~Misunderstand Love~ / PART 4

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T


"Hyuuga Hinata... dia bukan perempuan biasa yang bisa digapai oleh anak SMP sepertimu." Kalimat itu terus mengganggu Naruto sejak beberapa hari terakhir. Kalimat tersebut terdengar seakan-akan Sabaku Gaara sangat mengenal Hyuuga Hinata. Naruto tentu saja menyangkal untuk berpikir bahwa Sabaku Gaara memiliki hubungan dengan Hyuuga Hinata, apapun jenis hubungan tersebut. Bagaimana mungkin Hinata mengenal pemuda menakutkan seperti Gaara? Apapun yang berkaitan dengan Hinata, semuanya mampu mengganggu pikiran Naruto. Uzumaki Naruto berpikir bahwa ia hanya senang melihat Hinata, ia hanya menyukai rambut indigo panjang gadis itu. Naruto benar-benar berpikir bahwa dirinya hanya mengagumi gadis Hyuuga itu tanpa menyadari perasaan apa yang sebenarnya ia miliki untuk Hyuuga Hinata. Karena dia tidak pernah jatuh cinta, jadi, dia tidak tahu bagaimana perasaan seseorang ketika jatuh cinta. Naruto tidak menyadari kalau sebenarnya, Hyuuga Hinata telah membuatnya jatuh cinta sejak hari di mana ia pertama kali menyukai saat melihat apapun yang Hyuuga Hinata lakukan. Naruto tidak tahu kalau ia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Yang ia tahu hingga saat ini adalah, bahwa perasaannya pada Hyuuga Hinata hanya karena ia senang melihat gadis itu, dan juga menyukai rambut panjangnya. Hanya itu. Naruto tidak tahu, kalau keadaan perlahan akan menyadarkannya. Semakin lama ia terlibat dengan Hyuuga Hinata, maka ia akan menyadari dengan sendiri siapa Hyuuga Hinata baginya. Naruto tidak pernah mengorbankan apapun, tapi, ketika suatu saat nanti ia menyadari perasaannya sendiri, entah apa yang akan dia korbankan untuk bisa bersama Hyuuga Hinata.

"Kau tidak fokus!" seru Hatake Kakashi sambil menjatuhkan tubuh Naruto di atas lantai untuk kesekian kalinya. Kakashi Sensei sedang melatih Naruto untuk turnamen yang akan diadakan kurang dari satu bulan ini. Ini hari ketiga mereka berlatih sejak Naruto sembuh dari demamnya dan setuju untuk kembali pada karate. Naruto akan pulang terlambat dalam beberapa minggu ke depan untuk berlatih bersama Kakashi sensei setelah sekolah usai.

"Istirahat dulu sebentar" ujar Kakashi sensei sambil menarik tangan Naruto, membantu muridnya itu berdiri. Naruto mengacak rambutnya yang penuh keringat lalu mengambil handuk kecil yang berada di atas tasnya kemudian mengeringkan rambut hingga lehernya dengan handuk tersebut. Kakashi sensei kemudian melemparkan satu botol minuman dingin ke arahnya.

"Kita tidak punya waktu untuk beramin-main, Naruto. Cobalah untuk sedikit fokus saat latihan" kata Kakashi Sensei. Naruto menenggak menumannya hingga tersisa setengah botol.

"Aku sudah berusaha untuk fokus, tapi beberapa hal terus mengganggu pikiranku"

"Aku memberimu waktu, apapun masalahmu, selesaikan itu sebelum latihan besok dimulai, mengerti? Lagipula, kau masih SMP, tidak mungkin kau memiliki masalah yang sangat serius, bukan?"

"Baiklah-baiklah" sahut Naruto dengan wajah malas mendengar ocehan gurunya. Bagaimana cara menyelesaikan rasa penasarannya pada kalimat Sabaku Gaara yang entah kenapa masih terdengar jelas di telinganya. Mungkin ia harus bertanya pada seseorang yang tahu.

"Na-ru-to!" Shion merangkul leher Naruto dari belakang dengan tiba-tiba. Naruto yang sedang asik berjalan hampir terjungkal ke belakang karena Shion menarik lehernya sangat erat.

"Shion-chan? kenapa kau tiba-tiba ada di sini" tanya Menma yang juga kaget ketika melihat Shion yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka. Shion melepas rangkulannya dari leher Uzumaki Naruto berganti dengan menggandeng tangan kanannya erat. Gadis itu bergelayut manja pada Naruto sambil tersenyum lebar.

"Oniisan benar, kenapa Neechan tiba-tiba muncul di sini?" tanya Naruto heran. Kakak beradik tersebut tentu saja sangat kaget melihat Shion yang sekarang seharusnya tidak berada di Tokyo, malah muncul tiba-tiba seperti itu. Mereka berteman sudah sangat lama dan berpisah karena Shion dan keluarganya yang pindah dari Tokyo. Shion hanya sesekali datang ke Tokyo dan bertemu mereka. Tetapi sekarang, gadis itu muncul dengan seragam salah satu SMA di Tokyo.

"Aku kembali ke Tokyo sekarang" kata Shino

"Woah! Benarkah?" seru Naruto dengan senyum lebar. Shion mengangguk antusias. Dan Menma hanya tersenyum kecil.

"Kau teman Menma?" tanya Shion pada Hinata yang sejak tadi hanya berdiri di samping Menma sambil menatapnya kaget. Menma menoleh ke arah Hinata. Juga Naruto.

"Eh? A-ah? I-iya" sahut Hinata kaget

"Nama?"

"...Hyuuga Hinata." Shion kemudian mengangguk dengan senyum lebar. Mereka kemudian berjalan kembali. Hari ini, latihan Naruto setelah sekolah usai batal karena Kakashi Sensei mendadak ada urusan penting. Dan sebagai gantinya, latihan besok akan digandakan karena besok memang hari libur. Tetapi, latihan harus tetap dilakukan meski libur. Itu yang dikatakan Kakashi sensei. Sementara Shion, memang berencana mengunjungi Naruto dan Menma setelah sekolahnya usai. Shion sengaja tidak memberi kabar apapun pada mereka tentang kepulangannya ke Tokyo. Ia ingin memberi kejutan karena mereka memang sangat jarang dan sulit sekali bertemu. Hanya berkirim email, pada Naruto. Shion merasa tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik jika dengan Menma. Satu-satunya alasan ia bisa bersikap santai di depan Menma adalah karena keberadaan Naruto yang selalu ribut dan membuat suasana berubah menyenangkan. Karena dimatanya, Menma, begitu sulit untuk dicerna. Meskipun mereka sudah berteman sangat lama, tapi, sikap Mema yang selalu tenang membuatnya khawatir.

"Naruto, aku akan mengantar Hinata-san sampai ke halte. Shion-chan, tunggulah di dalam sampai aku kembali" kata Menma begitu mereka sudah berada di depan rumah keluarga Uzumaki.

"M-mengantarku? Tidak perlu" ujar Hinata yang merasa tidak enak karena keberadaannya yang mungkin akan mengganggu nostalgia mereka bertiga.

"Ada yang harus kubicarakan, karena itu aku akan mengantarmu" ujar Menma kemudian. Hinata akhirnya mengangguk dengan agak ragu.

Naruto dan Shion akhirnya masuk setelah Menma dan Hinata berjalan cukup jauh. Seperti biasa, Kushina menyambut Naruto dengan pelukan dan langsung ribut begitu melihat ternyata Naruto bersama Shion.

"Tidak bertemu Oniichan?" tanya Kushina

"Menma mengantar temannya ke halte" jawab Shion. Gadis itu akhirnya bercerita saat Kushina bertanya, kenapa ia bisa tiba-tiba berada di Tokyo.

"Onnechan, kau akan menginap di sini?" tanya Naruto

"Um" sahut Shion mengangguk. Naruto tersenyum lebar kemudian naik ke kamarnya untuk mengganti seragam sementara Shion mengobrol dengan Ibunya. Saat pulang tadi, ia sebenarnya ingin bertanya pada Hinata apakah gadis itu mengenal Sabaku Gaara. Tetapi, setelah melihat ternyata Hinata bersama kakaknya, Naruto berubah pikiran, ia harus bertanya dulu pada Menma. Mungkin kakaknya itu tahu karena mereka satu sekolah.

Shion tersenyum lebar setelah menyelesaikan ceritanya pada Kushina. Gadis itu kemudian beranjak ke kamar Naruto. Dan akhirnya, Shion hanya akan menemani Naruto untuk beramin game atau mendengarkan kisah-kisah gila Naruto dan teman-temannya. Mereka selalu berbagi cerita. Shion dan Naruto. Tetapi, akan berbeda jika Shion bersama dengan Menma. Mereka seperti dua orang yang hanya berteman dua atau tiga tahun saja. Naruto tidak tahu kenapa kakaknya dan Shiori tidak bisa sangat dekat seperti dirinya dan gadis itu. Ketika memikirkan hal tersebut, Naruto hanya memiliki satu jawaban ; itu urusan orang dewasa.

"Aaaakh! Kenapa aku selalu kalah?" seru Shion kesal saat game yang sedang mereka mainkan lagi-lagi dimenangkan oleh Naruto. Pemuda itu tertawa lebar.

"...Naruto" panggil Shion. Nada suaranya terdengar tiba-tiba berubah, terdengar pelan dan sedih. Naruto langsung duduk menghadap Shion dengan ekspresi kaget. Gadis itu menunduk.

"Ada apa?"

"Apa kau juga mengenalnya?"

"Hm?"

"Gadis tadi. Hyuuga Hinata"

"Hinata-neechan? Aku mengenalnya, tentu saja, kenapa?" tanya Naruto. Shion diam untuk beberapa saat sementara Naruto yang bingung sedang menunggu jawabannya. Gadis itu lalu bergumam sangat pelan, "apa dia..."

"Shion-chan!" suara Uzumaki Menma yang tiba-tiba terdengar membuat Shion sangat kaget. Gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah. Uzumaki Menma sudah berdiri di sana. Naruto menatap Shion heran. Apa yang baru saja ingin gadis itu tanyakan?

"Hinata-neechan sudah pulang?" tanya Naruto. Menma mengangguk. Shion menatap Menma masih dengan wajah kaget.

"Tidak mau mengunjungiku?" tanya Menma dengan senyum yang jelas terlihat di wajahnya. Naruto melihat senyum itu dengan mata terbelalak. Sudah sangat lama sejak Naruto tidak melihat senyum kakaknya yang seperti itu. Senyum yang lebar dan terlihat sangat nyaman.

"E-eh? Tentu saja aku akan berkunjung. Bukan hanya mengunjungi anak bodoh ini" sahut Shion cepat sambil memukul pelan kepala Naruto. Gadis itu langsung berdiri dan menyambar tas sekolahnya yang ada di atas tempat tidur. Naruto hanya melihat dengan bingung. Padahal beberapa detik yang lalu, Shion terlihat sedih, kenapa sekarang gadis itu langsung berubah gembira?

"Jangan mengganggu kami sampai waktunya untuk makan malam" kata Menma kemudian berjalan menuju kamarnya. Shion menoleh ke arah Naruto lalu meleletkan lidahnya dengan senyum lebar. Gadis itu kemudian menyusul Uzumaki Menma. Naruto langsung menghela nafas. Sejak kapan sikap kakaknya pada Shion begitu mencolok seperti tadi?

"Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?" pikir Naruto.


"Aku mau mengerjakan beberapa urusan klub. Mau menemaniku di sini sampai makan malam?" tanya Menma ketika Shion sudah berada di dalam kamarnya. Pemuda itu membukan baju seragamnya lalu mengganti dengan kaos biasa.

"Aromanya masih sama" gumam Shion sambil duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil salah satu bantal yang bisa dipeluknya.

"Hm?" Menma yang sedang mengambil beberapa buku tentang klubnya menoleh pada gadis itu.

"Aroma kamarmu" kata Shion kemudian tersenyum kecil. Menma hanya tersenyum lalu membawa buku-buku tersebut di atas tempat tidur.

"Ada kegiatan baru di klubmu?" tanya Shion sambil melihat-lihat buku sains milik Menma.

"Um. Kami harus melakukakn beberapa penelitian kecil untuk bisa diperlihatkan pada para siswa" kata Menma sambil mulai menandai beberapa poin dalam buku yang menurutnya penting. Shion melirik jam dinding di kamar Menma. Masih ada sekitar dua jam sampai waktunya makan malam.

"...Menma?" panggil Shion pelan.

"Hm?" sahut Menma sambil terus menandai poin-poin penting dalam bukunya tanpa melihat ke arah Shion yang sedang menatapnya cemas. Shion memejamkan matanya sambil menghela nafas. Ketika ia membuka mata dan masih melihat Menma sibuk dengan buku-bukunya. Shion tahu, dia harus bertanya pada pemuda itu.

"Ada seseorang yang sedang kau sukai?." Pertanyaan Shion langsung membuat kepala Menma terangkat dan langsung menatap ke arahnya. Menma menatap Shion kaget. Ekspresi wajahnya berubah sedih. Pembicaraan mengenai perasaannya selalu berakhir dengan membuat Shion menangis. Dan sekarang, gadis itu memulainya lagi. Bertanya tentang hal-hal seperti itu. Menma sudah berusaha menghindar agar pembicaraan mereka setiap kali bertemu tidak akan sampai menyentuh ke arah pembicaraan tentang perasaannya pada siapapun. Apalagi berbicara pada Shion.

"...Berhenti terus bertanya hal yang sama" kata Menma

"Aku hanya ingin tahu" ujar Shion. Suaranya berubah tegas.

"Kau selalu membuatku merasa bersalah jika bertanya hal-hal seperti itu. Jangan membuat dirimu sakit" kata Menma serius sampai keningnya mengerut.

"Kau menyukai gadis itu, bukan? Hyuuga Hinata"

"Shion-chan!" suara Menma berubah keras

"Aku melihatnya, Menma. Caramu menatapnya"

"Shion-chan!" suara Menma mulai terdengar membentak. Tetapi, semuanya tidak bisa menghentikan kesal di hati Shion. Rasa kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa berhenti memojokkan Uzumaki Menma. Ia hanya ingin tahu, apa yang dipikirkan Menma tentangnya? Tentang gadis bernama Hyuuga Hinata.

"Aku menyukaimu. Tapi kau tidak pernah menatapku lagi sejak aku menyatakannya"

"Shion, cukup!" bentak Menma sampai tidak lagi menambahkan "chan" di belakang nama gadis itu.

"Aku sudah mengatakan aku menyukaimu berulangkali. Tapi kau menghindar. Kau bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Seolah-olah aku tidak pernah menyatakannya padamu." Akhirnya Menma harus melihat dan mendengar hal yang sama lagi dari Shion. Dia harus melihat Shion menangis lagi. Selalu begitu setiap kali gadis itu membicarakan tentang perasaannya pada Menma. Karena itu Menma selalu berusaha untuk tidak berbicara tentang sesuatu yang akan menyinggung apapun yang pernah terjadi antara mereka.

"Shion-chan..." ujar Menma dengan kedua tangannya yang mengepal karena kesal. Ia benci setiap kali melihat Shion menangis karenanya. Shion menatapnya dengan kedua matanya yang memerah dan basah. Gadis itu kemudian bergerak maju dan memegang kedua pipi Menma dengan tangan dinginnya.

"Berhentilah menangis" mohon Menma sambil menatap gadis itu sedih. Menatap Menma semakin dekat membuat Shion semakin menangis. Akhirnya ia menangis lagi di depan pemuda itu. Menma tidak pernah bermaksud menyakitinya, Shion tahu itu. Mereka berteman terlalu lama, sangat lama sampai perasaan Menma padanya hanya sebatas teman dan saudara.

"Aku menyukaimu" gumam Shion lagi disela tangisnya. Gadis itu lalu mencium Menma sambil menangis. Menma tidak menolak. Ini bukan pertama kalinya Shion menciumnya ketika gadis itu menangis. Menma membiarkannya. Karena hanya dengan menciumnya Shion akan lebih tenang dan bersikap seperti biasa. Gadis itu lalu memeluknya sangat erat. Menma lalu balas memeluk Shion. Menenangkan emosi gadis itu yang selalu terganggu jika sudah berbicara tentang perasaannya. Menma tidak tahu kenapa dia tidak bisa jatuh cinta pada Shion. Mereka sudah berteman sejak sekolah dasar. Jadi, Menma tidak lagi memerlukan hubungan apapun selain sebagai sahabat dan saudara. Ia menyukai Shion, sebagai temannya. Tapi ia tidak bisa mencintai gadis itu. Atau mungkin, belum bisa. Shion menyatakan tentang perasaannya tersebut saat mereka masih di kelas 3 SMP. Sudah sangat lama dan Menma belum bisa menanggapi apapun terhadap perasaan gadis itu. Ia hanya ingin hubungan mereka baik-baik saja seperti biasa. Sejak itu, Menma selalu bingung bagaimana ia harus bersikap pada Shion. Tetapi, Shion selalu terlihat biasa saja di depan orang lain. Namun, saat hanya ada mereka berdua, gadis itu berubah agak kaku. Itu karena Menma dan Shion takut untuk saling menyakiti. Saat Menma akhirnya ingin mencoba memiliki perasaan yang sama terhadap Shion, perasaan yang bukan sebatas teman dan saudara. Saat itulah, Hyuuga Hinata muncul. Keberadaan gadis Hyuuga itu tiba-tiba membuatnya bingung.

"Oniichan?" suara Kushina terdengar di depan pintu.

"Ada apa, Bu?" tanya Menma, masih menenangkan Shion dalam pelukannya.

"Ibu bawakan makanan ringan dan minuman untuk Shion-chan" seru Kushina

"Letakkan saja di depan pintu"

"...B-baiklah" sahut Kushina cemas lalu meninggalkan makanan dan minuman tersebut di dpan pintu kemudian berlalu.

"Aku minta maaf" ujar Shion kemudian. Kedua tangannya masih memeluk Menma dengan erat. Wajahnya yang basah sudah membasahi kaos Menma.

"Maaf untuk apa?"

"Memaksamu"

"Tidak ada yang memaksa siapapun di sini"

"Tapi kau tetap harus mengatakannya padaku, siapapun gadis yang nanti atau sedang kau sukai. Jika gadis itu lebih baik dan lebih cantik dariku. Mungkin aku akan menyerah" kata Shion sambil melepaskan pelukannya. Ia kemudian tersenyum dan kembali pada dirinya sendiri. Menma menghela nafas karena Shion sudah tenang dan berhenti menangis. Pemuda itu kemudian berjalan menuju pintu dan mengambil makanan dan minuman yang dibawa Ibunya. Lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Shion hampir meminum sampai habis satu gelas jus yang dibuat Kushina.

"Ada yang sedang menyukaiku" kata Shion tiba-tiba. Menma langsung menatap Shion dengan kening mengerut.

"Siapa?"

"Kau harus membantuku menolaknya"

"Aku akan menghajarnya kalau dia berbuat yang tidak-tidak padamu" kata Menma serius. Shion tersenyum lebar lalu berkata, "Kurasa Naruto yang lebih cocok untuk melakukannya."


Perkiraan cuaca selalu benar. Hinata sudah membawa sweater dan payung untuk mengantisipasinya. Gadis itu baru selesai dengan les pianonya di hari libur seperti ini. Ayah mengizinkannya untuk libur saat les piano di hari lain tetapi tidak saat hari libur. Karena hari libur adalah kesempatan besar untuk bisa lebih fokus bermain piano. Hinata tidak pernah bisa membantah apa yang Ayahnya katakan dan perintahkan. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Ayahnya adalah mutlak. Bukan hanya dia, kakaknya, Hyuuga Neji, bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk membantah ataupun menentang semua sikap Ayah mereka. Karena semua yang dilakukan Ayah adalah yang terbaik bagi mereka. Tetapi, meskipun Ayahnya adalah orang yang sangat keras kepala, beliau masih tetap mendengarkan apapun pendapat orang lain selama pendapat atau masukan tersebut masuk akal menurutnya. Sama seperti saat Hinata memohon untuk berangkat dan pulang dari sekolah dengan bus. Ah, Hinata ingat sekarang, kakaknya, Hyuuga Neji, memang tidak pernah berpikir untuk menentang apapun yang sudah ditetapkan oleh Ayah mereka, tetapi, Neji pernah melakukannya sebelum akhirnya kakaknya itu benar-benar tidak pernah lagi untuk menentang Ayahnya. Awalnya hanya masalah kecil, tetapi, masalah kecil tersebut berubah menjadi besar ketika Hyuuga Neji mencoba untuk menjadi keras kepala.

"Hinata-san, menunggu jemputan?" tanya salah seorang temannya di tempat les.

"Iya"

"Lebih baik jangan berdiri di luar, hujannya deras sekali" seru temannya karena suara hujan yang cukup keras membuat suara-suara tidak terlalu jelas jika tidak berbicara keras. Hinata tersenyum sambil mengangguk.

"Aku pulang lebih dulu, ya? Sampai bertemu besok" katanya sambil melambaikan tangan dan berjalan bersama beberapa teman-temannya yang lain. Hinata menatap langit yang mendung sebentar. Gadis itu kemudian membuka payungnya dan menyebrang ke seberang jalan. Karena sore ini lesnya selesai lebih awal, Hinata akan menunggu di cafe seberang jalan seperti biasanya. Ia tidak memberitahu Ayah maupun Neji tentang les yang selesai lebih awal. Ia hanya ingin beberapa saat berada di luar rumah sendirian. Dan biasanya, Hinata menunggu jemputannya di cafe yang berada di seberang jalan tersebut dan memesan minuman sambil menunggu jemputan.

"Hinata-neechan?"

Hinata menoleh kaget ketika sebuah suara yang terdengar agak ragu tepat berada di sampingnya. Dan ketika ia menoleh, ia mendapati wajah bingung Uzumaki Naruto yang sedang menatapnya. Wajah bingung pemuda itu kemudian berubah cerah.

"Ah! Ternyata benar-benar Hinata-neechan" serunya senang.

"Kenapa aku ada di sini?" tanya Hinata sambil melipat payungnya.

"Oh? Tadinya aku bersama Oniisan dan Shion-neechan, tapi, mereka aku suruh pulang lebih dulu karena aku mau pergi membeli beberapa game baru"

"Badanmu hampir basah, kenapa tidak membawa payung?" gerutu Hinata

"Aku tidak tahu kalau sore ini akan turun hujan" ujar Naruto sambil menepuk-nepuk bajunya yang hampir basah kuyup, lalu mengacak rambutnya yang juga basah.

"Makanya jangan hanya bermain game" ujar Hinata sambil menepuk kepala Naruto. Naruto lagi-lagi tersenyum sambil mengelus kepalanya. Pemuda itu langsung menarik rambut Hinata seperti biasanya.

"Berhenti menarik-narik rambutku" gerutu Hinata. Gadis itu kemudian masuk ke dalam cafe dan Naruto mengikutinya.

"Bukannya kau mau membeli game?" tanya Hinata sambil duduk. Naruto duduk di depannya.

"Ada yang lebih penting dari game" ujar Naruto. Lalu, salah satu pelayan cafe yang sudah akrab dengan Hinata datang dan menawarkan minuman seperti biasa.

"Ah, bawakan dua cangkir saja,...dan handuk kecil" ujar Hinata. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, masih sekitar setengah jam sebelum mobil jemputannya tiba.

"Oneechan, apa yang kau lakukan sendirian di luar seperti ini?" tanya Naruto heran

"Aku baru pulang dari les, di sana" ujar Hinata sambil menunjuk keluar kaca di seberang jalan. Naruto mengikuti arah tunjuk gadis itu dan melihat sebuah tempat yang cukup mewah di seberang jalan.

"Piano?" tanyanya

"Um"

"Hinata-neechan bermain piano?" tanya Naruto kaget, juga kagum.

"Um"

"Woah! aku mau mendengarnya, mainkan satu lagu untukku" kata Naruto bersemangat. Seperti anak kecil. Hinata memberengut. Pelayan tadi kemudian datang dengan dua cangkir coklat panas dan satu lembar handuk kecil. Hinata tersenyum sambil menerimanya.

"Lain kali saja. Keringkan rambutmu dulu" kata Hinata sambil menyodorkan handuk kecil tersebut pada Naruto. Naruto akhirnya mengeringkan rambutnya.

"Seperti sedang kencan" ujar Naruto. Hinata yang sedang menyeruput minumannya hampir tersedak. Gadis itu hanya terbatuk-batuk kecil.

"Kita seperti sedang kencan, bukan?" ujarnya lagi sambil menatap Hinata dengan senyum lebar.

"Sama sekali tidak" balas Hinata lalu kembali menyeruput coklat hangatnya. Naruto tertawa kecil sambil ikut minum. Pemuda itu sesekali melirik ke arah Hinata yang sedang sibuk meniup coklatnya, lalu meminum, begitu seterusnya. Gadis itu tidak lagi berbicara atau melihat ke arahnya. Naruto akhirnya memikirkannya lagi sekarang, tentang pertanyaan yang pernah Sasuke katakan padanya. Tentang apakah ia menyukai Hyuuga Hinata. Naruto mengingatnya sekarang, ketika Sakura bercerita tentang Sasuke padanya. Sebelum kedua temannya itu berpacaran. Sakura mengatakan banyak hal tentang Sasuke. Seperti, "Sasuke adalah pemuda yang baik, teman yang baik, tampan, dan aku selalu berdebar ketika bersamanya", dan Naruto bertanya pada Sakura, "aku tahu, tetapi, kenapa kau berdebar?" Dan Sakura menjawab dengan senyum manisnya, "tentu saja karena aku jatuh cinta padanya. Kau bertanya hal-hal yang tidak perlu, bodoh!." Naruto terdiam beberpa saat lalu bertanya lagi, "apakah semua orang yang jatuh cinta akan berdebar?", lalu Sakura menjawab dengan wajah jengkelnya pada Naruto, "tentu saja! Kalau kau tidak berdebar sama sekali, bahkan sedikitpun, itu berarti kau tidak menyukainya!."

"Gadis yang kemarin itu, Shion-san, teman kalian?" tanya Hinata tiba-tiba dan membuyarkan lamuman Naruto.

"Eh? O-oh, iya. Teman kecilku dan Oniisan"

"Umm, pantas saja kalian terlihat sangat dekat"

"Onnechan, kau masih menyukai kakakku?." Hinata terbatuk-batuk lagi mendengar pertanyaan gamblang Uzumaki Naruto. Bagaimana anak itu bisa bertanya dengan santainya. Aah, iya, Hinata hampir melupakannya akhir-akhir ini. Tentang bagaimana perasaannya pada Uzumaki Menma. Gara-gara pernyataan cinta yang salah itu, Hinata jadi tidak pernah lagi berani untuk menyatakan perasaannya pada Menma.

"...Masih"

"Apa kau berdebar ketika bersama Oniisan?"

"Hah?" kening Hinata mengertu mendengar pertanyaan aneh Naruto

"T-tentu saja" sahutnya kemudian. Naruto kemudian diam dan berpikir lagi. Benar apa yang Sakura katakan, jika seseorang sedang jatuh cinta, mereka pasti berdebar. Berarti, Naruto tidak menyukai Hyuuga Hinata? Karena pemuda itu sama sekali tidak pernah berdebar ketika bersama gadis Hyuuga itu. Ia memang menyukai Hinata, senang melihatnya, tetapi, kenapa ia sama sekali tidak berdebar? Lalu, apa rasa senangnya pada gadis itu hanya sebatas rasa senang biasa? Seperti rasa senang anak-anak ketika melihat permainan baru. Bagaimana dengan orang yang sedang jatuh cinta?

"Ah! Jemputanku datang" seru Hinata tiba-tiba. Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya.

"Kali ini aku yang traktir" ujar Hinata dengan senyum kecil sambil membayar dua cangkir cokat panas mereka di meja kasir. Naruto langsung buru-buru menyusul gadis itu keluar dari cafe. Mobil yang menjemput Hinata ternyata berada tepat di depan cafe.

"Aku pinjamkan payungku" kata Hinata sambil menyodorkan payungnya pada Naruto karena hujan belum juga berhenti.

"Oh, t-terima kasih" gumam Naruto sambil menerima payung tersebut. Hinata tersenyum lalu berlari kecil menuju mobilnya. Mendadak kedua kaki Naruto bergerak cepat menyusul Hinata yang sudah membuka pintu mobilnya. Pemuda itu menahan tangan Hinata yang hampir menutup pintu mobilnya. Naruto menunduk. Sementara kening Hinata mengerut sambil mendongak.

"Hm? Ada apa?" tanya Hinata heran. Naruto menatap Hinata serius sekarang. Ada apa dengannya? Kenapa ia tiba-tiba gemetar seperti ini? Kedua tangannya gemetar dan dingin. Lalu, perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan aneh yang pernah ia rasakan ketika pertama kali Hyuuga Hinata menepuk kepalanya saat mengantar gadis itu ke halte sepulang sekolah. Naruto memang terlalu bodoh untuk menyadari semuanya dengan cepat. Ia selalu menganggap bahwa rasa sukanya pada Hinata hanya sebatas perasaan biasa sama seperti ia menyukai teman-temannya yang lain. Karena Sakura pernah berkata jika orang yang jatuh cinta pasti akan berdebar ketika berada di dekat orang yang disukainya. Naruto tidak tahu, karena dia tidak pernah jatuh cinta, bahwa hati yang bedebar bukanlah penentu bagi seseorang apakah mereka sedang jatuh cinta atau tidak. Mereka berdebar karena mereka hidup. Debaran hanyalah perwakilan dari perasaan beberapa orang. Asalkan mereka benar-benar menyukainya, makan mereka sudah jatuh cinta. Tetapi Naruto, memang bodoh, seperti kata Sakura. Ia tidak menyadari perasaanya sendiri.

"Naruto-kun?" panggil Hinata yang masih menatap Naruto bingung.

"Aku belum menyapa mereka" kata Naruto kemudian

"Hah?" kening Hinata mengerut. Gadis Hyuuga itu merasa seperti hampir pingsan di tempat ketika Naruto tiba-tiba mencium rambutnya yang menutupi telinga kiri.

"Aku akan mengembalikan payung ini besok" kata Naruto dengan senyum lebar sambil menutup pintu mobil Hinata.

Hyuuga Hinata langsung menempelkan tangan kanannya di dada dan merasakan jantungnya seperti hampir meloncat keluar. Gadis itu bernafas terburu-buru karena kaget. Tangannya kemudian cepat berpindah pada rambut yang menutupi telinga kirinya.

"Hinata-sama?" tegur sopirnya yang bingung melihat Hinata diam saja.

"K-k-kita pulang sekarang" kata Hinata cepat sambil terus memegang telinganya. Hinata hampir kehilangan setengah kesadarannya. Apa yang baru saja Naruto lakukan padanya?


Bukan hanya Sasuke yang kaget mendengar pertanyaan Naruto. Teman-temannya yang lain juga ikut kaget. Naruto menyuruh teman-temannya untuk menunggu sampai latihan keratenya selesai sekitar pukul lima sore hanya untuk bertanya tentang pendapat teman-temannya. Pertanyaan tentang perasaannya pada seseorang. "Apa menurut kalian aku menyukai Hinata-neechan?." Pertanyaan bodoh memang hanya ditanyaklan oleh orang bodoh. Dan jawaban semua teman-temanya, meskipun dengan kalimat yang berbeda, adalah jawaban dengan maksud yang sama.

"Tentu saja" suara Sai

"Mana mungkin kau terus mengejarnya jika tidak menyukainya?" ini suara Kiba

"Kau sendiri bahkan tidak sadar" ini Shikamaru

"Iya, kau menyukainya" ini Shino

"Naruto, berhenti bertanya tentang hal bodoh seperti itu. Bagaimana kami bisa tahu persisi tentang perasaanmu pada Hinata-neesan sementara kau sendiri bahkan tidak tahu. Kalau kau tidak menyukainya, lalu, untuk apa selama ini kau terus menggoda Oneesan itu? Kau bahkan ingin ke sekolahnya setiap hari untuk melihatnya. Dan yang paling penting, kau tetap 'memaksanya' menjadi pacarmu, bukan? Kau selalu tersenyum seperti orang bodoh di depan Hinata-neesan..." kata -kata Sasuke yang panjang lebar tersebut langsung dipotong oleh Kiba.

"Ralat, dia bukan seperti orang bodoh, Sasuke. Dia memang bodoh"

"Jadi, aku menyukai Hinata-neechan?" tanya Naruto lagi. Wajahnya masih terlihat bingung. Semua teman-temannya langsung menghela nafas.

"Bagaimana kalu kita makan malam di rumah Naruto?" usul Kiba-tiba

"Boleh juga"

"Bibi pasti senang kita datang untuk makan malam"

"Kalau begitu aku akan menelpon Ibu untuk memasak banyak makanan untuk kita" ujar Naruto antusian sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ibunya.

"Naru-chan? Masih latihan?" tanya Ibunya begitu mengangkat telpon Naruto

"Sudah selesai. Bu, teman-teman mau makan malam di rumah, buatkan makanan yang banyak"

"Huh? Baguslah! Kita hampir saja akan makan malam berdua"

"Hah? Berdua? Ayah dan Oniisan?"

"Otousan akan pulang pulang terlambat. Oniichan pergi bersama teman-teman klubnya"

"Heeeh? Teman-teman klub? Sudah pergi?"

"Oniichan sedang siap-siap. Katanya, dia mau meneliti dan memepelajari sesuatu bersama teman-teman klubnya. Tapi kenapa harus malam-malam seperti ini ya?"

Naruto dan teman-teman akhirnya sampai di rumah tepat ketika Menma sedang memakai sepatu dan bersiap untuk berangkat. Teman-teman Naruto langsung menyapa Menma dengan ramah.

"Belajar bersama?" tanya Menma begitu melihat Naruto membawa teman-temannya.

"Kami mau menemani Bibi dan Naruto makan malam karena Oniisan dan Paman akan pulang terlambat" sahut Kiba

"Oh? Masuklah. Aku juga harus berangkat" kata Menma dengan senyum lebar.

"Oniisan, apa Hinata-neechan juga ikut?" tanya Naruto

"Tentu saja, dia juga anggota klub. Kenapa?"

"...Tidak apa-apa"

Menma kemudian pamit pada teman-teman Naruto berjalan keluar dari rumah. Naruto kemudian masuk dan membuat ribut dengan teman-temannya. Suasana rumah yang seharusnya jadi sepi karena Minato dan Menma tidak ada rumah langsung berubah lebih ramai dengan adanya teman-teman Naruto, apalagi Kushina yang juga hobi membuat suasan yang ribut.

Di tengah makan malam, Sasuke berbisik pelan ke arah Naruto.

"Aku sudah mencari tahu tentang Sabaku Gaara"

"Hm? Benarkah?" Naruto langsung menelan makanannya dan melihat Sasuke serius.

"Ternyata, dia benar-benar mengenal Hinata-neesan dengan baik. Maksudku, mereka teman dekat. Tetapi, hubungan mereka sedang tidak baik sekarang. Mereka sedang bertengkar" info Sasuke

"Apakah info ini benar?" tanya Naruto

"Tentu saja. Aku bertanya pada Shin-niisan"

Hyuuga Hinata dan Sabaku Gaara berteman dekat? Bagaimana bisa? Bagaimana Hinata bisa betah berteman dengan orang yang menakutkan seperti Sabaku Gaara? Tetapi, mendengar dari cara Sabaku Gaara memperingatinya waktu itu, terdengar kalau pemuda itu memang mengenal Hinata dengan baik. Naruto menjadi semakin bingung sekarang, kenapa orang-orang yang bermunculan di sekitar Hyuuga itu aneh-aneh? Selain Sabaku Gaara, Naruto juga penah mendengar kalau kakak laki-laki Hinata bersekolah di sekolah yang sama dengan adiknya tersebut. Kakaknya bernama Hyuuga Neji, memiliki wajah yang serius dan selalu terlihat dingin. Naruto tidak pernah bertemu dengannya. Tetapi, jika bisa dibayangkan, mungkin dinginnya akan sama dengan Sabaku Gaara.

"Apa kau bisa membayangkannya? Ternyata Ayah Hinata-neesan lebih menakutkan dari Sabaku Gaara" bisik Sasuke lagi. Pemuda Uchiha itu lalu bergidik.

"Kau pernah melihat Ayah Hinata-neechan?" tanya Naruto kaget.

"Tidak" jawab Sasuke singkat lalu tersenyum lebar. Naruto langsung menjitak kepala sabatnya itu jengkel.


[TBC]