A/N : Sebelumnya saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan saya dalam meng-update fic saya ini. Mungkin selebihnya nanti saja deh di akhir cerita. So, Happy Reading !

DISCLAIMER : I Don't own Naruto and High School DxD.

Atarashi_Seikatsu by Hyosuke Ryukisi™

Rating : T+ and semi-M (Violence, Mature)

GENDRE : Adventure, Romance, Family, Hurt/ Comfort Drama, Fantasy, Humor.

Pair : Naruto x (Mini-Harem)
Shika x Sona

Warning(s) : AU, Semi-Cannon, Mainstream, Typo(s), OOC, Bahasa tidak baku, dan berantakan. Yang jelas GAJE Super akut.

Summary : Menjalani kehidupan memanglah tidak semudah yang dikira, itulah yang dirasakan oleh Naruto dan juga Shikamaru. Mendapatkan kesialan di penghujung perang, terdampar ke dimensi lain. Mereka malah harus rela masuk kedalam masalah masalah baru antar Fraksi di dunia yang berbeda. Bagaimanakah mereka berusaha menempuh takdir baru mereka, setelah Jubi juga ikut adil dalam petualangan mereka?

.

"Normal"
"Thinking"
'Flasback'

"God/Bijuu/Monster"
'Jutsu'
'Efek'

::

::

ARC-III :: Sword

Chap 18
'Hari pertama'

::

::

Jika ada hal yang ingin di lakukan oleh Naruto saat ini, mungkin dia dengan tegas akan menjawab, NOTHING, Tidak ada sama sekali. Dan jika dia kembali ditanya kenapa, satu satunya jawaban darinya hanya 'bingung'. Yah, Naruto tak melakukan apapun karena dia tengah bingung harus bagaimana sekarang ini. Hari ini memanglah sedikitlah berbeda dari pada dengan sebelum-sebelumnya, karena Naruto kini memiliki sebuah jadwal tambahan baru. Namun, yang jadi titik permasalahannya sekarang adalah, dia sama sekali tak memprediksikan apa yang akan terjadi setelahnya akan separah ini.

Sebelumnya memang tak ada yang salah dengan harinya, semua berjalan seperti sebagaimana mestinya. Dia memulai hari dengan ceria seperti biasanya, memberi salam selamat pagi pada Shikamaru dan Seiren dengan riang. Tak ada yang salah dengan aktivitasnya, kecuali mungkin dengan perbedaan yang terjadi pada penampilannya kali ini. Pakaian santai yang selalu melekat pada tubuhnya, kini sudah tergantikan dengan sebuah pakaian khas anak sekolahan. Seragam dengan sebuah kemeja putih lengan pendek dengan hiasan garis–garis tipis hitam vertikal. Dan celana panjang berwarna hitam.

Yah, dia memakai pakaian seperti itu karena sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Shikamaru kemarin, kalau hari ini adalah hari pertamanya untuk memasuki Academy Kuoh. Naruto sedikitnya merasa bersyukur dia masuk di musim panas sekolah, karena dia tak perlu menggunakan Blazer hitam yang menurutnya sangat terasa aneh, dan sangat merepotkan itu.

Dan selain faktor diatas, dia senang juga karena dia hanya akan masuk sekolah dalam waktu sebulan. Bagaimanapun, sesuai dengan peraturan persekolahan di Jepang, setiap musim panas akan selalu diadakan libur selama sebulan penuh. Dan Naruto tak bisa untuk menahan diri, bersorak penuh kegembiraan.

Membahas tentang hari pertama sekolah, ini juga merupakan hari pertama untuk Seiren masuk Academy Kuoh, sama halnya seperti dirinya. Namun berbeda dengan Seiren, jika Naruto hanya biasa – biasa saja menanggapi hal ini, lain lagi dengan Seiren yang terlihat sangat bersemangat. Sejak tadi pagi sewaktu di rumah, Seiren terlihat sangat bahagia, bersenandung ketika membuat sarapan, dan terlihat sangat antusias ketika akan berangkat ke sekolah. Naruto tak bisa menahan senyum senangnya saat melihat begitu antusiasnya Seiren untuk memasuki hari pertamanya di sekolah.

Di sepanjang jalan yang mereka lalui ke sekolah, Seiren juga tak berhenti untuk terus berceloteh mengeluarkan antusiasmenya kepada Naruto. Lalu kenapa hanya Naruto saja, salahkan saja Shikamaru yang berangkat di pagi hari buta hanya untuk melanjutkan acara tidurnya di sekolah. Meskipun Naruto tak terlalu yakin kalau itu memang alasannya Shikamaru berangkat lebih awal.

Seiren terus berceloteh tentang rasa penasarannya akan academy yang akan dia masuki ini. Tapi untuk Naruto, dia sudah tidak merasa penasaran lagi, malah dia sedikit membuat catatan untuk hari ini, 'Persiapkan telinga untuk mendapatkan raungan kesetenan'. Mungkin itu terdengar konyol, tapi memang itulah yang dipersiapkan oleh Naruto.

Itu juga bukan tanpa alasan sebenarnya, melihat beberapa minggu yang lalau, saad dirinya mengawasi kegiatan Rias dan yang lainnya di sekolah, dia juga selalu mengawasi bagaimana interaksi setiap murid. Dan catatan yang dia buat, itu juga hasil dari observasi yang membuatnya mengambil kesimpulan bahwa 'anak populer akan selalu menjadi bahan perbincangan, dan bahan teriakan setiap hari'. Tak aneh memang, mengingat ini juga pernah terjadi di dimensinya dulu. Dan melihat begitu populernya Rias di sekolah, tak dapat membantah kemungkinan itu juga akan terjadi pada Seiren, secara dia adalah kembaran dari Rias sendiri.

Yeah, dan perkiraan Naruto memang sangatlah tepat. Awal mereka menginjakkan kaki mereka di depan area sekolah, mereka langsung menjadi bahan tatapan oleh seluruh penghuni sekolah. Dan seluruh tatapan itu terarah dan terfokus pada Seiren disampingnya yang tengah memasang senyum anggun di wajah cantiknya. Menghela napas sesaat, Naruto langsung mempersiapkan diri untuk menutup telinganya saat melihat gelagat aneh yang ditunjukkan setiap siswa dan siswi.

"UWOOOOOO…..LIHAT…. Itu RIAS ONEE-SAMA DENGAN GAYA AKENO NEE-SAMA…."

"DIA SEMPURNAAAAAA…."

"OHHH ... BEGITU ANGGUN…"

"KYAAAA …. APAKAH BENAR ITU RIAS ONEE-SAMA."

"LIHAT LAKI–LAKI DISEBELAHNYA…"

"KYAAA …. KAWAII NE~…"

"Gila …. Pita Suara mereka benar-benar sudah masuk kategori Abnormal... Sial." Itulah umpatan Naruto dalam hati setelah mendengar berbagai macam teriakan dari murid laki–laki maupun perempuan di sekolah ini. Meski dia sudah menutup telinganya sekalipun, teriakan itu masih dapat dengan jelas terdengar oleh gendang telinga miliknya. Dan tanpa sadar, dia langsung mendecih kesal. Sementara itu Seiren hanya terlihat biasa saja. Dia masih berdiri dengan santainya sambil memasang gaya anggun khas seorang bangsawan, dan jangan lupakan senyum menawan dengan mata merah delima yang berbinar menatap areal sekolah, itu sudah cukup membuat teriakan itu semakin menjadi-jadi

Sepertinya teriakan yang dapat membuat telinga tuli itu, sama sekali tidak membuat Seiren terganggu, dan itu membuat Naruto meringis sesaat dengan mata terpejam. Namun, Naruto langsung keheranan karena suara teriakan – teriakan itu kini menghilang begitu saja. Suasananya malah menjadi sangat sunyi senyap seperti halnya kuburan. Merasa heran dengan keadaan, dia langsung membuka matanya dan menatap heran sekelilingnya.

Rasa herannya langsung menguap seketika dan digantikan dengan sweatdrop. Naruto kini mengerti kenapa semua teriakan itu menghilang, alasannya tak lain adalah kehadiran dari sosok sang copy-an dari sosok perempuan disampingnya ini, Rias dan juga sahabatnya Akeno yang datang dari area Sekolah dan berjalan melewati para murid dengan santainya. Rasa sweatdopnya kian bertambah, setelah melihat berbagai macam ekspresi yang dikeluarkan oleh seluruh penghuni Academy Kuoh, saat melihat Rias dan juga Seiren.

"Entahlah…. Sekarang aku sangat bingung harus berekspresi seperti apa menanggapi kejadian ini …." Pikir Naruto sambil menggelengkan kepalanya. Sesaat setelah itu, Naruto langsung menatap ke arah Rias beserta Akeno sambil memberikan senyum yang terlihat sedikit lesu.

"Ohayou …. Sei-chan, Naruto-san." Rias langsung menyapa keduanya dengan riang setelah dia sudah berdiri di depan Seiren dan juga Naruto. Sementara Akeno hanya memberikan senyum khas miliknya ditambah dengan 'Ara …. Ara' yang merupakan ciri khas andalannya.

"Ohayou … Aneki, Akeno-chan." Balas Seiren dengan Riang juga.

"Ohaaaa-..." Dan perkataan Naruto sama sekali tidak dapat terselesaikan karena kesadaran dari para siswa dan siswi yang mulai kembali masuk pada tubuh mereka masing-masing.

"M-Mereka …. K-KE-KEMBARRR…"

"UWWOOOHHHH …. RIAS ONEE-SAMA MEMPUNYAI KEMBARAANNN…."

"MEREKA IDENTIIIIKKKKKK …."

"KYAAAA …. "

"UWOOOOHHHH…."

"AMAZIIINNNGGGGGG"

Dan teriakan–teriakan memekakan telinga itu kembali keluar dari para murid, dan semakin lebih menghebohkan dari pada yang sebelumnya. Naruto kembali meringis dan langsung mendesah pasrah saat mendengar teriakan itu kembali bergemuruh. Baru saja dia merasakan lega setelah keheningan yang sempat tercipta, Namun, seperti tidak diberi izin untuk menenangkan telinganya, teriakan yang lebih parah ini langsung membuatnya menggeram kesal. Rias, dan Akeno tertawa kecil melihat pancaran kekesalan yang ditunjukkan oleh Naruto.

"Ingatkan aku untuk menyumpal mulut mereka jika mereka tak menghentikan teriakan mereka…." Kata Naruto pelan dengan geraman tertahan. Seiren, Rias, dan Akeno tak bisa untuk menahan tawa mereka setelah mendengar perkataan Naruto barusan. Rias kemudian menatap keduanya dengan gaya seperti seorang pemandu wisata, dengan berkacak pinggang dan menatap Seiren juga Naruto secara bergantian.

"Sudah siap, dengan hari pertama kalian?" Tanya Rias

"Tentu saja Aneki…. Kami sudah siap." Seiren menjawab dengan penuh semangat. Namun, semangat yang ditunjukkan Seiren sangat berbanding terbaik dengan Naruto yang kini tengah menunduk seperti seorang yang terkena depresi ringan saat ini.

"Semangatku sudah hilang tertiup angin…." Balas Naruto dengan lesunya. Ketiganya langsung terkikik geli mendengar penuturan depresi dari Naruto.

"Ara … Sepertinya, Seiren-chan lebih terlihat antusias …. Fufufu." Ujar Akeno. Dia sedikit berbahasa tidak terlalu formal dengan Seiren. Selain dia juga memang dekat dengan Seiren sama halnya dengan Rias, itu juga atas permintaan –paksaan– Seiren padanya, dan karena Akeno sangat tau betul bagaimana pembawaan dari Seiren sama dengan Rias, yang sangat tak bisa dibantah membuatnya menurut sehingga dia selalu terlihat berbahasa biasa saja meski Seiren adalah saudari kembar dari Rias.

"Ya ... sangat antusias, bahkan sepanjang jalan dia tidak berhenti untuk terus berceloteh." Perkataan Naruto itu memotong apapun yang akan dikatakan oleh Seiren untuk membalas perkataan dari Akeno, ditambah Naruto juga menepuk kepala Seiren pelan sambil mengusapnya.

Seiren langsung cemberut dengan rona merah tipis pada pipinya. "A-Apakah salah jika aku sangat antusias di hari pertamaku, Naruto-kun?" Kata Seiren dengan sebal.

"Hehehe …. Tidak…. Hanya saja, kau terlihat seperti seorang anak kecil yang menunggu untuk diberi permen."

"Moouu~ …"

Naruto terkekeh, begitupula dengan Rias dan juga Akeno melihat Seiren yang kini tengah memasang ekspresi sebalnya. Naruto kemudian mengalihkan perhatiannya dan menatap ke arah Rias dan Akeno secara bergantian. "Jadi…. dimana letak ruang kepala sekolahnya?" sebuah pertanyaan yang sangat lumrah dikeluarkan oleh seorang murid baru. Meski Naruto selalu mengawasi keadaan dari sekolah ini, dia hanya mengawasi kegiatan dari kelompok Rias dan Sona, jadi dia tidak terlalu mengetahui mengenai letak ruang dari bangunan sekolah ini, karena dia sama sekali tak terlalu memperdulikannya waktu itu.

"Baiklah …. Aku akan mengantarkan kalian ke ruang kepala Sekolah." Ujar Rias. Naruto dan Seiren langsung mengangguk membalasnya. Dan yah, setelah itu, Naruto dan Seiren menemui kepala sekolah dengan di antarkan oleh Rias dan Akeno, di beritahukan dimana kelas mereka, yang memang kebetulan berada di satu kelas yang sama. Yaitu kelas 3-2.

Dan Mereka berdua menempati kelas yang berbeda dengan kelas dimana Shikamaru, Rias, Akeno, dan Sona yang bersamaan berada di kelas 3-1. Tidak alasan khusus sebenarn. untuk Naruto, mungkin itu sudah ditetapkan sedari awal saat dia di daftarkan disini, atau mungkin karena keterlambatannya masuk ke sekolah, entahlah. Sementara untuk Seiren, itu sudah menjadi ketetapan sekolah sendiri, tentang anak kembar yang tidak boleh di tempatkan pada satu kelas yang sama. Kebijakan sekolah sepertinya, untuk mengatasi kebingungan dari para guru.

0o0o0

Waktu kini sudah menunjukkan waktunya untuk pulang sekolah. Semua murid menyambutnya dengan rasa bahagia penuh suka cita, saat bel yang menandakan berakhirnya rutinitas sekolah bergema dengan indahnya kesetiap penjuru sekolah. Dengan penuh semangat, mereka segara mengemasi peralatan sekolah, dan langsung meninggalkan kelas dengan cepatnya, untuk segera pulang dan segera bermalas-malasan dirumah.

Namun, seperti apapun semangatnya para siswa dan siswi menyambut berakhirnya aktivitas sekolah, sangatlah berjungkir terbalik dengan Naruto. Bukannya semangat ataupun bahagia saat waktu sekolah sudah habis seperti murid yang lain, dia kini malah tengah terduduk dengan lesunya di kursi yang kini dia duduki. Awan hitam kini berkumpul di atas kepalanya, dan wajahnya kini tengah menampakkan ekspresi seperti seseorang yang tengah terkena serangan strouke.

"Waktu satu bulanku akan membuatku menderita..." Wajahnya kini terlihat sarat akan penderitaan "Ada apa dengan sekolah ini sebenarnya..." Dia kini semakin drop, "...Murid yang abnormal, guru yang kejam, dan apa maksud dari semua pelajaran ini….Matematika…. FISIKA?... OHHH TUHAN BUNUHLAH AKU SEKARANG JUGAAA…. Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini…. TERKUTUK KALIAN PARA PENDIRI SEKOLAH." Yah itu adalah rutukkan depresi dari sang ninja favorit kita ini.

Sepertinya penderitaan memang sudahlah menjadi peliharaan kehidupannya. Di hari pertamanya sekolah, dia sudah disambut dengan kegilaan dari murid–murid di sekolah ini. Ditambah dengan hari pertama yang diisi dengan pelajaran MATEMATIKA, FISIKA, yang sudah sangat jelas membuat otak dari sang Ninja kita yang memang sedikit terbengkalai mengenai ilmu pengetahuan modern mengalami hank total, bahkan mungkin membutuhkan instalasi ulang dan peningkatan sistem untuk bisa menjalankan otaknya kembali.

"Kau baik – baik saja Naruto-kun?" Seiren yang memang kebetulan duduk di bangku sebelahnya, langsung bertanya dengan bingung saat dia sebelumnya melihat bagaimana Naruto, dengan tidak berperasaannya, menyiksa meja di hadapannya dengan membenturkan kepalanya secara berulang ulang.

Mendapat pertanyaan seperti itu, sedikit membuat Naruto meringis. "Yeah, aku baik-baik saja …. Hanya mengalami sedikit masalah dalam kinerja otak, Sei-chan…" Balas Naruto dengan lemas dan memaksakan senyum di wajahnya. Seiren tertawa kecil mendengarnya, dia mengerti dan sangat tau betul masalah apa yang di derita oleh Naruto saat ini. Untuk Seorang yang terlempar dari dimensi lain, dan berada di zaman yang berbeda, itu sangatlah tidak mengherankan jika orang seperti Naruto langsung merasa pusing mengenai Ilmu Pengetahuan Modern. Dia kemudian bangkit berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekati Naruto. Seiren kemudian menepuk pelan kepala Naruto yang masih menempel pada meja.

"Hihihi …. Kalau begitu, sebaiknya kita segera keluar, Naruto-kun. Udara segar pasti akan menghilangkan stress-mu." Kata Seiren dengan geli "…. Lagipula Aneki, mengundang kita untuk datang ke ruang klubnya." Lanjut Seiren.

Naruto kian lesu setelah mendengar kata undangan itu. Bergumam untuk membalas perkataan dari Seiren, dia Kemudian dengan malasnya menegakkan tubuhnya di kursi, menghela napas berat sesaat dan langsung berdiri. "Baiklah kalau begitu…. kuharap tak akan lama... karena aku sangat ingin sekali menghabiskan ramen sebanyak – banyaknya untuk menjalankan kembali kinerja otakku yang hampir terkena kejang ini." Kata Naruto dengan lemasnya. Sepertinya, obat mujarab untuk Naruto hanyalah Ramen saat ini.

Seiren terkikik kembali mendengarnya, "Hihihi …. Nanti kau boleh makan ramen sepuasnya, Naruto-kun…."

Naruto mendesah dan mengangguk dengan lesu, setelah itu mereka berdua meninggalkan kelas mereka dan segera pergi untuk ketempat Rias. Dan juga, mereka berdua menjadi murid terakhir yang meninggalkan area sekolah, karena memang ini sudah menunjukkan 15 menit sejak bel berakhirnya sekolah berbunyi. Yah, salahkan Naruto yang membutuhkan waktu lebih untuk bisa menghubungkan kembali syaraf motorik pada otaknya.

0o0o0

'Tok' 'Tok' 'Tok'

Semua orang yang ada di dalam ruangan Occult Research club langsung menghentikan aktivitas mereka saat mendengar suara ketukan dari pintu masuk. Tanpa buang waktu, Rias langsung mempersilahkan siapa yang ada diluar untuk masuk

Saat pintu terbuka, semuanya langsung tersenyum setelah melihat siapa yang masuk ke ruangan. Mereka adalah Naruto dan juga Seiren yang masuk ke ruangan dengan cara mereka masing-masing. Seiren yang berjalan dengan gaya anggun miliknya, sambil menebar senyum manis. Sementara Naruto masuk dengan langkah yang diseret, ditambah awan hitam di atas kepalanya, dan wajah yang tampak sangat menyedihkan. Itu benar – benar memperlengkapi seluruh tampang buruknya sekarang yang sangatlah suram.

Seluruh penghuni yang ada di ruangan itu langsung menatap heran ke arah Naruto, mereka bertanya–tanya, apa gerangan yang terjadi pada Naruto sampai sebegitu terlihat menyedihkannya saat ini. Dengan serempak, mereka langsung menatap ke arah Seiren.

"Jangan khawatir…. Naruto-kun hanya mengalami sebuah pemutusan kabel penghubung otak." Kata Seiren dengan santainya. Dia kemudian berjalan dan langsung duduk di salah satu tempat yang kosong. Naruto mengikutinya dari belakang, dan langsung menghempaskan bokongnya pada sofa di samping Seiren.

"Jadi, bagaimana hari pertama kalian di sekolah ini?" Rias langsung bertanya pada keduanya. Sedikitnya dia juga penasaran dengan apa yang dirasakan keduanya mengenai pengalaman mereka bersekolah.

"Menyenangkan, aku tidak menyangka bahwa murid di sekolah ini sangat bersemangat sekali…. Meski aku sedikit tidak suka dengan sebagian dari mereka." Kata Seiren dengan riang pada awalnya dan sedikit memelankan suaranya pada kalimat terakhir. Semuanya kecuali Naruto, langsung mengangkat alis mereka, bingung.

"Sebagian?" serempak semuanya mengeluarkan suara mereka secara bersamaan. Wajah Seiren langsung memerah saat dia tak sengaja mengeluarkan keberatannya. Dan itu membuat sebagian dari penghuni di ruangan itu terheran–heran, tapi itu berbeda dengan Rias dan juga Akeno yang sepertinya sedikit mengerti, dan melirik kearah Naruto yang kini tengah mengurut pangkal hidungnya.

"Tak mengherankan memang…."Pikir Rias, sedikitnya dia sudah mengetahui bagaimana perasaan dari kembarannya itu terhadap Ninja pirang satu itu. Dan mendengar keributan sebelumnya yang terdengar dari kelas Seiren dan Naruto pagi tadi, semakin memperjelas kalau Seiren, cemburu karena Naruto lumayan populer dikalangan perempuan. Sementara Akeno dia kini hanya tersenyum dengan kata – kata andalan yang sebelumnya dia keluarkan. "Ara … Ara…"

"Ahahaha …. Lupakan, itu bukan sesuatu yang penting kok." Kata Seiren dengan cepat, namun terdengar sangat gugup "Meski sebenarnya itu sangat penting untukku." Sepertinya Seiren memikirkan hal yang berbeda, dan matanya dia lirikan ke arah Naruto sesaat. Yang lain langsung mengangguk, dan langsung mengalihkan perhatian mereka pada Naruto yang masih terlihat mengurut pelipisnya.

"Bagaimana denganmu sendiri, Naruto-san?" Tanya Rias kembali pada Naruto. Dengan ogah-ogahan Naruto mendongakkan kepalanya menatap Rias.

"Kesan pertamaku…. Menyeramkan." Ujarnya dengan lemas. Semuanya langsung dibuat sweatdop, apalagi saat melihat tampang Naruto yang masih menunjukkan ekspresi menyedihkannya. "Sepertinya dewa pendidikan sangat membeciku…. Ilmu pengetahuan sangat membuatku tersiksaaaaa. Terkutuk kalian pencetus ilmu pengetahuan." Lanjutnya lagi sambil kembali memberikan rutukannya. Semuanya kembali dibuat sweatdrop, apalagi saat mendengar dewa pendidikan keluar dari mulut Naruto.

"Memangnya, Dewa pendidikan itu ada ya?" Pikir mereka serempak, dengan tampang sweatdrop yang masih menempel di wajah mereka.

"Bukannya kau lumayan pintar untuk pelajaran seperti itu, Naruto?" Suara laki – laki menyahut dari arah depan Naruto. Dengan cepat, Naruto mengalihkan perhatiannya dan melihat ke arah dimana suara itu datang. Dan disana, Dia bisa melihat Shikamaru yang sedang berbaring dengan nyamannya di sofa. Sebelah alis Naruto langsung terangkat saat melihatnya.

"Kau pikir otakku dapat menampung hal ini dengan mudah…. Intuisiku bahkan belum bisa menjangkaunya." Ujar Naruto "…. Dan lagi pula, sejak kapan kau berada di sini, Rusa?"

"Hoaaammm…. Aku sudah berada disini dari tadi…. Apakah matamu sudah mulai bermasalah sampai-sampai kau tidak melihatku?" Balas Shikamaru dengan malasnya. Naruto sempat memberikan delikan sesaat pada Shikamaru, namun dia sama sekali tak membalas ejekan dari Shikamaru. Dia langsung menghela napas berat, dan menyamankan diri pada kursi tanpa membalas perkataan Shikamaru kembali. Sementara para penghuni itu malah tertawa melihat Naruto dan Shikamaru.

"Jadi, Ada apa kau mengundang kami kemari, Aneki?" Tanya Seiren penasaran pada Rias. Rias memberikan Seiren senyum lembutnya sebelum menjawab.

"Apakah salah jika aku mengundang kalian untuk berkumpul, hmmm?"

"Ahh … tidak. sama sekali tidak, Aneki." Jawab Seiren. Yah, memang tak ada yang salah dengan hal itu.

"Araa… sepertinya Seiren-chan sudah tak sabaran untuk menghabiskan waktunya di rumah. fufufu" Akeno langsung nimbrung dengan nada menggoda pada Seiren. Seiren langsung menjadi gugup mendengar perkataan Akeno barusan. Meski perkataannya, tak menuduh ataupun terdengar seperti mempunyai maksud, Tapi Seiren mengerti kalau Akeno tengah melancarkan sebuah godaan padanya.

"B-Bukan begitu, Akeno-chan …. Hanya saja, a-aku b-belum membeli persediaan bahan makanan…" Ujar Seiren dengan tergagap.

"Benarkahhh?" Sepertinya Akeno tak mau menyerah untuk menggoda temannya ini. Dengan cepat Seien langsung mengangguk. "… Baiklah, Baiklah … Fufufu."

'Tok' 'Tok' 'Tok'

Suara ketukan di pintu kembali langsung mengalihkan perhatian mereka, dengan tatapan penasaran mereka menatap ke arah pintu masuk yang sebelumnya diketuk dari luar,—tak terkecuali Naruto dan Shikamaru—. Dengan rasa penasarannya, Rias mempersilahkan siapa yang ada diluar untuk masuk. Dan saat pintu terbuka sepenuhnya, kini terlihat disana sudah ada beberapa sosok yang kini memasuki ruangan.

Semuanya langsung memasang senyum ramah mereka saat melihat siapa yang masuk ke ruangan club, tak terkecuali Naruto dan Shikamaru lagi. Naruto terlihat biasa saja, namun Shikamaru mengerutkan dahi saat melihat siapa yang masuk ke ruangan.

"Oh …. Sona, selamat datang." Sambut Rias saat melihat sosok yang ternyata sang Setou Kaichou, Sona Sitri, yang kini sudah di dampingi oleh para peerage miliknya. Sona membalas sapaan Rias dengan anggukan dan senyum simpul.

"Kau?" Shikamaru berujar juga setelah melihat sosok Sona yang sudah berada di dalam ruangan. Senyum di wajah Sona langsung memudar saat melihat sosok Shikamaru yang tengah terbaring dengan santainya di sofa yang dia gunakan sendiri. Semuanya langsung menatap ke arah Shikamaru dan Sona secara bergantian.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sona dengan sedikit raut sebal yang dikeluarkan oleh mimik wajahnya, meski hanya sedikit yang dapat menyadarinya, mengingat Sona sangatlah berbakat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.

"Merepotkan…. Aku disini atas undangan dari Rias." Jawab Shikamaru dengan ogahnya. Sona kemudian langsung menatap kearah Rias untuk meminta konfirmasinya. Dan Rias langsung mengangguk membenarkan perkataan dari Shikamaru.

"Ya…. Shikamaru-san memang ada disini atas undangan dariku, Sona." Jawab Rias, Sona mengangguk mengerti meski dia sempat mendelik tajam pada Shikamaru yang terlihat mengacuhkannya. Setelah itu Sona dipersilahkan duduk di salah satu sofa yang kosong, Sementara para Peerage daro Sona kini langsung berdiri berjejer di balik sofa yang diduduki King mereka.

"Jadi, apa yang membawa kalian datang kemari?" Tanya Rias to the poin. Sepertinya dia penasaran juga dengan kedatangan dari Sona ke tempatnya, apalagi Sona membawa semua peerage-nya kesini.

"Perkenalan anggota baru…." Jawab Sona. Dia kemudian langsung melirik ke arah pemuda di belakangnya. "…. Saji"

Sebelum Saji bisa mengeluarkan suaranya, Issei sudah memotong terlebih dahulu perkataannya "Are…. Bukannya kau adalah orang yang baru bergabung dengan anggota OSIS? Kalau tidak salah kau adalah murid kelas 2-C yang satu kelas denganku."

Raut kesal dikeluarkan oleh Saji, baru saja dia akan mengeluarkan suaranya, dia harus rela kembali tak bisa untuk bicara saat sang Kaichou menjawabnya terlebih dahulu. "Yahh …. Genshiro Saji… dia adalah pionku."

"Jadi kau juga seorang Pion …. Senangnya, karena aku mempunyai seorang teman yang satu tingkatan denganku… dan kita juga berada di kelas yang sama." Issei langsung terlihat girang saat mengetahui bahwa posisi Saji dalam keluarga Sitri adalah seorang Pion, sama seperti dirinya.

"Hahhh …. Sejujurnya, aku harus mengatakan bahwa satu kelas dengan trio mesum sepertimu, membuat harga diriku menjadi hancur…" Issei langsung cengo di tempat saat mendengar perkataan dengan aksen mengejek yang dikeluarkan Saji. Raut cengonya perlahan berubah, terganti dengan kekesalan penuh. Dia kini langsung memandang tajam kearah Saji.

"Apa kau bilang, Teme?"

"Kau ingin berkelahi hehh?" Saji membalasnya dengan enteng, "Meski aku adalah seorang iblis baru, tapi aku adalah seorang iblis yang mengonsumsi 4 bidak." Lanjutnya lagi dengan rasa percaya diri yang tinggi. Semua orang langsung menghela napas mereka melihat cek cok dari Issei dan juga Saji.

Sona mendesah pelan, dia kemudian membenarkan letak kaca matanya dan memotong pertengkaran di antara keduanya "Saji… bisakah kau diam."

Nada tegas yang dikeluarkan Sona, langsung membuat Saji terdiam, dan begitupula dengan Issei. "…. Dan satu hal yang harus kau tau Saji… Hyudou-kun mengonsumsi delapan bidak Pion itu berarti dia berada diatasmu."

Senyum percaya diri di wajah Saji seketika luntur dalam sekejap mendengar perkataan dari King-nya. Dia kemudian menatap tidak percaya ke arah Issei yang kini tengah memasang senyum penuh kemenangan padanya. "D-Delapan? O-Orang mesum seperti dia? mengonsumsi semua bidak Pawn?"

Sona langsung menghela napasnya dan langsung menatap ke arah Issei "Maaf soal itu, Hyoudou-kun…. Dia sama sekali tidak mengetahui apapun…. Kuharap kalian akan akur sebagai iblis…. Nah, jadi... Saji."

"A-Ah … Ha'i…" dengan sedikit lesu, Saji mulai melangkah ke depan dan mengulurkan tangannya "Genshiro Saji, Pawn dari Keluarga Sitri…. Yoroshiku."

Asia yang memang berada tepat di depan Saji, langsung menggapai uluran tangan itu dengan ramah dia juga mulai memperkenalkan dirinya. "Asia Argento, Bishop dari Buchou…Yoroshiku onegai shimasu…."

Mimik lesu di wajah Saji menghilang dalam sekejap, digantikan dengan ekspresi yang sangat berseri-seri, apalagi saat melihat senyum manis dari Asia. Dan tanpa sadar, tangannya langsung terangkat dan mengusap tangan Asia.

"Aku sangat senang bisa berkenalan dengan gadis manis sepertimu…. Aku benar-benar sangat senang."

Raut kesal kini terlihat di wajah Issei, saat melihat bagaimana Saji yang masih terus menggenggam tangan Asia tanpa mau melepaskannya. "Cukup sudaaahhh ….", Issei langsung melompat, menarik tangan Saji dari Asia dan meremasnya dengan Kuat. Saji meringis kesakitan,

"Aiitt…."

"Ahahahaha…. Senang juga bisa berkenalan denganmu Saji-kun…. Mohon bimbingannya yyaaahhhh. Namun, aku akan membunuhmu jika berani lagi menyentuh Asia lagi." Dengan tampang yang dibuat–buat Issei masih terus meremas tangan dari Saji. Tak ingin kalah, Saji balik meramas tangan Issei membuat sang sekiryuutei ini balik meringis.

"Hahaha…. Jadi kau ingin menikmati gadis manis ini sendirian Issei-kun? Sudah kuduga, kau benar-benar rajanya cabul."

Mereka saling menatap tajam satu sama lain. dan juga adu cek–cok dan adu remas tangan diantara mereka semakin menjadi-jadi.

"Ahahaha …. Semoga kau tersambar petir saat pulang nanti, Issei-kun…"

"Ahahaa…. Semoga kau juga diangkut oleh truk sampah dan dimasukkan ke tungku api, Saji-kun…"

Semuanya langsung menggelengkan kepala dengan helaan napas pasrah saat perdebatan Issei dan Saji yang sama sekali tak mau berhenti dan malah semakin parah. Sementara Naruto dan Shikamaru yang sedari tadi diam dengan tenang kini mulai terasa terganggu. Alis keduanya kini berkedut tanda mereka sangat kesal dengan perdebatan di antara Issei dan juga Saji. Naruto kemudian langsung bangkit berdiri, berjalan perlahan ke arah dua iblis goblok yang kini masih saling melemparkan ejekan terhadap satu sama lain.

"Mesum jahanam…"

"Kutu buku…"

"Birahi berjalan…"

"Perjaka muda…"

"kaaauuu-…. Hentai."

"Itu memang julukanku, BODOH..."

'Bletak' 'Bletak'

Saling lempar ejekan itu langsung terhenti seketika. Dan kini Issei juga Saji sudah tersungkur di lantai, dengan wajah menghantam menempel, ditambah dengan posisi tidak elit mereka. Kepala mereka kini berasap dengan tambahan sebuah benjolan besar di atas kepala. Keduanya meringis kesakitan, dan secara bersamaan pula mereka langsung bangkit dan bersiap mencerca kepada siapa pelaku dari kekerasan barusan.

Namun, semua umpatan kekesalan yang sudah mereka persiapkan langsung tertahan di kerongkongan dan harus rela kembali mereka telan bulat-bulat, saat mata mereka bisa melihat sosok Naruto yang merupakan sang pelaku dari penjitakan, kini tengah menatap mereka dengan senyum di wajahnya. Namun, meski senyum terpampang disana, aura mencekam yang dikeluarkan oleh Naruto membuat nyali mereka langsung ciut.

"Bisakah kalian berhenti untuk berkoceh?"

Keduanya bergetar ketakutan, dan semakin memucat dengan banjir keringat yang terus keluar dari setiap pori-poori ditubuh mereka, saat melihat tangan Naruto kini sudah terselimuti dengan 'Power of Destruction' yang terlihat meletup-letup, "Jika kalian tidak berhenti…. jangan harap kalian bisa kembali membuka mulut setelah ini…. kalian mengerti?" intonasi yang terus diberi penekanan pada setiap katanya, membuat Issei dan Saji meneguk ludah dengan susah payah. Dengan bersamaan, mereka langsung mengangguk kaku.

Aura mengerikan dari Naruto langsung menghilang, membuat Issei dan Saji menghela napas lega, setelah mereka selamat dari maut. Sementara yang lain hanya bisa facepalm melihat kejadian di depan mereka barusan.

Naruto mendengus sesaat kemudian beralih menatap ke arah Rias "Bisakah aku pulang sekarang…. Aku benar-benar sangat ingin sekali beristirahat. Karena malam nanti aku harus kembali bertugas." Ujar Naruto.

Rias yang sepertinya mengerti, memberi anggukan untuk mengizinkan Naruto. helaan napas lega dikeluarkan oleh Naruto, melihat persetujuan dari Rias "Baiklah kalau begitu…." dia kemudian menatap ke arah Seiren dan Shikamaru. "…. Seiren, Shikamaru, apakah kalian akan kembali sekarang?"

Shikamaru menguap sesaat, dia kemudian bangkit duduk di sofa-nya dengan tampang setengah hidup, dan sama sekali tak membalas perkataan dari Naruto kecuali menguap. Yang lain kembali dibuat sweatdrop melihat Shikamaru, Sementara Seiren langsung mengangguk. "Hmmmm …. Aku juga akan pulang…."

Rias langsung berbalik menatap pada kembarannya "Kau tak ingin disini dulu, Sei-chan?"

"Mungkin lain kali saja lagi, Aneki… aku harus membeli persediaan makanan sekarang ini." Seiren menjawab dengan sedikit intonasi yang terdengar menyesal. Rias tersenyum lembut memaklumi.

"Baiklah …. Aku lupa kalau kau sekarang mengurus suami…" Kata Rias sambil melirik ke arah Naruto yang kini tengah mendelik tajam pada Issei dan Saji yang sempat membuat kembali keributan.

Wajah Seiren langsung memerah dengan sempurna mendengar perkataan dari kembarannya itu. Dengan panik dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah "B-bukan be-gitu A-Aneki…." Nada panik dan gugup bercampur menjadi satu dalam suara Seiren. Rias terkikik geli melihat Seirenyang terlihat gelagapan itu,

"Ha'I …. Ha'I …. Wakarimasu, Sei-chan…"

"Hoaammmm …. Kalian lama, Aku duluan saja kalau begitu…" setelah mengatakan itu Shikamaru dengan seenak udelnya langsung menghilang dalam kepulan asap. Naruto mendesah pasrah dengan tingkah dari Shikamaru yang sangatlah pemalas itu. Seiren juga langsung berdiri dan berjalan ketempat yang agak luas,

"Kalau begitu…. kami pergi dulu, Aneki"

Kemudian dibawah kaki Seiren, Sebuah lingkaran sihir teleportasi khas keluarga Gremory terbentuk. "... Jaa Ne.. Minna."

Setelah berpamitan pada semuanya, Seiren langsung menghilang tertelan lingkarana sihir teleportasinya. Dan Naruto juga ikut menyusul, di sekelilingnya kini angin mulai berkumpul dan membentuk putaran topan yang melingkupi tubuhnya.

"Jaa Nee..."

Dan Naruto langsung menghilang setelah tubuhnya tertelan putaran topan kecil. Issei, dan Saji menatap dengan kagum atas menghilangnya Naruto dengan sunshin anginnya.

"Bukankah dia sangat terlihat keren..."

"Tentu saja... Dia adalah guruku..."

Dan Saji kembali dibuat cengo untuk kesekian kalinya ...

'Unknown Place'

Gelap, hanya kegelapan yang kini terlihat. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang bisa diterima oleh mata. Namun, sebuah titik cahaya dari sebuah nyala lilin api membuat sebagian tempat itu terlihat menjadi tempat yang terang. Dan disebelah sudut, terlihat sosok siluet seseorang yang kini tengah terduduk di sebuah kursi besar, layaknya sebuah singgasana. Rupa dari sosok itu sama sekali tak bisa dikenali, akibat dia berada di sisi yang lumayan gelap, yang kurang mendapat pencahayaan dari lilin.

'Tap' 'Tap' 'Tap'

Suara langkah kaki terdengar dari seberang sosok misterius yang sedak terduduk dengan santai itu. Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, sosok yang kini tengah duduk, membuka kelopak matanya, dan terlihatlah mata merah mengerikan yang terlihat bercahaya di dalam kegelapan. Sosok itu angkat suara, saat suara derap langkah kaki di depannya itu berhenti.

"Bagaimana hasilnya?"

Suara gerusuk yang terdengar seperti seseorang yang menjatuhkan diri terdengar dari seberang sosok yang tengah terduduk di kursinya. Dia terus menunggu jawaban dari sosok yang kini masih berada di balik kegelapan.

"Maafkan hamba…. Hamba belum bisa menemukannya, Tuan."

Sosok yang masih terduduk di singgasana miliknya itu, mengeluarkan geraman saat mendengar jawaban yang sama sekali tidak memuaskan, dari seseorang yang merupakan bawahannya itu. Mata merahnya kini memandang tajam ke arah tempat dimana sosok dari bawahannya berada.

"Namun, hamba mendapatkan satu informasi, bahwa benda itu kini berada di Kota Kuoh, Tuan." Dengan cepat dan terdengar takut-takut, sang bawahan langsung menambahkan lagi ucapannya sebelum sosok tuannya mengeluarkan kemurkaan terhadapnya. Sosok yang merupakan tuannya itu langsung menajamkan tatapannya. Dia kini menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Pastikan segera kebenaran informasi itu…. Bagaimanapun caranya, benda itu harus menjadi milikku." sosok itu berkata dengan penuh ketegasan pada pernyataan mutlaknya.

"Ha'i" sang bawahan juga langsung menjawabnya dengan penuh ketegasan. Setelah itu sosoknya sudah tidak terasa kembali keberadaannya dari ruangan itu. Sementara sosok yang masih duduk itu kini kembali memejamkan matanya. Menutup kembali mata merah bercahaya yang terlihat mengerikan itu.

"Muramasa dan Masamune…. Akan aku pastikan kedua pedang itu akan menjadi milikku…. Tunggulah kalian pembalasanku pada kalian…. Para 'DEWA'"

0~o~0

Malam kini sudah menjelang, bulan yang sudah memasuki fase baru kini terpampang dengan indahnya di atas langit malam dengan bentuk menyerupai sabit. Malam yang sangat tenang dan indah. Beralih ke salah satu tempat, kini sosok siluet tengah berlari dan terus melompati gedung-gedung pencakar langit dengan cepatnya.

Sosok yang tak lain adalah Naruto, kini tengah menjalankan tugas rutinnya saat malam hari sudah menjelang. Berpatroli untuk memastikan keamanan Kota Kuoh dari para pengacau malam. Meski sebenarnya tugas ini selalu dilakukan oleh kelompok Rias ataupun Sona, tapi Naruto lebih memilih untuk memastikan juga. Lagi pula dia tak punya kerjaan lain, setidaknya dengan berpatroli seperti ini, rasa bosannya bisa terobati meski dia tidak dapat memungkiri kalau hal ini sangatlah merepotkan.

"Jadi…. Kemana kita akan pergi sekarang, Naruto-kun?"

Naruto yang masih terus melompat dari gedung ke gedung, langsung mengalihkan perhatiannya ke arah suara perempuan yang bertanya dari arah samping. Sepertinya kali ini Naruto mempunyai teman untuk diajak berpatroli, karena disampingnya kini, sosok Seiren tengah terbang dengan menggunakan sepasang sayap iblisnya mengikuti pergerakan dari Naruto.

"Hmmm…. Kita akan pergi ke bukit. Ada sebuah kabar, kalau setiap orang yang berkunjung kesana, selalu menghilang tanpa sebab. Sepertinya itu merupakan ulah dari Iblis liar." jawab Naruto tanpa berhenti untuk terus melompat. Seiren yang terbang disampingnya mengangguk mengerti. Tidak aneh memang, mengingat di dunia manusia ini, aktivitas dari para iblis liar semakin berani di setiap perkembangannya.

"Jadi kita akan membasmi iblis liar yah?"

"Benar…. Ini adalah pengalaman pertamamu untuk berburu, Seiren…. sekaligus untuk mencoba kekuatan dari Muramasa."

"Ah…Benar juga…. Kalau begitu, sebaiknya kita segera cepat kesana Naruto-kun…" dengan Antusianya, dan semangat yang tinggi, Seiren langsung meninggalkan Naruto dibelakang. Naruto hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sebegitu antusianya Seiren untuk berburu iblis liar. Setelah itu, Naruto juga langsung mempercepat lajunya untuk menyusul Seiren yang kini sudah lumayan jauh meninggalkannya.

'Scene Break'

Naruto dan Seiren kini sudah berada di daerah sekitar bukit. Mereka kini tengah berjalan untuk menyisir daerah bukit yang dikatakan selalu menjadi momok mengerikan dikalangan para warga karena sudah banyaknya kasus orang yang menghilang secara misterius, saat mereka tengah berkunjung ke bukit ini.

"Terus waspada Seiren…" Naruto mengingatkan Seiren untuk selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk, dan tanpa ragu Seiren langsung mengangguk mengerti. Ditangannya juga kini sebuah katana yang masih terbungkus dengan sarungnya sudah tergenggam, katana yang sebelumnya dihadiahkan oleh Naruto untuk dirinya. Dan dia juga sudah memasuki mode siaganya.

Naruto dan Seiren terus berjalan dan mencermati setiap sudut dari bukit yang sedang mereka jejaki ini. Kesiagaan tak pernah mereka turunkan, meski keadaan di sekitar mereka kini sangatlah tenang. Namun, peridikat tenang yang sebelumnya di berikan, serasa lenyap. Saat Naruto dan juga Seiren dikejutkan dengan sebuah demonic power yang melesat dari arah depan dan belakang mereka berdua.

Naruto yang memang lebih sigap, langsung mengangkat Seiren ala bridal style. Kemudian langsung memompa chakra pada kakinya, dan langsung melompat untuk menghindari Demonic Power dari dua arah yang berbeda dan sudah pasti dapat menghancurkan mereka berdua jika kedua energi Youki padat itu berhasil menghantam tubuh mereka berdua.

'DHUAARRR'

Ledakan besar langsung tercipta saat dua demonic power itu saling bertubrukan. Naruto yang bisa menyelamatkan diri beserta dengan Seiren kini mendarat dengan sempurna beberapa meter dari jangkauan ledakan. Naruto langsung menghela napas lega saat dia dan Seiren masih bisa terselamatkan. "Untung kita masih bisa selamat…"

Seiren yang masih berada di dalam gendongannya mengangguk, dengan rona merah tipis pada pipinya. Naruto kemudian menurunkan Seiren, dan langsung mengambil posisi siaga jikalau ada lagi serangan tidak terduga yang akan kembali membahayakan mereka. Seiren juga ikut menyiagakan diri, dia memegang gagang pedangnya dengan erat, dan terus meningkatkan kesiagaannya, "Ini saat yang tepat untuk mencoba katana ini…"

"Sepertinya kita kedatangan tamu yang berbeda dari biasanya…."

Naruto dan Seiren semakin bersiaga saat mendengar suara asing yang datang dari arah depan mereka.

"Kau benar…. Sepertinya santapan kita ini akan terasa lebih enak dari biasanya…" Suara asing kembali terdengar dari arah belakang mereka berdua. Seiren yang mendengarnya langsung berbalik ke arah suara baru itu berasal, membuat dirinya dan Naruto kini saling memunggungi satu sama lain.

Dari arah depan Naruto, sosok siluet dengan ukuran yang lumayan besar kini tengah mendekat. Sementara dari arah depan Seiren, sosok siluet yang sedikit lebih kecil dari ukuran yang berada di depan Naruto juga mulai menampakkan dirinya. Dan saat cahaya temaram bulan menyinari daerah itu, sosok dari dua makhluk itu terlihat dengan jelas dengan rupa mereka yang sangat mengerikan.

Sosok di depan Naruto, mempunyai rupa bak tak ada bedanya seperti seekor gorila, dengan tubuh tegap dua meter yang menjulang. Ditambah sosoknya yang terlihat berotot membuat tampang dari makhluk yang merupakan iblis liar itu terlihat semakin persis menyerupai gorila, jika dia tidak mempunyai kaki yang terlihat kecil dan tanduk besar dikepalanya.

Sementara dari arah yang kini dihadapi Seiren, sosok dari mahluk didepannya terlihat sedikit lebih Normal dari segi fisik atas, dengan tampak seorang Pria yang kini mempunyai wajah yang mengerikan dengan telinga yang menyerupai elf. Namun, tubuh dari sosok di depan Seiren mempunyai rupa seperti halnya seekor laba-laba.

Naruto yang sempat melirik juga pada iblis liar di belakangnya langsung mendecih. "Sepertinya Seiren akan langsung mendapatkan pengalaman berarti." Naruto kemudian mulai memberikan instruksinya pada Seiren.

"Persiapkan dirimu Seiren…. kita akan melawan mereka One on One…." Kata Naruto dengan serius.

"Ha'i…"

Sosok iblis liar yang ada di depan Naruto langsung menyeringai setelah dia mendengar rencana dari manusia di depannya "Kau sungguh berani sekali untuk melawan kami secara One on One, bocah?" Kata sang iblis liar dengan intonasi yang terdengar sangat meremehkan. Bukannya takut atau terpancing emosi, Naruto malah balas seringaian dari iblis liar di depannya.

"Hehh…. Jangan berlagak seolah-olah kau bisa menang dengan mudah…. Saru." Naruto juga tak mau kalah memberikan sebuah hinaan dengan memberikan penekanan pada kata Saru.

"Ohhh…. Begitukah?" Sosok iblis liar di depan Naruto kini mulai mempersiapkan dirinya, mengambil sebuah pedang besar yang terikat di belakang punggungnya "…. Kita lihat saja bocah."

Iblis liar itu langsung melompat tinggi dan langsung menerjang ke arah Naruto dengan pedang yang teracung ke atas. Tidak ingin kalah, dengan cepat Naruto langsung merangkai Handseal.

'Fuuton : Daitopa'

Naruto langsung mengayunkan tangannya ke arah sang Iblis Liar yang berada di udara, dan sebuah tekanan energi dari angin langsung menghantam tubuh sang iblis liar, membuat sang iblis liar terdorong kembali ke tempatnya semula. Sang iblis liar langsung menatap tajam pada Naruto yang kini tengah tersenyum mengejek padanya.

"Seiren…. Sekarang."

Mengeri dengan aba-aba dari Naruto, Seiren langsung menciptakan lingkaran sihir berukuran sedang di depannya, dan langsung menembakkan Power of Destruction pada iblis liar yang ada di depannya. Dengan cepat energi penghancur itu melesat pada sang Iblis Liar. Tidak ingin mati begitu saja, sang Iblis Liar langsung melompat menjauh, menghindari Serangan dari Seiren.

Ledakan kecil tercipta saat tembakan power of destruction milik Seiren hanya menghantam tanah. Sang Iblis liar yang barusan menghindar menyeringai karena berhasil menghindari serangan barusan. Namun, seringaiannya dengan cepat luntur dari wajahnya saat dia langsung dikejutkan dengan sebuah serangan yang kembali mengarah padanya, dengan sebuah bola api ukuran besar. Sang iblis liar langsung membuat lingkaran sihir pertahanan untuk menahan serangan barusan.

Ledakan tercipta saat bola api yang dilancarkan oleh Naruto mengenai sasaran. Namun, kesenangan sama sekali tidak hinggap pada diri Naruto maupun Seiren. Naruto kini langsung membungkukkan tubuhnya, dan Seiren langsung menjatuhkan diri dan beputar dengan bertumpu pada punggung Naruto, sehingga membuatnya kini menghadap ke arah sosok Iblis liar yang menyerupai gorila.

Seiren kembali menciptakan lingkaran sihir khas keluarganya, dan kembali menembakkan power of Destruction pada sang iblis liar. Naruto sendiri kini langsung melesat maju pada iblis liar yang sebelumnya bisa menahan serangannya dengan dua kunai yang kini sudah berada di kedua tangannya.

Ledakan terjadi kembali setelah power of destruction milik Seiren menghantam targetnya. Namun, sang iblis liar masih bisa bertahan, setelah sebelumnya dia menahan serangan Seiren dengan pedang besar miliknya yang sudah dia tutupi dengan Youki. Naruto kini melemparkan kedua kunai di tangannya dan merangkai satu buah Handseal.

'Kunai Kagebunshin'

Kunai yang dilempar Naruto kini langsung berlipat ganda, dan dengan cepat menyerbu ke arah sang Iblis Liar yang kini menatap tajam ke arah Naruto yang masih terus berlari untuk memangkas jarak dengan dirinya. Mendecih sesaat dia langsung bersiaga sambil mencoba menghindari dan menangkis serbuan kunai yang menghujaninya.

Beralih pada Seiren, dia kini tengah maju menyerah pada sang iblis liar yang sebelumnya masih bisa menahan serangannya. Pertarungannya kini terpisah lumayan jauh dengan pertarungan Naruto, membuatnya kini harus berjuang sendiri melawan iblis liar yang menjadi lawannya ini.

Keraguannya dalam menggunakan pedang Masamune, membuat Seiren tidak menggunakan pedang itu sepenuhnya. Dia menggunakannya hanya jika dia ingin menahan sebuah serangan, tanpa sedikitpun melepaskan pedang dari sarungnya. Seiren kembali menangkis sebuah sabetan pedang yang dilakukan oleh Iblis Liar di depannya.

Seiren sangat kewalahan menghadapi musuhnya ini. Menahan serangan dengan menangkis menggunakan pedangnya sangatlah tidak menguntungkan, mengingat kekuatan dari Iblis liar di depannya tidak bisa dikatakan biasa saja. Seiren sedikit terseret setelah dia menangkis ayunan horizontal dari musuhnya ini.

"Apa hanya itu saja kemampuanmu hmmmm?" Iblis liar itu angkat suara dengan angkuhhnya"…. Sebaiknya kau menyerah, dan biarkan aku memakanmu sekarang juga."

Seiren tidak terlalu memperdulikan perkataan dari Iblis Liar itu, dia kini kembali memasang posisi siaga. "Sepertinya aku harus melakukan cara kasar yah…."

Sang Iblis liar kembali menyerang, dia melemparkan pedang besarnya pada Seiren yang juga ikut maju menyerang. Pedang besar milik iblis liar dengan cepat melesat bersiap memotong dirinya, namun Seiren dengan sigap langsung menghindar. Memanfaatkan momentum dari larinya, dia langsung melompat tinggi, berputar horizontal menghindari putaran pedang. Setelah pedang itu melewatinya, Seiren langsung menciptakan lingkaran sihir kembali, dan menembakkan power of destruction pada Iblis liar yang kini tengah memangkas jarak dengannya.

Iblis liar itu dengan susah payah menghindarinya, namun, saat dia berhasil menghindari serangan itu, sang Iblis liar dikejutkan dengan pergerakan cepat dari Seiren yang kini sudah bersiap memberikan tebasan dari pedang dengan aura mengerikan yang kini tergenggam di tangannya. Mencoba menghindar, tapi terlambat karena pergerakan Seiren yang sangatlah cepat membuat sang iblis liar harus merelakan tangannya yang kini terputus.

Sang iblis liar melompat menjauhi Seiren, dan meringis kesakitan saat rasa sakit dari terputusnya lengannya kini mulai bisa dirasakan oleh sekujur tubuhnya. Iblis liar itu langsung menatap tajam pada Seiren yang kini tengah memasang posisi siaga dengan kuda-kuda tempur yang sigap.

"Grrrr…. Kau akan membayar untuk ini, iblis kecil."

Seiren kembali mengacuhkan perkataan dari iblis liar di depannya, dan memilih untuk terus bersiaga. Aura keunguan kini mulai menguar dari pedang di tangannya, dan secara perlahan mulai merambat dan mulai melingkupi tubuh Seiren. Iblis Liar di depannya sempat terlonjak melihat kejadian itu, namun dia kembali bersiap. Sang iblis liar mengangkat tangannya ke arah pedang yang tertancap lumayan jauh dari posisinya.

Seakan merespon panggilan dari sang tuan, pedang itu mulai bergetar dan langsung terbang kembali ke tangan sang iblis liar. Adrenalin dari iblis liar itu kini mulai terpacu, merasakan tekanan pancaran energi yang dikeluarkan oleh musuhnya ini. Seiren kemudian melakukan pergerakan terlebih dahulu. Dia melancarkan serangan setelah jaraknya dengan sang iblis liar sudah sangat dekat.

Namun, sang iblis liar tidak kalah sigapnya. Dia menahan sebuah tebasan yang dilancarkan Seiren dengan pedang besar miliknya. Seiren menghentakkan pedangnya, mundur sedikit dan kembali melancarkan serangan. Namun, sang iblis lair masih bisa menahannya kembali. Serangan terus terjadi seperti itu, sampai Seiren melihat satu celah kosong.

Dia kemudian menundukkan tubuhnya menghindari tebasan Horizontal dari sang Iblis liar. Memanfaatkan kembali momentum yang ada, Seiren langsung menjatuhkan dirinya ke tanah, dan melakukan tebasan berlawanan yang dia arahkan pada lengan sang iblis liar.

'Zrash'

Sang Iblis liar kembali dibuat merasakan sakit saat pergelangan tangannya kembali terkena potongan dari tebasan Seiren, membuat dia kembali harus Rela kehilangan tangannya. Seiren bangkit dan melompat mundur. Aura ungu yang melingkupi tubuhnya kini sudah menghilang, kembali masuk kedalam pedangnya. Dan saat itulah, Seiren langsung jatuh berlutut.

Napasnya kini memburu, terengah-engah setelah saat aura ungu itu menghilang. "Kenapa ini…. hahhh…. Hahhh…. Youki…. Milikku…. Terkuras habis."

Dia sangat heran dengan keadaan yang terjadi sekarang. Sang iblis liar yang melihat kejadian itu, tak tinggal diam saja, meski kini kedua tangannya sudah menerima dampak mengerikan, karena kini lengannya yang terputus seperti mulai membusuk dengan cepat. Namun, rasa sakit itu tidak diperdulikan lagi, rasa ingin membunuh yang dia rasakan lebih kuat dari pada rasa sakit yang kini mendera tubuhnya.

Dia dengan cepat berdiri dan langsung maju menyerang balik, memanfaatkan keadaan Seiren yang kini tengah kelelahan. Seiren sendiri kini mencoba untuk bangkit, namun dia kembali harus terjatuh karena kini tubuhnya benar-benar sudah kehabisan energy. Belum sempat dia berdiri, dia kini dikejutkan dengan Iblis liar yang kini sudah bersiap menyerangnya. Melihat jaraknya dia sudah bersiap untuk menerima sakit yang akan dia rasakan.

Memejamkan matanya, dia benar-benar sudah pasrah. Mengharapkan Naruto datang menyelamatkan, sangatlah tidak mungkin. Mengingat jarak pertempurannya dengan Naruto sudah sangatlah jauh.

'Crusher'

'WUSHHH' 'BOOMMMM'

Seiren dengan cepat langsung membuka matanya saat sebuah ledakan kini terdengar tepat dari arah depannya. Namun, dia harus menghalangi lagi pandangannya saat debu mulai menyebar kemana-mana. Merasa ledakan sudah berhenti, Seiren langsung membuka matanya dan saat dia melihat kedepan, dia sedikit terkejut karena sosok Iblis liar yang menjadi lawannya kini sudah menghilang. Musnah oleh ledakan yang sebelumnya.

"Hahhh…. Untung masih semapat."

Mendengar suara perempuan yang berujar lega dari arah belakangnya, Seiren langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat untuk melihat siapa yang sudah menyelamatkannya. Dan saat dia berbalik, dia terkejut saat melihat sosok seorang perempuan yang kini tengah tersenyum kearahnya.

"Kau baik-baik saja…. Seiren-san?"

"Naomi-san?"

Dan Seiren sama sekali tidak menduga akan diselamatkan oleh seseorang yang dia kenal ini. tanpa sadar senyum kini juga mengembang di wajahnya, saat Naomi kini mulai mendekat kearahnya.

0o0o0

Di balik pohon yang lumayan jauh jaraknya dari tempat Naomi dan Seiren berada, sosok Seseorang kini tengah bersembunyi. Sosok itu mempunyai penampilan dengan pakaian seperti sebuah jirah perang berwarna hitam yang menutupi tubuhnya.

Wajahnya terhalang oleh sebuah flat besi yang mempunyai lubang di bagian matanya. Setelah puas dengan tontonan yang tersaji sebelumnya. Dan tanpa berkata sepatah katapun, sosok itu langsung menghilang dari tempatnya berdiri dengan tubuh yang secara perlahan mulai masuk kedalam tanah. Meninggalkan kesunyian di tempat bekas dirinya tadi berada.

::

::

::

::

TBC

XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxX

Oke… saya sebelumnya mau minta maaf karena keterlambatan saya update. Membiarkan fic ini terbengkalai selam seminggu. Jujur, saya sangat sibuk dalam seminggu ini, mendapat kunjungan dari saudara jauh, membuat saya harus banting stir jadi seorang tukang antar-antar. Sekali lagi saya minta maaf.

Oke untuk chap 18 ini, adalah permulaan dari ARC-III, dan ini murni dari karangan saya sendiri. Ah ada sedikit hal yang menggantung disini, yah, yang menggantung adalah Seiren dan juga Naomi yang terlihat sudah saling mengenal.

Oke …. Dan maafkan saya yang tidak kembali membalas Riview kalian untuk kali ini. oke mungkin dari ARC ini akan banyak pertanyaan, jadi chap 19 saya akan membuka dan akan menjawab pertanyaan kalian, baik lewat PM ataupun lewat Riview.

Lalu, satu hal lagi…. Bagi kalian yang memang tidak menyukai fic dengan alur yang lambat, sepertinya fic buatan saya ini sama sekali bukan pilihan yang tepat untuk kalian baca. Karena saya memang sengaja membuat kelambatan dalam alur, Apalagi di ARC-III ini yang akan sangat terasa lambat. Oh dan yah, ARC-III ini akan ada sangkut pautnya dan terhubung dengan ARC-Kokabiel.

Mungkin hanya itu saja untuk sekarang.

Jangan lupa tinggalkan kesan, pesan, Kritik, Flame atau apapun itu di kolom Riview.
jangan pernah ragu untuk menuangakan apa yang kalian mengenai fic amburadul saya ini.

Oke…
See you the next chapter.

Bye Bye

Hyosuke Ryukishi