Summary
Aku menyukaimu, tapi aku takut.
Mungkin aku terlihat baik – baik saja
Mungkin aku terlihat kuat
Tapi hatiku bagaikan kertas.
.
.
Warning : It's YAOI! DLDR ! TYPO(s) ! NO BASHING! NO PLAGIAT!BAHASA TIDAK SESUAI EYD!
Cast
Oh Sehun as Wu Sehun
Kim Jongin
other
Cast milik diri mereka sendiri,orang tua dan agensinya. Tapi fict ini asli buatan otak author
Jika ada kesamaan unsur, alur,tema,konflik maupun kalimat itu adalah unsur ketidaksengajaan dan apabila terjadinya typo berlebihan itu adalah unsur kekeliruan -.-
Rated : T
Hope you like this story!
OohSehoonie present….
"Paper Heart"
Chapter 4
.
.
.
"Nanti ada kelas tambahan dari Lee seonsaengnim. Kalian jangan langsung pulang saat bel pulang berbunyi" ujar Kyungsoo di depan kelas
"Aih, kenapa harus hari ini. Apa dia tidak melihat berita perkiraan cuaca? Akan ada salju hari ini. Akan sangat dingin, dan aku tidak membawa jaket maupun sweater" gerutu Baekhyun
"Diamlah Baekhyun, kau sangat cerewet" kali ini Daehyun ikut menanggapi
Sehun sendiri langsung mengambil ponselnya untuk memberitahu Yifan dia akan pulang terlambat hari ini, ia tidak ingin Yifan khawatir padanya sekalian mengingatkan hyungnya yang sedang sakit itu untuk minum obat. Kemarin setelah berlatih, Yifan tiba-tiba demam dan membuat Sehun panik. Untung saja tadi pagi Yifan masih bisa mengantarnya lalu pulang lagi.
"Lee seonsaengnim itu selalu seenaknya bukan?" tanya Jongin di sampingnya
"Mungkin dia hanya ingin kita memperbaiki nilai kita"
"Kubilang akan ada salju! Lebih baik aku pulang sekarang, aku tidak mau mati kedinginan" ujar Baekhyun lagi, kali ini lebih besar daripada sebelumnya
"Sehun, kau mau ikut pulang bersamaku?" Baekhyun mengajak Sehun, ia tidak mau bolos sendirian
"Mianhae Baek,Yifan hyung akan marah kalau tau aku membolos"
"Huwah, Kyungsoo~ temani aku membolos"
Sehun hanya tertawa melihat tingkah Baekhyun, anak itu sepertinya sangat membenci dingin. Sehun juga benci dingin. Ah, bukan benci. Hanya saja daya tahan tubuh Sehun itu lemah, ia jadi gampang sakit kalau sudah memasuki musim dingin seperti sekarang ,padahal Sehun sangat menyukai salju. Dulu sewaktu kecil, Yifan dan Sehun sering bermain salju dan berakhir di tempat tidur karena terserang demam.
Sehun berharap saat salju turun nanti ia sudah berada di rumah bersama Yifan, mereka selalu melewati salju pertama bersama. Sehun hanya tidak ingin hyungnya itu kesepian, namun Sehun juga tiba-tiba merasa bosan melewati moment itu bersama Yifan terus-menerus. Entah kenapa, di ingin melihat salju pertama nanti bersama Jongin.
Sehun melirik Jongin, namja itu sedang tertidur. Sekali lagi, Sehun benar-benar berharap Jonginlah yang selama ini mengiriminya surat maupun sweater kemarin. Tapi, Sehun juga tidak mau banyak berharap. Yifan hyung selalu bilang Jongin tidak akan menyukainya. Sehun jadi sedih sendiri memikirkan perkataan hyungya itu. Tanpa sadar Sehun juga ikut tertidur saat memperhatikan Jongin.
Jongin sendiri sebenarnya tidak benar-benar tertidur, dirinya terus menatap Sehun sejak tadi. Hanya saja Jongin terkejut pada Sehun yang tiba-tiba melihat kearahnya, akhirnya Jongin yang gugup hanya bisa menutup matanya sembari mengintip apakah Sehun masih melihatnya atau tidak. Sialnya, Sehun terus menatapnya sampai tertidur.
.
.
.
Sehun terbangun saat merasakan sakit pada lehernya. Dia memegang lehernya dan menatap ke seluruh penjuru kelas. Kosong. Hanya ada Jongin di sampingnya yang sedang bermain game di ponselnya.
"Kemana yang lain?" tanya Sehun dengan suara serak. Khas orang baru bangun tidur.
"Pulang" jawab Jongin santai sambil tetap memainkan gamenya
"Eh?"
Jongin mematikan ponselnya "Taemin hyung membatalkan kelas tambahan kita, jadi semua sudah pulang Sehun"
"Aih, kenapa kau tidak membangunkanku?" gerutu Sehun sambil membereskan buku yang dijadikan bantalnya tadi
"Kau terlihat sangat menikmati tidurmu Sehun,aku hanya tidak ingin mengganggumu" ucap Jongin "Maaf ya"
"Sudahlah, lupakan saja" ujar Sehun "Jongin, bisa pinjam ponselmu? Punyaku mati, dan aku harus menelpon Yifan hyung agar menjemputku"
Jongin menyerahkan ponselnya pada Sehun tapi Sehun malah mengembalikannya lagi.
"Aku tidak hafal nomor Yifan hyung" ujar Sehun saat mendapat tatapan aneh dari Jongin
"Ya sudah, ayo aku antar saja"
"Aku tidak tau alamat rumahku, aku juga belum sempat menhafal jalannya"
Jongin menggeleng, kan Sehun bukan baru sehari bersekolah disini.
"Apa aku tunggu saja Yifan hyung disini?" Jongin mengangkat bahunya mendengar pertanyaan Sehun "Tapi Yifan hyung saja tidak tau kapan aku pulang"
Jongin yang melihat Sehun kebingungan juga ikut panik "Bagaimana kalau ke rumahku saja?"
"Tapi nanti Yifan hyung akan mencariku"
"Kau bisa mencarger ponselmu di rumahku nanti, lagipula sebentar lagi akan turun hujan. Lihatlah, awannya sudah hitam semua" Jongin menunjuk awan-awan hitam yang mulai bergerak perlahan menutupi langit Seoul serta kilat yang mulai bermunculan disertai suara gemuruh
Sehun yang takut gelap dan petir langsung saja mengiyakan ajakan Jongin, dia juga tidak ingin sendirian di sekolah yang sudah sepi.
"Baiklah Jongin, kau duluan saja. Aku masih harus membereskan buku-buku ini"
"Cepatlah Sehun, aku tunggu di bawah tangga" ujar Jongin seraya berjalan ke luar
Sehun sebenarnya hanya ingin memeriksa apakah si pengirim surat itu meninggalkan pesannya lagi apa tidak, ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya selain dirinya dan Yifan, juga si pengirim surat. Tentu saja.
Sehun tersenyum saat melihat sebuah origami hati lagi-lagi di selipkan ke dalam lokernya. Kali ini bentuknya agak berbeda dengan yang pertama ia terima. Kalau yang pertama hanya berbentuk hati biasa, kali ini ada sepasang sayap ayng menghiasi hati itu.
'Kau tampak manis dengan sweater yang kuberikan. Pakai terus oke?'
Segera di selipkannya origami itu ke dalam saku celananya lalu mengambil sweater yang diberikan oleh si pengirim surat itu kemarin lalu berlari menyusul Jongin. Sehun masih takut sendirian di kelas, kalau bukan untuk mengecek suratnya, Sehun tidak akan mau ditinggal sendiri apalagi disaat mendung seperti sekarang.
.
.
.
Jongin sedang menyetir dan Sehun sedang memperhatikan jalan menuju rumah Jongin, di sekitar jalan terdapat rumah-rumah minimalis. Seperti deretan kawasan perumahan sederhana. Sehun pikir rumah Jongin adalah salah satu dari sekian banyak deretan rumah yang mereka lewati, nyatanya mereka terus melaju sampai deretan rumah yang sejak tadi diperhatikan Sehun berganti menjadi deretan pepohonan yang menjulang tinggi. Berjejer rapi di pinggir jalan seolah menyambut siapapun yang melewati jalan ini.
"Jongin, kenapa rumahmu jauh sekali dari sekolah kita?" tanya Sehun penasaran
"Karena orangtuaku hanya mampu membeli rumah itu" ujar Jongin sambil menunjuk rumah yang beridir sendiri di ujung jalan
"Yang benar saja! Kalau mereka mampu membeli rumah sebesar itu kenapa kau tidak disewakan apartemen saja di dekat sekolah kita? Kau harus menyetir sejauh ini setiap hari?"
"Mengkhawatirkan aku Sehun?" ujar Jongin sambil tersenyum
"Yah, bukan seperti itu. Hanya penasaran"
Jongin tertawa melihat reaksi Sehun "Kita sudah sampai, kau mau turun atau perlu kubukakan pintu untukmu"
"Jangan berbicara aneh-aneh Jongin, aku bisa membukanya sendiri"
"Ya, tapi hati-hati oke? Tangga setelah pagar ini sangat licin jika memasuki musim dingin. Aku akan memarkir mobil ini dulu"
Kalau tau tangganya selicin ini, Sehun akan memilih menunggu Jongin dan naik bersama, setidaknya kalau ia jatuh ada yang menolongnya secepatnya. Dalam hati Sehun menggerutu kenapa orang tua Jongin membeli rumah seperti ini. Ya, memang rumah ini besar dan indah bila dilihat, hanya saja untuk mencapai pintu masuk ia harus menaiki sekitar dua puluh anak tangga yang licin. Untung saja ada pegangan di samping kiri dan kanannya
"Kau sangat lambat Sehun" Bahkan Jongin dengan mudah menyusulnya
"Aku takut terjatuh Jongin, kenapa jalan masuk ke rumahmu ekstrim sekali sih?"
"Agar pencuri tidak mudah masuk mungkin? Ini rumah peninggalan ayah kakekku, jadi yah beginilah"
Sehun sendiri hanya mengangguk-angguk sambil terus berjalan di bantu Jongin.
"Duduk saja Sehun, mau minum apa?" tanya Jongin saat mereka sampai di dalam
"Tidak perlu, aku tidak haus" jawab Sehun. Ia asik memperhatikan ruang tamu Jongin yang tampak megah. Ada foto keluarga Jongin yang menarik perhatian Sehun. Dua namja yang mirip. Ia kenal keduanya.
"Lee seonsaengnim itu kakakmu?" tanya Sehun pada Jongin saat namja itu datang membawa susu coklat untuk Sehun
"Ya, hanya beberapa orang saja yang tau tentang ini. Kuharap kau tidak memberitahu siapapun di sekolah"
"Tenang saja, aku bisa menjaga rahasia" ujar Sehun bangga. Dia bahkan masih menyimpan rahasia kyungsoo dengan aman bahkan dari Yifan hyung sekalipun
"Sepertinya kau sedang menyimpan rahasia seseorang Sehun" ujar Jongin menyelidik
"Eh? Tidak kok. Hanya rahasiamu" ujar Sehun
"Bohong, rahasia Kyungsoo yah?"
Ucapan Jongin sontak membuat Sehun terkaget, bagaimana bisa Jongin tau?
"Santai saja Sehun, aku hanya menebaknya"
"Jangan berbicara yang aneh-aneh Jongin" ujar Sehun lega. Rahasia Kyungsoo masih aman bersamanya
"Aku hanya bercanda, kau saja yang menganggapnya serius" ujar Jongin sambil bangkit mengambil carger untuk ponsel Sehun "Ini, cepat isi baterai ponselmu agar kau bisa menelpon hyungmu. Aku ingin ganti baju dulu"
Sehun masih sibuk melihat-lihat rumah Jongin. Dia semakin penasaran tentang namja itu. Banyak sekali gambar-gambar Jongin, - Sehun tau persis itu gambar Jongin karena sering melihat Jongin menggambar- hanya saja banyak gambar yang tidak dimengerti Sehun, seperti kebakaran hutan, bangunan runtuh, dan hal-hal sejenisnya.
"Sehun apa kau lapar? Mau kubuatkan sesuatu?"
"Tidak perlu Jongin, lebih baik kau keluar. Sepertinya ada yang datang" ujar Sehun saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Jongin dari jendela
"Pasti Taemin hyung, biarkan saja"
"Hei Jongin, dan Sehun" Taemin menatap Sehun heran "Tumben sekali ada temanmu Jong"
"Hei Sehun, kau pasti sudah tau kan aku adalah hyungnya Jongin?" tanya Taemin ramah pada Sehun
"Ya saem"
"Panggil aku hyung, kita tidak berada disekolah" ujar Taemin "Aku hanya mampir sebentar, Sehun sering-seringlah main kesini agar Jongin tidak kesepian. Hyung pergi dulu oke?"
"Jangan perdulikan dia" ujar Jongin "Tunggu disini, aku akan mengambil snack"
Sehun sendiri menatap Jongin bingung, kenapa namja itu sepertinya terus-menerus meninggalkan Sehun sendiri dan kembali lagi.
Terserahlah, Sehun sangat mengantuk untuk memikirkan itu. Lagi-lagi ia tertidur, namun kali ini di sofa rumah Jongin.
Jongin sendiri entah kenapa merasa gugup setiap berdua dengan Sehun, apalagi di rumahnya hanya ada dirinya dan Sehun. Tadinya ia sangat senang saat Taemin datang,namun hyungnya itu sepertinya malah ingin meninggalkannya berdua dengan Sehun.
Jongin sedikit lega saat melihat Sehun tertidur, setidaknya ia bisa memandangi Sehun tanpa perlu takut ketahuan. Dia juga memutuskan untuk memotret Sehun yang sedang terlelap. Jongin jadi merasa seperti stalker Sehun.
"Lebih baik kau pindahkan Sehun ke kamarmu, kasihan lehernya nanti sakit saat ia terbangun" ujar Taemin yang tiba-tiba muncul di sampingnya
"Hyung! kau mengagetkanku. Kenapa tidak jadi pergi?"
"Memangnya siapa yang benar-benar pergi saat badai seperti ini? Aku memutuskan melihat kalian berdua dari ruang kerja, berharap sesuatu yang romantic terjadi, hanya saja aku lupa kalau kau itu membosankan Jongin. Lihatlah Sehun bahkan sampai tertidur saking bosannya"
"Daripada kau hyung, terlalu agresif sampai Minho hyung saja ketakutan waktu pertama melihatmu"
"Ya, ya. Tapi buktinya aku bisa mendapatkannya bukan? Daripada dirimu, main surat-suratan saja terus. Dasar sok misterius" Taemin memukul kepala Jongin, ia sedikit tidak terima dikatai agresif
"Tidak perlu memukulku hyung" Jongin baru akan membalas perbuatan Taemin namun hyungnya itu sudah kabur duluan
Akhirnya Jongin memutuskan untuk membawa Sehun ke kamarnya agar tidur namja itu lebih nyenyak. Lalu ia juga membaringkan diri di samping Sehun.
Sambil menatap Sehun yang tertidur, Jongin merasa malu sendiri akan tingkahnya selama ini. Mengirimi Sehun surat-surat tidak jelas itu bahkan memberinya hadiah. Untung saja perkiraan Jongin akan ukuran badan Sehun itu tepat.
Jongin juga merasa bersalah pada Sehun, sebenarnya dia tau persis dimana letak rumah namja yang sedang tertidur di sampingnya ini. Bahkan semenjak Sehun masuk ke sekolahnya, ia sudah meminta alamat Sehun di bagian tata usaha dan mengikuti Sehun setiap namja itu pulang ke rumahnya. Hanya saja, ia ingin lebih lama bersama Sehun. Mencoba untuk mengenal Sehun walaupun akhirnya ia malah meninggalkan Sehun sampai ia tertidur.
Ia terus menatap Sehun, dari mata Sehun yang sipit lalu berhenti di bibir tipis milik Sehun. Seketika muncul pikiran untuk merasakan bibir Sehun. Jongin langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum saatnya" monolog Jongin. Dia pun memilih untuk keluar saja daripada berakhir melakukan hal yang tidak-tidak pada Sehun.
"Jongin, ponsel Sehun terus berbunyi sejak tadi" Taemin menyambutnya saat ia sampai di ruang keluarga
"Mana ponselnya?"
"Ditempat Sehun mengecasnya. Memangnya dimana lagi?" jawab Taemin cuek
"Kupikir hyung mengambilnya"
"Tidak, tapi lebih baik kau antar Sehun pulang. Hyungnya tampak khawatir pada Sehun"
"Apa hyung mengangkat telponnya?"
"Ya, jika kudiamkan aku takut Yifan malah melapor ke polisi lalu kau berakhir dalam penjara"
"Baiklah, sebentar lagi akan kubangunkan Sehun" ujar Jongin bersiap pergi lagi ke kamarnya
"Jongin"
Jongin berbalik menatap hyungnya yang memanggil namanya "Kenapa lagi?"
"Tolong kontrol emosimu saat bersama Sehun. Kau tidak ingin dia ketakutan saat bersamamu bukan?"
"Aku sedang berusaha hyung"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Huwah… ini updatenya udah termasuk cepet kan? Atau masih terlalu lama?
Rencananya sih liburan ini mau author manfaatkan untuk nulis ff yang belum kelar. Tapi entah kenapa pas mau nulis itu bawaannya males aja. Wkwkwkwk.
Udah pada nonton live performancenya Unfair? Duh Sehun sama Jongin kok jadi imut-imut gitu yah? Tapi tetep aja si Jongin masih keliatan manlynya dan si Sehun lebih keliatan imutnya. Emang beda antara seme sama uke. Terus suaranya si Sehun kok makin lembut ya?
Yaudah deh, itu aja sih. Ada yang mau comment lagi? Atau adakah silent reader yang pengen tobat? Udah mau 2016 loh, masa mau jadi silent reader terus? Satu comment gak bakal bikin kuota kamu abis kok~
Oke, ini kenapa author kayak ngemis komentar sih. Yaudah deh terserah kalian aja mau kasi pendapat atau enggak.
Ppyong!~
