Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author : Sulis Kim

Main C :Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : T~M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

"Melamar."

Jaejoong mendaratkan jitakan sayang untuk Yoochun dan Changmin dan juga delikan untuk beberapa teman Geng dari sekolahan lain yang berteriak keras sampai membuat seluruh pengunjung cafe menatap kearah mereka dengan terkejut.

"Aku akan mendaftarkan kalian kedalam paduan suara gereja jika kalian suka berteriak di saat yang bersamaan." Ancam Jaejoong dengan sunguh sunguh. Dan seperti biasa tidak ada yang takut dengan ancaman pemuda cantik itu.

Yoochun masih melongo hebat setelah mendengar apa yang di katakan sahabat cantiknya ini. Ya Tuhan, tidak sadarkah Jaejoong bahwa dirinya adalah uke sejati, dan itu benar benar ide yang sangat konyol. Mungkin jika seorang wanita yang akan dilamar Jaejoong, Yoochun maupun Changmin tidak akan se shock saat ini. Tetapi demi bokong sexy Junsu. Yunholah yang akan Jaejoong lamar untuk di jadikan istrinya, ralat, suaminya.

Changmin tertawa keras setelah mendengar apa yang di utarakan Jaejoong barusan, di ikuti tawa anak anak lain. GD beserta anak buahnya juga Younghwa CS.

"Katakan kepada kami Jongie, kenapa tiba tiba kau ingin melamar Yunho?" GD mengatakan itu dengan nada geli yang di tahan, oh ia tidak ingin mendapatkan jitakan sayang Jaejoong.

Benar saja! Jaejoong sudah akan menjitak pemuda itu jika saja dirinya tidak ingin bercanda dalam masalah ini. Sungguh, ia akan menghajar temanya seandainya tidak membutuhkan bantuan mereka semua.

"Aku sudah menjauhi Yunho sejak kemarin, karena aku ingin memberikan kejutan untuknya."

"Dan kejutan apa itu." Changmin bertanya. Jemarinya mencoba mengambil Cherry di dalam gelas panjang miliknya.

"Aku ingin melamar dia di hadadapan murid Shinki. Besok aku akan mengirim surat untuknya, dan lusa ketika jam istirahat aku akan melamarnya."

"Kau mencuri buah Cherryku Chwang." Yoochun menjitak Changmin, pemuda itu hanya nyengir tanpa dosa setelah berhasil mencuri buah merah menghoda dari gelas sahabatnya itu.

Mata Jaejoong mendelik karah mereka berdua. "Aku serius kalau tidak aku tidak akan mengumpulkan kalian semua disini."

"Aku tidak akan membantu." Younghwa berkata. "Pemuda bermata musang itu tidak pantas kau lamar, mengapa kau tidak melamar Yihan Hyung, dia lebih cocok bersanding denganmu."

"Dia sudah bertunangan dengan Ahra Nuna." sahut Yoochun.

"Aku serius, bisakah kita kembali ke topik utama. Chwang aku ingin kau membantuku mengirim surat untuk Yunho besok pagi, taruh surat itu kedalam loker beruang gendut itu."

"Dimana suratnya?" Changmin mengulurkan tangan kananya.

Jaejoong mengerjap dan memiringkan kepalanya sedikit menyamping. "Tentu saja aku belum menulisnya, baru saja aku kabur dari kantor Appa dan menghubungi kalian semua."

"Jadi Yunho berada di kantor Paman Kim sekarang?"

"Tidak, dia tidak bisa datang karena Jihye bilang ibu mereka akan pulang sore ini. Yunho menjemput Mommy Jung."

Mommy Jung?

Semua mata memutar bola mata jengah. "Kau belum menjadi menantunya, dan siapa yang akan menjamin Mrs. Jung akan menerimamu sebagai menantunya" GD menompang wajahnya di atas kedua tanganya. Wajah pemuda itu terlihat kurang bersemangat ketika mengatakan itu.

Younghwa menambahkan. "Kau manja, cengeng, sok imut dan sangat cerewet. Aku tidak yakin Mrs. Jung juga akan menyukaimu."

Di bawah meja Jaejoong menghentakkan kakinya gemas." Oh, diamlah kalian. Aku tampan, pemuda tertampan seantero Seoul, siapa yang tidak menyukaiku karena wajah tampan, memiliki tubuh ..."

"Sexy." Changmin menyahut.

"Macho, macho, Chwang! Juga kecerdasan yang cukup bagus ketimbang kalian semua, nilaiku selalu di atas kalian."

"Karena kami tidak terlalu berminat belajar, kalau kami minat kau akan kalah." Jaejoong mengabaikan ucapan GD.

"Jadi, kalian harus menyiapkan bunga spanduk dengan tulisan yang akan membuat Yunho merasa terharu dan Yunho akan sangat bahagia nantinya seperti Nuna sekertaris."

Nuna sekertaris?

Ya Tuhan, tidak heran Jaejoong memiliki ide konyol ini. Sekertaris Kim Hankyung pasti telah meracuni otak pemuda polos ini dengan ide gila untuk melamar Yunho.

"Jika kalian tidak membantuku aku akan memecat kalian dari daftar teman Jaejoongie."

Helaan nafas seluruh temanya membuat Jaejoong duduk tegak di kursinya. Temanya itu akan membantunya, bukan? Kalau tidak Jaejoong tidak tahu akan meminta pertolongan siapa lagi. Jujur dia hanya menggertak, tidak berniat membuang mereka dari daftar teman.

GD mengerjap santai menatap Jaejoong. Younghwa menghabiskan minumanya, yang lain tiba tiba sibuk dengan minuman dan makanan mereka yang mereka pesan. "Oh, sialan. Aku mohon, aku ketua disini."

"Baiklah," Younghwa berkata pasrah. "Aku tidak mau melihatmu merengek kepada kami atau memasang wajah judes ketika melihat kami di jalan tanpa menyapa, dan apa bayaran untuk kami semua."

Jaejoong membisu dan menatap mereka satu persatu. "Ayolah, kita kan Soulmate. Kalian tidak sekejam itu meminta bayaran dariku, bukan?"

"Ya, kami sekejam itu." GD menjawab.

Changmin menambahkan." Aku ingin ke Klub Kojje."

"Kita masih di bawah umur."

"Kita sudah delapan belas tahun Jongie."Sahut Yoochun.

GD melirik Younghwa yang juga tersenyum penuh makna kearahnya. "Kami akan menbantumu sampai berhasil dengan satu syarat."

Mata Jaejoong berbinar binar bahagia. Oh, ia tahu sahabatnya itu akan membantunya.

"Minta Yunho membawa kami ke klub Kojje, dan tentu saja gratis jika lamaranmu ini berhasil."

Geraman Jaejoong begitu keras sampai yang lain merinding. "Ayolah, kalian tahu aku tidak punya uang jajan selama seminggu."

"Club Kojje milik keluarga Jung, jadi kau tidak perlu mengeluarkam uang. Cukup rayu Yunho, bukankah kau akan melamarnya."

Astaga! Teman temanya itu mengusulkan ide yang konyol.

Demi Jiji, Jaejoong bukanlah wanita penggoda, dia laki laki, apakah harus menjadi pria penggoda.

Menghela nafas lelah dan pasrah ia mengangguk, tidak ada jalan lain selain menyanggupi semua permintaan mereka. "Dan jika kalian sampai gagal aku akan mencincang kalian untuk makanan Jiji." ancam Jaejoong sadis.

Para sahabat Jaejoong hanya memasang wajah bosan. Demi apa, Yunho akan sangat bersyukur mendapatkan uke ter cantik di Korea. Jangankan meneraktir mereka semua ke Club. Liburan keluar negri pun akan Yunho berikan secara geratis untuk mereka semua.

.

.

.

"Apa yang kalian lakukan di depan lokerku."

Ketiga berandal sekolah Shinki menjengit kaget mendengar suara baringtoner Yunho dari belakang mereka.

Melipat tanganya di dada Yunho menatap Jaejoong tajam. Sungguh, ia gemas setengah mati pada Jaejoong yang menghindarinya sejak kemarin. Yunho menyempatkan diri kerumah Jaejoong tengah malam usai menjempu Ibunya dari bandara, tetapi kekasih cantiknya itu tidak mau menemuinya dengan alasan sudah tidur, padahal tiga menit sebelumnya Yunho sempat melihat kekasihnya itu mengungah sebuah status di jejaringan sosial.

"Katakan kepadaku apa lagi yang kau lakukan Kitten, kesalahan atau apapun yang kalian rencanakan aku mohon sudahi sekarang juga sebelum kalian mendapatkan masalah."

Lengan Yunho mendapat tamparan manis dari kekasih cantiknya. "Tidak akan, bagaimana mungkin aku membatalkan rencana besar ini yang menyangkut …"

"Ehem..." Yoochun berdeham untuk menghentikan ocehan Jaejoong. Astaga pemuda cantik itu hampir saja mengatakan rencananya sendiri.

Jaejoong mengigit lidahnya sendiri ketika menyadari ia kelepasan bicara. "Ini bukan urusanmu, Bear. Jadi bisakah kau buka lokermu sekarang."

Changmin menggerang. Dasar kucing centil yang bodoh, dengan senang hati Changmin mendaratkan jitakan di kepala pemuda itu. "Aku harus pergi, aku ada kencan."

Mata Doo Jaejoong mendelik lebar menatap Yoochun, kemudian beralih kearah pemuda jangkung yang telah menghilang di ujung koridor. "Apakah Changmin mengatakan dia akan pergi kencan." Yoochun mengangguk dan berkata. "Aku akan mengikutinya."

Demi apa, Yunho menatap Yoochun begitu tajam sampai Pemuda itu takut ia akan terbunuh oleh tatapan tajam pemuds itu.

Masih tidak bergerak, Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan yang lebih lembut. "Kau menghindariku Kitten, apa kau tidak merindukanku." Membuka kedua lenganya Jaejoong melemparkan diri kedalam kedapan kekasih tampannya itu.

"Aku merindukanmu Bear." Jaejoong berjinjit untuk mendaratkan ciuman singkat di bibir hati kekasihnya. Sebelum Jaejoong menarik diri Yunho menahan tengkuk Jaejoong dan melumat bibir menggoda Jaejoong singkat dan melepaskan kekasihnya itu dalam keadaan linglung dan hampir jatuh.

Astaga. Jaejoong benar benar masih belum terbiasa dengan ciumanya, dan lihatlah rona merah pada wajahnya itu. "Aku harus berganti pakaian, sebentar lagi ada pertandingan Voli."

Selempar surat berwarna merah muda tergeletak di atas seragam Yunho ketika pemuda itu membuka loker miliknya.

Jaejoong sengaja mendorong Yunho dan menjerit histeris seperti seorang gadis yang mendapatkan surat cinta. "Bear, lihatlah, surat cinta. Cepat buka dan baca isinya."

Lompatan kecil Jaejoong dengan poni pemuda itu yang lemompat lompat indah di keningnya juga senyum misterius pemuda itu tidak membuat Yunho senang. Hatinya terasa panas melihat antusias kekasihnya itu mendapati Yunho menerima surat cinta dari orang lain.

Apakah Jaejoong tidak merasa cemburu sedikitpun?

"Buka Bear, ayolah aku penasaran dengan isinya." Menyerahkan surat itu kehadapan hidung Yunho, Jaejoong tersenyum lebar dan menunggu...

Yunho membuka surat itu dengan malas malasan dan membacanya keras keras. "Temui aku di lapangan besok siang. Dari pengagum rahasiamu."Yunho melirik Jaejoong dari atas selembar surat tersebut.

Untuk pertama kalinya Yunho membenci senyuman Jaejoong yang di tunjukan untuk dirinya saat ini. Meremas surat itu kasar Yunho melemparnya bulatan kertas itu ke tong sampah tanpa melihat lemparanya itu masuk atau tidak. "Tidak penting sama sekali." Yunho mengambil seragam olah raga miliknya dengan marah dan membanting pintu loker begitu keras sampai Jaejoong melompat terkejut.

Pemuda itu meninggalkan Jaejoong disana tanpa menoleh dan pergi begitu saja. "Bear..." Jaejoong memanggil kekasihnya sembari merengek.

Jaejoong mengejar Yunho setelah mengambil surat miliknya itu. "kau akan pergi kesana besok, bukan?"

"Tidak!"

Jaejoong berlari kecil untuk mengejar Yunho dengan langkahnya yang lebar. "Tetapi kau harus kesana untuk memastikanya, siapa tahu dia..." Yunho menyahut dengan suara yang cukup keras. "Tidak, tidak, tidak akan pernah. Kalau kau ingin pergi kesana pergilah, aku tidak peduli!"

Tangan Jaejoong menggenggam erat surat yang ada di genggaman tanganya. Yunho membentaknya, pemuda itu begitu marah dan tidak menghargai kerja keras dan juga kejutan yang akan Jaejoong berikan untuk Yunho. Sepertinya Jaejoong salah dengan mengira Yunho akan menerima lamaranya.

Melempar surat itu, Jaejoong mengumpat kasar dan menangis. Sila, rencananya yang indah gagal total.

"Yoochun, Chwang kalian dimana?" Jaejoong menengok kekiri dan kekanan dan melihat kedua sahabatnya itu bersembunyi di balik tembok. Dan tangisanya pun kembali pecah.

Ending A ~tbc~