SEBUAH PENANTIAN
.
.
"Nyonya Todoroki!"
Momo yang sedari tadi tenggelam dalam pikirannya sendiri, langsung terkejut ketika mendengar namanya dipanggil oleh perawat untuk melakukan pemeriksaan.
Ia segera merapikan rambut dan pakaiannya lalu berjalan dengan gugup menuju ruangan dokter bersama suaminya.
"Selamat siang."
Momo dan Shouto kini duduk dihadapan pria berjas putih. Pria yang berprofesi sebagai dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.
Dokter lantas menanyakan mengenai masalah pasangan suami istri itu, dan Momo menceritakannya secara jelas sedangkan Shouto hanya diam sambil memegang tangan istrinya yang bergetar.
"Tapi setiap orang itu memiliki tingkat kesuburan yang berbeda-beda, Bu Todoroki," ujar sang Dokter yang mencoba mengurangi sedikit kegundahan hati pasiennya itu.
Momo hanya mengangguk setuju, namun ia yakin jawaban seperti itu tidak akan memuaskan mertua nya.
"Tolong periksa saya, Dok. Saya ingin mendapatkan kepastian apakah saya bisa hamil atau tidak. Saya mohon tolong bantu saya."
Mendengar permintaan istrinya yang begitu putus asa, membuat hati Shouto menjadi hancur. Dia merasa gagal menjadi suami karena tak dapat melindungi istrinya.
"Baiklah, kalau begitu kita akan melakukan pemeriksaan."
Momo pun lantas melakukan tes kemandulan. Mereka perlu melalui pemeriksaan USG dan tes darah.
Hingga akhirnya mereka menunggu dan membawakan hasil dari labolatorium kepada dokter yang bersangkutan.
Sang dokter terdiam sesaat, lalu dirinya menarik nafas. Ia sepertinya mencoba memilih kata-kata yang pas untuk menjelaskan hasil dari pemeriksaan USG dan tes darah pada Momo.
"Um, begini Bu... hasil dari tes ini menunjukkan bahwa Bu Todoroki mengalami... sindrom ovarium okilistik." Tukas sang dokter.
Kedua pasangan itu terdiam, nampaknya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sindrom itu. Shouto yang jelas kebingungan pun meminta penjelasan.
"Apa... apa itu berbahaya?"
"Sebenarnya tidak, tapi sindrom ini membuat Bu Todoroki menghasilkan hormon androgen dalam jumlah banyak. Hal ini menyebabkan ovulasi tidak teratur, apalagi Bu Todoroki sudah mengidap sindrom ini sejak muda. Sehingga membuat Bu Todoroki berpeluang besar untuk ... kesulitan hamil."
Momo terdiam, ia tidak bersuara sejak tadi. Wajahnya pucat dan keringatnya menganak sungai. Pikirannya kosong, dan hatinya seakan mendapatkan pukulan kuat. Sangat menyesakkan hingga ia tidak sadar mengeluarkan begitu banyak air mata.
Sambil menutup mulutnya, Momo langsung pergi meninggalkan sang suami dan dokter.
"Momo!"
Todoroki langsung berdiri dan mengejar istrinya, tak lupa ia berpamitan dengan dokter yang hanya tersenyum miris seakan mengerti rasa sedih dari pasiennya.
Saat Momo keluar dari ruangan dokter, orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh, namun ia tak peduli dan terus berlari. Bahkan ia tidak berhenti saat mendengar panggilan suaminya.
Ia berusaha menolak kenyataan, berusahaa untuk menganggap kalau ia tidak medengar apa-apa.
Saat Momo akhirnya keluar dari gedung rumah sakit, Shouto berhasil menangkapnya dan memeluk istrinya.
"Momo, ayo kita pulang"
"Shou..to.."
.
.
.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Sepanjang perjalanan Momo hanya terdiam dan melihat keluar jendela. Shouto juga bingung harus mengatakan apa, dia tidak ingin ucapannya akan membuat istrinya semakin sedih.
Shouto segera turun untuk membukakan pintu mobil, namun Momo sudah turun duluan meninggalkan Shouto tanpa mengatakan apa-apa.
Dia hanya bisa melihat punggung istrinya yang tampak sangat lesu itu, tidak ada kepercayaan diri yang ia rasakan darinya.
Shouto memarkirkan mobilnya ke dalam garasi, lalu ia segera masuk ke dalam rumah untuk menemui istrinya. Saat ia berlajan menuju kamar, berpikir istrinya ada disana, ia malah mendengar suara dari arah dapur.
Shouto yang berpikir macam-macam, langsung berlari ke dapur, khawatir Momo akan melakukan hal nekat.
Namun saat ia berada di dapur, yang ia lihat hanyalah istrinya yang sedang bersiap untuk masak makan malam.
"Momo...?" panggil Shoutu sambil menghampiri istrinya.
Momo yang mendengar namanya dipanggil segera berbalik. Wajahnya kembali seperti biasa, ia tersenyum. Seperti tangisan yang tadi hanyalah imajinasi Shouto.
"Ada apa Shouto? Maaf ya karena kita pergi sejak pagi, aku tidak menyiapkan apapun untuk makan malam."
Wajah Momo memang seperti tidak terjadi apa-apa, namun suaranya yang lirih itu masih menandakan rasa terlukanya.
Shouto sudah lama mengenal Momo, ia sudah tahu kebiasaan wanitanya itu yang selalu berusaha menunjukkan dia baik-baik saja, berusaha menyimpan rasa sakitnya untuk dirinya sendiri.
Namun, kali ini Shouto tidak mau begitu. Momo adalah istrinya sekarang, bagian dari dirinya, jadi dia tidak mau melihatnya seperti itu.
Ia menghampiri istrinya dan memegang tangannya yang sedang memotong sayur. Momo diam lalu melepaskan pisau yang ia gunakan.
Shouto memeluk Momo dari belakang begitu erat sampai membuat wanita itu merasa sesak.
"Kau tidak perlu seperti ini.. bersikap seakan kau baik-baik saja. Tidak apa jika kau menangis, itu lebih baik... aku akan menanggung lukamu, jadi tolong jangan menyimpan semua kesedihanmu hanya untuk dirimu"
Mendengar ucapan suaminya, Momo lantas mengeluarkan air matanya lagi.
Ia menangis sesenggukkan.
Saat masuk ke rumah tadi, Momo berusaha memantapkan pikirannya. Ia berpikir, meskipun dia tidak bisa memberikan anak untuk suaminya, tapi setidaknya ia bisa mengurus suaminya dengan baik. Karena itu, meskipun kelelahan dia tetap melanjutkan tugasnya sebagai istri untuk memasak untuk suaminya.
Saat Momo akhirnya berhenti menangis, ia berbalik untuk memeluk suaminya. Ia ingin meminta maaf dan berterima kasih, namun mulutnya tidak mengeluarkan kata apapun.
Tapi sebenarnya Shouto tahu, namun dia bersyukur Momo tidak mengatakan itu. Ia tidak perlu memintaa maaf atau berterima kasih. Ini sudah tugas Shouto sebagai suami
Lepas dari berpelukan, Shouto kini membantu sang istri untuk memasak. Wajah Momo kini sudah lebih ceria dari yang tadi. Sambil memotong sayuran, Shouto memandang istrinya sekilas.
"Dokter hanya mengatakan kalau kau akan kesulitan hamil. Dia tidak mengatakan bahwa mustahil untuk hamil. Pasti akan ada cara, aku akan selalu menemanimu. Jadi ayo kita berjuang bersama, Momo.."
Momo yang sedang mencuci beras, menghentikan kegiatannya dan bergeser mendekati Shouto. Ia mengecup pipi suaminya itu dengan singkat. Ia sangat senang mendengar itu, membuatnya menjadi semangat kembali.
"Um! Ayo kita berjuang bersama!"
.
.
.
TBC?
Maaf chapter 3 nya harus menunggu selama ini untuk di publish. Dikarenakan laptop saya yang sebelumnya dimaling orang, akhirnya saya harus membuat kembali chapter 3 nya, yang membutuhkan lebih banyak waktu karena jujur saja, chapter 3 ini dengan yang sebelumnya berbeda, haha.
Ngomong-ngomong, saya ngebuat fanfic ini selain untuk memberi asupan pada kaum TodoMomo, tapi juga untuk memberitahukan untuk readers cewek harus memeriksakan diri jika haid nya gak lancar.
Jujur ajah nih, saya itu kadang satu atau dua tahun gak haid, awalnya ngerasa bagus karena gak perlu repot. Tapi ternyata itu tanda nggak baik. Jadi ibuku ngebawa ke dokter. Dan saat di USG dan tes darah lalu diketahui hasilnya, saya punya sesuatu apa gituu, tapi karena saya sakit lupus jadi itu memang dari penyakitku. Jadi nggak bahaya, mungkin.
Tapi buat kalian yang sehat-sehat ajah, periksakan ya. Nggak perlu malu ke dokter kandungan meskipun masih muda, kan demi kesehatan diri.
Oke sekian. Maaf kepanjangan curhatnya, hoho. Tolong tunggu chapter berikutnya.
Review?
