Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author : Sulis Kim

Main C : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : T~M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

Siwon menatap Seunghyun dengan pandangan bertanya. Pemuda itu mengedikkan bahu tidak tahu dan mengambil bola yang baru saja di lempar Yunho ke pinggir lapangan.

Pertandingan baru saja selesai dan seperti biasa merekalah pemenangnya. Meskipun score kali ini hanya berbeda tipis. Bagaimana tidak, Yunho selalu mengagalkan seranganya atau gagal menangkap bola lawan beberapa kali.

"Kau kenapa Dude." Seunghyun mengambil tempat duduk di sisi Yunho. Pria itu merebahkan diri di lapangan sambil terlentang.

"Kau kurang berkonsentrasi dalam pertandingan hari ini."

"Aku baik baik saja." Duduk dari rebahanya di atas lantai yang keras, Yunho merebut air mineral Siwon yang baru saja di buka oleh pemuda itu. "Thanks."

"Sialan kau, kau pikir kami bisa begitu mudah kau bohongi." Siwon merebut botol itu kembali sebelum Yunho meminumnya. "Ambil sendiri disana." Ia menunjuk dengan dagunya ke pinggir lapangan.

"Aku baru saja mendapatkan surat cinta." ujar Yunho.

Siwon tersedak minuman yang baru saja diminumnya. "Kau,,," Ia terbatuk. "… apa?"

"Aku baru saja mendapatkan surat cinta." Yunho mengulanginya dengan nada malas. Ia melemparkan pandanganya ke sekeliling lapangan mencari kekasihnya dan seperti biasa Jaejoong dikerumuni para gadis atau namja di sekelilingnya. Pemuda itu sedang berbincang dengan beberapa pemuda dari kelasnya, Yunho merasa cemburu meskipun disana ada Changmin juga Yoochun.

Yunho bertanya tanya kepada dirinya sendiri, apakah ia tidak terlalu mencintai Jaejoong sampai melihat pemuda cantik itu bicara dengan pemuda lain saja mampu membangkitkan emosi juga cemburu di dadanya?

Tetapi apa yang Jaejoong rasakan? Ia tidak tahu. Jaejoong malah tersenyum bahagia dan mendorong Yunho untuk menemui pengagum rahasianya, dan benarkan Jaejoong mencintainya?

Memikirkan perasaan pemuda itu tidak sebanyak cinta yang ia miliki membuat hati Yunho berdenyut sakit. Dan bagaimana seandainya Jaejoong tida benar benar mencinya?

Sunghyun tertawa terbahak bahak menarik Yunho dari dunia lamunanya.

Tawa itu mengundang tatapan aneh Yunho juga Siwon. "Ada yang lucu, mengapa kalian tertawa, apakah aku tidak sepopuler Jaejoong sampai tidak ada yg mengirimku surat cinta."

Seunghyun menggeleng." Hanya saja, kalian benar benar sehati, aku dengar Jaejoong juga mendapatkan surat cinta dari seseorang, seseorang melihat Jaejoong menyerahkan surat itu untuk Changmin, kau tahu Jaejoong akan menyerahkan surat dari penggemarnya kepada Changmin atau Yoochun, pemuda itu tidak pernah sekalipun membaca satupun surat dari penggemarnya."

Dan apa yang barusan Jaejoong lakukan, menyodorkan surat itu untuk ia baca. Astaga, apakah Jaejoong tidak lagi mencintainya. Pandangan Yunho mengikuti Jaejoong dan kedua teman badungnya yang meninggalkan lapangan dengan langkah cepat.

Siwon memanggil seorang pemuda yang tadi berdiri bersama gerombolan Jaejoong. "Bisa kesini sebentar." Teriaknya.

"Untuk apa kau memanggilnya?" Seunghyun menegur.

Siwon mengabaikan pertanyaan temanya itu. "Apa yang kalian diskusikan tadi?" Pertanyaan itu Siwon tunjukan kepada teman sekelas Jaejoong.

"Akh, Jaejoong. Dia mengajak beberapa pemuda untuk mengunjungi Klub Kojje nanti malam, dan mengatakan ia akan meneraktir kami semua. Hebat bukan?"

Yunho menyahut dengan nada marah."Tidak akan aku ijinkan kalian masuk kesana, terutama Jaejoongku." Pemuda itu menatap Yunho heran.

Seunghyun menyahut. "Klub Kojje milik keluarga Jung."

Pemuda itu malah tersenyum senang. "Kalau begitu Jaejoong tidak bohong kalau dia bisa membawa kami kesana, karena Yunho adalah kekasihnya." Pemuda itu berlalu dengan wajah gembira dan menghampiri yang lain.

Siwon dan Seunghyun menatap Yunho penasaran. "Kalian bertengkar, pantas saja Kitten akan ke klub, kau belum begitu memahami sifat Jaejoong Yunho, dia akan sangat frustasi ketika marah atau di abaikan, ujung ujungnya Jaejoong akan melampiaskan rasa itu dan membuat sesuatu keributan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri. Jaejoong adalah kaca yang rapuh, hatinya selembut kulit bayi. Kau harus tahu itu." Yunho terkejut. Jadi semua tingkah Jaejoong yang usil hanya untuk mencari perhatian dan banyak cinta dari orang orang di sekitarnya.

Pemuda bodoh. Jaejoong tidak harus menghukum diri sendiri karena kesalahanya. Yunho benar benar tidak berguna karena ia kurang memahami Jaejoong dari seluruh teman teman di Shinki.

"Kita ke Klub Kojje." Yunho bangkit dan berlari ke pinggir lapangan dan menoleh kearah yang lain. "Aku butuh bantuan kalian untuk menyiapkan sebuah kejutan untuk Kittenku."

.

.

.

Jaejoong meliukkan tubuhnya dengan indah mengikuti alunan musik melow di antara puluhan orang lain yang juga menikmati musik yang mengalun indah di ruangan dengan cahaya temaram.

Malam baru saja di mulai namun Klub sudah di penuhi banyak pengunjung yang sebagian besar adalah pemuda pemuda yang mengikuti Jaejoong kesini. Jaejoong sudah di atas sana selama hampir dua puluh menit, meliukkan tubuhnya bersama para wanita yang jauh lebih dewasa di banding usianya yang berpakaian minim yang sesekali dengan sengaja membenturkan aset indahnya di salah satu bagian tubuh Jaejoong.

Yoochun dan Changmin memperhatikan tingkah nakal kucing liar itu dengan tenang. Asalkan tidak merugikan Jaejoong mereka tidak akan menyeret Jaejoong turun meskipun jauh di lubuk hati mereka itulah yang ingin mereka lakukan.

GD dan yang lain juga disana, setidaknya menjauhkan para seme yang menatap Jaejoong lapar sejak mereka memasuki klub ini dan lihatlah, mata mereka hampir saja copot ketika melihat kaos Jaejoong yang menempel di atas kulitnya karena pemuda itu berkeringat.

"Yoochun sebaiknya kita kesana, aku ingin menemani Jaejoong. Pasti seru!" Junsu berbicara. Pemuda itu seketika terdiam setelah Yoochun melemparkan tatapan tajam kearahnya. "Kalau kau berani turun, aku tidak akan lagi berbicara denganmu satu kata pun."

Younghwa datang dengan ketiga sahabatnya dan langsung duduk di kursi kosong di sekeliling Changmin. Pemuda itu menaruh sebuket bunga di atas meja. "Dimana Jongie."

Yoochun menunjuk dengan dagunya ke lantai dansa. "Sial, kenapa kau membiarkanya disana." Younghwa melompat dari kursinya untuk menerobos kerumunan daan menarik Jaejoong turun dari lantai dansa. Pemuda itu tidak berniat memberontak dan hanya tertawa sesekali ketika tubuhnya berbenturan dengan wanita wanita yang sengaja menjadikan tubuh mereka tembok penghalang di hadapan Jaejoong.

"Kenapa kalian diam disini, ayolah kita berdansa, Junsu..."Jaejoong menunjuk Junsu dengan jari telunjuknya. "Kita turun ke lantai dansa."

Junsu menggeleng."Maaf, aku lebih suka disini, bersama Yoochun. Duduklah disini Jongie." Pemuda manis itu bergeser lebih kedalam.

Younghwa mendudukan Jaejoong disisinya."Bunga untukmu manis, aku tahu kau sedang bertengkar dengan Yunho. Pemuda itu tidak tahu jika surat itu darimu, dan Yunho akan sangat senang kalau dia tahu kaulah yang menulisnya."

Mengambil segelas minuman di atas meja Jaejoong meneguknya sampai habis. "Kenapa kau membelanya, bukankah kau orang pertama yang melarangku melamarnya."

"Bukan membela tetapi bicara kenyataan, Yunho hanya tidak tahu bukan menolakmu." Younghwa mengeluarkan kotak merah dari saku jaketnya."Hadiah untukmu,"

Semua mata mendelik kearah Younghwa. Dan pemuda itu mengabaikan mereka. "Berikan cincin ini kepada Yunho besok. Lamar dia, ini hadiah dariku, meskipun itu bukan emas sungguhan." Ujarnya sedikit malu.

Terdengar tarikan nafas lega di sekeliling mereka. GD kembaki dan melemparkan tubuhnya untuj duduk di sisi lain Jaejoong. "Tenanglah Jongie, Yunho pasti menerima lamaranmu besok." Merangkul bahu Jaejoong pemuda yang sudah setengah mabuk itu mencium pipi Jaejoong cukup lama.

"Tidak akan ada orang yang akan menolakmu," Mereka di kejutkan oleh seseorang yang datang tiba tiba dan menarik tubuh GD dan mendaratkan tinjunya di wajah pemuda itu.

Tubuh GD terlempar ke lantai dan suara jeritan terkejut menghentikan semua kegiatan di sekeliling mereka juga musik pun berhenti. "Kalau kau berani menyentuh Jaejoong, aku akan mematahkan tanganmu, tidak peduli kau temanya atau bukan."

.

.

.

Yunho berdiri disana dengan wajah marah yang sangat kentara. GD mengumpat dan bangkit. "Apa apaan kau Jung."

"Itu karena kau telah berani menyentuh milik Jung Yunho. Dan aku belum membalas pukulanmu beberapa hari lalu."

Yunho memutar tubuhnya menghadap Jaejoong yang menatapnya terkejut. Sudah cukup ia bersabar dengan melihat tingkah konyol kekasihnya ini. Yunho sudah berdiri duduk di lantai atas jauh sebelum kekasihnya itu datang dengan segerombolan murid Shinki, Beika dan yang lain.

Yunho hanya memperhatikan Jaejoong di lantai dansa dan membiarkan kekasihnya itu bermain dengan para wanita yang sengaja menggodanya secara terang terangan. Dirinya sudah sangat bersabar dengan tidak mencekik mereka detik dimana mereka mendekati kekasih cantiknya itu. Andai saja tidak ada Seunghyun dan Siwon Yunho sudah mengusir mereka semua dari Klub, tetapi Yunho tidak mampu lagi merendam rasa cemburunya bahkan kedua sahabatnya itupun melongo saat melihat seorang pemuda yang ia tahu sahabat Jaejoong itu mengeluarkan kotak merah dan menyodorkanya untuk Jaejoong.

Jaejoong adalah miliknya mutlak, siapapun tidak bisa merebut Jaejoong dari Jung Yunho meskipun Jaejoong tidak benar benar mencintainya.

Sesampainya Yunho di lantai dasar ia dikejutkan lagi dengan seorang pemuda yang berani beraninya mencium Jaejoong. Yunho sudah siap membunuh seseorang ketika melayangkan sebuah bogem kewajah GD.

"Kenapa kau ada disini?" Jaejoong berdiri dan berkacak pinggang. "bukankah kau tidak mau menemuiku lagi." Sungguh Jaejoong gemas kepada Yunho yang seenak jidat Yoochun datang dan pergi dari hadapanya.

Yunho berkacak pinggang dan mendelik kearah teman teman Jaejoong yang menatapnya waspada. "Seharusnya aku yang bertanya untuk apa kau disini Kitten?"

"Jangan panggil aku Kitten, aku bukan Kittenmu juga bukan kucing siapapun, aku Kim Jaejoong Kingka Vanilla tertampan di seluruh Seoul." Suara Jaejoong menggema di ruangan klub yang hening. Pemuda itu benar benar terlihat sangat marah dan siap menerkam Yunho detik itu juga.

"Kau milikku, sampai kapanpun kau adalah milikku. Tidak akan ku biarkan siapapun merebutmu dari sisiku." Yunho mengatakan itu dengan sungguh sungguh, Jaejoong tahu.

"Tapi kau membuang surat dariku, Bear."Pemuda itu merendahkan suaranya. Tubuhnya terlihat lunglai dan jangan lupa wajah Jaejoong sudah memerah menahan tangis.

Jaejoong sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran Yunho, pemuda itu menyukainya tetapi mengabaikanya sore ini dan jangan lupakan bentakan Yunho tadi pagi di sekolah.

Mata musang Yunho mengerjab ketika ia mendengar satu kata yang tidak ia pahami. "Surat? Surat apa?" Ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan kekasihnya?

"Surat yang Changmin taruh di dalam lokermu, kau membuangnya." Menghentakkan kakinya marah Jaejoong mendaratkan pukulan di tubuh Yunho asal. Oh, ia akan membuat Yunho babak belur sampai tidak bisa jalan.

Yoochun maju untuk menyerahkan selembar surat yang sudah lusuh kepada Yunho. "Tenanglah Kitten, ia menarik Jaejoong untuk diam. Astaga pukulan kekasih cantiknya itu tidak sakit sesikitpun. Yunho menerima surat itu dan membukanya, surat itu telah sobek dan mata musangnya terbelalak.

"Ya Tuhan, surat ini kau yang menulisnya?"

"Tentu saja bodoh." Jaejoong mengayunkan kakinya dan menendang tulang kering Yunho sampai pemuda itu berteriak kesakitan. "Kau pikir dari siapa?" Mengusap wajahnya yang basah dengan lengan baju, Jaejoong menangis sesegukan. "Beruang gendut bodoh."

Tawa Yunho mengema di ruangan klub, semua mata menatapnya tidak mengerti dan hanya bisa menunggu Yunho terdiam. "Kau marah karena aku tidak menemuimu di lapangan, apa kau menungguku." Berjalan menghampiri Jaejoong, Yunho mengangkat tangan Jaejoong untuk menciumnya.

Pemuda itu menarik tanganya dan mendelik lebar, dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Yunho. "Tidak, kau mengatakan tidak akan datang jadi aku tidak kesana. Dasar bodoh." Berputar untuk menyambar sebuket bunga di atas meja Jaejoong melemparkan bunga itu kearah Yunho dan pemuda itu menangkapnya dengan cepat.

"Apa lagi sekarang Kitten?" pemuda itu memperhatikan bungan mawar merah. Merah tanda cinta!

Kembali menatap Jaejoong Yunho mendapati pemuda itu merebut kotak merah dari tangan Younghwa dan berlutut di hadapanya.

Tentu saja hal itu membuat seluruh mata mendelik terkejut juga geli di saat bersamaan melihat seorang Kim Jaejoong berlutut di hadapan Jung Yunho.

Jaejoong mengusap matanya yang basah dan berkata. "Aku tidak bisa membuat puisi atau syair tetapi aku hanya ingin bilang..."

"Tunggu." Yunho menyahut. Pemuda itu memperhatikan bunga di tanganya dan beralih ke wajah wajah geli di sekitarnya. Tuhan, ini sangat memalukan. "Kau tidak akan melakukanya."

"Oh, diamlah Bear, dengarkan aku..."

"Kau yang harus dengarkan aku. Bangun!"

"Diam, atau akan ku suruh Jiji dan Taepong mengigitmu." ancaman Jaejoong tidak sedikitpun membuat Yunho takut. Sungguh konyol, dirinya hanya tidak siap dengan apa yang akan di katakan Jaejoong selanjutnya, Yunho sudah menduga dan ...

"Menikahlah denganku Bear." Jaejoong berdiri dan mengulurkan sepasang cincin perak yang membuat Yunho menahan senyumanya.

Astaga, kekasihnya itu membeli barang konyol itu dari mana. "Aku tidak mau." Jawabnya. Menutup kotak itu dan melemparnya kembali kearah Younghwa dan dengan sigap menangkap kembali kotak itu.

Yunho berbalik dan berjalan kearah tangga. Jaejoong menatap punggung kekasihnya dengan mulut menganga lebar. "Kembali Beruang gendut, kau seharusnya menerima lamaranku dan tersenyum bahagia, karena aku Kim Jaejoong The Kingka yang melamarmu."

Yunho mengabaikan Jaejoong dan melambaikan tanganya memberi tanda kepada Siwon dan Seunghyun. Lampu klub padam dan munculah lampu sorot yang menyorot Jaejoong seorang.

Pemuda itu menggeryit dan memperhatikan sekeliling yang gelap gulita. "Apa apa'an ini." Melangkah maju Jaejoong mendapati lampu itu mengikutinya kemanapun dirinya pergi.

Seseorang menarik tangan Jaejoong dan menariknya untuk berbalik. Yunho tersenyum menatapnya sampai gigi pria itu terlihat. "Bear, kenapa tiba tiba lampunya mati? Aku benci gelap." Rengeknya. Lupakan kalau dia sedang marah kepada Yunho,m karena saat ini jantungnya berdebar kencang. Mungkinkah Yunho akan...

Yunho tidak menjawab. Pemuda itu membawan tangan Jaejoong ke bibirnya dan mendaratkan satu ciuman lama disana. "Will you merry me?"

Tangisan Jaejoong kembali pecah dan menggeleng. "Kenapa?" Yunho bertanya, pemuda itu terbelalak kaget dengan tangisan kekasih cantiknya.

"Karena kau juga menolak lamaranku tadi." Kedua tangan Yunho menahan kepala Jaejoong di kedua sisinya. "Will you merry me?" Jaejoong kembali menggeleng. "Kalau kau menggeleng kitten aku akan memberikan cincin ini pada Ga Eun." Yunho mengeluarkan sepasang cincin yang Jaejoong yakini sangat mahal di kedua tanganya.

"Will you merry me?"

Bibir pemuda itu mencebil lucu dan merebut cincin yang lebih kecil dari tangan Yunho. "Ini milikku dan kau juga milikku. Kita menikah." Memakai cincin itu di jari manisnya Jaejoong melemparkan diri kedalam dekapan Yunho. "Jangan pernah membentakku, tidak boleh pergi sebelum aku selesai bicara juga tidak boleh mengabaikanku kalau kau berani aku akan menceraikanmu sesudah menikah nanti." Bisiknya sebelum kembali menangis.

Sorak sorai dengan menyalanya lampu membuat keduanya tersadar mereka menjadi bahan tontonan bagi semua mata yang berada di sana. Jaejoong semakin menyembunyikan wajahnya di leher Yunho dan mengeratkan pelukanya. "Kita menikah setelah kita lulus, bagaimana?"

"Apapun untukmu." Yunho mencium kening Jaejoong dan memeluknya lebih erat. "Saranghae." Bisiknya.

Junsu memperhatikan kotak merah yang tergeletak di atas meja dan memungutnya. "Kau mau." Younghwa bertanya.

"Tidak." Yoochun menyahut. "Aku akan membelikan yang baru untukmu." Pemuda itu menatap Junsu dan merangkul bahu pemuda itu.

Changmin memutar bola mata. "Aku jamin Junsu akan bersedia." Dan benar saja. Pemuda itu mengangguk senang.

FIN

Maaf kalau endingnya kurang memuaskan. Ending gantung itu lebih seru.

*ketawa evil bareng Changmin.

Jangan bosen baca ff Sherry yang lain dan jangan lupa vote. *Bow

Kamsahamnida sudah ngikutin FF ini.