'Sebelumnya'

"Ini adalah akhir untukmu. Phenex…. Jangan salahkan aku atas apa yang menimpa dirimu …. Salahkan dirimu sendiri yang selalu bersikap sombong dan arogan."

Naruto kemudian bersiap untuk melemparkan Rasenshuriken miliknya ke arah Riser yang kini masih tak bergeming dari posisinya. Bahkan untuk mengangkat kepalapun dia tak melakukannya dan Naruto tak terlalu peduli akan hal itu.

"Ini …. Adalah akhir …. Phenex." Dan Naruto-pun langsung mengambil ancang – ancangnya.

'RasenShu-…."

.

.

"Hentikan…."

'Grep'

.

.

.

.

One Ok Rock_-_Sonzai Shomei

.

Atarashi_Seikatsu

DISCLAIMER : I Don't own Naruto and High School DxD.

Author : Hyosuke Ryukisi™

Rating : T+ and semi-M (untuk kata – kata kasar)

GENDRE : Adventure, Romance, Family, Drama, Fantasy, Humor.

Pair : Naruto x Seiren(OC) x Naomi(OC) x (Ra-ha-si-a)
Shika x Sona

Warning(s) : AU, Semi-Cannon, Mainstream, Typo(s), OOC, Bahasa tidak baku, dan berantakan.

Summary : Mereka berdua menjadi kunci keselamatan dunia. Mereka kini menempuh sebuah takdir baru yang menuntut mereka harus terlibat dengan Tiga Fraksi Akherat. Menjadi perwakilan Manusia, dan membentuk tim untuk menempuh takdir mereka. Cinta, dan teman baru mewarnai kehidupan mereka. Mampukah mereka menempuh takdir baru mereka itu.

.

.

.

"Normal"
"Thinking"
"God/Bijuu/Monster"
'Jutsu'
'Efek'

.

.

.

Chap 15
Akhir dari Semua Masalah
.

.

.

.

.

Apapun yang akan dilakukan olehnya, langsung terhenti dan tak berlanjut, saat seseoang langsung memeluknya dari belakang. Naruto terdiam, RasenShuriken yang sudah siap dia lemparkan, langsung tertahan karena hal itu, meski kini RasenShuriken itu masih terus mengeluarkan suara bisingnya karena sang empunya yang sama sekali tak menghilangkannya.

Naruto diam, raut mukanya masih datar, tak mengeluarkan ekspresi apapun. Namun, Naruto sedikit bereaksi saat dia kini bisa merasakan baju bagian belakangnya kini mulai basah. Ditambah juga, dia kini bisa mendengar suara isakkan tangis dari belakangnya. Meski suara yang dikeluarkan oleh Jutsunya sangatlah nyaring, entah kenapa dia masih bisa mendengar suara isak tangis itu. Tapi, itu hanya sesaat saja karena Naruto kembali ke ekspresi datarnya.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto angkat suara dengan datarnya "…. Meminta pengampunan atas kakakmu…." Naruto berucap dengan sinis saat mengatakannya.

Sementara, perempuan di belakangnya yang merupakan Ravel Phenex, sang adik dari Riser itu tak menjawab. Namun, suara tangisnya kini benar terdengar oleh pendengaran Naruto. Dan Naruto masih tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

"H-Hiks…. Hiks …. A-Ampuni …. Hiks …. Onii-sama…" Ravel berkata dengan memohon pada Naruto, disertai dengan isak tangisnya.

"Jangan harap aku akan mengampuninya setelah apa yang telah dia perbuat…." Naruto mengucapkannya dengan dingin dan menekan setiap perkataannya "….Jadi, lepaskan aku sekarang juga…." dan nada sedikit kemarahan terdengar dari suaranya.

Bayangan Seiren yang menampakkan raut kesaktiannya saat terkena serangan Riser, kini kembali berputar dalam ingatannya, dan itu membuatnya semakin marah, hingga tanpa sadar itu membuat Naruto kembali meningkatkan tekanan energinya. Dan hal itu membuat Ravel yang memeluknya menjadi bergetar, Namun dia masih terus memeluk Naruto tanpa ingin melepaskannya.

"A-Aku m-mohon …. Hiks …. A-Ampuni O-Onii-sama…." Ravel kembali meminta pengampunan atas kakakknya. Naruto tak langsung menjawab, kini dia menatap ke arah Riser yang masih pada posisi sebelumnya dengan tatapan datar dan dingin.

"Kenapa aku harus mengampuninya?" Naruto bertanya dengan dingin pada Ravel. Sementara Ravel langsung melepaskan pelukannya pada Naruto, dia kini dengan perlahan mulai melangkahkan kakinya dan langsung berdiri tepat 1 meter di depan Naruto. Kepalanya dia tundukkan dan membuat ekspresi wajahnya terhalang oleh poni rambut pirangnya. Namun, air mata masih nampak keluar dan menetes dari dagunya.

Naruto yang melihat hal itu, sama sekali tak mengeluarkan ekspresi apapun. Dia masih tetap mempertahankan ekspresi datarnya, bahkan postur tubuhnya masih seperti semula, dengan RasenShuriken yang berada di tangan kanannya.

"Aku mohon …." Naruto sedikit terkejut saat Ravel yang ada di depannya kini langsung berlutut "…. Aku mohon maafkan Onii-sama …. Dia hanyalah iblis yang sudah termakan akan egonya. Dan membuatnya lupa dengan segala hal …. Jadi aku mohon maafkan Nii-sama."

Naruto tak tau harus berbuat apa sekarang. Dihadapkan dengan permohonan maaf dengan berlutut seperti ini, tak pernah dia alami sebelumnya. Meskipun dia juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Ravel saat dia meminta pengampunan atas sahabatnya Sasuke pada Raikage di dunia Shinobi dulu. Namun, ekspresi terkejutannya tak bertahan lama, karena ekspresi itu langsung menghilang dan kembali, Naruto memasang ekspresi datarnya.

"Iblis arogan seperti kakakmu sudahlah sepantasnya mendapatkan sebuah hukuman berat dan tak harus ada sebuah pengampunan." Nada datar Naruto membuat Ravel terdiam. Tubuhnya kian bergetar, dia kemudian langsung bersujud di hadapan Naruto yang kini sedikit membulatkan matanya.

Naruto langsung terdiam, RasenShuriken di tangannya kini mulai mengecil dan perlahan lahan mulai menghilang. Mata birunya kini langsung menatap Ravel yang masih bersujud di hadapannya.

"Kenapa kau melakukan hal sampai sejauh ini…?" Naruto bertanya dengan datar pada Ravel.

"Hiks …. Hiks… D-Dia adalah K-kakak-ku … hiks …. Dan aku adalah adiknya…. J-jadi aku juga harus m-melakukan apapun a-agar kakakku baik- baik s-saja …. Lagipula dia sudah cukup menerima hukumannya …. Jadi …. Hiks … aku m-mohon a-ampuni k-kakakku…. A-Aku mohon." Ravel berujar dengan lirih dengan isak tangis yang keluar dari mulutnya.

Naruto diam cukup lama setelah mendengar perkataan panjang dari Ravel. Mata biru yang mempunyai satu tomo itu kini mulai berputar perlahan mengelilingi pupil matanya. Sementara Ravel sendiri masih mempertahankan posisinya yang bersujud di hadapan Naruto.

'Whit Gremory and Phenex Lord'

Di tempat podium utama, Sirzechs dan kedua pemimpin dari clan Gremory dan juga Phenex, terus memperhatikan kejadian itu dari tempat mereka. Sirzechs terlihat tak mengeluarkan ekspresi apapun di wajah tampannya, dan begitupula dengan Lord Phenex. Namun, meski Lord Phenex hanya berekspresi datar, tatapan khawatir masih terlihat dari sorot matanya. Sementara Lord Gremory masih tetap tenang di tempat duduknya.

"Aku tidak menyangka Ravel akan melakukan hal sampai sebegitunya…" Lord Phenex adalah yang pertama memecahkan keheningan dari ketiganya. Lord Gremory mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Lord Phenex.

"Anda benar …. aku benar – benar terkejut, atas tindakan Putri bungsu anda yang sampai – sampai harus bersujud hanya untuk meminta pengampunan atas Riser…. Sepertinya dia memang benar – benar menyayangi kakaknya." Lord Gremory menyahutnya dengan juga rasa heran atas Ravel.

"Hahhh …. Anda benar Gremory-dono …. Ravel memang bisa dikatakan adalah adik yang lebih menyayangi Riser dari pada Ruval…. Meskipun Aku dan Istriku mempunyai kekecewaan atas watak Riser yang sungguh menjadi iblis yang sangat arogan dan penuh dengan kesombongan…. Ravel masih tetap menyayanginya" Ujar sang Lord Phenex dengan helaan napas berat.

"Yah …. Namun, yang masih membuatku bingung sampai sekarang adalah…. Kenapa Riser bisa berubah menjadi arogan seperti sekarang?" Lord Gremory mengatakan kebingungannya atas sifat dari putra Lord Phenex itu.

"Itu juga masih menjadi tanda tanya besar untukku Gremory-dono…." Lord Phenex mengatakannya dengan lesu. Sepertinya Lord Phenex itu juga masih belum mengerti betul kenapa putranya bisa menjadi arogan dan sombong seperti sekarang "…. Dan aku berharap aku mengetahuinya, dan juga …. Semoga saja setelah ini dia bisa tersadar atas kesalahannya…" Tambah sang Lord Phenex.

"Semoga saja…."

Sementara Sirzechs, dia kini hanya diam masih dengan ekspresi datar memperhatikan apa yang kini di tampilkan pada layar yang menampilkan ravel yang masih bersujud di hadapan Naruto. Dan juga kini keadaan di podium penonton, semua Iblis hanya terdiam hening. Semua iblis yang menonton hanya terdiam tak mengucapkan apapun, dan itu membuat kini keadaan di Stadium Khusus Arena itu menjadi hening.

'Back To Arena'

Naruto masih tak bergeming, dia hanya berdiam dengan postur tegap menatap Ravel yang masih bersujud di depannya dengan mata biru bertomo miliknya.

"A-Aku m-mohon maaf atas kakakku…" Suara Ravel kembali terdengar di pendengarannya. Namun, tak ada ekspresi berarti yang dikeluarkan oleh Naruto setelah Ravel terus mengucapkan kata maaf untuk kakaknya.

"Apakah dengan melepaskannya …. akan bisa membuatnya menghilangkan sifatnya?" Naruto bertanya masih dengan dinginnya. Sementara Ravel yang mendengar itu langsung menegakkan posisinya menjadi berlutut dan menatap Naruto dengan penuh harap.

"O-Oni-sama …. P-Pasti a-akan-…."

"Hentikan omongan tidak bergunamu itu …. Ravel"

Suara penuh penekanan itu langsung menghentikan apa yang akan di katakan oleh Ravel. Naruto dan juga Ravel langsung mengalihkan tatapan mereka pada Riser yang mengucapkan perkataan kasar barusan. Ditempat Riser, dia kini tengah bangun dari posisinya, luka yang ada di sekujur tubuhnya kini sudah menghilang dan tak meninggalkan bekas sedikitpun.

Sepertinya Riser memanfaatkan kesempatan beregenerasi saat Ravel tengah bercakap – cakap dengan Naruto. Sementara Ravel langsung menatap kakaknya itu dengan penuh rasa bersyukur, namun tak dapat dipungkiri raut sedih kini juga nampak pada wajahnya. Dia sepertinya sangat terpukul atas perkataan kasar dari kakaknya. Sementara Naruto, langsung menatap Riser dengan tajam, Tomo pada matanya kini kembali berputar dengan ganasnya.

"O-Onii-sama…." Ravel langsung bangkit dan mencoba untuk pergi ke tempat kakaknya yang kini mulai bangkit kembali. namun, Ravel langsung berhenti saat kakaknya langsung menatap tajam dirinya.

"Berhenti …. Jangan mendekati ku Ravel…. Aku sudah sangat kecewa dengan-mu."

Ravel langsung diam mematung saat kata – kata penuh dengan penekanan itu membuatnya serasa terpukul. Raut wajahnya tak terbaca, namun air mata kini mulai keluar kembali dari matanya. Riser menatap tajam ke arah Ravel dan juga Naruto saat dia sudah berdiri dengan tegap kembali.

"Cih …. Seorang Phenex tak akan pernah melakukan hal yang memalukan sepertimu ….dan kau" Riser berkata dengan pedasnya pada Ravel yang kini mulai terisak. Dan kini tatapannya dia alihkan pada Naruto "…. Jangan harap aku dapat kalah begitu saja pada manusia rendahan sepertimu."

Riser langsung menciptakan lingkaran sihir dengan ukuran besar dan semakin membesar perlahan lahan. Dan itu Riser arahkan pada Ravel dan juga Naruto berdiri sekarang "…. Ini adalah akhir untuk kalian berdua…"

Ravel langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat kakaknya kini menyiapkan serangan yang kini dia arahkan padanya. Sementara Naruto kian menatap tajam Riser saat melihat hal itu. Naruto kini bisa melihat Ravel yang hanya diam, dengan menundukkan kepalanya. Sepertinya dia masih mengalami guncangan batin atas kelakuan diluar dugaan yang dilakukan oleh kakaknya.

"Sekarang …. Berakhirlah kalian berdua."

Riser langsung menembakkan bola api dengan ukuran besar yang kini mengarah pada Naruto dan juga Ravel. Sementara dengan Ravel, dia kini sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia kini terlihat menundukkan kepalanya dengan tubuh bergetar karena tangis yang dia tahan. Namun, Ravel langsung sedikit terlonjak saat sebuah tangan langsung memegang bahunya. Dia bisa melihat kini Narutolah yang memegang bahunya, dan Naruto langsung melangkah ke depan dan berdiri tepat di hadapannya untuk melindunginya.

Bola api berukuran besar itu kini kian dekat dengan mereka, namun Naruto masih terlihat tenang dan matanya hanya menatap datar pada bola api itu. Secara perlahan tangan kanannya dia angkat dan dia arahkan ke depan, pada bola api yang kini kian dekat dengan dirinya, dan secara perlahan tangan kanannya sudah terselimuti dengan chakra berwarna orange. Setelah itu, di telapak tangannya kini sebuah gedoudama sudah tercipta, namun, bersamaan dengan terciptanya gedoudama, Bola api Riser juga menghantam mereka.

'BOOOMMMMM'

Ledakan besar langsung tercipta di tempat Naruto dan Ravel berada. Dan ledakan itu menjadi sebuah ledakan terbesar sepanjang pertandingan ini berlangsung. Asap hitam tebal membumbung tinggi dari tempat Naruto, dan itu membuat semua penonton dan bahkan Riser sama sekali tak bisa melihat apa yang terjadi di tempat Naruto dan Ravel.

"Hahhh …. Haahhhh…. Hahhh …. Berakhir." Riser terengah – engah. Sepertinya dia sudah mulai kehabisan energinya karena serangan yang dia buat barusan. Dia terus mencermati tempat dimana Naruto dan Ravel berada dan menunggu hasilnya.

Asap dan debu kini kian menipis, dan saat asap dan debu itu benar – benar menghilang. Kini semua iblis yang menonton langsung dibuat menganga saat melihat manusia yang menjadi lawan Riser sama sekali tak mengalami luka sedikitpun. Riser langsung menggeram marah melihat Naruto yang kini masih berdiri tegap dengan tangan kanan yang masih terangkat. Ravel kini juga masih berdiri di belakang Naruto tanpa mengalami luka apapun. Sepertinya Naruto benar – benar melindunginya juga.

"Kau benar – benar sudah melewati batas Riser…." Suara yang dikeluarkan Naruto terdengar sangat dingin dan juga tajam. Mata biru bertomonya kini berputar kian ganas. Tekanan energinya juga kini kembali meningkat dan itu membuat Riser menjadi berkeringat dingin. Naruto langsung membuat handseal dengan menyilangkan jarinya.

'Kagebunshin no Jutsu'

Kepulan asap langsung tercipta di tempat Naruto, dan saat asap menghilang kini di samping kanan dan kirinya sudah ada dua kembaran yang sangat mirip dengan Naruto. Di tempat penonton, semua iblis kini tengah memasang ekspresi melongo mereka, saat melihat Naruto yang bisa menggandakan dirinya. Dan Riser sendiri kini juga tengah terkejut akan manusia yang menjadi lawannya itu.

"…. Kau menganggap adikmu ini tak pantas menjadi seorang Phenex hanya karena dia bersujud di depan musuhnya…." Nada dingin itu kian kentara." …. Namun, satu hal yang harus kau ingat Riser …. Dia melakukan hal itu karena dia menyayangimu …."

Kedua bunshin Naruto langsung menghilang dengan cepat setelah Naruto mengatakan hal barusan. Riser yang masih terkejut, langsung di beri hadiah dengan sebuah rasa sakit pada punggungnya. Dan membuatnya langsung terseret sedikit ke depan. Dan kembali di kejutkan saat kembaran seperti Naruto kembali muncul di depannya dan memberikan sebuah tendangan pada dadanya dengan kuat dan membuatnya terpetal kembali terpental ke belakang.

Sementara di belakangnya juga kini sudah menunggu bunshin Naruto yang langsung melayangkan pukulan Uppercut pada Riser, lalu kembali menyerangnya dengan memukulnya bertubi – tubi. Dan Riser langsung di buat melayang ke atas saat bunshin Naruto langsung memberikan tendangan uppercut kuat pada dagunya.

Dan di atasnya kini kembali muncul bunshin dari Naruto, dan di tangannya kini sudah tercipta sebuah bola energi berpendar biru yang berputar cepat dan mengeluarkan suara seperti suara pesawat jet. Dan tanpa ragu, bunshin itu langsung menghantamkan bola energi itu pada tubuhnya. Dan membuatnya kembali menukik dengan cepat ke permukaan sambil berputar. Namun sepertinya dia sama sekali tak di beri izin untuk menghantam tanah oleh Naruto. Karena di bawahnya, bunshin Naruto sudah menunggu dirinya dan langsung menghantamkan pukulan kuat pada pipinya saat dia hampir sampai ke permukaan sehingga membuatnya terpental dengan kuat ke arah Naruto dan Ravel berada.

Dia terpontang panting dan tersered dengan kuat dan cepat ke arah Naruto. Sementara di tempat Naruto sendiri, Naruto kini tengah mengangkat tangannya dan langsung membentuknya menjadi kepalan. Dan Entah kebetulan atau memang sudah di perkirakan, Riser kini dengan tepat mendapat sebuah pukulan kuat pada perutnya. Bahkan pukulan itu menciptakan daya kejut kuat di tempat.

"Pernahkah kau memikirkan perasaan adikmu …. Keluargamu…." Nada dingin Naruto masuk dalam indra pendengarannya. Riser kini bisa melihat dengan jelas, Naruto menatapnya dengan dingin dengan mata anehnya. Naruto langsung memberikan pukulan pada wajah Riser.

"…. APAKAH KAU PERNAH MEMIKIRKANNYA …. HAAHHHH…." Naruto langsung memberikan pukulan Uppercut kuat pada dagu Riser dan membuatnya langsung mendongak ke atas.

"…. Kau bilang dia bukan seorang Phenex…." Naruto langsung mengangkat kaki kanaknya, dan langsung menendang dada Riser dengan tumit kakinya, sehingga membuat Riser kini langsung terjatuh dan terlentang di tanah. Naruto langsung melompat tinggi dan menciptakan RasenDestruction di tangan Kanannya. Dan Naruto langsung menukik tajam ke tempat Riser yang kini telentang di tanah.

"…. KAULAH YANG TAK PANTAS DI SEBUT PHENEX…."

'DHUAR'

Ledakan kembali tercipta di arena saat Naruto dengan telak menghantamkan Jurusnya pada perut Riser. Riser langsung berteriak kesakitan saat menerima serangan itu dengan telak. Asap dan debu kembali mengepul dari tempat Naruto dan Riser. Ravel yang melihat dari kejauhan hanya bisa terduduk dan menangis di tempatnya melihat pertarungan di depannya itu.

Di tempat penonton, semua iblis di sana kini tengah menantikan hasil akhir dari pertarungan menegangkan ini. Dan di podium yang di tempati tiga orang penting. Lord Phenex tengah memejamkan matanya, ekspresi pada wajahnya tak terbaca sama sekali.

Saat asap di tempat Riser dan Naruto berada menghilang, kini terlihat Naruto yang tengah berdiri di dekat tubuh Riser yang sedang telentang di atas kawah yang tercipta dari jutsu Naruto. Riser kini tak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan regenerasi pada luka – lukanya kini berjalan sangat lambat.

"Pikirkan ini baik – baik Riser …. Kau menganggap bahwa kau itu lebih diunggulkan dari semuanya hanya karena kau keturunan dari klan Phenex. Tapi satu hal yang harus kau ingat …. Meskipun kau mempunyai kemampuan yang membuatmu bisa terlihat abadi, itu tidak berarti kau harus menjadi seorang iblis arogan dan juga sombong …" Riser tak memberikan respon apaun. Dia masih diam di tempatnya sekarang mendengarkan perkataan yang dilontarkan Naruto.

"…. Apakah kau pernah memikirkan bagaimana opini orang lain terhadapmu…. Lupakan orang lain, sekarang…. apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaan keluargamu sendiri….?" Naruto memberikan pertanyaan yang membuat Riser kini terdiam. Riser kini memejamkan matanya ekspresinya tak terbaca dan Riser kini membuang mukanya dari Naruto. sementara dari kejauhan, Ravel terus mendengarkan dan memperhatikan Naruto dan juga Riser.

"…. Meskipun sekarang aku mengerti kenapa kau menjadi seorang iblis yang arogan seperti sekarang…. Aku mengerti kau melakukannya karena kau selalu mendapat tekanan atas nama kakak-mu …. Aku tahu kau melakukan hal ini karena kau tak mendapat apa yang namanya sebuah perhatian dari keluargamu …." Ekspresi Riser kini langsung menjadi terkejut atas apa yang dikatakan Naruto barusan.

"…. Tapi meskipun kau mendapatkan tekanan berat seperti itu …. Itu juga tak menjadi alasan untukmu menjadi seorang iblis arogan dengan penuh kesombongan seperti sekarang…." Riser langsung membuka matanya dan menatap tajam pada Naruto yang kini menatap datar padanya.

"M-Memangnya … tau apa kau tentangku…. Kau sama sekali tak mengerti apa pun tentang diriku."

"Orang lain mungkin tak akan ada yang mengerti …. Tapi untukku, itu adalah hal yang mudah …." Naruto kemudian langsung menengadahkan kepalanya menatap ke atas. "Kau adalah seseorang yang dapat dengan mudah ditebak…. Sebenarnya, dikasusmu ini, kau tidak bisa juga disalahkan tentang hal ini …. Namun, jika aku ditanya siapa yang harus disalahkan …. Aku tak akan ragu untuk menjawab, seluruh klan Phenex yang bersalah …. Mereka bersalah karena mereka tak memberikan keadilan pada anaknya …. Dan kau juga ikut bersalah, karena kau mengambil keputusan sepihak dan masuk ke jalan yang salah…." Naruto terus bicara panjag lebar. Dia kemudian kembali menatap Riser yang kini hanya diam di tempatnya.

"kau mempunyai sebuah potensi besar dalam dirimu…. Namun, karena sifat buruk yang kau buat sendiri …. Kau menjadi semakin jauh bahkan tidak mungkin sampai pada level seperti kakakmu…." Riser tak tau harus menanggapinya seperti apa, Dia kini hanya memejamkan matanya saja. Hening kini tercipta diantara keduanya.

"Aku akan memberimu kesempatan untuk hidup sekali lagi…. Namun, itu juga jika kau bisa merubah sikapmu itu menjadi lebih baik lagi …. Dan jika kau sudah bisa merubah sikapmu itu …." Naruto kemudian berbalik dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Riser"…. Datanglah kembali padaku untuk membuktikannya …. Namun jika kau tak merubah sikapmu …." Naruto langsung menghentikan langkahnya dan memutar sedikit kepalanya. Dan mata biru bertomoya kini dia lirikan pada Riser.

"…. Aku yang akan mendatangimu, dan akan langsung mengambil kesempatan yang sudah kuberikan …. Dengan langsung membunuhmu saat itu juga …. Tak peduli jika aku akan menjadi musuh seluruh iblis sekalipun …. Dan itu adalah janji." Naruto berucap dengan datar atas perkataannya.

Riser diam, mata yang awalnya tertutup kini ia buka dan langsung menatap ke atas dengan tatapan kosong. Semua perkataan Naruto, kini berputar dalam pikirannya, dan dia juga kini teringat akan wajah adiknya yang menangis karena dirinya. Air mata kini sedikit keluar dari matanya, namun senyum kecil terukir pada wajahnya.

"A-Aku menyerah …." Riser mengatakan itu dengan lirih. Namun, saat perkataan itu sudah terlontar dari mulutnya. Seluruh arena kini langsung kembali bercahaya dengan terangnya. Semua iblis kini langsung menutup mata mereka karena silaunya cahaya itu.

"Pertandingan telah selesai …. Naruto Uzumaki berhasil memenangkan pertandingan."

Suara Grayfia langsung menyambut gendang telinga semuanya. Mereka langsung membuka mata mereka dan melihat di arena kini Riser yang masih telentang, dan Naruto yang masih berdiri membelakangi Riser.

Naruto kemudian langsung kembali melangkahkan kakinya, ke arah Ravel yang masih terduduk di tempatnya. dia langsung mengangkat tangannya, dan menepuk kepala Ravel saat dia sudah berdiri tepat di sampingnya. Ravel yang awalnya hanya melamun langsung terlonjak saat ada yang menepuk kepalanya. Dia kemudian menengadahkan kepalanya, dan menatap Naruto yang kini tengah tersenyum kearahnya.

"Pergilah …. Kakakmu pasti membutuhkan pertolonganmu sekarang…." Naruto langsung menarik kembali tangannya setelah sedikit mengusap kepala Ravel, dan langsung kembali melanjutkan langkah kakinya untuk segera pergi dari arena ini. Sementara dengan Ravel, dia terus memperhatikan Naruto dari belakang. Namun, dia langsung tersadar akan kakaknya, dan dengan segera langsung bangkit dan berlari ke arah dimana kakaknya kini yang masih telentang.

"Onii-sama …. Bertahanlah…" Ravel langsung duduk dan langsung memangku kepala Riser dan meletakkannya pada pangkuannya. Riser langsung menatap adiknya yang kini tengah menatap ke arahnya dengan ekspresi khawatir dan juga air matanya kini kembali keluar.

"Ravel …. M-Maafkan Nii-sama yang tidak berguna ini." Riser mengatakannya dengan penuh penyesalan. Ravel yang mendengarkan perkataan kakaknya langsung menggelengkan kepalanya.

"Itu tidak penting lagi Onii-sama …. Aku tak pernah menyalahkanmu …." Ravel berkata dan menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan dari Riser.

"Aku benar – benar tidak berguna …. Bahkan aku dibutakan oleh egoku dan melupakan perasaan kalian semua …. Aku…. aku benar – benar tidak berguna bukan?"

"Itu tidak benar …. Onii-sama tetaplah onii-sama …. Meski kau mempunyai keburukan … kau tetaplah Aniki untukku yang selalu baik padaku…. Dan selalu melindungiku." Ravel mengatakannya dengan senyum pada Riser. Riser langsung tersenyum kecil penuh kebahagiaan mendengar perkataan dari adiknya.

"Terimakasih Ravel …. Biarakan aku beristirahat sejenak …. aku benar – benar lelah sekarang." Ravel langsung tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Dan Riser langsung memejamkan matanya, dan mencoba untuk beristirahat dalam pangkuan adiknya.

.

.::.:.:Atarashi Seikatsu:.:.::.

.

'With Naruto'

Naruto kini tengah berjalan dengan gontai di lorong stadium. Tujuannya kali ini adalah untuk menemui Seiren dan juga Shikamaru, dan memastikan keadaan mereka sekarang. Namun, tak jauh dari tempatnya sekarang, di sana terlihat seorang pria yang yang mempunyai surai hitam kini tengah bersandar pada dinding. Di sampingnya juga terlihat seorang perempuan berambut pirang yang diikat ekor kuda. Namun sepertinya Naruto sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka. Mata birunya yang kini masih mempunyai tomo itu hanya terfokus pada jalannya.

"Pertarungan yang sangat hebat …. Naruto Uzumaki." Sosok pria yang tadi bersandar pada dinding angkat suara terlebih dahulu. Naruto langsung menghentikan langkah kakinya saat ada yang menyebutkan namanya. Dia kini mengalihkan tatapannya pada seorang pemuda yang kini tengah berdiri di depannya di temani dengan seorang perempuan di sampingnya.

"Are?" hanya itu yang keluar dari mulut Naruto saat melihat dua sosok di depannya. Sosok di depannya kini tengah menatapnya dengan seringai yang entah mempunyai maksud apa. Dan Naruto kini menatap keduanya dengan satu alis terangkat pertanda bingung. Hening kemudian tercipta di antara mereka, Naruto yang kini masih menampakkan kebingungannya, dan sosok pemuda di depannya kini tengah menatapnya dengan seringai di wajahnya.

'Bletak'

"Wadau …."

Naruto kian kebingungan dan Seringai yang di keluarkan oleh Sosok di depan Naruto langsung hilang, digantikan dengan ekspresi kesakitan saat wanita di samping sosok itu langsung memberikan sebuah jitakkan tanpa belas kasihan pada pemuda bersurai hitam yang kini tengah mengusap benjol di kepalanya.

"….Kenapa kau malah menjitakku Kuisha-chan?" Sosok pemuda bersurai hitam itu berujar dengan masih kesakitan pada sosok perempuan pelaku penjitakan yang bernama Kuisha.

"Bisakah kau sekali saja tidak mengeluarkan sipat maniak perangmu itu Sairaorg…. Dan jangan lagi memasang seringai menjijikkan itu di depanku …. itu sangat memuakkan" Sosok perempuan bersurai pirang itu langsung mencak – mencak pada sosok laki – laki yang bernama Sairaorg yang kini terlihat sedang mengusap – usap kepalanya yang sekarang sudah ada sebuah benjolan. Dan kejadian di depannya itu kembali membuat Naruto mengangkat satu alisnya lagi.

"Tapi kau tak sampai harus menjitakku dengan kekuatan supermu itu bukan….?" Ujar Sairaorg dengan kesal. Dan sosok perempuan itu langsung menatapnya dengan tajam dan aura hitam terlihat mengelilinginya, sehingga itu membuat sosok Sairaorg langsung merinding di tempatnya.

"Jadi, kekuatanku itu super yah ….?" Sairaorg semakin merinding saat melihat aura ungu pekat itu kian menjadi – jadi dikeluarkan oleh Kuisha, dan tatapannya kini terlihat menatapnya dengan tajam dengan menjanjikan sebuah rasa sakit pada dirinya.

"Ah …. Ahahaha …. Aku hanya bercanda Kuisha-chan…. Beneran."

'Bletak'

"I-ittai…."

Sairaorg kembali meringis saat kepalanya mengalami benjolan kembali, sementara Kuisha kini masih terlihat memasang tampang sangarnya setelah dia kembali memberikan jitakan penuh kasih pada Sairaorg.

"Ano …. Sumimasen…" Suara dari Naruto langsung menyadarkan mereka berdua. Sairaorg dan Kuisha langsung mengalihkan tatapannya pada Naruto yang kini tengah menatap mereka dengan kedua alis yang bertautan.

"…. Bisakah kalin melakukan kegiatan K.D.R.T kalian di tempat lain …." Naruto berujar dengan polosnya, sementara Sairaorg dan Kuisha langsung tersadar dan itu membuat keduanya menjadi salah tingkah. Saireorg langsung sedikit terbatuk untuk mengembalikan image miliknya yang sempat jatuh di hadapan pemuda di hadapannya ini.

"Ekhemmm…"

"Jika kau berdeham untuk mengembalikan harga dirimu. sepertinya tidak akan berhasil …. Imagemu sudah kepalang jatuh dihadapanku." Naruto berkata pedas dan juga sedikit sweatdrop melihat tingkah dari pemuda berotot di hadapannya itu. Sementara sang perempuan yang bernama Kuisha, hanya sweatdrop mendengar perkataan pedas dari pemuda di depannya. Sementara Sairaorg, di kepalanya kini perempatan siku sudah tercipta, dan raut kesal juga tampak di wajahnya.

"Grrr…. Dasar rubah sialan …. Apa maksudmu hah …. Ngajak berantem kau." Sairaorg langsung menyemprotkan kekesalannya pada Naruto. dan Perempatan siku juga kini tercipta di kepala Naruto mendengar panggilan menyebalkan dari Sairaorg.

"Oi …. Oi …. Apa maksudmu dengan rubah sialan …. Gumpalan otot." dan dia juga langsung menumpahkan kekesalannya dan menatap Sairaorg dengan garang. Mata birunya yang masih bertomo kini berputar secara perlahan.

"Gumpalan otot…. Grrr kau benar – benar ingin berkelahi ….hahh" Sairaorg langsung bersiap – siap mengambil kuda – kudanya.

"Hehh …. Siapa takut…" Naruto juga langsung mengambil ancang – ancangnya. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Tatapan tajam disertai kilatan listrik terlihat di antara keduanya. keduanya langsung siap mengembil langkah mereka.

"Heyaaahhh…"

"Orryyyaaaa….."

'Bletak'

"Ahaoooyyy …. " Sairaorg adalah orang yang pertama tumbang saat dia mendapat sebuah jitakan keras kembali pada kepalanya. Dan itu membuatnya langsung terjerembab dan terjatuh dengan kepala berasap, sementara Naruto dia langsung berhenti saat dia sudah mengambil langkah pertamanya dan ekspresinya kini terlihat cengo melihat pemuda di depannya langsung tumbang begitusaja.

"Bisakah kau tidak melakukan hal – hal yang bodoh Sairaorg…." Suara sangar dari Kuisha langsung menyadarkan mereka berdua. Sairaorg langsung memasang ekspresi ketakutan saat melihat aura mengerikan yang begitu pekat dari Kuisha.

"Fttt …. Buahahaha-…."

'Swing'

'Duakh'

"Buahyaagggg…."

Naruto langsung tepar di tempat saat sebuah sepatu entah dari mana melayang ke arahnya dan dengan telak mengenai wajahnya. Bekas telapak sepatu jelas nampak pada wajahnya sekarang, sementara sang pelaku yang merupakan Kuisha semakin mempekatkan aura mengerikan miliknya.

"…. Kenapa aku juga menjadi sasaran…?" Naruto berujar dengan mirisnya.

"Kau juga sama saja dengan Sairaorg, bodoh…. Bisakah kalian tidak membuat keributan …. Ini adalah pertemuan pertama kalian…. Dan kalian sudah bertengkar layaknya anak kecil." Kuisha kembali menggerutu dengan kesal pada Sairaorg dan juga Naruto. sementara Naruto langsung bangkit dari posisi telentang menjadi duduk dan langsung menunjuk pada Sairaorg.

"Heyy …. Dia yang memulainya duluan…." Naruto langsung memberikan tudingan pada Sairaorg. Sairaorg langsung mendelik ke arahnya saat dia langsung mendapat tudingan secara sepihak itu.

"Kau yang memulainya duluan kepala durian …." Sairaorg tak maukalah. Dia berbalik menuding Naruto dengan kesal. Naruto langsung menatap tajam pada Sairaorg yang juga tengah menatap tajam padanya. kilatan listrik kembali terlihat saling beradu di antara mereka berdua.

"Grrr…. Jelas – jelas kau yang memulainya duluan bodoh …." Ujar Naruto dengan mendesis tajam.

"Kau yang memulainya…."

"Kau…"

"Grrr …. Sialannnn kauuuu-…."

'Bletak'

'Bletak'

"I-Ittai/ I-Ittai."

Keduanya langsung meringis kembali saat mereka kembali mendapatkan sebuah bogem di kepala mereka. Tiga benjolan kini sudah ada di kepala Sairaorg, dan Naruto, selain wajahnya yang kini sudah tercetak sebuah bekas telapak sepatu, kini dia juga mempunyai tambahan dengan benjolan di kepalanya.

"Kepalaku…." Pikir Naruto dengan miris dan mengusap – usap benjolan di kepalanya.

"Jika kalian tak menghentikan kegiatan bodoh kalian itu…. Akan kupastikan, bukan kepalan tangan lagi yang akan menghantam kepala kalian…."

Naruto dan Sairaorg langsung merinding hebat saat melihat kini Kuisha sudah memasang tampang super duper menyeramkan. Di mata mereka kini Kuisha terlihat seperti sebuah siluet hitam dengan rambut melayang – layang. Dan mata merah yang menjanjikan rasa sakit itu, menatap mereka dengan tajam.

"H-Ha'I" "H-Ha'I"

Keduanya dengan perasaan takut menjawab bersamaan dengan tergagap dan mengangguk dengan cepat. Kuisha yang melihat itu langsung mendengus, dan kini mulai tenang di tempatnya.

"D-Dia M-Monster…." Pikir Naruto dengan menatap Kuisha penuh dengan rasa takut.

"Kuisha …. PMS." Dan ini adalah apa yang dipikirkan oleh Sairaorg, dan sama seperti Naruto. dia kini menatap Kuisha dengan tatapan takutnya. Naruto dan Sairaorg langsung bangkit berdiri, dan menepuk – nepuk bagian baju mereka yang kotor.

"Hahhhh …. Baiklah …. Jadi kenapa kalian berdua ada disini?" Naruto langsung bertanya to the poin mengenai kehadiran mereka berdua. Sairaorg langsung berdeham mendengar pertanyaan langsung dari Naruto.

"Kami hanya ingin menyapa manusia yang dikatakan adalah rekan dari Fraksi Iblis …." Sairaorg menjawab perkataan Naruto dengan kalemnya, dan membuat tampang yang dibuat sok cool. Naruto langsung mendelik mendengar perkataan dari Sairaorg.

"Aku tak yakin kau berniat untuk menyapa…. Setelah kejadian tadi." Naruto mengatakan dengan delikan tajam pada Sairaorg yang kini terlihat memasang cengiran tanpa dosa. Sementara Kuisha di sampingnya hanya bisa facepalm melihat tingkah dari king-nya itu.

"Hahaha …. Maaf soal yang tadi …. Aku tak pernah bisa menahan diri, jika sudah melihat orang – orang yang kuat berada di dekatku." Naruto langsung mengehela napasnya mendengar perkataan dari Sairaorg barusan sementara Sairaorg hanya tersenyum polos melihatnya.

"Hahhh …. Satu lagi penggila perang bertemu denganku …." Naruto bergumam dengan lesunya, dia kemudian menatap Sairaorg dan Kuisha secara bergantian.

"…. Biar kutebak … kau Sairaorg Bael, sepupu dari Seiren dan juga Rias… dan merupakan seorang pewaris dari klan Bael…" Ujar Naruto sambil menunjuk Sairaorg yang langsung mengangguk saat Naruto menyebutkannya namanya "…. Dan kau adalah Kuisha Abaddon… Queennya yang juga merupakan ekstra demon yang merupakan iblis berdarah murni dari klan abaddon." Dan Kuisha juga langsung mengangguk membenarkan perkataan dari Naruto barusan.

"Tak kusangkan …. Ternyata kau mengenaliku yah …." Ujar Sairaorg dengan sedikit takjub dengan Naruto yang mengetahui tentangnya. "…. Apakah aku sebegitu terkenalnya di dunia bawah." Sairaorg langsung menjadi Narsis saat mengatakan hal barusan. Naruto dan Kuisha langsung sweatdrop mendengar deklarasi narsis yang dilontarkan oleh Sairaorg.

"Errrr …. Aku tak mengira kalau ternyata Pewaris klan Bael sangatlah bertolak belakang dengan informasi yang aku dapatkan …." Naruto berucap dengan nada drop "….Atau jangan – jangan kau bukanlah Sairaorg?" Lanjut Naruto kembali. Sairaorg langsung mendelik menatap Naruto. dia baru saja akan membalas perkataan Naruto, namun dia langsung menghentikannya saat di belakangnya kini dua lingkaran sihir langsung tercipta.

Naruto, Sairaorg, dan juga Kuisha langsung menatap lingkaran sihir itu dengan seksama. Dan saat lingkaran sihir itu menghilang, kini di depan mereka Sirzechs dan Lord Phenx sudah berdiri di hadapan mereka. Sairaorg dan Kuisha yang melihat kehadiran dari Sirzechs langsung membungkuk hormat.

"Ahhh …. Ternyata ada Sairaorg dan Kuisah juga disini yah…" Sirzechs langsung buka suara saat melihat adanya Sairaorg dan Kuisha di tempat itu. Sairaorg dan Kuisha langsung menegakkan tubuh mereka, dan menatap Sang Maou Lucifer dengan hormat.

"Ha'I …. Kami kebetulan ada disini untuk menyapa Naruto." Ujar Sairaorg dengan sopannya.

"Ya …. Datang untuk menyapa…" Naruto berkata dengan mencibir pada Sairaorg. Mendengar itu Sairaorg langsung mendelik ke arahnya. "…. Apa?" Naruto kembali berucap dengan nada kesal pada Sairaorg.

"Grrr …. Bukankah aku sudah meminta maaf padamu …." Sairaorg berujar dengan kesal pada Naruto. dan Naruto hanya menanggapinya dengan gumamman dan memutar bola matanya.

"Hahaha …. Sepertinya kalian sudah terlihat akrab yah…. Baguslah kalau begitu." Sirzechs tertawa melihat interaksi dari Naruto dan Sairaorg. Naruto hanya menghela napasnya saja, dan tak terlalu memperdulikan perkataan dari Sirzechs.

"Jadi …. Kenapa Lucifer-sama ada disini?" Naruto langsung bertanya perihal kedatangan dari sang maou Lucifer di sini.

"Aku kemari untuk mengantarkan Lord Phenex-dono yang ingin mengatakan sesuatu padamu…. Naruto"

Naruto lansung mengangkat sebelah alisnya bingung atas perkataan dari Sirzechs. Dia kemudian langsung mengalihkan tatapannya pada sang Lord Phenex yang kini tengah menatap serius ke arahnya.

"Ummm …. Apakah anda datang menemuiku atas insiden pertarungan tadi Phenex-sama …. Jika iya …. Maafkan aku atas sikapku …. Aku tak bermaksud mempermalukan putra anda …. Aku hanya-…."

"Lupakan masalah pertarungan itu …. Aku tidak terlalu memikirkannya… Uzumaki-san." Lord Phenex langsung memotong perkataan Naruto. Naruto langsung menatapnya dengan raut kebingungan.

"Ano …. Lalu apa yang ingin anda katakan padaku?" Naruto bertanya dengan kebingungan pada sang Lord Phenex.

"Aku ingin menanyakan maksud dari perkataanmu tentang watak dari Riser …. Kau mengatakan bahwa kau mengerti kenapa dia bisa seperti itu …. Yang ingin aku tanyakan adalah kenapa bisa mengetahui kebenarannya….?" Lord Phenex bertanya dengan serius. Naruto langsung manggut – manggut mengerti. Dia langsung menghela napasnya.

"Dulu temanku pernah mengatakan …. "Sorang petarung sejati akan saling mengerti satu sama lain jika mereka saling bertukar tinju mereka"…. Dan saat aku bertarung dengan putramu, aku sedikit mengerti tentang perasaannya …. Namun, mengenai alasannya kenapa …. Jujur, Aku hanya menebak saja dari hal yang memungkinkan dari pembentukan sikapnya…" Naruto menjawabnya dengan panjang lebar.

"…. Namun, melihat respon yang dia keluarkan …. Sepertinya tebakanku memanglah benar adanya. Dan kuharap dia akan sadar setelah kejadian ini." Naruto mengakhiri penjelasannya dan menatap Lord Phenex yang kini tengah menghela napasnya.

"Begitukah ….?" Lord Phenex berucap dengan helaan napas berat "…. Ku harap apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan…" Naruro langsung menangguk atas perkataan dari Lord Phenex.

"Satu hal lagi yang ingin kutanyakan …. Lucifer-sama sebelumnya mengatakan, bahwa kekuatanmu sangatlah tak dapat di perkirakan …. Bahkan Lucifer-sama mengatakan bahwa dia juga tak yakin bisa melawanmu tanpa mendapatkan luka berarti…." Sairaorg dan Kuisha langsung terkejut mendengar perkataan dari Lord Phenex barusan. Mereka langsung menatap ke arah Naruto dengan tak percaya.

"…. Namun, melihat pertarungan tadi …. Apakah kau sedang menahan diri menghadapi putraku?" Lord Phenex bertanya dengan penasaran. Jujur dia masih penasaran dengan manusia di hadapannya ini. Naruto menghela napas mendengar perkataan barusan.

"Sebenarnya aku menganggap pertarungan ini hanya sebagai latihan saja …. Dan juga aku tak menurunkan semua kemampuanku, mengingat bahwa yang menjadi bintang disini bukanlah aku …. Melainkan Seiren dan juga Shikamaru…." Naruto memejamkan matanya sesaat. Sementara yang lain masih terus memperhatikan dan mendengar dengan baik perkataan Naruto.

"…. Meski aku sempat lepas kendali, tapi aku sama sekali tak menurunkan setengah dari kemampuanku …. Aku memang bisa mengalahkan seluruh Peerage putra anda sendirian …. Namun, aku juga teringat bahwa aku ingin mengetes sejauh mana kemampuan dari Seiren berkembang …." Senyum simpul kini mengembang pada wajahnya. Hitai ate di kepalanya dia lepaskan.

"…. Dan lagipula aku ingin mencoba gaya bertarung baru …. Karena itulah aku sama sekali tak bersungguh – sungguh dalam pertarungan kali ini." Naruto mengakhirinya dengan senyum di wajahnya. Lord Phenex langsung mengangguk mengerti.

"…. Baiklah, mungkin hanya itu saja …. Kalau begitu …. Aku akan pergi menemui Riser dulu."

Lingkaran Sihir langsung terbentuk di bawah kaki dari Lord Phenex. Sebelum dia pergi, Lord Phenex langsung menatap Naruto yang juga tengah menatapnya. Dan senyum kecil kini nampak pada wajah sang Lord Gremory.

"Terimakasih karena kau sudah menyadarkan Putraku …. Dan juga berterimakasih, karena berkatmu, aku selaku ayahnya bisa tersadar atas kesalahanku." Lord Phenex langsung mengucapkan rasa terimakasihnya pada Naruto. Naruto langsung mengangguk dengan senyum di wajahnya.

"Itu sudah menjadi tugasku Phenex-sama…"

Lord Phenex mengangguk, dan dia langsung menghilang ditelan lingkaran sihir teleportasi khas klan Phenex. meninggalkan Naruto beserta dengan Sirzechs, Sairaorg, dan juga Kuisha disana. Setelah kepergian dari Lord Phenex, Naruto langsung menatap ke arah Sirzechs.

"Bagaimana keadaan Seiren-chan dan Shikamaru sekarang…. Sirzechs-san?" Naruto langsung menanyakan perihal keadaan dari Seiren dan juga Shikamaru. Ekspresi khawatir kini nampak pada wajahnya. Sirzechs langsung tersenyum pada Naruto.

"Aku juga tidak terlalu mengetahuinya …. Namun, Okaa-sama bilang kalau mereka kini baik – baik saja …. Berterimakasihlah pada Lord Phenex yang dengan baik hatinya memberikan air mata Phenex, dan membuat mereka berdua kini sudah membaik…. Dan mungkin sekarang mereka sedang beristirahat diruang kesehatan di arena ini…" Sirzechs memberikan penjelasan mengenai keadaan dari Seiren dan juga Shikamaru pada Naruto. sementara Naruto langsung menghela napas lega mendengar kabar dari keduanya.

"Syukurlah …. Syukurlah jika mereka bai-….."

'Deg'

"Argghhhh…."

Naruto langsung jatuh menunduk dan tak melanjutkan perkataannya. Naruto juga langsung meraung kesakitan dan memegang kedua matanya dengan kedua tangannya.

"Naruto…." Sirzechs langsung panik saat melihat Naruto yang terlihat kesakitan dan memegangi matanya. Sirzechs langsung berjongkok di dekat Naruto dan memegang pundaknya.

"Oi …. Kau baik – baik saja Naruto…." Sirzechs bertanya dengan paniknya. Di belakangnya Sairaorg dan Kuisha hanya memperhatikan keduanya. Naruto masih terus meringis kesakitan.

"M-Mataku …. M-Mataku p-panas s-sekali… Ughh…" Naruto kemudian merenggangkan sedikit tangannya. dan kini terlihat mata biru yang mempunyai bintik seperti tanda koma tengah berputar dengan liarnya. Dan itu membuat Naruto kembali meringis kesakitan dan itu juga membuat Sirzechs semakin panik.

"Hey …. Ada apa dengan matamu…?"

Naruto tak menjawab pertanyaan dari Sirzechs. Dan setelah beberapa saat, mata bintik aneh pada mata Naruto mulai berputar perlahan dan langsung menghilang seperti menyatu dengan pupil matanya. Naruto langsung terengah – engah, pandangan matanya kini terlihat sangat buram dan juga terlihat kosong. Napasnya juga kini terdengar sangat tidak teratur.

"Hahh …. Hahhh …. Hahh …."

"Hey …. Kau tidak apa – apa?" Sairaorg ikut bertanya pada Naruto. Naruto langsung mengangguk dengan lemah, dia masih belum bisaa menjawab karena napasnya masih memburu. Naruto secara perlahan mulai bangkit. Dibantu oleh Sirzechs yang memang berada di sampingnya. Pandangan Naruto masih terlihat sangat buram, dan juga terlihat kosong.

"Sebaiknya …. Kita pergi ke tempat Seiren dan juga Shikamaru …. Aku ingin melihat langsung keadaan mereka." Naruto langsung berdiri dengan tegak setelah dibantu oleh Sirzechs. Dia langsung melangkahkan kakinya untuk pergi ke tempat kedua koleganya berada.

Dibelakanganya Sirzechs menatap Naruto dengan khawatir, melihat juga Naruto kini berjalan dengan gontai. Dan hal itu juga dilakukan oleh Sairaorg dan juga Kuisha. Namun, mereka baru saja akan menyusul Naruto andai saja Naruto tidak menghentikan langkah kakinya.

"Ummm …. Ngomong – ngomong …. Seiren dan Shikamaru berada di ruang mana?" Naruto langsung bertanya dengan polosnya. Sementara ketiga iblis di belakangnya langsung terdiam dengan sweatdrop saat mendengar pertanyaan bodoh yang dilontarkan Naruto.

.

.::.:.:Atarashi Seikatsu:.:.::.

.

Kini kita beralih kesalah satu ruangan yang berada di salah satu bangunan dari arena. Di ruangan itu kini sudah berkumpul banyak sekali iblis. Diantaranya adalah Rias beserta Peeragenya, dan juga Sona yang kini berada di sana bersama dengan Tsubaki.

Mereka kini tengah berjejer di dalam ruangan itu. Ruangan yang memang sangat luas itu membuat mereka bisa bertempat dimana saja. Di hadapan mereka kini sudah ada Dua ranjang yang dimasing – masing kasur itu sudah di tempati oleh dua orang. Di kasur yang satu, kini terlihat Seiren yang sedang duduk bersandar pada sandaran kasur khusus untuk para pasien. Disampingnya juga kini sudah duduk sang ibu yang tidak lain adalah Venelana Gremory.

"Syukurlah kau sudah baikan Sei-chan …. Kaa-sama benar – benar sangat panik saat mendengarmu mendapat sebuah serangan fatal dari Riser." Venelana membuka percakapan dengan suara penuh Syukur saat melihat putrinya baik – baik saja. Seiren tersenyum lembut pada ibunya.

"Ha'I …. Ini berkat Lord Phenex-sama yang sudah memberikan air mata Phenex padaku… sehingga membuatku kembali sehat."

"Hahhh …. Kau benar – benar membuatku hampir mati karena jantungan Sei-chan…. Ugh …. Aku benar – benar ingin sekali untuk meledakkan si pria gigolo itu." Rias berkata dengan helaan napas, dan menggeram kesal atas kejadian yang menimpa Seiren yang jelas pelakunya adalah Riser. Seiren langsung terkikik geli melihat kembarannya itu.

"Setidaknya Aneki sekarang bisa bernapas lega karena tak akan menikah dengan Riser…?" Rias langsung tersenyum, dia langsung mendekat ke arah Seiren. dan langsung memeluknya dari samping.

"Yah …. Ini juga berkat dirimu … dan aku sepertinya harus berterimakasih pada Naruto-san, karena kini akhirnya aku bisa tenang." Seiren langsung merangkul membalas pelukan dari kembarannya itu. Venelana yang melihat dua putrinya itu tak bisa menahan senyumnya. Dia juga langsung ikut memeluk Seiren dari samping Seiren. dan merangkul keduanya.

"Sudah lama Kaa-sama tidak melihat raut bahagia putri kembarku ini …. Kaa-sama sangat senang karena bisa melihat kebahagiaan kalian secara langsung sekarang." Venelana mengucapkannya dengan lembut. Dan itu membuat senyum Rias dan Seiren semakin mengembang. Sementara para iblis yang melihat adegan keluaraga itu tak bisa untuk tidak tersenyum.

Sona kini langsung mengalihkan tatapannya ke arah kasur yang bersebrangan dengan Seiren. disana kini sudah terbaring Shikamaru yang kini tengah memejamkan matanya. Sona terus saja memperhatikan Shikamaru, dan tanpa sadar kelakuannya itu kini tengah diperhatikan oleh Tsubaki, yang merupakan Ratunya.

"Ara …. Ara …. Apakah Kaichou menyukai Shikamaru-san ..." Sona langsung tersadar saat Akeno yang juga menyadari gerak geriknya mengatakan itu secara langsung "…. Dari tadi Kaichou terus memperhatikan Shikamaru-san… fufufu."

Sona langsung sedikit memasang ekspresi yang terlihat gelagapan. Sementara yang lain langsung memasang ekspresi bingung saat melihat Sona yang jarang berekspresi itu terlihat sedang gelagapan hanya karena mendapat sebuah godaan dari Akeno.

"Apa maksudmu …. Akeno …. Aku tidak memperhatikannya…" Sona mencoba untuk membantahnya. Dan kini Akeno terlihat sedang menyeringai penuh misteri pada Sona. Dan itu membuat perasaan Sona menjadi tidak enak.

'Ceklek'

Semua yang ada di sana langsung mengalihkan pandangan mereka saat mendengar suara pintu yang dibuka. Dan saat pintu itu terbuka seluruhnya terlihat disana sosok seorang pemuda yang mempunyai surai hitam yang kini tengah tersenyum ramah pada semua yang ada disana. Di belakangnya juga kini sudah berdiri seorang perempuan cabtik berambut pirang yang diikat poni tail. Mereka berdua adalah Sairaorg dan juga Kuisha.

"Sairaorg-kun …. Kuisha-chan …." Venelana adalah yang pertama menyambut kedatangan keduanya.

"Ah …. Hai Oba-sama …" Sairaorg berkata dengan riangnya pada Venelana. Dan Venelana tersenyum hangat kepada mereka berdua.

"Ada apa kalian berdua kemari ….?" Tanya Venelana atas kedatangan Sairaorg.

"Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan sepupuku, Oba-sama…. Dan juga aku hanya mengantarkan seekor rubah kemari." Semuanya langsung bingung mendengar perkataan dari Sairaorg barusan. Alis mereka dengan kompak terangkat dan menatap Sairaorg dengan heran.

"Bukankah aku sudah bilang jangan memanggilku dengan seenaknya, Gumpalan otot….. dan apa maksudmu dengan mengantarkan …. Kau bahkan meninggalkan kami begitu saja."

Semua orang kembali mengalihkan perhatian mereka saat mendengar suara yang tak asing di teling mereka. Mereka dengan kompak mengalihkan tatapan mereka ke arah belakang Sairaorg dan Kuisha. Disana kini terlihat sudah ada Naruto yang kini tengah bertumpu pada Sirzechs dan tangannya dia gunakan untuk menutup satu matanya.

"Naruto/ Naruto-kun/ Naruto-san?" semuanya dengan kompak menyebutkan nama dari sosok dibelakang Sairaorg. Sementara Sairaorg kini mengalihkan tatapannya ke belakang.

"Grrrr …. Jangan harap aku akan berhenti memanggilmu dengan sebutan seperti itu Bocah Rubah …" geraman kesal juga dikeluarkan oleh Sairaorg karena dia juga mendapat panggilan aneh dari Naruto. Naruto langsung memutar matanya malas mendengar ocehan dari Sairaorg.

"Naruto-kun …. Kau tidak apa – apa?" Suara Seiren yang terdengar Khawatir langsung masuk di indra pendengaran mereka semua. Naruto yang baru saja bisa berdiri dengan tegak. Langsung menatap Seiren dengan sebelah matanya yang tidak dia tutup, dan tersenyum pada Seiren.

"A-Ah …. Yeah ... aku baik – baik saja Sei-chan." Nada yang dikeluarkan Naruto terdengar agak ragu. Dan itu membuat Seiren menatapnya semakin khawatir. Apalagi saat melihat Naruto tiba – tiba meringis dan mata biru Naruto kini terlihat kosong.

"Ughh …." Ringis Naruto langsung membuat yang lain menatapnya khawatir. Seiren juga bahkan langsung menegakkan posisinya saat melihat tubuh Naruto yang mulai oleng, namun masih bisa di tahan oleh Sirzechs.

"Naruto-kun …" Seiren langsung bangkit dari kasurnya dan mendekati Naruto yang kini mulai terduduk di lantai. Dan itu juga diikuti yang lainnya kecuali Shikamaru yang kini masih terbaring di kasurnya.

"Hahhh …. Jangan memaksakan diri Naruto …. Kondisimu sangat menyedihkan sekarang." Sirzechs mengingatkan pada Naruto yang kini tengah menutup matanya kembali dengan tangannya.

"Apa yang sudah terjadi dengan Naruto-kun … onii-sama?" Seiren yang kini berada di samping Naruto bertanya pada Sirzechs. Sementara yang ditanya langsung menghela napasnya, dan mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya pada Seiren.

"…. Begitu;ah …. Awalnya dia baik – baik saja …. Namun, entah kenapa dia langsung kesakitan dan mengeluhkan matanya yang terasa panas." Semuanya langsung menatap Naruto dengan khawatir setelah mendapat penjelasan dari Sirzechs barusan.

"Hahh … hah … s-sudahlah …. A-Aku …. Baik …. B-Baik s-saja." Naruto mencoba untuk menenangkan semuanya. Namun itu sepertinya tak cukup untuk meyakinkan mereka semua.

"Ano …." Suara dari Isse langsung membuat semuanya kini mengalihkan tatapan mereka dan menatap Issei "…. Bagaimana kalau Asia-chan mencoba untuk menyembuhkan Shisou dengan Twilight Healing-nya."

Mendengar hal itu mereka semua langsung mengalihkan tatapannya pada Asia yang berdiri di samping Issei. Asia yang ditatap oleh semuanya langsung menjadi malu sendiri. Rias yang mendengar usulan Issei langsung tersenyum sumbringah.

"Issei benar …. Asia memiliki Twilight Healing yang mempunyai tingkat penyembuhan yang kuat."

Asia yang kini menjadi objek tatapan semakin dibuat salah tingkah saat ditatap degan pandangan penuh syukur dan senang dari semuanya. Dan setelah beberapa saat setelah membujuk Asia yang akhirnya menyembuhkan Naruto. kini Naruto sudah tak lagi merasakan sakit pada matanya. Meski terkadang sedikit rasa sakit masih bisa dia rasakan. Entahlah, Naruto kini benar – benar bingung dengan apa yang terjadi dengan matanya.

"Arigatou Asia-chan…." Asia mengangguk dan tersenyum pada Naruto. Naruto langsung bangkit setelah sebelumnya dia berbaring di salah satu kasur yang ada di ruangan itu. Dia langsung menatap Seiren yang berdiri di sebelah kasurnya dan masih menatapnya dengan khawatir.

"Aku sudah baikan Sei-chan … jadi tenanglah …." Tutur Naruto dengan senyum menenangkan pada Seiren.

"Sebenarnya …. Ada apa dengan matamu Naruto …. Aku masih belum mengerti kenapa kau bisa langsung merasakan kesakitan pada matamu?" Sirzechs bertanya dengan bingung. Dari awal sama sekali tak ada yang aneh pada Naruto bahkan dalam pertarungan dia sama sekali tak mendapat luka. Tapi entah kenapa dia bisa merasakan keskaitan pada matanya.

"Entahlah Shirzechs-san …. Aku juga bahkan belum mengerti betul dengan apa yang menimpa mataku ini…." Jawab Naruto juga dengan bingung atas apa yang terjadi pada matanya. Sairaorg yang awalnya diam kini mulai angkat suara.

"Naruto …. Bisa kau melihat ke arahku?" Naruto langsung mengalihkan tatapannya pada Sairaog yang kini menatapnya dengan serius, satu alis dia tarik ke atas melihat Sairaorg sama sekali tak mengatakan apapun saat dia sudah menatapnya. Dan yang lain sama sekali tak mengatakan apapun, mereka hanya memperhatikan keduanya secara bergantian.

Hening….

Hening….

Hening….

Kini tatapan Naruto bukan lagi menampakkan kebingungan. Wajah Naruto kini terlihat pucat, sorot matanya kini terlihat menampakan rasa takut. Tubuhnya bergetar hebat, dan jari telunjuknya kini dia angkat ke arah Sairaorg yang kini masih menatapnya dengan serius dan tak mengucapkan hal sepatah katapun.

"Jangan katakan kalau kau ini homo, Sairaorg…."

Dong

Tatapan serius Sairaorg kini menghilang dan digantikan dengan tatapan shock saat mendengar perkataan dari Naruto. dan semua yang ada disana kini mengangkat sebelah alis mereka menatap Sairaorg.

"Kau iblis homo …. Menjauh dariku …." Naruto dengan panik langsung menyered tubuhnya mundur ke belakang. Sairaorg langsung tersadar, dia langsung mendelik menatap Naruto.

"Oi …. Oi …. Apa maksud dari perkataan mu itu hahhh….?" Sairaorg berujar dengan kesal "…. Aku masih normal sialan."

"Hiii…. Lalu apa maksud tatapanmu itu hahhh …." Naruto langsung sewot " …. Jika kau bukan homo …. Kau tak akan menatapku seperti itu …"

"Grrrr ….. aku hanya sedang memastikan saja …. Bodoh …"

"Memastikan dengkulmu ….

Adu cekcok kini mulai kembali diantara keduanya. Dan yang lain hanya bisa diam menyaksikan dengan tatapan cengo melihat keduanya yang kini saling lempar argumen sendiri, dan terkadang perkataan mereka mulai melenceng ke segala arah.

"IBLIS HOMO…."

"DIAM KAU RUBAH KECIL…"

"MENJAUH DARIKU….."

"KEMARI KAUU SIALAAANNNN …."

"TIDAKKKKK….."

"KEMARII…"

"TIDAKKKK…."

"KEMA-…."

'Dhuak'

Sairaorg tak bisa melanjutkan perkataannya saat perkataannya terhenti oleh sebuah bogem mentah yang menghantam kepalanya. Dan itu membuatnya langsung terungkal dan terngkurap di lantai dengan kepala berasap.

"RASAKAN ITU …. DASAR Ho-…."

'wushhh'

'Duakh'

"AAHAAAA…. "

Naruto juga tak bisa melanjutkan perkataannya saat dia kembali merasakan sensasi yang sama dengan yang sebelumnya. Yaitu wajah sakit terhantam sepatu, dan membuatnya kini kembali mendapatkan cap merah pada wajahnya. Naruto dan Sairaorg langsung meringis kesakitan, mereka dengan serempak langsung menatap tajam pada sang pelaku yang tak lain adalah Kuisha.

'Glek'

Keduanya langsung terdiam dengan tubuh bergetar, tatapan dan umpatan yang sebelumnya akan mereka ucapkan langsung menghilang entah kemana saat mereka dengan jelas bisa melihat Kuisha yang kini sudah kembali ke mode sangarnya. Dan aura ungu pekat juga menguar dari tubuhnya. Wajah cantiknya juga kini sudah berubah menjadi sangat menakutkan di mata mereka.

"Bukankah aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya…." Nada dingin nan menusuk dari Kuisha langsung membuat nyali Naruto dan Sairaorg menciut. Bahkan keringat dingin mulai di keluarkan keduanya. Dan mereka semakin merinding saat kini di tangan Kuisha sudah tercipta sebuah lingkaran sihir.

"…. Jangan-melakukan-tindakan-bodoh." Penekanan di setiap perkataan Kuisha terdengar bak seperti terompet kematian di telinga mereka berdua.

"Tidakakkkkkkk….." / "Tidakakkkkkkk….."

Dan teriakan keduanya langsung terdengar keseluruh penjuru tempat disana. Dan kita doakan semoga nasib mereka bisa diterima disisinya.

.

.

.

.

.

.

.::.:.:Atarashi Seikatsu:.:.::.

.

TBC
KANABOON_-_BAKA

XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX

Oke …. Oke …. Nih chap mulai terasa aneh buat ane. Sorry humor garing dan chap yang amburadul.

Hanya melanjutkan yang kemarin tertinggal.

Oke ane juga mau ngadain Voting ... Ane minta saran kalian mengenai fic ane yg Kenshi. Apa yg harus ane lakuin dengan itu fic ...

Jika banyak yg minta lanjut ane bakal Rewrite ulang fic satu itu. Karena mengingat amburadulnya fic satu itu

Namun jika banyak juga yg ga ngerespon yah .. Mungkin bakal ane simpen aje. Hehehe

Oke ane gak bisa berkata apapun dan gak bisa membalas Riview untuk saat ini. Tapi mengingat kemarin ada pertanyaan penting. Mungkin ada yang akan ane jelasin dulu deh mumpung lagi keringet.

Oke mengenai tingkat kekuatan Naruto…. ane disini nerapin sebuah konsep bahwa tingkatan kekuatan iblis dan manusia itu berbeda cukup jauh. Dan untuk Naruto, yeah entahlah …. Para Reader mengatakan Naruto sangat lemah di fic ane.

Dan untuk memperjelas mungkin gini.

Dalam mode biasanya Naruto itu setingkat dengan hmmm Kokabiel kayaknya.
Mode bijuu setingkat dengan kemampuan dari Vali ataupun Issei dalam mode sempurna Sacred Gear.
dan mode Ashura setingkat dengan Maou.

Dan untuk tingakatan dewa. Itu akan ada saatnya. Akan ada Arc khusus nanti yang akan menjelaskan semuanya.

Lalu untuk gaya tarung Naruto.
ane emang pencinta game RPG sih … jadi konsep pertarungan hampir ngambil konsep dari sana. Ane jadi menyampurkan tiga gaya tarung buat Naruto. Knight, Mage, and Ninja. Jadi begotulah jadinya. Dan untuk Shikamaru. Dia akan mempunyai kemapuan khusus yang ane ambil dari beberapa krasi ane.

Oke mungkin hanya itu saja. Selebihnya mugkin nanti di chap berikutnya,

Jaa Mata ne …..

R

I

V

I

E

W