One Ok Rock_-_Kimishidai Resha
.
Atarashi_Seikatsu
DISCLAIMER : I Don't own Naruto and High School DxD.
Author : Hyosuke Ryukisi™
Rating : T+ and semi-M (untuk kata – kata kasar)
GENDRE : Adventure, Romance, Family, Hurt/ Comfort Drama, Fantasy, Humor.
Pair : Naruto x Seiren(OC) x Naomi(OC) x (Ra-ha-si-a)
Shika x Sona
Warning(s) : AU, Semi-Cannon, Mainstream, Typo(s), OOC, Bahasa tidak baku, dan berantakan. Yang jelas GAJE
A/N : Murni fanfiction dengan imajinasi dan penggambaran liar author yang penuh dengan kegajean tingkat akut.
Summary : Mereka berdua menjadi kunci keselamatan dunia. Mereka kini menempuh sebuah takdir baru yang menuntut mereka harus terlibat dengan Tiga Fraksi Akherat. Menjadi perwakilan Manusia, dan membentuk tim untuk menempuh takdir mereka. Cinta, dan teman baru mewarnai kehidupan mereka. Mampukah mereka menempuh takdir baru mereka itu.
.
.
.
"Normal"
"Thinking"
'Flasback'
"God/Bijuu/Monster"
'Jutsu'
'Efek'
.
.
.
.
Chap 16
.
.
.
.
Satu hari sudah berlalu sejak pertarungan antara Naruto dan timnya melawan Riser beserta dengan para Pereegenya yang berakhir dengan kemenangan Naruto. Dan kini Naruto dan Shikamaru masih berada di Underworld, lebih tepatnya di kediaman Gremory. Naruto, Shikamaru, dan juga Seiren sudah kembali bugar, berterimakasih pada Lord Phenex yang sudah berbaik hati memberikan Air Mata Phenex untuk Seiren dan juga Shikamaru. Sementara Naruto, dia akhirnya bisa merasa baikkan setelah matanya bisa kembali normal dan tak kembali merasa sakit.
Kita kini beralih sepenuhnya pada sang tokoh utama kita, Naruto. dia kini sedang berada di tempat dimana dia sering latihan sewaktu berada di Underworld. Dia kini tengah duduk bersila dan memejamkan matanya. Sepertinya Naruto sedang melakukan meditasi, karena dia sudah melakukan hal ini selama dua jam penuh.
'poff'
Kepulan asap, tercipta dibelakang Naruto. dan saat asap itu menghilang, kini dibelakang Naruto sudah berdiri Shikamaru dengan tampang malasnya.
"Oi … Naruto… Sirzechs-san meminta kita datang keruangannya." Shikamaru langsung buka suara. Namun, tak ada balasan dari Naruto, dan itu membuat Shikamaru langsung mengangkat sebelah alisnya heran. Dia kemudian langsung mendekati Naruto dan berdiri disampingnya.
"Oi …. Kau tidak sedang tidur bukan?" Shikamaru kembali buka suara karena sahabatnya ini sama sekali tak menyahut sebelumnya. Dan kali inipun Naruto kembali tak menyahut panggilannya. Dia baru saja akan mengangkat tangannya untuk memegang bahu dari sahabatnya. Namun, dia tarik kembali saat Naruto kini membuka matanya.
"Aku mendengarnya Shika…."
Naruto langsung berdiri, dan menegakkan tubuhnya. Kemudian dia meregangkan tubuhnya untuk melemaskan ototnya yang kaku setelah melakukan meditasi selama dua jam penuh. Naruto kemudian mengalihkan pandangannya pada Shikamaru yang berdiri di sampingnya.
"Jadi …. Ada apa … sampai – sampai Sirzechs-san ingin menemui kita?" Naruto langsung bertanya pada Shikamaru.
"Hahhh …. Entahlah…. Sirzechs-san sama sekali tak mengatakan apapun mengenai pemanggilan ini…. Benar – benar merepotkan." Shikamaru angkat bahu dan menjawab dengan malasnya.
"Ohh …. Ayolah pemalas…. Bersemangatlah sedikit…. Kau akan membuat hari yang indah ini menjadi suram jika terus memasang ekspresi menyedihkan seperti itu." Naruto langsung mendeplak punggung Shikamaru saat mengatakan hal itu. Shikamaru mendelik pada Naruto, namun Naruto hanya memasang cengiran tak berdosa terhadapnya.
"Merepotkan …."
"Ugh …. ku pikir, aku tak akan mendengar kata itu lagi keluar dari mulutmu …. Ternyata kata itu sangat menempel padamu Shika." Ringis Naruto saat mendapat jawaban khas seorang Shikamaru Nara.
"Terserah kau saja …." Shikamaru berujar dengan malas, kini dia kembali menatap pada Naruto "…. Kau memikirkan tentang kejadian kemarin?" Tanya Shikamaru dengan serius. Senyum di wajah Naruto langsung menghilang saat mendapat pertanyaan barusan. Pandangannya kini dia alihkan menatap ke arah depan dan diam beberapa saat.
"Hahhh …. Mau bagaimana lagi …. Aku masih penasaran dengan perubahan yang terjadi pada mataku ini …." Dengan lesu Naruto menjawab. "…. Aku masih sedikit terkejut …. Ternyata saat aku menyerap chakra Madara …. Aku juga ikut menyerap kekkei genkai miliknya."
'Flashback'
Ruangan kesehatan itu kini menjadi sepi saat Naruto dan Sairaorg kini tengah masuk ke zona serius.
"Kau yakin melihatnya secara jelas Sairaorg?" Naruto bertanya dengan serius pada sosok Sairaorg yang kini tengah berdiri dengan bersedekap dada. Matanya kini dia pejamkan, mencoba mengingat – ingat kejadian saat dia dan Naruto beradu tatap pas berada di lorong sebelumnya.
"Yah …. Aku sangat yakin sekali…" matanya kini dia buka, dan langsung menatap Naruto dengan mimik serius "…. Aku melihatnya dengan jelas, mata birumu mempunyai sebuah bintik aneh sebelumnya …. Bentuknya seperti sebuah tanda koma …. Dan bintik itu terus berputar mengelilingi pupil matamu secara perlahan."
Naruto terdiam mendengar hal barusan. Otaknya kini tengah bekerja keras untuk memikirkan kemungkinan atas bintik aneh yang ada di matanya. Dia terus menggali setiap memori-nya untuk mengingat kejadian sebelum – sebelumnya di dunia Shinobi. Semuanya terdiam menyaksikan Naruto yang kini tengah berpikir sambil memejamkan matanya itu.
"Sharingan …?"
Semua langsung mengangkat satu alis mereka bingung saat mendengar Naruto bergumam barusan. Dan semakin bingung saat melihat Naruto kini membuka matanya dengan cepat dan langsung membulatkan dengan sempurna. Namun, ekspresi itu langsung menghilang dan digantikan ekspresi serius kembali.
"Jadi begitu …. Terimakasih atas kejelianmu sebelumnya Sairaorg."
"Yeahhh …. Kelihatannya kau sudah tahu jawaban mengenai keanehan pada matamu sekarang?"
Naruto mengangguk, dia kemudian mengalihkan tatapannya pada kasur di sebelahnya yang kini Shikamaru masih terbaring disana.
"Shika …. Aku tau kau mendengarkan ini dari awal ... jadi bagaimana menurutmu?" semuanya langsung mengalihkan tatapannya pada Shikamaru yang kini terbaring di kasur sebelah Naruto. Shikamaru sendiri kini dengan perlahan mulai membuka matanya yang terpejam, dan tatapan seius kini terlihat di sorot matanya.
"Hmmm …. Sepertinya kau mendapatkan kemampuan dari orang itu Naruto." Nada yang dikeluarkan Shikamaru juga serius sekarang. Dia langsung mendudukkan diri di kasurnya, dan langsung menatap Naruto.
"…. Dan jika perkiraanku benar …. Kau kesakitan karena kau yang belum terbiasa dengan mata itu …. Dan kau memporsir penggunaannya dengan berlebihan." Naruto yang mengerti langsung mengangguk.
"Apakah ini ada hubungannya dengan pertarungan Naruto dengan orang itu sebelum datang kemari?" Sirzechs bertanya dengan ambigu pada Naruto dan juga Shikamaru.
"Yeah …. Apa yang kau pikirkan benar Sirzechs-san …. Ini tentang kejadian waktu itu." Naruto membenarkan semua yang dipikirkan oleh Sirzecsh.
"Jadi begitu …. Aku mengerti." Seiren juga ikut menambahkan. Dan perkataan dari Sirzechs dan juga Seiren barusan, semakin membuat para iblis yang ada di ruangan itu menjadi kebingungan.
"Bisakah kalian menjelaskan hal ini secara rinci …. Kami masih belum mengerti dengan arah pembicaraan kalian." Rias yang tak tahan dengan rasa penasarannya langsung mengeluarkan uneg – unegnya.
"Hahhh …. Mengenai hal itu, aku tak bisa menjelaskannya secara rinci untuk saat ini …. Namun, untuk kebingungan mengenai mataku. Aku akan menjawabnya …." Naruto kembali menarik napasnya.
"…. Jika perkiraanku benar mengenai perubahan mata yang dikatakan Sairaorg barusan…. Aku mengambil kesimpulan bahwa, aku mempunyai sebuah kemampuan Mata special khas turun temurun dari salah satu klan Shinobi di daerahku …. Dan mata itu dinamakan dengan Sharingan…." Semuanya kembali kebingungan dengan penjelasan Naruto.
"….Tadi Sairaorg berkata bahwa aku mempunyai satu bintik …. Itu dinamakan dengan tomo dan aku baru mencapainya pada tingkat terendah." Naruto menjelaskannya secara panjang lebar. Namun, sepertinya para iblis di sana masih belum mengerti betul dengan penjelasan Naruto.
"Memangnya …. Apa specialnya mata itu Shisou?" kali ini Issei yang bertanya.
"Sebenarnya aku tak terlalu mengetahui kemampuan mata ini …." Naruto kini langsung memejamkan matanya "…. Namun, yang ku tau mengenai Sharingan, adalah dapat melihat pergerakan lebih cepat tiga detik sebelum itu terjadi …. Dan sisanya yang ku tau hanyalah tingkatan berikutnya dari Sharingan." Dan Naruto langsung mengakhiri penjelasannya. Semuanya kini sedikit paham mengenai hal barusan.
"Lalu mengenai bentuk sharingan itu sendiri seperti apa Naruto-san…?" Kiba bertanya dengan tertarik. Untuk seorang petarung menggunakan pedang, kemampuan dari mata Naruto benar – benar sangat menguntungkan. Itu dapat membuat sang pengguna mata dapat memprediksi arah serangan yang cepat yang datang.
"Soal itu …." Naruto langsung memejamkan matanya dan saat dia membukanya kembali kini semua iblis yang ada di sana dibuat takjub saat melihat mata biru Naruto kini mulai bercahaya. Dan, dari iris matanya kini sebuah bintik aneh yang dikatakan oleh Sairaorg sebelumnya juga terlihat di sana. Dan secara perlahan mulai berputar mengelilingi pupil mata Naruto.
"Sepertinya memang benar …. Pergerakan kalian tiga detik setelah ini dapat terbaca…." Naruto langsung memejamkan matanya sesaat saat dia sedikit merasakan matanya kembali berdenyut, dia kembali membuka matanya "…. Namun, sepertinya ak-…."
'Wush'
'Brak'
Semuanya terdiam melongo dan langsung mematung, saat melihat kejadian mengejutkan di depan mata mereka. Karena Sairaorg yang sebelumnya masih berdiri dengan tenang di tempat dia sebelumnya, tiba – tiba saja langsung menyerang Naruto yang baru saja membuka matanya.
"Sialan …. Apa maksudmu gumpalan otot …. Kau ingin membuat kepalaku pecah yah?" Naruto langsung sewot saat itu juga. Dia langsung mendelik sangar pada Sairaorg yang sebelumnya melancarkan sebuah pukulan super dengan gumpalan tangan berototnya. Untung Naruto masih sempat menghindarinya dengan memiringkan sedikit tubuhnya, sehingga membuat pukulan dari Sairaorg hanya menghantam tembok dibelakangnya.
"Hmmmm …. Refleksmu benar – benar bagus, meski kau tidak dalam keadaan yang tidak siap…. Sepertinya mata itu memang berfungsi dengan baik." Sairaorg mengatakan hal itu dengan tampang tak berdosanya. Dia kini malah dengan santainya menepuk – nepuk tangannya yang tadi menghantam tembok.
"Jadi kau hanya ingin mengetesnya?" Naruto bertanya dengan sewot.
"Hehehe …. Yeah … aku sangat penasaran tentang matamu itu, setidaknya aku harus memastikannya, agar rasa penasaranku bisa terpuaskan." Sairaorg memasang cengiran tak bersalahnya, dan Naruto kian menatapnya dengan tajam.
"SIALAN KAU ….." Naruto langsung mencak – mencak pada Sairaorg namun hanya dibalas dengan cengiran tak berdosa olehnya. Semuanya langsung menghela napas mereka melihat adu cek cok kembali dari keduanya.
'Flashback End'
"Hmmmm …. Namun, yang masih membuatku tidak mengerti adalah …. Kenapa mataku masih berwarna biru …. Kenapa mataku tidak berubah menjadi merah seperti para pengguna Sharingan dari klan Uchiha?" Naruto bertanya dengan bingung dan mengusap dagunya mencoba memikirkan kenapa matanya masih tetap berwarna biru saat dia mengaktifkan Sharingan-nya dan tak berubah menjadi merah.
"Hoaammmm …. Sudahlah, itu tidaklah penting …. Mau warna matamu biru kek, apalagi merah seperti para manusia iritasi seperti mereka…. Aku tidak peduli …. Sebaiknya kita segera menemui Sirzechs-san, agar aku bisa cepat - cepat pulang dan kembali merasakan empuknya kasur di rumah."
Naruto langsung sweatdrop saat mendengar curhatan dengan nada malas dari sahabat disampingnya ini. Sementara Shikamaru sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
"Aku sekarang benar – benar menunggu …. Saat-saat dimana kau akan menjadi seorang yang penuh semangat dan energik seperti Lee ataupun Guy-sensei, Shika…." Naruto dengan masih sweatdropnya mengucapkan harapan untuk Shikamaru. Dan membayangkan jika Shikamaru menjadi seorang yang energik dan penuh semangat layaknya Lee.
"Hahh? …. Hilangkan pikiran anehmu itu …. Karena itu tak akan pernah terjadi …. Aku tak akan mungkin berubah menjadi gumpalan toge seperti mereka." Dengan malas Shikamaru mengatakan hal barusan.
"Hehehe …. Namun, entah kenapa aku punya firasat kau tidak akan menjadi pemalas lagi nanti." Naruto berujar dengan nada jail sambil membayangkan kejadian antara Sona dan juga Shikamaru.
"Dan aku juga menunggu …. Saat - saat dimana Ramen dihilangkan dari daftar menu seluruh kedai ataupun pedagang di seluruh penjuru daerah." Dengan malasnya Shikamaru juga mengatakan harapannya. Naruto langsung mendelik, karena merasa Shikamaru mengatakan hal itu untuk menyindir dirinya yang merupakan seorang penggila ramen. Dia baru saja akan membalas perkataan Shikamaru, namun sudah dihentikan terlebih dahulu oleh sahabatnya itu.
"Stoppp … aku sedang malas berdebat …. Aku pergi duluan … hoaammm … merepotkan."
'poff'
Shikamaru langsung menghilang dalam kepulan asap khas Sunsin, sebelum mendengar ocehan dari Naruto. sementara Naruto, kini sebuah perempatan siku sudah tercipta di kepalanya, tangannya dia kepalkan dan raut kesal terpampang pada wajahnya.
"SIALAN KAU RUSA PEMALAS….." Dan teriakan Naruto menggema dengan jelas ke setiap penjuru tempat dimana dia sekarang.
'Scan Break'
Naruto dan Shikamaru kini sedang berjalan di lorong panjang dari istana Gremory ini. Tujuan mereka adalah untuk memenuhi pertemuan dengan Sirzecs sang Maou Lucifer yang sebelumnya meminta mereka untuk hadir ke hadapannya.
Setelah beberapa saat berjalan, Kini mereka sudah sampai di depan sebuah pintu yang terlihat sangat elegan, dengan hiasan – hiasan dari emas, dan jangan lupakan sebuah pahatan yang berlambangkan Gremory Clan juga terpampang besar di tengah – tengah pintu itu. Naruto kemudian langsung mengetuk pintunya.
'Tok'
'Tok'
'Tok'
Naruto langsung membuka pintu saat suara Sirzechs menyahut dari dalam, dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Dan saat pintu terbuka, kini Naruto dan Shikamaru bisa melihat Sirzechs dan juga Lord Gremory sudah ada di ruangan itu. Dan Disana juga ada Seiren yang kini tengah memegang sebuah katana dengan gagang berwarna merah, yang kini bilahnya masih terbungkus dengan sarung pedang yang berwarna merah seperti gagang pedangnya, yang kini tengah di pegang Seiren dengan kedua tangannya.
"Maaf kami terlambat…." Naruto langsung meminta maaf atas keterlambatan dirinya dan juga Shikamaru.
"Tidak apa apa …. Duduklah. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu Naruto." Sirzechs langsung mempersilahkan keduanya duduk di sofa yang memang sudah tersedia di ruangan itu. Naruto mengangguk, dan keduanya langsung duduk di sofa yang masih kosong yang juga berhadapan dengan sofa yang kini di duduki oleh Seiren dan juga Lord Gremory.
"Jadi …. Apa yang ingin kau tanyakan Sirzechs-san?" Naruto langsung bertanya to the poin.
"Bagaimana kau bisa menemukan pedang 'Muramasha' …. Pedang itu sudah dinyatakan hilang sejak berabad – abad lalu setelah terjadinya Great War …. Namun, bagaimana bisa kau menemukannya?" Sirzechs bertanya dengan serius mengenai pedang yang kini berada di genggaman Seiren.
"Hmmmm …. Sebenarnya aku mencarinya dari informasi dan mitos – mitos…. Dikatakan kalau pedang Muramasha dan juga Masamune itu tersembunyi di tempat – tempat suci …. Nah, karena aku penasaran aku langsung mencoba mencarinya ke berbagai daerah dengan bantuan bunshin …. Tapi semuanya tak ada yang membuahkan hasil sama sekali." Naruto menghentikan penjelasannya sesaat untuk mengambil napas
"…. Namun, saat aku pergi ke kyoto …. Aku merasakan sebuah tekanan energi yang aneh saat aku sedang berada di salah satu kuil terpencil di daerah itu…. Kupikir itu adalah energi para Yokai yang memang disana merupakan teritori dari para Yokai …. Namun ternyata dugaanku salah …. Setelah aku mengikuti arah dari tekanan energi itu berasal, aku menemukan sebuah gua yang dihalangi dengan kekai super tebal …. Bahkan Jutsu terkuat milikkupun sama sekali tak bisa untuk menembus kekai itu, bahkan memberikan sebuah retakan juga tak ada."
Sirzechs, Lord Gremory, dan Seiren terus mendengarkan dengan seksama, penjelasan yang Naruto ceritakan. Mereka sama sekali tak ingin memotong cerita itu, dan lebih memilih diam dan memperhatikan.
"…. Namun, aku berhasil menghancurkannya dengan Gedoudama …. Nah saat aku sudah memasuki gua itu, aku kembali merasakan tekanan energi itu semakin jelas…. Karena penasaran oleh sebuah Gua yang dipasang kekai super tebal itu, aku berasumsi pasti di dalamnya menyimpan susuatu yang sangatlah penting… aku terus melanjutkan langkahku memasuki gua itu …. Yah meski aku harus berusaha ekstra agar tidak mati konyol disana."
"Memangnya di dalam gua itu apa saja yang kau alami Naruto-kun?" Naruto tersenyum pada Seiren yang kini terlihat sangat penasaran.
"Yeah …. Karena kecerobohanku …. Aku jadi mendapat masalah karena terus mengaktifkan jebakan di dalam sana…. Namun, aku sedikit bersyukur karena aku memasuki sebuah lubang aneh saat aku sedang dikejar – kejar oleh batu raksasa yang siap melindasku …." Naruto sedikit meringis saat mengingat kejadian yang satu ini.
"…. Dan saat aku sampai di ujung lubang jebakan itu …. Disaat itulah aku menemukan kedua pedang legenda yang menjadi saksi atas pertarungan akbar antar Fraksi…. Dan juga merupakan pedang yang membuat pedang Excalibur mengalami kerusakan." Dan Naruto langsung mengakhiri ceritanya. Semuanya kini terdiam.
"Hmmm …. Jadi begitu … tapi, bukannya kau bilang tadi ada dua pedang ….?" Sirzechs langsung bertanya kembali saat mengingat ada yang serasa kurang. Naruto tersenyum mendengar pertanyaan Sirzechs, dia kemudian langsung menyentuh segel di pergelangan tangannya. Kepulan asap kecil tercipta, dan saat asap menghilang, kini di tangan Naruto sudah tergenggam sebuah katana dengan gagang berwarna pitih dan bilahnya kini juga terbungkus dengan sarung pedang berwarna putih.
Sirzechs beserta Lord Gremory langsung terdiam saat melihat pedang yang kini berada di genggaman Naruto. sementara Seiren menatap dengan kagum pada katana yang merupakan katana 'Masamune' yang kini berada di genggaman Naruto
"Aku menyimpannya …. Dan Ini adalah pedang Masamune"
"Aku benar – benar tidak menyangka …. Pedang yang sudah dikatakan menghilang dan juga sudah lama dicari oleh seluruh fraksi selama bertahun – tahun…. Dapat kau temukan dengan mudahnya." Lord Gremory mengungkapkan rasa kagumnya pada Naruto.
"Ahahaha …. Mungkin ini hanya keberuntunganku saja Gremory-sama…. Dan lagi aku memang berniat mencarinya untuk Seiren-chan. Karena Dia memang pantas untuk mendapatkannya." Naruto menjawab dan sedikit tertawa kecil saat mendengar perkataan dari Lord Gremory itu.
Mata merah Seiren langsung menatap Naruto dengan tatapan terkejut saat mendengar perkataan Naruto barusan. Dia tidak menyangka, Naruto bersusah payah mencari pedang ini hanya untuk dirinya. Seiren bingung harus berekspresi apa sekarang, namun Rona merah kini juga tercipta di kedua pipinya. Merasa diperhatikan Naruto langsung mengalihkan tatapannya. Dan disana dia melihat kini Seiren tengah menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Naruto hanya memberinya senyum tulus, dan itu membuat Seiren kini kembali merona saat Naruto juga menatapnya dan memberikan senyum padanya.
"Dan lagi …. Aku tidak menyangka kalau pedang Muramasa akan tertarik dengan Seiren-chan. karena pada awalnya pedang itu seperti memberikan penolakan padaku …. Namun, saat pedang itu berada di tangan Seiren-chan …. Serasa pedang itu menjadi jinak … bahkan aku bisa merasakan sebuah energi asing yang menyatu dengan Seiren-chan saat dia sudah menerima pedang itu."
Naruto kembali mengingat – ingat saat dia pertama kali memberikan pedang itu pada Seiren tempo hari lalu, saat dia mengetes kemampuan Seiren di tempat Rias.
'Flashback'
"…. Muramasha?" Grayfia menyebutkan nama pedang yang kini berada di genggaman Naruto. Naruto langsung mengangguk.
"Yep …. Ini adalah Muramasa, yang merupakan pedang sejarah saat terjadinya Great War dulu."
Semua iblis yang ada di sana langsung terkejut saat mendengar perkataan dari Naruto barusan. Mereka terkejut, karena kini pedang yang dulu merupakan pedang yang sangat bersejarah saat terjadinya Great War berada di genggaman Naruto. mereka juga mengetahui bahwa pedang Muramasha adalah salah satu dari dua pedang yang dikatakan penyebab pedang Excalibur mengalami kehancuran.
"B-Bagai m-mana bisa…. P-pedang i-itu…" Kiba berujar dengan tergagap sambil menunjuk katana yang kini berada di genggaman Naruto. "…. Bukankah pedang itu sudah dikatakan menghilang dan sama sekali tidak dapat ditemukan …. Bahkan seluruh Fraksipun tak bisa menemukannya." Kiba sama sekali tak bisa mempercayai apa yang Naruto ucapkan.
"Yeah …. Memang benar apa yang kau katakan itu…. Namun, aku sudah menjamin keaslian pedang ini …. Ini memanglah pedang yang dikatakan hilang itu." Naruto mengatakannya dengan sedikit acuh, dia sedikit agak menjadi malas saat dia merasakan sebuah aura aneh dari Kiba, apalagi gestur tubuhnya terlihat mencurigakan dimatanya.
"…. Nah …. Ambil ini Sei-chan…" Naruto langsung menyodorkan pedang itu pada Seiren yang masih berdiri di hadapannya. Seiren yang awalnya masih terkejut, langsung tersadar. Dia dengan ragu – ragu langsung mengambil pedang yang disodorkan oleh Naruto.
Seiren tak bisa untuk tidak kagum sekarang. Melihat pedang yang kini berada di genggamannya. Sarung pedang yang berwarna merah, dan juga gagang pedang berwarna merah ini, benar – benar terlihat indah dimatanya.
"Sekarang, coba kau keluarkan pedang itu dari sarungnya Sei-chan…."
Seiren mengangguk, dia kemudian dengan secara perlahan mulai menarik keluar pedang itu dari sarungnya. Suara gesekan bilah pedang dengan sarungnya terdengar sangat jelas di telinga mereka semua. aura aneh kini mulai terasa oleh mereka saat bilah pedang itu sudah keluar sepenuhnya dari sarungnya, aura merah langsung menguar dari pedang yang kini berada di genggaman Seiren.
Semuanya terkejut dengan apa yang kini mereka lihat. Aura pedang itu kini terasa semakin mencekam. Dan sepertinya Seiren juga mulai terkena dampaknya, dia kini mulai kewalahan saat menggenggam pedang di tangannya ini. Namun, Seiren dikejutkan saat seseorang kini menggenggam tangannya yang kini tengah menganggur. Secara perlahan dia mengalihkan tatapannya kesamping, dan disana Naruto tengah tersenyum padanya dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Tahan Sei-chan …. Kau harus bisa menaklukan roh negatif dalam pedang ini …. Sekarang alirkan energi-mu pada pedang itu, dan lawanlah energi negatifnya. Aku akan membantumu."
Seiren yang sudah mendapat penjelasan Naruto, kemudian langsung mengalirkan energi power of destruction-nya pada pedang itu. Sementara Naruto, dia juga mengalirkan chakranya pada Seiren. sementara dengan semua yang menonton, langsung melangkahkan kaki mereka ke belakang, sedikit menjauh dari mereka berdua.
"Ughhh … i-ini s-sangat menyulitkan… N-Naruto-kun." Seiren kewalahan karena energi power of destruction miliknya kini baru bisa menutupi gagang pedangnya saja.
"Terus tingkatkan energi milikmu Seiren-chan …. Aku akan sedikit memberikan energi tambahan untukmu."
Tangan Naruto yang menggenggam pergelangan tangan Seiren, langsung mengeluarkan pendar berwarna keemasan. Dan saat itu, tubuh Seiren kini mulai tertutupi oleh selubung energy berwarna merah dan membungkus dirinya seperti mantel.
Seiren yang merasakan energi asing namun sangatlah terasa nyaman itu, langsung menambahkan energinya power of destructionnya. Dan dengan cepat, energy merah yang menyelubungi pedang Muramasha mulai terkikis oleh Power of Destruction Seiren. dan setelah beberapa saat, akhirnya seluruh pedang itu sudah tertutupi oleh power of destruction.
Naruto yang melihatnya langsung melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Seiren. Namun, energi power of destruction yang menyelubungi Muramasha, kini terlihat langsung meluap – luap, bahkan Seiren kini kembali mulai kewalahan. Lalu secara dengan cepat, energi power destruction Seiren itu langsung masuk kembali kedalam tubuh Seiren.
Dan saat itu juga, aura mencekam yang sebelumnya terasa, langsung lenyap saat energi itu kembali masuk kedalam tubuh Seiren. semuanya langsung bisa bernapas lega saat melihatnya. Namun, mereka langsung terkejut saat melihat tubuh Seiren yang mulai oleng.
Seiren sendiri kini mulai terlihat lemas, dan tubuhnya akan langsung terjatuh jika saja tak ada yang menahannya. Dan disana kini Naruto sudah menahan Seiren agar tidak terjatuh. Naruto secara perlahan mulai mendudukkan Seiren di tanah, karena melihat sepertinya Seiren sudah tak bisa lagi untuk berdiri karena lemas. Dan menyandarkan badannya pada pelukannya.
"A-Apakah a-aku … b-berhasil?"
"Yah…. Kau berhasil Sei-chan…"
"Hahhh …. Baguslah…"
Seiren langsung bernapas lega saat akhirnya dia berhasil. Dan kini pedang Muramasha terlihat mulai terbungkus kembali oleh sarungnya.
'Flasback End'
"Muramasha sepertinya sudah menemukan pemiliknya…." Naruto berujar setelah dia sempat melamun tadi. Semuanya langsung mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Naruto-kun.." Naruto langsung mengalihkan tatapannya pada Seiren, saat dia memanggil dirinya.
"Ya Sei-chan?"
"Ummm …. A-Arigatou." Seiren langsung menundukkan kepalanya saat mengatakan hal barusan.
"Are? …. Berterimakasih untuk apa Sei-chan?" Tanya Naruto dengan bingung karena Seiren tiba – tiba berterimakasih begitu saja.
"Terimakasih …. Atas apa yang …. Sudah Naruto-kun berikan untukku …. Aku tak tau harus membalas Naruto-kun dengan apa …. Naruto-kun sudah mau melaitihku, dan memberikanku hal yang begitu berarti …. Yang jelas aku sangat berterimakasih …. Sangat – sangat berterimakasih …. Aku pasti akan membalas semua kebaikan Naruto-kun…." Seiren kian menundukkan kepalanya, tangannya kini meremas pedang yang berada di dalam genggamannya.
"Hehehe …. Sudahlah Sei-chan …. Kau tak perlu membalas apapun …. Melihatmu bisa menjadi seperti apa kau sekarang …. Itu sudah cukup untukku." Naruto mengatakannya dengan tulus. Seiren yang mendengarnya langsung mendongakkan kepalanya menatap Naruto.
"T-Tapi…."
Naruto menggeleng perlahan, dan tersenyum pada Seiren. "…. Aku tidak mengharapkan apapun Sei-chan …. Meskipun ada sekalipun, itu hanyalah harapanku agar kau bisa menggapai apa yang kau inginkan."
Seiren langsung terdiam mendengar perkataan Naruto, dia tidak memperkirakan perkataan itu benar – benar akan keluar dari Naruto. Naruto tersenyum padanya, dan itu semakin membuatnya merasakan perasaan aneh. Dan setitik airmata tak bisa dia tahan, dan mulai keluar dari mata indahnya. senyum manispun langsung dia berikan pada Naruto.
"Arigatou …."
"Doita…. Sei-chan"
Yang lain hanya bisa tersenyum melihat keduanya. Sepertinya mereka tak lama lagi akan menerima sebuah kejutan tentang hubungan mereka berdua nanti. Mungkin saja, dan Lord Gremory sepertinya sangat menantikan hal itu. Dia langsung mengusap kepala Seiren yang duduk disampingnya itu. Dengan Naruto, dia kemudian langsung mengalihkan tatapannya kembali pada Sirzechs.
"Ohhh ya….Aku hampir lupa, Sirzechs-san…." Naruto kembali angkat suara, dan dia juga kembali menyentuh segel di pergelangan tangannya, dan mengeluarkan sebuah gulungan dari sana. "…. Terima ini …" Naruto langsung melemparkan gulungan itu pada Sirzechs.
Sirzechs menangkap gulungan itu dengan mudah. Sirzechs kini terlihat bingung dengan gulungan yang diberikan oleh Naruto. dia langsung menatap Naruto dengan penuh tanya, namun Naruto hanya memberinya senyum, dan menyuruhnya untuk segera membuka gulungan itu.
Merasa penasaran, Shirzechs langsung membuka gulungan itu. Disana sudah ada tulisan – tulisan Sirzecsh langsung membaca isi dari gulungan itu dengan seksama. Dia membacanya dengan serius, dan saat dia selesai membacanya kini matanya langsung membulat dengan sempurna. Lord Gremory dan juga Seiren, menatap heran pada Sirzechs yang kini terdiam di tempatnya setelah dia membaca gulungan itu. Sirzechs dengan cepat langsung menatap pada Naruto yang kini tengah tersenyum memandangnya.
"I-Ini bukan sebuah gurauankan?" Sirzechs bertanya masih dengan nada Shock.
"Yep …. Itu bukanlah sebuah gurauan Sirzechs-san." Naruto dengan bangganya mengatakan itu bukanlah sebuah gurauan. Sirzechs kembali membaca gulungan itu, dan langsung kembali menatap ke arah Naruto. helaan napas langsung dia keluarkan.
"Hahhh …. Sepertinya, kejutan tak hanya kau berikan untuk Seiren saja Naruto…. Kau juga memberiku sebuah kejutan yang sangat besar." Sirzechs mengatakannya masih dengan sedikit raut tak percaya. Lord Gremory langsung bertanya dengan penasaran pada Sirzechs.
"Memangnya …. Kejutan apa yang kau maksud Sirzechs?" Tanya Lord Gremory dengan penasaran. Sirzechs langsung bangkit dari duduknya, dan mendekati sang ayah. Dia kemudian menyerahkan gulungan yang diberikan Naruto pada Ayahnya.
Lord Gremory kemudian langsung membaca gulungan itu, dan Seiren juga ikut membacanya karena dia juga sangat penasaran dengan isi gulungan itu. Setelah mereka sudah membaca isinya, ekspresi dari Lord Gremory dan Seiren tak beda jauh dengan ekspresi dari Sirzechs barusan. Mereka dengan cepat langsung menatap pada Naruto yang kini tengah tersenyum dengan bangganya.
"Ini benar – benar berita yang sangat mengejutkan…." Ujar sang Lord Gremory "…. Aku tidak menyangka kau berhasil meyakinkan Fraksi Da-Tenshi untuk berdamai Naruto-kun…" tambah sang Lord Gremory lagi.
"Hehehe …. Itu adalah hal mudah Gremory-sama. Karena sang gubernur Da-Tenshi itu merupakan seorang yang menginginkan perdamaian juga …."
"Begitukah …. Tidak mengherankan memang …. Mengingat pemimpin mereka adalah Azazel. Sebenarnya dia memanglah seorang yang cinta damai, karena dia mempunyai niatan baik…. Andai saja dia tidak mempunyai tingkat kemesuman tinggi, dia mungkin tak akan pernah ditendang dari surga." Sirzechs berkata sambil mengingat – ingat watak dari sag gubernur Da-Tenshi itu.
"Jadi dia memang punya sifat mesum yah …. Pantas saja, tampang mupengnya memang sangat tercetak menunjukkan kemesuman." Naruto manggut – manggut mengerti sekarang ini.
"Hmmmm …. Jadi perdamaian ini akan terbentuk dengan mudah sepertinya." Ujar sang Lord Gremory. Sirzechs mengangguk menyetujui pendapat dari ayahnya.
"Mungkin saja Gremory-sama…."
Yang lainnya langsung bingung saat mendengar pengutaraan tidak yakin dari Naruto barusan.
"Kenapa kau terlihat tidak yakin Naruto?" Sirzechs bertanya dengan heran.
"Entahlah Sirzechs-san …. Aku merasa, kalau kita akan mendapatkan rintangan besar untuk mencapi perdamaian ini." Naruto berujar dengan ragu, namun dia langsung menggeleng menghilangkan pemikiran negatif di kepalanya "…. Lupakan, selama kita bersatu kita pasti bisa melewati semua rintangan itu, dan akan bisa mencapai kedamaian yang sesungguhnya."
Yang lain langsung tersenyum saat mendengar deklarasi penuh semangat dari Naruto. mereka juga kini yakin, mereka akan bisa merasakan apa itu perdamaian yang selalu mereka semua harapkan dari dulu.
"…. Benarkan Shikamaru." Naruto langsung menatap Shikamaru di sampingnya. Namun, orang yang di panggil sama sekali tak menyahut. Mereka semua langsung kebingungan dan dengan serempak menatap ke arah Shikamaru. Dan saat itulah mereka bisa melihat SHikamaru yang kini tengah tertidur di samping Naruto.
"KONOYAROU…. Dasar RUSA SIALAANNNNN…" Naruto langsung berteriak dengan kesal saat dia menyadari bahwa temannya itu malah enak – enakkan tidur di tempatnya.
.:.:.:.
:.:.:. Atarasi Seikatsu .:.:.:
.:.:.:.
Naruto kini sedang berada di kamar yang di tempatinya selama dia berada di istana Gremory. Dia kini tengah berdiri di balkon kamar itu, dan menatap ke arah bulan di atasnya. berterimakasih kepada Ajuka, karena berkat kecerdasannya, dia bisa menciptakan sebuah proyeksi dari bulan seperti di dunia manusia.
Naruto kini hanya diam dan terus memperhatikan bulan itu dengan pandangan kosong. Pikirannya kini tengah menyelami jauh ke kejadian yang dilaluinya selama sepanjang dia hidup. Dan pikirannya kini kembali teringat dengan perkataan yang di utarakan oleh Seiren sebelum mereka melakukan pertandingan kemarin.
'Izinkan aku untuk menjadi pengganti Hinata-san….'
Perkataan Seiren itu terus berputar dan terngiang di pikirannya. Dan dia kini langsung dilanda dilema sekarang ini, dia tak tau harus apa sekarang ini. Ingatannya kembali berputar dan kini sosok gadis berambut indigo berwajah cantik dengan mata indah berwarna ametis langsung muncul di ingatannya.
"Hinata …. Apa yang harus aku lakukan …. Kenapa aku harus lagi terlibat dalam hal seperti ini …." Raut sedih kini terpampang di wajahnya. Naruto langsung menyandarkan tubuhnya pada pembatas balkon dan mendudukkan diri disana.
"…. Kenapa harus disaat seperti ini?" ujar lirih Naruto dengan sedih. Namun, Naruto langsung dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kamarnya.
'Tok'
'Tok'
"Naruto-kun …. Apakah kau sudah tidur?" Suara Seiren terdengar dari balik pintu kamarnya. Naruto , buru – buru langsung menggelengkan kepalanya, untuk menghilangkan kesedihannya tadi.
"Ah …. Y-ya … sebentar Sei-chan." Dia kemudian langsung berdiri
"Bolehkah aku masuk Naruto-kun?" Suara Seiren kembali terdengar dari luar kamarnya itu. Naruto yang mendengar itu sempat kelabakan sendiri. Dia kemudian dengan terburu – buru langsung mengahampiri pintu dan langsung membukanya.
Dan saat itulah dia bisa melihat Seiren yang kini tengah memakai piyama tidur berwarna orange. Seiren langsung tersenyum manis saat Naruto membukakan pintunya. Dan juga kini ditangan Seiren sudah ada dua cangkir minuman.
"A-Ah…. Kenapa kau belum tidur Sei-chan?" Naruto langsung bertanya saat dia sudah membuka pintu.
"Bolehkah aku masuk terlebih dahulu…. Aku juga membawakan cokelat hangat untukmu Naruto-kun…"
Naruto mengangguk dan langsung mempersilahkan Seiren masuk dan menerima segelas cokelat hangat yang disodorkan oleh Seiren untuknya.
"Arigatou …." Naruto berterimakasih, dan Seiren tersenyum membalasnya. Seiren kemudian melangkahkan kaki-nya masuk ke kamar Naruto dan melangkahkan kakinya ke balkon kamar itu, lalu berdiri di sana. Naruto mengikutinya dari belakang setelah dia sebelumnya sudah menutup pintunya terlebih dahulu, dan langsung berdiri di samping Seiren.
"Aku tak bisa tidur …. Karena itulah aku langsung membuat cokelat ini …."
"Begitukah …?"
Naruto kemudian menyandarkan tangannya ke pagar balkon, tangannya yang tidak memegang gelas langsung dia gunakan untuk menyangga kepalanya dengan dagu yang dia taruh di telapak tangan. Tatapannya kini dia arahkan jauh kedepan.
"Lalu kenapa kau mengunjungi kamarku Sei-chan?" Naruto kembali bertanya. Seiren sempat sedikit tersedak minumannya saat Naruto bertanya barusan.
"Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu Naruto-kun …. Sudah lama aku tak mengobrol denganmu seperti ini." Seiren mengatakan dengan jujur kenapa dia mengunjungi Naruto. Senyum kecil langsung tampak di wajah Naruto.
"Lalu kau ingin mengobrol tentang apa Sei-chan…." Naruto kemudian mengalihkan tatapannya pada Seiren yang kini malah terdiam setelah dia tanya.
"Apakah …." Seiren kini terlihat ragu –ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Naruto menatap Seiren, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"…. Apakah Naruto-kun bisa menceritakan tentang …. Hinata Hyuga." Naruto langsung terdiam, dan Seiren semakin mengeratkan genggamannya pada gelas di tangannya. Lama tak ada jawaban dari Naruto dan itu membuat Seiren gelisah, dia kemudian menatap pada Naruto yang kini menatap ke arah depan, dan tatapannya terlihat kosong.
"N-Naru-…."
"Kenapa kau ingin mengetahuinya Sei?" Naruto bertanya, dia bertanya tanpa mempunyai nada.
"A-Aku …. I-Itu, s-setelah aku melihatnya dari memori Naruto-kun …. A-Aku menjadi mengaguminya…." Seiren berkata dengan tergagap. Dia kemudian membayangkan wajah Hinata dari ingatan yang dia lihat dari memori ingatan Naruto.
"…. Dia adalah gadis yang sangat tegar, tak pernah ragu…. Dia adalah gadis yang sangat cantik dan baik, juga lemah lembut …." Seiren kemudian melihat ke atas pada bulan yang bersinar. "…. Aku sangat mengaguminya, dan sangat ingin bisa sepertinya." Tak ada jawaban kembali dari Naruto, dan Seiren juga tak kembali bersuara. Sehingga kini hanya hening yang menghiasi mereka berdua.
"Dia adalah benar – benar gadis yang keras kepala…." Seiren langsung menatap pada Naruto saat dia mengeluarkan suaranya. "…. Yah, dia benar – benar keras kepala, meski apa yang kau katakan adalah semua sifat yang memang dia miliki." Kini nada suara Naruto kian lirih, matanya dia pejamkan mencoba menyelami kembali ingatannya mengenai Hinata.
"…. Dia juga sangatlah pemalu, apalagi dia terkadang saja pingsan saat bertemu denganku …. Aku sempat menganggap bahwa dia adalah gadis aneh…. Namun, saat aku sudah lama kenal dengannya justru itulah yang membuatnya terlihat lucu…." Senyum terukir di wajahnya saat mengingat kenangan saat Hinata pingsan, melihat Hinata yang sangat pemalu. Seiren terus memperhatikannya dan menunggu apa lanjutan dari perkataan Naruto.
"…. Kehidupan yang dijalaninya juga sangatlah sulit, hidup dalam rentetetan Klan yang sangatlah terhormat. Membuatnya tertekan karena tuntutan mengenai pewaris, namun, dia malah menjadi bahan cemoohan klannya sendiri, karena dia tak mempunyai bakat alami Klan, dan bahkan dia kalah dalam latih tanding melawan adiknya…." Naruto kemudian membuka matanya dan melihat ke arah bulan. "…. Tapi entah apa alasannya…. dia yang awalnya sangatlah depresi, bisa menjadi seorang gadis yang tegar sehingga dia pada akhirnya bisa membuktikan diri pada Klannya, bahwa dia layak menjadi bagian dari Klan terhormat." Naruto berhenti sesaat untuk meminum cokelat di gelasnya.
"…. Dia berani, dia kuat, dia tak pernah ragu dan tak mau menyerah dengan jalan hidupnya…. Itulah yang membuatnya bisa menjadi Kunoichi yang disegani…." Secara perlahan senyum di wajah Naruto mulai menghilang, dan dia juga memejamkan matanya.
"Tapi, pada akhirnya …. Karena diriku, dia harus mati sebelum semua keinginannya terwujud…" Raut penuh rasa menyesal terlihat di wajahnya, kepalanya dia tundukkan. Dia berbalik dan mendudukkan dirinya bersandar pada pagar pembatas balkon.
"…. Andai saja aku kuat…. Seandainya saja …. Seandainya saja …. Aku bisa melindunginya …. I-ini tak akan pernah terjadi…." Suaranya kian bergetar "…. I-ini s-salahku …. Ini sa-…."
Naruto tak melanjutkan perkataannya saat seseorang memegang kedua pipinya. Dia mendongak, dan di depannya kini Seiren sudah berjongkok dan memegang kedua pipinya. Tatapan mata Seiren menunjukkan kekhawatiran.
"Ini bukanlah salahmu Naruto-kun…." Seiren masih memegang kedua pipi Naruto, dan membuat mereka saling menatap "….Hinata-san mengorbankan dirinya karena dia percaya padamu Naruto-kun …. Dia percaya bahwa Naruto-kun akan bisa mengakhiri semuanya." Seiren memberikan senyum manisnya pada Naruto.
"Tetap itu adalah kesalahku Sei…. Aku yang terlalu lemah, dan tak bisa melindunginya… " Naruto masih bersikeras menyalahkan dirinya sendiri. Sorot matanya juga kini menunjukkan bahwa dia benar benar merasa bersalah.
"Ini salahku…." Suara Naruto menjadi lirih, dan dia menutup matanya, dia mencoba untuk menenangkan emosinya yang kini terasa terguncang.
'CUP'
Naruto langsung membulatkan matanya, tubuhnya langsung membeku. Kini dia tak bisa berkata apapun, karena kini Seiren tengah mencium dirinya tepat di bibir. Ciuman itu terjadi cukup lama, tak ada unsur nafsu dalam ciuman itu, Namun, Naruto bisa merasakan sebuah perasaan aneh pada dirinya, dan dirinya bisa merasakan luapan emosi dari Seiren. Setelah beberapa saat, Seiren mengakhiri ciuman itu. Dia kemudian menempelkan keningnya pada kening Naruto. Iris merah delima itu menatap lurus pada mata biru sapphire milik Naruto.
"Kau tidaklah bersalah …. Hinata-san mengorbankan dirinya karena dia mencintaimu Naruto-kun…. Dia lebih baik mati asal dia bisa melihat orang yang dicintainya baik – baik saja." Ujar lirih Seiren, dia mengusap pipi Naruto dengan lembut.
"S-Sei-…."
Seiren menggelengkan kepalanya, dan menjauhkan wajahnya dari Naruto dan tersenyum tulus padanya. Setelah itu, dia kemudian bangkit berdiri dan mengambil gelas yang sebelumnya sempat dia letakan. Dia kemudian melangkah mundur, dan melangkahkan kakinya menjauh dari Naruto yang kini masih terduduk dan shock.
"Oyasumi Naruto-kun …."
Seiren langsung keluar dari kamar Naruto saat dia sudah mengatakan hal itu dan meninggalkan Naruto yang diam mematung di balkon. Kamar itu menjadi sepi sunyi karena sang penghuni kamar itu hanya diam. Bahkan ekspresi terkejut itu masih belum hilang di wajahnya. Setelah tersadar, Naruto kini langsung menundukkan kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang …. Hinata?"
Dan saat itulah Naruto semakin merasakan dilema dalam hatinya.
'Skip Time'
Esoknya, kini Naruto dan Shikamaru sudah bersiap untuk kembali ke dunia manusia. Dan mereka kini sudah berada di ruangan tengah dari istana Gremory ini. Dan disana juga sudah berkumpul seluruh anggota keluarga Gremory.
"Baiklah …. Grayfia akan mengirim kalian untuk kembali…." Ujar Sirzechs pada Naruto dan juga Shikamaru yang langsung mengangguk mengerti.
"Sekali lagi terimakasih karena sudah mengizinkan kami menginap disini…." Naruto langsung membungkukkan badannya dan berterimakasih karena sudah diizinkan menginap di kediaman Gremory.
"Tak usah sungkan begitu Naruto-kun …. Meski kau minta tinggal selamanya pun, kami akan tetap mengizinkannya." Ujar sang Lady Gremory Venelana pada Naruto. Naruto yang mendengarnya sedikit tertawa renyah.
"anda bisa saja Venelana-sama…." Ujar Naruto dengan tawa renyahnya "…. Kalau begitu kami pamit, untuk segera kembali …. Sekali lagi terimakasih atas semuanya."
Yang lain mengangguk menjawab perkataan dari Naruto barusan. Naruto kemudian sempat melirik pada Seiren yang kini berdiri di samping Lord Gremory. Naruto menghela napas dan tersenyum pada Seiren yang langsung membalasnya dengan senyum juga. Dan kini di bawah kaki Naruto dan Shikamaru sudah terbentuk lingkaran Sihir.
"Baiklah kami pergi dulu …. Minna."
Setelah perkataan itu tubuh Naruto dan Shikamaru langsung terhisap sepenuhnya oleh lingkaran sihir milik Grayfia. Dan kini yang tersisa di ruangan itu menyisakan keluarga Gremory.
'Human World'
Lingkaran sihir kembali muncul di salah satu kediaman di dunia manusia. Dan dari lingkaran sihir itu, memunculkan dua sosok yang merupakan Naruto dan Shikamaru.
"Hoaammmm …. Akhirnya aku bisa kembali merasakan kenyamanan rumah…" Shikamaru langsung buka suara. Naruto tertawa renyah mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
"Yeahh …. Nikmatilah kasurmu itu… sekalian saja nikahi itu kasur agar kalian bisa menjalin hubungan serius…." Ujar Naruto menyindir Shikamaru. Namun, Shikamaru hanya bergumam malas, sembail memutar matanya bosan. Dia kemudian mulai melangkahkan kakinya untuk segera pergi ke kamarnya.
"Yeah …. Dan kau juga harus bersiap – siap …. Karena mulai besok kau akan mulai masuk sekolah." Dengan malas Shikamaru mengatakan hal itu tanpa menghentikan langkah kakinya.
"APA?" Naruto terkejut menengar perkataan Shikamaru.
"Hoaammm …. Iya … kau mulai besok harus sudah masuk sekolah."
"TIDAAAKKKKKKK…"
Dan teriakan Naruto kembali menggema ke seluruh tempat, bahkan teriakannya membuat bayi yang sedang mandi dengan bahagianya langsung menangis meraung – raung.
.
.
.
.
.
.:.:.:.
:.:.:. Atarasi Seikatsu .:.:.:
.:.:.:.
.
TBC
SIlhouete From The Sky_-_Blue Echo
XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX
Yooo …. Sorry chap ini agak pendenkan. Chap ini hanyalah pelengkap dari chap sebelumnya yang hilang. Ohh …. Ane ngerasa feel chap ini sangatlah kurang… mengingat ane juga gak dalam mood baik
Dan chap ini. Adalah penutupan dari Arc II… dan chap depan udah mulai ARC III yang ane buat sedikit melenceng dari LN. (yeyyyyyy)
Nah ane sekali lagi mau nanya nih….
Untuk Fic Kenshi apakah boleh di Rewrite atau nggak usah nih?
Oke mungkin hanya itu saja.
Sampai jumpa di chap berikutnya.
Akhir kata untuk ARC-II : TROLOLOLOLZ 'o')/
Oke ….
HYOSUKE
KABUUUUURRRRRRRRR
R
I
V
I
E
W
