Disclaimer :: I Never Admitted Ownership of Naruto and Highschool DxD

Genre :: Adventure, Fantasy, Supernatural, Romance, Suspense, Humor(Garing)

Warning :: OC, OOC, semi-AU, Typo bertebaran, Bahasa tidak baku, mungkin gaje, mungkin abal, dan mungkin saja jelek.

So, ENJOY IT!

~~~0o00o0~~~

::

ARC-III :: Sword

'Chapter 19 :: Beginning of Danger'

::

~~~~0o0o0~~~~

'Tap' 'Tap' 'Tap 'Tap'

Suara gema langkah kaki terdengar sangat jelas dari lorong gelap, yang sangat minim sekali pencahayaannya. Lorong ini hanya menggunakan obor di sepanjang dinding sebagai penerangan di dalam kegelapan. Dinding yang juga memakai cat yang gelap, membuat pemantulan cahaya sedikit terhambat, dan tak ayal itu membuat tempat ini terlihat agak menyeramkan.

'Tap' 'Tap' 'Tap'

Suara langkah kaki itu terdengar semakin mendekat, membuat gaung pantulan suaranya semakin terdengar jelas. Dari arah belakang, Siluet seseorang mulai terlihat keluar dari balik bayangan gelap. Sosok dengan tubuh tinggi tegap itu, kini mulai bermandikan cahaya dari obor yang membuat penampilannya terlihat jelas.

Badannya terbungkus dengan sebuah zirah yang simple yang tetap terlihat kokoh, wajahnya tidak dapat dikenali akibat terhalang oleh sebuah topeng dari besi yang menutupi hampir seluruh wajah bagian atasnya. Bahkan topeng yang dikenakannya sama sekali tidak terlihat mempunyai lubang mata, namun sosok itu masih tetap bisa berjalan seolah-olah dia bisa melihat dengan jelas. Rambut panjang berwarna hitam miliknya terikat dengan gaya ekor kuda.

Sosok itu berjalan tenang di lorong yang sedang dia lalui. Tidak ada siapa-siapa disana, kecuali hanya dirinya seorang. Berjalan tanpa suara, membuat keadaan disekitarnya menjadi begitu hening. Membuat suara derap langkahnya terdengar menggema di lorong dengan jelasnya. Santai dan tenang, sosok itu memang benar terlihat sangatlah santai dalam menempuh jalur lorong. Beberapa meter di depannya, sebuah pintu dengan ukiran-ukiran rumit terpampang dengan jelas dan terlihat sangatlah kokoh.

Sosok itu langsung menghentikan langkah kakinya saat dia sudah berada tepat di depan pintu gerbang itu dan langsung membuka pintu di depannya. Dan saat pintu terbuka sepenuhnya, dia langsung disambut dengan kegelapan. Tidak ada penerangan di dalam ruangan ini. Cahaya yang terang disini, hanya ada di bagian tengah ruangan, dimana disana ada sebuah obor yang lumayan besar menyala, membuat bagian di tengah ruangan mendapat pencahayaan yang terang.

Sosok itu kembali berjalan, dan berhenti kembali saat dia sudah berada disisi, dimana sosok dirinya hanya terlihat seperti bayangan karena pencahayaan yang sampai pada tubuhnya sangat teramat minim. Dia kemudian langsung berlutut di lantai dengan penuh rasa hormat.

"Ryo-sama..." Sosok itu berujar dengan datar tanpa sedikitpun intonasi di dalam suaranya. Namun, rasa hormat masih dia tunjukkan. Di depan sosok yang tengah berlutut, di sisi yang sangat gelap, terlihatlah sepasang mata dengan iris berwarna merah bercahaya setelah kelopak mata itu terbuka.

Sepasang mata itu kini melihat ke arah dimana sosok orang yang berlutut berada dengan tatapan tajam "Bagaimana, jin?" Suaranya terdengar berat dan dingin, membuat siapa saja yang mendengarnya terasa terintimidasi. Dia bertanya pada sosok yang berlutut yang bernama Jin.

"Ha'I... Saya sudah menemukannya, Ryo-sama. Benda itu memang benar-benar berada di Kuoh sekarang." Jawab Jin dengan cepat dan tegas, memberitahukan keberhasilannya pada sang tuan. Ruangan itu menjadi hening, setelah dia mengatakan hal barusan. Sang tuan sama sekali tidak menyahut kembali, namun, sepasang mata yang terlihat bercahaya di balik kegelapan itu terlihat menyipit. Dan dengusan puas terdengar dikeluarkan oleh sosok itu sesaat kemudian.

"Siapa pemegang dari pedang Masamune dan juga Muramasa sekarang?"

"Pemegang Masamune masih belum dapat dipastikan Ryo-sama... Tapi pedang Muramasa kini berada di tangan seorang Iblis dari Gremory clan." Jin langsung menjawab masih tanpa intonasi di setiap perkataannya. Dia menjadi terlihat seperti sebuah boneka sekarang yang terlihat begitu kaku.

"Cih... Sepertinya ini akan sangat menyusahkan. Salah mengambil tindakkan, kita akan menjadi bulan-bulanan Fraksi Iblis." Tuannya itu langsung mendecih kesal setelah mendengar penjelasan dari Jin. "... Segera persiapkan saja apa yang kita butuhkan, kita akan merebut benda itu bagaimanapun caranya. Kita sangat membutuhkan kedua pedang itu untuk menyelesaikan rencana kita. Aku akan mencari solusi agar kita bisa mendapatkan pedang itu."

"Ha'I... Ryo-sama."

Setelah menjawab seperti itu, Jin langsung pergi dari hadapan Tuannya, dengan tubuh yang terlihat terhisap masuk kedalam lantai. Meninggalkan kembali tuannya sendiri di dalam kegelapan. Hening, melingkupi ruangan ini, sosok tuan yang dipanggil Ryo itu kini terlihat mendekat ke arah obor api di tengah ruangan.

Dia berhenti di sisi yang masih gelap, dan hanya menunjukkan sedikit tubuhnya saja. "Bagaimana menurutmu?" Ryo bertanya dengan suara dingin entah kepada siapa. Dia terlihat seperti tengah berbicara sendiri di dalam kegelapan ini.

"Menarik... Sepertinya ini akan sangat menyenangkan." Sebuah suara asing terdengar menyahut perkataan dari Ryo. "... Sepertinya ini adalah hari keberuntunganku." Lanjut suara asing itu lagi dengan nada yang terdengar senang.

"Kalau begitu, aku ingin membuat sebuah relasi denganmu." Ryo berkata dengan suara datar namun serius.

"Hahaha..." Suara misterius itu kini terdengar tertawa lepas, membuat suaranya terdengar menggema keseluruh ruangan. Namun Ryo masih tetap diam, tidak berkata apapun mendengar tawa itu. "... Tentu aku akan menerimanya, Ryo... Tapi dengan satu syarat... Aku akan membantumu, asal salah satu di antara pedang itu menjadi milikku."

Dan Ryo kini hanya bisa terdiam, memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh suara misterius itu. "Terserah kau saja..."

::

~Atarasi Seikatsu~

::

Kuoh Academy, mungkin bisa dikategorikan sebagai sekolah dengan tingkat keributan siswa dan siswi dalam presentase sebesar 90%. Sungguh angka yang sangat fantastic. Bagaimana tidak, presentasi ini dilihat dari keributan yang terjadi di waktu sekolah. Dan penyebab dari semua keributan itu adalah anak-anak yang masuk golongan POPULER. Ingat itu, POPULER.

Sekarang begini, setiap satu anak yang populer akan selalu mendapatkan perolehan suara secara langsung saat mereka menginjakkan kaki di areal sekolah. Semakin populer seorang murid, semakin bobol gendang telinga.

Terdengar seperti melebih-lebihkan memang. Namun, itu adalah sebuah fakta yang memang berada di persekolahan. Dan jika kalian ingin merasakan kehidupan kalian tenang di sekolah yang seperti itu, tipsnya hanya satu. Jauhi orang-orang populer, dan jadilah anak yang tidak populer. Sistem yang sangat ingin aku pakai, karena entah kenapa aku mulai merasa jengah dengan teriakan-teriakan mereka.

Namun, lupakan tentang hal barusan, karena aku sama sekali tidak sedang ingin berstand up comedy saat ini. Aku hanya mengutarakan keberatanku atas keributan yang kini terjadi di sekitarku sekarang ini. Oh, ayolah... Hanya karena sebuah pertandingan tenis antar murid populer seperti ini, apa harus ada teriakan-teriakan yang sangat mengganggu seperti ini? Beneran deh, ini membuatku pusing sekarang. Ini tenis bukan tempat ajang orasi publikasi, jadi bisakah teriakan itu dikecilkan volumenya.

Ahh... Sebenarnya aku masih belum mengerti kenapa pertandingan tenis ini di adakan. Dari apa yang aku dengar dari Rias, pertandingan ini diadakan untuk memperebutkan kontrak familiar. Seminggu yang lalu, saat aku kembali berkunjung ke Occult research club, dengan Seiren dan juga Shikamaru. Rias mengatakan bahwa seminggu lagi dirinya akan bertanding tenis untuk memperebutkan hak familiar dengan Sona. Permasalahan mereka katanya dimulai kemarin saat dirinya, Seiren, dan Shikamaru meninggalkan ruangan club Rias, keduanya dibuat cekcok karena perebutan hak mengambil familiar yang jika dihitung-hitung akan dilakukan 2 hari lagi.

Kupikir apa yang dikatakan seminggu yang lalu itu adalah sebuah gurauan. Namun, ternyata ini memang benar-benar terjadi. Mereka bertanding tenis hanya untuk memperebutkan hak kontrak familiar. Yang benar saja? Apakah mereka berdua tidak bisa berbagi saja yah?

Ugh... Entah kenapa, sekarang aku merasa mulai semakin terganggu saat suara-suara teriakan heboh disekelilingku ini semakin keras terdengar.

"Kyaaa... Souna-oneesama..."

"Uwwoohhh... Akeno-neesama..."

Satu kali pukul, teriak, satu kali pukul, teriak. Dan setiap satu perolehan skor bertambah, teriakan itu akan semakin menjadi-jadi. Astaga, aku masih berharap bisa menyumpal mulut mereka sekarang. Apa lagi nanti yang akan terjadi, bisa saja satu kali pukul akan ada yang gila mungkin. Atau satu kali pukul ada murid yang langsung pingsan. Atau bisa juga satu dua kali pukul sekolah bubar, oke yang terakhir itu aku memang mengharapkannya.

"Oh... Ini benar-benar membuat gairah masa mudaku meledak-ledak"

"Ini adalah pemandangan segar di pagi hari yang sangat indah..."

"Celana dalam mereka mempunyai renda-renda... Sungguh sangat indah."

"Surga duniaaaaa~..."

'Croot' 'Bruk'

Oh... Acuhkan saja orang yang baru pingsan barusan dan ocehan dari para mesumer tadi. Lebih baik fokuskan saja mata ke pertandingan, dimana Rias kini melakukan pukulan servis, dan dapat dikembalikan oleh Sona dengan mudah. Sepertinya pertandingan Tenis ini tidak akan ada habisnya. Melihat bagaimana permainan kedua pasangan sangatlah seimbang.

"Sepertinya mereka sangat bersemangat sekali."

Aku menengokkan kepalaku kesamping saat mendengar suara Seiren, dimana dia kini tengah berdiri disampingku sambil menatap pertandingan saudari kembarnya. "Hmmm..." Aku bergumam dengan manggut-manggut menyetujui perkataannya "... Untung mereka tidak menggunakan sihir mereka dalam pertandingan ini... Kalau mereka menggunakannya, bisa geger satu sekolah." Aku membalasnya dengan santai, sambil mengutarakan pendapat dengan acuh tak acuh.

Yah, bagaimanapun jika mereka menggunakan kemampuan sihir mereka, itu pasti akan membuat sekolah ini geger karena Baik Rias maupun Sona akan terlihat seperti seorang penyihir nantinya. Kalian tau sendiri bukan, bagaimana jalan pemikiran orang-orang zaman sekarang.

"Sepertinya itu tidak mungkin, Naruto-kun... Lihat saja itu!"

Sepertinya aku memang diharuskan kembali menarik perkataanku sebelumnya. Karena saat aku kembali melihat pertandingan tenis itu, Sona dengan kemampuan supranatural miliknya, membuat bola servis darinya berputar dengan cepat, sehingga saat bola itu memantul di permukaan, perputaran yang cepat membuat bola itu berubah haluan. Dan perolehan skor diungguli oleh Sona sekarang. Setelah itu Rias juga membalasnya dengan kemampuan sihirnya.

Hahh... Mereka ujung-ujungnya tetap saja menggunakan kemampuan sihir mereka. Apakah mereka tidak sadar kalau mereka kini tengah ditonton oleh puluhan manusia yang tidak tahu menau mengenai dunia supranatural.

"Wah... Sungguh ajaib."

"Sugoiiii ne~"

"Souna-neesama, kau hebat..."

Oke sekarang aku benar-benar merasa seperti orang yang sangat bodoh, saat mendengar teriakan murid-murid abnormal yang menonton pertandingan ini. Aku baru ingat, kalau manusia-manusia ini lebih berpikiran secara logis namun sebenarnya tidaklah logis, sudah jelas saja hal seperti itu hanya akan terlihat seperti bola yang ajaib di mata mereka.

Sekarang aku bisa mendengar Seiren yang tengah tertawa geli disampingku. Sepertinya dia tengah mentertawakanku sekarang, hiburan untuknya. Aku sangat sering sekali mendengarnya tertawa seperti itu akhir-akhir ini. Baguslah, setidaknya itu lebih baik dari pada dia selalu terlihat murung.

Sudahlah, lebih baik aku menikmati saja pertandingan tenis ini. Setidaknya karena pertandingan ini, pelajaran di pagi hari jadi tidak dilaksanakan. Muehehehe... Ternyata ada keuntungan tersendiri juga dari diadakannya pertandingan ini. hahaha...

Say good bye matematika. Aku bebas hari ini.

Baiklah Narator, kau boleh kembali mengambil alih. Kuharap urusanmu sudah selesai dengan para makhluk loli di luar sana. Dan segeralah akhiri penderitaan telingaku ini.

'=_='

Sekarang kita tinggalkan keramaian itu untuk sesaat, dan beralih ke atap sekolah. Tempat dimana biasanya seorang Nara Shikamaru menghabiskan waktunya di tempat keramat yang sudah dia claim secara Otoriter dan Parsial menjadi miliknya itu. Namun, suasana di tempat itu kini terlihat sangatlah sepi, tidak ada siapapun yang kini berada disana. Sosok si pemalas stadium 3 itu juga sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di tempat dia biasanya menghabiskan waktu. Entah kemana perginya si pemalas satu itu.

Namun, lupakan tentang Shikamaru untuk saat ini. Karena kini, di tempat itu sebuah distorsi ruang tercipta. Dan beberapa saat kemudian, sebuah portal dengan cepat terbentuk. Dua orang kini melangkah keluar dari dalam portal itu. Sosok pertama adalah seorang wanita yang terlihat sangat bersemangat saat dirinya menginjakkan kaki di atap sekolah. Dan yang kedua adalah seorang pria yang sangat santai, mengikuti sang perempuan dari belakang.

Sang perempuan dengan surai hitam panjang langsung mendekati samping ujung atap yang dibatasi dengan kawat ram yang menghadap langsung ke arah lapangan, dimana disana terlihat pertandingan tenis antara Rias, Akeno melawan Sona, dan Tsubaki. Iris mata hazel milik wanita itu terlihat bergerak liar, seperti tengah mencari sesuatu di bawah sana. Sementara sosok pria dibelakangnya kini hanya bersandar pada Ram kawat pembatas atap di sisi lain dari sang wanita, memperhatikan sang perempuan dari kejauhan.

Sementara sang perempuan yang mempunyai surai hitam itu terus saja betah ditempatnya sambil mencari sesuatu di bawah sana. "Shirone... Shirone..." Gumam perempuan itu sambil terus menggulirkan matanya ke bawah sana. Sementara laki-laki dengan surai dark silver masih terus memperhatikan perempuan bersurai hitam itu.

"Bisakah kau sedikit menenangkan diri Kuroka... Kau terlihat terlalu bersemangat..." Sang pria berujar tenang pada perempuan bernama Kuroka itu. Namun, seakan tidak mendengarkan perkataan pemuda tadi, Kuroka masih saja terus khusyuk dengan kegiatannya. Sang pria yang merupakan Vali itu hanya bisa menghela napasnya saja.

"Aku terkejut kalian berkunjung kemari di waktu seperti ini..." Suara seseorang langsung membuat Vali mendongak ke atas, ke arah dimana suara itu berasal. Dan Vali kini bisa melihat sosok Naruto yang tengah berjongkok di besi pembatas di atas dirinya. "...Vali, Kuroka." Lanjut Naruto lagi.

"Narutoo..." Kuroka yang sebelumnya, terfokus dengan acaranya langsung berbalik dengan cepat saat mendengar suara Naruto, seperti melupakan apa yang tadi dia lakukan sebelumnya. Sementara Naruto yang sebelumnya terlihat biasa-biasa saja langsung terlihat pucat pasi saat melihat Kuroka yang tengah berbinar saat melihatnya.

Wajahnya semakin Horror saat melihat Kuroka yang terlihat seperti ingin menyergap dirinya. "Stttoooppp... Oppp.. Euuppp... Berhenti Kuroka." Dengan paniknya Naruto berteriak untuk menghentikan perempuan itu.

Kuroka langsung berhenti, di tengah-tengah sebelum dia bisa mencapai Naruto. Dia langsung memiringkan kepalanya, bingung. "Kenapa, Nyaann~?"

"Tidak... Tidak... Tidak... Aku tau kau akan pasti menerjangku begitu saja. Aku bisa terjatuh kalau kau bertindak tanpa perhitungan... Lagipula aku tidak mau pipiku ini menjadi bahan tarikan lagi olehmu." Sanggah Naruto dengan cepat. Kuroka langsung memonyongkan bibirnya pertanda sebal atas perkataan dari Naruto. Dia langsung berbalik dengan cepat dan kembali ke tempatnya semula, melanjutkan kegiatan sebelumnya. Sementara, Naruto malah menghela napasnya dengan lega. "Selamat... Selamat..."

Naruto kemudian mengalihkan perhatiannya pada Vali yang masih saja memperhatikan Kuroka. "Jadi... Kenapa kalian datang kemari di waktu seperti ini, dan kenapa kalian bisa masuk teritori dari Gremory dan Sitri tanpa mengusik mereka?" Tanya Naruto kemudian. Dia penasaran juga karena tidak biasanya, dan malah pertama kali dia melihat kedatangan dua makhluk ini ke sekolah. Dan lagi mereka berdua datang tanpa dirasakan oleh kelompok Rias dan Sona.

Dan itu sangat mengejutkan, karena hanya dirinya seorang yang merasakan kedatangan Vali dan Kuroka ke sekolah. Itulah alasan kenapa kini dia berada di atap bersama dua makhluk ini.

Namun, sekian menit berlalu, tidak ada jawaban yang diberikan oleh keduanya setelah dia bertanya barusan. Sebelah alis Naruto langsung terangkat, karena sama sekali tidak ada yang menjawab pertanyaannya setelah sekian lama. Dialihkannya tatapan kepada Kuroka, dimana dia kini masih sibuk dengan urusannya didekat pagar, kadang-kadang juga dia menggoyang-goyangkan pantat berisi miliknya karena beralih tempat.

"Shirone... Shirone... Nyaan~." Hanya itu yang bisa di dengar oleh Naruto dari Kuroka.

"Oii... Adakah yang mau menjawab pertanyaanku?" Namun, kembali perkataannya tidak membuat keduanya tergerak. Naruto mengalihkan kembali tatapannya kepada sang Hakuryuuko di bawahnya. Dia bisa melihat Vali masih saja terdiam, dan masih betah menatap ke depan. Lebih tepatnya ke arah Kuroka.

Dahi Naruto mengerut melihat ada yang aneh dari wajah Vali sekarang. Dia kembali menatap Kuroka, dan kembali lagi kepada Vali, kembali pada Kuroka, dan balik lagi menatap Vali. Naruto terus melakukan hal begitu selama beberapa kali, hingga dia berhenti pada putaran ke-10. Dan Naruto kini hanya bisa memasang wajah datarnya saat menyadari tingkah aneh dari Vali. Naruto perlahan-lahan kemudian mencopot sebelah sepatunya.

Digenggamnya dengan kuat sepatu itu, kemudian dia menatap datar pada Vali yang masih tetap seperti sebelumnya. Hanya saja, tatapan yang ditunjukannya kini terlihat berkilat tajam. "Cih... Sepertinya hidupku benar-benar tidak pernah jauh dari para orang-orang mesum..."

Naruto kemudian mengangkat tinggi-tinggi sepatu di tangannya. Dan dengan aba-aba yang dia ucapkan dalam hati, Naruto langsung melemparkan dengan kuat sepatunya ke arah Vali. "HENTIKAN TATAPAN MESUMMU ITU, VALI."

'Duak'

Dan sang Hakuryuuko itu kini sudah terjatuh dengan tidak elitnya di permukaan. Dengan tubuh lemas dan benjolan besar tercipta di atas kepalanya. Naruto sendiri hanya bisa memasang tampang datarnya melihat itu, sementara Kuroka masih asik dengan acaranya sendiri.

"Jadi, ada keperluan apa kau datang kemari, Vali?" Naruto kembali bertanya, tapi kali ini dia menekan setiap perkataannya, agar Vali bisa memperhatikan dengan jelas perkataannya.

Vali yang kini masih mengusap-usap kepalanya yang sebelumnya kena timpuk itu, sesaat dia memberikan glare pada Naruto yang hanya memutar bola matanya bosan "Cih... Kami datang kemari untuk menegaskan apa keputusan kami mengenai rencana yang kau buat mengenai 'Chaos Brigade'."

Tatapan Naruto langsung menjadi serius sekarang. "Jadi, bagaimana keputusan kalian?"

Vali kembali menyantaikan posisinya dan bersandar kembali ke ram kawat pembatas, dan memperhatikan kembali Kuroka yang masih saja asik di tempatnya. "Kami setuju dengan rencanamu itu..." Vali kemudian langsung menatap pada Naruto "... Kami akan memata-matai pergerakan mereka."

~o~

'Skip'

Hari kini sudah menjelang sore, dan sekolah sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Kini semua anggota dari ORC tengah berkumpul di bangunan klub mereka, termasuk, Naruto, Seiren, dan juga Shikamaru terkecuali Rias dan Akeno yang tengah berada di ruang OSIS untuk membahas bagaimana keputusan yang akan mereka ambil karena pertandingan olah raga yang siang tadi mereka lakukan masih mengalami scor yang seimbang.

Di ruangan klub kini hanya tersisa beberapa dari anggota yang tengah menunggu Rias dan Akeno kembali. Naruto kini tengah duduk dengan anteng di sofa di sebelah Seiren, sementara Shikamaru kini tengah tertidur di kursi yang sudah dia claim dengan seenaknya sebagai miliknya, (lagi).

"Haahhhh... Apa aku bilang, pertandingan ini tidak akan ada akhirnya." Naruto memulai pembicaraan, dengan helaan napas lelah. Dia berkata seperti itu setelah mendengar hasil akhir pertandingan antara Rias dan Sona.

Dimana pertandingan itu berjalan seimbang setelah kedua belah pihak sudah tidak bisa melanjutkan lagi pertandingan karena alat mereka yang mengalami kerusakan berat. Naruto bahkan sempat sweatdrop saat melihat bagaimana Raket yang digunakan Rias dan Akeno sudah tidak berbentuk lagi.

"... Kenapa Rias dan Sona tidak berbagi saja. Lagipula Familiar di tempat itu juga banyak, kenapa harus berebutan segala?"

"Hihihi... Sepertinya itu tidak mungkin Naruto-kun. Kau tau sendiri bukan, persaingan antara Aneki dan Sona-chan itu sangatlah panas." Seiren menyahut perkataan Naruto.

Naruto kembali hanya menghela napasnya saja. Dia beralih memperhatikan setiap penghuni ruangan ini. Issei dan Asia yang tengah asik mengobrol di sisi bangku yang lain. Kiba tengah sibuk dengan pedang kesayangannya, dan Koneko kini tengah menikmati acara makan cemilan miliknya.

"Hahh... Rivalitas diantara mereka benar-benar sangat ketat ternyata." Ujar Naruto lagi dengan malasnya.

"Bukankah kau dulu juga seperti itu, Naruto-kun?"

Mendengar hal itu, tidak sadar membuat Naruto langsung mengulum senyum. Apa yang dikatakan Seiren barusan sangatlah benar adanya. Dia jadi teringat dikala dia masih berada di bangku academy, dan saat dirinya sudah menjadi gennin. Dimana dia dan sahabatnya Sasuke, selalu bersaing meski yang menjadikan rival adalah Naruto secara sepihak waktu itu.

"Kau benar... Sei-chan."

'Cklek'

Suara pintu yang terbuka, membuat semuanya langsung mengalihkan perhatian mereka. Dan disana mereka bisa melihat Rias dan juga Akeno yang kini tengah memasuki ruangan. Dibelakang mereka kini juga sudah ada Sona dengan sang ratu Tsubaki, ditambah satu pemuda yang merupakan pion dari Sona, Saji.

"Maaf membuat kalian menunggu..." Rias langsung berkata dengan meminta maaf atas keterlamabatannya kembali, sehingga membuat yang lainnya menunggu lama. Yang lain hanya menagguk memaklumi saja, terkeculi Shikamaru yang tengah terlelap dan asik sendiri di alam mimpinya.

"Jadi... Bagaimana keputusannya?" Seiren yang pertama mengajukan pertanyaan. Sepertinya dia sangat penasaran sekali dengan keputusan yang di ambil oleh Rias dan juga Sona.

"Yah... Karena menurut kami, mengadakan pertandingan ulang sangatlah tidak ada gunanya. Kami memutuskan akan mencari Familiar bersama." Rias menjawab. Semuanya manggut-manggut tanda mengerti, meski Seiren sempat terkejut, karena Rias dan Sona mau berbagi satu sama lain. Maklum saja dia terkejut karena dari apa yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, mereka berdua tidak akan pernah ada yang mau mengalah satu sama lain.

"Hmmm... Aku sedikit terkejut kalian berdua mau berbagi. Mengingat kalian biasanya selalu bersaing satu sama lain..." Ujar Seiren mengutarakan apa yang dia pikirkan. Rias dan Sona hanya bisa tersenyum saja menanggapi perkataan dari Seiren barusan. "... Tapi baguslah, dengan ini tidak akan ada pertikaian lagi." Sambung Seiren lagi dengan senyum cantiknya.

"Yah... Mau bagaimana lagi kan." Sahut Rias sambil mengangkat bahunya. Dia kemudian berjalan dan langsung duduk di kursi miliknya sendiri. Sementara Akeno masuk ke tempatnya untuk membuat teh seperti biasa.

"Silahkan duduk, Sona."

Sona mengangguk dan langsung duduk di salah satu kursi yang kosong. "Jadi dua hari lagi kita akan bergerak untuk mencari Familiar..." Ujar Sona setelah dia duduk dengan manisnya.

"Ya... Memang saat itulah waktu yang tepat untuk mencari Familiar." Sahut Seiren.

Yah, meski masa periodik bulan sempurna sudah terlewat beberapa waktu. Namun, dua hari nanti masih bisa dikatakan spot yang bagus untuk mencari Familiar. Mengingat bulan sudah masuk periode setengah pengelilingan. Jika mereka mengundur lagi waktu, itu akan sangatlah lama. Jadi mempercepat akan jauh lebih baik.

"Yah... Yang jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana nanti mereka akan mendapatkan Familiar mereka." Naruto ikut menyahut sambil menunjuk Issei, Asia, dan Saji secara bergantian. Semuanya mengangguk memebenarkan, mengingat bahwa familiar memiliki banyak varian, pasti akan sangatlah sulit untuk mendapatkan Familiar yang cocok, setidaknya itulah pendapat Naruto.

"Soal itu... Kau tenang saja, Shisou... Aku pasti akan mendapatkan familiar yang mempunyai satu jiwa dan satu hati denganku." Issei menyahut dengan penuh semangat dan keyakinan tinggi.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana familiar yang satu jiwa denganmu... Familiar yang... Mesum?" Naruto berujar sangsi. Issei sendiri langsung pundung seketika, dan Asia menenangkannya dengan sabar.

"Hmmmm... Kau benar, Naruto-san." Rias setuju dengan apa yang dikatakan Naruto barusan, "... Tapi, kita lihat saja nanti... Bagaimana kalau Seiren juga ikut. Kau juga belum memiliki Familiar kan, Sei-chan?" Dia kemudian beralih pada Seiren yang diam.

"Eh? Apa benar aku boleh ikut?"

"Tentu saja... Kenapa juga kami harus melarangnya..."

Senyum Seiren semakin melebar saat mendengar perkataan dari Rias barusan. Dan Rias juga tersenyum lembut pada kembarannya itu. Benar-benar kembar identik, semuanya benar-benar terlihat sama, jika saja warna mata mereka sama satu sama lain. Tidak akan ada yang bisa membedakan antara Rias ataupun Seiren.

"Nah... Karena kalian sudah menemukan titik terang permasalahan kalian... Aku undur diri terlebih dahulu, karena aku ada sedikit urusan." Naruto mengatakan itu sambil bangkit dari acara duduknya. Seiren langsung mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Memangnya kau mau kemana Naruto-kun?" Seiren bertanya dengan penasaran. Dia sepertinya sangat ingin tau kemana Naruto akan pergi. Naruto tersenyum pada Seiren.

"Aku harus menemui seseorang dulu... Kalian disini saja dulu, jika kalian menginginkannya." Jawaban itu membuat dahi Seiren berkerut, dan raut penasaran semakin terlihat jelas di wajahnya.

"Memangnya siapa yang akan kau temui, Naruto-kun?" Dia bertanya dengan sedikit menuntut jawaban pasti. Naruto terlihat biasa-biasa saja, karena dia tidak merasakan sesuatu yang janggal. Namun berbeda dengan yang lainnya, mereka malah tengah menatap Seiren dengan tatapan sedikit terkejut dan menggoda.

"Ternyata dia bisa sangat posesif juga..." Rias berujar dalam hati saat mendengar perkataan Seiren barusan. Naruto mungkin tidak merasakan sesuatu yang aneh dari kalimat barusan, namun untuk Rias yang merupakan saudara kembar dari Seiren dapat melihat dengan jelas kalau saudarinya itu tengah dilanda rasa tak rela. Mungkin sekarang ini Seiren tengah berfikiran yang macam-macam, dan itu membuat raut tidak sukanya nampak jelas dimata Rias.

"Aku ingin menemui teman, Sei-chan... Kalau begitu aku pergi dulu..."

"T-Tung-..."

'Poff'

Rerlambat bagi Seiren untuk bertanya lebih lanjut, Karena Naruto sudah terlebih dahulu pergi dengan sunshin meninggalkan ruangan ini. Seiren hanya mendengus sebal, tanpa tanpa sadar dia sudah melupakan semua penghuni yang terus memperhatikannya.

"Wow... Ini pertama kalinya aku melihatmu begitu, Posesif Sei..." Rias langsung berkata, memecah keheningan yang ada. Sementara Seiren yang baru menyadari situasi langsung blushing dengan hebatnya. Dia lalu berbalik dan menatap Rias dengan gugup.

"A-Aku t-tidak posesif... A-Aneki..." Dia berkata dengan gugup, saat dia melihat semua orang kini tengah menatapnya.

"Lalu... Kenapa kau terlihat gugup seperti itu? Dan juga kenapa tadi aku mendengar kau seakan-akan tidak rela ditinggalkan oleh Naruto-san."

"I-Itu... Itu..."

"Ara... Ara... Aku tidak menyangkanya..."

Wajah Seiren semakin memerah dengan sempurna, dan dia juga kini bisa melihat Rias dan Akeno yang memasang ekspresi menggoda seperti itu. Dan hari itu Seiren hampir dibuat pingsan karena malu, digoda habis-habisan oleh Rias dan juga Akeno.

Sementara yang lain hanya bisa ikut tertawa saja, menikmati Seiren yang terus digoda habis-habisan, kecuali Shikamaru yang masih saja asik dengan acara tidurnya, tanpa memperdulikan keributan yang tengah terjadi sekarang.

~o~

Malam menjelang, dan kini Seiren tengah berada di taman dekat komplek perumahan yang dia tinggali. Keadaan taman kini terlihat sepi, hanya ada dirinya seorang yang ada disana. Tidak mengherankan memang, mengingat waktu kini sudah menunjukkan pukul 20.19. Dan Seiren sepertinya belumlah pulang ke rumah, karena pakaian yang dia kenakan, masih sama seperti sebelumnya, yaitu pakaian sekolah musim panasnya.

Dia kini tengah menyendiri di taman yang merupakan taman dimana anak-anak komplek perumahan ini selalu bermain menghabiskan waktu mereka di siang hari. Seiren juga kini tengah duduk dengan manisnya di atas salah satu ayunan. Wajah cantiknya kini terlihat kusut, entah apa penyebabnya,

"Ugh... Ada apa sih dengan mereka... Senang sekali untuk menggodaku." Gumamnya dengan kesal. Sepertinya wajah kusutnya itu disebabkan karena, Seiren masih kesal atas kejadian di klub, dimana dia terus menjadi bahan godaan oleh semua teman, dan juga saudaranya. Hari yang sangat berat untuk Seiren Gremory. Dan itu membuat helaan napas lelah dia keluarkan.

Kepalanya kini menengadah menatap langit luas, dimana langit gelap sudah terhiasi dengan jutaan bintang indah yang terlihat bercahaya. "Hmmm... Sepertinya apa yang di katakan aneki ada benarnya juga." Dia bergumam sambil mengingat-ingat kembali perkataan dari saudarinya sore tadi.

"Kau itu harus lebih berani lagi, Sei-chan... Jika tidak begitu, aku yakin Naruto-san akan direbut oleh perempuan lain. Mengingat dari penampilannya, pasti banyak perempuan yang sudah mengantri jadi kekasihnya diluar sana."

"Hahhh... Kenapa aku harus mempermasalahkannya juga sih?" Gerutunya dengan frustasi karena perkataan Rias terus saja menghantuinya. Dan entah kenapa, hatinya kini mulai merasakan getaran-getaran aneh, yang membuatnya merasa cemas dan tidak tenang.

"Ini kali pertama aku melihatmu melamun dan terlihat tidak tenang seperti ini Sei-chan..."

Namun, sebuah suara seseorang membuatnya langsung tersadar dari alam lamunannya dengan terlonjak. Membuatnya menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sempat terbesit dalam benaknya. Seiren lalu memutar kepalanya, melihat siapa pemilik suara barausan. Dan dia sedikit terkejut saat dibelakangnya, dia melihat seorang perempuan dengan surai dark purple yang dibuat tergerai kini tengah berdiri dengan memasang senyum geli di wajah cantiknya.

"Mi-chan... Kau mengagetkanku." Seiren berujar dengan sedikit sebal saat dia mengenal betul perempuan yang kini tengah menatap geli padanya itu. Dia adalah Naomi Hikari, teman sekaligus sahabatnya. Naomi kini hanya bisa terkikik geli saja mendengar respon dari Seiren

"Hihihi... Maaf jika aku mengagetkanmu, Sei-chan." Naomi kemudian berjalan dan mendudukkan diri di ayunan kosong yang ada di samping ayunan Seiren. "Jadi, kenapa kau sendirian disini, Sei-chan?"

"Hahhhh... Aku hanya, sedang ingin menyendiri saja saat ini, Mi-chan." Jawab Seiren dengan lemasnya. Naomi lalu menatap Seiren dengan satu alis terangkat. "...Lupakan, lagipula itu bukan masalah." Lanjut Seiren lagi, seakan mengerti arti tatapan yang ditunjukkan Naomi padanya.

"Yakin nih?"

Seiren langsung mengangguk yakin, dan memberikan senyum meyakinkan yang membuat Naomi hanya angkat bahu. "Lalu kenapa kau bisa ada disini, Mi-chan?"

"Ahh... Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di cafe, dan saat aku lewat taman ini, tidak sengaja aku melihatmu. Karena sepertinya kau sendiri, ya jadi aku putuskan saja untuk kemari." Jawab Naomi diiringi dengan senyum lebarnya. Keduanya terdiam, menikmati sejuknya hembusan angin malam yang begitu lembut.

"Ne~... Apakah kau masih ingat, Mi-chan," Seiren memulai angkat suara, memecahkan keheningan. Naomi lalu mengalihakan pandangannya dan menatap Seiren yang kini terlihat tengah menerawang. "... saat pertama kali kita bertemu?" Lanjut Seiren sambil bertanya. Senyum simpul mengembang di wajah Naomi saat mendengar pertanyaan Seiren barusan. Pandangannya kini dia alihkan ke langit malam, dan iris violetnya kini mulai menerawang, menyelami kembali memori kenangannya.

"Yah... Tentu saja aku masih mengingatnya... Mana mungkin aku melupakan saat dimana aku mempunyai sahabat pertamaku." Naomi menjawab. "... Dan lagi, tempat ini adalah saksi dari awal pertemuan kita bukan?!" Lanjutnya lagi sambil memperhatikan sekeliling taman di depannya.

"Kau benar... Tempat ini... Adalah tempat dimana kita saling bertemu pertama kali..."

"Hmmm... 7 tahun yang lalu yah..."

"Kau benar, Mi-chan... Aku masih ingat waktu itu aku kabur dari pengawasan Onii-sama, dan berkeliaran sendirian di kota ini... Dan tanpa sengaja aku bertemu denganmu di taman ini... Hahh... Jika diingat-ingat, serasa baru kemarin saja."

~o~

"Hiks... Hiks... Kaa-chan, hiks... Tou-chan..."

Suara isak tangis itu terdengar sangat pilu, dari seorang anak perempuan yang kini tengah terduduk di bawah pohon dengan memeluk kedua lututnya yang tertekuk. Wajahnya dia benamkan pada lututnya, meredam isak tangis yang terus saja keluar tanpa henti dari anak itu.

Surai dark purple pendek miliknya terlihat sangat kusut, seolah-olah sudah tidak dirawat selama beberapa hari. Anak itu terus saja menangis sendiri di taman yang memang sedang sepi mengingat hari yang sudah sore.

"Hiks... Hiks..."

"Kenapa kau menangis?" Pertanyaan dengan nada polos itu langsung membuat isak tangis itu berhenti. Anak itu lalu mendongak untuk melihat siapa yang mengajukan pertanyaan itu padanya. Mata violet bulat khas anak kecilnya bisa melihat seorang anak perempuan yang seumuran dengannya.

Mempunyai wajah imut dengan surai merah crimson yang dibuat ponytail. Mata dengan iris merah delima itu terus menatapnya dengan polos dan penasaran. "Kenapa kau menangis disini?" Anak berambut merah itu bertanya kembali.

"A-Aku... Hiks... Kaa-chan... Tou-chan... A-Aku..." Namun sepertinya anak perempuan dengan surai dark purple itu sama sekali tidak bisa menjawab dengan benar. Isak tangis terus saja keluar dari bibirnya, dan anak itu kembali membenamkan wajahnya pada lututnya.

Anak perempuan di depannya masih saja menatapnya dengan penasaran. Namun, melihat anak itu terus saja menangis, dia lalu berjongkok dan memeluknya dari depan. "Cup... Cup... Jangan menangis lagi. Aku sekarang menemanimu, dan kau tidak sendirian..." Anak itu berkata untuk menenangkan anak itu, entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang dia ucapkan, mengingat perkataan itu sedikit tidak cocok di ucapkan oleh anak dengan umur 11 tahun.

"Hueee..." Anak perempuan yang menangis itu langsung memeluk anak perempuan di depannya dan langsung menangis sejadi-jadinya. Sementara anak perempuan berambut crimson itu hanya menenangkannya.

'Skip'

Kini kedua anak itu tengah duduk di ayunan di taman itu. Sudah beberapa menit yang lalu anak berambut dark purple berhenti menangis. Meski sesenggukan masih terdengar keluar dan mata yang masih terlihat berkaca-kaca. Anak di sampingnya hanya bisa menenangkannya saja.

"Umm... Kamu siapa?" Anak berambut dark purple itu bertanya dengan penasaran meski dia masih merasa sedih. Dia masih belum mengenal sosok anak di depannya itu. Anak yang ditanya langsung melebarkan senyum imutnya.

"Aku Seiren... Seiren Gremory. Kalau kamu?". Anak yang ternyata bernama Seiren itu menjawab dengan riangnya dan berbalik bertanya.

"A-Aku... Naomi, N-Naomi Hikari..." Dan anak yang ternyata bernama Naomi menjawab masih dengan sedikit sesenggukan akibat terlalu banyak menangis sebelumnya.

"Naomi-chan... Senang bisa bertemu denganmu Naomi-chan..." Sahut Seiren dengan riangnya. Naomi hanya menganggukkan saja kepalanya. "... Jadi, kenapa tadi kamu menangis?" Seiren kembali mengulang pertanyaan seperti saat dia pertama kali datang di hadapan Naomi.

Naomi yang mendengar pertanyaan itu langsung menundukkan kepalanya. Kesedihan kembali terlihat di wajahnya "Orang tuaku... Mereka meninggalkanku. Mereka meninggalkanku disini sendirian."

Dahi Seiren terlihat mengerut saat Naomi menjawab seperti itu "Kalau begitu kita cari saja orang tuamu, Naomi-chan..."

Naomi menggelengkan kepalanya dengan lemas "kita tidak akan menemukan mereka..."

"Jika tidak dicari mana mungkin akan ketemu kan?" Seiren berujar dengan bingung. Dan semakin bingung karena Naomi kembali menggelengkan kepalanya.

"Kita tidak akan menemukan mereka... Kedua orang tuaku... Kedua orang tuaku sudah pergi ke surga... Meninggalkanku sendiri di dunia ini..." Dan air mata kembali keluar dari iris Violet miliknya saat mengatakan hal barusan, dan isakkan perlahan juga keluar kembali dari bibirnya. Seiren hanya bisa terdiam.

Dia kemudian bangkit dari ayunan yang dia duduki dan mendekati Naomi, dan kembali memeluknya dengan lembut. "Naomi-chan jangan nangis lagi... Naomi-chan tidak sendirian, aku akan menemani Naomi-chan agar tidak sendirian lagi."

"Hiks... B-Benarkah?"

"Tentu saja..." Seiren kemudian melepaskan pelukannya, "... Aku janji tidak akan meninggalkanmu." Dia lalu mengangkat tangannya dengan mengacungkan jari kelingking "Janji jari kelingking."

Naomi sempat terdiam dan hanya memperhatikan tangan Seiren. Setelah beberapa menit kemudian, dia mulai mengangkat tangannya, meski dengan ragu. Dan langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Seiren.

"Nah... Kita adalah teman, dan teman tidak akan pernah saling meninggalkan."

"Hmmm..."

~o~

"Dan setelah itu kita terus saja bersama selama 1 tahun... Dan setelah itu kita tidak pernah bertemu kembali, karena keluargaku yang selalu mengkhawatirkanku... Membuat aku hanya bisa berdiam diri di Underworld... Namun, aku sangat bahagia karena ahirnya bisa tinggal di dunia manusia dan sampai seminggu yang lalu aku bertemu lagi denganmu..." Seiren kemudian menatap Naomi yang kini tengah memperhatikannya, dan tersenyum pada Naomu. "Tidak ada lagi kebahagian yang benar-benar bisa membuatku begitu senang... Aku sangat beryukur bisa bertemu lagi denganmu."

Naomi, membalas senyum Seiren, "Aku juga merasa senang akhirna bisa bertemu lagi denganmu setelah 6 tahun kita berpisah... Benar-benar serasa baru kemarin saja... Ternyata 7 tahun ini terasa begitu singkat." Naomi berujar sambil menatap bintang-bintang di langit.

"Begitulah... Waktu memang tidak dapat di perkirakan bukan?" Sahut Seiren "...benar juga, aku sampai sekarang, masih belum menyangka kalau kau itu pengguna Sacred Gear, Mi-chan."

"Hihihi... Itu tentu saja kau tidak akan menyangkanya... Aku saja baru menyadarinya 2 tahun yang lalu..."

"Hmmm... Pantas saja... Lalu ba-..."

Namun, Seiren tidak menyelesaikan perkataannya kembali. Dia beserta dengan Naomi kini langsung dibuat kaget, dan langsung bersiaga saat sebuah kekai terbentuk di areal taman ini. Keduanya langsung bersiap di posisi siaga mereka. Seiren sudah membentuk sebuah lingkaran sihir berwarna merah di sampingnya, dimana sebuah gagang pedang sudah menyembul keluar. Sementara Naomi, kini sudah mengeluarkan Sacred Gear miliknya, yaitu 'Scarborough Fair' dengan bentuk seperti pistol berwarna hitam dengan adanya ukiran-ukiran emas, dan sebuah berlian di pangkal senjata berwarna biru.

Mereka berdua semakin bersiaga saat merasakah sebuah aura membunuh yang lumayan pekat di sekitar mereka berdua. Dan dari sekeliling mereka, keluarlah beberapa ekor makhluk aneh dengan bentuk bermacam-macam. Keluar dari dalam tanah, dan mengelilingi mereka berdua.

"Kita terkepung..." Seiren berujar dengan sedikit kesal dengan keadaan mereka sekarang. Dikelilingi makhluk dengan bentuk bermacam-macam, dari seperti hewan sampai yang berbentuk besar seperti ogre.

Lalu di depan mereka, seseorang lalu keluar dari dalam tanah dan berdiri dengan tegap di depan mereka berdua yang ternyata merupakan Jin. Melihat itu, Seiren dan Naomi langsung menatap tajam Jin, yang mereka asumsikan sebagai dalang dari semua ini.

"Siapa kau?" Seiren bertanya dengan suara tajam dan dingin.

"Serahkan Muramasa padaku, jika kalian ingin selamat..." Sosok itu berkata tanpa menjawab pertanyaan Seiren dengan suara datar tanpa intonasi sedikitpun. Seiren sedikit terkejut saat mendengar perkataan dari sosok di depannya. Dia sedikit melirik pada senjata di tangannya sekarang ini, dan kembali menatap tajam pada sosok di depannya.

"Jangan harap aku akan memberikan pedang ini padamu..." Seiren menolak dengan tegas. Mana mungkin Seiren akan memberikan pedang yang merupakan hadiah yang sangat berarti untuknya itu. Itu tidak akan pernah terjadi, bagaimanapun kondisinya, Seiren tidak akan mau memberikan muramasa pada siapapun.

Sosok di depannya hanya terdiam cukup lama, sambil menatap pada Seiren. Namun, itu tidak bertahan lama, karena ia langsung mengangkat tangannya dan langsung menjentikkan jarinya. Seketika itu juga makhluk-makhluk yang awalnya terdiam mulai bergerak dan bersiap menyerang Seiren dan Naomi.

Seiren dan Naomi tidak tinggal diam, Naomi langsung menembakan peluru-peluru secara beruntun dari kedua senjata di tangannya. Peluru itu langsung melesat dengan cepat, dan mengenai sasaran pada dua makhluk seperti serigala tepat pada batok kepala mereka. Membuat dua makhluk itu berubah menjadi pecahan seperti batu.

Seiren juga langsung mengalirkkan power of destruction pada pedang yang masih terbungkus oleh sarungnya itu. Dan menyabetkannya pada udara kosong. Dari sabetannya, aliran power of destruction langsung menyebar membentuk seperti bulan sabit, dan mengenai makhluk dengan bentuk seperti ogre, membuatnya pecah seperti batu yang hancur.

Mereka terus melakukan serangan seperti itu secara beruntun, membuat pasukan makhluk aneh itu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Seiren dan Naomi kemudian saling berputar, dan bertukar tempat. Naomi kemudian menembakkan 6 peluru dengan cepat, dan berhasil membuat 3 makhluk tumbang. Dan Seiren kembali menembakan power of destruction miliknya membuat 5 makhluk itu tumbang.

Namun, tiba-tiba Naomi dan Seiren dikejutkan dengan munculnya dua makhluk dengan bentuk seperti singa yang keluar dari tanah di belakang mereka. Dua makhluk itu langsung meloncat dan bersiap menerkam mereka berdua. Seiren dan Naomi tidak bisa bergerak cepat untuk menghindar, dan sudah bersiap menerima rasa sakit yang akan mereka terima.

'Prank'

'Jleb' 'Jleb'

Belum juga Seiren dan Naomi bisa menutup mata, kedua makhluk yang tadi bersiap menerkam mereka berdua, sudah terlebih dahulu tumbang dengan sebuah tombak berwarna hitam kelam yang menusuk batok kepala mereka hingga tembus dan menancap di tanah.

'Rasengan'

'Duar' 'Duar' 'Duar'

Suara itu membuat Seiren dan Naomi yang sebelumnya masih dilanda shock, langsung tersadar sepenuhnya. Mereka kini bisa melihat makhluk-makhluk yang tersisa, sudah habis dan hancur menjadi puing-puing batu. Di depan mereka kini seseorang dengan rambut pirang berantakannya kini sudah berdiri membelakangi mereka dan memasang posisi siaga dengan kunai di kedua tangannya, menghadap ke arah sosok di musuh di depannya.

"Naruto-kun/Naruto..." Seiren dan Naomi berucap bersamaan saat mengetahui siapa pemuda yang ada di depan mereka kini.

"Siapa kau?" Naruto yang kini tengah menatap tajam pada musuh di depannya, langsung bertanya dengan suara dingin penuh bahaya. Namun, sosok di depannya sama sekali tidak menyahut sedikitpun. Geram dengan diamnya sosok itu, Naruto langsung melemparkan dua kunai di tangannya.

Namun, sosok itu langsung menghindar dan menghilang masuk kedalam tanah. Naruto langsung mendecih kesal karena musuhnya yang sudah terlebih dahulu pergi dari pertempuran "Cihh... Sial." Naruto kemudian berbalik dengan cepat dan menghampiri Seiren beserta Naomi.

"Seiren, Naomi... Kalian baik-baik saja?" Naruto langsung bertanya dengan khawatir pada dua perempuan di depannya. Keduanya langsung mengangguk sacara bersamaan. Membuat Naruto langsung menghela napasnya dengan lega, "Syukurlah..."

"Bagaimana kau tau kami ada disini?" Naomi langsung bertanya dengan penasaran kenapa Naruto bisa menemukan mereka disini.

"Sebenarnya, aku tadi bermaksud mencari Seiren yang katanya belum pulang juga... Karena khawatir, aku lalu mencarinya sepanjang daerah disini." Seiren yang mendengar perkataan Naruto kini wajahnya sedikit bersemu.

"Naruto-kun... Mengkhawatirkanku?" Dia berujar malu dalam hati.

"Dan saat aku melewati taman ini, ada sesuatu yang aneh dipancarkan dari areal ini... Penasaran aku mampir, namun ternyata daerah ini sudah diselubungi oleh kekai. Dan saat aku menggunakan sharingan untuk memantau apa yang terjadi, Viola... Aku menemukan kalian sedang dalam bahaya..." Jelas Naruto panjang lebar. Mendengar itu Naomi hanya bisa mengangkat sebelah alisnya sesaat. Dan kembali seperti semula, dan mengalihkan pandangannya pada Seiren.

"Sepertinya, kau sedang dalam masalah, Sei-chan..." Naomi berkata dengan serius pada Seiren yang baru saja memasukan kembali pedang muramasa kedalam sihir penyimpanan miliknya.

"Masalah? Masalah apanya?" Naruto lalu bertanya dengan bingung. Mendengar kata masalah itu membuatnya tidak mengerti, karena bagaimanapun dia baru saja datang dan tidak tau menau mengenai masalah yang dialami keduanya. Naomi kemudian kembali menatap Naruto.

"Orang tadi datang kemari untuk mengambil pedang milik Sei-chan... Dan jika dugaanku benar, mereka pasti tidak akan menyerah untuk merebut pedang itu... Dan itu berarti, Seiren akan terus dalam bahaya..."

Naruto terdiam saat mendengar perkataan Naomi barusan. Wajahnya kini terlihat datar. "Cih... Sepertinya aku tau sekarang... Siapa mereka."

"Memangnya siapa mereka, Naruto-kun?" Seiren bertanya dengan penasaran. Sementara Naomi juga menatap Naruto dengan penasaran.

"Bangsa Daitya... Kaum yang menginginkan pedang Muramasa dan juga Masamune."

::

::

TBC

~~~~~~0o0o0o0o0o0~~~~~~

Yoo kawan-kawan...

Maaf atas absennya saya di FFN. Dan maaf karena terlambat dalam mengupdate fict ini. Saya terlalu sibuk di Real World dengan keseharian yang mengurus sesuatu yang berbau racing. Yang berteman BBM dengan saya pasti tau mengenai hal ini.

Lalu kendala berikutnya adalah laptop saya yang kena blank total dan belum di service, karena kemalasan saya. Jadi saya minta maaf jika fic saya kali ini banyak sekali typo yang bertebaran karena saya menulis fic lewat hp.

Oke... Lupakan dulu masalah itu.

Sekarang kita kembali ke topic.

Masalah keterlambatan saya up dikarenakan saya menggunakan gaya penulisan baru. Dan perombakan dalam pembuatan fict ini. Mengingat fict ini udah nanggung buat di rewrite jadi kemungkinan ini bakal dibuat maksimal penuh di chap2 kedepan.

Dan untuk masalah cerita. Oke, kuharap kalian bisa terjawab pertanyaannya mengenai musuh baru Naruto CS. Arc ini memang akan terfokus dengan konflik perebutan pedang kembar. Dan dua chap lagi akan menjadi puncaknya.

Masalah mengenai Seiren dan Naomi, bisa terjawab di chap ini. Dan yang kembali menanggung adalah Tim Vali. Tapi tenang, nanti akan ada satu chap yang akan membahasnya.

Itu saja...

Selebihnya kalian bisa menanyakannya lewat Riview dan saya akan menjawab sebagian lewat PM dan chap depan.

Terimakasih untuk kalian karena sudah berkenan membaca fict abal saya ini.

Leave your impression. Whether it's praise, criticism, suggestions, opinions, and your mind.

Kolom riview disediakan untuk hal itu.

Sampai jumpa di chap berikutnya.

Hyosuke Out