Atarashi_Seikatsu
DISCLAIMER : I Don't own Naruto and High School DxD.
Author : Hyosuke Ryukisi™
Rating : T+ and semi-M (Mature)
GENDRE : Adventure, Romance, Family, Hurt/ Comfort Drama, Fantasy, Humor.
Pair : Naruto x (Mini-Harem)
Shika x Sona
Warning(s) : AU, Semi-Cannon, Mainstream, Typo(s), OOC, Bahasa tidak baku, dan berantakan. Yang jelas GAJE
A/N : Murni fanfiction dengan imajinasi dan penggambaran liar author yang penuh dengan kegajean tingkat akut.
Summary : Mereka berdua menjadi kunci keselamatan dunia. Mereka kini menempuh sebuah takdir baru yang menuntut mereka harus terlibat dengan Tiga Fraksi Akherat. Menjadi perwakilan Manusia, dan membentuk tim untuk menempuh takdir mereka. Cinta, dan teman baru mewarnai kehidupan mereka. Mampukah mereka menempuh takdir baru mereka itu.
.
.
.
"Normal"
"Thinking"
'Flasback'
"God/Bijuu/Monster"
'Jutsu'
'Efek'
.
.
.
.
Chap 17
.
.
.
.
Mencekam, dan tegang. Mungkin itu merupakan penggambaran yang tepat untuk kondisi suasana di dalam ruangan ini. Suara rintik air hujan dan gemuruh petir dari luar sangat terdengar jelas kedalam ruangan yang sangat hening ini dan itu semakin membuat ruangan terasa lebih menyeramkan.
Di dalam ruangan itu kini terdapat dua orang perempuan. Perempuan pertama, kini tengah duduk di kursi dengan tenang, dan tengah membaca sebuah gulungan di tangannya. Perempuan cantik berambut pirang panjang yang diikat dua di belakang dengan wajah cantik seperti berumur 20-an itu kini terlihat tak bisa terbaca ekspresinya, namun banyak sekali emosi yang terlihat dari sorot mata beriris madu itu.
"Shizune …. Bagaimana laporan terakhir dari tim pencari?" Dengan tegas perempuan itu bertanya pada perempuan dengan surai cokelat yang berdiri di samping belakang kursi yang dia duduki. Sang perempuan yang mendapat pertanyaan tegas itu sedikit terlonjak.
"Ah …. Dari hasil laporan tim pencari dari seluruh negara Shinobi …. Masih belum membuahkan hasil Tsunade-sama…" Perempuan yang bernama Shizune itu menyahut setelah dia membaca sebuah kertas laporan di tangannya. Mendengar jawaban yang sama sekali tidak sesuai dengan harapannya itu, membuat perempuan bernama Tsunade berdecak kesal. Raut ekspresi dari sang Hokage ke-5, kini benar – benar terlihat sangat frustasi.
"Cih …. Sebenarnya menghilang kemana mereka berdua?" Pikir Tsunade dengan frustrasi.
"Tsunade-sama…" Shizune sangat prihatin dengan kondisi dari sang Godaime Hokage ini. Sudah hampir menginjak dua bulan, sejak berakhirnya Perang Dunia Shinobi 4, yang tentu saja dapat dimenangkan oleh aliansi Shinobi setelah Naruto dapat menghilangkan Jubi dari medan pertempuran. Meski akhirnya perang berakhir dengan perdamaian, namun perdamaian yang terjadi sekarang menjadi sangatlah percuma.
Ini dua bulan berakhirnya perang, namun juga merupakan dua bulan dimana mereka kehilangan sang tokoh pahlawan dalam perang ini, Naruto dan Shikamaru. Setelah perang berakhir, setiap negara besar shinobi langsung melakukan pencarian besar – besaran untuk menyelidiki hilangnya Naruto dan Shikamaru.
Namun, meski jumlah tim pencari hampir menyamai dengan jumlah pasukan perang, hasil yang didapat masihlah nol besar, nihil. Bahkan petunjuk sekecil apapun tak mereka dapatkan. Naruto dan Shikamaru seperti sudah menghilang dari dunia ini. Dan itu membuat semuanya mulai frustrasi, bahkan mulai menyerah untuk mencari Naruto dan juga Shikamaru.
'Tok'
'Tok'
'Tok'
Suara ketukan di pintu mengalihkan fokus mereka dari dunia mereka sendiri. Tsunade langsung duduk menyamankan diri di kursinya dan kembali memasang ekspresi tegasnya, meski itu terlihat dipakasakan.
"Masuk …"
Pintu langsung terbuka setelah Tsunade mengatakan itu. Disana, Tsunade dan Shizune bisa melihat seorang laki – laki yang terlihat dapat dipastikan berpangkat chuunin. Rambut cokelatnya di ikat oleh sang empunya. Dan juga di wajahnya, ada sebuah luka melintang di atas hidungnya.
"Iruka?" sang laki – laki yang bernama Iruka itu langsung melangkah mendekat ke arah sang Hokage. Dan saat itulah, Tsunade dan Shizune bisa melihat sebuah gulungan besar yang kini berada di balik punggung Iruka.
"Tsunade-sama …." Iruka langsung menunduk sesaat, untuk memberi hormat pada Tsunade.
"Ada apa Iruka?" Tsunade langsung bertanya. Namun, Iruka yang ditanya tak langsung menjawabnya, dia terlebih dahulu mengambil gulungan di belakang tubuhnya, dan langsung menaruhnya di meja di hadapan Tsunade. Sementara Tsunade dan Sizune menatap dengan bingung pada Gulungan yang kini berada di meja.
"… Apa ini Iruka?" Tsunade langsung bertanya dengan bingung pada Iruka.
"Aku menemukan Gulungan itu di apartemen milik Naruto, Tsunade-sama…"
Tsunade dan Shizune sedikit terkejut mendengar perkataan dari Iruka barusan. Tsunade yang tersadar langsung dengan cepat mengambil gulungan itu, dan langsung membukanya dengan tak sabaran. Namun, dia langsung mengerutkan dahinya saat melihat isi gulungan besar itu. Gulungan itu hanya berisi beberapa nama yang terlihat sudah di coret dengan tinta berwarna merah.
"Jiraiya…. Namikaze Minato…." Ujar Tsunade dengan bingung "… apa ini maksudnya Iruka?" Tsunade kembali bertanya kepada Iruka yang kini terlihat memasang ekspresi sedih.
"Apakah Tsunade-sama lupa dengan pemilik dari gulungan itu?"
Tsunade mengerutkan dahinya, dia kemudian kembali mengalihkan fokusnya ke arah gulungan besar ditangannya. Dia kini mencoba mengingat ingat mengenai gulungan yang kini berada di tangannya. Selama beberapa menit, Tsunade masih terus mengingat – ingat, dan tiba – tiba dia langsung membulatkan matanya saat menyadari sesuatu.
"Gulungan ini …. Mungkinkah?" Tsunade bergumam dengan terkejut. Shizune yang melihatnya kini semakin kebingungan, kepalanya kini berisi dengan penuh tanda tanya atas gulungan itu.
"Memangnya ada apa dengan gulungan itu Tsunade-sama?" Shizune yang sudah sangat penasaran langsung bertanya pada Tsunade yang sama sekali tak menjawabnya.
"Jiraiya …. Ini gulungan Kontrak Kuchiyose milik Jiraiya." Masih dengan shocknya Tsunade menyebutkan gulungan apa yang ada di tangannya. Tsunade dengan tergesa – gesa kembali membuka gulungan itu, dia terus mencermati isi dari gulungan itu, mencari sesuatu yang sangat dia butuhkan sekarang.
Namun, meski dia sudah membuka gulungan dan mencermatinya terus menerus, dia sama sekali tak menemukan apa yang dia cari. Dan itu langsung membuat Tsunade terdiam, tubuhnya lemas dan langsung bersandar dengan berat hati pada sandaran kursi. Iruka yang melihatnya hanya bisa memberikan rasa simpati pada Tsunade. Namun, Iruka juga tak bisa memungkiri kalau dirinya juga tengah dalam rasa depresi sama seperti Tsunade sekarang.
Shizune yang masih belum mengerti dengan situasi semakin bertambah bingung dengan reaksi dari Tsunade dan juga Iruka. Tak tahan dan juga karena kekhawatirannya pada Tsunade yang terlihat semakin depresi Shizune memberanikan diri untuk bertanya. Namun, apapun yang akan dia katakan langsung tertahan di tenggorokannya, dia tak bisa mengutarakannya saat Tsunade terlebih dahulu menyahut.
"Shizune …."
"H-Ha'I …. Tsunade-sama." Menjawab dengan sedikit terkejut Shizune dengan sigap langsung mendekat pada Tsunade.
"Segera umumkan pada seluruh Kage dan para Shinobi …." Raut wajah Tsunade kini berubah serius, Iruka sendiri langsung menundukan kepalanya. Sementara Shizune langsung kebingungan dan sedikit terkejut atas perkataan dari Tsunade
"… Katakan ini adalah penetapan status Naruto dan Shikamaru …."
'Jeder'
::
.:.: Atarashi Seikatsu :.:.
::
'Kuoh City'
"Sialan kau Shikamaru…."
Teriakan membahana terdengar dengan nyaring dari salah satu rumah di sekitar perumahan kota Kuoh. Sepertinya ketentraman di pagi hari tak akan berlaku dari salah satu rumah yang berasal dari kediaman Naruto dan juga Shikamaru sekarang. Menggerutu kesal, itu adalah apa yang sedang di lakukan oleh Naruto sekarang ini. Entah apa penyebab dari kekesalannya, Namun semua itu mungkin ada hubungannya dengan teman satu atapnya, yang tak lain adalah Shikamaru yang kini tengah duduk dengan santainya dengan mata yang terfokus melihat ke arah sebuah benda berbentuk kotak dan mempunyai layar, yang kini tengah menayangkan sebuah acara film cartoon.
"Sepertinya imajinasi pembuat film sekarang sangatlah liar. Sejak kapan di dalam laut ada laut lagi….? Dan apa itu… sejak kapan api bisa dinyalakan di dalam air?" Itulah isi pikiran dari Shikamaru yang kini tengah melihat sebuah tayangan cartoon yang memperlihatkan sebuah spons yang sedang di demo masa. Sepertinya teriakan dari temannya sama sekali tak membuatnya tersadar dari rasa herannya pada tayangan di depannya.
Perempatan siku kini terlihat mengganda di pelipis Naruto. Sepertinya tayangan di Tv lebih membuat Shikamaru tertarik, dan itu membuat wajahnya semakin memerah karena termakan emosi kekesalannya. Kepalan tangannya terangkat ke atas dengan urat yang tampak pada kulitnya "KONOYAROOUUUU…." Pikirnya dengan jengkel.
Sejenak pandangannya ia alihkan melihat ke sekeliling ruangan, dan saat dia melihat benda yang ada di meja kecil di samping sofa yang di duduki Shikamaru. Naruto tanpa buang waktu mengambil benda itu yang merupakan sebuah remote. Mengarahkannya tepat ke arah tv, dan langsung menekan tombol berwarna merah.
Tv yang sedang menayangkan film itu langsung berubah menjadi hitam dan tak kembali memunculkan gambar saat Naruto menekan tombol merah, yang merupakan tombol power dari tv itu. Ekspresi Shikamaru langsung menjadi datar, dia kemudian langsung menengokkan kepalanya ke arah Naruto yang tengah menatapnya dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan, Naruto….? kembalikan remote itu dan nyalakan kembali Tv-nya. Dasar menyebalkan" Tanya dirinya dengan malas.
"Grrr…. Menyebalkan katamu?" Delikan mata di berikan oleh Naruto "…. Kau yang menyebalkan rusa."
"Apa maksudmu?" Jawab Shikamaru dengan raut malasnya. Dia kemudian semakin menyamankan duduknya di sofa dan menguap sesaat.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu …. Apa maksudmu memberi tahuku bahwa aku akan masuk sekolah hari ini, kemarin?"
"Hoammm …. Lalu?"
Jika ada hal yang ingin dilakukan oleh Naruto saat ini, mungkin hanya ada satu saja yang akan dia lakukan, yaitu mencing-cang tubuh sahabat menyebalkannya sekarang juga. "Kenapa …. KENAPA KAU TAK MEMBERI TAUKU KALAU HARI INI LIBURRR…!"
Shikamaru langsung terlonjak dan langsung menutup telinganya saat Naruto dengan suara cempreng khasnya berteriak tak karuan. Tanpa ragu Shikamaru memberikan delikan pada Naruto yang tengah menatapnya dengan kesal.
"Gara – gara kau …. Aku harus panik di pagi hari buta hanya karena aku takut terlambat di hari pertama."
Shikamaru tak terlalu menanggapinya, dia kini malah asik mengorek lubang telinganya untuk menghilangkan rasa gelinya akibat teriakan dari Naruto tadi. Dia kemudian menatap dengan malas ke arah Narto yang berdiri di belakangnya. "Itu bukan sepenuhnya salahku…"
"Tentu itu salahmu, Rusa." Kata Naruto tak mau kalah.
"Terserah kau saja kalau begitu …." Kata Shikamaru mengalah, dia kemudian langsung membaringkan tubuhnya di sofa dengan tangan yang di jadikan sebagai bantalan. Naruto menghela napas lelah, dia kemudian berjalan dengan gontai ke arah sofa yang kosong, dan langsung mendudukkan diri dengan tanpa semangat.
Dia duduk sedikit maju, dengan punggung bersandar pada sandaran sofa. Kepalanya juga dia sandarkan, sehingga kini kepalanya mendongak ke atas. Terdiam, dia diam tak mengatakan apapun, begitu juga dengan Shikamaru yang asik dengan acara berbaring dengan mata terpejam. Memandang atap – atap sepertinya terlihat lebih menarik untuk Naruto.
Tatapannya kini terlihat kosong, seperti tengah melamun. Ini menjadi aktivitas tak biasanya yang sering dia lakukan semenjak pertarungannya dengan Riser tempo hari. Dia menjadi sering melamun setelah itu. Merasa aneh dengan suasana sunyi yang sekarang tercipta, Shikamaru langsung membuka matanya. Dengan lirikan malas dia melihat ke arah Naruto. Alisnya langsung terangkat heran melihat kini Naruto yang tengah melamun.
Sebenarnya ini bukan kali pertama dia menagkap basah Naruto tengah melamun, itu juga tidak terlalu mengganggu dirinya. Meski begitu, dia pada akhirnya jengah juga melihat sahabatnya hanya terus tenggelam dalam alam pikirannya sendiri, dan Shikamaru sepertinya sangat mengetahui apa penyebab sahabatnya ini terus melamun belakangan ini.
Awalnya dia memang tak ingin terlalu ikut campur dengan hal ini. Namun, melihat kondisi dari Naruto yang terus seperti ini, sepertinya dia tak punya pilihan lain. Sepertinya dia juga harus sedikit memberi tamparan agar dia menyadari apa yang selalu dia gundahkan.
"Ikutilah kata hatimu…"
Naruto sedikit terlonjak saat dia tersadar dari lamunannya atas perkataan dari Shikmaaru barusan. Dia kemudian menegakkan kepalanya dan menatap Shikamaru dengan pandangan bingung. Shikamaru tak menatap dirinya, dia kini lebih menikmati menatap atap rumah berwarna putih di atasnya.
"Ikutilah kata hatimu …. Tenggelam dalam masa lalu tidak membuat hidupmu menjadi lebih baik." Kata Shikamaru kemudian. Naruto langsung terdiam mendengar perkataan itu, tatapannya kini menjadi kosong kembali.
"... Jangan terlalu menyalahkan apa yang sudah terjadi di masa lalu …. Meski kau menyalahkannya, tak akan ada sesuatu hal yang akan berubah…." Kata Shikamaru lagi. Naruto langsung menundukkan kepalanya. Dia tak berani untuk menyela, karena bagaimanapun dia sangat membutuhkannya, dan apa yang dikatakan oleh Shikamaru memanglah benar adanya.
"Aku tau…. Merelakan seseorang yang kau cintai dan merelakan semua yang berharga memang sangatlah sulit. Namun, itu bukan berarti kau harus tenggelam dalam kegelapan akan masa lalu itu…. Kita sudah berakhir disana, dan kita mempunyai kehidupan baru, jalan cerita baru, dan takdir baru di dunia ini." Shikamaru kembali berkata panjang lebar "…. Aku tak menyuruh kau untuk melupakan masa kita di dunia Shinobi …. Namun, aku hanya memintamu untuk merelakannya. Dan memulai kehidupan yang baru mulai dari sekarang,"
"Itu bukan suatu hal yang dapat dilakukan dengan mudah, Shika." Lirih Naruto masih dengan menundukkan kepalanya.
"Itu sangatlah mudah…." Naruto langsung mendongakkan kepalanya mendengar yang satu ini "…. Tak ada yang sulit di dunia ini. Mudah atau sulitnnya sesuatu hal dilihat dari keinginan dan keyakinanmu…. Kau menganggap ini sulit, pasti hal itu akan menjadi hal yang sulit…. Namun, jika kau menganggapnya mudah, hal itu akan sangatlah mudah." Balas Shikamaru dengan desakkan dan suara bernada serius.
"…. Kau sepertinya lupa, kalau aku juga sama denganmu Naruto…. kita berasal dari dimensi yang sama dan terlempar juga di dimensi yang sama …. Dan aku bisa merelakan apa yang sudah terjadi di masa lalu, lalu kenapa kau tidak bisa melakukannya?" Tubuh Naruto sedikit bergetar mendengar hal itu
"…. Dalam cerita akan selalu mempunyai akhir, namun dalam kehidupan sebuah akhir adalah awal dari cerita yang baru…. Dan jadikanlah itu sebagai tuntunan untukmu. Karena jalan cerita kita masihlah jauh dari kata akhir. Kita mungkin kehilangan sesuatu yang berharga, namun yakinlah pada diri, bahwa kita akan mendapatkan yang lebih berharga setelah itu." Lanjut Shikamaru.
Naruto terdiam tak membalasnya, perkataan dari Shikamaru sepenuhnya benar – benar masuk ke dalam pikirannya tanpa terkecuali. Dia mengerti, benar-benar sangat mengerti. Dan itu benar – benar membuatnya merasa seperti orang yang sangat bodoh sekarang ini. Dia tak menyadari semuanya karena terlalu dibutakan oleh masa lalunya. Kehilangan sesuatu hal yang berharga memanglah berat, namun itu tidak berarti dia harus tenggelam dalam kesedihan dan hanya meratapi masa lalu. Dia mempunyai masa depan yang harus dia rakit, dan menyelesaikan apa yang sudah dia perbuat dimasa lalu.
Kesedihannya kini terasa menghilang, kegundahan hatinya menguap, dan semua pikiran negatifnya serasa terbakar habis. Kini keyakinan dirinya kembali terbentuk, dan tekadnya kembali kokoh. Sorot dari mata birunya menunjukkan itu semua. Dan Shikamaru melihat hal itu dengan dengusan penuh kepuasan, melihat temannya kembali itu sudah menjadi kepuasan untuknya.
"Terimakasih Shikamaru …. Aku benar – benar merasa sangat bodoh tak menyadari hal ini sebelumnya. Terimakasih karena kau sudah membuatku sadar." Naruto memberikan senyum tulus penuh rasa terimakasih pada Shikamaru.
"Hehhh …. Bukannya kau memang sudah bodoh dari dulu, Naruto?" nada mengejek terdengar jelas dikeluarkan oleh Shikamaru. Tatapan penuh terimakasih yang diberikan oleh Naruto langsung menghilang seketika, digantikan dengan delikan tajam pada sang sahabat yang tengah memberikannya tatapan mengejek.
"Apa kau bilang….?"
"Kau tuli yah …. Kau memang sudah bodoh sedari dulu." Dengan santainya Shikamaru kembali mengucapkan ejekan sebelumnya dengan penuh penekanan. Tatapan Naruto kini langsung menunjukkan rasa kesalnya.
"Grrrr …. Kau menyebalkan rusa, menyesal sekali aku mengucapkan terimakasih dengan tulus sebelumnya." Umpat Naruto.
"Heh …. Kau merepotkan. Sudah cape diceramahi masih tak ikhlas berterimakasih." Ujar Shikamaru dengan sarkastis. Naruto menggertakan giginya, kesal mendengar perkataan dari Shikamru.
"Kau …. Rusa sialan."
Naruto langsung berdiri tegak, dan akan langsung menerjang ke arah Shikamaru untuk memberinya sebuah siksaan dunia. Namun, baru saja dia mengabil langkah pertamanya, tubuhnya langsung menjadi kaku dengan posisi seperti berlari. Tangan kanan menekuk dan terangkat, dan tanan kiri di belakang. Kaki terbuka seperti akan melakukan lompatan. Itu membuat posenya terlihat lucu, apalagi muka konyol dengan mulut terbuka adalah pelengkap dari wajahnya. Shikamaru memberikan seringai mengejek pada Naruto.
"'Kagemane no Jutsu' …. Sukses."
Sumpah serapah Naruto ucapkan dalam hati, otak bodohnya kembali kumat karena lupa kalau sahabatnya ini dapat melumpuhkan gerakannya dengan Kagemane no Jutsu. Dan sialnya dia terkena jurus Kagemane yang sudah mempunyai tingkat penguncian yang sangat kuat bahkan dia tak bisa menggerakkan bibirnya. Dia mungkin bisa melepaskan diri, namun itu jika dia masuk dalam mode Bijuu ataupun Ashura mode. Dan itu tidak mungkin dia gunakan di dalam rumah hanya untuk melepaskan diri dari Jutsu Shikamaru.
"Hoaamm …. Nikmati harimu, Naruto." Kata Shikamaru dengan puas dan mengejek pada Naruto.
"Holly Shit … Rusa sialan, pemalas super, nanas busuk…. Dan bla bla bla." Sumpah serapah terus dia ucapkan untuk Shikamaru yang kini tengah memejamkan matanya dan memasang Seringai kejam di bibirnya.
'Scene Break'
'At Occult Research Club'
Semua anggota club kini sudah berkumpul di dalam ruangan club. Meski hari ini merupakan libur sekolah, itu tak menjadi alasan untuk mereka tidak berkumpul karena club ini tak mempunyai jadwalnya libur. Hanya saja waktu berkumpul di adakan tidak terlalu lama saat sedang masa libur, mungkin itu seperti memberikan absensi kehadiran saja sehingga waktu kehadiran di club jadi sangatlah singkat.
Keadaan di dalam club juga terlihat sangat santai kali ini. Mereka saling bercerita dan mengobrol berbagai hal yang santai, tanpa melibatkan sesuatu hal yang berbau hal supranatural. Datang dari bagian belakang, Akeno dengan membawa sebuah nampan besar yang kini terdapat beberapa macam cemilan dan juga teh.
Di antara mereka semua, Koneko yang paling berbinar saat melihat apa yang di bawa oleh Akeno. Bahkan dia menjadi yang pertama mengambil cemilan begitu nampan itu di letakkan di atas meja. Kelakuan dari Koneko itu tak ayal itu membuat yang lain tertawa geli atas candu Koneko dengan yang namanya cemilan, namun Koneko tak terlalu mempedulikannya, dan lebih menikmati rasa manis dari biskuit yang kini tengah dimakan olehnya.
Rias terkikik geli melihat tingkah dari keluarganya itu, dia kemudian berdeham kecil, sehingga membuat yang lainnya langsung menatap kearahnya. "Issei… ada hal yang ingin aku tanyakan."
Merasa di sebut – sebut Namanya, Issei langsung menjawab dengan sedikit heran "Tentu Buchou …."
"Sampai saat ini aku masih bertanya – tanya …. Sejak kapan kau mengenal Naruo-san, Issei?" Tanya Rias dengan penasaran. Semuanya langsung menatap Issei saat Rias menanyakan hal barusan. Sepertinya yang penasaran di ruangan ini bukanlah Rias seorang, tapi seluruh anggota club menatapnya dengan penuh penasaran.
"Soal itu …. Karena Shisou juga sudah tak menyembunyikan lagi identitasnya, mungkin tak ada salahnya aku bicara sekarang." Issei menjeda terlebih dahulu perkataannya "…. Sebenarnya aku mengenal Shisou secara tidak sengaja… waktu itu adalah pagi hari saat sebelum aku di datangi oleh Reynare, aku tak sengaja bertubrukan dengannya di jalan sewaktu aku berangkat sekolah. Awalnya kami hanya biasa – biasa saja. Namun, perkenalan kami terjadi saat sore harinya saat aku di dekati oleh Reynare yang memintaku untuk menjadi kekasihnya."
"Aku juga melihatnya." Koneko menyela dengan nada datarnya. Rias dan yang lainnya mengangguk mengerti, yah mereka mengerti karena Rias memang menyuruh Koneko untuk mengawasi Issei waktu itu, dan memintanya memberikan informasi pada Rias setelahnya. Koneko juga pernah menceritakan tentang Issei yang bertemu dengan Naruto.
"Begitu …. Lanjutkan Issei." Seru Rias, Issei mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu, aku berkenalan dengan Shisou…. Besoknya saat aku kencan dengan Reynare yang menunjukkan jati dirinya. Shisoulah yang sudah menyelamatkanku dan memukul mundur Reynare." Yang lain langsung mengangguk – angguk. "…. Setelah itu, aku bertanya pada Shisou mengenai hal yang tak dapat aku percayai itu. Namun, dia malah menghentikanku dan malah menyuruhku untuk mengeluarkan kertas sihir yang sebelumnya aku terima dan menyebutkan nama Buchou. Dan sebelum dia pergi dia menyuruhku untuk merahasiaannya. Karena itulah aku selalu membuat alasan saat Buchou bertanya."
"Jadi begitu …. Aku tidak menyangka kalau Naruto-san yang menyuruhmu untuk memanggilku?" Ujar Rias dengan rasa heran dan dibalas dengan anggukan setuju oleh yang lainnya.
"Ara …. Jadi begitu ceritanya …. Lalu kenapa kau selalu memanggilnya dengan sebutan Shisou, Issei-kun?" Kali ini Akenolah yang bertanya. Dia masih bingung kenapa Issei selalu memanggil Naruto dengan sebutan Shisou.
"Panggilan itu, karena aku sempat diangkat menjadi murid oleh Shisou, meski hanya beberapa hari saja…. Waktu itu aku terpuruk karena tak bisa mengeluarkan Sacred Gear milikku dan merasa kalau aku tidaklah berguna. Aku lalu berdiam sendiri ditaman…. Shisou kemudian datang, aku menceritakan semua keluhanku padanya. Dan Shisou langsung membantuku. Aku bisa mengeluarkan Sacred Gear dan juga berkomunikasi dengan jiwa Sacred Gear di tubuhku juga berkat Shisou."
Kini semuanya kembali menatap kebingungan pada Issei. Di benak mereka kini bertanya – tanya, bagaimana bisa Naruto mengeluarkan Sacred Gear milik Issei, bahkan sampai ke tingkat terakhir dari boosted Gear. Dikatakan bahwa Boosted Gear ini mempunyai beberapa tahap untuk mencapai akhir. Dan itu tergantung dari tekad dan kekuatan fisik dari sang pengguna.
"Bagaimana bisa Naruto-san membantumu Issei?" Tanya Rias dengan penasaran.
"Itu…. Entahlah Buchou, aku hanya mengadukan kepalan tinju dengan Shisou. Dia hanya berdiam diri, dan memejamkan mata saat saling mengadukan kepalan tangan itu. Dan saat dia membuka matanya, Shisou langsung menyuruhku untuk mengeluarkan Sacred Gearku…. Dan Viola, aku terkejut karena aku bisa mengeluarkan Boosted Gear dengan mudahnya." Jelas Issei.
"Bagaimana mungkin?" Semuanya terkejut atas penjelasan Issei. Bagaimana bisa Naruto yang hanya diam duduk mengadukan kepalan tinju bisa langsung membuat Issei mengeluarkan Sacred Gear miliknya. Namun, Issei hanya mengangkat bahu tidak tau mengenai hal itu, karena bagaimanapun dia juga sama tidak mengertinya dengan yang lain. Rias menghela napas untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Dia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Asia.
"Lalu… Asia-chan. Bagaimana kau bisa mengenal Naruto-san?" Tanya Rias pada Asia yang sejak tadi hanya diam mendengarkan cerita dari Issei. Merasa ditanya, Asia sedikit terlonjak. Dia kemudian menatap ke arah Rias.
"Ano…. Aku bertemu dan mengenal Naruto-san hanya saat aku diantarkan oleh Issei-san ketika aku tersesat saat mencari Gereja." Jawab Asia dengan malu – malu.
"Yahh …. Aku memperkenalkannya saat tanpa sengaja kami berpapasan dengan Shisou yang sedang melakukan lari paginya. Sama seperti waktu Buchou yang pertama kali bertemu dengan Naruto-san." Tambah Issei, dan di beri anggukan oleh Asia.
"Ohh …. Dan tambahan, Waktu aku menyelamatkan Asia, aku pernah bilang kalau aku mendapat pertolongan dari dua orang misterius bukan…. Mereka sebenarnya adalah Shisou dan juga Shikamaru-senpai." Lanjut Issei cepat. Dan itu membuat sebagian terkejut terutama Asia yang tidak mengetahui hal ini sebelumnya.
"Ara …. Ara…" Hanya itu yang dikatakan Akeno. Sementara Rias kini manggut-manggut mengerti.
"Itu menjelaskan kenapa gereja itu sangatlah kacau saat kami datang kesana." Ujar Rias mengerti. Dia kemudian meminum teh yang dibuatkan oleh Akeno sebelumnya. Dan setelah itu perbincangan kembali mengalir di antara mereka. Namun, obrolan mereka langsung terhenti, saat sebuah lingkaran sihir tercipta dari salah satu sisi ruangan dan mulai bersinar menerangi ruangan.
Semuanya langsung menatap bingung terhadap lingkaran sihir itu, alis mereka naik dengan kebingungan. Mereka mengenali lingkaran sihir itu, dan itulah yang membuat mereka heran. Dan saat siluet terlihat mulai keluar dari lingkaran sihir itu. Semuanya langsung berdiri dengan tegapnya untuk menyambut sosok itu.
.::.
Atarashi Seikatsu
.:.:.
'With Naruto'
Berjalan dengan lesu, itulah yang dilakukan oleh Naruto sekarang. Dia kini tengah berjalan di salah satu jalan di daerah rumahnya. Dia berjalan dengan lesu bukan tanpa alasan, badannya kini terasa kaku, dan merasa masih kesemutan.
"Sialan …. Dasar rusa pemalas, dia membiarkanku berdiri kaku selama hampir 2 jam. Ugh tubuhku serasa benar – benar pegal sekarang." Umpat Naruto dalam hati. Sebenarnya Naruto hanya berdiam terjebak dalam jutsu Shikamaru selama 75 menit saja. Naruto hanya mendramatisir perkataannya untuk mendapat rasa simpatik. Meski entah itu ditunjukkan untuk siapa, karena sama sekali tak ada yang merasa simpatik kepadanya saat ini.
Naruto yang berjalan dengan masih menggerutu kesal, kemudian dia langsung berhenti saat dia kini sudah berada di depan gerbang taman. Dengan mata birunya, Naruto bisa melihat taman itu kini banyak dipenuhi oleh anak – anak yang tengah bermain dengan riang dengan teman – temannya. Keasikan memperhatikan anak – anak itu, Naruto tanpa sadar sudah masuk ke daerah dalam taman. Senyum-nya mengembang di wajahnya saat melihat kebahagiaan anak – anak itu.
Naruto tersenyum juga bukan tanpa alasan. Dia juga merasa bahwa kebahagiaan anak – anak itu juga membuat dirinya terasa nyaman melihatnya. Namun, senyumnya langsung terlihat miris, saat dia tapa sadar sudah mengingat kembali masa kecilnya.
Dunia yang dihadapinya memanglah sangat berat dan sangatlah sulit. Merasa bahagia bermain dengan teman bahkan baru bisa dia rasakan saat dia menginjak pangkat Gennin. Dan sebelum itu, dia sama sekali tak mendapatkan apa yang namanya teman bagaimana rasanya bermain dengan mereka. Bahkan dia tak mengetahui arti teman sebelumnya.
Dia memang terlambat untuk menyadari arti sesungguhnya sebuah pertemanan dan terlambat merasakan apa rasanya mempunyai teman. Tapi dia masih bersyukur, karena bagaimanapun dia masih bisa merasakannya meski dia terlambat.
Dan dia juga tak terlalu menyalahkan dengan masa kecilnya yang suram. Dia malah merasa senang, mungkin aneh jika sebagian orang menganggapnya, Namun memang begitulah adanya. Kehidupan masa kecilnya yang sulit itu membuatnya menjadi mengerti berbagai hal. Dia menjadi dewasa meski bukan pada waktunya.
Dan jika dia dalam terpuruk dia selalu mengucapkan mantra ajaibnya, ya mantra ajaib yang memang benar – benar masih bisa dia ingat dengan betul di dalam ingatannya "Tak ada yang abadi di dunia ini …. Karena untuk setiap 'selamat datang' akan selalu diakhiri 'Selamat tinggal'"
Itulah apa yang selalu dia tanamkan di dalam benaknya. Tak ada yang abadi di dunia ini. Dia mungkin memulai selamat datang pada hidupnya dengan cobaan yang sangat berat, namun itu pasti akan berakhir. Dan saat kesepiannya benar – benar berakhir di saat itulah Naruto mengucapkan 'Selamat Tingaal'.
Naruto jadi terkekeh sendiri saat mengingat kehidupan masa kecilnya. Dia selalu berbuat onar, dengan bersikap jail, dan bahkan mencoret – coret patung Hokage hanya untuk mendapatkan sebuah perhatian. Sebenarnya itu bukan tanpa alasan. dia jadi teringat dengan perkataan dari kakek hokage saat dia sedang dalam keterpurukan.
Dia pernah mengatakan padanya "Ada 3 cara manusia untuk menempuh kehidupan di dunia ini. Pertama dia menggunakan cara yang benar, kedua cara yang salah, dan ketiga dengan cara dirinya sendiri. Beranilah mengambil keputusan, dan janganlah menyerah. Menyerah hanya akan membuatmu gagal dan akan semakin terpuruk." Itulah yang dikatakan oleh Hokage ke-3 padanya.
Memang dia bisa membedakan ketiga hal yang dikatakan oleh Hokage ke-3, namun karena dia masih dalam masa kanak – kanak dan masih sedikit polos. Dia menganggap kalau cara dirinya sendiri dengan salah tanggapan. Jadi dia berbuat kejailan dan melakukan hal – hal yang membuat keonaran karena mengira itu adalah caranya sendiri untuk menarik perhatian penduduk desa.
Naruto yang tersadar dari lamunannya langsung kembali berjalan setelah dia sempat menghentikan langkahnya. Dia dari tempatnya melihat sebuah ayunan yang kosong, dan tanpa buang waktu dia langsung melangkah ke arah ayunan itu dengan beberapa anak di taman itu yang menatap ke arah Naruto dengan tatapan bingung dan penasaran khas anak kecil.
Naruto langsung mendudukkan dirinya di ayunan itu. Dia kemudian mengalihkan kembali tatapannya ke arah anak – anak itu, dan saat itulah Naruto baru menyadari kalau anak – anak itu tengah menatap ke arahnya dengan tatapan polos mereka. Naruto sempat terkejut, namun dia langsung terkekeh dan tersenyum lembut pada anak – anak itu sambil melambaikan tangannya.
Beberapa anak membalas senyum dan juga ikut melambaikan tangan mereka ke arahnya. Namun, tak sedikit juga dari anak – anak itu yang masih menatapnya penasaran. Dan itu membuat Naruto tak bisa untuk tidak terkekeh melihat tingkah anak – anak itu.
Sebuah bola tiba – tiba menggelinding ke arah Naruto berada. Naruto terheran, dia kemudian mengambil bola sepak itu, dan mengalihkan pandangannya ke depan, ke arah bola ini berasal. Dari arah depan, beberapa anak laki – laki kini tengah menatap ke arahnya dengan takut – takut. Sepertinya merekalah yang memiliki bola ini. Senyum lembut langsung Naruto berikan kepada anak – anak itu.
Naruto bangkit dari posisi duduknya, dan mendekati sekumpulan anak itu. Senyum ramah dia berikan agar anak – anak itu tak merasa takut padanya. Dia berhenti beberapa meter dari hadapan anak – anak itu. "Bolehkah aku ikut bermain...?" Tanya Naruto dengan lembut.
Merasa bahwa kakak di hadapan mereka itu baik, mereka langsung mengangguk dengan senyum senang. Naruto tersenyum juga dan langsung ikut bermain bersama anak – anak itu. Dan tanpa Naruto sadari, dia sudah di perhatikan oleh seseorang dari kejauhan.
"Dia?"
::
::
'At Shikamaru'
"Hoooaaammmmm…."
Menguap lebar, Shikamaru langsung bangkit dari posisi tidurnya di sofa. Meregangkan ototnya sesaat, dia langsung menatap ke sekelilingnya dengan tatapan malas. "Dia sudah terlepas ternyata…" Pikir Shikamaru saat tak menemukan Naruto di sekitar ruangan itu.
Shikamaru hanya mengangkat bahunya tak peduli. Dia kemudian mengambil kembali remote Tv di meja di depannya. Menekan tombol merah di remote, tv di depannya langsung menyala dan kini tengah menayangkan kembali siaran cartoon.
"Are …? Larva…? Film apalagi ini?"
Dengan penasaran dia terus melihat film itu dengan cermat. Alisnya terangkat dan dahinya mengerut melihat film itu. secara perlahan alisnya mulai berkedut bibirnya mulai bergetar, matanya mulai menyipit. Dan tangannya kini mulau terangkat untuk menutupi mulutnya. Dan dari ciri yang sudah disebutkan dia pasti tengah menahan tawanya.
'Ting' 'Nong'
Baru saja dia akan mengeluarkan dan melepas rasa gelinya dengan tertawa, sebuah suara bel pintu langsung menahan itu semua. Dan rasa ingin tertwanya langsung terganti dengan keheranan dan juga sedikit kesal.
"Sigh … siapa yang bertamu di siang hari begini…? Tidak biasanya." Pikirnya dengan heran.
Dia kemudian langsung bangkit dari kursinya dengan malas. Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan malas ke depan rumah. Suara bel terus berbunyi, dan itu membuat Shikamaru semakin menggeruto dalam hati. "Sebentar…" Ujarnya dengan malas.
Dengan malas pula dia mendekat ke arah pintu. Menguap sesaat, dia kemudian memegang handle pintu dan memutarnya secara perlahan lalu langsung membukanya. Matanya langsung terbengong sesaat saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
"Hai…." Sosok itu berujar dengan riang. Dan rasa terkejut sesaatnya langsung tersadar, dan tatapan malas kembali terlihat pada wajahnya.
"Hahhh …. Ku kira siapa…"
'Back to Naruto'
Anak – anak di taman itu, kini malah asik menonton. Awalnya mereka memang asik dengan permainan mereka masing – masing. Namun sejak Naruto mengikuti anak – anak itu bermain bola, mereka malah lebih senang menjadi penonton.
Naruto kini tengah berdiri di tempatnya. Dia kini bertugas sebagai penjaga gawang, setidaknya hanya itu posisi yang memang cocok untuk ukuran Naruto. yah, jika dia menjadi seorang pemain mungkin dia malah akan terbawa suasana dan malah membuat anak – anak ini ketakutan nantinya. Membayangkannya saja sudah membuat Naruto terkekeh. Namun, sepertinya dia malah keasikan melamun sendiri,
"Onii-san … awas…" Seorang anak yang menonton di pinggir berteriak memberikan sebuah peringatan kepada Naruto. Naruto terlambat tersadar, dan sebuah bola langsung bersarang dan menghantam wajah Naruto, dan membuatnya langsung terjengkang kebelakang dan bolanya langsung melayang menjauh. Sebenarnya kekuatan tendangan itu tak terlalu keras, namun karena dia sedang melamun, jadilah dia langsung terjatuh.
Naruto yang terduduk di tanah langsung mengusap – usap wajahnya yang sedikit memerah. Anak – anak yang ada disana langsung mengerubunginya untuk melihat. Dan seorang anak laki – laki yang sepertinya sang penendang bola langsung meminta maaf berkali – kali kepada Naruto.
"M-Maafkan aku, Onii-san... A-Aku tidak sengaja." Kata anak itu dengan sarat penyesalan dan juga sedikit takut – takut. Naruto langsung menatap anak itu, melihat anak itu yang sedang ketakutan Naruto terkekeh pelan. Dia kemudian mengusap kepala anak itu dengan lembut.
Anak itu sedikit terlonjak karena kaget, dia kemudian mendongakkan kepalanya ke arah Naruto. dan dia menemukan kalau Naruto kini tengah tersenyum lembut kepadanya. "Tidak apa – apa …. Tendanganmu sangat kuat, kau pasti akan menjadi pemain sepak bola yang hebat kelak…." Ujar Naruto.
Anak laki – laki itu yang semula terkejut langsung tersenyum sumringah khas seorang anak kecil. Dia mengangguk dengan semangat. Dan Naruto juga tersenyum lebar membalasnya.
"…. Nah, kalau begitu, lanjutkan permainan kalian." Kata Naruto lagi. Dia kemudian bangkit berdiri kembali. dan tersenyum lebar pada anak – anak yang mengerubunginya itu. "mana bolanya?"
Anak – anak itu langsung mencari bola itu, namun sejauh mereka melihat tak menemukan bola itu.
"Kalian mencari ini?"
Suara seseorang langsung mengalihkan perhatian mereka semua, termasuk Naruto. Mereka melihat kearah belakang, dan melihat seorang perempuan kini tengah memegang bola yang tengah mereka cari. Anak – anak itu langsung tersenyum senang, sementara Naruto kini tengah memasang ekspresi terkejut melihat sosok itu
"Ah … itu bolanya…" Seru salah satu anak dengan senang.
"Hikari-san?" Ujar Naruto dengan sedikit kaget, melihat seorang perempuan yang mempunyai surai dark purple mempunyai wajah yang cantik dengan iris mata berwarna violet. Sosok itu adalah Naomi Hikari, yang kini tengah berdiri memegang bola dan tersenyum ramah ke arah mereka semua.
Seorang anak laki – laki langsung mendekat ke arah Naomi dan meminta bola itu. yang dengan senang hati diberikan oleh Naomi." Arigatou … Onee-san."
"Doita…" Balas Naomi dengan lembut dan mengusap kepala anak itu sesaat. Anak itu tersenyum dengan senang, dan kemudian langsung kembali pada teman – temannya untuk kembali melanjutkan bermain bola. anak – anak itu dengan riang langsung pergi kembali ke tanah yang lebih lapang, meninggalkan Naruto yang kini masih melongo menatap Naomi yang kini tengah memperhatikan anak – anak itu bermain. Merasa diperhatikan Naomi mengalihkan perhatiannya kepada Naruto.
"Apa?"
Naruto langsung tersadar, dan langsung tertawa dengan canggung. "Ahaha …. Bukan apa - apa, Hikari-san"
Naomi langsung mengangkat bahunya, dan kembali menatap ke arah anak – anak yang tengah bermain dengan riangnya. Naruto hanya memperhatikannya dengan satu alis terangkat.
"Sedang apa kau di sini Naomi-san?" Tanya Naruto dengan heran.
"Aku hanya sedang berjalan – jalan di sekitar sini, dan tak sengaja melihatmu sedang bermain dengan anak – anak ini." Jawab Naomi tanpa menatap ke arah Naruto.
"Begitukah…" balas Naruto. Naruto tak kembali bertanya setelah itu., dia lebih memilih menepuk bagian celana cargonya yang kini sedikit kotor karena dia duduk di tanah sebelumnya.
"Lalu, kau datang kemari tidak untuk menculik anak – anak itu bukan?"
Naruto sweatdrop saat dia diberi pertanyaan yang bernada curiga itu dari Naomi. "Apakah aku memang terlihat seperti pencuri anak yah?" Pikir Naruto dengan masih sweatdropnya.
"Tentu saja tidak, Hikari-san …. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu" kata Naruto "…. Aku hanya sedang berkeliling daerah sini saja karena bosan berdiam di rumah." Lanjut Naruto "dan untuk menghilangkan rasa jengkel pada si rusa pemalas sialan."
"Ku kira kau datang ke taman ini untuk menculik anak – anak itu." kata Namo. Naruto kembali sweatdrop.
"Seburuk itukah reputasiku dimatamu, Hikari-san?" Tanya Naruto dengan nerves.
"Hanya memastikan saja …." Balas Naomi dengan acuh. Naruto menghela napasnya dengan berat.
"Kau malah terdengar seperti sedang menuduh dari pada memastikan, Hikari-san."
Naomi langsung mengangkat sebelah alisnya dan menatap Naruto dengan dahi mengerut. Naruto langsung bungkam seketika. "Aku lupa kalau dia tidak menyukaiku…" Pikir Naruto dengan panik saat melihat ekspresi Naomi. Namun, meski di tatap seperti itu, Naomi sama sekali tak berkata apapun. Dia malah kini menghela napasnya, dan itu membuat Naruto heran. "Ada apa dengannya?"
"Hahhh …. Maafkan aku." Kata Naomi dengan cepat.
"Eh?" Hanya itu tanggapan dari Naruto. ekspresi Naruto terlihat bercampur, antara bingung, dan juga kaget. Naomi lalu membuang mukanya dari Naruto.
"A-Aku tak mau mengulangi perkataanku dua kali."
Naruto masih melongo dtempatnya. "Apakah aku sedang bermimpi?" pikir Naruto. Namun, dia langsung menggelengkan kepalanya membuang pemikiran yang sempat lewat di benaknya barusan. Dia kemudian menatap ke arah Naomi yang kini masih membuang muka darinya. Dan itu membuat Naruto tanpa sadar tersenyum.
"Kau tak perlu meminta maaf, Hikari-san…. Lagi pula kau sama sekali tak mempunyai salah terhadapku." Kata Naruto.
"Hahh…. Jelas aku sedikit bersalah, aku sempat membuatmu malu ketika berada di café beberapa hari yang lalu." Ujar Naomi, sedikit mengingatkan kesalahannya.
Naruto terkekeh saat dia mengingat kembali momen itu, dia memang mendapatkan rasa malu saat berada di café. Beberapa orang salah paham atas kejadian waktu itu. ada yang menganggap bahwa dia dan Naomi adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Jika tidak ada Naomi di depannya, dia mungkin sudah tertawa sekarang ini.
"Lupakan …. Lagipula aku memakluminya, Hikari-san…. Waktu itu kau hanya sedang kesal padaku. Jadi aku tak terlalu mempermasalahkannya." Kata Naruto. Naomi menghela napasnya lega setelah itu. dia kemudian kembali menatap ke arah Naruto yang tengah tersenyum ke arahnya. Ada yang aneh padanya saat itu, namun dia tak terlalu memperdulikannya.
"Syukurlah…" Ujar Naomi lega.
Naruto kemudian berbalik dan mulai berjalan, Naomi heran melihat Naruto. "Sebaiknya kita duduk, Hikari-san…. Mengobrol sambil berdiri rasanya tak terlalu mengenakan."
Naomi mengangguk dan mengikuti Naruto dari belakang. Mereka melangkah dan langsung duduk di ayunan tempat Naruto sebelumnya. Naruto duduk dengan tenang di ayunannya sambil menatap anak – anak yang masih asyik dengan kegiatan mereka. Naomi juga melakukan hal yang sama dengan Naruto.
"Hikari-san?"
Naomi langsung berpaling pada Naruto saat dipanggil. "Hmmm?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu…." Naomi mengangguk memberikan izinnya "…. Apakah kau seorang Hunter?" Tanya Naruto. dia kemudian menatap Naomi dengan penasaran.
"Aku bukan seorang Hunter…." Jawab Naomi.
"Benarkah….? Tapi kau terlihat seperti Hunter menurutku."
"Begitukah …. Memang, jika dilihat sekilas aku memang sudah seperti seorang Hunter. Namun aku sama sekali bukalah Hunter. Aku membasmi Iblis liar jikalau aku sedang menginginkannya saja." Balas Naomi. Namun, nada suaranya terdengar aneh saat mengatakan iblis liar. dan Naruto sangat menyadari betul akan hal itu. Merasa itu adalah privasi Naomi, Naruto tak kembali bertanya.
"Lalu kau sendiri, Uzumaki-san?" Kali ini Naomi yang bertanya kepada Naruto.
"Panggil aku Naruto saja, aku tak terlalu terbiasa dipanggil dengan nama marga-ku…" Naomi mengangguk mengerti "…. Kalau aku sendiri, mungkin aku adalah seorang Hunter, aku melakukan itu untuk melindungi manusia dari mahluk supranatural." Jawab Naruto.
"Bukanya kau waktu itu menyebutkan bahwa kau adalah perwakilan fraksi manusia?" Naomi kembali berkata.
"Hehe …. Entahlah, waktu itu aku hanya ngasal menyebutkannya …. Aku dan temanku mungkin bisa disebut pelindung dari pada sebuah Fraksi. Lagi pula tak ada yang lagi yang lain, aku hanya berdua saja dengan sahabatku."
"Jadi begitu…."
"Yeah …. Dan untuk tawaran kami sebelumnya. Kuharap kau tidak terlalu memikirkannya. Lupakan saja tawaran itu."
"Memangnya kenapa?" tanya Naomi dengan heran.
"Haha…. Aku sadar kalau jalan yang kami tempuh sangatlah berbahaya, karena itulah kami tak ingin melibatkan orang lain lagi…. Cukup aku dan temanku saja, untuk menebus kembali dosa yang sudah aku lakukan."
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan sebelumnya,… Naruto?" Naomu kembali bertanya dengan bingung saat mendengar kata dosa yang di perbuat oleh Naruto. Naruto sedikit terlonjak karena kelepasan.
"Ahaha …. Bukan apa – apa, Hikari-san." Jawab Naruto dengan agak kaku. Naomi menatapnya dengan curiga, dan itu membuat Naruto langsung berkeringat. "Sialan …. Mulut sialann…"
Naomi terus menatapnya dengan tatapan curiga. Dan itu membuat Nauto langsung pucat pasi, namun, itu hanya sesaat, karena Naomi langsung menghela napasnya lelah. "Baiklah kalau begitu…"
"ahaha … Yaaa"
Tak ada obrolan lagi setelah itu. keduanya asik dengan pikiran masing – masing sambil melihat kegiatan anak – anak yang kini tengah bermain dengan riangnya.
"Naruto?"
"Ya Hika-…" " panggil saja aku dengan nama depan."
"Baikalh kalau begitu … jadi ada apa Naomi-san?" tanya Naruto
"Aku sudah mengambil keputusan…."
Naruto mengangkat sebelah alisnya bingung "Keputusan? Keputusan apa Naomi-san?" Tanya Naruto dengan heran
"Aku sudah memutuskan tentang tawaranmu itu…."
Naruto terkejut setelah mendengar itu. apakah Naomi sedang bercanda, entahlah. Yang jelas Naruto kini terkejut. Bukankah dia sudah mengatakan kalau Naomi tak perlu memikirkan hal itu.
::
::
'Time Skip'
Waktu berjalan dengan cepat. Hari kini sudah menginjak sore dan langit yang awalnya berwarna biru, kini sudah berganti menjadi jingga. Pemandangan yang indah, itulah pikir Naruto yang kini tengah berjalan dengan santainya untuk segera pulang. Senyum tak pernah luntur dari wajahnya, dan disepanjang jalannya menuju rumah tak ayal beberapa tetangga di sekitar rumahnya menyapa pada Naruto.
Naruto memanglah menjadi tetangga yang cukup ramah di daerah ini. dia yang selalu lari di pagi hari, membuatnya selalu bertemu dengan beberapa tetangga yang sudah sibuk di pagi hari. Karena sering melihatnya, pada akhirnya Naruto dan beberapa tetangga menjadi sangatlah akrab.
"Hahh …. Makan malam dengan apa ya kali ini?" Pikir Naruto, dia kini tengah memikirkan untuk makan apa saat makan malam nanti. Karena terlalu lama berpikir, Naruto tanpa sadar sudah sampai di depan rumah. Mengedikkan bahu, Naruto langsung melangkah dan masuk ke dalam rumah.
"Tadaima…" Ujar Naruto. namun, sama sekali tak ada yang menyahut perkataannya "Apakah si rusa itu masih belum tersadar dari hibernasinya?" Pikir Naruto. dia kemudian melangkah dengan perlahan dan santai, namun dia langsung mengangkat sebelah alisnya bingung saat dia mencium wangi aneh.
"Are? Apakah si rusa itu sedang memasak yah?" Tanya Naruto dalam hati. Dia kemudian mempercepat langkah kakinya. Namun, dia kembali kebingungan saat dia melewati ruang tengah. Disana dia melihat Shikamaru yang masih terbaring santai di sofa, dan sepertinya masih bergelut di alam mimpinya.
"Jika dia masih tertidur? Lalu siapa yang sedang memasak?"
Dengan penasaranya dia langsung mempercepat langkahnya menuju dapur. Dan dia langsung melongo saat dia sudah berada di dapur. Dia kini melihat seorang perempuan yang membelakanginya tengah asik memasak. Naruto mengenal betul siapa yang kini tengah memasak itu.
Rambut merah crimson yang diikat Ponytail itu sudah dapat Naruto tebak siapa pemiliknya "Sei-chan?"
Yah perempuan itu adalah Seiren. dia kini tengah asik memasak dengan santainya. Merasa mendengar suara seseorang di belakangnya. Seiren menengok, dan disana dia bisa melihat Naruto yang kini tengah mematung di tempatnya. Seiren tersenyum cerah melihat Naruto sudah pulang.
"Oh, Naruto-kun. Okaeri…. Maaf aku tidak tau kalau kau sudah pulang." Ujar Seiren. Naruto tersadar, dan menatap Seiren dengan heran.
"Pantas saja …. Sejak kapan kau berada di sini Sei-chan?" Tanya Naruto dan sambil duduk di kursi di ruangan itu. Seiren tersenyum dan kembali berbalik melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda.
"Aku dari siang berada di sini, Naruto-kun …. Kukira kau ada di rumah."
"Begitukah …. Aku berada di taman tadi." Jawab Naruto.
"Kenapa kau berada di taman, Naruto-kun?" Tanya Seiren dengan penasaran. Naruto tersenyum simpul.
"Aku bermain dengan anak – anak disana." Jawab Naruto.
"Begitukah …. Seharusnya aku menyusulmu tadi. Mungkin aku tak akan mati kebosanan disini, Shikamaru-kun malah asik dengan mimpinya." Ujar Seiren, dan terdengar sedikit nada kesal dalam suaranya. Naruto terkekeh mendengar penuturan dari Seiren. dia mengerti betul dengan kekesalan Seiren, Karena dia juga mengalami hal yang sama dengan-nya.
"Hehehe …. Kau harus bersabar untuk berhadapan dengan Shikamaru. Sei-chan."
"Umm … kau benar Naruto-kun."
Hening tercipta diantara mereka berdua. Naruto lebih asik memperhatikan Seiren yang kini tengah memasak dengan cekatan. Memasukan bahan – bahan masakan dan mengolahnya. Mencium wangi dari masakan yang belum matang saja sudah membuat Naruto kelaparan sekarang.
"Apakah kau datang kesini hanya untuk berkunjung Sei-chan?" Tanya Naruto. Seiren terlihat menggelengkan kepalanya "ara? Lalu?"
"Mulai sekarang aku akan tinggal di dunia manusia, Naruto-kun?" Ujar Seiren dengan riangnya. Nada bahagia jelas terasa kental dari suaranya. Sementara, Naruto kini tengah terbengong karena terkejut mendengar bahwa Seiren akan tinggal di dunia manusia sekarang ini.
"Benarkah?" Tanya Naruto memastikan masih dengan shocknya.
"Tentu saja Naruto-kun …. Aku sudah di berikan izin kemarin. Aku ditawari hadiah oleh Otou-sama …. dan tanpa ragu aku meminta untuk tinggal di dunia manusia…. Tou-sama dan Onii-sama sempat terkejut, namun mereka akhirnya memberikan izinnya." Jelas Seiren dengan riangnya. Naruto yang sudah mencerna penjelasan itu, langsung tersenyum.
"Kalau begitu, baguslah …. Dengan begini kau bisa tinggal bersama kembaranmu di dunia manusia ini. seperti harapanmu sebelumnya." Kata Naruto. Seiren kembali menggeleng, dan itu membuat Naruto kebingungan.
"Aku tak akan tinggal bersama Aneki, Naruto-kun."
"Are? Lalu, kau akan tinggal dimana, Sei-chan?" Tanya Naruto dengan bingung dan penasaran.
"Ummm …. Aku diberi izin tinggal di dunia manusia hanya jika aku tinggal di rumah ini saja Naruto-kun. Itulah yang dikatakan Kaa-sama padaku." Jawab Seiren dengan santainya. Namun, efeknya begitu luar biasa, karena Naruto kini kembali terbengong dan lebih parah dari sebelumnya.
"W-What?" Dengan nada tak percaya "…. K-Kau s-sedang b-bercanda, Sei-chan?" Ujar Naruto dengan tergagap. Dan Seiren langsung menggeleng.
"Seiren memang akan tingal disini mulai sekarang, Naruto…. Hoam." Suara malas dari arah belakang Naruto lah yang menjawab pertanyaan dirinya. Dengan gerakan patah – patah dia menatap ke arah Shikamaru yang berdiri di belakangnya.
"K-Kenapa aku tidak diberitahu dulu sebelumnya?" Tanya Naruto.
"Merepotkan …. Salah kau sendiri, pergi begitu saja tadi siang." Balas Shikamaru, sambil mendudukkan dirinya di kursi yang kosong dan menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja.
"Ummm …. Apakah kau tidak setuju Naruto-kun?"
"Ahh … bukan begitu, hanya saja …. H-hanya saja…" Naruto menjadi tak yakin menjawab apa sekarang. Dia kini malah langsung bungkam.
"Hanya saja, apa Naruto-kun?" Tanya Seiren. Naruto bungkam, dia kini maah menghela napasnya, melirik ke arah Shikaamaru sesaat, dan kembali menghela napas.
"Tidak …. Tidak usah dipikirkan, Sei-chan…."
"Hmmmm …. Baiklah kalau begitu… dan tambahan, aku juga mulai besok akan masuk ke Kuoh Academy, Naruto-kun." Dan Naruto tak tau harus berekspresi seperti apa sekarang. Kejutan kembali di berikan oleh Seiren.
Sepertinya mulai dari sekarang, Kehidupannya tak akan jauh dari Seiren. entahlah dia harus merasa senang atau bagaimana. Dia mengerti kenapa Seiren disuruh tinggal disini. Keluarga Gremory pasti menginginkannya untuk selalu menjaga Seiren. meski tidak dipintapun dia pasti akan melakukannya.
Naruto menghela napasnya kembali. senyum secara perlahan mengembang di wajahnya. "Setidaknya, dengan kehadiran Seiren, akan membuatku sedikit melupakan masa laluku." Pikirnya positif.
"Baguslah kalau begitu, Sei-chan."
Dan senyum tak bisa Seiren tahan untuk mengembang. Yah, naruto kin hanya akan berpikir positif saja. Membandingkan masa lalu dengan masa sekarang bukanlah pilihan yang tepat. Dia kini hanya harus merangkai kembali jalur rel kehidupannya, dari masa kelam menuju kebahagiaan yang dia impi – impikan.
"Yehhh …. Ini adalah benar – benar awal untukku…"
::
::
::
::
::
::
::
TBC
XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxX
Yah … mungkin hanya ini chap 17. Tak ada spesial disini. Hanya melengkapi kembali chap kemarin.
Dan untuk masalah update, maafkan saya karena update lama. Jujur saja, sebenarnya saya gak sibuk di R.W. saya malah sangat santai, menghabiskan waktu dengan membaca novel. Tapi untuk masalah menulis fic. Ada alasan tersendiri kenapa Update telat
Mood nggak ada, yang jelas males sangat. Alasannya kenapa males, mungkin ini uneg – uneg saya saja sebagai Author. Alasan mood gak ada sebenarnya simple, karena fandom ini mulai berantakan menurutku. Memang saya gak memungkiri untuk karya yang bagus bagus, saya masih memberi jempol untuk mereka. Namun, entah kenapa ane tiap liat fic yang kacau selalu langsung bad mood.
Yah, saya menganggap fandom ini sudah seperti rumah sendiri. Dan saya jadi gak betah karena kekacauan dari fandom ini.
Terserah ini mau di anggap seperti apa untuk kalian. Saya hanya menyampaikan apa yang menjad uneg – uneg saya mengenai hal ini.
Dan sedikit pemberitahuan, mulaidari sekarang saya update gak akan menjadwal seperti dulu. Saya hanya akan menulis jika ada mood. Tapi fic pasti bakalan update terus, hanya saja keterlambatan akan terjadi disini. Dan untuk gaya penulisan. Saya akan lebih mencondongkan ke arah merangkai kata seperti novel. Jadi jangan heran jika gaya penulisanku jadi berbeda. Meski tak terlalu menonjol.
Mungkin hanya itu saja.
Hyosuke : Out
R
I
V
I
E
W
