Title : The Kingka Strawberry and Vanilla
Author : Sulis Kim
Main C : Kim Jaejoong
Jung Yunho
Other
Rate : M
Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.
WARNING
YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading...!
Sepasang kaki berbalut sepatu berwarna hitam itu menendang nendang kerikil kecil yang dilewatinya. Suara nyanyian sahut menyahut dari dua suara merdu pemuda cantik yang berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri gang kecil yang terlihat senggang itu menjadi pemandangan berbeda bagi para penghuni rumah kumuh di salah satu sudut jalan setapak menghuni berkampungan daerah pinggiran sungai Han.
Belum pernah sebelumnya Jaejoong melewati jalan sempit yang penuh dengan kecoa tikus dan bau seperti saat ini,dan ternyata masih ada tempat kumuh seperti ini di sekeliking kota Seoul.
Jaejoong kembali mengeraskan suaranya sampai membuat Junsu berhenti bernyanyi dan menatapnya heran, "Kau bernyanyi terlalu tinggi Jongie." Pria cantik itu melapaskan genggaman tangan Jaejoong untuk berkacak pinggang mendelik kearah Jaejoong.
"Aku hanya kaget dengan kecoa yang hampir aku injak."
"Kecoa ..." Kim Junsu menjerit histeris, oh ia sangat takut dengan hewan kecil hitam berbulu itu. "Dimana dimana ..." Pemuda itu melompat lompat histeris sampai tiga pemuda lain dibelakang mereka menghela nafas jengah.
"Sudah pergi." Jaejoong berkata santai. Dan kembali berjalan. "Untung bukan kau yang hampir menginjaknya, dan ngomong ngomong Changmin kita belok kemana?" Pemuda itu berhenti di salah satu gang yang berbelok kekiri dan kekanan.
"Kanan."
"Kiri."
Jaejoong mendelik garang kearah dua sahabatnya itu. "Jangan katakan padaku kalian tidak tahu jalan."
Keduanya mengedikkan bahu pasrah. "Siapa yang mengatakan memotong jalan lewat perkampungan akan lebih menghemat waktu untuk kembali kerumah." Yoochun berkata tanpa dosa.
"Dan siapa yang tidak mau menyusuri jalan raya yang panas padahal sekatang sudah sore hari atau naik bus, karena mobil kita mogok." Changmin menambahkan.
Jaejoong yang merasa disudutkan oleh kedua sahabatnya itu menatap Yunho garang, seakan pemuda itulah yang harus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang mereka alami. " Ini salahmu, Bear. Mobilmu tidak berguna, percuma kau membeli benda itu mahal kalau hanya untuk ditumpangi dan macet dijalan." Pemuda itu berkacak pinggang.
Ya Tuhan, kekasihnya itu benar benar tidak sedikitpun merasa bersalah atas keputusanya sendiri yang tidak bisa di ganggu gugat, yang memilih jalan kaki dari pada menunggu mobil lewat atau bis. "Kita harus oleh raga, kau tidak lihat perutmu itu semakin buncit dasar beruang gendut." kata Jaejoong.
Ya Tuhan, bahkan Yunho sedikitpun tidak merasa kalau dirinya bertambah gendut sedikitpun. "Aku tidak pernah mengurus mobilku Jongie, dan siapa sangka kalau mobil itu akan kehabisan oli dan karena akhir akhir ini aku sering mengendarainya dan beberapa hari lalu aku keliling Seoul untuk mencarimu yang entah menghilang kemana karena marah kepadaku."
"Sampai kapan kalian akan berdebat. "Junsu berdiri paling depan di antara dua tikungan, menengok kekiri dan kekanan. Tingginya rumah kumuh itu membuat mereka tidak bisa melihat ujung lain gang sempit.
"Kita bisa bertanya kepada seseorang." Di tempat seperti ini, dan mereka tidak yakin akan ada orang baik yang menolong mereka.
Yunho sendiri ngeri membayangkan orang jahat atau siapapun yang akan menghalangi jalan mereka. Ia sering mengalaminya ketika tinggal di london dulu. Hampir di setiap sudut kota yang sepi disanalah para penjahat atau pencopet berada.
"Kita pisah." Usul Changmin.
"Tidak." Yunho berkata cepat. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ketika langit gelap, akan lebih baik jika kita tetap bersama."Yunho berjalan mendekat kearah Jaejoong untuk meraih tangan kekasihnya itu.
Jaejoong merona. Astaga, ini bukan untuk pertama kalinya Yunho menggenggam tanganya."Kurasa kau benar Bear, aku tidak mau terdampar disini lebih lama, Mommy pasti menghawatirkanku karena belum juga sampai rumah."
"Kau lupa, aku sudah mengatakan kepada Bibi Heechul bahwa aku akan mengantarmu pulang, jadi mereka tidak akan khawatir."
Mereka kembali terus berjalan maju tanpa lelah dan beberapa kali menemui jalan buntu yang mengharuskan mereka memutar jalan. "Aku tidak pernah tahu di Incheon masih ada tempat seperti ini. "Kelima pemuda itu bersandar untuk mengistirahatkan kaki mereka dan hari sudah hampir gelap.
"Lakukan sesuatu Bear." Jaejoong merengek.
"Aku tidak tahu jalan dan Handphoneku ketinggalan di mobil." dan begitu juga yang lain. Oh sial, hari sudah akan gelap dan mereka tidak melihat seorangpun di sekitar sini.
"Sebaiknya aku bertanya kepada orang itu," Yunho melepaskan genggaman tangan Jaejoong. "Tunggu disini bersama yang lain dan jangan kemana mana."
Jaejoong mengamati sekeliling. Tempat itu lembab dan dingin juga bau belum pernah Jaejoong melihat tempat seperti ini sebelumnya. Tiba tiba ia merasa sesuatu bergerak di belakang celananya, sontak ia berbalik dan menemukan anak kecil berusaha merogoh kantongnya.
Merasa takut karena aksinya ketahuan, anak laki laki sekitar berumur delapan tahun itu mencoba kabur, namun Jaejoong berhasil menarik kerah baju belakang anak tersebut."Tunggu," Ia berseru.
Anak itu terjerembab kebelakang dengan tidak elit dan mengaduh kesakitan.
"Maafkan aku,"Jaejoong berlutut disisi anak kecil berpakaian kumal itu. "Maaf mengecewakanmu, aku tidak punya uang untuk kau curi." Anak itu mengerjapkan mata sipitnya dengan wajah Shok." Kasihan, bahkan bajumu sangat kotor." Tambah Jaejoong.
Ketiga sahabat Jaejoong menghampirinya saat melihat Jaejoong menarik anak itu sampai terjatuh. "Siapa namamu." Junsu bertanya.
"Rye."
Jaejoong menggeryit. "Nama yang aneh."
"Mungkin dia memakai nama palsu supaya polisi tidak bisa melacaknya saat dirinya tertangkap." Sahut Junsu asal.
Anggukan membenarkan Jaejoong membuat kedua sahabat lainya menggeram marah. Oh, duo Kim ini tidak sadar bahwa yang mereka hadapi bukan penjahat kelas kakap dan untuk apa memakai nama samaran.
"Kau bisa menjual ini." Jaejoong melepaskan jam tangan miliknya. "Harganya cukup mahal itu masih baru dan merk asli.
Yoochun merebut jam bermerk Jaejoong dari tangan bocah itu sebelum di berikan kepada anak kecil yang mengaku bernama Rye. "Bodoh, kau akan mencelakan dia."Jaejoong mengerjab dan memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Pemilik toko manapun akan membohongi anak itu atau melaporkanya ke kantor polisi. Kau lihat pakaianya sangat kumal dan penjaga toko pasti akan menebak darimana anak seperti itu mendapatkan benda semahal ini."Changmin menjelaskan.
Duo Kim itu saling menatap satu sama lain, kemudian menatap pencopet kecil itu. "Maafkan kami,"
Anak kecil itu tersenyum kepada Jaejoong. "Apa kalian tersesat." Junsu mengangguk. "sudah kuduga, aku mengikuti kalian dari tadi."Anak itu bangkit untuk merapikan pakaianya yang kumal.
Tuhan, lihatlah dirinya. Mereka sangat berbeda dari segi manapun, Jaejoong tidak dapat membayangkan seandainya dirinya adalah anak itu dan kelaparan.
"Aku tahu jalan pulang." Yunho datang disaat yang tepat. Jaejoong menatapnya penuh harap. "Bear, anak ini mencoba mencopet Jongie. Tapi, Jongie tidak punya uang untuk di copet, bolehkan dia ikut sampai ke mobil disana ada sisa uang jajan Jongie minggu ini."
Yunho mengerjap ngerjap. Apakah dirinya tidak salah dengar, Jaejoong hampir menangis karena dirinya tidak punya uang untuk pencopet kecil itu. "Ya Tuhan. Kitten, apa kau sudah gila mengsihani bocah yang akan mencopetmu." Tatapan garang Jaejoong membuat Yunho terdiam. Siak, ia harus menjaga lidahnya jika tidak ingin kekasihnya itu marah.
Yoochun Changmin menahan tawa melihat ekspresi Yunho. Oh, Yunho yang malang, pemuda tampan itu harus bertahan dengan sikao ajaib Jaejoong selama sisa hidupnya. "Baiklah." Yunho menyerah, tidak ada jalan lain selain mengikuti saran Jaejoongnya yang manja. "Anak kecil..."
"Namanya Rye." Junsu memberi tahu.
Yunho hanya memutar mata malas. Astaga bahkan mereka sudah berkenalan disaat ia meninggalkan mereka tadi. "Baiklah Rye, kau tahu jalan menuju jalan raya. Nanti kami akan memberimu upah ketika kami sampai di mobil."
Anak itu mengangguk antusias dan tersenyum. "Ya, ikuti aku." senyum anak itu memperlihatkan giginya yang ompong. Dan Yunho tersenyum melihatnya.
Sepuluh menit kemudian Kelima sahabat itu melongo hebat dibuatnya. Demi Tuhan. Jadi selama dua jam ini mereka hanya berputar putar di desa kumuh itu dan tidak jauh dari jalan raya yang mereka lewati. Betapa bodohnya mereka berlima.
Jaejoong menyerbu masuk ke mobil untuk mencari tas miliknya dan mengambil sisa uang jajanya yang tidak seberapa. "Kalian kumpulkan uang masing masing." Jaejoong memberi perintah.
Junsu melompat bahagia seperti biasa dan ketika pemuda lainya mengikuti saran Jaejoong dengan malas malasan. "Semuanya, ingat! Semua sisa uang kalian." Jaejoong mendelik kearah Changmin, dia tahu sahabat satunya itu pasti akan menyisakan sedikit untuk dirinya sendiri dan benar Changmin merogoh bagian tas lain mengelurkan beberapa lembar ribuan dari sana.
Ckckck... Dasar pelit. Batinya.
Rye menatap tanganya yang terbuka dan uang lembaran di atasnya. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat uang sebanyak itu. " Makasih ya, kalian sangat baik." ucap bocah itu dengan kata kata anak jalanan yang membuat mereka miris. Anak itu tidak sekolah di umur yang seharusnya sudah masuk Sekolah dasar.
Yunho merendahkan tubuhnya untuk menjajarkan tingginya dengan Rye,"Dimana rumahku."
"Tidak jauh dari sini, aku tinggal dengan ibuku dia sedang sakit,"
Bibir Jaejoong sudah mencebil dan akan menangis. "Bear, kita boleh menengok mereka bukan?" Ia menarik narik lengan Yunho untuk membawa pria itu berdiri.
Gelengan kepala Yunho membuat pekikan Duo Kim itu menggelegar di pinggiran jalan raya. Astaga mereka seperti paduan suara yang sangat kompak. "Baiklah." Yunho menyerah, tidak ada salahnya melihat lihat rumah Rye dan ibunya yang sakit.
.
.
.
Kelima pasang mata itu menatap horor rumah reot di antara yang paling reot lainya. Ya Tuhan, itu adalah gubuk di ujung perkampungan di sisi Sungai yang paling kumuh. Mereka benar benar tidak mengira tempat itu masih berpenghuni, sangat jauh dari kata layak.
Yunho berjalan kesisi lain rumah tua itu untuk memperhatikan dinding retak dan atap yang bocor.
"Dimana Ayahmu?"
"Sudah di surga. Masuklah Hyung Ibuku akan sangat senang melihat kalian."
Yoochun dan Changmin telah pergi entah kemana, mungkin mengikuti Yunho kesisi rumah kecik itu. Junsu mengekor Jaejoong masuk tetapi mereka di kejutkan oleh dua anjing hitam yang menggong gong dan menerjang mereka.
Karena terkejut kedua pemuda itu menjerit dan mengambil langkah seribu, memberi kesempatan untuk kedua anjing itu mengejar mereka, seakan mengajak mereka untuk bermain.
"Tom, Jerry, kembali. Mereka temanku." Rye berlari mengejar kedua anjingnya yang nakal dan mereka masih mengejar kedua pemuda Kim itu sampai ujung gang, sebelum Jaejoong tersandung langkahnya sendiri dan terjatuh tepat di atas Junsu yang berlari di depanya.
Pekikan Jaejoong dan Junsu membuat ketiga pemuda lain yang berada di belakang rumah Rye berlari keluar untuk memeriksa apa yang terjadi. Dan mereka di suguhi pemandangan yang mengerikan.
"Jaejoongie." Yunho berlari membantu Jaejoong berdiri dengan Yoochun menarik Junsu yang berada di bawah tubuh Jaejoong.
Kedua pemuda itu menangis histeris meskipun kedua anjing hitam kumal itu sudah duduk manis di kedua sisi Rye sambil menggoyang goyangkan ekor mereka. "Maafkan mereka, Tom dan Jerry hanya terkejut. Kami tidak pernah kedatangan tamu atau siapapun yang masuk kerumah selain aku dan Ibuku." Bocah itu menatap Jaejoong dan kawan kawan dengan wajah menyesal.
Yunho mendelik kearah bocah itu sampai membuat Rye mundur selangkah. "Aku memberikan uang itu untuk ibuku dan lupa jika Tom dan Jerry tidak suka orang asing sampai aku mendengar kedua Hyung ini berteriak. Ibu sangat bahagia, kami akan punya cukup uang untuk membawanya kerumah sakit." Seulas senyum itu membuat Yunho menghela nafas.
"Maafkan aku, aku tak berniat marah padamu, hanya saja kami terkejut sama sepert anjing itu." Yunho menunjuk kedua anjing itu dengan dagunya. Astaga, kedua anjing itu sangat kurus dan bagaimana seorang anak kecil mampu menghidupi ibunya dan kedua anjing itu.
Junsu mengaduh kesakitan, kedua telapak tanganya lecet karena ia jatuh terjelungkup dengan Jaejoong di punggungnya. "Sakit." Rengeknya. Menunjukan kedua lenganya yang lecet.
Dalam remang remang senja Yoochun dapat melihat kulit Junsu lecet dan merah merah. "Tidak apa apa."Ia mengangkat kedua tangan Junsu untuk meniup luka itu.
Jaejoong melihat itu dengan bibir mencebil dan menunjukan tanganya yang kotor kepada Yunho. Tentu saja, dia tidak luka sedikitpun. Yunho tahu kekasihnya itu hanya manja dan ingin di perhatikan, jadi ia membersihkan tangan Jaejoong dari debu dan menunduk untuk mendaratkan satu ciuman di telapak tangan kekasih cantiknya itu untuk membuat Jaejoong diam.
"Sudah, tidak sakit bukan." kepala Jaejoong mengangguk.
Changmin memutar bola mata jengah. "Sebaiknya kita masuk Rye, aku ingin lihat keadaan ibumu, semoga dia baik baik saja. Aku sudah menelfon Dokter keluarga dan dia akan segera kemari untuk melihat sakit ibumu."
Wajah bocah itu berbinar bahagia. "Benarkah," Rye mengekor Changmin masuk kedalam rumahnya di ikuti dua ekor Anjing hitam miliknya dari belakang.
"Oh, Syukurlah Changmin bersedia melakukan itu."
"Sudah lebih baik." Yunho membantu Jaejoong untuk bangkit. Sekali lagi Jaejoong mengangguk."Sangat baik."
"Yoochun, sakit." Junsu masih merengek ketika Yoochun membantunya berdiri. Ya Tuhan, pemuda itu bahkan menghentak hentakan kakinya kesal.
"Dokter akan segera datang dan dia akan memeriksa lukamu." Geraman Yoochun membuat mata Junsu berkaca kaca.
"Jangan menangis. Sudah cukup Jaejoong yang cengeng dan jangan menambahkan dirimu didalamnya." Bentak Yoochun.
Jaejoong menyahut kasar. "Aku tidak cengeng jidat."
Junsu terdiam sambil menyembuntikan wajahnya. Ya ,Tuhan, Yoochun menarik tangan Junsu dan mendaratkan ciuman disana, sontak hal itu membuat tiga pasang mata lain menatapnya dengan mata besar yang Yoochun yakini akan copot.
"Masih sakit?" Junsu menggeleng, dan ampuhnya tangisan pemuda itu pun lenyap dalam seketika.
"Yunho, aku juga mau lagi."
Mata musang Yunho mengerjap polos."Apa?"
"Cium aku," bisiknya saat melihat pasangan baru itu masuk kedalam rumah menyusul Changmin dengan Junsu yang melompat lompat bahagia di belakang Yoochun.
Yunho masih juga tak bergerak, sampai Jaejoong gemas sendiri dan menarik dasi seragam pemuda itu untuk membuat Yunho menunduk dan mempertemukan bibir mereka. Jaejoong tersenyum ketika melihat keterkejutan kekasihnya karena ciuman dadakan ini. Astaga, biarlah Jaejoong dikira cewek,,, ah coret namja ganjen karena menggoda kekasihnya. Toh mereka sepasang kekasih bukan, tidak ada salahnya Jaejoong mencium Yunho, tidak harus Yunho yang selalu menciumnya.
Setelah mengerti akan keinginan kekasihnya Yunho menarik pinggang ramping Jaejoong untuk bersandar pada tubuhnya. Dan dengan senang hati Jaejoong mengalungkan lenganya di leher Yunho dan menerima ciuman ciuman yang di berikan Yunho berikutnya.
.
.
.
Jaejoong menatap pintu bertuliskan Presdire Directure yang tertutup di hadapanya dengan gelisah. Bulu mata lentik miliknya mengerjap ngerjap dengan wajah yang mulai cemas dan kerutan di kening.
Ia menegok kekiri dan kekanan berharap seseorang muncul atau siapa saja membantunya membuka pintu. Oh, tanganya mulai kebas dengan nampan berisi makan siang milik Ayahnya yang berat.
"Daddy..." Rengeknya, berharap sang Ayah mendengarkan suaranya yang tentu saja mustahil di dengar dari dalam mengingat ruang itu kedap suara. "Daddyyyy..." Kali ini suara Jaejoong lebih keras dan pintu terbuka.
"Oh, siapa ini." Jaejoong menerobos masuk tanpa memberi salam sampai hampir saja membuat sekertaris cantik Ayahnya itu terjetembab kebelakang. Jaejoong memper cepat langkahnya dan segera menaruh nampan berat itu di atas meja.
"Nuna,,," Ia berbalik untuk menghampiri sekertaris Ayahnya itu. "Maafkan Jongie," Menangkupkan kedua tanganya Jaejoong menatap wanita berpakaian sexy tapi sopan itu dengan wajah menyesal.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk kemudian pergi dengan pintu tertutup di belakangnya.
Hankyung duduk di sofa sibuk memasukkan berkas berkas sambil melirik putra tunggalnya yang membuka menu makan siang untuknya dan menghidangkan di atas meja. Selesai dengan berkas terakhir ia duduk bersandar di punggung sofa untuk mengamati Sang putra.
Sungguh, Jaejoong terlihat menggemaskan dengan pakaian koki dan selembar kain menutupi rambut untuk menghindari minyak di dapur, di ikat kebelakang menutupi bagian atas kepala. Jangan lupa celemek berwarna senada bergambar Strawberry yang entah Jaejoong dapat dari mana terpasang rapi di atas kemeja kotak kotak yang Jaejoong kenakan.
Pemuda itu berdiri dengan tangan terikat rapi di depan tubuh ketika selesai menata menu makan siang sang Ayah. Hankyung memasang wajah datar ketika mendapat lirikan sembunyi sembunyi dari sang putra badungnya itu. Inilah hukuman yang Hankyung janjikan untuknya. Menjadi pelayan tambahan di kantin kantor sang Ayah, di hari libur sekolah.
"Bagaimana keadaan di Kantin?"
Bibir Jaejoong mencebil sebelum menjawab pertanyaan Ayahnya. "Sibuk sekali Dad, meskipun ini hari minggu tapi banyak yang lembur. Kesihan mereka kenapa Daddy tidak meliburkan mereka saja." Memberanikan diri menatap sang Ayah, Jaejoong sedikit memasang mimik teraniyaya.
"Daddy tidak meminta mereka lembur, Daddy hanya mengatakan siapa saja yang ingin lembur bisa berangkat ke kantor."
"Tapi,,,"
"Memang Jongie mau perusahaan keluarga kita tidak beroprasi dan para pelanggan lebih memilih pergi dan membeli barang dari perusahaan lain, Daddy tidak yakin Jongie dan Mommy bisa hidup sederhana." Dan wajah Jaejoong berubah ngeri.
Hey ia tidak pernah hidup sederhana sejak lahir, dan kata Rye yang pernah Jaejoong tolong beberapa hari lalu mengatakan mereka sering kelaparan. Oh, bagaimana dengan Jiji dan Heebum juga dirinya.
"Tapi Daddy sudah sangat lama tidak membawa Jongie dan Mommy jalan jalan." Lupakan kalau Jaejoong sedang dalam masa hukuman dan harus bersikap sopan.
Kaki berbalut sepatu putih pemuda itu mulai menghentak hentak lantai dengan mengemaskan, sampai Hankyung menghela nafas lelah. Ya Tuhan, anaknya itu memang terlahir sebagai uke sejati dan sepertinya ia harus berhenti berharap Jaejoong akan menjadi sedikit lebih Manly karena kenyataanya Jaejoong anak badung yang penakut.
"Akan Daddy pikirkan, sekarang beri Daddy ciuman dan kembalilah ke kantin. Aku rasa mereka akan membutuhkanmu disana."
Hankyung bangkit untuk duduk di meja dan mengamati makan siang yang di bawakan putra cantiknya ini. Cukup mengesankan dengan tatanan rapi dan manis seperti Jaejoong.
Jaejoong mengecup pipi Ayahnya dan berjalan keluar. "Selamat makan Dad." Pintu tertutup dan Hankyung tertawa melihat putra badungnya itu ternyata bisa berlaku sopan dan disiplin selama dua hari ini.
Suara tawa dari meja sekertaris Ayahnya membuat Jaejoong menghentikan langkahnya menuju lift. Ia melongok ke balik sekat penghubung antara meja sekertaris itu dengan ruang tunggu dengan penasaran.
Wanita cantik itu sedang membaca surat dengan wajah bahagia yang tidak di tutup tutupi meskipun wanita itu melihat Jaejoong berdiri di hadapanya. "Hi Jongie."
Jaejoong menjerit saat wanita itu mencubit pipinya. Oh sangat sakit.
"Nuna kenapa?" Ujung mata Jaejoong melirik surat berwarna merah muda di atas meja sekertaris itu. "Apa Nuna tidak memiliki Handphone? Kenapa masih menulis surat?"
Pertanyaan polos itu membuat wanita bermarga Shin itu tertawa keras. "Sayangku, ini surat cinta."Wanita itu menggoyang goyangkan surat yang di jepit di antara dua jarinya di depan wajah Jaejoong. "Aku tidak percaya kau tidak pernah mendapatkanya, kau sangat cantik untuk di abaikan."
"Jongie tampan," Ralat Jaejoong. "Jongie selalu memberikan surat cinta yang di berikan penggemar Jongie untuk Changmin, karena dia akan membantu Jongie untuk memakan coklat coklat yang bahkan tidak akan habis untuk Jongie makan sendiri."
Wanita itu menangkupkan tanganya bangga. "Manisnya, pasti penggemarmu sangat banyak."
Dengan sombong Jaejoong mengangguk antusias. "Jadi, untuk siapa surat cinta itu?"
"Bukan Untuk, ini dari kekasih Nuna, kau tahu?" Jaejoong menggeleng.
Wanita itu kembali tertawa. "Dia melamarku tadi malam, kemarin di mengirimku surat cinta ini dan mengajakku makan malam setelah itu dia melamarku di hadapan orang banyak dengan berlutut memintaku menikah denganya. Oh, itu baru pria yang mempesona dan sangat Jantan."
Jaejoong berjinjit untuk meraih surat itu, dan membolak balik selembar kertas yang hanya tertera beberapa kata. "Sangat bodoh, Jongie tidak akan berlutut untuk siapapun karena Jongie adalah Kingka, jadi dia yang harus melamar Jongie." Melempar surat itu keatas meja Jongie mencium aroma harum dari selembar surat itu di jarinya.
Astaga, Jangan bilang surat itu juga di bubuhi parfun seperti dalam sinetron yang ibunya sering tonton.
"Dasar anak kecil." Wanita itu memungut suratnya dan mengusapnya seperti benda itu adalah selembar sutra yang berharga. "Kau tidak akan tahu kepuasaan seorang pria yang melamar karena cinta. Jika kau mencintainya lamar kekasihmu dan tunjukan padanya kau adalah pria bertanggung jawab, dan juga bisa menjadi pelindung baginya. Tunjukan padanya bahwa kau hebat." Wanita itu terdiam sejenak. "Untuk apa aku mengatakan ini kepada anak kecil sepertimu. Pergilah sebelum Sajangnim menemukanmu disini, atau beliau akan menambah hukumanmu."
"Jongie akan pergi." Tetapi Jaejoong sempat melirik wanita itu sebelum masuk ke dalam Lift yang membawanya turun ke lantai bawah. Melamar. Baiklah!
Jaejoong akan tunjukan kepada Yunho bahwa ia adalah Pemuda hebat dan bertanggung jawab. Dan Jaejoong The Kingka akan melindungi Yunho setelah mereka menikah nanti.
Jaejoong menggeryit. Lupakan yang terakhir. Ia hanya akan menunjukan kepada Yunho bahwa dirinya adalah pria hebat karena Jaejoong akan melamar Yunho titik.
Jaejoong tertawa nista. Oh, ini akan sangat menyenangkan. Semua murid akan mengatakan dia pemuda keren dan dialah Kingka terhebat sepanjang masa.
Baiklah. Ia harus menyiapkan semuanya. Surat cinta, bunga juga cincin. Tidak perlu cincin Jaejoong hanya perlu bunga dan surat dan apakah harus berwarna merah muda?
Ia akan menanyakan kepada ibunya usai pulang nanti. Dan bunga, mungkin ia bisa mencuri beberapa bunga dari taman sang Ibu, tentunya ibunya itu tidak akan marah kalau bunga itu akan ia berikan untuk Yunho. Mengingat ibunya itu sangat menyanjung calon menantunua yang katanya perfect... Oh Yunho-nya memang sempurna.
~TBC~
