~Misunderstand Love~ / PART 3
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T
Naruto bersikeras tidak mau ikut turnamen karate tersebut bahkan setelah Ayah dan Ibunya telah mengizinkan dan telah menjelaskan padanya untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti 'menjaga nama baik keluarga mereka'. Apa untungnya menjaga nama baik keluarga jika harus menahan keinginan putra bungsu mereka atas hal yang paling ia sukai. Naruto memang orang yang mudah marah, tapi, amarahnya bisa cepat dikendalikan jika semua hal terjadi dibicarakan dengan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal. Ketika Minato dan Kushina menemui Hatake Kakashi di sekolah untuk membicarakan masalah pendaftaran Naruto untuk turnamen karate itu, guru karate Naruto itu hanya memberitahu alasan kenapa Naruto yang harus kembali ke dunia karate. Karena, satu-satunya yang bisa diandalkan di sekolah mereka hanya Uzumaki Naruto, sebagai orang yang tak pernah terkalahkan sejak mengikuti turnamen karate untuk pertama kalinya di sekolah dasar. Kakashi mengatakan kalau kejadian saat itu adalah wajar untuk membela diri dari seseorang yang ingin membunuhmu. Meskipun Naruto didiskualifikasi, tidak ada yang pernah menuduhnya ingin membunuh lawannya saat itu. Naruto hanya merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol emosi sampai memutuskan untuk tidak akan ikut turnamen karate hingga melepas jabatan ketua klub karatenya. Kushina dan Minato sebenarnya ingin Naruto untuk kembali berlatih karate, tetapi, putra bungsu mereka itu selalu menolak. Ketika mereka meminta Kakashi untuk membatalkan pendaftaran Naruto untuk ikut turnamen, Kakashi menolaknya. Sampai akhirnya, Kushina mengirim Menma untuk menemui Kakashi Sensei dan membicarakan masalah Naruto setelah dua hari berlalu dan Naruto tetap tak ingin ikut. Menma adalah orang yang paling ingin melihat Naruto untuk kembali di dunia karate. Ketika ia membujuk Hatake Kakashi seperti yang dilakukan kedua orangtunya, semua alasan dan jawaban Kakashi memang masuk akal. Menma tahu kalau dalam hal ini, Narutolah yang paling ingin kembali, tetapi, adiknya itu tidak ingin merusak nama baik keluarga mereka.
"...Kun! Menma-kun!" suara Hinata akhirnya membuyarkan lamunan Uzumaki Menma. Mereka sedang berjalan menuju ruang klub sains untuk rapat setelah jam sekolah selesai.
"Hah? Ada apa?" tanyanya bingung
"Kau melamun"
"Aah, Naruto membuatku pusing lagi"
"Naruto-kun? Anak SMP memang suka membuat masalah, bukan? Omong-omong, dua hari ini aku tidak melihatnya" kata Hinata
"Dia tidak berbicara dengan siapapun di rumah, aku, ayah, bahkan ibu"
"Kalian bertengkar?"
"Tidak, anak itu hanya bosan mendengar kami memberitahunya masalah turnamen karate yang harus dia ikuti"
"Turnamen karate? Naruto-kun ikut turnamen seperti itu?" tanya Hinata kaget. Menma mengangguk.
"Dia tak bisa lepas dari karate sejak sekolah dasar, tapi, karena beberapa masalah, dua tahun terakhir ini Naruto tidak mau ikut turnamen karate lagi" jelas Menma. Hinata mengangguk-angguk. Pantas saja Uzumaki Naruto jago berkelahi, dia ternyata sudah sering mengikuti turnamen-turnamen karate sejak sekolah dasar.
"Mereka masih mengejar!" seru Uchiha Sasuke tertahan. Naruto, Sasuke, Kiba, Shikamaru, Shino, dan Sai sedang berlari menelusuri gang-gang sempit yang sepi karena beberapa musuh mereka sedang mengejar. Ini gara-gara Kiba, Shino, dan Sai yang berkelahi dengan salah satu anggota musuh. Lebih tepatnya, mereka bertiga mengeroyok musuh. Musuh akhirnya menghubungi anggotanya yang lain dan membawa sembilan orang teman-temannya. Satu di antara mereka adalah pemuda yang pernah Naruto hajar sampai masuk rumah sakit saat turnamen karate dua tahun lalu. Ketua mereka adalah yang terkuat, kelas dua SMA dan berada di sekolah yang sama dengan Menma. Naruto tahu kalau ketua musuh lebih kuat darinya, pemuda itu bernama Gaara, Sabaku Gaara. Naruto pernah melawannya, satu lawan satu, tapi, pemuda Uzumaki itu tak pernah menang dari Gaara.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menyerang lebih dulu?" bentak Naruto marah ketika mereka masih berlari untuk menghindar. Naruto belum sempat menginterogasi tiga temannya itu karena ia tidak tahu, siapa yang berbuat salah lebih dulu. Saat Naruto ingin membantu teman-temannya, Sasuke mengatakan untuk mundur dulu dan menanyakan masalahnya pada si pengeroyok, Kiba, Shino, dan Sai. Naruto langsung setuju, karena kelompok mereka memang tidak boleh menyerang lebih dulu tanpa alasan yang kuat dan siapa yang membuat masalah lebih dulu.
"Aku hanya membantu Sai" kata Kiba
"Aku juga." Mereka bertiga memang satu kelas. Jadi, beberapa hal yang terjadi pada salah satu di antara mereka pasti lebih dulu diketahui oleh teman satu kelas.
"Kami hanya bermaksud menyerang anak tadi. Kami tidak tahu kalau dia akan memanggil teman-temannya" ujar Kiba
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Sasuke
"Anak itu mengganggu pacarku!" gerutu Sai kesal.
"Haaaah, masalah gadis lagi?" gumam Shikamaru malas.
"Mengganggu Ino? Seharusnya kau memberitahuku dan aku akan membantu menghajarnya! Bagaimana dia bisa berpikir untuk mengganggu anak perempuan?" seru Naruto yang malah ikut bersemangat dan mendukung. Sasuke dan Shikamaru langsung menghela nafas. Naruto berhenti. Dan semua temannya juga ikut berhenti.
"Kita harus menyerang, bukan?" tanya Naruto lalu tersenyum menantang.
"Tentu saja" sahut Sasuke.
Tepat ketika mereka berbalik, sepuluh orang siswa telah berdiri tegak di depan mereka. Dua orang adalah siswa SMA, sementara sisanya, masih SMP.
"Dia terlihat semakin mengerikan" bisik Sasuke ke arah Naruto ketika ia menatap Sabaku Gaara.
"Kalau begitu, apakah menurutmu belum terlalu terlambat untuk kita kabur?" nada bicara Naruto terdengar sinis.
"Jangan bercanda. Kau bukan Uzumaki Naruto jika kabur di saat seperti ini" ujar Sasuke dengan senyum sinis.
"Uchiha Sasuke memang tidak pernah salah" kata Naruto sambil melonggarkan dasinya. Pemuda itu lalu menatap lurus ke depan. Ke arah Sabaku Gaara. Lalu, senyum tantangan muncul dari bibirnya.
Selalu seperti itu, Naruto dan Sasuke yang melawan Gaara. Karena jika mereka menyerang bersama, pemuda menyeramkan dengan mata dingin itu akan bisa dilumpuhkan. Naruto tidak tahu kenapa mereka bisa sampai benar-benar bermusuhan dengan Gaara dan teman-temannya. Awalnya adalah ketika Naruto masih di kelas kelas dua SMP semester pertama. Saat itu, salah satu seniornya meminta bantuan karena memang hampir satu sekolah mengenal Uzumaki Naruto yang kekuatannya tak pernah terkalahkan. Senior tersebut terlibat dalam perkelahian dengan adik laki-laki Sabaku Gaara. Karena ingin membantu, Sasuke akhirnya ikut. Setelah kejadian itu, entah kenapa mereka bermusuhan sampai sekarang bahkan dengan anggota masing-masing yang bertambah. Sementara senior yang saat itu bermusuhan dengan adik laki-laki Sabaku Gaara, sudah masuk ke SMA yang entah. Setiap perkelahian yang melibatkan satu saja anggota mereka dan anggota musuh, perkelahian pembalasan selanjutnya malah melibatkan seluruh anggota.
"Ini kemenangan pertamaku, Sabaku Gaara" kata Naruto setelah membanting Gaara dengan suara bedebum yang keras di atas tanah. Pemuda Uzumaki itu lalu menunduk dan mencengkeram kerah baju Gaara dengan senyum kemenangan. Sasuke yang berada dibelakangnya, tersenyum menang juga.
"Hujan" gumam Gaara sambil menatap dingin Naruto. Kening Naruto mengerut. Pemuda itu lalu menatap langit dan hujan langsung turun dengan deras. Naruto merasakan perih pada luka-luka memar di wajah dan bibirnya. Ia melepas kedua tangannya dari kerah baju pemuda Sabaku itu dengan kasar.
"Kita pulang!" seru Naruto pada teman-temannya. Sasuke tidak menduga kalau hari ini hujan akan turun, padahal cuaca tadi pagi baik-baik saja dan tidak ada pemberitahuan dari berita perkiraan cuaca di televisi bahwa sore ini hujan akan turun.
"Hyuuga Hinata..."
Naruto yang hendak berjalan pergi langsung berhenti. Ia menoleh dan menatap tajam Sabaku Gaara yang sudah berdiri sambil membersihkan wajahnya yang juga penuh memar.
"Kau mengenalnya?" tanya Naruto curiga. Gaara menatap Naruto dengan senyum sinis.
"Dia bukan perempuan biasa yang bisa digapai oleh anak SMP sepertimu" ujar Gaara. Naruto hendak bertanya lagi tapi Gaara langsung mundur dengan teman-temannya. Kedua tangan Naruto mengepal karena kesal.
"Oniichan?" panggil Kushina diseberang sana.
"Ada apa, Bu?" tanya Menma. Pemuda itu menjawab telepon Ibunya yang tiba-tiba. Biasanya, Ibunya tidak akan menelpon kalau Menma sudah memberitahu alasan kenapa ia harus terlambat pulang sekolah.
"Oniichan, masih rapat?"
"...Sebentar lagi selesai" kata Menma setelah melirik jam di dinding yang menunjukan hampir pukul lima sore.
"Naru-chan berkelahi lagi. Kali ini sangat parah...demam, Naru-chan demam karena kehujanan" kata Kushina panik.
"Astaga! Aku akan langsung pulang setelah rapat selesai. Apa obat demamnya masih ada?"
"Sudah habis"
"Nanti aku akan mampir ke apotik dulu. Ibu tenang saja, Naruto bukan anak kecil yang akan lemah hanya karena demam." Menma menghela nafas. Tumben sekali Naruto sakit. Keluarga mereka memang sangat jarang sakit, apalagi Naruto. Mendengar adiknya itu tiba-tiba jatuh sakit sedikit membuat Menma kaget.
Ketika rapat selesai, Menma akhirnya membatalkan janji untuk makan malam bersama teman-teman satu klubnya karena ia harus segera pulang dan membelikan obat untuk Naruto. Lagipula, di luar masih hujan, jadi, mereka akan makan malam bersama lain waktu. Menma mencari payung di gudang penyimpanan karena tidak membawa payung sendiri. Tentu saja, karena tidak ada yang mengira kalau cuaca akan tiba-tiba berubah.
"Hinata-san, aku bisa mengantarmu sampai ke halte. Di gudang sudah tidak ada payung yang tersisa" kata Menma. Hinata menoleh cemas karena tidak mungkin ia menunggu di sekolah sendirian di tengah hujan deras seperti ini. Di luar juga sudah hampir gelap.
"Huh?...t-terimakasih" ujar Hinata. Tidak ada pilihan lain. Sekolah sudah sepi dan menolak tawaran Uzumaki Menma sama saja dengan membuat penyesalan pada diri sendiri. Mereka akhirnya menggunakan satu payung tersebut, berdua.
"Aku harus mampir ke apotik sebentar, kau tidak keberatan?" tanya Menma ketika mereka sudah berjalan semakin jauh dari sekolah.
"Tidak, tidak apa-apa." Menma tersenyum lalu menuju ke salah satu apotik paling dekat dengan sekolah mereka. Ia membeli beberapa obat demam untuk Naruto. Sementara Hinata, sedang menelpon kakaknya dan memberitahu kalau ia akan pulang agak terlambat karena hujan.
"Siapa yang sakit?" tanya Hinata ketika mereka sudah berjalan menuju arah rumah Uzumaki Menma.
"Naruto, dia kehujanan dan akhirnya demam" kata Menma.
Karena mereka menggunakan satu payung untuk berdua, tubuh mereka jadi setengah basah. Akhirnya, Menma menyuruh Hinata untuk mampir sebentar ke rumahnya.
"Tidak apa-apa. Naruto pasti akan senang kalau kau datang menjenguknya" kata Menma dengan senyum kecil. Setelah berpikir sebentar, Hinata akhirnya setuju dan mampir ke rumah pemuda itu. Sekali saja menjenguk Uzumaki Naruto mungkin tidak terlalu buruk. Hinata juga ingin melihat bagaimana anak nakal itu ketika sedang sakit. Pasti dia meringkuk dibalik selimut. Wajahnya memerah dan berkeringat. Uap dari mulutnya terasa panas. Dan tubuhnya yang tentu saja sangat lemah untuk bergerak.
"Tadaima!" seru Menma begitu membuka pintu dan menaruh payung di dekat rak sepatu.
"Sumimasen..." gumam Hinata sambil ikut membuka sepatunya yang basah ketika Menma sedang membuka sepatunya. Hinata menatap isi rumah tersebut dengan teliti dan melihat beberapa foto yang terpajang di dinding dengan senyum kecil.
"Oniichan!" seru Kushina panik dan tiba-tiba muncul di atas tangga dan berlari ke bawah menghampiri putra sulungnya lalu memeluknya sebentar. Hinata terbelalak menatap Uzumaki Kushina. Rambut merah panjang dan wajah yang ramah. Perempuan yang sangat cantik.
"Naru-chan tidak mau disuruh istirahat! Dia terus bermain game sejak pulang tadi. Dia hanya mengganti seragamnya yang basah dan Ibu hanya mengobati luka-luka di wajahnya. Badannya panas tapi dia tetap tidak mau...hah? Oniichan, kau membawa teman?" gerutuan panik Kushina langsung berhenti begitu ia melihat Hyuuga Hinata yang berdiri dibalik punggung Menma. Kushima menatap Hinata dengan wajah heran.
"A-aaah, ini Hyuuga Hinata-san, teman sekelasku. Aku menyuruhnya mampir karena diluar masih hujan dan rumahnya masih cukup jauh" jelas Menma sambil memberi jalan agar Ibunya bisa berkenalan dengan Hyuuga Hinata.
"S-s-s-saya Hyuuga Hinata" kenal Hinata sambil membungkuk dalam-dalam dengan senyum malu karena Kushina menatapnya terlalu berlebihan.
"Oh, aku Ibu Menma. Maaf kalau kami ribut, rumah ini memang tidak pernah tenang karena putra bungsuku yang sulit diatur" kata Kushina yang merasa tidak enak dengan teman putra sulungnya karena telah berlari-lari turun dari tangga sambil berteriak. Hinata hanya membalas dengan senyum baik-baik saja. Kushina kemudian mempersilahkan Hyuuga Hinata untuk masuk dan segera membuatkan teh hangat super cepat.
"Ini obatnya" kata Menma sambil memberikan obat yang telah ia beli dari apotik pada Ibunya.
"Di mana Ayah?"
"Menemani Naru-chan di kamar. Hyuuga-san, anggap saja rumah sendiri. Bibi harus ke atas dan mengurus putra bungsu yang sakit" kata Kushina. Hinata mengangguk cepat. Kushina kemudian setengah berlari kembali ke lantai dua menuju kamar Naruto.
"Mau menjenguk Naruto?" tawar Menma
"Tentu saja" jawab Hinata sedikit ragu. Senyum di wajahnya terlihat karena melihat sikap Uzumaki Kushina yang bersemangat dan lincah. Mirip dengan Naruto dan tepat seperti apa yang pernah diceritakan Naruto tentang Ibunya.
Menma kemudian mengajak Hinata menuju kamar Naruto yang berada di lantai dua. Disebelah kamarnya. Hinata melihat-lihat lagi isi rumah Naruto yang tampak tidak terlalu besar tetapi terasa sangat nyaman. Begitu mereka berada di depan pintu kamar Uzumaki Naruto yang terbuka, Hinata mendengar suara Naruto yang sedang ribut-ribut dan suara-suara game yang sedang dimainkannya.
"Aku tidak perlu istirahat. Lagipula, aku sudah meminum obatnya, bukan?" gerutu Naruto.
"Semua orang sakit harus istirahat kalau sudah selesai minum obat, Naru-chan. Otousan, katakan sesuatu" suara Kushina.
"Daripada menyuruh Naru-chan untuk istirahat, lebih baik mencari cara agar kita bisa membiusnya. Okaasan, kau tahu kalau Naru-chan lebih keras kepala darimu, bukan?" kata Minato yang hanya duduk sambil melihat Naruto bermain game. Minato tahu kalau percuma saja menyuruh Naruto untuk istirahat selama putra bungsu mereka itu merasa tubuhnya tidak terlalu sakit sampai harus berbaring di atas tempat tidur seperti laki-laki lemah.
"Naruto, ada tamu untukmu" kata Menma sambil berjalan masuk ke kamar adiknya itu. Naruto yang sedang bermain game menoleh dengan kening mengerut.
"Hah? siapa..." Naruto berubah bisu sambil menatap Hyuuga Hinata yang berdiri di samping Menma dengan kedua alisnya yang naik. Naruto kaget. Sangat kaget! Bagaimana Hyuuga Hinata bisa tiba-tiba muncul di pintu kamarnya saat hari hampir gelap seperti ini? Panik dan bingung, Naruto tidak sadar kalau dirinya langsung melompat ke tempat tidur dan meringkuk dibalik selimut. Naruto baru menyadari kondisi tubuhnya sekarang. Demamnya semakin tinggi dan tubuhnya berkeringat. Ternyata, ia benar-benar sakit. Sementara Minato dan Kushina menatap putra bungsu mereka itu bingung. Sejak kapan Naruto bersikap seperti itu? Panik dan bersembunyi dibalik selimut? Pasti demam telah membuat kerja otaknya berantakan.
Hinata juga termasuk orang yang paling kaget melihat sikap Naruto tadi. Hinata tahu kalau Naruto memang masih kelas tiga SMP, tetapi, ia tidak tahu kalau Naruto akan melompat ke tempat tidur dan bersembunyi dibalik selimut seperti anak SD yang takut ketika melihat hantu.
"Naru-chan?" panggil Kushina cemas ambil membuka selimut yang membungkus seluruh tubuh putra bungsunya. Minato kemudian membantu membaringkan Naruto dengan benar. Irama nafas Naruto yang cepat terdengar sangat jelas. Bahkan keduanya matanya tak membuka karena demamnya yang tinggi.
"Oniichan, jaga adikmu sebentar, Ibu mau membuatkannya bubur" kata Kushina sambil beranjak setelah menyelimuti Naruto dengan baik. Minto ikut keluar dari kamar bersama Kushina. Sementara Menma mendekat ke arah tempat tidur Naruto lalu menempelkan salah satu telapak tangannya sebentar pada kening adiknya itu.
"Panas sekali" ujar Menma yang juga khawatir melihat wajah Naruto yang sampai memerah dan berkeringat. Hinata juga ikut mendekat dan membungkuk sedikit untuk melihat wajah Uzumaki Naruto yang sedang demam. Di saat-saat seperti ini, Naruto benar-benar terlihat seperti anak-anak yang butuh perlindungan.
"Hinata-san, apa kau bisa menjaganya sebentar? Aku mau mengganti seragamku" kata Menma
"O-oh, baiklah" jawab Hinata cepat. Menma tersenyum kecil lalu berjalan keluar dari kamar Naruto tanpa menutup pintu. Hinata menghela nafas lalu duduk di pinggir tempat tidur Naruto. Gadis Hyuuga itu mengambil handuk kecil yang sudah tersedia di atas meja di sisi tempat tidur Naruto lalu mengeringkan wajah Naruto yang berkeringat.
"Demammu tinggi sekali" gumam Hinata setelah selesai membersihkan keringat di wajah Naruto. Gadis itu kemudian kembali duduk menghadap ke depan sambil melamun. Sesekali, ia menoleh dan kembali membersihkan keringat Naruto. Anak itu tidak tidur, hanya saja kesadarannya yang hampir hilang membuat kedua matanya tak sanggup untuk dibuka. Hinata mengedarkan pandangannya di seluruh isi kamar Naruto. Kamar yang sedikit berantakan. Memang cocok dengan sifat Naruto. Kening Hinata mengerut ketika menyadari ada foto Naruto dan teman-temannya di atas meja tadi. Dengan seragam SMP dan senyum lebar mereka. Ada enam orang termasuk Naruto. Hinata hanya mengenali satu orang selain Naruto dalam foto itu. Uchiha Sasuke yang sering terlihat bersama Naruto. Tidak jauh dari foto tersebut, ada foto Naruto dan Menma. Naruto dengan senyum lebar dan Menma dengan senyum kecilnya. Melihat dua bersaudara itu berdiri bersama dalam foto tersebut membuat mereka benar-benar seperti saudara kembar dengan hanya warna rambut yang berbeda. Tapi Hinata tahu dan menyadarinya sekarang. Ia bisa membedakan Naruto dan Menma meskipun Naruto mungkin akan menggunakan rambut palsu seperti rambut kakaknya lagi. Ekspresi wajah mereka berbeda...
"Auw!" rintih Hinata ketika rambutnya tiba-tiba ditarik. Ia menoleh dan melihat tangan Naruto di belakang punggungnya sudah lemas dan jatuh kembali di atas tempat tidur. Hinata menghela nafasnya melihat Naruto yang masih bisa menarik rambutnya bahkan ketika kesadarannya sedang hilang dan kedua matanya masih menutup.
"Hei, kau sudah sadar?" tanya Hinata hanya untuk memastikan apakah Naruto sedang mengigau karena menarik rambutnya.
"Hn? Tentu saja sadar" sahut Naruto dengan suaranya yang sedikit serak sambil membuka kedua matanya. Hinata benar-benar duduk menghadap ke arah Naruto sekarang. Gadis itu menatap Naruto dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Aku menyukai mereka" gumam Naruto pelan. Pemuda itu menatap Hinata dengan kedua matanya yang sedikit membuka dan punggung tangan kanannya yang berada di atas kening. Ia benar-benar merasa pusing sekarang. Dan sedikit susah untuk bernafas seperti biasa. Tetapi ia bisa melihat Hyuuga Hinata sedang menunduk menatapnya.
"Apa?" tanya Hinata heran.
"Rambut ini" jawab Naruto sambil menarik pelan rambut Hinata yang memang sebagiannya tergerai di depan. Hinata memperhatikan rambutnya yang baru saja ditarik oleh Uzumaki Naruto.
"Rambutku?" tanya Hinata heran. Untuk pertama kalinya Hinata merasa aneh mendengar ada orang yang menyukai rambutnya. Hinata bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana bentuk dan panjang rambutnya. Yang ia ingin, asalkan kepalanya memiliki rambut, tentu saja.
"Ya. Rambut indigo panjang milik Hinata-neechan" gumam Naruto. Hinata menatap Naruto kaget. Lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya pada jam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Di luar, hujan lebat tadi sudah berhenti.
"Naru-chan?" panggil Kushina yang sudah muncul dengan semangkuk bubur hangat. Seharusnya, Naruto makan dulu baru meminum obatnya tadi. Tetapi, anak itu langsung meminumnya begitu Kushina datang dengan obat yang baru saja dibelikan Menma. Hinata langsung berdiri dan membungkuk dalam-dalam ketika berhadapan dengan ayah Naruto yang sejak tadi memang terlihat tenang-tenang saja. Minato memperkenalkan dirinya pada gadis Hyuuga itu begitupun sebaliknya. Menma masuk kemudian dengan pakaian formalnya.
"Aku akan mengantar Hinata-san pulang" kata Menma
"Hinata-chan, tidak mau makan malam di sini saja?" tanya Kushina
"T-tidak usah, Bi. Terima kasih" ujar Hinata merasa tidak enak.
"Oniichan hati-hati mengantarnya" kata Kushina
"Hati-hati Hyuuga-san" ujar Minato dengan senyum kecil.
"Hati-hati, Neechan" ujar Naruto setelah duduk dan bersandar di kepala tempat tidurnya. Hinata membalas semuanya dengan senyum kecil dan membungkuk dalam-dalam sebelum akhirnya ia dan Menma keluar dari kamar Naruto.
Hyuuga Neji menghela nafas dengan sifat kerasa kepala Hinata. Adiknya itu tidak pernah mau lagi berangkat dan pulang dengan mobil jemputan. Hal itu sudah terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Neji tidak tahu kenapa Hinata tiba-tiba meminta pada Ayah mereka agar ia bisa menggunakan bus untuk berangkat dan pulang sekolah. Hinata berjanji akan baik-baik saja dan meyakinkan Ayah dengan caranya sendiri sampai Ayah mereka yang lebih keras kepala dari siapapun itu menyetujui permintaan Hinata. Tetapi, dua hari terakhir Neji mendengar kabar dari beberapa temannya bahwa mungkin, Hinata pulang pergi dengan bus ke sekolah karena menyukai seseorang dalam kelasnya, mereka juga satu klub. Namun, Neji tidak pernah tahu siapa laki-laki yang mungkin disukai oleh adiknya itu. Mereka juga jarang berbicara di sekolah selain karena kelas dan jaraknya yang berbeda. Neji hanya mengetahui beberapa teman satu kelas Hinata, tapi, ia tidak pernah memperhatikan siapa saja teman satu klubnya. Neji juga belum memberitahu Ayahnya tentang alasan kenapa Hinata ingin berangkat dan pulang sekolah dengan bus karena kabar tentang adiknya yang sedang menyukai seseorang itu belum benar-benar terbukti. Berbicara pada Ayahnya tanpa bukti sama saja dengan berbicara pada anak kecil yang tidak pernah mengerti tentang keinginan orang lain dan hanya perduli pada keinginannya sendiri.
"Kalian masih belum bicara?" tanya Neji ketika melihat Sabaku Gaara dan teman-temannya yang masih berdiri di beranda sekolah. Hinata mengikuti arah pandang kakaknya sebentar lalu kembali menatap ke depan dengan wajah kesal.
"Dia menjadi seperti Ayah, lebih dingin dari siapapun" ujar Hinata. Neji hanya mengangguk-angguk lalu membuka pintu mobil yang dari tadi sudah menunggunya.
"Kalau tidak ada keperluan lain, langsung pulang saja" ujar Neji
"Um"
Neji kemudian masuk ke dalam mobilnya. Beberapa meter setelah mobil menjauh dari gerbang sekolah, Neji menyuruh sopirnya berhenti untuk melihat dengan siapa adiknya itu berjalan menuju halte. Neji menoleh dan melihat melalui kaca belakang mobilnya. Hinata masih berdiri di sana, seperti sedang menunggu seseorang. Beberapa menit kemudian, kening Hyuuga Neji mengerut. Ia menatap lebih tajam ke arah adiknya.
"Uzumaki...Menma?" gumam Neji kaget ketika melihat bagaimana Hinata tersenyum pada pemuda berambut merah jabrik itu. Neji mengenalnya, dia tahu kalau Uzumaki Menma memang satu kelas dengan Hinata. Tapi, apa pemuda itu juga satu klub dengan Hinata? Apakah Uzumaki Menma yang dimaksud teman-temannya tentang seseorang yang disukai Hinata? Apakah seseorang itu Uzumaki Menma?
"Jalan, Pak" ujar Neji kemudian. Ketika Hinata menyukai seseroang, maka, semuanya akan menjadi rumit jika Ayah mereka tahu.
Menma membuka pintu kamar Naruto dan melihat adiknya itu sedang tidur-tiduran sambil membaca komik. Melihat kakaknya datang, Naruto langsung menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya lalu segera duduk dengan wajah tegang. Pasti kakaknya datang untuk membicarakan masalah turnamen itu lagi.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Menma sambil menaruh tas sekolahnya di atas meja belajar lalu duduk di kursi berlajar Naruto setelah mengarahkan kursi tersebut agar menghadap ke arah adiknya.
"Um"
"Ibu kemana?"
"Ke rumah Sasuke." Menma mengangguk sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah plastik hadiah transparan dengan ukuran kecil yang berisi beberapa permen dan vitamin. Menma kemudian melemparkannya ke arah Naruto dan adiknya itu refleks mengangkapnya. Naruto menatap hadiah kecil tersebut dengan kening mengerut. Rasanya tidak mungkin kalau hadiah seperti perempuan ini dari kakaknya. Ya, seperti perempuan, dengan plastik kecil transparan dan pita merah yang mengikat ujungnya.
"Dari Hinata-san" kata Menma kemudian.
"Eh? Hah? B-benarkah?" tanya Naruto dengan mata berbinar. Menma hanya tersenyum kecil.
"Tunggu! Tapi kenapa ada permen? Aku bukan anak kecil!" seru Naruto
"Siapapun tidak akan mengira kau anak kecil kalau kerjamu hanya berkelahi. Kecuali Hinata-san, yang melihatmu masih sebagai anak-anak" ujar Menma. Naruto langsung memasang wajah cemberut. Kenapa Hyuuga Hinata menganggapnya seperti anak kecil?
"Kau harus ikut turnamen itu, Naruto" kata Menma tiba-tiba. Naruto langsung menatap kakaknya tajam.
"Ayah dan Ibu tidak pernah menganggapmu sebagai perusak nama baik keluarga. Aku juga. Kakashi sensei juga. Dan semua teman-temanmu. Aku tahu kalau sebenarnya kau ingin kembali pada karate lagi. Kau harus membuktikannya pada semua orang, bahwa kau tidak pernah berniat membunuh siapapun. Siapa yang sebenarnya membunuh siapa. Lagipula, kau bukan Naruto jika terus menghindar hanya karena masalah kecil seperti ini. Bukankah kau pernah bilang kau akan mengajariku bagaimana cara orang melakukan karate? Karena aku tidak pernah tertarik pada hal seperti itu. Aku menjadi ingin belajar karate setelah melihat bagaimana caramu melakukannya. Aku tertarik karena melihatmu yang selalu bersemangat katika berlatih karate. Tapi, karena kau akhirnya menyerah karena kejadian saat itu, aku berubah pikiran. Aku tidak lagi ingin belajar dari orang yang telah membuang karate. Aku akan bertarung dengan caraku sendiri tanpa teknik apapun." Menma berbicara panjang lebar untuk membuka pikiran sempit Naruto yang masih merasa baik-baik saja jika tidak ikut turnamen apapun asalkan ia masih bisa berlatih di sekolahnya. Tatapan tajam Naruto pada Menma mulai melunak.
"Aku ingin ikut turnamen karate lagi" ujar Naruto
"Tapi?" tanya Menma
"Aku tidak mau nama keluarga kita menjadi jelek jika aku berbuat kesalahan lagi"
"Karena cara pikirmu itulah Hinata-san menganggapmu masih anak-anak yang hanya bisa berkelahi setelah pulang sekolah tanpa berani melawan dan membuktikan apakah kau benar-benar hebat dalam berkelahi, dengan mengikuti turnamen itu tentu saja. Apa kau pikir Ayah dan Ibu akan membencimu jika kau melakukan kesalahan? Mereka tidak penah bisa membencimu, atau aku, apapun kesalahan kita. Karena kita anak mereka, dan mereka mencintai kita, maka, benci atau hal buruk apapun itu, tidak akan pernah terjadi dalam keluarga kita" kata Menma dengan senyum kecil. Naruto akhirnya menatap sendu dan membenarkan kata-kata Menma. Iya, karena mereka keluarga, karena mereka saling menyayangi, maka, masalah apapun tidak akan bisa dengan mudah membuat hubungan mereka berantakan.
"Naruto!" suara Sasuke tiba-tiba terdengar. Lalu, suara teman-temannya yang lain. Menma beranjak dari duduknya.
"Mereka pasti akan menyuruhmu untuk ikut sekarang" kata Menma sambil menepuk kepala Naruto lalu keluar dari kamar adiknya itu.
Kushina akhirnya pulang, namun tidak sendirian, Ibunya bersama Sasuke, Kiba, Shikamaru, Sai, dan Shino. Naruto menghela nafas. Pasti teman-temanya itu sudah membuat janji untuk datang bersama ke rumahnya, dan seperti yang sudah Menma katakan, mereka pasti akan menyuruh Naruto untuk ikut turnamen itu sekarang. Ibu pasti pergi untuk berbicara dengan Sasuke dan teman-temannya.
"Kukira kau tidak akan bisa sakit" sindir Kiba begitu mereka semua sudah berada di kamarnya.
"Aku sembuh hanya dengan istirahat satu malam, hebat bukan?"
"Kau pasti sudah tahu kenapa kami ke sini selain untuk menjengukmu, kan?" tanya Shikamaru
"Aku tahu"
"Jadi, kau harus ikut" kata Shino
"Ada pesan dari Sakura" seru Sasuke sambil mengangkat tangan kanannya, "katanya, Naruto harus ikut kalau tidak ingin semua giginya hilang." Ekspresi semua teman-temannya langsung terlihat takut mendengar pesan yang Sasuke bawa. Naruto meringis.
"Ino akan membuatkanmu kue paling enak kalau kau menang" kata Sai
"Hei, Sai, apa tidak ada hal lain yang bisa Ino lakukan selain membuat kue?" tanya Kiba bosan
"Tidak ada" jawab Sai singkat dan wajah serius setelah terlihat berpikir beberapa detik
"Kapan kau bertemu Sakura-chan, Sasuke?" tanya Naruto heran
"Bicara apa kau? Kami tidak bisa bertemu. Aku menghubunginya lewat email melalui ponsel temannya. Peraturan di asramanya semakin ketat, kau tahu? Sakura berjanji kalau dia akan datang untuk menonton saat turnamen nanti. Karena itu, kami bisa berkencan. Jadi, Naruto, kau harus ikut turnamen itu, apapun yang terjadi" ujar Sasuke dengan sedikit ancaman diakhir kalimatnya. Mereka memang sulit sekali bertemu Sakura selain hari-hari libur panjang. Karena Sakura tinggal di asrama perempuan yang peraturannya cukup mengerikan. Tapi memang cocok dengan Sakura yang juga tidak kalah menyeramkan apalagi ketika sudah marah. Seandainya Sakura tidak tinggal di asrama seperti itu, dan bersekolah bersama Naruto dan Sasuke, sudah pasti Naruto akan absen setiap hari dengan alasan patah tulang dan semacamnya. Tetapi, keberadaan Sasuke di sisi gadis itu adalah satu-satunya penyelamat bagi Naruto dari kegiatan Sakura yang entah kenapa sangat hobi memarahi dan memukulnya. Tetapi, Sakura pernah bilang, kalau hobinya bertengkar dengan Naruto adalah karena Naruto, bodoh!
"Naruto, bagaimana dengan Onnesan yang tergila-gila padamu itu?" tanya Kiba. Sasuke langsung tertawa keras mendengar pertanyaan Kiba. Oneesan yang tergila-gila katanya? Naruto dan Sasuke memang sudah menceritakan insiden saat malam festival itu pada empat temannya tersebut. Mereka menceritakan yang sebenarnya, tapi, Sasuke sedikit melebih-lebihkan dengan mengatakan 'mungkin sebenarnya' Oneesan itu menyukai Naruto. Dan diantara mereka berempat, hanya orang bodoh yang akan percaya, hanya Inuzuka Kiba.
"Umm, mungkin Oniisan akan mengajaknya untuk ikut menonton" kata Naruto dengan senyum lebar. Ya, mungkin Menma akan mengajak Hinata untuk ikut menonton pertandingannya. Pasti kakaknya akan mengajak gadis Hyuuga itu. Mereka kemudian saling mengobrol dan tertawa bersama serta Sasuke yang sesekali melihat serius ke arah Naruto.
[TBC]
