SEBUAH PENANTIAN
-Chapter 2-
.
.
.
Hari pernikahannya telah tiba. Seluruh kerabat dan teman-teman semasa sekolah berkumpul menghadirinya.
Hari itu adalah hari yang paling mendebarkan sepanjang hidup Momo. Dia pun merasakan hari itu sangat panjang, seolah waktu hanya bergerak ditempat.
Momo yang mengenakan pakaian pengantin tradisional bernuansa putih itu tampak begitu menawan. Kecantikannya pun semakin nampak. Hampir semua para tamu pria hanya melihat ke arahnya.
Sedangkan suaminya yang tengah duduk disampingnya itu, Shouto tampak begitu berwibawa dan tampan.
Momo masih tak menyangka kini telah menjadi pendamping sah dari pria sempurna sepertinya.
Proses pernikahan berjalan lancar dan khidmat. Banyak tamu yang menangis haru menyaksikan keduanya.
"Hari ini, kau telah menjadi bagian dari keluarga Todoroki. Momo, aku mencintaimu.."
"Aku juga mencintaimu, Shouto-kun."
.
.
.
Kehidupan rumah tangga Momo dan Shouto berlangsung harmonis. Tapi, tentu saja tidak ada kehidupan yang akan berlangsung baik begitu seterusnya.
Momo yang saat itu sedang menyiapkan makan malam menunggu kepulangan Shouto, mendadak terkejut dengan suara dering telepon rumah yang menggema.
Ia segera mencuci tangannya dan berlari menghampiri telepon yang berdering itu di sebelah pintu dapur.
"moshi-moshi." Katanya sesaat setelah mengangkat panggilan.
Kalimat serupa pun terdengar dari seberang sana. Dari nada nya, Momo yakin itu adalah suara ibu mertuanya.
"Ah, Ibu. Apa kabar?." Sapa Momo dengan nada lembut.
Ia pun saling bercakap-cakap dengan mertuanya itu.
Meskipun tidak ada topic berat yang dibahas. Perasaan Momo merasa tak enak.
Dia cukup heran, biasanya Ibu mertua nya akan langsung datang berkunjung daripada menelpon. Juga, dia tak pernah mengobrol selama ini melalui telepon dengan mertuanya. Momo benar-benar merasa agak aneh.
Hingga akhirnya isi hati Momo terjawab dengan beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh ibu mertuanya itu.
"Momo-chan, apa menstruasi mu lancar?."
Momo menampilkan ekspresi bingung. Ia tak mengerti mengapa beliau tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
"Soal itu… terakhir aku menstruasi sekitar tahun lalu, dan tidak mendapatkannya sampai saat ini." Jawab Momo seadanya.
"Eh, apa sudah lama seperti itu?."
"Ah iyah. Sejak pertama kali mendapatkannya. Dan berikutnya aku akan menstruasi setahun atau dua tahun berikutnya.."
Saat Momo menjelaskan itu, reaksi terkejut terdengar dari ibu mertuanya.
"apa? Sungguh benar begitu? Kalau begitu, tolong temui Ibu besok, ya. Aku akan mengajakmu ke Rumah Sakit. Aku khawatir…"
Momo hanya mengiyakan tanpa mengerti sepenuhnya tujuan dari Ibu mertuanya itu.
.
.
.
"Kau mau pergi kemana, Momo?."
Momo sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai dosen setelah menikah dengan Shoto. Jadi, melihat istrinya berpakaian rapi seperti itu membuatnya bertanya. Lagipula bahan makanan masih banyak, dan Momo baru membelinya kemarin, tak mungkin istrinya pergi untuk belanja, terutama dengan pakaian semi formal begitu.
"Ah, Shouto-kun. Aku mau pergi ke rumah sakit. Aku lupa memberitahumu semalam karena kau terlihat kelelahan." Jelas Momo sambil mengikat rambutnya.
Shouto yang juga sedang berpakaian untuk berangkat kerja langsung terkejut.
"Apa kau sakit? Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku akan menemanimu." Ucap Shouto dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Istrinya itu sehat, terakhir kali Shouto melihat istrinya sakit hanyalah saat ia terkena demam darinya. Jadi mengetahui istrinya akan ke rumah sakit tentu saja membuat Shouto cukup panik.
Momo yang melihat kekhawatiran suaminya itu hanya tertawa kecil. Membuat Shouto bingung.
"Ah, tidak. Ibu mengajakku untuk melakukan pemeriksaan. Aku rasa dia khawatir karena aku belum juga hamil… meskipun kita sudah 7 bulan menikah.." meski Momo mengatakannya dengan senyuman malu. Terlihat jelas kalau ada kesedihan dari tatapannya.
Shouto bingung harus bereaksi seperti apa.
"Shouto-kun..?."
"Aku akan pergi menemanimu."
.
.
.
"Are? Shouto apa yang kau lakukan disini?."
Saat sampai di rumah sakit, keduanya segera menemui Ibu Todoroki yang sudah menunggu. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat anak laki-lakinya itu juga ikut datang. Ada rasa khawatir di hatinya.
"Selamat pagi, Bu." Sapa keduanya, yang kemudian ikut masuk ke dalam gedung besar itu.
.
.
.
Setelah mendaftarkan diri, kini tinggal menunggu giliran pemeriksaan Momo. Mereka pun memutuskan untuk duduk berdampingan di ruang tunggu.
Ibu Todoroki melihat putra bungsunya itu seakan meminta jawaban. Awalnya Shouto tidak begitu mengerti sebelum Momo mengingatkan kalau Ibunya bertanya mengapa Shouto berada disini juga.
"Aku memutuskan menemani Momo, karena aku khawatir. Ibu sampai memintanya untuk memeriksakan diri. Apa ada yang salah dengannya? Apa hanya karena kami belum memiliki anak?."
Meski Shouto berkata dengan tampang dan intonasi datar, auranya terasa dingin.
"Shouto-kun.." Momo ingin menegur suaminya karena ucapannya yang dia anggap kurang sopan.
Namun saat mendengar jawaban yang di-iya-kan oleh mertuanya itu, membuat Momo kaget.
"Ya, kau benar Shouto. Tapi, ini bukan permintaan Ibu. Kau tahu Ayahmu itu… ingin segera memiliki cucu dari kalian. Jadi, Ibu ingin memastikan. Jika, kita mengetahui ada yang salah dengan Momo-chan, mungkin Ayahmu bisa menge—."
"Kenapa kalian memutuskan hanya Momo yang bersalah?."
Momo memegang erat tangan suaminya. Ia bisa merasakan kemarahan suaminya itu. Dan Momo tak mau suaminya bertengkar dengan orang tuanya hanya karena dirinya.
Momo tidak tahu kalau ayah mertuanya marah. Ini semua tidak pernah di singgung sebelumnya. Atau memang Shouto menutupinya agar Momo tidak merasa terbebani.
Momo memang merasa cukup bersalah karena belum hamil. Ia agak iri setiap kakak iparnya membawa putri tunggalnya yang berusia 5 tahun itu saat mereka sekeluarga berkumpul.
Seingatnya kakak iparnya itu mengabari mereka bahwa ia telah mengandung setelah 3 bulan menikah.
Tapi, Momo bahkan belum mengandung meski sudah 7 bulan menikah.
Ia ingin memiliki anak. Tidak, tapi ia dan suaminya memang menginginkan anak, dan tak ada niat untuk menunda kehamilan seperti yang dilakukan pasangan Ochaco dan Midoriya. Mereka memang sengaja melakukan itu karena pernikahan mereka yang memang masih terbilang di umur muda. Mereka bahkan baru memiliki anak 2 tahun lalu.
Dan ini berbeda dengan Momo dan Shouto. Mereka cukup sering melakukan itu. tapi tetap saja, tidak ada yang terjadi pada perut Momo. Tanpa menunda pun, ini sudah tertunda.
Setelah hening beberapa saat, tiba-tiba suara ponsel milik Ibu Todoroki berdering menandakan ada panggilan masuk. Beliau segera pamit untuk menjawab panggilan itu.
"Shouto-kun…"
Momo menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak perlu terlalu memikirkan masalah ini. Mereka hanya terlalu berlebihan." Meski maksud hati untuk menenangkan istrinya. Nyatanya itu tidak membuatnya merasa lebih baik.
"Iyah aku tahu…" Momo berkata dengan lirih.
"Tapi aku takut…" gumam Momo itu nampaknya tak didengar Shouto.
Momo takut. Ia takut kalau ada masalah pada dirinya. Ia takut suaminya akan marah, ia takut mertuanya akan marah. Ia takut. Hanya itu yang ia rasakan saat ini.
"Shouto, Momo-chan. Ibu harus segera kembali karena Ayahmu baru saja menelfon, Ibu harus membantunya menyiapkan barang untuk berangkat ke Dubai siang nanti. Ibu duluan ya. Setelah pemeriksaannya selesai, kasih tau kami hasilnya."
Setelah mengatakan itu dan mengambil tas didalam ruang tunggu. Wanita itu segera pergi meninggalkan keduanya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya giliran Momo yang dipanggil.
"Nyonya Todoroki!."
"I.. iyah.."
.
.
.
TBC?
Akhirnya chapter 2 rilis juga, maaf karena cukup lama.
untuk pembaca sekalian yang telah ngereview, ngefav dan ngefollow cerita ini, kuucapkan terima kasih. /bow/. Terus ada yang req TodoMomo rasa lemon (?), tapi saya minta maaf tidak bisa, kalau selipan dikit boleh lah /oi/.
Sekali lagi terimakasih sudah membaca cerita buatan saya ini.
