chocolate date
~another sequel~
(standard disclaimer and warning from last chapter apply)
.
.
.
Ungu, hitam, dan emas. Skema warna itulah yang mendominasi Christian Constant Chocolate Shop yang baru saja dibuka di Ginza, memberinya kesan mewah. Suatu perbedaan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan toko utamanya di Paris yang menonjolkan kesan ramah, dan juga jauh berbeda dari toko coklat Yukio yang lebih menonjolkan warna-warna pastel. Namun anehnya, toko ini memberikan nuansa yang sama dengan toko-toko coklat di Paris, dan hal itu membuatnya merasa nostalgik.
Untuk alasan kenapa Yukio berada di acara grand opening toko coklat itu, semuanya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Ryouta. Beberapa hari yang lalu ia dengan penuh semangat mengatakan bahwa ia mendapat undangan kesini, dan bahwa ia pikir Yukio akan senang jika bisa menjadi satu dari beberapa orang pertama yang mencicipi coklat buatan mereka. Tentu saja Ryouta benar. Pemuda blasteran itu hampir tidak pernah salah jika tentang Yukio.
"Malam, Ryouta."
"Tatsuyacchi!"
"Aku senang kau bisa datang."
"Mana mungkin aku melewatkan undangan kalian, Tatsuyacchi~ Ah, perkenalkan, ini—"
"Kasamatsu Yukio-san, benar? Aku sering mendengar tentangmu dari Ryouta. Perkenalkan, aku Himuro Tatsuya."
"Salam kenal," Yukio membungkuk singkat untuk membalas perkenalan pemuda cantik itu. Ketegangannya begitu kentara dari pundaknya.
"Tidak perlu tegang begitu, Kasamatsu-san. Bukankah kau sudah biasa dekat dengan Ryouta?" Himuro tertawa renyah, sementara Kise hanya memiringkan kepalanya dengan muka polos.
"Uh, kurasa auramu dan aura Ryouta berbeda, meskipun kalian sama-sama model." Yukio mengusap tengkuknya canggung.
Tentu saja ia mengenali orang itu, Himuro Tetsuya, mengingat ia beberapa kali melihatnya di majalah yang sama dengan Ryouta. Begitu pula dengan beberapa selebritis lain yang tampak tersebar di dalam ruangan. Kalau Yukio tau tempat ini akan penuh orang-orang terkenal begini, ia mungkin akan menolak ajakan Ryouta.
"Yukio-saaan, apa itu artinya menurutmu aura model Tatsuyacchi lebih besar dariku?" protes Ryouta. Himuro, yang tampaknya tidak asing dengan rengekan Ryouta, hanya tertawa.
"Jangan konyol, Ryouta. Semua orang tau seberapa besar pesonamu."
"Dan semua orang tau kau sedang berusaha merebut posisi nomor satu dariku, Tatsuyacchi."
"Oh ayolah, jangan mengatakannya seakan kau keberatan. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa tidak akan menarik jika tidak ada tantangan?"
Yukio mengenali kilatan di mata Ryouta, kilatan yang memastikan bahwa apa yang dikatakan pemuda cantik di depan mereka itu benar. Ia hanya menaikkan alis, tidak mengerti mengenai persaingan di antara dua orang yang terlihat dekat itu.
"Maa, duduklah dan cicipi coklat-coklat kebanggaan Christian Constant sementara kupanggilkan Atsushi," Himuro kembali tersenyum seraya mengisyaratkan mereka untuk duduk di salah satu meja yang kosong.
"Ah, kalau Murasakicchi masih repot lebih baik tidak usah, Tatsuyacchi. Dia pasti masih harus menyapa banyak orang 'kan?"
"Percayalah, dia akan sangat berterima kasih kalau aku memberikannya alasan untuk menghindari semua orang-orang itu," ujar Himuro pelan. "Lagipula Atsushi sudah lama ingin bertemu dengan Kasamatsu-san. Dia sangat suka coklat bon bon buatanmu, Kasamatsu-san."
Pemuda berambut hitam itu melempar sebuah kerlingan pada Yukio sebelum menghilang di antara kerumunan, dengan efektif mengabaikan senyuman bangga yang mengembang di wajah Ryouta. Menuruti saran Himuro, kedua pemuda itu akhirnya mencicipi coklat-coklat yang ditawarkan Christian Constant.
Coklat yang dibumbui dengan sari bunga masih menjadi ciri khas dari cabang Christian Constant ini, begitu pula dengan menu makan siang yang mereka tawarkan. Yukio memutuskan untuk memesan ganache verbena dan jasmine souffle mereka. Harus diakui bahwa perpaduan coklat premium dan sari bunga buatan tangan di toko ini tidak kalah dengan yang di Paris sana, begitu juga dengan bentuk coklatnya yang menarik. Kekenyalan dan aroma marshmallow buatan mereka pun tidak kalah, membuatnya membayangkan bagaimana rasanya jika dicampur dengan segelas coklat panas. Ryouta juga tampak menikmati truffle mereka.
Yang tidak disangkanya, adalah bahwa yang membuat coklat-coklat ini adalah seorang pemuda dengan tinggi mencapai 2 meter dan muka yang terlihat malas.
"Malam, Kise-chin, Kasamatsu-san," sapanya seraya menduduki kursi kosong di sebelah kanan Kasamatsu.
Himuro menghela napas berat melihat kelakuannya. "Atsushi, kau seharusnya memperkenalkan dirimu terlebih dahulu."
"Hmm? Tapi aku capek," protesnya.
Himuro sudah hendak melayangkan protes lain, tetapi Kasamatsu memutuskan untuk menengahi. "Tidak apa, Himuro-san. Salam kenal, aku Kasamatsu Yukio."
"Un. Murasakibara Atsushi. Senang bertemu denganmu. Kisechin sering kali membicarakanmu."
Yukio melirik Ryouta dari sudut matanya. "Kuharap dia tidak mengatakan yang aneh-aneh."
Protes Ryouta dihiraukan oleh Yukio, sementara ia telah memasuki diskusi intensif mengenai coklat dengan pettisiere berambut ungu di sampingnya. Ryouta yang merasa diabaikan, memutuskan untuk menumpahkan keluhannya pada Himuro.
Percakapan di meja mereka berlangsung selama beberapa puluh menit, sebelum akhirnya Murasakibara meminta Himuro mengijinkannya memakan jatah coklatnya, dan Yukio memutuskan bahwa sudah waktunya mereka pulang.
"Mampirlah lagi kapan-kapan, Kasamatsu-san, Kise-chin."
"Atsushi, kau tidak seharusnya bilang begitu."
"Kenapa memangnya, Muro-chin?"
Himuro menghela napas, sementara Yukio dan Ryouta hanya tertawa ringan.
"Kami pasti akan mampir lagi, ya kan, Yukio-san?"
"Ya, dan akan kubawakan coklat bon bon untukmu nanti, Murasakibara."
Tak lama kemudian keduanya telah melaju di jalanan Ginza yang masih tetap ramai meskipun malam telah larut.
.
"...-san? Yukio-san!"
"Huh? Ada apa, Ryouta?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu," Ryouta mengernyitkan dahi, meskipun pandangannya masih tetap ke arah jalanan. "Apa yang sedang kaupikirkan, Yukio-san."
"Tidak ada."
Jawabannya meluncur terlalu cepat, dan Ryouta tau bahwa itu adalah bohong.
"Yukio-san." Jangan bohong padaku, Yukio mendengar kata tak terucap itu.
"Maaf, Ryouta, hanya hal kecil kok. Lupakan saja."
Ryouta diam, tidak percaya akan hal itu tetapi juga tidak memaksa.
"Apa menurutmu Murasakibara akan membuat pastri 'Sonia Rykiel' versinya sendiri nanti?" tanya Yukio dengan nada bercanda, berusaha mengganti topik pembicaraan mereka.
Ryouta mendengus, tapi kemudian senyumnya mengembang. "Pastinya. Dan kurasa Murasakicchi akan menamainya 'Himuro Tatsuya'."
Yukio melemparkan tatapannya pada pemuda yang tengah menyetir itu dengan satu alis terangkat.
"Himuro dan Murasakibara...?"
"Yep, mereka bersama."
"Oh...". Yukio merasa bodoh tidak menyadarinya lebih awal, melihat bagaimana kedekatan keduanya.
"Yukio-senpai."
"Hm?"
"Apa kau tidak menyukai toko Murasakicchi?"
"Wha—apa yang membuatmu berpikiran bodoh begitu, Ryouta."
"Dahimu berkerut sedari kita keluar dari sana tadi, Yukio-san."
Yukio terdiam, menimbang-nimbang jawabannya. Ia tidak ingin Ryouta mengira ia membenci toko coklat itu, tidak, tetapi ia juga tidak ingin mengatakan alasan bodohnya.
Ryouta tetap diam, menunggu.
"Aku hanya... sedikit merasa khawatir," jawabnya pada akhirnya. Ia memalingkan wajahnya agar Ryouta tidak bisa melihat ekspresinya.
"Khawatir?"
Tanpa melihat pun Yukio tau bahwa kedua alis Ryouta sedang ditekuk. Ia bisa mendengar itu dalam suaranya.
"Uh, kau sadar bahwa aura toko Murasakibara benar-benar mengingatkanmu pada aura Paris—aura rumahmu, bukan? Dan disana ada teman-temanmu. Aku hanya berpikir bagaimana jika suatu saat nanti kau akan lebih menyukai berada disana—"
"—Yukio-san," Ryouta memotongnya dengan cepat, nada suaranya naik beberapa oktaf, membuat Yukio terlonjak di kursinya. "Daripada kau mendapat pikiran bodoh itu?"
Yukio merasa urat di dahinya berkedut. Ia tahu itu memang pemikiran bodoh, tapi mendengar Ryouta yang mengatakan itu membuatnya merasa makin bodoh, dan itu membuatnya kesal.
"Mau seberapa banyak pun toko coklat yang ada disini maupun di Paris, toko Yukio-san tetap akan jadi favoritku. Ah, bukan, yang benar adalah, mau bagaimanapun juga tempat favoritku adalah di sisi Yukio-san. Tentu, kampung halamanku, tempat keluarga tinggal adalah Paris, tetapi 'rumahku' adalah di sisi Yukio-san. Jadi tolong jangan mengatakan hal macam itu lagi, karena itu sama saja dengan meragukan perasaanku padamu."
Untuk beberapa saat Yukio tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya seakan kaku, tenggorokannya terasa panas, dan ia cukup yakin bahwa pipinya telah merona merah.
"Maaf," ujarnya dengan suara tercekat, "dan terima kasih, Ryouta."
Ryouta hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang menyiratkan beribu kata yang tak dapat terucap.
.
fin
.
