"Apa Anda bersedia menyerahkan kehidupan Anda dan berjuang demi membela negara ini?"
Suara elektronik menggaung di dalam ruangan gelap. Ia menelan ludah. Gugup. Takut. Namun pendiriannya takkan berubah.
"Ya, saya bersedia."
Bohlam kecil menyala redup di atas kepala, mempertemukan sepasang mata coklat itu dengan surat yang terletak di atas meja. Ternyata sedari tadi ia sudah duduk dengan posisi siap menulis, hanya kegelapan yang membatasi pandangan.
"Silakan tandatangani surat pernyataan ini."
Ia meraih pulpen di sebelah surat itu dan mulai menggurat takdirnya di sana. Selesai. Sekarang tidak ada jalan mundur lagi.
"Terima kasih, dan... selamat berjuang. Semoga kemenangan ada di pihak kita."
Sepenggal percakapan tanpa wajah itu kembali terbayang. Ia merutuk dirinya sendiri. Setengah berlari, ditariknya seragam sekolah yang terlalu pendek, berharap pahanya sedikit tertutupi. Tak dipedulikan gunjingan orang-orang yang menatapnya dengan sinis dan terkejut. Ia tahu gunjingan itu bukan ditujukan untuk pakaiannnya yang mini, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum ia ketahui.
Ia membuka pintu. Sesosok lelaki, tidak,satu-satunya lelaki di tempat ini tersenyum menyambutnya.
"Saya Yukikaze, kapal kedelapan dari Destroyer kelas Kagerou. Mohon bantuannya!"
.
.
.
10go
Kantai Collection © DMM/Kadokawa
(various pair, scifi/drama/romance/friendship/angst, T, canon)
(Warning: major spoiler and obvious charadeaths. Meskipun berdasarkan cerita nyata, saya mohon untuk tidak menggunakan fanfiksi ini sebagai contekan ujian sejarah Anda demi alasan apapun)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
Yukikaze memandang langit biru tanpa awan. Langit yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya penghuninya yang berbeda, bergerak, menuju tempat lain, hingga langit kehilangan makna. Yukikaze sadar tempatnya sekarang bukan kampung halaman yang damai dan tenang, dimana ia bisa melihat layang-layang beraneka warna di atas kepala. Semuanya sudah berbeda. Semuanya sudah –
"Yukikaze, musuh datang dari arah jam delapan!"
Seruan Nagato, Battleship terkuat di armada ini menyadarkan gadis itu. Seperti latihan-latihan sebelumnya, Yukikaze meluncurkan torpedo dari tas punggung yang sudah dimodifikasi. Tepat sasaran. Submarine Abyssal itu meledak dari dalam laut. Satu tembakan lagi. Satu Abyssal hancur.
"Kerja bagus, Yukikaze. Sekarang biarkan aku menangani sisanya," ujar Nagato sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu sebentar, lalu menembak Abyssal yang masih muncul dari berbagai arah. Bergantian dengan kapal lain, akhirnya laut berhasil bersih dari para Abyssal tersebut, menyisakan asap hitam membumbung di beberapa titik. Seluruh armada bersorak.
"Baiklah, kalian bisa kembali ke pangkalan." Suara elektronik yang terdengar dari pemancar masing-masing kapal menjadi akhir dari latihan pagi ini. Seluruh armada berbalik arah, dan merapikan pakaian yang sempat berantakan akibat serangan Abyssal. Tidak ada yang terluka, namun cukup melelahkan, mengingat mereka semua telah melawan musuh yang sama di tempat yang sama selama lima kali berturut-turut. Setidaknya ada satu yang terlihat bersemangat kali ini.
"Terima kasih, Ooyodo, meskipun aku tidak keberatan untuk satu latihan lagi, hehehe..."
"Ini perintah Teitoku."
"Oke, oke," jawab Yukikaze. Menyembunyikan lamunannya dalam senyum lebar. Sama seperti latihan-latihan sebelumnya, ia kembali mendapat skor tertinggi diantara kapal-kapal yang lain. Yukikaze melirik statusnya, tinggal sedikit lagi sampai ia mencapai level 20. Ingin sekali ia menghadap Laksamana dan memaksanya untuk latihan sekali lagi, kalau ia tidak melihat kondisi teman-temannya. Perjalanan pulang kali ini berlangsung dalam diam.
"Hei, Yukikaze," panggil Kiso yang meluncur di belakangnya. Yukikaze menoleh. "Kalau kau ingin sekali remodel hari ini, minta saja pada Teitoku untuk dimasukkan dalam jadwal PVP siang. Maaf aku tidak bisa menemanimu latihan kali ini, kau lihat sendiri, kami semua sudah di ambang batas. Kalau dipaksakan, salah satu dari kami akan rusak parah. Tenang saja, ada banyak teman-teman di PVP nanti, jadi kau tidak sendirian."
"PVP? Apa itu?"
"Sama seperti latihan yang kita lakukan, bedanya tidak ada yang tenggelam jika ada salah satu kapal yang rusak berat. Selain itu, skor yang didapat juga bervariasi. Kau tidak akan menembak Abyssal, tapi menembak temanmu sendiri. Semacam simulasi pertempuran, begitu. Kalau kau beruntung, kau bisa melakukan remodel hari ini, tergantung skor yang kaudapatkan nanti. Aku dulu juga begitu."
"Hmm... baiklah. Terima kasih atas sarannya, Kiso. Kau mau kemana setelah ini?"
"Aku? Paling ke Kafe Mamiya. Bosan kalau di kamar sendirian," jawab Kiso sambil mengangkat bahu. Yukikaze mengangguk. Kiso adalah salah satu dari sebagian kapal yang mendapatkan kamarnya sendiri, padahal kalau seandainya dibolehkan, ia pasti akan sekamar dengan teman dari kelas yang sama seperti Kuma atau Tama. "Nagato, mau ikut?"
"Boleh juga. Kebetulan aku lapar. Bagaimana denganmu, Yuubari, Kaga, Akagi?"
"Kebetulan sekali, aku tidak ada jadwal apapun setelah ini~" jawab Yuubari sambil menepukkan telapak tangan. Kaga dan Akagi ikut mengangguk setuju. "Baiklah, sampai bertemu lagi, Yukikaze. Oh iya, titip salam untuk Akashi kalau kau jadi di-remodel hari ini."
Yukikaze mengacungkan jempol sebelum mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda. Remodel adalah saat-saat yang ditunggu oleh setiap kapal, karena mereka akan mendapat perlengkapan baru, selain itu kemampuan mereka juga lebih tinggi daripada sebelumnya. Remodel hanya dapat dilakukan ketika suatu kapal mencapai level tertentu, dalam kasus Yukikaze, 20. Beberapa kapal juga mendapat kesempatan untuk di-remodel dua kali, sehingga mereka menjadi jauh lebih kuat daripada yang lain, bahkan mendapat seragam baru. Kiso termasuk salah satu yang mendapat remodel kedua, dan kostumnya lebih gagah daripada sebelumnya. Ia sangat beruntung dapat berlatih bersama teman-teman yang lebih berpengalaman, berbeda dengan dirinya yang secara harfiah anak kemarin sore. Yukikaze masih ingat bagaimana ekspresi Laksamana saat mereka pertama kali berjumpa, dan bagaimana Yukikaze harus menjalani latihan berturut-turut demi remodel tersebut. Meskipun kelihatannya kejam, namun Yukikaze tahu itu demi kebaikan dirinya sendiri. Lagipula... kalau Yukikaze tidak salah ingat, kapal level 99 bisa menikah dengan Laksamana –
Yukikaze menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan ide tersebut dari kepala sebelum ia mengetuk pintu.
"Silakan masuk."
Gadis berambut coklat itu melangkah masuk dengan ragu-ragu, dan mendapati sesosok lelaki yang ia kenal duduk di belakang meja. Tumpukan dokumen menghalagi sebagian muka, meskipun Ooyodo sudah membantu untuk menyortirnya. Gadis berkamata itu sebenarnya adalah Light Cruiser, namun setelah ia mencapai level 99, Laksamana melarang Ooyodo untuk turun ke medan perang dan menjadikannya sebagai sekretaris. Yukikaze tidak paham mengapa pemuda itu tidak menikahi Ooyodo sekalian –toh mereka selalu bersama sepanjang waktu, kecuali malam, tentu saja.
"Yukikaze, berhasil kembali tanpa suatu kekurangan apapun! Ini semua berkat Anda, Shireikan," seru Yukikaze riang. Shireikan adalah salah satu panggilan untuk Laksamana, karena tidak ada yang tahu nama aslinya. Shireikan dan Teitoku memiliki arti yang sama.
"Terima kasih, Yukikaze. Ada lagi yang bisa kubantu?"
"Uhm... karena sebentar lagi saya mencapai level 20... bisakah saya dimasukkan dalam daftar PVP siang?" tanya Yukikaze cepat-cepat, bermaksud untuk tidak gugup namun berakhir gagal. Laksamana tertawa.
"Hahaha, baru saja aku ingin mengatakannya padamu! Tentu saja, Yukikaze, tempatnya ada di gerbang utama. Katakan pada Katori kalau aku yang menyuruhmu datang kesana. Setelah itu, datanglah ke gudang Akashi di sebelah utara, ia yang akan membantumu untuk remodel nanti."
"Te-terima kasih, Shireikan! Saya akan bekerja keras!"
Pemuda berseragam putih itu bangkit dari kursi dan berjalan ke arah Yukikaze. Gadis itu tak tahu apa yang Laksamana lakukan hingga puncak kepalanya terasa hangat.
"Shireikan?"
Laksamana tersenyum, tangannya masih menepuk-nepuk lembut kepala Yukikaze. Ia tidak menyangka pemuda yang Yukikaze kenal sebagai seseorang yang tegas dan disiplin dapat berlaku demikian, apalagi sampai menunjukkan afeksi terang-terangan. Yukikaze menggigit bibir, takut debar jantungnya yang semakin tidak teratur dapat terdengar Laksamana.
"Shi-Shireikan..."
Yukikaze kini dapat merasakan desahan lembut di telinganya, membuat seluruh wajahnya memanas.
"Kita akan berjuang bersama hingga kau mencapai level 99," bisik Laksamana dengan suaranya yang berat, tepat sebelum Yukikaze meninggalkan ruangan.
-10go-
Langkah demi langkah dilalui Yukikaze dengan gundah. Detak jantungnya belum tenang hingga sekarang, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatnya kembali seperti semula. Padahal ia tidak terlalu sering bertemu dengan Laksamana, hanya setiap kali dirinya menjadi pemimpin armada untuk diberi sedikit pengarahan. Yukikaze kembali mengingat-ingat apa yang terjadi dengan Laksamana beberapa hari sebelumnya hingga ia bertingkah demikian. Kalau tidak salah... Ooyodo pernah bilang kalau Laksamana sudah lama mencari dirinya, namun baru kesampaian sekarang. Pantas saja kalau ia sangat bersemangat, batin Yukikaze sambil mengusir pikiran yang tidak-tidak. Baru beberapa meter dari ruangan Laksamana, sebuah suara terdengar dari balik tikungan. Yukikaze yang hendak berbelok mendadak berhenti, mendengarkan suara tersebut dengan seksama.
"Siapa tadi yang baru saja masuk ke ruangan Laksamana?"
"Masa' kau tidak tahu? Itu lho, Yukikaze. Kapal baru kesayangan Laksamana."
"Memang apa bagusnya dia? Perlengkapan bawaannya saja tidak ada yang spesial."
"Kudengar sejak dia datang ke pangkalan ini, Laksamana selalu menyuruhnya berlatih setiap hari. Pasti untuk mengejar target remodel."
"Hah? Remodel? Kau bercanda? Dia bahkan tidak punya remodel kedua! Kenapa harus dikejar?"
"Mungkin... untuk keberuntungan?"
"Baca lagi buku sejarahmu, dasar bodoh! Keberuntungannya justru membawa kesialan bagi kapal lain? Tidakkah kau ingat insiden kekalahan waktu itu –"
Yukikaze perlahan mundur, tidak jadi melewati belokan tersebut. Bukan pemandangan baru sebenarnya, tapi tetap saja, gunjingan tersebut tidak enak untuk didengar. Ia paham, sejak pertama kali menandatangani surat tersebut, bahwa dirinya akan menjadi Yukikaze. Kapal perang keberuntungan di masa lampau. Yukikaze tidak terlalu ingat detailnya, tapi... yang jelas, anugerah seperti ini bukan tidak mungkin akan membuat kapal-kapal lain iri. Yukikaze tidak peduli. Jika mereka dianugerahi remodel kedua atau perlengkapan yang langka, maka seharusnya mereka tidak perlu iri dengan keberuntungan Yukikaze, iya kan?
Atau ada sebab lain?
"Selamat siang, Yukikaze. Uhm... kau terlihat kusut." Katori, gadis instruktur yang dimaksud Laksamana tadi mengulurkan tangan. Rupanya ia sudah tahu tentang berita kehadiran Yukikaze. Gadis berambut coklat itu tersenyum kecut.
"Ah, tidak apa-apa, kok, Katori-san. Ngomong-ngomong, salam kenal. Aku Yukikaze –"
"Ya, ya, aku sudah tahu. Semua orang membicarakanmu, Yukikaze! Kau adalah kapal yang selama ini dicari-cari oleh Teitoku, tak heran kalau beliau membawamu kemari. Pasti setelah ini, kita akan semakin sering bertemu," celoteh Katori riang.
"Eh? Benarkah? Kukira karena keberuntunganku atau apalah itu namanya..."
"Itu juga salah satu faktor, tapi yang jelas, Teitoku tak pernah sebahagia ini sejak terakhir kali ia menikahi Yamato-neesama."
Itu dia.
Itu yang membuat Yukikaze harus menelan mentah-mentah perasaannya. Di pangkalan ini, hanya Laksamana yang berjenis kelamin berbeda, itupun juga sudah menikah dengan Yamato saat Yukikaze pertama kali tinggal di sini. Ia pernah bertemu dengan Yamato sekilas, dan gadis itu jauh, jauh sekali melebihi ekspetasi Yukikaze. Ia adalah Battleship paling langka, paling besar, dan paling cantik dari seluruh kapal yang ada, meskipun harus didapatkan dengan susah payah dan jatah makannya melebihi Akagi. Cincin emas putih yang melingkar di kelingkingnya semakin menambah keindahan gadis itu. Yamato seperti dewi yang turun dari khayangan, diidolakan oleh setiap orang dan mendapat akhir yang bahagia.
"Tapi... kudengar Teitoku baru saja membeli cincin di toko Akashi," gumam Katori lagi. "Untuk apa ya? Memangnya beliau dibolehkan Yamato untuk menikah lag –"
"A-apa?! Darimana kau mendengar berita itu, Katori-san?" tanya Yukikaze panik sambil mengguncang-guncang bahu sang instruktur.
"Dari Akashi sendiri –hentikan, Yukikaze! Kau bisa tanya sendiri kalau kau mau. Sudah, PVP mau mulai, cepat berbaris di sana dan siapkan perlengkapanmu!"
"Ba-baik!"
-10go-
"Selamat datang, Yukikaze. Akhirnya kau remodel juga, eh?" sapa Akashi begitu gadis itu memasuki gudang. Sebenarnya tidak tepat jika ruangan ini disebut gudang... mengingat tempatnya yang sangat bersih dan rapi, jauh dari kata-kata berantakan dan kotor yang selalu menjadi ciri khas gudang. Warna putih mendominasi ruangan, termasuk ranjang yang diletakkan berderet-deret dan tirai yang membatasi mereka. Kalau Laksamana tidak memasang papan tanda 'Gudang' di depan pintu, mungkin Yukikaze akan salah mengira sebagai ruang kesehatan.
"Kau juga tahu, Akashi..." ujar Yukikaze lemas. Bahkan jika dilihat dari alurnya, bukan tidak mungkin kalau gadis berambut merah jambu itu adalah bandar gosipnya.
"Tentu saja! Aku sudah menduga hal semacam ini akan terjadi... jadi, siap-siap saja menginap di gudangku lebih sering! Dengan kemampuanmu yang sekarang, kujamin kau tidak akan berakhir di pemandian, hahaha..."
"Pemandian? Menginap di gedung? Aku tidak mengerti."
"Kau... tidak pernah masuk pemandian sebelumnya?" Akashi menganga dan mundur selangkah saking terkejutnya. "Kau... benar-benar kapal keberuntungan seperti yang dikatakan orang-orang! Pemandian hanya dikhususkan bagi kapal-kapal yang mengalami kerusakan, terutama kerusakan berat dan sedang. Kalau hanya kerusakan ringan atau lecet-lecet, mereka bisa menginap di sini. Karena itulah banyak ranjang di 'gudang' ini, selain sebagai tempat untuk melakukan remodel dan bongkar pasang perlengkapan."
"Oh, begitu... lalu, dimana semua perlengkapan yang kausimpan?"
"Ada di sebelah sana," jawab Akashi sambil menunjuk pintu di sudut ruangan. "Jika kau mencari gudang yang sesuai dengan bayanganmu, tempat itu adalah jawabannya. Isinya penuh dengan perlengkapan-perlengkapan, aku saja baru saja kembali setelah menyortirnya. Mungkin aku akan mengajak Yuubari untuk membantu setelah ini. Oh iya, ngomong-ngomong, tadi pagi kau juga berlatih dengannya, kan?"
"Ya ampun, aku baru ingat! Yuubari menitipkan salam untukmu, Akashi! Meskipun aku tidak tahu apa hubungan kalian berdua sampai kau menceritakannya sendiri..."
Akashi tertawa. "Yah, sejak dulu kami memiliki ketertarikan terhadap perlengkapan. Aku kan memang kapal khusus yang disiapkan untuk hal ini, sementara Yuubari jarang turun di medan pertempuran karena statusnya tidak begitu bagus, jadi kami berdua sering menghabiskan waktu berdua di sini. Ia juga membantuku menjaga gudang kalau aku disuruh pindah menjaga toko."
Yukikaze langsung teringat perkataan Katori tadi. "Berarti... tugasmu menjaga dua tempat sekaligus, gudang ini dan toko? Memang apa yang kaujual?"
"Macam-macam. Biasanya sih reso, furnitur dan cincin –"
"Berarti benar kata Katori kalau Teitoku baru saja membeli cincin baru?" potong Yukikaze tak sabar. Akashi menghela napas sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Sayang Teitoku tidak memberitahuku siapa yang akan ia nikahi... meskipun aku sudah dapat banyak gambaran. Yang jelas, kemungkinan calon istrinya adalah para kapal yang telah mencapai level 99, namun tidak menutup kemungkinan kalau ada kapal lain di bawah level itu. Kita takkan tahu sampai hari H-nya tiba. Yah, setidaknya aku tahu kalau Yamato-neesama tidak keberatan untuk dimadu."
Samar-samar Yukikaze teringat sosok gadis yang mendampingi Laksamana di dalam ruang kerjanya. Ya. Kalau memang benar Laksamana akan menikahi salah satu dari gadis kapal di pangkalan ini, kandidat utamanya tentu saja yang sudah berlevel siap nikah. Tinggal kasih cincin, beres perkara. Tidak perlu repot-repot menaikkan level dulu. Seingat Yukikaze, masih ada beberapa kapal lain yang menjadi calon potensial...
"Kau tahu, begitu Kongou mendengar kabar ini, ia langsung loncat-loncat di ranjangku! Maniak Inggris itu... ia berlari begitu saja dan memberitahukan orang-orang, padahal sudah kubilang untuk tidak membocorkannya sampai ada pengumuman resmi dari Teitoku sendiri." Akashi geleng-geleng kepala, mengabaikan wajah pucat Yukikaze. "Haruna dan Shoukaku lebih tenang, sih. Kitakami juga, meskipun kurasa ia akan memilih Ooi kalau seandainya ditawari cincin oleh Teitoku."
Tunggu... jangan-jangan... mereka semua adalah...
"Eh? Apa aku belum bilang padamu kalau mereka semua telah mencapai level 99?"
-10go-
Berbeda dengan mayoritas kapal yang berakhir bahagia setelah di-remodel, Yukikaze berjalan gontai menuju kamar. Ia paham bahwa Laksamana diperbolehkan menikah lebih dari satu kapal, asal mampu membeli cincin yang harganya selangit itu. Cincin pertamanya gratis dari pemerintah, sehingga Laksamana mampu meminang Yamato yang notabene primadona semua orang. Apalagi sejak ia berstatus sebagai istri Laksamana, statusnya yang sudah tinggi meroket tajam, membuat ia satu-satunya kapal terkuat yang ada di pangkalan ini. Yamato juga dibebastugaskan dari seluruh jadwal, dan hanya berpartisipasi di pertempuran besar. Mungkin saking sayangnya dengan istri hingga takut ada apa-apa, batin Yukikaze sedikit kecewa. Ia kira semua kapal yang di-leveling alias ditingkatkan levelnya hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk menikah. Ternyata berdasarkan penjelasan Akashi, Laksamana adalah tipe yang meratakan kekuatan per individu, sehingga tidak ada yang tertinggal saat pertempuran nanti. Hampir seluruh kapal yang sering digunakan Laksamana untuk bertempur di pangkalan ini berlevel antara 80-90, sisanya karena ekspedisi. Shimakaze, teman sekamar Yukikaze, salah satu yang naik level hingga 60 karena ekspedisi.
"Haah... kecepatanku akan menjadi percuma kalau digunakan ekspedisi saja..." keluh Shimakaze setelah membanting diri ke atas ranjang. Yukikaze tidak berkomentar.
"Hei... Yukikaze. Kenapa kau diam saja di pinggir jendela seperti orang bodoh, sih? Bersiap-siaplah, sebentar lagi waktunya makan malam."
Senja yang menerangi kamar dengan merah gelap perlahan memudar. Laut di seberang jendela masih indah seperti biasa, tak peduli dengan pertempuran yang terjadi di permukaan –
"Shimakaze... jika semua perang ini tidak ada, apa kau masih tinggal di pangkalan ini?"
Hening.
"Tentu saja, bodoh! Apapun akan kulakukan demi meraih cinta Teitoku!"
Sudah kuduga, batin Yukikaze. Semua level tinggi ini menunjukkan bahwa para kapal bersaing agar dapat bersanding di sisi Laksamana, meskipun Laksamana sendiri mungkin berpandangan lain. Yukikaze yang baru saja level 20 merasa tidak spesial lagi jika dibanding dengan rekan-rekannya, apalagi dengan calon istri pemuda tersebut. Mungkin ia lebih pantas diletakkan di tim ekspedisi bersama Shimakaze dan yang lainnya...
"Tuh, kan, lagi-lagi kau melamun sendirian," tegur Shimakaze sambil menepuk bahu teman sekamarnya. "Ada apa? Kau masih memikirkan tentang Abyssal?"
"Euh, tidak, sebenarnya aku –"
Kini Shimakaze ikut-ikutan menopang dagu dan memandang deburan ombak di balik jendela. "Kalau kau ingin tahu jawaban seriusku, jawabannya... aku tidak tahu. Mungkin aku akan bersekolah seperti dulu, bekerja paruh waktu, lalu pulang ke rumah. Adikku menunggu di sana... tidak, mungkin ia menungguku di surga..."
"Aku benci perang, Yukikaze. Aku benci terhadap Abyssal yang sudah merusak kampung halamanku, memaksaku untuk bertempur, padahal dulunya aku adalah warga sipil yang lari ketakutan kalau berhadapan dengan preman. Sudah tidak ada jalan mundur lagi. Satu-satunya yang dapat kulakukan adalah berjuang sekuat tenaga, meskipun setelah perang ini selesai, aku tidak mungkin menjalani kehidupan seperti dulu..."
Yukikaze terdiam. Ternyata tidak hanya dirinya yang memiliki nasib serupa, dimasukkan secara paksa ke dalam pangkalan angkatan laut. Selama ini ia mengira akan dilatih ala militer yang merambat-rambat di atas lumpur, atau menembak, atau panduan dasar bertahan di dalam hutan. Bagian menembaknya memang benar, namun dengan cara yang berbeda. Di sini, dengan seluruh Abyssal yang menjadi musuh Bumi, para wanita berusia produktif diwajibkan untuk mengikuti pelatihan militer dan bergabung dengan para tentara sebagai garis depan pertahanan negara. Bedanya, jika tentara biasa menyerang sebagai manusia, maka Yukikaze dan yang lain menyerang dalam perwujudan sebuah kapal, lebih tepatnya kapal zaman dulu yang direka ulang dan dimodifikasi. Hanya wanita yang dapat menggunakan perlengkapan ini, sehingga sebelum mereka mengikuti pelatihan tersebut, mereka akan menandatangani surat persetujuan bermaterai sebagai penyerahan diri. Petugas kesehatan akan menyuntik mereka agar sistem kerja tubuhnya berubah, lalu memasangkan perlengkapan tersebut sambil menunjukkan replika kapal yang akan menjadi tubuh baru mereka. Yukikaze tertawa saat mengingat salah satu film heroik zaman lawas dimana sang pahlawan yang dulunya kecil dan kurus itu menjadi percobaan pemerintah dengan cara disuntik formula khusus, sehingga ia berubah menjadi kuat dan berotot. Ternyata dalam dunia nyata tidak sesederhana itu.
"Sudahlah, meratapi susu tumpah tidak ada gunanya. Ayo, Yukikaze, kita takkan kebagian tempat duduk kalau tidak berangkat sekarang!" ajak Shimakaze sambil menarik lengan teman sekamarnya.
"A-ah, Shimakaze, tunggu!"
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Hai, salam kenal! Nama saya Michelle Aoki, pengelana fandom meskipun belakangan ini jarang nulis gara-gara... main kapal hehe. Yes, I'm in love with this game! Mungkin kalo lagi beruntung bisa ketemu saya di server Brunei dengan nama切刃丸, meskipun saya bukan ranker sih... bahkan sekarang baru masuk tier 4 gara-gara summer event kemarin.
10go adalah fanfic pertama saya di fandom ini, sekaligus proyek terbaru saya saat ini. Sengaja saya buat pendek-pendek biar headcanon-nya bisa disebar di setiap chapter, jadi ga numpuk di satu tempat hehe. Selain itu fokusnya di 50% drama dan 50% action, jadi maaf banget kalo keliatannya rada boring... iya saya tau kok, saya ga bisa bikin drama huhu. Mungkin nanti kedepannya bakal saya tingkatin lagi porsi action-nya. Terus... sebisa mungkin saya berusaha objektif dan memahami sifat tiap kapal, meskipun ada beberapa yang belum saya punya kayak gerombolan siberat (Yamato, Bismarck, Musashi) dan reward ship yang sampe sekarang belum kedengeran kabarnya (Prinz Eugen, Akizuki dkk) makanya nanti kapal-kapal yang jadi karakter utama saya pilih yang udah mainstream kayak Shimakaze, Kongou dkk. Sisanya tetep ada, tapi cuma sebagai figuran hehe. Kalo kudu plek sama sejarah kasian dong kalo ada yang belum punya :")
DI fanfic ini juga ada beberapa trivia yang bisa kalian dapatkan jika bermain gamenya, tapi kalau kalian nggak main juga tidak apa-apa... trivia ini tidak menganggu plot secara keseluruhan. Misalnya, tempat dimana Yukikaze dkk melakukan latihan berdasarkan armada mereka. Lalu wajah dan nama Teitoku sendiri sengaja tidak saya tampilkan, demi keadilan bersama. Kalau suka-suka saya yaa entar ttk-nya saya buat cewek dong~ cuma sayangnya saya ga bisa bikin shoujo-ai haha.
Oh iya, satu pengumuman penting. Tidak ada yuri/shoujo-ai disini, kecuali hints canon seperti Kitakami-Ooi dan sister ships lain. Bukan apa-apa, cuma saya gerah kalo banyak yang nganggep Kancolle itu isinya yuri semua (meskipun ga sepenuhnya salah sih... liat aja danbooru atau situs-situs doujin lain).
Btw... saya masih bingung soal penggunaan istilah. Mau full jepang, full english, atau full indo? Soalnya ada beberapa kata yang ga ada translasinya, kayak Reppuu dkk... atau kombinasi 2 kata? Misal jepang-indo atau inggris-jepang gitu... mohon dijawab di kolom review dengan amat sangat, soalnya bakal saya pake di chapter 2 dan seterusnya. Makasih banyak :"D
PS: calon istri saya di dalam game bukan Yamato. Coba tebak. Ada 4 kandidat, dan petunjuknya: 2 CL 1 CA 1 AV. Semuanya memiliki kelas sendiri, dan dua dari mereka udah muncul di fanfic ini. Siapapun yang berhasil menebak akan saya mention di chapter berikutnya xD
