dengan bibir bergetar.
"Oh, Tidak." Kadua sahabat Jaejoong menghampiri Jaejoong." Aku punya ide bagaimana kalau kita mengunjungi Mingyu dan Younghwa mereka pasti tau tempat tempat seru untuk membolos." Sinar di wajah Jaejoong kembali, pemuda itu menyetujui ide itu. Tidak salah ia memiliki sahabat dari sekolah lain yang sama nakalnya dengan mereka.
Sudah sangat lama mereka tidak mengunjungi sekolah lain yang sudah Jaejoong kalahkan dalam suatu pertandingan. Pertandingan yang menurut mereka Konyol. Makan eskrim terbanyak dan tentu saja Jaejoonglah pemenangnya. "Aku akan menantangnya untuk makan eskrim."
"Ide yang bagus, Jongie"
"Kau pasti menang." Mereka memberi semangat.
Dan begitulah, mereka menghibur Jaejoong sampai pemuda itu melupakan kejadian yang sangat buruk yang baru saja terjadi.
.
.
.
Sepanjang sisa istirahat siang itu Yunho habiskan waktunya untuk merenungi kesalahan kesalahan yang sudah ia ucapkan tanpa kendali diri. Sungguh, ia tidak bermaksud menyakiti hati Jaejoong dengan kata kata yang ia sendiri tidak tahu kenapa keluar begitu saja dari mulutnya.
Wajah terluka Jaejoong kembali menghantui benaknya. Hatinya seakan diremas setiap kali melihat wajah sedih kekasih hatinya itu kembali muncul. Sialnya, Yunho sudah akan meminta maaf dan mencari Jaejoong sepuluh menit setelah pertengkaran mereka. Sepuluh menit yang ia habiskan untuk mengutuk diri dengan tudingan yang ia lontarkan tanpa memikirkan perasaan Jaejoong.
Ketika ia mencari Jaejoong di kelas, Jaejoong sudah tidak ada disana beserta kedua sahabat juga tas mereka. Apa mereka membolos.
Hati yang sudah tergores tidak akan pernah kembali sama, seperti sebuah noda menempel di pakaian putih yang akan tetap membekas meskipun kau menggunakan pemutih sekalipun.
Jaejoong marah kepadanya. Ia tidak menyalahkan kekasihnya itu. Kekasih...? Ia tidak pantas mendapatkan tempat paling istimewa di hati Jaejoong jika yang ia inginkan hanyalah menuntut dan berusaha merubah Jaejoong menjadi seperti apa yang ia inginkan.
Kata kata Jaejoong kembali terniang di benaknya.
" Ya, kau benar,,, aku... aku tidak berguna, anak nakal yang sudah membuat semua guru dan kepala sekolah kalang kabut, kalau begitu abaikan aku,,, abaikan Kim jaejoong pembuat onar yang selalu membuatmu sakit kepala dan carilah orang yang baik, manis dan penurut seperti yang kau inginkan."
Tuhan, apa yang telah ia lakukan. Pantas saja Jaejoong marah dan menjauhinya, tidak menerima telfon darinya juga tidak membalas pesan yang sudah ia kirim puluhan kali.
Jemari Yunho menyisir rambutnya dengan perasaan kalang kabut. Menatap keluar jendela kamarnya Yunho merasa ia benar benar hampa tanpa Jaejoong.
"Oppa, makan malam sudah siap." Kepala Jihye mengintip kedalam kamar Yunho yang gelap gulita. "Apa kau di dalam?" Terdengar suara klik dan ruangan menjadi terang.
Duduk di sofa menghadap keluar jendela adalah Kakaknya yang sedang murung. Jihye tidak berani bertanya ketika kakaknya itu pulang terlambat dan dalam keadaan yang mengenaskan.
Bagaimana tidak, kemeja tidak terkancing juga rambut acak acakan sama sekali bukan tipikal sang kakak yang selalu terlihat rapi dan mementingkan penampilan.
Melangkah masuk ke kamar Yunho, Jihye duduk di meja dan menghadap Yunho yang tatapan menerawang keluar jendela." Ada apa? Bertengkar dengan Jaejoongie." mendengar nama Jaejoong Yunho menatap Jihye penuh minat.
"Jaejoong disini, dimana ...?"
Bangkit dari kursinya Yunho bersiap berhambur keluar. "Ada apa denganmu Oppa" seru Jihye.
Langkah kaki Yunho terhenti, bahunya yang tegak berubah lesu. Apa yang terjadi denganya? Jihye tidak akan pernah paham?
Pemuda itu berjalan keranjang menghempaskan tubuhnya disana dan kembali diam menatap langit langit kamar yang berwarna putih
"Kalau kau merindukanya datangi dia dirumahnya, bukankah kau mengatakan Mrs. Kim menyukaimu."
"Jaejoong tidak ada dirumah, aku sudah menunggu dua jam di depan rumahnya, Bibi Heechul bilang Jaejoong belum pulang sejak pagi dan mengatakan akan menginap dirumah Changmin."
"Kalau begitu datangi rumah Changmin,"
Yunho terdiam, ia sempat berpikir untuk memberi Jaejoong waktu berpikir sampai besok pagi. Namun ide Jihye tampak menggoda untuk di abaikan, dan ia benar benar merindukan kekasih cantiknya itu. Ia rindu senyum Jaejoong, rindu rengekan pemuda cantiknya, juga rindu ...tingkah nakal Jaejoong.
Ya Tuhan, Yoochun benar! Ia mencintai Jaejoong Karena Jaejoong yang nakal, Jaejoong yang suka membuat masalah dan Jaejoong yang polos, menggemaskan dan yang selalu membuatnya tertawa ketika bersamanya. Ia merutuk diri sendiri karena berusaha membuat Jaejoong berubah menjadi Kim Jaejoong yang sempurna.
Ia harus mencari Jaejoong dan meminta maaf, mengakui kesalahan atas sikapnya yang menuntut. "Dimana Handfon dan kuci mobilku." Pemuda itu bangkit. Mengambil Jaket dari dalam lemari. "Aku akan menemui Jaejoong."
"Kau harus makan malam terlebih dahulu, aku memasak untukmu. Kau jarang dirumah akhir akhir ini," Ya Tuhan, bahkan jihye merengek kepadanya.
Yunho memeluk adiknya sekilas. "Maaf mungkin lain kali." Ia sudah akan keluar ketika suara ketukan dari pintu terdengar sedikit lebih keras.
Kepala pelayan berdiri disana dengan wajah khawarit. "Tuan muda, ada sedikit masalah di salah satu Hotel Jung. Manager sudah turun tangan akan tetapi masalahnya tidak dapat di atasi beliau meminta anda untuk datang ke Hotel saat ini juga."
Jihye sudah berdiri di belakang sang kakak dan sama gelisahnya. Selama ini hotel mereka baik baik saja dan tidak pernah ada masalah. "Apa separah itu?" Jihye bertanya sebelum Yunho bertanya.
Yunho merutuk. Sial, kenapa masalah datang di saat yang tidak tepat. "Aku akan segera kesana."
"Oppa aku ikut." Jihye berlari mengejar Yunho yang sudah mencapai tangga terbawah di lantai utama. Jihye menggerutu, bagaimama bisa Kakaknya itu tercipta begitu sempurna dalam segala hal bahkan langkahnya begitu tegas lebar dan mengagumkan.
Yunho memang hanyalah seorang pemuda berumur delapa belas tahun, akan tetapi ia sudah terbiasa menangani masalah masalah di perusahaan ataupun hotel ketika ayah mereka tidak ada di tempat.
.
.
.
"Restoran ini terlalu mewah." Surai poni Jaejoong menutupi sebagian mata pemuda itu ketika mendongak menatap nama sebuah Hotel tempat Jin Yihan menetap untuk beberapa waktu selama liburan.
Restoran disini sangat terkenal dan memiliki kuwalitas yang pantas di acungi dua jempol. Jaejoong tidak yakin ia akan masuk dengan dandanan yang ala Preman pasar.
Oh, Yunho benar tentang itu, dirinya mirip preman pasar dengan celana panjang ketat hitam yang sobek sana sini di padu kaos berwarna putih V di bagian leher yang menunjukan dadanya yang putih juga sebagian Tatoo yang di buat Yoochun sore itu.
Jangan lupa kedua lengan kaosnya yang ia potong dengan sengaja untuk memperlihatkan Tatoo bergambar Jangkar beserta rantai kapal di lengan kanannya. "Tidak seharusnya kau memotong lengan bajuku, Chwang." lirihnya, entah untuk dirinya sendiri atau untuk Changmin.
"Terimakasih kau sudah memberi kehormatan kepadaku untuk melakukan itu." Mengabaikan sindiran Changmin Jaejoong melirik Yoochun, pemuda itu berpakaian lebih rapi. Celana selutut dan kaos polo topi terbalik dan kaca mata hitam yang sama dengan yang ia kenakan.
Melirik Changmin dari sudut mata di sisi lain ia menggeryit. Bahkan pemuda yang satu itu terlihat lebih rapi dengan kemeja kotak kotak dan celana panjang tanpa kaca mata. Changmin menangkap Jaejoong sedang memperhatikanya dengan mulut komat kamit bak dukun Santet dari jawa. "Aku sudah menduga kalau Yihan Hyung akan mengajak kita makan malam direstoran berbintang seperti ini."
"Dia mengundangku, bukan mengundangmu."
"Kita satu paket."
"Kau pikir kita barang obralan, satu paket." Dan mulailah perdebatan konyol keduanya, seperti biasa mereka tidak akan memperhatikan tempat dan waktu.
Yoochun melerai. "Apa kita akan terus berdiri disini atau masuk."
Jaejoong menatap ngeri kearah pintu depan yang berlapis karpet merah yang telihat lebih cocok untuk penyambutan presiden atau seorang artis papan atas dan model terkenal. "Lebih baik kita pulang, aku tidak ingin mempermalukan Yihan Hyung."
"Aku pikir kau berdandan seperti Preman pasar untuk membuat mereka percaya kalau kau sudah lebih dewasa dan terlihat ...Jantan."
"Buang kata kata Yunho itu atau atau akan merontokan gigimu."
Changmin menggeram ketika Yoochun menyebut nama Yunho. Susah payah mereka membuat Jaejoong sibuk seharian agar pemuda itu melupakan Yunho walaupun hanya untuk hari ini, semua sia sia karena pria berjidat lebar itu.
"Oh, diamlah. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan Kakek sihir itu."
Kakek sihir?
"Kakek sihir dan nenek sihir." Jaejoong menjelaskan tanpa mereka minta. "Yunho dan Ga Eun mungkin mereka memang jodoh." Jaejoong melangkah yakin kelobi dengan gagah berani, padahal baru saja pemuda itu memutuskan untuk membatalkan acara makan malam ini.
Yoochun dan Changmin saling menatap. "Kurasa kita juga harus masuk."
Baru saja Mereka melangkah masuk sudah disuguhi pemandangan yang cukup mengesankan. Mereka bertiga melongo hebat di pintu lobi. Ya Tuhan, mata mereka mengerjap ngerjap takjub.
Hotel itu terlihat tidak begitu besar di bagian luar, akan tetapi begitu luas dibagian dalam. Tidak heran Hotel ini memiliki tujuh bintang, Jaejoong bersedia menambahkan tiga bintang lagi supaya jumlahnya genap. Ia mulai berpikir ngawur.
Sebuah taman kecil dan air terjun beserta bunga bermekaran indah di tengah Aula lantai dasar. Jaejoong berkata ." Bagaimana mereka memindahkan taman itu kedalam sini, pintunya kan sangat kecil."
Yoochun bersedia memukul kepala Jaejoong dengan kayu kalau saja ia memilikinya saat ini. "Taman itu buatan tangan yang bisa kau tambahkan satu persatu, tidak akan sulit membawa pohon setinggi lima meter kedalam pintunya cukup lebar untuk pohon pohon itu." Yoochun menjelaskan.
"Air mancur itu juga sama, buatan tangan" Changmin menjelaskan sebelum sahabatnya yang super polos itu bertanya.
Akhirnya mereka bertanya kepada resepsionis yang memberitahu lantai teratas sebagai restoran di Hotel mereka. "Mr. Jin sudah mengatakan kepada kami jika beliau menunggu tiga tamu penting, tetapi kami tidak menyangka jika tamu beliau adalah pemuda penggemaskan seperti kalian." Seorang wanita berumur tiga puluhan membawa mereka kesebuah meja dengan lima kursi.
Wanita itu menatap Jaejoong dengan wajah berbinar. "Terutama kau, manis. Tatoo di lenganmu itu sungguh menggemaskan."
Senyum Jaejoong lenyap begitu saja. Hey, dia menakutkan bukan menggemaskan. Yoochun dan Changmin menahan tawa mereka berpura pura mengabaikan komentar wanita itu dan menarik kursi untuk mereka duduki.
"Nuna, Jongie itu tampan, dan menakutkan." Pemuda itu menjelaskan dengan nada yang membuat Wanita itu terseyum geli." Nuna tidak boleh tertawa, harusnya Nuna takut kepada Jongie."
"Haruskah,?" Wanita itu menatap kedua sahabat Jaejoong untuk meminta jawaban. Keduanya mengagguk sehingga wanita itu berkata. "Baiklah, kau menakutkan dan katakan kepadaku kalian mau pesan apa?" Wanita itu mengulurkan menu untuk Mereka bertiga.
"Mr. Jin mengatakan kalian boleh memesan apapun yang kalian inginkan, kami akan memberi tahu beliau jika kalian sudah sampai, sepuluh menit lagi aku akan kembali setelah kalian melihat lihat dan memutuskan apa yang kalian inginkan.".Wanita itu melemparkan tatapan kagum kearah Jaejoong dan berlalu.
Mata Jaejoong menatapa punggung tegak wanita itu yang berjalan menjauh, kemudian berbisik kepada Yoochun dan Changmin. "Sepertinya dia takut kepadaku itu sebabnya Nuna itu segera pergi."
Changmin menarik buku menu yang Jaejoong gunakan untuk menutupi wajahnya. Sungguh, ia gemas setengah mati dengan sahabat polosnya ini. Ya Tuhan, kapan pemuda itu akan dewasa dan berhenti bertingkah konyol.
"Apa kalian sudah lama menunggu."
Mereka bertiga bangkit untuk memberi salam kepada Yihan. Pria berumur dua puluh lima tahun itu memakai kemeja putih tanpa dasi yang membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dari umurnya. Jaejoong berbinar binar, ia akan meminta sang Ayah untuk membelikan Kemeja dan Jas lebih banyak lagi. Membayangkan dirinya dalam balutan kemeja berdasi Jaejoong tersenyum nista.
"Apa yang membuat adik manisku ini tersenyum senyum sendiri..." Ahra mengedipkan mata sebelah. "Oh apa ini." Jari Ahra menunjuk Tattoo yang mengintip di dari balik kaos berleher rendah Jaejoong.
Dengan bangga Jaejoong berpikir, Nuna pasti mengatakan Jaejoong sudah dewasa dan keren alih alih gadis itu mengatakan. "Tattoo kucing itu sungguh lucu, siapa yang menggambarnya?"
"Yoochun," Changmin menjawab.
Cukup, Jaejoong membanting buku menu itu begitu keras. "Jongie itu keren bukan menggemaskan." Kedua tanganya menyisir rambutnya kesal. Bibir pemuda itu mencebil sebal.
"Ya, kau keren dengan Tattoo di lenganmu itu, sungguh."Yihan berkata sungguh sungguh sampai amarah Jaejoong benar benar reda.
" Hanya Yihan Hyung yang baik kepada Jongie."ia melirik Ahra dan gadis itu hanya tersenyum cetah dan Jaejoong ingin sekali mengigit jari gadis itu.
Menarik Kursi untuk Ahra dan duduk di sisi gadis itu Yihan berkata."Kami hanya ingin memberitahu kalian bahwa kami sudah betunangan." Ahra menunjukan cincin di jari manisnya.
"Lulusan nanti aku akan mengajak Ahra untuk tinggal di Jepang, untuk itulah kami mangundang kalian makan malam, adik adikku yang ...keren. Lusa aku akan kembali ke Jepang." Yihan tersenyum kearahnya.
Jaejoong bersorak bahagia, mengabaikan sekeliling yang menatap mereka penuh minat dan sebagian terganggu.
"Oh, aku ingin menyumbang lagu untuk kalian." Yoochun melihat piano di sisi lain restoran ketika mereka masuk tadi. Dan beberapa musisi memainkan musik mellow yang membuat suasana terasa menenangkan dengan alunan musik yang mereka bawa.
Jaejoong bangkit pertama diikuti Yoochun dan Changmin yang mengekor pemuda itu untuk maju ke panggung mini yang memang disediakan untuk para tamu yang ingin menyumbang lagu. Yoochun duduk di belakang piano dan Changmin duduk disisinya.
"Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bernyanyi bersama." Jemari kedua pemuda itu menekan tut tut piano itu untuk pemanasan.
Jaejoong mengambil tempatnya sebagai vocal utama. "Aku ingin menyanyikan lagu beruang dan keluarga beruang."Ujarnya penuh antusias.
"Tidak, kau akan mempermalukan kami dengan Dance beruangmu yang memalukan itu." Jawab mereka serempak.
"Itu Dance yang lucu kau tau, kita pernah menyanyikan itu bersama dan penonton menyukainya, bersorak senang untuk kita."
Sorot mata Changmin menatap Jaejoong menusuk seperti belati. "Saat kita kelas enam, acara kelulusan sekolah kalau kau menganggap itu kebanggaan," ujarnya, menimbulkan gerutuan dari bibir mungil Jaejoong.
"Kapan kalian akan mulai bernyanyi," Yihan berteriak dari tempat duduknya. Mereka berdua bertepuk tangan memberi semangat.
Tidak ada pilihan lain kecuali memainkan lagu yang disukai Jaejoong. Yoochun memulai diikuti jari Changmin menekan tut sebelahnya, pemuda itu memiringkan tubuhnya dan berbisik."Semoga Jaejoong tidak berjoget ala beruang madu itu." Yoochun terkekeh mendengar keluhan sahabatnya.
.
.
.
Yunho memerhatikan Jaejoong dari pintu kaca sisi lain restoran . Masalah di hotel telah ia selesaikan dengan cepat karena ia berniat menemui Jaejoong setelah ini, ia sendiri tidak berniat makan malam di hotel keluarganya kalau saja Jihye tidak merengek untuk makan malam bersama sekali kali sebelum pulang.
Yunho sudah berdiri disana cukup lama hanya memperhatikan sang kesayanganya itu mengoceh. Dan ia sadar, Jaejoong yang ia cintai ada disana, bukan Jaejoong yang ia tuntut menjadi anak baik dan lemah lembut yang ia katakan tadi siang di perpustakaan.
"Sebaiknya biarkan dia bersenang senang, aku tidak ingin mengganggu mereka dengan kehadiranku disana." Yunho memutar tubuh keluar restoran diikuti Jihye.
"Kau benar Oppa, kehadiranmu mungkin akan membuat suasana mereka sedikit canggung."
~TBC~
