Hope you like the story :)


Cutting adalah salah satu cara untuk mengekspresikan emosi. Bukan cara yang baik memang, tapi semua orang punya pilihan kan? Sehun dan Jongin bukan melakukan cutting untuk mencari perhatian atau mengikuti trend saja. Cutting adalah cara mereka menyalurkan rasa sakit yang mereka terima. Dari orang tua yang tidak pernah ada saat dibutuhkan, dari keluarga yang bahkan lupa kalau mereka ada, dari teman-teman yang menghakimi mereka hanya karena mereka berbeda dan dari diri mereka sendiri yang tidak kuat menghadapi rasa sakit akibat tekanan tersebut.

Oh banyak orang yang bilang lemah sekali, masalah seperti itu saja depresi. Mereka yang bilang begitu mungkin lebih kuat, tapi semua orang punya toleransi yang berbeda untuk rasa sakit kan? Jangan pernah berkata seperti itu lagi dihadapan mereka yang melakukan cutting, karena sungguh itu tidak adil, terlebih jika kalian tidak pernah ada dalam posisi yang sama seperti mereka.

"Ku dengar Jongin sekarang sudah memulai terapinya, kau memberinya kesempatan lagi?" Baekhyun bertanya.

Sehun mengangguk, "Aku memberinya syarat Baek, aku tidak akan mau bertemu atau kembali padanya kalau dia belum sembuh betul."

"Kenapa kau tidak ikut saja sekalian." Baekhyun menggumam.

"Aku kan sudah sembuh." Sehun berkata yakin.

"Berkacalah pada sayatan ditanganmu itu." Baekhyun mendengus lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini.

Sehun hanya terdiam. Memang benar dia masih suka melakukannya. Dia melakukannya karena diam-diam dia merindukan Jongin. Baru satu minggu saja tidak bertemu Jongin rasanya tersiksa. Sehun sendiri sudah lelah terapi. Menurutnya semua therapist itu sama saja. Hanya berkata hadapi saja semua ketakutanmu, mereka kan tidak pernah menghadapi ketakutan yang dia rasakan. Memangnya mereka ada saat Sehun menghadapi rasa sakitnya? Bertemu saja harus berbuat janji, sudah bertemu dia harus menjawab pertanyaan dari mereka, mereka tahu kalau Sehun berbohong, setelah itu dia masih harus membayar mereka mahal. Tapi itu tetap tidak membuat Sehun berubah. Sehun sudah kebal dengan semua yang dikatakan oleh therapist-therapist itu. Sehun dan Jongin itu melakukan cutting karena mereka merasa putus asa atau depresi untuk meminta bantuan dan menerima bantuan untuk keluar dari perasaan sakit hati. Kalau Sehun sungguh sudah lelah dengan semua terapi itu, Jongin tetap ingin mencoba.

"Dengar Sehun, Jongin sudah berusaha berubah demi kembali padamu dan yang kau lakukan malah duduk-duduk minum kopi denganku entah apa yang akan kau lakukan pulang nanti, menyakiti dirimu sendiri lagi? Huh dunia adil sekali. Kalau begini Jongin pantas mendapatkan orang lain saja." Kata-kata Baekhyun sangat menyakitkan memang, tapi dia berkata kenyataanya kan?

"Aku menyembuhkan diriku dengan caraku sendiri. Aku sudah tidak percaya lagi dengan therapist." Sehun menjawab dingin. "Aku pergi dulu. Aku mau membuat dunia ini adil dengan mengobati diriku sendiri." Baekhyun bahkan belum sempat membalas perkataan Sehun, Sehun sudah meninggalkannya.


Dengan susah payah Jongin berkomitmen dengan terapi yang dilakukannya. Membuang semua benda tajam yang selama ini disimpan dikamarnya, mengganti apa pun yang bisa melukai dirinya. Daripada memiliki pisau untuk memasak dia lebih memilih memesan makanan saja atau membuat makanan instant.

Lalu terapi apa yang dimaksud Sehun dapat menyembuhkan dirinya? Sehun sekarang mendaftar jadi seroang sukarelawan untuk menghibur anak-anak kecil yang terkena kanker. Disana dia tidak takut dikucilkan karena mereka tidak tahu latar belakang Sehun. Sehun pun selalu memakai sweater atau baju panjang lainnya untuk menutupi luka goresannya. Menjadi sukarelawan cukup menyibukkan dan menyadarkan Sehun. Sekarang Sehun sadar, dia yang secara fisik sehat-sehat saja harusnya berusaha untuk hidup sehat juga agar bukan hanya fisiknya saja yang sehat, tapi kejiwaannya juga.

Sedikit banyak menjadi sukarelawan ini membantunya melupakan keinginannya untuk melukai dirinya sendiri. Setiap dia merindukan Jongin, dia sudah tidap pusing lagi mencari benda tajam, dia akan mengambil ponselnya dan mengetikan pesan pada Jongin bahwa dia merindukan Jongin. Biasanya Jongin akan membalas hal yang sama juga atau langsung menelponnya. Sehun kan hanya bilang tidak mau bertemu dengan Jongin kalau Jongin belum sembuh betul, bukan tidak boleh menelpon atau mengirimkan pesan juga.

Dengan berkirim pesan begitu Sehun tahu bahwa sekarang Jongin juga berusaha sama kerasnya dengannya. Beberapa kali Jongin mengirimkan foto luka-lukanya yang sekarang tidak pernah bertambah lagi, di foto-fotonya juga terlihat kalau luka-luka Jongin sudah mulai memudar. Lalu bagaimana dengan Sehun? Sesekali Sehun masih menyayat lengannya kalau dia benar-benar tidak tahan dan tidak ada pelampiasan lain. Kenapa dia tidak pernah mau membuang cutternya seperti yang Jongin lakukan? Karena itu cutter pemberian Jongin. Padahal banyak barang pemberian Jongin yang lain, boneka, sepatu, kemeja, tapi kenapa harus cutter yang menjadi favoritnya?


Sedikit banyak kesibukan Sehun membuatnya lupa masalah keinginannya untuk cutting. Dia merasa sudah lebih baik dan lebih pantas. Dulu Sehun merasa dirinya selalu berbeda dengan teaman-teman sebayanya. Sekarang dia merasa lebih baik. Enam bulan hanya saling bertukar pesan dengan Jongin memang membuat Sehun rindu setengah mati. Tapi mengingat semua ini untuk kebaikan mereka berdua, Sehun menekan keras keinginannya untuk cutting saat rindu pada Jongin sudah tak tertahankan.

Jongin tidak kalah kalau masalah perubahan. Dia terlihat lebih segar sekarang. Terlihat hidupnya lebih baik. Mengambil cuti dari kuliah untuk fokus pada terapinya demi mendapatkan Sehun kembali. Tujuan hidupnya adalah membahagiakan Sehun, dia tidak mau terus terpuruk. Dia bertekad untuk sembuh dan melanjutkan hidupnya. Berkuliah kembali, lulus, mendapatkan pekerjaan yang baik, menikahi Sehun dan menjalani sisa hidupnya bersama Sehun dengan bahagia. Semua yang ada dipikirannya memang terasa indah. Maka dari itu dia ingin segera memenuhinya.

Therapist Jongin berkata bahwa Jongin sudah lebih baik sekarang. Semua yang menjadi kebiasaan buruknya dapat dihindari sekarang. Jadi Jongin memutuskan bahwa sudah saatnya Sehun kembali padanya. Sungguh enam bulan tidak bertemu Sehun sangat menyiksanya. Jongin ingin menunjukkan sisi lainnya pada Sehun. Selama tiga tahun menjadi kekasih Sehun, Jongin tidak pernah sekali pun bersikap romantis, Jongin selalu terlihat tidak peduli. Demi meminta Sehun kembali padanya Jongin minta diajari bermain piano oleh Chanyeol. Dia bahkan meminta saran dari Chanyeol bagaimana cara memperlakukan Sehun dengan benar. Chanyeol sempat kebingungan juga, karena selama ini dia hanya berlaku romantis pada wanita bukan pria. Tapi demi membantu Jongin dia pun mengadakan sedikit research bagaimana pantasnya berlaku romantis pada pria.


Hari ini lah saatnya. Jongin meminta bantuan Baekhyun. Yaah walaupun Baekhyun memang terlihat tidak menyukai Jongin, tapi Baekhyun ingin melihat Sehun bahagia kan? Baekhyun membantu Jongin masuk ke apartment Sehun saat Sehun sedang menjalani rutinitasnya sebagai sukarelawan. Jongin memasukkan piano, menyusun lilin serta menghias beberapa sudut ruangan dengan bunga lily putih, satu-satunya bunga yang Sehun sukai lalu menyiapkan makanan kesukaan Sehun, walau pada dasarnya Sehun memang tidak suka makan.

Sehun akan pulang jam tujuh, sedangkan Jongin sudah menyelesaikan semua yang ingin diurusnya pukul enam tadi. Jujur saja Jongin nervous. Tidak bertemu Sehun enam bulan membuatnya berpikir, apa Sehun masih bisa menerimanya lagi? Bagaimana kalau nanti dia di tolak lagi? Jongin sudah memikirkan bagaimana bunuh diri yang cepat kalau dia ditolak lagi oleh Sehun.

Jongin memeriksa lagi penampilannya, melatih lagi kemampuan bermain pianonya, lalu menyalakan lilin yang disediakannya agar terlihat lebih romantis, sungguh ini bukan Jongin sekali. Tapi demi Sehun apa yang tidak kan? Sekarang setelah semuanya siap, Jongin hanya tinggal menunggu pesan dari Baekhyun yang berjaga di bawah untuk mengabarkan kedatangan Sehun.

Saat sedang melatih kembali kemampuan bermain pianonya, ada pesan masuk dari Baekhyun yang berisi, dia sedang menuju ke atas. Jongin menghirup udara dan melepaskannya perlahan, dia gugup, tangannya saja sampai berkeringat, semoga dia tidak salah menekan tutsnya nanti.

Terdengar suara pintu yang terbuka. Jongin semakin gugup. Jongin bisa mendengar Sehun yang menggerutu karena lampunya tidak bisa dinyalakan, dalam hati Jongin meminta maaf karena merusak lampu Sehun sementara.

Akhirnya Sehun memasuki tempat Jongin diam sedari tadi dengan lilin, piano dan bunganya.

"Hai Sehun." Sapa Jongin dengan senyumnya.

"Oh bagaimana bisa kau.." Sehun terkejut melihat Jongin disini. Bagaimana pun dekatnya, dia tidak pernah memberikan password apartmentnya pada Jongin.

"Sehun, kumohon jangan berkata apa pun dulu. Aku ingin kau mendengarkan ini, akan ku ceritakan semuanya padamu nanti."

Tanpa menunggu jawaban Sehun, Jongin mulai menekan tuts-tuts pianonya dan bernyanyi

I remember all of the things that I thought I wanted to be
So desperate to find a way out of my world and finally breath
Right before my eyes I saw, my heart it came to life
This ain't easy it's not meant to be
Every story has it's scars

When the pain cuts you deep
When the night keeps you from sleeping
Just look and you will see
That I will be your remedy
When the world seems so cruel
And your heart makes you feel like a fool
I promise you will see
That I will be, I will be your remedy

No river is too wide or too deep for me to swim to you
Come whatever I'll be the shelter that won't let the rain come through
Your love, it is my truth
And I will always love you
Love you

When the pain cuts you deep
When the night keeps you from sleeping
Just look and you will see
That I will be your remedy
When the world seems so cruel
And your heart makes you feel like a fool
I promise you will see
That I will be, I will be your remedy

Sehun mendengarkan setiap kata yang dinyanyinkan Jongin, menikmati setiap nada yang dibuat Jongin. Sadar atau tidak air mata menetes karena merasa tersentuh. Selama ini memang tidak pernah ada yang membelanya saat dia dibilang berbeda. Dia tidak pernah merasakan suatu perlindungan, bahkan dari Baekhyun. Tapi sekarang dengan adanya Jongin dia merasa berharga dan diinginkan.

Jongin mengakhiri nyanyian dan permainan pianonya. Dengan cepat menghampiri Sehun dan menghapus air mata yang terlanjur menetes.

"Maafkan aku, aku terlalu sensitif." Sehun berkata sesenggukan sambil tersenyum canggung.

Jongin tersenyum, sungguh dia merindukan Sehun. Bisa memegangnya seperti ini menimbulkan perasaan lega dihatinya. Rasanya terbasuh sudah rindunya selama ini.

"Sudah jangan menangis. Aku menyiapkan makan malam untuk kita. Bukankah sudah lama kita tidak makan bersama?"

Sebenarnya makan bukanlah salah satu kebiasaan mereka, selain cutting mereka juga mempunyai gangguan makan.

"Oh ku kira kau tidak menyukai makanan Jong."

Jongin tersenyum mendengar sindiran Sehun, "Itu aku yang dulu Sehunna."

Sambil berjalan ke ruang makan mereka bercanda seperti biasa, seperti dulu tidak pernah terjadi apa-apa.

Mereka makan dengan tenang, " Jadi Sehun, aku sudah berubah." Jongin berkata saat mereka menikmati pudding sebagai makanan penutup mereka.

"Lalu?" Sehun pura-pura tidak tahu.

"Kembalilah padaku Sehunna."

Sehun tertawa kencang, membuat Jongin bingung. "Kalau aku tidak mau menerimamu lagi mana mungkin sekarang aku masih makan disini bersamamu."

Jongin jadi tersenyum mendengarnya. Perjuangannya tidak percuma!

"Oh kita perlu mengabadikan ini Jong. Aku mandi dulu sebentar. Bisa tolong kau ambilkan polaroidku?" Sehun tiba-tiba beranjak dan sibuk mengambil handuk serta baju-bajunya lalu masuk ke kamar mandi.

"Dimana kamera Polaroidmu?" Jongin jadi ikut beranjak dan mencari kamera Sehun.

"Di laci sebelah kanan tempat tidurku Jong." Teriak Sehun dari dalam kamar mandi. Jongin pun memasuki kamar Sehun, "Laci sebelah kanan." Gumamnya. Dia menghampiri laci tersebut dan mengernyit bingung. "Laci tingkat pertama atau kedua?" Gumamnya lagi. Dari pada salah, akhirnya dia membuka laci pertama dan mengernyitkan dahinya lagi, dia melihat cutter pemberiannya masih ada di laci Sehun. Bukankah kalau sudah berubah harusnya Sehun tidak menyimpannya lagi?

"Ketemu tidak Jong?" Sehun berteriak, sepertinya dia baru selesai mandi.

Jongin menutupnya kembali lalu membuka laci kedua, mengambil kamera Polaroid tersebut dan mengisinya.

"Ketemu tidak Jong?" Sehun bertanya lagi sambil memasuki kamarnya.

Jongin mendongak, "Ini sedang ku isi, sabar lah sebentar."

End


This Remedy from Adele really makes me cry

Just want to know, if you have a friends who do cutting please don't leave them.

they need help, not attention

they need love, not tears

cause like all people, they want to be normal