Disclaimer :: I am not the owner of Naruto and Highschool DxD

Warning(s) :: Semi-AU, OC, OOC, Typo(s), berantakan, alur amburadul, bahasa gak baku(Gado-Gado). Dan Katcang abis. *Yaa... Cangcimen~, Cangcimen~*

.

~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~
ARC III :: 'Sword'
~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

.

[Chap 20 :: Something Bad]

Mata indah dengan iris blue-green milik Rias Gremory, terlihat memancarkan sinar penuh rasa kepuasan. Melihat bagaimana kini di depannya, semua anggota dari Occult Research Club dan juga anggota dari dewan siswa yang terdiri atas Sona, Tsubaki, dan Saji, kini sudah berkumpul di ruangan club miliknya ini.

"Jadi, apa semuanya sudah siap?" Pertanyaan itu Rias lontar 'kan untuk memastikan kesiapan dari masing-masing dari mereka. Memastikan menjadi sesuatu yang wajar, karena hari ini mereka semua akan berangkat ke hutan Familiar untuk mencarikan Familiar baru untuk Seiren, Issei, Asia, dan juga Saji. Dan karena itulah, kesiapan penuh menjadi tuntutan untuk mereka saat ini.

"Yosh...Kami siap, Buchou!"

Dengan begitu semangat dan antusiasnya, Issei membalas pertanyaan Rias tadi dengan suara yang begitu lantang penuh semangat yang membara. Sementara yang lainnya hanya mengangguk saja untuk memberikan konfirmasi kesiapan mereka. Senyum puas mengembang pada bibirnya, melihat bagaimana teman-temannya sudah dalam kondisi siap semua.

Perhatian Rias kemudian teralih kepada sosok dari saudari kembarnya,–Seiren– yang saat ini sedang berdiri di paling samping barisan. "Apa kau juga sudah siap, Sei-chan?"

Mendengar pertanyaan yang langsung diajukan kepadanya itu, Seiren lantas mengalihkan perhatiannya pada sosok kakak kembarnya yang kini tengah menatapnya. Dia mengangguk atas pertanyaan barusan, ditambah dengan senyum ceria di wajahnya.

"Tentu aku siap, Aneki." Dan mengkonfirmasikan juga kesiapannya yang langsung ditanggapi dengan senyum dan anggukan oleh Rias.

"Bagus! Dengan begini semua beres." Ujar Rias tak menyembunyikan kesenangannya sedikitpun.

"Saa...Sepertinya kalian sangat bersemangat sekali." Perhatian mereka semua teralih saat mendengar suara barusan, tepatnya pada sosok pemuda blonde yang saat ini tengah duduk dengan santainya di bingkai jendela. Iris biru miliknya menatap mereka dengan senyum hangat yang mengembang di wajahnya yang berhiaskan tiga guratan halus pada masing-masing pipinya.

"Itu sudah jelas Shisou...Bagaimanapun ini adalah hari yang sangat bersejarah. Dimana hari ini, aku! Hyoudou Issei, akan mendapatkan Familiar yang benar-benar akan selalu mengerti dan memiliki satu jiwa dengan jiwa Sekiryuutei ku ini." Issei berikrar penuh semangat yang berapi-api, dengan tangan yang terkepal kuat dan teracung ke udara. Sepertinya, hanya sang Sekiryuutei satu ini saja yang mempunyai tingkat semangat yang kadarnya sudah berlebih diantara yang lainnya.

Pemuda pirang yang tak lain adalah Naruto itu, tak kuasa untuk menahan rasa sweatdrop-nya, saat mendengar perkataan yang begitu menggebu-gebu dari pemuda di depannya itu. Lebih tepatnya pada kata 'memiliki satu jiwa' itu. Dilihat dari sudut pandang mana 'pun, Naruto masih belum bisa membayangkan seekor Familiar yang mempunyai satu jiwa dan satu pemikiran seperti Issei. Familiar yang mesum? Oke, bahkan memikirkannya saja sudah membuat otaknya hampir terkena overload, saking tak kuasanya sang otak untuk berimajinasi.

"Aku benar-benar mulai khawatir sekarang." Ujar Naruto sambil membuat ekspresinya terlihat seakan-akan dirinya benar-benar khawatir. "Membayangkannya saja susahnya bukan kepalang...Dan sedikit koreksi, sepertinya maksud dengan sama jiwa itu adalah jiwa pervertmu."

"Ohh...Ayolah Shisou. Aku tak mungkin mencari yang seperti itu!" Sanggah Issei 'Tapi, jika memang ada...Aku tak bisa menyangkal kalau aku tidak ingin memilikinya...Nfufufu~' tambahnya dalam hati. Dan entah sadar atau tidak, dia malah menunjukkan semua pemikirannya itu melalui tampang mupengnya. Membuat Naruto hanya bisa pokerface melihatnya.

"Dan aku menjamin kalau kau tak akan pernah mendapatkannya, Ero-gaki!" Ujar Naruto dengan tampang Horror seakan dapat membaca pikiran dari si pemuda mesum satu itu.

Yang lain hanya bisa tertawa geli saja melihat interaksi antara keduanya, apalagi saat melihat Issei yang tertunduk lesu dengan tampang yang begitu menyedihkan, sangat sepet untuk dilihat. Naruto mengacuhkannya saja, dan kemudian langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah sekumpulan iblis muda di depannya.

"Baiklah kalau begitu...Semoga berhasil untuk kalian." Lanjut Naruto lagi setelah dia berdiri tepat di samping Seiren.

"Kau yakin tak akan ikut, Naruto-kun?" Pertanyaan dengan maksud memastikan itu, terlontar dari sosok gadis yang kini tepat berada di samping Naruto. Membuat senyum lembut mengembang seketika pada pemuda pirang ini, melihat bagaimana Seiren yang sepertinya berharap sekali dirinya untuk ikut.

"Ya...Meski aku sudah dinyatakan sebagai anggota tetap club ini...Tapi itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan untukku harus selalu ikut dengan kegiatan kalian sebagai iblis muda..." Sesaat tangan Naruto terangkat, dan langsung mengusap pucuk kepala Seiren dengan lembut. Membuat si gadis bungsu keluarga Gremory ini bersemu karenanya.

"...Lagipula, harus ada yang tinggal di sini untuk mengawasi, dan memastikan keamanan teritori kalian. Jadi aku akan tinggal saja, Anggap saja aku menjadi security sementara untuk malam ini...Dan aku gak mungkin ninggalin orang pemalas macam itu orang menjadi security sendirian di sini kalau pada akhirnya dia cuman bisa menyelam saja di alam mimpi." Lanjut Naruto kembali sambil melirikan mata birunya ke arah sosok Shikamaru yang kini tengah tertidur dengan begitu nyamannya di Sofa.

Saking nyamannya, pemuda Nara itu bahkan tak memperdulikan sedikitpun kehadiran sosok-sosok lain yang kini juga menghuni ruangan ini. Dia malah lebih memilih menyibukkan diri berselancar di alam mimpi ketimbang ikut nimbrung obrolan dengan yang lainnya, bahkan dia memperhatikan saja sudah tak mungkin. Dirinya benar-benar menerapkan moto turun temurun dari clannya.

'My Sleep, My Adventure'

Pasti kata itulah yang akan dia keluarkan jika sudah ditanya kenapa dia suka sekali dengan acara tidurnya. Meski pada nyatanya moto seperti itu sudah jadi moto setiap orang.

"Aku benar-benar masih belum mengerti..." Nada heran tingkat dewa itu dikeluarkan dari sosok Sona yang kini tengah bersidekap, dengan Iris violetnya yang terus menatap ke arah Shikamaru. "...kenapa orang dengan tingkat kepintaran yang tinggi sepertinya, mempunyai tingkat kemalasan yang sama tingginya juga...Terbuat dari apa sebenarnya otaknya itu?" Lanjut Sona kembali dengan sedikit jengkel.

Sebagian penghuni di dalam club itu langsung saja dilanda shock berat–semi jantungan–saat mendengar keluhan dari Sona barusan. Ditambah dengan perubahan ekspresi yang ditunjukkan olehnya sekarang. Benar-benar sebuah fenomena yang sangat langka untuk dilihat mereka, meski hal itu tidak berpengaruh untuk Naruto yang kali ini hanya tertawa atas perkataan Sona barusan.

"Hahaha...Sepertinya kau sangat dendam sekali padanya, Kaichou. Apa kau masih kesal karena belum bisa menang dalam permainan catur dengan si rusa itu?" Perkataan itu entah kenapa membuat Sona mendengus, dan langsung membuang mukanya kesamping. Melihat itu malah membuat Naruto tertawa kian kencang, karena tebakannya tepat sasaran.

Namun, lain Naruto, lain untuk teman-temannya. Kini Rias, Seiren dan yang lainnya malah tengah menatap Sona dengan tatapan yang aneh, meski yang mendominasi mungkin adalah sorot keterkejutan mereka. Bagaimanapun melihat Sona yang bertingkah seperti itu sangatlah jarang, bahkan tak pernah sedikitpun mereka bisa membayangkannya. Dan melihat kejadian langka seperti itu secara live seperti ini, hanya satu hal yang terbesit di benak mereka,

'Sona yang terkenal akan sifat dinginnya, dan wajah khas tembok...kini mulai bertingkah seperti seorang gadis biasa!? What the fuck...K-Ki-amat sudah dekat!'

See? Bahkan tak akan ada yang mengerti dengan jalan pemikiran mereka semua, ataupun dengan tindak tanduk dari seorang setoukaichou satu itu.

Merasa kalau dirinya kini menjadi bahan tontonan, Sona langsung balik menatap mereka semua dengan ekspresi yang kini sudah kembali ke habitat aslinya, yaitu datar macam jalanan beton.

"Apa?"

Semuanya langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan, sesaat setelah Sona bertanya seperti itu dan menatap mereka satu persatu dari mereka dengan tatapan datarnya.

"Nggak...Bukan apa-apa kok."

"..."

Dan tanggapan Sona hanyalah diam, datar, atas perkataan Rias barusan. Entah kenapa hal itu malah membuat semuanya jadi sweatdrop sendiri, kecuali untuk Naruto yang kini malah cengengesan karena melihat kelakuan Sona yang membuatnya teringat akan salah satu sahabatnya di dunia Shinobi.

"Ara..." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Akeno untuk menanggapi situasi seperti ini, tak ada komentar apapun selain 'Ara-Ara~ dan Ufufufu~' lagi setelahnya. Ditambah dengan senyum khas yang mengembang di wajah cantiknya.

"Sebaiknya kalian segera berangkat gih...Ini sudah hampir waktunya."

Perkataan dari Naruto barusan, kembali membuat mereka semua tersadar dengan tujuan mereka semula. Rias langsung menepukkan kedua telapak tangannya sehingga perhatian kembali tertuju kepadanya.

"Ahhh...Kalau begitu, semuanya segera bersiap." Rias berkata dengan penuh semangat, dan langsung mendekati tempat dimana kelompoknya berada. Setelah itu, lingkaran sihir mulai terbentuk dibawah kaki kelompok Gremory dan juga kelompok Sitri. Naruto yang melihat itu, langsung melangkah mundur untuk menjaga jarak.

"Semoga berhasil." Ujar Naruto sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka yang langsung dibalas dengan anggukan mereka semua.

"Baiklah...Ayo berangat." Dan setelah Rias mengatakan itu, kedua kelompok iblis di hadapan Naruto, langsung menghilang dari tempat mereka berdiri sekarang. Tertelan oleh lingkaran sihir teleportasi yang akan mengantarkan mereka ke tempat dimana hutan Familiar berada. Meninggalkan sosok Naruto yang masih tak bergeming di tempat, dan Shikamaru yang masih tertidur di sofa.

"..."

Hening,

Senyap,

Kini mengisi seluruh penjuru ruangan, setelah kepergian dari dua kelompok iblis muda tersebut. Naruto tak beranjak sedikitpun dari tempatnya sekarang ini. Senyum cerianya juga masih tetap menempel pada wajahnya. Namun, itu hanya bertahan sesaat. Karena perlahan, senyum itu mulai memudar. Bahu yang semula terlihat tegap, kini mulai merosot lemas, Dan secara perlahan raut kegelisahan 'lah yang kini tercetak pada wajahnya.

'Ada apa dengan perasaan tidak mengenakan ini?'

Naruto sama sekali tidak mengerti sekarang ini dengan apa yang dia rasakan. Dirinya sama sekali tidak mengerti, entah kenapa dia bisa sampai merasa segelisah seperti sekarang. Namun yang jelas, dirinya tengah benar-benar merasakan perasaan yang tidak mengenakkan. Dan bahkan perasaan itu sudah ada sejak dia berada di sini. Dan sampai sekarang Naruto masih belum mengetahui apa penyebab dari kegelisahannya ini.

Naruto sengaja tidak membicarakan hal ini dengan yang lain, karena tak mau membuat mereka semua malah mencemaskan dirinya di hari penting seperti ini. Jadi dia hanya membiarkan perasaan itu, dan meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja. Namun, bukanya menghilang atau berkurang, kegelisahan dan perasaan tidak mengenakkan itu malah kian menjadi-jadi dan mulai menggerogoti perasaannya, apalagi setelah kepergian teman-temannya itu.

Jika boleh jujur...Ingin sekali dirinya menahan mereka semua untuk pergi. Namun, jika dia melakukan hal itu, dirinya hanya akan terlihat seperti orang yang sangat egois, karena menghentikan mereka di hari yang penting seperti ini, hanya karena sebuah firasat buruk yang bahkan belum pasti betul dengan kebenarannya atau hanya secercah perasaannya saja.

'Semoga ini hanya perasaanku saja.'

Naruto pada akhirnya hanya bisa berharap dalam hati. Semoga apa yang dia cemaskan ini tidaklah menjadi kenyataan, dan hanya menjadi perasaannya semata. Dia kemudian menghela napasnya, sekedar untuk menenangkan diri, meski pada akhirnya hal itu hanya berujung percuma.

Setelah itu, dia kemudian mulai beranjak dari tempatnya berdiri, dan langsung membaringkan tubuhnya seperti Shikamaru di salah satu sofa yang kosong. Matanya birunya kini melihat ke arah langit-langit ruangan, dengan pandangan seperti tengah menerawang jauh. Tenggelam dalam alam pikirannya sendiri.

"Seharusnya...Kau ikut dengan mereka." Suara serius yang datang dari arah Shikamaru, langsung saja mengalihkan perhatian Naruto dari acara melamunnya. Refleks dia langsung mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya yang saat ini masih terbaring dengan memejamkan matanya.

"Kau merasakannya bukan...Perasaan yang tidak mengenakkan ini?" Mata Shikamaru terbuka, dan langsung melirikkan iris matanya pada Naruto.

"..."

Namun Naruto hanya diam, setelah mendengar apa yang diutarakan oleh Shikamaru barusan. Dia bingung, tak tau harus bagaimana membalasnya. Sebenarnya dirinya ingin sedikit berargumen dengan perkataan Shikamaru barusan. Namun, entah kenapa lidahnya serasa begitu kelu bahkan untuk sekedar berucap sebuah sangkalan. Dan karena itu, dia kini hanya bisa terdiam, tanpa bisa sedikitpun membalas perkataan sahabatnya.

Sementara Shikamaru kini juga ikut terdiam dengan mata yang menengadah menatap langit-langit ruangan. Jika boleh jujur, Shikamaru sebenarnya juga merasakan perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan Naruto. Itu seolah-olah sebuah kejadian buruk akan terjadi hari ini. Dan perasaan tidak mengenakan ini benar-benar membuat Shikamaru merasa sangat terganggu.

"Semoga ini hanya perasaan kita saja."

Akhirnya Naruto angkat suara juga, dengan mencoba berpikir positif menanggapi hal ini. Meski dia begitu ragu, namun dia tak ingin membayangkan sesuatu hal yang buruk. Dan setidaknya dengan berpikir positiflah hal itu sedikit bisa tertutupi, meski tidak terlalu bisa membuat dirinya tenang sepenuhnya.

"Ahhh, Mendokusai na~...Semoga saja memang begitu." Balas Shikamaru dengan kembali memejamkan matanya. Sementara Naruto kembali menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan dengan pikirannya yang sekarang semakin berkecamuk. Dan yang pasti hal itu malah kian membuatnya gelisah.

'Semoga kalian baik-baik saja.'

.

~~~~o0o~~~~

Hampir semua orang mungkin akan setuju, kalau ditanyai bagaimana keadaan hutan saat di malam hari. Mereka pasti akan menyetujui kalau hutan di malam hari akan sangat terlihat begitu mengerikan dan mencekam untuk dilihat apalagi di singgahi. Ditambah dengan suara makhluk-makhluk malam yang bersenandung dengan sedikit mengerikan untuk didengar telinga, benar-benar akan menjadi suasana yang begitu Horror.

Dan seperti itulah keadaan hutan Familiar sekarang. Dengan Pohon-pohon yang mempunyai ukuran diatas wajar, menjulang dengan begitu tingginya dengan daun yang begitu rimbun, membuat pencahayaan redup dari bulan yang dalam periodik setengah putaran bumi itu, tidak sedikitpun membantu sama sekali untuk menerangi kegelapan yang ada. Bahkan untuk mengurangi sedikit nuansa kengerian di hutan yang merupakan tempat khusus untuk para iblis mencari hewan peliharaan, atau yang suka mereka sebut dengan Familiar, sama sekali tak mungkin.

Di salah satu areal di kedalaman hutan, dua buah lingkaran sihir teleportasi khas clan Gremory dan Sitri lantas terbentuk. Dari lingkaran sihir tersebut, dua kelompok iblis muda yang tak lain merupakan kelompok Rias dan Sona, kini sudah berdiri di sana. Perhatian mereka semua seketika teralih, dengan terfokus mengamati ke sekeliling areal hutan dimana mereka kini berada.

"Hmmm...Sedikit menyeramkan dari biasanya." Itu tanggapan pertama Rias saat matanya melihat-lihat sekeliling areal hutan dimana mereka sekarang, meski pada kenyataannya tempat itu sudah dari sananya memang terlihat seperti itu.

Asia Argento yang tidak terlalu terbiasa berada di tempat asing yang menyeramkan, langsung saja merapatkan tubuhnya pada sosok Issei. Dan Issei yang Menyadari ketakutan dari gadis tersebut, langsung saja menenangkan sang mantan biarawati itu dengan sabar.

"Jadi ini...Hutan khusus untuk para Iblis mencari Familiar?" Seiren berkata sambil melihat areal hutan di sekelilingnya. 'Sedikit menyeramkan'. Perkataan Seiren barusan hanya ditanggapi dengan senyum saja oleh Rias yang kini berdiri tepat di sampingnya.

"Yah...Inilah tempatnya. Kuharap kau tidak merasa takut, Seiren."

Seiren lantas menggelengkan kepalanya, dengan masih tetap menatap areal di sekelilingnya. "Tidak...Aku tidak merasa takut. Hanya saja, ini pertama kalinya aku datang kemari...Sedikit asing untukku."

"Baguslah kalau begitu...Lambat laun, kau juga pasti akan terbiasa kok." Rias kemudian maju selangkah ke depan dan langsung berbalik melihat seluruh teman-temannya. "Jadi, semua siap?"

Semuanya langsung saja menganggukkan kepala secara bersamaan untuk membalas perkataan Rias barusan.

"Get Daze!"

Namun, suara asing yang masuk ke gendang telinga mereka, membuat mereka dengan refleks mengalihkan perhatian ke arah dimana suara asing itu datang. Dan saat itulah, mata mereka bisa melihat di salah satu dahan pohon, sosok seseorang yang kini tengah duduk dan menatap mereka semua dari tempatnya. Sosok itu berpenampilan sedikit urakan, alias berantakan, atau mungkin yang lebih tepat adalah ancur total. Meski jika diperhatikan baik-baik, penampilannya itu sedikit seperti meniru salah satu tokoh MC anime di tv-tv yang sering tayang. Cosplay? Mungkin.

Sosok itu lantas melompat dari dahan pohon, dan mendarat dengan sempurna di depan kelompok Rias dan juga Sona. Dengan cengiran lebar yang kini terpasang pada wajahnya.

"Selamat datang di Hutan Familiar...Namaku Zatouji, dari kota Madara! Aku iblis yang masih berlatih, dan berniat menjadi seorang Master Familiar! Dan aku adalah pemandu kalian untuk malam ini." Sosok yang ternyata bernama Zatouji itu langsung memberikan sambutan sambil memperkenalkan dirinya dengan gaya yang memang memparody-kan acara anime yang dimaksud. Issei yang melihat itu entah kenapa langsung sweatdrop sendiri.

'Orang aneh ini! Entah kenapa aku merasa seperti tengah melihat tayangan parody secara langsung dari salah satu karakter anime di tv.' Pikirnya dengan sweatdrop yang masih dia pertahankan, sambil menatap Zatouji yang terlihat tengah nyengir kuda di hadapannya.

"Ah...Zatouji-san. Seperti yang aku katakan kemarin. Aku sudah membawa mereka semua." Rias kemudian berbalik, dan memperkenalkan siapa saja yang akan mencari Familiar pada Zatouji.

"Pemuda berambut coklat itu adalah Hyoudou Issei, lalu di sampingnya adalah Asia Argento, yang di sana adalah Geshiro Saji peerage dari Sona Sitri, dan yang ini..." Rias kemudian mengangkat tangannya dan meletakan tangannya itu di bahu Seiren. "Gremory Seiren, saudari kembarku."

"Ahh...Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, Gremory-sama" Zatouji langsung saja membungkuk hormat seperti seorang butler pada Seiren yang hanya bisa tersenyum menanggapi rasa hormat dari Zatouji.

"Tak perlu sampai seformal itu padaku, Zatouji-san." Balas Seiren dengan ramah. Dan langsung dibalas cengiran lebar oleh Zatouji.

"Nah...Zatouji-san ini adalah Masternya Familiar. Jadi, Dialah yang akan memberikan arahan pada kita untuk mendapatkan Familiar yang bagus untuk kalian." Ujar Rias, memberi sedikit instruksi pada teman-temannya. dia kemudian berbalik menghadap Zatouji kembali. "Jadi...apa usulanmu kali ini, Zatouji-san?"

Zatouji terlihat langsung mengeluarkan sebuah katalog saat mendengar pertanyaan dari Rias barusan. "Hmmm...Type Familiar seperti apa yang kalian inginkan? Karena kali ini adalah malam yang sedikit gelap. Mungkin akan sedikit sulit untuk mendapatkan Familiar yang diharapkan." Zatouji kemudian membagikan beberapa katalog pada Seiren, Issei, Asia, dan juga Saji. "Dan Itu adalah beberapa daftar yang sepertinya bisa di dapat di situasi seperti ini."

"Hmm...Sangat terbatas juga ternyata." Tanggap Sona sambil melihat-lihat daftar Familiar pada katalog yang kini dipegang Saji. Rias juga yang ikut memperhatikan katalog yang kini dipegang Seiren hanya mengangguk-anggukan kepala saja.

"Baiklah...Sebaiknya kita segera bergerak, berdiam diri saja hanya akan menghabiskan terlalu banyak waktu. Lebih cepat, lebih baik." Dan dengan Instruksi dari Rias, semuanya langsung mengangguk setuju. Zatouji kemudian dengan semangatnya mengacungkan lengannya ke udara.

"Baiklah semuanya...Get Daze!"

Dan mereka semua mulai beranjak dari tempat mereka sekarang. Dengan Zatouji yang memimpin jalan, mereka akhirnya memulai pencarian mereka untuk menemukan Familiar bagi Seiren dan juga yang lainnya.

(Skip...!)

Hampir dari setengah areal hutan ini, sudah mereka jelajahi. Baik itu dari timur ke barat, atau selatan ke utara. Dan sudah banyak juga jenis Familiar yang mereka temukan di sepanjang perjalanan mereka. Namun, meski mereka sudah menjelajahi hampir setengah areal hutan, dan sudah melihat berbagai jenis hewan Familiar. Mereka sama sekali belum mendapatkan Familiar yang sekiranya cocok, baik itu untuk Seiren, Issei, ataupun Asia, dan juga Saji.

"Hahhh...Kenapa sulit sekali sih mencari Familiar? Ku pikir ini akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan." Perkataan dengan keluhan yang begitu loyo itu, datang dari sosok Issei yang kini tengah berjalan dengan gontainya mengikuti langkah Zatouji yang masih saja terlihat begitu semangat di depan mereka.

"Ara~...Jarang sekali aku melihatmu mengeluh seperti itu, Issei-kun. fufufu~." Akeno membalas perkataan Issei dengan gaya khasnya. Dan perkataan itu malah membuat Issei kini menghela napasnya. Sepertinya semangat 45 yang sebelumnya dia miliki, benar-benar sudah habis di grogoti jarak dan waktu.

"Bagaimanapun aku juga tetap bisa merasa drop Akeno-san. Sedari tadi kita terus saja menjelajah hutan ini, tapi masih belum saja menemukan Familiar yang cocok." Balas Issei dengan lesu. Dan Akeno hanya tertawa halus dengan gayanya sendiri.

"Ahaha...Sepertinya kamu beneran semangat dalam beberapa hal saja, Issei-kun."

"Diam kau Bishonen! Aku tak butuh komentaran darimu!" Balas Issei sengit, yang tentu hanya dibalas senyum penuh karisma Kiba yang benar-benar ditunjukkan pada Issei atas perkataannya. Entah kenapa rasa mual kini menyerang Issei saat melihat senyum tersebut. 'Ohh... Shit. Dia homo beneran!'

"Oh...Ayolah perverted! Masa segini saja sudah membuatmu loyo?! Mana semangat mesum 45-mu yang biasanya. Masa kau kalah semangat dengan Zatouji-san. Lihat! Dia saja semangatnya dari tadi gak turun-turun tuh." Saji yang berada tepat di samping Issei ikut nimbrung pembicaraan. Dia berbicara sambil merangkul pundaknya samping. Namun, bukannya senang atau apalah, Issei malah mendelik sebal setelah mendengar perkataan dari Saji barusan.

"Gezzz...Diam kau Goma suri! Tentu saja hal ini dan itu sangatlah berbeda! Lagian...Dia mah mau gimana juga semangatnya gak bakal nurun-nurun, Bego! Udah begitu dari sananya!" Issei membalas dengan nada yang terdengar kesal, sambil menunjuk-nunjuk Zatouji yang masih terus saja terlihat bersemangat 55. Entah itu bisa disebut semangat yang bagus atau Over, entahlah. Dan sepertinya Zatouji sama sekali tak terganggu dengan perkataan Issei barusan yang jelas-jelas ditunjukkan untukknya. Itu terlihat dari dirinya yang masih saja terlihat santai.

Namun, balasan yang diberikan Issei pada Saji barusan itu sepertinya tidak sama sekali membuat suasana menjadi baik. Itu ditunjukkan dari ekspresi Saji yang kini malah ikut-ikutan memasang tampang kesal atas hinaan double yang dilontarkan Issei barusan.

"Siapa yang kau panggil Goma suri, Dato!?"

"Kau 'lah! Dan apa maksud panggilanmu itu hah?!"

"Grrrr...ngajak ribut kau hah?"

"Ohh...Siapa takut. Kemari kau jika berani bonteng suri...Akan kubuat kau menyesal sudah berurusan denganku."

"Cih...Kau yang akan menyesal babi!"

"What?! Siapa yang kau panggil babi, keledai!?"

"Siapa lagi kalau bukan KAU...!"

Dan pada akhirnya keduanya malah terlibat adu cekcok yang begitu panjang, yang bahkan tak tau apa yang namanya berhenti. Yang lainnya hanya bisa tertawa saja saat melihat adegan saling lempar hinaan dari kedua penyandang pangkat pion tersebut, kecuali Rias, dan Sona yang kini malah terlihat menghela napas berat, melihat cek-cok dari pion mereka itu

"Ara-Ara...Sepertinya ini tak akan ada habisnya." Itu adalah tanggapan Akeno setelah melihat Issei dan Saji yang benar-benar tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Karena bukannya selesai, adu cekcok itu malah kian memanas dan berlanjut panjang.

"Grrr...Kau benar-benar minta di tusbol kali yah?"

"Coba saja kalau kau memang bisa maho! Karena Sebelum itu, akan kubuat tambang emas milikmu ancur!"

"Grrr...Kau! Rasakan ini bonteng suri! Jurus pamungkasku: Tusukan jari KEGELAPAANN penuh KENIKMATAAANNNN!"

"Cih...Seharusnya aku yang bilang begitu, idiot! Pembobol penuh DERITAAAA KESETANAAANN!"

Dan keduanya langsung saja melancarkan jurus pamungkas mereka kearah satu sama lain. Dengan Issei yang siap menyodok mata dari Saji dengan kedua jarinya, sementara Saji siap menyerang *pipp*, atau yahh bisa kita sebut saja burung berharga milik Issei dengan bogemnya.

"Heyaaahhh...!""Uwooooohhhh..."

"Heyaaahhh..!""Hiyaahhh..."

"Uwooohhh...!""Uryaaaa...!"

*sruut* *sruut*

"Heyaattttt-Eittttt-t-t-t-t-...""Hiyaa-adaw-aw-aw-adaw..."

Dan, keduanya secara bersamaan langsung meringis kesakitan penuh akan penderitaan yang bukan main-main lagi. Namun, bukannya sakit atas jurus pamungkas yang dilancarkan masing-masing dari mereka. Mereka berdua malah mendapat derita yang lain.

Karena, sebelum keduanya bisa mencapai target sasaran masing-masing. Rias beserta dengan Sona sudah terlebih dahulu menghentikan aksi mereka, dengan menjewer telinga keduanya dengan kuat.

"Kenapa kalian malah asik cek-cok sendiri hmm?" Tanya Rias sambil memasang senyum yang begitu manis, meski pada nyatanya aura yang dia keluarkan bahkan jauh dari kata manis, bahkan asam-sepet 'pun mungkin tidak. Dan Issei hanya bisa menatap Horror ke arah King-nya dengan masih terus meringis kesakitan saat Rias semakin kencang menjewer telinganya.

"Eeiitt-t-t-t...Ittai...Ittai...Buchou, Telingaku, Telinga, Buchou...Telingaku." Ringisan penuh derita terus Issei keluarkan, namun Rias masih terus saja menjewernya tanpa memperdulikan sedikitpun kondisi dari pion-nya itu.

"Kita datang kemari bukan untuk melihat keributan kalian berdua...Jika kalian memang berniat untuk ribut, seharusnya kalian tak ikut datang kemari." Sona juga ikut menceramahi, dengan masih juga tetap menjewer telinga Saji.

"Aduh...Ampun Kaichou...Telingaku...Ad-d-d-d-d."

Dan pada akhirnya Issei dan Saji tumbang di tangan King mereka sendiri. Yang tentu saja membuat semuanya tertawa, melihat bagaimana Issei dan Saji terus saja meminta maaf, agar King mereka mau melepaskan jewerannya pada telinga mereka yang mulai memerah matang itu. Yah, meski butuh waktu agak lama untuk King mereka melepaskan jewerannya.

"Jika kalian berani membuat keributan lagi...Akan ku pastikan kalian bakalan merasakan hukuman yang lebih menyakitkan dari sekedar jeweran di telinga. Mengerti?!"

Issei dan Saji yang kini bersimpuh di tanah, langsung mengangguk dengan patuh atas peringatan yang diberikan Rias barusan. "H-Ha'i...Kami mengerti, Ojou-sama"

"Ara...Sudah selesaikah? Ku kira ini akan berjalan lama."

Rias entah kenapa kembali dibuat menghela napas saat mendengar komentar yang dilontarkan Akeno barusan. "Sudahlah Akeno...Kau ini mau manas-manasin suasana atau gimana sih?"

"Fufufu~ Gomen, Buchou...Aku hanya ingin melihat bagaimana dua pemuda manis ini saling mengeluarkan jurus pamungkas mereka."

Rias langsung saja memutar matanya bosan saat mendengar balasan dari Queen-nya itu. Seiren hanya bisa terkikik geli melihat bagaimana Rias yang terlihat sedikit frustasi sekarang ini. Menghadapi tingkah-tingkah unik dari peerage miliknya.

"Hihi~...Daripada kita hanya berdebat dan berdiam diri seperti ini...Kenapa kita tidak melanjutkan lagi pencarian. Hari sudah kian larut loh." Kata Seiren.

Rias langsung facepalm saat Seiren berkata seperti itu. Dirinya benar-benar sudah dibuat lupa akan tujuan mereka datang kemari. Dan Seiren harus rela menahan tawa gelinya saat melihat tingkah kakak kembarnya itu.

"Kau benar, Sei-chan...Baiklah semuanya. Kita lanjutkan pencarian."

Dan mereka semua kembali melanjutkan perjalanan yang sebelumnya sempat tertunda gara-gara duel diantara Issei dengan Saji.

Sepanjang perjalanan yang mereka lalui, mata mereka terus terfokus melihat sekitarnya dengan begitu cermat. Memastikan tidak ada satupun Familiar yang terlewat untuk dijadikan opsi yang potensial untuk dijadikan Familiar.

Begitupula dengan Seiren. Dia terus memperhatikan areal sekitarnya dengan awas. Iris merah delimanya terus melihat kesana kemari, tak ingin melewatkan satupun Familiar yang dia temukan, siapa tau dia bisa menemukan Familiar yang dia inginkan. Jadi dia tidak akan melewatkan Familiar satupun yang berhasil ditemukan.

Namun, perhatian Seiren langsung teralih. Manik delimanya kini terfokus ke salah satu pohon yang tepatnya beberapa meter berada di samping jalan yang kini dia lalui. Matanya menyipit, sambil terus memperhatikan sesuatu yang kini terlihat melayang-layang di dekat pohon tersebut. dan karena hal itu, tanpa sadar dirinya sudah berhenti berjalan, membuatnya kini tertinggal oleh teman-temannya.

Tapi, dirinya seakan tak peduli, karena matanya masih tetap terus memperhatikan dengan begitu lekatnya benda dengan bentuk seperti bola berwarna biru yang kini masih melayang-layang di samping pohon itu.

Dan entah dorongan dari mana, Seiren kini sudah melangkahkan kaki jenjangnya untuk mendekati benda aneh tersebut. Meninggalkan kelompoknya yang masih terus berjalan mengikuti Zatouji.

Jaraknya kian dekat, dan dirinya kini bisa melihat dengan jelas bentuk dari benda tersebut. Sebuah bola api berwarna biru seukuran dengan bola kasti. Dirinya lantas mencoba untuk meraih benda tersebut dengan tangannya. Namun, sebelum tangannya dapat menggapainya, bola api biru itu langsung padam dan lenyap begitu saja dari hadapannya.

Seiren sempat terlonjak kaget sesaat, karena tiba-tiba bola api kecil itu lenyap begitu saja. Dirinya langsung menghela napas kecewa setelah itu. Setelah itu dia lantas akan berbalik untuk menyusul kembali teman-temannya. Namun, sebelum dirinya bisa berbalik sepenuhnya, manik delimanya kembali melihat sesuatu yang sama. Dan jaraknya kini ada beberapa meter di depan.

'Apa maksudnya ini? Apa benda itu menyuruhku mengikutinya?'

Keraguan menyelimuti Seiren sekarang. Rasa penasaran dalam dirinya begitu tinggi. Namun, di satu sisi dirinya tak mau sampai harus memisahkan diri dari teman-temannya. Dia bimbang.

Sesaat, Dia melirikkan matanya ke arah kelompoknya yang kini sudah jauh meninggalkannya, dan kembali melirik ke arah benda itu berada. Dan pada akhirnya dia memilih pasrah, menetapkan diri mengikuti pada rasa penasaran pada hatinya, sehingga membuatnya memilih untuk mengikuti bola api tersebut.

Seiren kembali melangkahkan kakinya mendekati bola api tersebut. Dan kejadian yang sama seperti sebelumnya, kembali terjadi. Sesaat setelah dirinya sudah dekat dengan bola api tersebut, bola itu kembali menghilang begitu saja dan kembali muncul beberapa meter di depannya.

Kejengkelan sempat dia rasakan, namun meski begitu dirinya tetap mengikuti ke mana bola api itu membawanya. Terus seperti itu hingga pada akhirnya, Seiren langsung dibuat kebingungan, saat bola api itu sama sekali tak muncul kembali. Dirinya terus menengokkan kepalanya kesana kemari, mencari keberadaan dari bola aneh tadi. Namun nihil. sejauh mata memandang, dirinya sama sekali tidak menemukannya.

'Hahhh...Pada akhirnya aku hanya dipermainkan saja.' Dia mengeluh dalam hati dan kembali menatap sekelilingnya. 'Dan aku sudah terpisah jauh sepertinya.'

Seiren kemudian kembali melangkahkan kakinya. Dirinya sedikitnya bingung harus menuju ke mana, karena dia sama sekali tidak mengingat-ingat jalan yang sebelumnya dia lewati. Dan pada akhirnya dia kini berjalan tak tentu arah.

'Menyebalkan... Kenapa sih, aku harus selalu kalah dengan rasa penasaranku sendiri.' Dirinya kini hanya bisa merutuki diri dalam hati. Menyalahkan rasa penasarannya yang selalu saja menang melawan perasaan lainnya. Helaan napas pasrah akhirnya keluar dari dirinya. 'Karena sudah terlanjur...aku jadi harus mencari familiar sendirian...Hahhh'

Dirinya terus menyusuri jalan yang kini dia lalui. Sayup-sayup, telinganya bisa mendengar suara deburan air dari kejauhan. Mengetahui suara apa yang dia dengar, Seiren langsung mempercepat langkahnya. Setelah menyusuri kedalaman hutan, dan berkrusuk-krusuk di rerumputan, mata indah Seiren akhirnya dapat melihat sebuah air terjun besar.

"Kirei."

Dirinya bergumam takjub melihat air terjun yang sangat indah dari kejauhan. Tempatnya yang tidak tertutupi oleh rimbunnya daun-daun pohon, membuat tempat tersebut kini dapat diterangi oleh bulan. Seiren langsung saja mempercepat langkah kakinya, ingin segera sampai kesana.

Namun, langkah kaki Seiren langsung saja terhenti. Dirinya kini terdiam terpaku sekarang. Manik delimanya kini mengarah ke salah satu sudut di depannya, lebih tepatnya ke salah satu objek yang kini berada di tempat itu.

Objek tersebut ialah seekor Familiar yang kini tengah berdiam diri di pinggiran danau yang terbentuk di sana. Menatap keindahan air terjun dengan damai. Bentuk Familiar tersebut terlihat seperti seekor rubah dengan bulu berwarna coklat. Ukurannya sebesar kucing dewasa. Dengan ekor besar yang melambai di belakang tubuhnya. Di dadanya terdapat bulu tebal, dengan warna putih kecoklatan. Di kepalanya juga terdapat bulu yang sama yang membentuk jambul kecil. Seiren terpaku menatap Familiar tersebut.

'Eevee?!' Pikirnya dengan kagum mengetahui Familiar apa yang ada di depannya itu. Seiren tanpa buang waktu, kembali melangkahkan kakinya mendekat dengan perlahan, tak ingin membuat Eevee terusik. Saat dirinya sudah keluar dari kerubunan pohon, dia akhirnya bisa melihat dengan jelas keseluruhan areal dimana dirinya kini berada. Dan itu semakin membuat dirinya kagum.

Dia kembali melangkah, mencoba mendekati Eevee yang masih setia diam di tempatnya. Langkahnya pelan namun pasti. Dan sepertinya Eevee tersebut masih belum menyadari kehadirannya, membuat senyum senang mengembang di wajah cantik Seiren.

Namun, Seiren langsung terkesiap saat ternyata Eevee langsung menengokkan kepala ke arahnya. Mata merah milik Eevee itu menatapnya dengan tatapan penasaran. Entah kenapa hal itu membuat Seiren terpaku.

'Kawai desu~.' Itulah isi pikiran Seiren melihat Eevee di depannya. 'Yosh... Sudah kuputuskan. Dia akan menjadi Familiar milikku.'

Dan dengan perlahan, setelah dia membulatkan tekadnya, dia kembali mendekat ke arah Eevee yang terus menatapnya itu. Tangannya terangkat mencoba meraih Eevee, yang kini memiringkan kepalanya tanda penasaran. Entah kenapa itu membuat Seiren kian gemas saja.

Tangannya kian dekat untuk menggapai Eevee yang masih tenang di posisinya. Dan senyum senang Seiren mengembang kian lebar, saat dirinya kini sudah mengusap kepala dari Eevee yang terlihat nyaman sekarang. Dan tanpa babibu Seiren langsung meraup tubuh eevee dan memeluknya dengan gemas.

"Ummm~... Akhirnya aku mendapatkannya~"

"Eevee~"

Seiren tersenyum sumbringah dan mengangkat eevee ke atas. Tersenyum senang saat melihat eevee yang terlihat seperti tersenyum senang juga.

Namun, kegiatan Seiren senang Seiren seketika terhenti. Saat telinganya dapat mendengar suara tepuk tangan pelan. Dengan cepat Seiren langsung memutar kepalanya, melihat siapa yang melakukannya.

Dan, matanya langsung terbelalak sempurna saat melihat siapa sosok yang datang menghampirinya. Pandangan Seiren menajam melihat sosok yang kini mulai melangkah mendekatinya itu.

"Kau!"

"Senang bisa bertemu lagi dengan anda. Seiren Gremory-sama."

Seiren sedikit berdecak melihat sosok yang tak asing di matanya itu. Bagaimanapun, masih jelas dalam ingatannya. Sosok tersebut merupakan sosok yang sama yang menyerang dirinya dan Naomi tempo hari. Dan hal itu membuatnya kini menjadi kesal, karena harus kembali bertemu dengan sosok tersebut dalam waktu yang begitu singkat. Seiren kemudian menurunkan eevee yang juga terlihat langsung menggeram melihat sosok tersebut.

Dirinya kemudian langsung berdiri tegap menghadap lawannya. Di samping tubuhnya kemudian terbentuk sebuah lingkaran sihir penyimpanan miliknya. Dan dari sana, Seiren langsung menarik sebilah pedang dengan gagang berwarna merah yang merupakan pedang yang dihadiakan Naruto padanya.

"Apa maumu? Dan... Bagaimana kau bisa datang ketempat ini?" Seiren bertanya dengan intonasi yang tajam. Namun, sosok di depannya kini malah tertawa perlahan.

"Seharusnya kau sudah tau maksud kedatanganku kemari bukan. Dan untuk kenapa aku bisa berada disini... Kurasa hal itu tak perlu kujawab."

"Cih..." Memang, tak bisa dipungkiri jikalau dirinya mengetahui betul maksud kedatangannya. Tentu saja, yang dia inginkan adalah sebilah pedang yang kini berada di tangannya ini.

"Jangan harap aku akan memberikannya."

"Keras seperti sebelumnya... Baiklah jika begitu, maka aku tak punya pilihan selain mengambilnya dengan paksa." Sosok yang merupakan Daitya Jin itu langsung menjentikkan jarinya. Dan detik berikutnya, Seiren sudah terkepung dengan makhluk-makhluk aneh yang sama seperti sebelumnya dia lawan.

"Seharusnya kau menyerah saja Gremory... Karena untuk kali ini, tak akan kubiarkan kau selamat. Apalagi sekarang kau hanya bertarung seorang diri. Khukhukhu."

"Aku tak pernah sendirian. Teman-temanku pasti akan segera kemari." Seiren berujar dingin. Dirinya yakin betul kalau kakaknya dan teman-temannya akan segera datang kemari.

"Apa kau yakin? Apa kau kira aku datang kemari tanpa sebuah persiapan?" Jin terlihat menyeringai keji setelah mengatakan hal barusan. Apalagi setelah melihat raut terkejut yang terpampang di wajah keturunan Gremory di depannya.

"Cih... Kau benar-benar licik." Seiren berujar marah. Dirinya benar-benar tidak memperkirakan hal yang satu ini.

"Hahaha... Jika hal itu dapat membuat bangsaku berjaya. Akan aku lakukan." Dirinya kemudian langsung mengangkat tangannya dan kembali menjentikkan jarinya. "...selamat bersenang-senang."

Dan Seiren hanya bisa berdecak kesal dengan perkataan dari sosok di hadapannya itu. Dia langsung berbalik saat merasakan sebuah bahaya mendekatinya. Benar saja, saat berbalik dirinya langsung di sambut dengan makhluk hitam menyerupai singa yang menyerangnya.

Dirinya dengan gesit, menghindarinya dengan koprol kesamping. Namun, dirinya kembali mendapat serangan dari arah belakangnya. Seiren langsung bersiap dengan pedang 'muramasa'. Namun sebelum dia dapat melayangkan serangan, Seiren sudah dikejutkan saat makhluk di depannya sudah terlebih dahulu lenyap, di hantam seberkas aura penghancur berwarna hitam dengan outline berwarna merah.

Seiren sangat tau dengan siapa pemilik dari kemampuan barusan. Dan hal itu semakin dikuatkan saat sosok tersebut sudah mendarat tepat di sampingnya.

"Kau baik-baik saja, Seiren?" Suara perempuan yang begitu tak asing. Suara dari saudari kembarnya sendiri. Seiren kemudian menatap sesaat pada Rias yang kini sudah bersiap dengan posisi bertarungnya.

"Aku baik-baik saja, Aneki."

"Wah... Wah... Sepertinya aku salah perhitungan kali ini." Sosok Jin yang saat ini tengah duduk dengan santainya di batu besar berujar dengan santainya. Meski saat ini Rias datang dan masuk dalam pertarungan.

"Cih... Siapa kau? Apa maksudmu menyerang adikku?"

"Maa... Sepertinya nona bungsu Gremory tak memberitahu mengenai kejadian tempo hari ya."

"Apa maksudmu?"

"Maaf Aneki... Sebenarnya dia sudah sempat menyerangku sebelumnya. Dan tujuannya adalah untuk mengambil pedang di tanganku ini." Kali ini Seiren 'lah yang menjawab perkataan dari Rias.

"Kenapa kau tak menceritakan hal ini padaku Seiren?!" Dirinya sedikit marah pada adiknya sekarang, karena adiknya ini menyembunyikan sesuatu yang begitu penting seperti ini darinya.

"Gomen Aneki." Seiren berujar menyesal, meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada kembarannya. Sebenarnya dia tak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini dari Rias. Namun, dia tak punya pilihan lain. Dia tak ingin melibatkan kakak kembarnya dalam masalah yang dia punya sekarang.

Rias baru saja akan berujar, sebelum dia langsung mengatupkan kembali bibirnya saat matanya melihat serangan kini datang mengarah pada mereka. Rias dan Seiren langsung saja menjauh untuk menghindari serangan tersebut.

"Cih... Sebaiknya kita selesaikan ini terlebih dahulu."

Seiren mengangguk menyetujui perkataan kakaknya. Ditariknya pedang masamune dari sarungnya. Dan dia langsung memasang style berpedangnya. Begitupula dengan Rias yang kini sudah membuat dua lingkaran sihir di masing-masing telapak tangannya. Dan kedua saudari kembar itu langsung merangsek maju menyerang makhluk-makhluk yang juga kini maju menyerang mereka.

••••

Sementara itu, para peerage dari Rias beserta dengan Sona dan kedua peeragenya tengah dibuat kewalahan sekarang. Mereka semua saat ini tengah melawan mahluk-makhluk yang terlihat menyerupai siluman yang tiba-tiba saja menyerang mereka sebelumnya.

Mereka tak tau kenapa mereka kini menjadi bahan sasaran pertarungan seperti sekarang. Dan mereka juga tak mengetahui kenapa makhluk-makhluk tersebut menyerang mereka. Namun, semua itu pasti ada hubungannya dengan sosok seseorang yang kini tengah berdiri diam di salah satu dahan pohon, dan tengah menonton pertarungan mereka sekarang. Sosoknya tertutupi jubah yang menutupi setiap inci tubuhnya, membuat mereka tak dapat mengenali bagaimana sosok tersebut.

Akeno yang kini sudah berubah ke mode mikonya, langsung menembakkan sihir petirnya ke arah makhluk yang akan menyerangnya. Dan makhluk tersebut langsung melebur menjadi abu setelah terkena telak serangan petirnya.

Akeno kemudian terbang menggunakan sayap iblisnya saat 5 makhluk yang menyerangnya secara bersamaan. "Ara... Ara... Sepertinya kalian mulai bermain curang."

Dirinya kemudian langsung saja merentangkan tangannya ke udara. Dan di atas makhluk tersebut, sebuah lingkaran sihir berlapis berwarna kuning terbentuk. Dan sesaat kemudian sambaran petir kuat langsung menghanguskan makhluk tersebut dengan kuatnya.

"Ara..."

Sementara itu, yang lainnya kini juga mulai membasmi para makhluk tersebut. Sona menyerang dengan sihir air miliknya. Menyemburkan air dengan skala besar-besaran, membuat hutan itu kini terpenuhi dengan air. Sementara dengan Issei. Dirinya kini tengah berjuang untuk menghalau serangan makhluk-makhluk yang akan menyerang Asia yang kini tengah berlindung di belakangnya. Dibantu dengan Kiba yang kini juga tengah membasmi mereka dengan cepat dengan pedangnya.

"Sialan... Makhluk apa mereka sebenarnya! Kenapa mereka tak ada habis-habisnya sih!" Issei berujar frustasi karena makhluk-makhluk yang menyerangnya kini tak ada habisnya. Saji yang kebetulan juga membantu langsung berdecak dengan keluhan temannya itu.

"Sudahlah babi... Sebaiknya kau fokus saja terus untuk membasmi mereka. Jangan mengeluh!"

"Cih... Aku hanya merasa heran keledai!"

Sementara itu, Koneko kini tengah bekerja sama dengan Tsubaki. Keduanya menjadi yang paling banyak membasmi makhluk-makhluk aneh tersebut. Meski mereka berbeda dalam clan. Namun, keduanya ternyata dapat bekerja sama dengan baik.

Tsubaki langsung mengayunkan Neginata di tangannya dan berputar dan membuat beberapa makhluk di sekelilinya lumpuh terkena tebasannya. Salah satu makhluk lainnya langsung mencoba menerkam Tsubaki saat perempuan tersebut sedikit lengah.

Namun, makhluk tersebut langsung terpental terlebih dahulu saat Koneko sudah terlebih dahulu melancarkan serangan dengan kekuatan gilanya. Namun, Tsubaki sepertinya terus menjadi objek sasaran, karena kini serangan kembali datang secara tiba-tiba.

Tsubaki terkejut, dan tak bisa berbuat apapun. Koneko juga sama, jarak yang lumayan jauh membuatnya tak bisa sampai dengan tepat waktu.

*jras**jras*

Namun, nyawa Tsubaki kembali terselamatkan, saat Kiba sudah muncul terlebih dahulu dan menyelamatkannya dari maut.

"Ku harap kau lebih waspada, Sinra-san."

Tsubaki mengangguk "Arigatou."

Kiba hanya membalasnya dengan anggukan sebelum kembali merangsek maju menyerang. Pertarungan kian lama kian memanas. Karena makhluk tersebut tak ada habisnya. Dan hal itu semakin membuat mereka kewalahan.

JACKPOT

.

Malam kian larut, dan suasana di ruangan Occult Research Club, masih tetaplah sepi seperti sebelumnya. Situasi di sekitar bangunan club milik dari Rias Gremory ini juga begitu senyap. Tak terdengar sedikitpun suara-suara di sekitarnya. Bahkan Tak ada sedikitpun hewan malam yang terlihat keluar dari sarang mereka, atau sekedar bersua untuk memberikan tanda kehadiran mereka.

Hewan nokturnal yang terlihat, hanyalah seekor burung hantu yang saat ini bertengger dengan manisnya di salah satu dahan pohon yang berada di sekitar bangungan ORC. Burung itu terlihat tenang, mengawasi daerah sekitarnya dengan mata bulat besarnya.

Namun, burung hantu itu seketika saja terbang meninggalkan tempatnya bertengger tadi, saat siluet bayangan bergerak cepat dan mendarat dengan sempurna di dahan yang sebelumnya ditempati burung hantu tadi.

Sosok tersebut memakai sebuah jubah bertudung, yang menutupi setiap bagian inci dari tubuhnya. Menyembunyikan seluruh rupanya. Sosok tersebut terlihat mengawasi bangunan ORC dari tempatnya berdiri sekarang dengan begitu lekat tanpa sedikitpun mau bergerak dari tempatnya.

Sementara itu, di sisi lain dimana sosok itu berada sekarang, tiga sosok lainnya yang memakai jubah yang sama, juga muncul di tiga titik tempat yang berbeda. Mereka juga langsung terdiam mengawasi bangunan ORC, dan membuat 4 sosok misterius tersebut kini mengepung bangunan ORC dari 4 penjuru arah mata angin.

Tidak hanya itu, sekitar 20 sosok lain juga kini sudah mengepung bangunan club dari segala arah. 20 sosok itu kini tengah melayang-layang di sekitar bangunan ORC, dengan sayap hitam kelam menyerupai sayap burung gagak yang mengepak di bagian punggung mereka.

Berbeda dengan 4 sosok berjubah yang ada di permukaan, 20 sosok tersebut sama sekali tidak menyembunyikan sedikitpun rupa mereka. Dan secara gamblang menunjukkannya.

Dua sosok diantara mereka yang terbang, langsung saja mengangkat tangan ke udara dan melakukan gerakan tangan seakan meremas udara kosong. Dan langit yang sebelumnya terlihat berwarna hitam, kini sudah berubah warna menjadi ungu kelam. Sebuah kekkai ternyata dibentuk oleh dua sosok yang merupakan Da-Tenshi tersebut, dan mengurung bangunan ORC di dalamnya.

Setelah kekkai sudah dibentuk oleh para Da-Tenshi, 4 sosok yang saat ini masih berdiri di dahan pohon, terlihat langsung mengangkat tangan mereka, mengarahkannya tepat pada bangunan ORC. Setelah itu, sebuah bola energi padat dengan tingkat konsentrasi tinggi langsung terbentuk di masing-masing telapak tangan mereka berempat.

~~o0o~~

Sekian jam sudah berlalu, namun Naruto masih tetap tenggelam dalam dunianya sendiri dengan tubuh yang masih terbaring di sofa. Dirinya masih memikirkan kekhawatiran yang terus saja dia rasakan, yang kian lama kian bertambah. Dirinya merasa kalau sesuatu yang besar benar-benar akan terjadi. Dan dia tak merasa ragu, karena entah kenapa keyakinan akan hal itu sungguhlah kuat.

Meski dirinya mencoba untuk menepis semua rasa tidak mengenakkan itu, pada akhirnya semua selalu saja berakhir dengan malah menguatnya perasaan tak mengenakan yang dia rasakan ini. Dan hal itu semakin membuatnya tak tenang. Keresahan ini benar-benar mengganggunya.

Naruto kemudian menutup kedua kelopak matanya. Menyembunyikan iris mata biru indahnya, sekedar mencoba untuk kembali menepis segala kekhawatiran yang dia rasakan. 'Semua akan baik-baik saja... Semua akan baik-baik saja...' Dirinya terus menanamkan keyakinan itu dalam hatinya, 'Semua akan-..'

*Deg*

Namun, Kelopak mata Naruto dengan cepat kembali terbuka dan terbelalak lebar. 'Perasaan ini...' Dengan cepatnya dia langsung bangkit berdiri dari posisi berbaringnya saat dirinya merasakan sebuah kejanggalan pada sekitarnya. Kepalanya dia tengokkan kesana kemari, seperti tengah mencari-cari sesuatu. Iris birunya juga kini terlihat menampakkan satu buah tomoe yang kini berputar dengan cepat mengelilingi pupil matanya. Dan matanya kembali terbelalak saat dirinya menyadari kejanggalan apa yang dia rasakan.

'...Oh, Fuck.' Dan dia hanya bisa mengumpat dalam hati dengan apa yang sudah dia sadari.

Merasakan pergerakan aneh dari sosok pemuda yang saat ini bersamanya. Shikamaru langsung membuka kelopak matanya yang sebelumnya dia pejamkan. Dan dia langsung dibuat keheranan, saat melihat begitu tegangnya tubuh Naruto sekarang. Kepalanya lagi terus dia tengokkan ke berbagai arah, kesana-kemari seperti tengah mencari sesuatu.

"Ada ap–..."

"Persiapkan dirimu, Shika."

"..."

Naruto langsung memotong perkataannya, sebelum dirinya bisa menyelesaikannya. Shikamaru sempat merasakan keheran dengan tingkah aneh dari Naruto, ditambah dengan perkataan dengan nada datar itu. Dia sempat diam untuk mencerna apa yang dikatakan Naruto barusan. Dan tak butuh waktu lama untuknya mengerti dengan situasi. Apalagi dihadapkan dengan tatapan serius dari 'Sharingan' yang kini ditunjukkan oleh Naruto padanya.

"Kita terkepung."

Dan Shikamaru tak perlu untuk bertanya dua kali untuk memastikan perkataan dari Naruto barusan. Karena tak ada alasan untuknya untuk tidak mempercayai perkataan sahabatnya itu.

~~o0o~~

Di saat bersamaan, keempat sosok yang sudah bersiap di luar bangunan dengan bola energi padat yang kini berada di telapak tangan mereka. Langsung menembakkan bola energi tersebut ke arah bangunan ORC secara bersamaan. Membuat bola energi padat itu meluncur dengan kecepatan penuh, ke arah bangunan besar di depan mereka.

*BOOOM*

Dan ledakan kuat dengan gemuruh yang begitu nyaring lantas tercipta, saat 4 bola energi padat seukuran bola basket itu menghantam bangunan ORC dengan telaknya. Menimbulkan efek daya kejut kuat, bahkan untuk menghempaskan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar bangunan ORC yang kini sudah benar-benar hancur, rata dengan tanah. Debu bertebaran kemana-mana, membuat pandangan sedikit dikaburkan dengan banyaknya kabut debu yang tercipta dari hasil ledakan barusan.

20 sosok Da-Tenshi yang masih terbang di udara, terlihat menyeringai puas, saat melihat bagaimana hancurnya bangunan yang kini berada hadapan mereka. Dengan puing-puing yang berserakan kemana-mana. Tak ada yang tersisa, semua rata dengan tanah. Semuanya terdiam dengan perasaan puas dengan hasil yang tercapai ini.

Kemudian, salah satu dari sosok yang memakai jubah, memberikan kode kepada beberapa Da-Tenshi untuk memastikan keadaan. Dan Tiga sosok Da-Tenshi langsung merendahkan terbang mereka, dan mendarat di permukaan bersama-sama, mendekati puing-puing dari bangunan ORC sekedar untuk memastikan target mereka telah berhasil dibereskan. Meski mereka semua sudah sangat percaya diri kalau target mereka pasti sudah meregang nyawa sekarang ini.

Ketiga Da-Tenshi tersebut menyusuri sekitar areal puing-puing bangunan, dengan Light Spear yang sudah mereka genggam di tangan masing-masing. Sekian menit menelusuri, dan seringai mereka semakin melebar saja saat mata mereka melihat satu tangan yang menyembul di balik puing-puing, yang sudah dapat dipastikan milik dari target mereka.

"Hahaha... Tugas kita benar-benar berjalan lancar."

Salah satu diantara Da-Tenshi berbalik dan memberikan kode pada teman-temannya bahwa semua sudahlah beres, sementara dua sosok lainnya kini mendekati sepotong tangan yang kini tertimbun puing-puing bangunan.

Sosok berjubah yang melihat tanda dari Da-Tenshi tersebut, mengangguk dalam diam. Dia kemudian mulai memberikan arahannya.

"Tugas kita sudah selesai di sini... Sebaiknya ki–..."

*Jyuuutt*

*Jleb**Jleb**Jleb*

Tubuh mereka semua menegang seketika dengan mata yang terbelalak lebar. Melihat bagaimana teman mereka kini sudah tumbang dengan begitu tragisnya, dengan sulur-sulur berwarna hitam yang menusuk dari belakang hingga menembus bagian mulut, jantung dan paru-parunya. Mereka semua terpaku diam, melihat bagaimana teman mereka kini meregang nyawa di depan mata mereka sendiri dengan mudahnya.

"Kage Nui no Jutsu... Sukses"

*Jrash**Bruk*

Tubuh tak bernyawa itu, langsung ambruk ke tanah saat sulur-sulur hitam yang menusuk tubuhnya ditarik kembali ke arah bayang-bayang kegelapan di belakang pohon dimana sosok teman mereka tewas. Mereka langsung tersadar seketika, dan mulai menggeram marah. Light Spear kini sudah mereka siapkan di tangan masing-masing. Menatap lekat penuh niat membunuh ke arah kegelapan.

"Brengsek... Tunjukkan dirimu keparat!"

Salah satu dari komplotan Da-Tenshi tersebut berteriak garang ke arah bayang gelapan. Menyuruh sosok pembunuh teman mereka keluar. Namun, belum juga mereka bisa melihat sosok musuhnya, perhatian mereka malah kembali teralih ketika sebuah teriakan panik terdengar dari salah satu teman mereka.

"HUARRGGG!"

Dan mereka kembali dibuat membelalakkan mata saat melihat salah satu teman mereka yang saat ini berada di atas reruntuhan bangunan, sudah tertarik dan hilang kedalam tanah. Dua sosok Da-Tenshi yang berada di dekat dimana temannya itu menghilang, langsung mencoba untuk terbang kembali, menjauh dari permukaan. Namun, sebelum mereka berdua dapat mengepakkan sayap, sepasang tangan yang keluar dari dalam tanah, langsung mencengkeram pergelangan kaki mereka, dan mencegah mereka untuk bisa terbang.

[Doton:Shinjū Zanshu](Earth Release:Headhunter)

Dan sebuah tarikan kuat pada kaki mereka, membuat kini mereka terkubur dengan hanya menyisakan bagian kepala mereka di permukaan. Semua kembali terperangah, melihat dua teman mereka kini juga terkubur ke dalam tanah. Sementara kedua Da-Tenshi yang terkubur tersebut, mencoba meronta untuk bisa keluar.

*Syuut* *Slab**Slab*

Namun, kembali usaha mereka tak membuahkan hasil, karena sebelum bisa lepas, dua buah kunai yang melesat dari balik bayang-bayang gelap, sudah terlebih dahulu menancap pada masing-masing batok kepala mereka.

Kedua Da-Tesnhi kembali meregang nyawa, dengan mayat yang perlahan-lahan mulai melebur menjadi abu. Dan Meninggalkan helai bulu-bulu hitam yang kini berserakan di tanah.

20 sosok yang tersisa hanya bisa terkejut, melihat bagaimana teman mereka kembali harus tumbang dalam waktu yang terbilang singkat. Perlahan, kemarahan kini mulai menyeruak dalam diri. Namun, hal itu kini membuat mereka menjadi mewaspadai daerah sekitar mereka. Mereka tak ingin mengambil tindakan yang ceroboh sekarang. Misi adalah prioritas utama untuk mereka saat ini. Dan mengandalkan sebuah emosi, hanya akan membuat mereka habis.

Salah satu sosok berjubah yang kini berada di salah satu dahan pohon tempat dirinya berdiri. Langsung melompat menjauh dari tempatnya saat merasakan sebuah bahaya mendekat. Dan benar saja, dimana tempatnya tadi berdiri, sosok seorang pemuda dengan surai blonde tiba-tiba saja langsung melayangkan serangan dengan satu kunai di tangannya.

Sosok pemuda yang tak lain adalah Naruto itu, kini mendarat di dahan pohon, setelah buruannya pergi menghindar. Tatapannya dingin kemudian dia arahkan pada sekumpulan musuh di hadapannya. Namun, perhatiannya teralih pada sosok berjubah di bawahnya. Dimana sosok tersebut kini sudah melesat maju menerjang ke arahnya.

Naruto langsung menahan serangan berupa tendangan sapuan yang mengincar kepalanya, dengan menekuk siku dan mengangkatnya di samping kepala. Membuat tendangan itu dapat di blok olehnya. Dirinya kemudian memberikan serangan balasan, berupa sabetan dengan kunai yang berada di tangannya.

Namun, sosok tersebut juga bergerak cepat, dengan menapak kembali di dahan pohon, dia langsung melompat menjauh dari sosok Naruto sekaligus menghindari sabetan kunai yang siap memotong lehernya.

Dan dia juga kembali memadatkan bola energi di telapak tangannya, dan langsung menembakkannya saat mendarat dengan sempurna di permukaan. Dengan cepat, bola energi tersebut melesat ke arah dimana Naruto berada sekarang.

'Cih... Tak akan sempat.'

Naruto berdecak kesal melihat bagaimana cepatnya bola energi itu melesat ke arahnya. Itu membuatnya sedikitpun tak sempat untuk merangkai Handseal pertahanan, atau 'pun mengeluarkan Gudoudama untuk membuat tameng. Naruto terpaksa melompat menjauh dari tempatnya berdiri sekarang, untuk menghindari bola energi padat yang bisa membunuhnya itu.

*boom*

Ledakan tercipta saat bola tersebut menghantam pohon tempatnya tadi berdiri. Dan membuat Naruto yang belum terlalu jauh menghindar, terpaksa harus terhempas dengan kuat akibat efek kejut yang dihasilkan dari ledakan barusan.

Dirinya terpental, dan terpelanting beberapa meter di permukaan tanah. Tak mau terlalu jauh terhempas, dia langsung mengalirkan chakra pada telapak tangan dan kakinya. Menggunakannya untuk pengerem saat dirinya berhasil menyeimbangkan tubuhnya.

Namun, sesaat setelahnya Naruto malah menyesali keputusannya untuk berhenti. Karena setelahnya, insting bertarungnya kembali meneriaki tanda bahaya. Dan saat dia mengalihkan perhatian, dirinya dibuat terkejut saat melihat puluhan Light Spear yang kini melesat cepat ke arahnya.

'Sialan... Mereka tak memberiku kesempatan!'

Dengan mengumpat kesal, Naruto juga langsung membuat serangkaian handseal dengan kedua tangannya. Lalu menghentakkan tangannya ke permukaan tanah.

[Doton: Doryūheki](Earth Release:Mud Wall)

Tanah di sekeliling Naruto langsung bergemuruh, dan sepersekian detik kemudian, dinding tanah terbentuk dari permukaan mengelilingi dirinya. Memblok semua laju Light Spear yang siap membolongi tiap inci tubuhnya. Naruto menghela napas lega setelah sempat membuat benteng pertahanan untuk lepas dari maut.

Namun, helaan napasnya sama sekali tak membuat Naruto tenang. Karena sedetik kemudian, Naruto kembali dibuat mengumpat setelah melihat tiga sosok berjubah hitam, kini sudah kembali menembakkan bola-bola energi dari atas dirinya.

'Fuck yeah...'

*BOOOMM*

Ledakan kuat kembali membuat tanah bergetar. Setelah serangan dari tiga sosok berjubah tersebut berhasil mengenai target mereka. Menimbulkan kabut asap dan debu tebal yang membumbung dari tempat dimana Naruto berada sekarang.

Tiga sosok berjubah tersebut mendarat dengan sempurna di permukaan. Dan tetap memasang posisi siap tempur untuk berjaga-jaga. Begitupula dengan sekumpulan Da-Tenshi yang kini masih melayang di udara dengan menyiapkan Light Spear di masing-masing tangan. Mereka sedikitnya yakin, kalau manusia yang menjadi lawan mereka sudahlah tewas.

Namun, mereka tetap mempersiapkan diri untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Melihat, bagaimana sebelumnya manusia tersebut bisa selamat dari ajalnya dan dapat membunuh teman mereka dengan mudahnya.

Dengan sabar, mereka menunggu hingga asap dan debu menghilang. Dan beberapa saat kemudian, mereka bisa melihat tempat tersebut dengan jelas. Sebuah kawah lumayan lebar sudah terbentuk, akibat dari ledakan yang sebelumnya. Namun, mereka kembali dibuat terkesiap, karena sama sekali tak menemukan sosok si pemuda blonde di kawah tersebut. Yang dapat mereka lihat di pusat kawah hanyalah sebatang kayu yang kini sudah gosong.

Mereka kembali menggeram kesal, karena buruan mereka berhasil selamat kembali dari mautnya. Dan dengan itu, mereka kembali memasang posisi siaga penuh. Bersiap kalau-kalau serangan kembali datang.

•••

Sementara itu, beberapa meter dari tempat mereka berada sekarang. Di salah satu dahan pohon di dalam bayang kegelapan. Terlihat sosok Naruto yang kini tengah berdiri dengan memasang ekspresi datarnya. Sharinggan biru dengan satu tomoe di matanya, terus memperhatikan bagaimana musuhnya kini sudah mempersiapkan diri masing-masing.

"Sepertinya ini tak akan berjalan dengan mudah... 17 Da-Tenshi akan mudah dilumpuhkan selama mereka menapak di permukaan. Namun, yang jadi masalah sekarang..." Dia menggantungkan perkataannya, dan mengalihkan direksi pandangannya pada tiga sosok misterius yang masih tetap memakai jubah mereka. "... Mereka sepertinya yang akan membuat repot."

Sesaat kemudian, dia langsung mengeluarkan dua kunai yang langsung dia selipkan di masing-masing jari tangan kanannya. Pendar biru langsung menyelubungi kedua kunai tersebut, setelah Naruto mengalirkan Chakranya dan mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya.

Setelah dia siap, dengan kuat Naruto langsung melemparkan kunainya ke udara. Membuat kunai tersebut kini dengan cepat melesat membelah udara, dan melambung tinggi menembus daun-daun pohon. Sementara Naruto sendiri kini sudah mengangkat sebelah tangannya dengan satu Handseal.

[Shuriken:...]

'Semoga saja si rusa itu sudah siap.'

Dua kunai yang sebelumnya dilemparkan Naruto, kini terus melambung tinggi di udara. Dan hal itu tak luput dari pandangan para Da-Tenshi dan 3 sosok misterius yang kini terus memperhatikan dua kunai yang melambung tinggi tersebut. Semakin tinggi, dan semakin dekat. Namun, mereka masih terlihat santai dengan kedua kunai barusan.

Dan, ketika gravitasi kembali mengambil alih, kedua kunai yang melambung tersebut mulai menukik tajam, tepat mengarah kepada mereka semua. Dan itu tak luput dari penglihatan Naruto. Dia terus mempertahankan satu handseal di tangannya dengan pandangan awas menatap kunai yang mulai mengikis jarak dengan musuh-musuhnya yang terlihat masih tenang karena hanya dua kunai saja yang mengarah pada mereka.

Dan ketika jarak sudah menipis, Naruto langsung mengalirkan chakra pada tangannya.

[...:Kage Bunshin](...:Shadow Clone)

Terkejut, menjadi hal pertama yang dirasakan oleh sekumpulan lawan Naruto. Kunai yang sebelumnya mereka anggap sepele, kini menjadi sesuatu yang mematikan. ketika dua kunai tersebut terus memperbanyak diri menjadi ratusan dan siap menghujani mereka semua.

Para Da-Tenshi yang masih terbang di udara tak sempat menghindar dengan banyaknya kunai yang menutupi areal jangkauan pelarian, langsung saja menggunakan sayap mereka untuk melindungi tubuh mereka dari hujan kunai yang bersiap membunuh mereka itu. Sementara, tiga sosok misterius di bawah langsung mencoba untuk menjauh, dengan melompat mundur.

Beberapa dari kelompok Da-Tenshi yang pertama kali mendapat hujanan, kini perlahan-lahan mulai tak bisa bertahan. Mereka langsung menukik dan jatuh menghantam permukaan, saat sayap yang melindungi tubuh mereka mulai mengalami kerusakan dan patah. Beberapa ada yang masih dapat bertahan, meski kini mereka terpaksa merendahkan diri perlahan agar tak mengalami nasib serupa dengan menghantam permukaan tanah.

Sementara tiga sosok berjubah, dapat sedikit mengantisipasi hujan kunai dengan menjaga jarak mereka. Meski ada beberapa kunai yang tetap nyasar ke tempat mereka, tapi setidaknya mereka bisa bertahan dari serangan tersebut.

Saat serangan berhenti, semuanya kini mengalami kondisi yang begitu buruk. 3 sosok Da-Tenshi kini sudah melebur menjadi abu, akibat tak dapat bertahan dari luka-luka mereka. Menyisakan 14 Da-Tenshi tersisa yang mempunyai kondisi yang juga tak terlihat baik. Dengan sayap yang sudah tak dapat lagi di gunakan, dan beberapa luka yang ada pada bagian tubuh.

Sementara tiga sosok berjubah hanya mengalami luka ringan pada beberapa bagian tubuh mereka. Dan jubah yang mereka gunakan juga sudah terkoyak di sana sini. Mereka semua kini hanya bisa berdiri dengan napas ngos-ngosan karena memforsir tubuh mereka untuk bertahan dari ratusan kunai yang menghujani mereka.

Dan hal itu langsung dimanfaatkan oleh Shiamaru yang saat ini bersembunyi di bayang-bayang gelap. Dia dengan cepat kemudian keluar dari persembunyiannya dan langsung mendarat dengan sempurna di tengah-tengah kerubunan musuh. Dengan satu handseal yang sudah dia siapkan.

[Kage Nui no Jutsu](Shadow Sewing Technique)

Bayangan dari Shikamaru langsung menyebar ke segala arah. Dengan dirinya menjadi pusat, sulur-sulur bayangan langsung memanjang dan menerjang ke arah musuh-musuhnya berada sekarang. Beberapa Da-Teshi yang belum bangkit, terkena dengan mudahnya. Sementara dengan sosok berjubah, masih bisa menghindarinya dengan sigap. Meski 1 orang diantaranya harus rela terjerat bayangan Shiamaru.

'Cih... Hanya ini yang bisa kudapatkan.' Matanya melirik 5 Da-Tenshi yang sudah terikat bayangannya dan satu sosok berjubah yang kini berdiri mematung di tempat. '...merepotkan. Bayanganku tak bisa berakselerasi terlalu jauh di situasi medan seperti ini'

Shikamaru langsung saja merubah Handseal yang dia buat sebelumnya. Dan sulur-sulur bayangannya kini mulai bercabang, dan keluar menjadi nyata. Membentuk seperti jarum yang langsung mengarah pada sekumpulan musuh yang terikat bayangannya.

Melihat teman yang dalam bahaya. Salah satu sosok berjubah hitam langsung merentangkan tangan ke arah Shikamaru, dan membentuk kembali gumpalan bola energi padat di telapak tangannya. Namun, sebelum dia bisa menembakkannya, sebuah tendangan kuat sudah terlebih dahulu bersarang pada pipinya. Membuatnya kini terseret dan terpelanting beberapa meter dari tempatnya.

Pemuda blonde yang menjadi sang pelaku hanya menatap datar musuhnya yang kini sudah terpelanting jauh. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya dan menatap tajam salah satu sosok musuhnya yang kini menerjang ke arahnya. Kesigapan tinggi membuat Naruto langsung menyampingkan tubuh, menghindari tendangan lurus yang mengarah pada dadanya.

Musuhnya itu langsung berbalik, mencoba kembali menyerang dengan melayangkan pukulan ke arahnya. Naruto tak tinggal diam, saat jaraknya lumayan dekat, Naruto langsung mengangkat kakinya dengan kecepatan penuh. Melayangkan tendangan Uppercut tepat ke dagu dan bersalto ke belakang.

Musuhnya langsung mendongak ke atas dengan tudung jubah yang tersingkap, saat tendangan itu tepat mengenainya. Naruto mendarat dengan kedua kakinya, dan kembali melayangkan serangan. Memanfaatkan celah yang terbuat. Dia mengalirkan chakra pada kakinya, dan langsung melayangkan tendangan lurus mengarah pada perut musuhnya. Membuat sosok tersebut menyusul temannya di belakang.

Sementara dengan Shikamaru, dia saat ini tengah berusaha untuk membunuh dua musuh tersisa yang masih terikat oleh bayangannya. Dirinya tak menyangka, membunuh salah satu sosok berjubah akan menjadi hal yang sangat sulit. Ditambah, satu Da-Tenshi yang sepertinya mempunyai tingkat kekuatan yang berada di atas para Da-Tenshi yang lainnya.

'Cih... Aku tak bisa mempertahankannya lebih lama lagi.'

Dan bayangan yang menjerat 2 musuh yang tersisa akhirnya terlepas dan tertarik kembali ke arah Shikamaru, setelah pemuda Nara itu sudah mencapai batasnya. Da-Tenshi yang merasakan tubuhnya dapat kembali bergerak bebas, langsung menerjang maju ke arah Shikamaru yang masih berjongkok dengan menciptakan Light Spear di kedua tangannya..

Melihat salah satu musuh yang kini menerjangnya, Shikamaru lantas menyiapkan kunai di kedua tangannya. Dia kemudian langsung memblok laju Light Spear yang siap menusuknya dengan kunai di tangannya. Namun, sosok Da-Tenshi di hadapannya kembali mengarahkan salah satu Light Spear di tangan satunya dengan mengayunkannya secara horizontal, mencoba untuk memukulkannya.

Shikamaru langsung saja membungkukkan badan, membuat ayunan Light Spear tersebut hanya melewatinya. Dan Shikamaru langsung memanfaatkan celah yang ada. Dengan cepat dia langsung menikamkan kunai di tangannya, tepat pada dada Da-Tesnhi di depannya.

Da-Tenshi di depannya yang tak bisa menghindar, harus rela merasakan sakit pada dadanya. Dan penderitaannya tak sampai disitu saja, Shikamaru kemudian sedikit memundurkan tubuhnya, dan dengan kuat langsung menendang kunai yang menancap di dadanya. Membuat kunai tersebut langsung tembus hingga ke belakang tubuhnya. Da-Tenshi tersebut terpental, dan tubuhnya perlahan-lahan mulai melebur menjadi abu.

Namun, sebelum dia menghilang sepenuhnya, dengan kekuatan tersisa langsung melemparkan Light Spear di kedua tangannya ke arah Shikamaru. Shikamaru bergerak cepat, dan langsung menghindar. Namun, dirinya langsung dikejutkan dengan kehadiran salah satu sosok berjubah di belakangnya.

Sosok tersebut langsung melayangkan tendangan kuat pada kepala. Membuatnya terpental lumayan jauh. Tak berhenti disitu saja. Dirinya kembali dihujani Light Spear dari segala arah.

'Cih...'

*Slab**Slab**Slab*

Da-Tenshi yang menyerangnya terlihat puas saat melihat Light Spear yang dia lemparkan berhasil mengenai musuhnya. Namun kesenangannya tak bertahan lama, karena setelah beberapa saat kemudian sosok musuhnya langsung menghilang dalam kepulan asap. Meninggalkan Light Spear yang berceceran di tanah. Dia menggeram marah karena kembali tertipu.

Sementara itu Shikamaru yang asli kini masih bersembunyi dibalik semak-semak di kegelapan.

'Merepotkan...' Pikirnya dengan malas. '...Tinggal 9 Da-Tenshi tersisa dan 3 lagi dari mereka yang tersisa.' Lanjut Shikamaru dalam hati sambil melihat bagaimana kini masih tersisa 9 Da-Tenshi dan 3 sosok misterius lagi yang tersisa.

Dirinya kemudian melirikkan matanya kearah dimana Naruto kini tengah melawan, 2 sosok misterius dan 5 Da-Tenshi. Menyisakan 1 sosok misterius dan 4 Da-Tenshi yang kini tengah mencari dirinya. Dan hal itu kembali membuat pemuda Nara ini menghela napas malas.

Di tempat Naruto sendiri. Pemuda blonde itu kini tengah menghindari Light Spear yang terus saja diarahkan padanya. Dia kemudian langsung memompa chakra secara banyak saat dua buah bola energi penghancur kembali mengincar dirinya.

*BOOMM*

Ledakan kembali terbentuk saat bola energi tersebut menghantam permukaan. Naruto yang melihat itu mendecih. 'Jika terus begini, aku tak akan bisa menyerang mereka.'

Memang benar, Naruto dibuat kesusahan sekarang. Untuk melancarkan seranganpun dirinya sudah susah karena musuh-musuhnya terus melancarkan serangan dari jarak jauh. Tak sedikitpun memberinya kesempatan untuk mendekat. 'Cihh... Sial.'

Naruto kemudian membuat satu Handseal yang sudah menjadi ciri khasnya.

[Kagebunshin no Jutsu](Shadow Clone Technique)

10 clon dirinya tercipta, dan langsung merangsek maju ke arah para Da-Tenshi secara bersamaan. Membuat 5 Da-Tenshi yang menyerangnya terkejut diserang secara bersamaan. Memanfaatkan kesibukan dari para Da-Tenshi tersebut, Naruto ikut merangsek maju, pada dua sosok berjubah yang kini terlihat sudah bersiap di tempat mereka.

Keduanya langsung membuat bola energi kembali, dan langsung menembakkannya pada Naruto. Dengan gesit, pemuda blonde itu, menghindarinya dengan melompat melewati kedua bola energi tersebut. Dan saat dirinya menapak kembali di permukaan, dirinya langsung memompa chakra milik Kurama pada telapak kakinya. Dan sosoknya langsung menghilang dari pandangan kedua musuhnya.

Kedua sosok berjubah terkesiap melihat kejadian tersebut. Dan sebelum mereka dapat bersiaga, salah satu diantaranya sudah terlebih dahulu terpental saat mendapat sebuah tendangan sapuan pada kepalanya.

Sosok disampingnya terlihat terkejut, apalagi saat di hadapkan dengan sebuah sabetan kunai yang siap melukainya itu. Sosok tersebut bersusah payah untuk menjauh, namun tetap saja, luka dia dapatkan saat sabetan kunai tersebut mengenai bagian depan tubuhnya. Tak berhenti disitu saja, Naruto kembali merangsek maju, dan ditangannya sudah terdapat 'Rasengan' yang berputar dan mengeluarkan suara yang begitu bising. Dirinya kembali menghilang dari pandangan, dan muncul 1 meter di depan musuhnya.

[Futton:Rasengan] (Wind Release:Rasengan)

Dengan kuat, Naruto langsung menghantamkan Rasengan yang berbasis elemen angin tersebut tepat pada wajah dari musuhnya.

Tak ada jeritan kesakitan dikeluarkan oleh sosok musuhnya ini. Karena sebelum hal itu dilakukan. Kepalanya sudah terlebih dahulu hancur, dengan darah dan potongan daging yang berceceran. Tubuh itu langsung ambruk seketika di depan Naruto yang hanya menatap datar kejadian di depannya. Dirinya kemudian berbalik, melihat ke arah musuhnya yang tersisa. Yang secara perlahan kini mulai bangkit kembali. Da-Tenshi yang menjadi lawannya, kini sudah melebur menjadi abu setelah dapat dibereskan oleh bunshin miliknya.

•••

Sementara Shikamaru yang melihat itu dari kejauhan, hanya bergumam malas saja. Namun, dirinya langsung terkesiap saat merasakan bahaya mendekatinya. Dan benar saja, di depannya sosok berjuba kini tengaah berlari ke tempatnya.

'Cih... Merepotkan.'

Dirinya mungkin mengeluh dengan semua ini, namun Shikamaru tetap bersiap, dan mengeluarkan dua kunai special miliknya. Dirinya langsung keluar, dan ikut menerjang maju. Sosok di depannya langsung berputar dan melayangkan tendangan lurus. Namun, Shikamaru langsung menghindarinya dengan menyamping.

Gagal dengan serangan pertama, sosok tersebut kembali berhenti dan melayangkan pukulan hock, mengarah pada wajah. Namun, Shikamaru kembali dapat menghindarinya. Dengan menunduk.

Dan dirinya kembali memanfaatkan momentum yang ada. Saat tangan itu melewati kepalanya, Shikamaru langsung menggunakan kunai di tangannya. Dan tanpa ragu memotong tangan tersebut.

Sosok didepannya terdengar meraung kesakitan. Shikamari tak berhenti disitu, dia langsung memukulnya kembali dengan kuat, membuatnye tersered ke belakang. Kemudian pemuda Nara itu langsung saja melemparkan salah satu kunai di tangannya. Namun, kunai tersebut kini mengarah tepat pada bayangan sosok di depannya.

*stab*

"Kagemane Shuriken... Sukses" gumamnya perlahan saat melihat sosok di depannya tak bisa bergerak kembali. Shikamaru baru akan melakukan serangan penutupan, namun hal itu tertahan saat 4 Da-Tenshi yang tersisa langsung melemparkan Light Spear kepadanya secara bersamaan. Shikamaru langsung saja membuat satu Handseal.

[Dōmu kage](Dome shadow)

Bayangan di bawah Shikamaru langsung melebar, dan dengan cepat membentuk sebuah kubah yang melindunginya dari Light Spear yang mengarah padanya.

Shikamaru yang berada di dalam kubah langsung mengeluarkan satu gulungan dari segel penyimpanan. Dia kemudian bersiap di untuk membukanya. Dan saat dia sudah menghilangkan kubah pelindungnya. Dia langsung membuka gulungan tersebut ke arah 4 sosok Da-Tenshi berada.

4 Da-Tenshi di hadapannya langsung terkejut saat serbuan senjata kini mengarah pada mereka dari gulungan yang dipegang Shikamaru. Mereka mencoba menghindarinya dengan susah payah, dan terkadang mereka juga menangkisnya dengan Light Spear mereka. Dan saat serangan berhenti mereka langsung menatap murka pada Shikamaru yang kini sudah mengangkat satu tangannya sebatas dada. Pandangannya datar menatap mereka berempat.

[Katsu]

Dan 4 Da-Tenshi yang tersisa tak bisa lagi berbuat apa-apa saat kunai-kunai yang berserakan disekitar mereka kini meledak dengan beruntun. Hanya raungan kesakitanlah yang terdengar dari mereka. Dan saat ledakan berhenti, dan asap yang sebelumnya menutupi pandangan menghilang. 4 da-Tenshi sebelumnya terlihat kini sudah menghilang dari tempat mereka dengan menyisakan helaian bulu hitam di permukaan tanah.

Beres dengan urusannya, Shikamaru langsung berbalik menatap 1 sosok tersis yang kini masih berdiri mematung dengan ekspresi kesakitan pada wajahnya.

"Maa... Sayang sekali. Sepertinya semua rencana kalian gagal total malam ini." Shikamaru berujar sambil mengambil kunai biasa, dan secarik kertas. Dia kemudian melilitkan kertas tersebut pada pegangan kunai, sambil terus berbicara. "...Aku tak tau dengan apa rencana kalian menyerang kami. Namun... Karena kalian sudah mendeklarasikan perang pada kami. Maka dengan berat hati, kau harus mati malam ini."

Shikamaru kemudian menyiapkan kunai, dan langsung melemparkannya pada sosok didepannya yang terdengar menggeram kesal. Kunai tersebut dengan tepat menancap dengan sempurna pada bagian perutnya. Shikamaru kemudian kembali membuat satu Handseal dengan tangannya yang terangkat sebatas dada.

"...permainan berakhir."

[Katsu]

*BOOOM*

Dan ledakan kuat dari tempat sosok musuhnya berada. Menjadi penutup pertarungan dari pemuda keturunan Nara tersebut. Melihat hal itu malah membuat Shikamaru langsung menguap setelahnya.

Sementara di tempat Naruto. Saat ini Naruto tengah memberikan siksaat pada musuhnya ini. Tubuh musuhnya kini sudah tak utuh lagi. Kedua kakinya kini sudah menghilang, menyisakan bagian pahanya saja. Kedua tangannya juga kini sudah terpisah dan tergeletak di samping tubuhnya.

Naruto kini menatap datar wajah sosok di depannya yang malah terlihat menyeringai kearahnya.

"Cepat katakan maksud kedatangan kalian kemari!" Dengan intonasi datar tak menyimpan perasaan, Naruto berujar. Mencoba mengintrogasi sosok di depannya ini, yang saat ini malah tertawa dengan kerasnya. Meski terkadang dia juga meringis kesakitan karena luka-lukanya.

"Tak ada yang harus kuberitahukan pada manusia sepertimu... Kami mungkin gagal membunuh kalian... Namun, kami akan berjaya. Kegagalan kami pasti sudah terbayar dengan pedang legenda yang berada ditangan kami sekarang."

Naruto kemudian langsung mendekati sosok yang tergeletak didepannya itu. Dia langsung menarik sosok tersebut dengan mencengkram jubah atas yang dikenakannya.

"Apa maksudmu hah!?"

"Hahaha... Kami berjaya. Dengan begini, kami bisa membalaskan dendam kami pada dewa-dewa terkutuk itu..." Bukannya menjawab dengan benar. Sosok di depannya kini malah meracau kian menjadi-jadi. Namun, Naruto mengerti. Sangat mengerti betul apa yang dimaksud sosok di depannya ini. "...Kalian akan mati...Kalian akan–"

*Jras*

Sebelum sosok itu meracau lebih jauh. Pita suaranya kini tak bisa lagi digunakan. Setelah kepalanya kini terpisah dan menggelinding di tanah, setelah sebelumnya Naruto tanpa ragu memotong kepala tersebut dengan kunai di tangannya.

Naruto langsung saja melemparkan tubuh tak utuh tersebut kesebarang tempat. Dirinya kini terdiam tak bergeming di tempatnya.

Shikamaru yang melihat itu langsung melangkahkan kaki, mendekati sahabatnya.

"Apa yang kau dapatkan?" Shikamaru bertanya. Namun, Naruto tak sedikitpun menjawab.

"Naru–..."

"Hubungi Grayfia-nee sekarang juga!" Suara Naruto terdengar begitu dingin sekarang.

"Ada–"

"Lakukan saja sekarang!"

Shiamaru terdiam. Ini pertama kali untuknya mendengar Naruto membentaknya seperti itu. Namun, Shikamaru langsung mengerti, dan tanpa babibu lagi langsung mengeluarkan kertas sihirnya untuk segera menghubungi Grayfia. Jika sahabatnya sudah sampai seperti ini. Maka sudah dipastikan keadaan sekarang sangatlah genting.

Naruto sendiri kini masih terdiam. Pikirannya berkecamuk. Dirinya terus menatap mayat dari musuhnya yang kini masih tergeletak di depannya. Perlahan, kemarahan mulai menyeruak kedalam dirinya.

'Bangsa sialan.'

~~o0o~~

::

To Be Continue

XxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxXxX

Ah... Akhirnya selesai juga chapter 20-nya. Huhhh... Benar-benar deh, 10k+. Haha. Saya harap tak ada yang mengeluh dengan chap terpanjang saya ini.

Sebelumnya saya mau minta maaf karena keterlambatan update fict ini. 4 bulan yah. Hiatus yang lumayan lama. Maklum, akun saya sempat tak bisa dibuka. Dan setelah bergelut dengan dunia hacker, akhirnya ini akun bisa balik lagi.

Oke... Mungkin ini adalah awal konflik asli ARC-III. Maaf kalau menggantung begitu. Namun, ini ARC akan berakhir dalam 2/3 chapter lagi. Sebelum akhirnya masuk arc baru.

Balasan Riview::

Natsuke DxD:: ahh... Buat romance tak akan dulu menonjol sepertinya sekarang ini. Lagian ini chap mamsih jauh dari tamat, jadi masih banyak waktu buat romance. Dan untuk Sharingan, pasti nyampe, cuman waktunya lama juga sepertinya.

Ryusuke RootWood:: bangsa Daitya adalah bagsa dewa dari ras mitologi Hindu. Lebih specifik ada di google. Yah, meski disini saya buat sedikit berbeda dengan aslinya.

Arafim123:: Kuroka? Ahh... Harus dipikir" dulu kalau soal yg ntuh.

Dianrusdianto39:: soal jubi. Nanti itu akan lebih sering dibahas di chap" kedepan. Untuk saat ini belum ada pergerakan pasti dari Jubi jadi masih dirahasiakan. Soalnya disini saya buat harus ada pengembangan charakter sebelum masuk konflik jubi.

Tenshisha Hikari:: ada alasan tersendiri kenapa sarung pedang itu tak pernah dilepas. Chap depan pasti akan tau deh gimana maksudnya.

Oke mungkin itu saja untuk sekarang. Maaf jika yg lain tak ikut tersebut. Dan yang minta penambahan romance, sebenarnya ini fict masih jauh tamatnya. Karena bisa nyampe 100 chap, belum ditambah spin-off sama sekuelnya yg lagi digarap. Pasti akan banyak waktu buat romance. Soalnya saya juga tak terlalu memporsir soal romance. Hanya akan ada selingan doang. Spin-off mungkin ntar kebanyakan.

Sekian dulu untuk sekarang. Sampai jumpa di chap berikutnya.

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, baik itu Saran, pesan, saran, kritik, ataupun Flame sekalipun. Kotak Riview di bawah disediakan untuk hal itu.

Baiklah... Jaa na~

Hyosuke out...!