~Misunderstand Love~ / PART 5
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T
Ini mungkin takdir atau semacamnya. Tetapi Naruto tidak menyadari dengan siapa dia akan berhadapan. Naruto tahu kalau klan Hyuuga tersebar dibeberapa wilayah di Tokyo. Jadi, bukan berarti mereka selalu memiliki hubungan keluarga dekat dengan Hyuuga Hinata, bukan?
"Otousan" seru Hyuuga Hanabi begitu melihat Ayahnya yang sedang berdiri di depan sebuah gedung les sambil mondar-mandir dengan wajah cemas. Mendengar suara putrinya, Hyuuga Hiashi langsung menoleh. Kepanikannya berubah lega.
"Apa yang kau lakukan di luar gedung sendirian?" tanya Hyuuga Hiashi
"Karena hari ini lesnya selesai cukup cepat, aku bosan kalau harus menunggu di dalam, jadi, aku berjalan-jalan disekitar sini, tapi...aku tidak tahu bagaimana menemukan gedung ini lagi" jelas Hanabi
"Astaga! Tentu saja kau tersesat! Kau tidak pernah keluar rumah sendirian dan berjalan-jalan di tempat ramai seperti ini"
"Iya, aku tahu aku salah. Tapi Otousan, Oniisan ini mengantarku sampai ke sini" kata Hanabi sambil memperkenalkan Naruto yang sejak tadi hanya berdiri melihat mereka. Hyuuga Hiashi langsung melihat ke arah Oniisan yang putrinya maksud. Seorang pemuda dengan seragam SMP dan rambut kuning yang mencolok.
"Oniisan?" tanya Hyuuga Hiashi heran
"Um, Naruto Oniisan. Uzumaki Naruto" kata Hanabi
"Oh? Uzumaki?" gumam Hyuuga Hiashi. Ayah Hyuuga Hanabi tersebut kemudian berterimakasih pada Naruto karena telah mengantar putrinya kembali ke gedung les. Naruto hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bagaimana kalau kau makan malam di rumah kami, anggap saja sebagai ucapan terimakasih" tawar Hyuuga Hiashi
"Eh? T-tidak usah, terimakasih. Malam ini saya ada kegiatan lain" tolak Naruto dengan senyum lebar dan rasa tidak enak hati.
"Kamu kelas berapa?"
"Tiga SMP" jawab Naruto. Hyuuga Hiashi mengangguk-angguk.
"Baiklah, tapi lain kali, kau harus ikut jika aku mengundangmu" kata Hyuuga Hiashi
"Pasti" sahut Naruto yakin.
Sepertinya, Hyuuga Hiashi cukup menyukai Naruto. Setidaknya, dipertemuan pertama mereka, Naruto muncul sebagai penolong putrinya. Dan anggapan Hyuuga Hiashi tentang Uzumaki Naruto adalah ; Naruto anak yang baik. Tetapi, semua anggapan tersebut sepertinya hanya akan bertahan sampai jika Naruto sudah benar-benar menyadari kalau dirinya telah jatuh cinta pada Hyuuga Hinata.
"Oniisan" panggil Naruto sambil mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Masuk" sahut Menma. Naruto langsung membuka pintu rumahnya dan mendapati Shion ada di dalamnya.
"E-eeeh? Kenapa Shion-neechan ada di sini?" seru Naruto kaget ketika melihat Shion sedang asik berbaring sambil membaca komik sementara Menma sedang berada di depan meja belajarnya, lagi. Shion langsung duduk tegak begitu Naruto masuk dan menutup komiknya. Menma kemudian memutar kursinya menghadap ke tempat tidur. Naruto duduk di pinggir tempat tidur kakaknya. Shion tersenyum lebar sambil memeluk lengan kiri Naruto dan menyandarkan kepalanya di bahu adik Menma itu.
"Sebenarnya tadi aku mau mampir ke kamarmu. Tapi, Menma bilang kau sedang belajar karena ada tugas" kata Shion
"Oh? Aku memang sedang mengerjakan tugas. Oniisan bantu aku, beberapa soal tidak bisa kuselesaikan" kata Naruto sambil menyodorkan buku tugas yang dibawanya pada Menma. Menma kemudian melihat-lihat jenis tugas Naruto dan mengangguk ketika merasa bisa untuk membantu Naruto mengerjakannya.
"Menma bisa mengerjakan soal apapun, kau tahu?" ujar Shion
"Tentu saja" sahut Naruto. Sebenarnya Naruto masih bingung kenapa sejak Shion kembali ke Tokyo, hubungan gadis itu dengan kakaknya semakin membaik. Tidak terlalu kaku seperti dulu. Mungkin telah terjadi sesuatu dan mereka merahasiakannya dari Naruto. Tetapi Naruto senang. Melihat mereka akrab hampir seperti ketika ia melihat orangtuanya ketika bersama. Sejak awal, Naruto memang sudah menganggap Shion seperti kakak keduanya. Kakak perempuan. Kakak yang bisa diajak bercanda dan melakukan hal-hal bodoh lainnya karena pada dasarnya, sifat Naruto dan Shion sedikit memiliki kesamaan meski dilihat dari sudut manapun Naruto memang lebih bodoh. Naruto sadar kalau perbedaan sifat dan sikapnya dengan Menma sangat jauh. Itu karena Menma yang terlalu banyak mewarisi pribadi Ayah mereka yang cenderung tenang dan serius. Jadi, Naruto tidak mengganggu kakaknya itu kecuali ketika Menma benar-benar telah memiliki waktu yang luang untuknya.
"Kemari biar aku ajarkan" kata Menma sambil menarik satu kursi lagi sampai di depan meja belajarnya. Shion langsung melepas rangkulan tangannya dari lengan Naruto dan membiarkan pemuda itu belajar bersama kakaknya. Gadis itu kemudian kembali melanjutkan membaca komiknya sambl berbaring.
Beberapa menit kemudian...
"Naruto" panggil Shion sambil terus membaca komiknya.
"Hm?" sahut Naruto yang masih sibuk mengerjakan soal sesuai dengan yang diajarkan Menma.
"Kau tahu? Ada yang menembakku" kata Shion
"APA?" seru Naruto kaget sambil memutar kursinya tepat ke arah Shion.
"Benarkah? Siapa?" tanya Naruto penasaran dan kaget. Shion masih sambil membaca komiknya tanpa melihat ke arah Naruto.
"Yang pernah kau ceritakan padaku itu?" tanya Menma yang masih memeriksa beberapa soal yang sudah dikerjakan Naruto.
"Bukan, yang tadi berbeda"
"H-hah?" Menma ikut berseru meskipun tidak seekspresif Naruto. Pemuda itu juga langsung membalik kursinya tepat ke arah Shion yang masih sibuk membaca komiknya. Setelah Menma berbalik, Shion baru menutup komiknya dan duduk dipinggir tempat tidur menghadap dua bersaudara tersebut dengan senyum lebar.
"Kaget?" tanyanya
"Tentu saja!" sahut Naruto dan Menma bersamaan. Dibandingkan dengan Naruto, Menma jelas lebih kaget karena baru beberapa hari yang lalu Shion berkata ada yang menyukainya dan Menma melakukan seperti apa yang diminta oleh gadis itu, menolak pemuda tersebut. Dan sekarang, Shion tiba-tiba saja memberitahu lagi ada yang baru saja menembaknya. Menma mulai pusing. Sebenarnya ada berapa banyak laki-laki yang menyukai Shion?
"Tapi memang wajar" ujar Naruto kemudian. Menma langsung menoleh heran ke arah adiknya itu. Shion menatap Naruto heran juga.
"Shion-neechan cantik, jadi wajar kalau ada laki-laki yang menyukainya. Bukankah saat di SMP juga banyak yang menembaknya?"
"Naruto benar" sahut Shion dengan senyum lebarnya. Kening Menma mengerut. Kepalanya tiba-tiba saja menggali kembali semua memorinya tentang keberadaan Shion selama ini. Aah, Naruto benar, saat di SMP, hampir semua anak laki-laki memang menyukai Shion. Dan beberapa diantara mereka bahkan sampai berani menembak gadis itu. Sayangnya, tidak satupun dari mereka yang diteriima. Dulu, Menma tidak tahu kenapa Shion menolak semua laki-laki yang menembaknya. Tetapi, sejak Shion tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Mungkin, itulah alasannya.
"Jawabanmu?" tanya Menma. Naruto mengangguk-angguk antusias dengan wajah serius.
"Astaga! Apa kau harus menanyakan jawaban yang sudah kau tahu?" ujar Shion.
"Tidak?" tanya Menma. Shion menggeleng dengan wajah bosan. Kening Naruto mengerut mendengar ada kalimat 'mencurigakan' yang keluar dari mulut Shion. Naruto melihat ke arah Menma dan Shion bergantian. Ada apa dengan kalimat 'apa kau harus menanyakan jawaban yang sudah kau tahu' dan tebakan atau tanya yang sangat pasti dari kakaknya, 'tidak'.
"Kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tebak Naruto. Shion menatap Naruto kaget. Menma langsung terbatuk mendengar pertanyaan adiknya.
"Oniisan" Naruto melihat ke arah kakaknya tajam. Menma langsung melihat ke arah lain. Bola matanya berputar tidak tentu sambil melihat isi kamarnya. Untuk pertama kalinya Naruto melihat sikap Menma seperti sekarang ini. Gelisah dan tidak seperti biasanya.
"Kami memang menyembunyikan sesuatu" kata Shion tiba-tiba. Menma langsung berdiri dan menghampiri Shion. Naruto yang duduk disebelahnya kaget melihat gerakan cepat Menma yang langsung berpindah dan menutup mulut Shion dengan tangan kanannya. Dengan kedua tangannya, Shion berusaha melepaskan tangan Menma dari mulutnya tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk mewujudkan keinginannya.
"Jangan katakan padanya" bisik Menma pelan tetap di telinga Shion. Tangan Shion langsung memberi kode pada Naruto untuk menyingkirkan tangan Menma dari mulutnya. Cepat, Naruto langsung menyingkirkan tangan kakaknya, cukup sulit meskipun hanya satu tangan, tapi akhirnya berhasil.
"Kau mau membunuhku?" seru Shion sambil mengelus mulutnya yang setengah merah.
"Jadi, katakan" kata Naruto
"Shion-chan" suara Menma terdengar memohon. Shion menatap pemuda itu dengan senyum paling manis yang ia miliki.
"Aku tidak akan memberitahu Naruto asalkan kau mengabulkan satu keinginanku"
"Haaah?" sela Naruto kaget
"Baiklah" sahut Menma cepat. Shion akhirnya tersenyum lebar.
"Kupikir, Menma sedang menyukai seseorang" kata Shion tiba-tiba. Yang baru saja dikatakan gadis itu memang bukan rahasia yang ingin mereka sembunyikan dari Naruto. Tetapi, Naruto mengira hal itulah yang mereka sedang sembunyikan. Ya, dia memang bodoh. Menma kaget ketika Naruto tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan wajah kaget yang kemudian berganti senyum lebar.
"Oniisan, siapa?" tanyanya
"Dia tidak akan memberitahumu. Jadi, kau harus mencari tahu sendiri" sahut Shion. Naruto melihat ke arah gadis itu dengan wajah cemberut.
"Lanjutkan tugasmu Naruto" kata Menma mengalihkan pembicaraan.
"Aku di kamar saja" kata Naruto sambil membereskan buku-bukunya.
"Huh? Kau sudah mengerti cara mengerjakan soalnya?"
"Tentu saja. Aku sangat cepat mengerti kalau sudah dijelaskan"
"Baiklah, kalau sudah selesai, biarkan aku memeriksanya"
"Baiklah-baiklah. Oneechan..." Naruto berhenti sebelum membuka pintu. Ia menoleh ke arah Shion dengan wajah serius. Shion menatap Naruto dengan kedua alis terangkat.
"Apa kau tidak apa-apa jika Oniisan menyukai gadis lain?" tanyannya lalu membuka pintu dan menutupnya kembal. Shion kaget mendengar pertanyaan aneh Naruto. Pertanyaan tersebut terdengar seperti Naruto tahu kalau Shion menyukai Menma. Sementara Menma, juga kaget mendengar pertanyaan adiknya itu.
"Tidak mungkin aku tidak akan apa-apa, iya kan, Menma?" goda Shion dengan senyum lebar lalu kembali berbaring dan membaca komiknya. Menma menghela nafas lalu kembali melanjutkan pelajarannya. Shion kemudian berbicara lagi, "Jangan lupa janjimu"
"Kau mau sesuatu?" tanyanya Menma
"...Tidak sekarang. Lagipula, tadi, sebenarnya aku tidak ingin memberitahu Naruto, aku hanya menggodamu saja" kata Shion dengan senyum kecilnya dibalik komik.
"Aku tertipu, lagi" gumam Menma dengan mata terpejamnya. Tertipu oleh Shion bukan hal pertama baginya.
Naruto langsung merebut ponsel itu dari telinga Sasuke yang sejak tadi terus menyingkirkan kedua tangannya agar tidak bisa meraih ponsel tersebut. Sakura sedang menelpon Sasuke, tumben sekali. Gadis itu pasti mendapatkan kesempatan hingga bisa menghubungi pacarnya itu kembali. Mereka terus membicarakan hal-hal yang seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini dan Naruto bosan hanya melihat Sasuke tersenyum terus-menerus. Apa yang membuat temannya itu terus tersenyum sejak Sakura menelponnya beberapa menit yang lalu dan bahkan tidak satu detikpun senyum itu menghilang. Aah, Naruto tahu, kedua temannya itu memang benar-benar sedang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta memang selalu tersenyum sendiri. Yah, setidaknya itulah yang Naruto lihat dari hasil mengamati beberapa temannya yang seperti Sasuke. Mereka seperti orang gila.
"Sakura-chan?" panggil Naruto
"Naruto? kenapa jadi kau? Di mana Sasuke-kun?" tanya Sakur heran.
"Dia mencuri ponselnya dariku" sahut Sasuke yang akhirnya hanya duduk melihat Naruto. Sepertinya, Naruto ingin menanyakan sesuatu pada Sakura, dan Sasuke tahu pertanyaan apa itu. Pertanyaan seputar perasaannya pada Hyuuga Hinata. Naruto memang gila! Padahal sudah sangat jelas dia menyukai gadis Huuga itu, tapi, dia sendiri bahkan tidak yakin. Mungkin jika Sakura yang memberitahunya, Naruto akan percaya. Untung saja Sasuke sudah menceritakan masalah Naruto pada Sakura.
"Oh? Apa kabar, Naruto?" sapa Sakura akhirnya.
"Kau baru menyapaku sekarang? Dari tadi kau hanya asik mengobrol dengan Sasuke" Naruto mencibir. Di seberang telepon Sakura hanya tertawa kecil.
"Jadi? Kau ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku?" tanya Sakura
"Iya"
"Masih masalah Oneesan bernama Hyuuga Hinata itu lagi?"
"Ya, ... tunggu! Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Naruto. Dia kemudian melihat ke arah Sasuke yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Kau menyukainya" ujar Sakura tiba-tiba.
"Hah?" sahut Naruto
"Naruto, karena kau bodoh dan tidak pernah jatuh cinta, dengarkan aku baik-baik. Kau, jatuh cinta pada Oneesan itu. Apa kau pernah merasa kesal atau marah ketika melihatnya bersama laki-laki lain? Itu namanya cemburu. Kenapa kau cemburu? Karena kau menyukainya, kau mencintainya. Tidak semua orang berdebar ketika mereka pertama kali dibuat jatuh cinta oleh seseorang. Debar itu bisa datang lain waktu, dalam beberapa hal yang akan mereka lakukan. Kalau kau tidak mencintainya, kau akan merasa baik-baik saja jika tidak bertemu atau melihatnya bahkan selama berbulan-bulan. Kau juga akan merasa biasa saja kalau melihatnya dengan orang lain, atau dia tidak perduli padamu, atau dia menyukai orang lain, atau...ummm...pokoknya semuanya akan terasa baik-baik saja jika kau benar-benar tidak menyukainya" jelas Sakura
"Aku tidak suka jika melihatnya terlalu sering bersama Oniisan" kata Naruto. Sasuke langsung menatap Naruto kaget.
"Itu salah satu buktinya. Kalau saja sekarang aku ada di sana, aku bisa membuatmu menyadari perasaanmu sendiri hanya dalam beberapa detik"
"...J-jadi, menurutmu aku menyukai Hinata-neechan?" tanya Naruto
"Astaga! Naruto, ini bukan lagi masalah menurut siapa. Ini masalahmu. Pikirkan sendiri dan cari tahu apa yang harus kau lakukan untuk membuka otak bodohmu itu dan segera sadar! Kalau kau masih terus berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, maka, kau akan kehilangan kesempatan dan mungkin, kau akan kehilangan Oneesan itu. Dan Sasuke-kun pernah mengatakan padaku, bukankah Oneesan itu menyukai Menma-niisan?"
"Ya"
"Baiklah, kalau kau mengerti, sekarang kembalikan ponselnya pada Sasuke-kun"
"Um." Naruto lalu mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. Wajahnya berubah bingung.
Hinata senang ketika bertemu Ten Ten, teman kakaknya, yang juga hendak pergi ke perpustakaan. Mereka beberapa kali berpapasan ketika sedang berada di perpustakaan. Tetapi, Ten Ten tidak pernah bersama Neji. Hinata memakluminya jika gadis itu merasa jengkel dengan sikap kakaknya. Neji memang orang yang dingin dan terlihat seperti orang sombong. Jadi, beberapa orang memiliki anggapan yang salah tentangnnya. Tetapi, kakaknya itu orang yang baik jika mereka sudah mengenalnya lebih dekat.
"Niisan di mana?" tanya Hinata
"Tidak tahu, dia bersama Lee" sahut Ten Ten. Mereka kemudian masuk ke perpustakaan. Hinata tersenyum kemudian berpisah dengan Ten Ten karena rak buku yang mereka incar berbeda. Hinata harus mencari buku-buku untuk tugas sekolahnya. Di saat seperti ini, di saat ia hanya sendiri, Hinata lagi-lagi teringat Uzumaki Naruto. Sudah lima hari terakhir ia tidak melihat anak itu. Tepatnya, pertemuan terakhir mereka adalah saat Naruto kehujanan dan Hinata baru saja selesai dengan les pianonya. Ya, sejak itu, Hinata tidak pernah lagi melihat Naruto setiap berangkat atau pulang sekolah. Ia ingin bertanya pada Menma, tetapi, ia merasa agak malu jika bertanya sesuatu tentang Naruto terlebih lagi pada Menma. Hanya saja, entah kenapa, Hinata mulai merasa aneh jika tidak melihat Naruto satu hari saja. Mungkin karena anak itu sudah terbiasa muncul di depannya. Jadi, Hinata merasa aneh jika Naruto tiba-tiba tidak ada, hilang. Keberadaan Naruto di sekitarnya beberapa minggu terakhir ini membuatnya mulai terbiasa dengan semua sikap anak itu. Jadi, ketika lima hari terakhir ini ia tidak melihat Naruto dan anak itu tidak menyapanya seperti biasa, Hinata merasa aneh. Rasanya ada yang...
"Hilang?" sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakang Hinata. Rambut gadis itu kemudian ditarik pelan. Dengan ekspresi kaget Hinata menoleh cepat setelah menaruh kembali buku di tangannya dan mendapati Uzumaki Naruto, dengan penampilan persis Uzumaki Menma, berdiri tepat di belakangnya dengan senyum lebar. Hinata hampir saja berseru kencang ketika gadis itu langsung sadar mereka sedang berada di perpustakaan.
"Naruto-kun apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hinata cepat, buru-buru dan cemas.
"Haaah? Oneechan bisa mengenaliku? Bagaimana bisa?" tanya Naruto heran sambil langsung melihat-lihat lagi penampilannya. Ia sudah yakin kalau penyamarannya sempurna. Rambut palsunya sudah sangat mirip dengan kakaknya, bahkan seragam yang ia pinjam benar-benar terlihat rapi dan bersih. Tapi, kenapa Hinata masih bisa mengenalinya?
"Menma-kun tidak pernah menarik rambutku. Siapapun tidak pernah" kata Hinata
"Jadi hanya aku?" tanya Naruto kaget
"Tentu saja"
"Karena itu Hinata-neechan langsung mengenaliku?"
"Um"
"Apa Oneechan merasa kehilangan sesuatu?"
"Um,...eh? apa? Tidak" sahut Hinata cepat begitu menyadari pertanyaan Naruto.
"Oneesan yang di sana seperti sedang kehilangan sesuatu" bisik Naruto sambil menunjuk ke salah seorang siswi yang sedang mencari sesuatu di lantai bersama temannya. Hinata ikut melihat sebentar. Gadis itu lalu mengambil buku-buku yang dicarinya kemudian duduk di kursi yang ada di dekat jendela. Jendela perpustakaan mereka memang rendah, jadi, duduk di dekat jendela bisa langsung melihat latihan softball setiap jam istirahat. Naruto mengikuti Hinata dan duduk di depan gadis itu, di sisi meja lainnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini dengan penampilan seperti itu?" tanya Hinata curiga
"Aku mempersiapkan semuanya tiga hari terakhir ini, rambut, seragam, dan yang lainnya. Apa aku sudah terlihat seperti Oniisan?" tanya Naruto dengan senyum lebar dan kedua telapak tangannya yang memangku dagu dan siku yang menempel di atas meja. Pemuda itu menatap Hinata sambil senyam-senyum. Sebenarnya Naruto berbohong. Tiga hari terakhir, ia sengaja menghindar dan tidak ingin melihat Hyuuga Hinata. Ia ingin membuktikan semua perkataan Sakura padanya tiga hari yang lalu. Bahwa apakah benar ia telah jatuh cinta pada gadis Hyuuga itu. Gelisah. Itulah yang Naruto rasakan ketika tiga hari tidak melihat Hyuuga Hinata. Ia merindukan Hyuuga Hinata.
"Itu bukan jawaban" kata Hinata kesal
"Ngng...kenapa aku bisa di sini? Untuk bertemu Oneechan" jawab Naruto. Hinata menatap aneh pada Naruto yang sedang menatapnya sambil senyam-senyum dengan kedua tangan yang memangku dagunya. Gadis itu kemudian menghela nafas.
"Kenapa menghela nafas seperti itu? Kupikir Oneechan merindukanku karena lima hari terakhir ini kita tidak bertemu" keluh Naruto dengan wajah cemberut dan kecewa. Kening Hinata langsung mengerut begitu melihat perubahan drastis pada wajah Uzumaki Naruto yang tadinya ceria tiba-tiba berubah mendung. Kenapa Naruto bisa sampai mau melakukan semua ini hanya untuk datang menemuinya langsung di sekolah?
"Kenapa kau melakukan ini? Sampai nekat menyamar untuk menemuiku di sekolah" tanya Hinata. Kedua mata Naruto langsung berbinar mendengar pertanyaan Hinata. Pemuda itu segera berpindah dan duduk di samping Hinata. Hyuuga Hinata menarik wajahnya menjauh ketika Naruto mendekat dan seperti ingin berbicara sesuatu yang sangat rahasia. Wajah Naruto tiba-tiba berubah serius dan cemas. Anak itu kemudian berbisik pelan ke arah Hinata.
"Kata Sasuke dan teman-temanku yang lain, aku menyukai Onnechan" bisiknya. Hinata langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyenggol buku-buku yang berada di atas meja sampai berjatuhan di lantai. Gadis itu menatap Naruto dengan amat sangat kaget. Sementara Naruto mendongak menatapnya dengan kening mengerut dan wajah herannya.
"Oneechan?" panggil Naruto heran. Hinata langsung berdehem dan mencoba bersikap seperti biasa. Ia kemudian kembali duduk setelah mengambil buku-bukunya yang terjatuh.
"Itu tidak mungkin" kata Hinata kemudian. Naruto terlihat berpikir sebentar lalu berkata dengan nada agak ragu, "sepertinya memang tidak mungkin. Bagaimana bisa anak SMP menyukai seseorang yang lebih tua" gumamnya. Hinata langsung menghela nafas lagi. Gadis itu kemudian melihat jam tangannya, masih sekitar dua puluh menit lagi sebelum jam waktu istirahat selesai.
"Tapi, Neechan, bagaimana kalau ternyata aku jatuh cinta padamu?" tanya Naruto
"...Bagaimana? itu bukan pertanyaan yang bisa aku jawab" ujar Hinata sambil membuka kembali buku-buku tadi. Naruto lalu diam sambil memikirkan sesuatu. Hinata sesekali melirik ke arah pemuda itu sambil terus memperhatikan bukunya. Ya, Naruto harus memutuskannya sekarang. Bagaimana jika ternyata perasaannya pada Hinata adalah benar-benar cinta seperti yang Sasuke dan Sakura katakan? Bukan hanya rasa senang seperti rasa senangnya pada game-game yang ia mainkan dan bukan rasa suka biasa seperti ia menyukai semua teman-temannya. Bagaimana jika ia benar-benar jatuh cinta pada Hyuuga Hinata?
"Oneechan, apa kau mengenal Sabaku Gaara?" tanya Naruto tiba-tiba. Ia tiba-tiba ingat kalau harus memastikan semua kebenaran tentang Hinata dan Gaara.
"Bagaimana kau bisa tahu Gaara?" sahut Hinata heran. Gadis itu langsung menatap Naruto serius.
"Beberapa kali kami pernah berkelahi. Apa dia teman Oneechan?" tanya Naruto
"Kami berteman sejak kecil. Pantas saja akhir-akhir ini Gaara sering pulang dengan seragam berantakan. Jadi, kau yang berkelahi dengannya?" tanya Hinata dengan suara yang cukup besar.
"O-oh, ya. Tapi hanya beberapa kali, tidak setiap hari. Aku bersumpah!" sahut Naruto cepat karena melihat Hinata yang sepertinya mulai marah. Aaah, Naruto mengeluh dalam hati. Ini untuk pertama kalinya ia melihat Hyuuga Hinata marah, marah yang serius. Naruto menyesal karena telah menanyakan masalah Sabaku Gaara. Dari cara gadis Hyuuga itu menjawab, mereka sepertinya memang benar-benar teman dekat.
"Hentikan perkelahian kalian itu mulai sekarang" ujar Hinata tegas.
"Haaah? Kenapa..."
"Mau berhenti atau tidak? Kalau tidak, aku tidak akan mau bertemu lagi denganmu dan anggap saja..."
"Aku berhenti!" sela Naruto cepat dengan kedua tangan yang terangkat tinggi-tinggi. Seperti seorang penjahat yang sedang menyerah pada polisi. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya, " aku pasti akan berhenti berkelahi dengan orang itu. Janji. Jadi, jangan berbicara hal-hal menyedihkan seperti tadi" kata Naruto cepat bahkan sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya. Pemuda itu menatap Hyuuga Hinata dengan wajah sedih dan memelas. Hinata sampai kaget dan menarik kepalanya menjauh dari Naruto yang berbicara semakin dekat. Gadis itu kemudian menghela nafas. Mungkin cara bicaranya pada Naruto tadi terlalu keras sampai membuat pemuda itu cemas.
"Lain kali jangan berkelahi terus" suara Hinata berubah melembut sambil mengucak pelan rambut Naruto. Naruto yang tadinya menunduk karena melihat gerakan tangan Hinata langsung mengangkat kepalanya dan menatap kaget ke arah gadis itu. Hinata yang kemudian sedang membereskan buku-bukunya dan ingin kembali ke kelas menoleh lagi ke arah Naruto. Gadis itu melihat sebentar ke lengan kanannya yang digenggan sangat erat oleh Naruto.
"Kenapa?" tanya Hinata, "aku harus kembali ke kelas sekarang" lanjutnya.
"Sekali lagi" kata Naruto sambil mendongak menatap gadis itu.
"Apa?"
"Rambutku, sekali lagi" ujar Naruto sambil mengucak rambutnya sendiri. Hinata yang tadinya heran langsung tertawa kecil sambil menggeleng pelan.
"Astaga! Kupikir kau ingin berbicara sesuatu yang penting. Dasar anak-anak" ujar Hinata yang akhirnya mengucak lagi rambut Naruto dengan perasaan aneh pada sikap pemuda itu. Naruto kemudian tersenyum lebar setelah Hinata mengucak rambutnya. Sakura benar. Ia memang jatuh cinta pada Hyuuga Hinata. Naruto menyadarinya sekarang. Inilah alasan atas semua sikapnya pada Hyuuga Hinata. Inilah alasan kenapa ia tidak suka melihat Hinata terlalu sering bersama kakaknya. Inilah alasan kenapa ia begitu merindukan gadis Hyuuga itu ketika hanya tiga hari saja tidak melihatnya. Lalu, Naruto tiba-tiba merasakannya, jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Hinata dan Naruto keluar bersama dari perpustakaan. Naruto meminta untuk bisa mengatar Hinata sampai ke kelas tapi gadis Hyuuga itu menolak dengan alasan, apa jadinya jika dua orang Menma berada dalam satu situasi. Namun, baru beberapa langkah saat Naruto dan Hinata mengambil arah yang berbeda, Naruto menoleh kaget ketika Hinata tiba-tiba memanggil namanya. Naruto menatap gadis itu kaget. Ada kecemasan yang tiba-tiba terlihat di wajahnya. Heran, Naruto akhirnya maju beberapa langkah sampai berada tepat di depan Hinata.
"Onnechan, apa ada?"
"...N-Naruto-kun, apa menurutmu...ngng...aku harus menyatakan cinta pada Menma-kun?"
"...Hah?"
"Menebus kesalahpahaman yang lalu"
"Hah?"
"Kenapa kau hanya menyahut 'hah?'" tanya Hinata kesal. Naruto kaget. Sangat kaget sampai ia tidak bisa berbicara. In akhirnya terjadi juga, seperti yang Sakura pernah peringtakan padanya, 'kalau kau masih terus berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, maka, kau akan kehilangan kesempatan dan mungkin, kau akan kehilangan Oneesan itu. Dan Sasuke-kun pernah mengatakan padaku, bukankah Oneesan itu menyukai Menma-niisan?'. Lalu, apa untungnya menyadari perasaannya sekarang yang Hyuuga Hinata bahkan tiba-tiba ingin menyatakan lagi cintanya pada kakaknya. Naruto merasakannya. Sakit di dadanya. Seperti ribuan tangan sedang mencabik-cabik jantungnya. Hyuuga Hinata ternyata masih mengharapkan kakaknya. Naruto menyesal sekarang, seandainya ia menyadari perasaannya sejak awal dan merubah situasi antara dirinya dan Hyuuga Hinata sebelum gadis itu kembali berpikir untuk menyatakan cinta pada kakaknya. Inilah cinta pertama yang gagal bahkan sebelum ada pernyataan apapun tetapi penolakan terjad langsung di depan matanya. Berulang kali. Tetapi, ini menjadi yang paling sakit karena baru saja beberapa detik yang lalu Naruto menyadari perasaannya pada Hyuuga Hinata.
"Lakukan apapun yang kau suka!" kata Naruto kemudian. Wajahnya menjadi kaku dan dingin, tidak seperti biasanya. Dia sedang marah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin ia harus menghajar beberapa orang untuk sedikit mengurangi amarahnya.
"Hah? Naruto-kun?" panggil Hinata heran. Kening gadis itu mengerut melihat Naruto pergi dengan ekspresi marah di wajahnya. Hinata sempat agak kaget ketika mendengar nada kalimat terakhir Naruto padanya yang cukup kasar. Untuk pertama kalinya ia mendengar pemuda Uzumaki itu berkata kasar padanya. Yah, meskipun dia terkadang menyebalkan, tetapi, dia tidak pernah berbicara kasar padanya. Melihat sikap Naruto yang tadi tiba-tiba saja berubah membuat Hinata cukup kaget.
"Apa aku membuatnya marah?" gumam Hinata bingung.
[TBC]
