Summary

Aku menyukaimu, tapi aku takut.

Mungkin aku terlihat baik – baik saja

Mungkin aku terlihat kuat

Tapi hatiku bagaikan kertas.

.

.

Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING! NO PLAGIAT!BAHASA TIDAK SESUAI EYD!

Cast

Oh Sehun as Wu Sehun

Kim Jongin

other

Cast milik diri mereka sendiri,orang tua dan agensinya. Tapi fict ini asli buatan otak author

Jika ada kesamaan unsur, alur,tema,konflik maupun kalimat itu adalah unsur ketidaksengajaan dan apabila terjadinya typo berlebihan itu adalah unsur kekeliruan -.-

Rated : T

Hope you like this story!

OohSehoonie present….

"Paper Heart"

Chapter 3

.

.

.

Hari ini Yifan terus saja mengikuti Sehun, mulai dari berangkat sekolah sampai istirahat pun Yifan terus mengikuti Sehun. Bahkan Lee seonsaengnim sempat akan melempar hyung Sehun itu karena terus-menerus lewat di koridor kelas Sehun.

"Hyung, kau terlalu berlebihan" Sehun tertawa saat Yifan terjatuh karena terus menerus memperhatikan Sehun yang sedang membawa buku ke perpustakaan.

"Jongin bisa saja melukaimu Sehun. Dan kenapa kau yang harus mengembalikan buku-buku itu?"

"Hyung dan Chanyeol sama berlebihannya. Hanya aku yang mau mengembalikan ini, kalau tidak dikembalikan Lee seonsaengnim akan mengamuk"

"Kelihatannya berat, sini berikan padaku separuhnya"

"Aniyo. Hyung kau bisa menjatuhkan buku-buku ini. daritadi saja kau selalu hampir menabrak sesuatu karena terlalu memperhatikanku" Sehun menolak bantuan Yifan "Akan memalukan bagimu kalau sampai hal itu terjadi"

"Kau juga tidak akan sanggup membawanya sampai di perpustakaan Sehun" Jongin datang dan merebut semua buku yang ada di tangan Sehun

"Hei tunggu Jongin, biarkan aku membawa separuhnya" Sehun berusaha mengambil lagi buku yang direbut Jongin

"Diamlah, atau aku akan marah lagi" ujar Jongin pelan dan pergi meninggalkan Sehun

"Kenapa anak itu?"

"Tidak tau hyung, kita ke kantin saja. Aku lapar"

.

.

.

Sehun sedang menyalin catatan Kyungsoo saat Jongin datang dan duduk di sebelahnya. Wajar saja, mereka kan teman sebangku.

"Aku minta maaf soal kemarin"

"Sudah aku maafkan kok" Jujur saja Sehun masih takut pada Jongin, jadi Sehun hanya menjawab dengan jawaban klasik dan tetap mencatat

"Aku benar-benar menyesal Hun" Jongin yang merasa tidak puas akan jawaban Sehun mengambil catatan Kyungsoo dan menutup buku catatan Sehun

"Aku kan sud –" Sial. Jika saja Sehun tau wajah Jongin sedekat ini dengannya, ia tak akan pernah mau berbalik kearah Jongin. Sayangnya, ia terlambat menyadarinya dan sekarang jantungnya berdetak sangat kencang.

"Aku minta maaf" ulang Jongin lagi, kali ini lebih pelan dan lembut dari sebelumnya

"Um, kan sudah kubilang tadi. Sudah aku maafkan" Sehun mencoba tersenyum pada Jongin. Sangat sulit menutupi rasa gugupnya saat ini

"Jangan memaafkanku begitu saja. Setidaknya, marahi aku atau apapun itu agar aku tak merasa menyesal lagi"

"Kembalikan catatan catatan Kyungsoo, dan aku sepenuhnya akan memaafkanmu Jongin"

"Tidak mau. Lagipula, sudah kubilang kan kalau mau meminjam catatan padaku saja. Aku sudah mencatat semua materi agar kau bisa menyalin dariku"

Jongin ini kenapa sih. Sehun jadi bingung dengan sikap Jongin. Kemarin Jongin bahkan membentaknya dan memarahinya, sekarang malah menjadi baik padanya. Apa Jongin benar-benar menyesal?

"Ya sudah, berikan catatanmu dan kembalikan catatan Kyungsoo. Lalu, aku akan memaafkanmu"

"Baiklah" ujar Jongin seraya mengambil catatanya dan melempar catatan Kyungsoo kearah namja itu dan membuat si pemilik buku mendelik marah pada Jongin

Sehun hanya menggeleng melihat kelakuan Jongin dan kembali mencatat. Jongin juga kembali diam, dan saat Sehun meliriknya, namja itu ternyata sedang menggambar lagi.

Jongin sendiri tidak bisa memfokuskan diri pada gambarnya saat melihat Sehun berkali-kali meregangkan tangannya saat mencatat. Kelihatannya namja itu kelelahan.

"Sehun, berhentilah sebentar. Lihat tanganmu sudah merah begini" dengan ajaibnya, Yifan muncul di dalam kelas Sehun

"Hyung, kenapa kau disini?"

"Matematika selalu membosankan. Lebih baik aku kesini daripada mendengar segala macam rumus yang entah darimana asalnya"

Sehun terkikik geli. Dia dan Yifan memang tak pernah menyukai matematika, Sehun termasuk hebat dalam semua pelajaran kecuali matematika dan Yifan tidak menyukai semua pelajaran yang memiliki perhitungan di dalamnya.

"Hei Sehun, dia tidak menyakitimu kan?" bisik Yifan sambil melirik Jongin

"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti adik kecilmu sunbae"

"Yifan hyung, kau ini tidak sopan sekali sih masuk ke kelas orang seenaknya. Ayo kita keluar saja" Sehun langsung menarik Yifan saat melihat hyungnya ingin membalas ucapan Jongin

.

.

.

"Kenapa kau tiba-tiba menarikku bocah?" Yifan berusaha melepaskan cengkraman Sehun

"Sudah kubilang kan jangan mencari masalah. Kau berada di tingkat akhir sekarang hyung"

"Memangnya siapa yang ingin mencari masalah?" ujar Yifan tidak terima

"Kau jelas-jelas menatap Jongin seakan ingin memukulnya hyung"

"Yah, itu. Aku hanya ingin mengancamnya agar tidak mengganggumu. Aku juga tidak akan berani mencari masalah dengan anak itu"

"Dasar bodoh"

.

.

.

Sehun berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya, dia dan hyungnya terlalu lama menghabiskan waktu di kantin dan baru sadar saat bel pulang berbunyi. Ia berharap tidak akan menerima hukuman apapun dari seonsaengnim yang mengajar selama ia pergi.

Seperti yang di duga Sehun, kelasnya telah kosong. Dan hanya tersisa tas Sehun di atas mejanya. Untung saja kelasnya belum dikunci.

"Eh?" Sehun terkejut menemukan sebuah sweater berwarna baby blue di bawah tasnya bersama sebuah post notes berbentuk hati.

-Jaga kesehatanmu, hari ini akan sangat dingin. Pakailah sweaternya -

Ya, benar hari ini sangat dingin. Bahkan Sehun yakin suhu di kotanya mencapai 10 derajat. Sialnya, Sehun lupa membawa jaketnya tadi pagi.

Sehun sangat berterima kasih pada siapa saja yang memberikannya sweater ini, dia akan menemani Yifan hyung latihan dan itu berarti dia harus duduk di pinggir lapangan yang dingin. Untungnya, orang ini memberikannya sweater.

Sehun segera mengambil selembar kertas dan menuliskan kata terima kasih lalu meninggalkannya di atas mejanya, karena ia tak tau harus kemana menyampaikan rasa terima kasihnya. Sehun hanya berharap si pengirim yang menemukan dan membacanya.

Setelah itu Sehun langsung berlari dengan cepat menuju kantin. Dia lupa kalau sedang sendiri di dalam kelas, lorong sekolahnya yang sepi juga membuat Sehun ketakutan. Sehun berlari secepat yang ia bisa, dia benar-benar takut pada hantu dan bayangan-bayangan menakutkan terus melintas di pikirannya saat dia sadar dia sendiri.

"Hei Sehun, kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Chanyeol. Dia akan berlatih bersama Yifan dan tim basket sekolah.

"Dia ketakutan karena pergi sendirian ke kelas untuk mengambil tasnya" Yifan menjawab pertanyaan Chanyeol dan diikuti dengan tawa anggota basket lain saat mendengar ucapan Yifan

"Yak, hyung kau ini keterlaluan"

"Lain kali biarkan aku yang menemanimu Sehun" kali ini Jongdae, anak dari kelasnya

"Jangan menggoda adikku muka kotak" Yifan bersiap melempar Jongdae dengan bola yang sedang di pegangnya

"Hyung, kenapa kalian latihan di hari sedingin ini? Bukankah ini musim dingin?" Sehun mengambil tempat di sebelah Yifan yang sedang memakan ramennya

"Justru itu! Kita harus melatih stamina dan fisik kita" kata Yifan berapi-api

"Jangan percaya Hun, dia bahkan mati-matian memprotes ide untuk latihan di cuaca dingin saat Lee seonsaengnim mencetuskan ide ini kemarin" kali ini Junmyeon yang berucap

"Sampai kapan kalian ingin duduk disana?"

Semua menoleh ke asal suara termasuk Sehun, disana ada Jongin yang sedang bersandar pada dinding

"Lee Taemin sedang menunggu kalian di lapangan Yifan"

"Kalian duluan saja" ujar Yifan dan di balas oleh anggukan Jongdae dan yang lainnya.

Sehun baru akan pergi saat Yifan menarik kerah bajunya "Kau mau kemana bocah?"

"Menunggumu latihan hyung, kenapa?"

"Yang benar saja, di luar sana sangat dingin. Kau pulang saja duluan"

"Tidak mau. Kau akan pulang saat malam hyung, lagipula aku tidak tau jalan ke rumah. Kemarin untung ada Zelo yang mau membantuku. Memangnya kau ingin aku tersesat?"

"Bilang saja kau takut sendirian di rumah, dasar" Yifan mengacak kepala Sehun "Pakai sweater itu baru kau boleh keluar"

Sehun akhirnya memakai sweater itu, yang ternyata sangat pas di badannya. Siapapun pengirimnya, dia pasti sangat tau ukuran Sehun

"Hei Sehun, itu terlihat manis untukmu" ujar Yifan sambil menahan tawanya

"Diamlah hyung, aku ini tampan bukan manis" ujar Sehun lalu berjalan keluar sambil menghentak-hentakan kakinya.

.

.

.

Sehun sedang memperhatikan gerak-gerik Yifan saat Kyungsoo dan Baekhyun datang dan duduk di samping kiri dan kanannya.

"Hei Sehun, menunggu hyungmu ya?" ujar Kyungsoo ramah

"Kau tau disini dingin sekali, tapi Kyungsoo memaksaku agar menemaninya untuk melihat Chanyeol" ujar Baekhyun sambil mengeratkan jacketnya.

"Kau bahkan sudah memakai dua lapis baju, sweater ditambah jaket itu Baek, kau bahkan memegang coklat panas yang kita beli tadi. Lihatlah Sehun, dia hanya memakai seragam dan sweater saja" ujar Kyungsoo yang tidak terima disalahkan

Sehun hanya tersenyum tipis, sebenarnya dia masih kedinginan. Hanya saja dia tak ingin sendiri di rumah, lagipula dia tidak hafal jalan menuju rumahnya.

"Hei, lihat. Kenapa Jongin ada di sana bersama Lee seonsaengnim?" Sehun melirik kearah Lee seonsaengnim saat Baekhyun mengucapkan hal tersebut

Ya, disana memang ada Lee seonsaengnim yang selain menjabat sebagai guru matematika, dia juga pelatih tim basket sekolah mereka. Tapi, yang Sehun bingungkan adalah kenapa Jongin terlihat akrab dengan Lee seonsaengnim. Dia bahkan memanggil Lee seonsaengnim dengan namanya tadi saat di kantin.

"Kyung, ayo kita lebih mendekat. Disini terlau jauh untuk melihat mereka"

"Baiklah, mau ikut Sehun?"

Sehun menggeleng, Yifan bilang lebih baik dia disini saja karena hyungnya itu takut Sehun akan terkena bola basket. Sehun juga sebenarnya tidak terlalu berniat untuk menonton.

Sepeninggal Kyungsoo dan Baekhyun, ia melirik ke arah Jongin dan Lee saem tadi. Hanya saja sekarang Jongin sudah tidak berada di sana. Memikirkan Jongin, Sehun jadi malu sendiri. Entah kenapa dia berharap saat salju pertama nanti bisa dilihatnya bersama Jongin. Sial, Sehun sepertinya harus mengurangi asupan drama yang membuat aneh pikirannya.

"Kenapa belum pulang?" Jongin yang sejak tadi dipikirkannya datang dan duduk di samping Sehun

"Menunggu Yifan hyung" Sehun mati-matian mengontrol suaranya agar terdengar biasa saja.

"Ini, kubelikan coklat panas agar kau tidak kedinginan"

"Terima kasih" Pipi Sehun memerah hanya karena perhatian kecil dari Jongin. Ia bahkan tidak merasa kedingingan lagi, kehangatan seakan mengalir di seluruh tubuhnya saat Jongin datang.

"Lain kali, pakailah pakaian yang lebih tebal Sehun. Sekarang sudah memasuki musim dingin. Ini, pakailah jaketku" ujar Jongin sambil menyerahkan jaketnya.

"Bukankah kau akan kedinginan juga kalau begitu?"

"Tidak. Aku sudah pakai sweater. Lagipula aku kan namja, jelas lebih kuat"

"Hei, aku juga namja Jongin"

"Oh, maaf. Aku lupa, kau terlalu cantik sih Sehun"

Sehun merasa kali ini wajahnya benar-benar memerah, dia bahkan sampai malu mengangkat wajahnya dan memilih menyeruput coklat panas pemberian Jongin agar wajahnya tertutupi.

"Sehun, ayo pulang. Sebentar lagi akan hujan" Sehun melirik Yifan. Hyungnya ini selalu menganggu moment Sehun dan Jongin

Sehun melirik Yifan sekilas sebelum tersenyum pada Jongin dan mengucapkan selamat tinggal

"Aku duluan Jongin, sampai jumpa besok" dan dibalas Jongin dengan senyuman yang mampu meluluhkan hati Sehun.

"Hei lihatlah, siapa yang tersenyum seperti orang gila" ujar Yifan saat mereka tengah menunggu bus

"Diamlah hyung"

"Hun, kau dan Jongin memakai sweater couple?"

"Huh?"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Gimana? Makin absurd kah? Maklumi saja oke.

Kritik dan saran memang dibutuhkan, tapi bahasanya yang sopan oke? ^^

Ppyong~