~Misunderstand Love~ / PART 6

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T


Hinata mengetuk pintu rumah tersebut dengan gelisah. Ia harus meminta maaf pada Sabaku Gaara karena mereka sudah cukup lama tidak saling berbicara. Ini salah Hinata, ia terlalu kasar saat memarahi Gaara beberapa waktu lalu. Karena sahabatnya itu sering berkelahi dan pulang dalam keadaan yang berantakan. Hinata tahu Gaara memang pemuda yang dingin, hampir seperti kakaknya, tetapi, dia lebih tidak bisa mengontrol emosinya. Sudah sangat sering Gaara berkelahi, biasanya karena beberapa laki-laki yang hanya sedikit saja menggoda Hinata. Sejak kecil, Gaara memang sudah terbiasa melindunginya dari anak-anak nakal bahkan ketika mereka sudah sama-sama dewasa.

"Oh, Hinata-chan" ujar Kankuro, kakak sepupu Gaara. Pemuda itu tersenyum menyambutnya dan menyuruh Hinata masuk.

"Gaara?" tanya Hinata sambil melihat ke arah lantai dua.

"Di kamar, kalian seharusnya sudah berbaikan, bukan? Dia menjadi keras kepala karena terlalu menyayangimu, dia hanya khawatir" kata Kankuro cemas. Hinata mengangguk mengerti dengan senyum kecil. Gadis itu kemudian beranjak naik ke lantai dua dan menuju ke kamar Gaara. Hinata mengetuk pintu, tiga kali.

"Siapa?" sahut Gaara

"Aku" jawab Hinata. Tidak ada sahutan selama hampir satu menit sampai akhirnya pintu kamar membuka dan Gaara muncul sambil menatapnya dengan wajah dingin.

"Boleh aku masuk?" tanyanya. Gaara membuka pintu kamarnya lebih lebar dan membiarkan Hyuuga Hinata masuk.

"Ada apa?" tanya Gaara sambil berdiri dan bersandar di pintu kamarnya sementara Hyuuga Hinata duduk di pinggir tempat tidur dan mengarah ke arahnya.

"Kau masih marah padaku?" tanya Hinata, "aku minta maaf" lanjutnya. Gaara langsung melihat ke arah Hinata dengan raut wajahnya yang mulai melembut. Kenapa Hinata tiba-tiba datang dan meminta maaf padanya? Pertengkaran mereka yang sudah berlanjut hampir satu bulan hanya karena Gaara yang terlalu sering pulang dengan seragam berantakan. Hinata memarahinya. Gaara berbalik memarahi gadis itu. Mereka sama-sama keras kepalanya dan akhirnya tidak lagi berbicara seperti biasa hampir selama satu bulan tersebut. Gaara sebenarnya tidak bermaksud membuat keributan dan berkelahi di sana-sini, pemuda itu hanya tidak suka melihat beberapa laki-laki tidak jelas membicarakan Hinata sambil tertawa-tawa. Mereka pikir mereka siapa sampai berani membicarakan Hinata dengan wajah buruk dan nada nada bicara mereka yang juga buruk? Gaara hanya ingin melindungi Hinata sebagai sahabat yang paling dekat dekat gadis itu. Sebagai orang lain yang harus melindungi Hinata menggantikan Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Neji diluar keluarga.

"Aku hanya tidak suka mereka membicarakanmu seperti itu" kata Gaara akhirnya

"Seperti apa? Apa mereka berbicara buruk tentangku?"

"Meskipun tidak berbicara buruk, mereka pikir mereka siapa sampai berani membicarakanmu? Mereka hanya laki-laki yang bahkan tidak pernah belajar tata krama. Membicarakanmu dengan suara keras sambil tertawa besar." Hinata langsung tersenyum kecil mendengarnya. Ya, ia memaklumi sifat Gaara yang selalu memandang rendah setiap orang yang menurutnya memang tidak pantas disandingkan dengan mereka yang berasal dari keluarga yang memiliki nama. Didikan keluarga Gaara memang keras meskipun jika dibandingkan dengan didikan Ayah Hinata, sebagai contohnya adalah Hyuuga Neji, yang bahkan tidak pernah memandang orang lain lebih tinggi darinya.

"Lain kali biarkan saja. Yang penting aku merasa tidak terganggu dan baik-baik saja, bukan?"

"Tergantung bagaimana aku melihat mereka nanti. Juga..." Garaa tiba-tiba menatap Hinata semakin serius. Gadis itu balas menatap dengan kening mengerut.

"Tentang anak SMP yang selalu mendekatimu itu" lanjutnya

"Huh? Maksudmu...Uzumaki Naruto?" tanya Hinata

"Apa ada anak SMP lain yang mengganggumu selain dia?"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Naruto-kun, dia anak yang baik, hanya saja dia suka berkelahi di sana-sini, sepertimu" ujar Hinata sambil tersenyum kecil.

"Bagaimana jika anak itu jatuh cinta padamu?"

"Dia masih terlalu muda dan harus memikirkan banyak hal tentang dirinya daripada menghabiskan waktu dengan menyukai orang yang lebih tua darinya." Hinata tiba-tiba mengingat lagi, pertemuan terakhirnya dengan Uzumaki Naruto kemarin pagi dan anak itu bertanya tentang bagaimana jika ia jatuh cinta padanya? Naruto sendiri yang bahkan menjawab bahwa itu sama sekali tidak mungkin. Ya, tidak mungkin anak SMP itu jatuh cinta dengan gadis SMA meskipun perbedaan usia mereka sebenarnya tidak terlalu buruk.

"Dan kau juga harus berhenti berkelahi dengannya" lanjut Hinata

"Aku hanya bertanya, seandainya, anak itu benar-benar menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Gaara lagi.

"Ngng...apa? kupikir aku harus bicara dengannya dan menyuruhnya untuk berhenti" jawab Hinata dengan wajah ragu. Kenapa Hinata tidak pernah memikirkannya? Pertanyaan Gaara. Bagaimana jika seandainya Uzumaki Naruto benar-benar jatuh cinta padanya?

"Aku tahu kau menyukai kakaknya" kata Gaara tiba-tiba

"Hah?"

"Kau menyukai Uzumaki Menma"

"A-a-a-apa yang kau katakan?" seru Hinata panik

"Aku tidak apa-apa jika kau dengan Uzumaki Menma, meskipun aku tidak terlalu mengenalnya, tapi aku tahu dia laki-laki yang dewasa dan bisa bertanggung jawab. Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan jika kau malah berbalik menyukai adiknya. Dan tentu saja itu tidak mungkin. Kau tidak akan pernah menyukai anak-anak seperti dia, bukan? Hinata?"

"Hah? t-t-t-t-tentu saja...tidak"

Gaara hanya menatap gadis itu dengan kening mengerut. Cara Hinata menjawab jelas aneh dan mencurigakan. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu menyukai anak SMP seperti Uzumaki Naruto.


Dia benar-benar marah! Itu kesimpulan Hinata saat dua hari sudah berlalu dan Naruto masih menghindarinya dengan sangat sengaja. Hei, Hinata tidak tahu kenapa Naruto kesal dan marah padanya. Gadis itu merasa tidak pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyakiti Naruto. Tetapi kenyataannya, sekarang, Naruto sedang marah padanya sejak dua hari lalu ketika pemuda itu tiba-tiba muncul di perpustakaan sekolahnya dengan penampilan Uzumaki Menma. Apa yang sebenarnya anak itu pikirkan? Apa yang membuatnya marah dan kesal? Apa yang salah dari apa saja yang telah ia lakukan padanya?

"Suasana hatinya sedang buruk" kata Menma tiba-tiba setelah Naruto melompati sebuah tembok rendah yang entah mengarah kemana. Hinata menoleh pada pemuda itu heran.

"Dua hari terakhir ini, dia tidak banyak bicara seperti biasa" lanjutnya

"Apa dia mengatakan sesuatu? Seperti...apa yang membuatnya suasana hatinya buruk" tanya Hinata

"Tidak. Dia tidak akan mengatakannya meskipun memang ada" ujar Menma.

"Mungkin aku harus bicara padanya" gumam Hinata serius

"Hm?" Menma menoleh ketika mendengar Hinata seperti mengatakan sesuatu

"...Tidak, tidak ada apa-apa." Hinata mengibaskan tangannya dengan senyum malu. Mereka kemudian berjalan kembali menuju sekolah dengan pikiran

Hinata yang dipenuhi wajah marah Uzumaki Naruto.

"Jadi, kenapa kau sengaja menghindar seperti ini?" tanya Sasuke ketika Menma dan Hinata sudah tak terlihat. Ia dan Naruto yang sejak tadi mengintip dari balik tembok rendah tadi langsung keluar dari persembunyian. Ketika tadi Naruto melompat dan bersembunyi dibaliknya, Sasuke yang melihatnya juga ikut bersembunyi dengan temannya itu sambil memperhatikan apa yang Naruto lihat.

"Ternyata aku benar-benar menyukainya" kata Naruto setelah menghela nafasnya. Sasuke diam beberapa detik untuk mencerna maksud kalimat Naruto. Detik berikutnya barulah Sasuke berseru sangat kaget. Pemuda Uchiha itu menatap tak percaya pada Naruto. Bukan, bukan tidak percaya., hanya saja, ia kaget, kapan Naruto menyadari perasaannya yang sebenarnya dan dengan berani dan santai memberitahunya. Tetapi, suasana hatinya seperti sedang buruk, terlihat dari wajahnya yang muram.

"Aku tahu. Akhirnya kau sadar juga. Lalu, apa yang sekarang terjadi? Kau menghindar darinya?"

"Dia menolakku" sahut Naruto sambil terus menatap lurus pada jalan yang tadi dilalui Hinata dan kakaknya.

"Eh? Eeeeeh? Dia langsung menolakmu begitu kau mengatakan suka padanya?" tanya Sasuke kaget.

"Aku tidak menyatakan apapun padanya"

"Huh? Ja...kenapa kau bisa tahu kau telah ditolak?"

"Karena Hinata-neechan ingin menembak Oniisan lagi"

"Astaga! Itu penolakan tidak langsung" ujar Sasuke dengan ekspresi wajah mengerikan.

"Iya, kan? Kalau begitu, aku menyerah" kata Naruto dengan santai lalu berjalan menuju sekolahnya dan Sasuke yang sedang berpikir keras tentang penolakan yang terjadi pada temannya itu. Pantas aja setelah kembali dari sekolah Hinata dua hari lalu, Naruto terlihat sangat depresi. Dia meninggalkan latihan karatenya dengan Kakashi sensei dan pulang lebih dulu bersama mereka kemudian membuat perkelahian dengan beberapa musuh mereka diluar sekolah. Untuk pertama kalinya Sasuke melihat cara berkelahi Naruto yang berbeda. Temannya itu cukup berlebihan menghajar orang-orang tersebut. Jadi, itu karena Hyuuga Hinata ingin kembali menyatakan cinta pada Menma setelah sempat membuat kesalahpahaman dengan menembak Naruto yang memang benar-benar mirip dengan kakaknya itu.

"Kau yakin? Mau menyerah begitu saja?" tanya Sasuke sambil mereka berjalan cepat menuju sekolah.

"Kau mengenal Oniisanku, bukan? Dia bukan orang yang bisa disaingi oleh anak-anak seperti kita" kata Naruto.

"Aku tidak apa-apa kalau Hinata-neechan bersama Oniisan. Oniisan pasti bisa menjaganya. Kalau orang yang disukai Hinata-neechan bukan Oniisan, baru aku akan bergerak" ujar Naruto. Kening Sasuke mengerut mendengar jawaban Naruto. Karena nada bicara temannya jelas sangat berbeda. Tidak apa-apa katanya? Jangan bercanda. Sejak kapan Naruto berubah seperti sekarang ini? Menyerah bahkan sebelum melakukan apa-apa. Naruto mungkin bisa membohongi orang lain tentang apapun. Tetapi, dia tidak akan pernah bisa membohongi mata dan telinga Sasuke yang sudah terbiasa dengannya. Masalahnya sekarang adalah, apakah Uzumaki Menma tahu kalau gadis yang disukai adiknya malah menyukainya? Apa yang akan dilakukannya, sebagai kakak, jika mengetahui hal ini? Jika mengetahui Naruto menyukai orang yang lebih tua darinya. Ini juga gara-gara Naruto yang terlalu mempermainkan gadis Hyuuga itu. Akhirnya, dia sendiri yang malah jatuh cinta.

"Sampai kapan kau mau menghindar?" tanya Sasuke

"...Sampai aku sudah berhenti menyukainya" sahut Naruto.


"Tadaima!" seru Naruto sambil melepas sepatu dan menaruhnya di rak seperti biasa. Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Ia baru saja selesai latihan karate dan membayar latihan yang ia tinggalkan kemarin. Kushina menyambut putra bungsunya itu seperti biasa.

"Shion-chan menunggumu di kamar" kata Kushina

"Sudah lama?" tanyanya

"Sekitar satu jam yang lalu...Naru-chan? kau baik-baik saja? Kalau ada masalah apapun, bicaralah pada Ibu" kata Kushina yang cemas karena sikap aneh Naruto sejak dua hari lalu. Melihat putra bungsunya itu tiba-tiba menjadi pendiam dan berwajah murung membuat Kushina dan Minato khawatir. Naruto tidak pernah seperti itu sebelumnya, jadi, ketika dia bersikap aneh, semua orang akan langsung menyadarinya.

"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya lelah karena latihan" katanya sambil tersenyum kecil. Naruto tahu semua orang mengkhawatirkannya. Ia juga tidak ingin bersikap seperti ini. Tetapi, suasana hatinya yang benar-benar sedang buruk membuat sikapnya mendadak berubah tanpa ia inginkan. Tidak mungkin ia membicarakan masalahnya pada Ibu dan Ayah. Masalahnya yang menyukai gadis yang lebih tua tetapi gadis itu malah menyukai kakaknya sendiri. Namun, karena hari ini Shion datang lagi, ia bisa berbicara sedikit dengan gadis itu. Shion selalu lebih bisa menenangkannya.

"Naruto?" panggil Shion heran ketika melihat Naruto masuk ke dalam kamar dengan wajah murung. Kushina memang sudah menceritakan sikap aneh Naruto yang terjadi sejak dua hari lalu. Karena khawatir, makanya hari ini Shion datang dan menemui anak itu untuk berbicara.

"Oniisan?" tanyanya

"Dia bersama teman-temannya mengerjakan tugas sekolah, di kamar" sahut Shion. Kening Naruto mengerut. Bersama teman-temannya? Apa Hyuuga Hinata ada di rumahnya juga? Di kamar kakaknya? Aaah, mungkin mereka sudah berpacaran atau semacamnya. Shion yang tadi sedang membaca-baca komik milik Naruto langsung berdiri dan membawakan tas sekolah Naruto. Gadis itu menutup pintu kamar dan meletakkan tas tersebut di atas meja. Shion kemudian duduk di samping Naruto yang sedang bersandar dikaki tempat tidurnya menghadap layar televisi.

"Baru selesai latihan?" tanya Shion

"Um"

"Mau bercerita padaku?" tanya gadis itu. Shion berpindah duduk di depan Naruto. Ketika Naruto menatap ke arahnya, Shion tahu kalau anak itu sedang sedih. Semuanya terlihat jelas di matanya.

"Neechan, bagaimana rasanya menyukai orang tidak menyukaimu?" tanya Naruto. Kening Shion mengerut. Pertanyaan Naruto begitu menyentak langsung di kepalanya. Jadi, sikap aneh Naruto karena masalah cinta? Bagaimana rasanya menyukai orang yang tidak menyukai kita? Shion tersenyum kecil. Pertanyaan tersebut mengingatkannya pada Menma. Menyukai orang tidak menyukai kita.

"Ayolah, kenapa jagoan seperti Uzumaki Naruto lemah hanya karena masalah cinta?" goda Shion mencoba menghibur Naruto. Shion tahu ini untuk pertama kalinya Naruto menyukai seseorang.

"Siapa?" tanya Shion

"Seseorang...yang cantik" sahut Naruto. Ia masih menatap Shion dengan wajahnya yang sedih. Naruto tidak sadar kalau dirinya benar-benar terlihat menyedihkan sekarang.

"Kemari" kata Shion dengan senyum kecil. Naruto tersenyum sedih sambil menyandarkan dagunya di pundak Shion. Gadis itu menepuk-nepuk pelan kepala Naruto yang memeluknya. Shion merasa aneh karena ini untuk pertama kalinya ia melihat Naruto berada dalam kondisi yang cukup buruk. Naruto yang seperti biasa sudah menghilag entah kemana. Bahkan pemuda yang hobi berkelahi seperti Naruto, pun bisa terlihat sangat menyedihkan ketika berurusan dengan cinta.

"Neechan" panggil Naruto masih menyandarkan dagunya pada bahu gadis itu.

"Hm?"

"Apa Neechan tidak pernah? Sekalipun, meski hanya beberapa detik saja, Neechan jatuh cinta pada Oniisan" tanyanya

"Karena kita sudah berteman terlalu lama, jadi, perasaan seperti itu...mungkin tidak akan pernah ada"

"Naruto kau sudah pulang?" suara Menma yang cemas tiba-tiba terdengar dan pintu kamar Naruto telah membuka. Naruto tidak bereaksi mendengar suara kakaknya. Ia langsung memejamkan matanya sambil terus menyandarkan dagunya di bahu kiri Shion. Shion menoleh ke arah pemuda itu dengan wajah cemas.

"Apa yang terjadi?" tanya Menma tanpa masuk ke dalam kamar adiknya itu.

"Dia hanya lelah, tidak apa-apa" jawab Shion. Kedua mata gadis itu langsung melebar begitu melihat seorang gadis yang menengok ke dalam kamar dari balik punggung Menma. Bukankah itu Hyuuga Hinata? Gadis yang penah ia lihat pulang bersama Menma dan Naruto. Jadi, gadis itu juga datang dan belajar di sini? Aah, mereka memang satu kelas dan berada di klub yang sama. Menma pernah mengatakan itu.

"Shion-chan, cobalah bicara dengannya" kata Menma

"Um, pasti" sahut Shion. Sampai pintu kamar Naruto menutup, Shion melihat Hyuuga Hinata terus memandang ke arah mereka.

"Mereka terlihat sangat dekat" ujar Hinata ketika ia dan Menma sudah masuk kembali ke dalam kamar pemuda itu dan bergabung dengan teman-teman mereka yang lain.

"Maksudmu Shion-chan? Aah, ya, Naruto sulit berbicara denganku mengenai beberapa hal, tetapi berbeda kalau ada Shion-chan. Naruto lebih bisa menceritakan apapun padanya" jelas Menma

"Seperti tadi?" tanya Hinata yang masih mengingat dengan jelas bagaimana Naruto memeluk gadis itu tanpa melihat ke arah kakaknya yang datang untuk melihat. Ia tahu Naruto tidak tidur tadi. Tetapi, anak itu memang sengaja tidak menghiraukan mereka. Apa yang salah dengan Naruto? Atau, apa yang salah dengannya? Hinata tahu kalau Menma terlihat mencemaskan adiknya itu. Katanya, Naruto tidak pernah bersikap aneh seperti itu sebelumya. Melihat Naruto tiba-tiba seperti tadi membuat semua orang cemas.

"Kupikir dia terlihat menghindarimu" kata Menma

"Hm? B-benarkah?"

"Ya, beberapa kali dia dengan sengaja mengabaikanmu, bukan? Apa kalian bertengkar?"

"...Aku tidak yakin, tapi mungkin, ada kata-kataku yang membuatnya marah" kata Hinata

"Ck! Anak itu. Kukira dia tidak akan bisa marah padamu. Maksudku, dia seperti orang bodoh yang setiap saat hanya tahu bagaimana caranya bercerita tentang Hyuuga Hinata dan rambutnya"

"Huh?" kening Hinata mengerut

"Ya, dia hanya tahu bagaimana caranya bercerita tentangmu. Bagaimana bercerita tentang rambutmu karena Naruto menyukai mereka"

"Rambut?" gumam Hyuuga Hinata. Gadis itu langsung memegang rambutnya sebentar. Naruto memang pernah mengatakannya, bahwa ia menyukai rambut Hyuuga Hinata. Tetapi bukan itu masalahnya sekarang. Hinata tidak tahu kenapa Naruto marah padanya. Anak itu tidak mengatakan apapun dan malah mengindarinya seperti sekarang. Hinata menjadi tidak bisa melakukan apapun dengan baik karena terus berpikir tentang Naruto yang kesal padanya. Ia berencana menyatakan cinta lagi pada Menma, tetapi ketika ia berpikir tentang Naruto, Naruto, Naruto lagi, semuanya menjadi berantakan. Kenapa Naruto terus mengganggu pikirannya? Keberadaan Naruto membuat Hinata semakin ragu untuk menyatakan perasaannya pada Menma. Semakin lama semakin ragu dan bahkan Hinata sesekali sampai lupa kalau ia menyukai Uzumaki Menma. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tepatnya, apa yang sudah Naruto lakukan sampai membuatnya menjadi bingung pada perasaannya sendiri.

"Kau mau bicara dengannya?" tanya Menma membuyarkan lamunan Hinata.

"...Kurasa aku memang harus bicara" sahut Hinata.


Sebelum waktu makan malam, Menma sudah mengantar teman-temannya yang lain sampai di depan pintu rumah setelah belajar bersama mereka selesai, kecuali Hyuuga Hinata yang masih tetap di rumah untuk berbicara dengan Naruto. Apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya itu?

"Oniichan, Naru-chan?" tanya Kushina pada Menma ketika putranya itu selesai mengantar teman-temannya.

"Masih dengan Shion-chan" kata Menma

"Ibu khawatir, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya" kata Kushina

"Mungkin dia akan mau bicara kalau ada Shion-chan" kata Minato

"Ibu akan panggil kalau sudah waktunya makan malam." Menma mengangguk lalu kembali naik menuju kamarnya. Ketika ia sampai di kamar, ia melihat Hyuuga Hinata sedang duduk melamun sambil melihat bingkai foto di atas meja belajarnya. Fotonya dan Naruto. Menma merasa ada yang aneh dengan Hinata dan Naruto. Mereka terlihat saling berkaitan dan memiliki sesuatu yang membuat mereka terlihat dekat. Tetapi, terkadang hubungan mereka tak jelas, tak terlihat, karena beberapa alasan. Menma tahu kalau adiknya itu sudah tertarik dengan Hyuuga Hinata. Ia tahu Naruto mengagumi gadis Hyuuga itu. Tetapi, Menma tidak tahu kalau perasaan adiknya itu sudah berubah terhadap Hyuuga Hinata. Dari perasaan senang biasa menjadi suka. Lalu perasaan suka itu menjadi cinta.

Menma kemudian membuyarkan lamunan Hinata dan mengajak gadis itu menemui Naruto. ketika membukan pintu, Naruto dan Shion sedang bermain game seperti yang biasa mereka lakukan ketika bertemu. Bedanya, Naruto bermain dengan wajah suram.

"Naruto, Hinata-san ingin bicara denganmu" kata Menma. Naruto sama sekali tidak menoleh dan malah terus bermain game. Shion menghela nafas lalu berbisik pelan ke arahnya.

"Kenapa dia ingin bicara denganmu?" tanyanya

"Entah" jawab Naruto

"Bicaralah, mungkin dia khawatir karena kau bersikap aneh" kata Shion lalu hendak berdiri ketika Naruto tiba-tiba memegang lengannya. Shion menoleh heran lalu berkata, "aku dan Menma akan menunggu di luar" katanya. Naruto akhirnya melepas tangannya dari lengan gadis itu. Shion tersenyum kecil sambil mengucak pelan rambut Naruto kemudian berjalan ke luar kamar. Menma tersenyum kecil pada Hinata dan menyuruh gadis itu untuk masuk. Menma kemudian menutup pintu kamar Naruto setelah gadis Hyuuga itu masuk.

Naruto masih memainkan game dengan wajah muramnya bahkan ketika Hyuuga Hinata sudah duduk di sampingnya. Beberapa menit sudah berlalu tetapi belum ada diantara mereka yang berbicara. Hyuuga Hinata sesekali menoleh ke arap pemuda itu tetapi Naruto seperti tidak memperdulikan kehadirannya. Setelah menghela nafas, Hinata akhirnya memulai pembicaraan.

"Kau marah padaku?" tanyanya pelan. Naruto sebenarnya sangat menghindari situasi seperti ini, di mana hanya ada ia dan Hyuuga Hinata dalam satu ruangan. Perasaannya pada gadis itu bahkan tidak mau pergi sejak dua hari lalu Naruto berpikir keras untuk mengusir gadis itu dari pikirannya. Tetapi, Hinata tetap tidak mau pergi, Naruto bahkan berbalik merindukan gadis itu karena ia sudah menjauhi Hyuuga Hinata dan membuat gadis itu bingung karenannya. Sudah dua hari ia bahkan belum menyentuh rambut Hyuuga Hinata. Naruto merindukan mereka, hanya saja, ia tidak ingin berdekatan lagi dengan Hinata karena ia akan bertambah suka dan pada akhirnya, ialah yang akan kecewa. Karena ia tahu, Hyuuga Hinata menyukai kakaknya. Tetapi, jika situasinya mendadak berubah seperti ini, ketika di dalam sebuah ruangan hanya ada dirinya dan Hyuuga Hinata, Naruto semakin tidak yakin jika ia bisa berhenti menyukai gadis Hyuuga itu.

"Kau marah padaku?" tanya Hinata lagi ketika Naruto belum juga menjawab pertanyaannya, bahkan pemuda itu tidak menoleh ke arahnya.

"Neechan kau menyukai Oniisan, bukan?" akhirnya Naruto berbicara, meski tanpa melihat Hinata.

"Apa kau bisa memegang rahasia?" Hinata malah balik bertanya. Naruto menoleh heran ke arah gadis itu.

"Sebenarnya akhir-akhir ini beberapa hal yang telah terjadi membuatku ragu" kata Hinata

"Hah?"

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku menjadi ragu pada perasaanku pada Menma-kun. Kau mau merahasiakan ini? Kupikir aku harus melupakan kalau aku pernah menyukainya. Aku tidak mau memiliki hubungan setengah hati dengan perasaanku yang semakin ragu"

"...Jadi, Oneechan belum menyatakannya lagi?" tanya Naruto

"Tidak, karena kau tiba-tiba marah dan membuatku cemas, semuanya gagal meskipun aku memaksa." Naruto langsung tersenyum lebar begitu mendengar jawaban Hyuuga Hinata. Wajah muramnya langsung kembali cerah seperti biasa. Tetapi, kenapa Hyuuga Hinata tiba-tiba bisa ragu dengan perasaannya pada Menma? Sesuatu pasti telah mengganggunya. Namun Naruto tidak ingin memikirkan lebih jauh lagi apapun alasan dan gangguan tersebut. Asalkan saat ini Hyuuga Hinata tetap diam dan melupakan perasaannya pada kakaknya, Naruto tidak lagi memikirkan apapun jenis gangguan tersebut.

"Lalu, kenapa baru sekarang kau tersenyum lebar seperti itu lagi?" tanya Hinata yang melihat Naruto hanya tersenyum sejak tadi.

"Aku tidak marah pada Oneechan" katanya kemudian

"Huh?"

"...Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal, karena itu aku sibuk dan menghindari pertemuan yang tidak perlu" kilah Naruto. Padahal beberapa waktu yang lalu ia masih kesal karena Hyuuga Hinata yang ingin menyatakan cinta lagi pada kakaknya. Hinata hanya mengangguk pelan. Sepertinya, ia terlalu berlebihan mengkhawatirkan Naruto. Pemuda itu jelas sangat baik-baik saja.

"Seharusnya kau mengatakan padaku, pada kami, semua orang cemas karena sikapmu yang mendadak aneh" kata Hinata sambil mengucak pelan rambut Naruto lalu berdiri, bersiap untuk pulang. Naruto mendongak ke arah gadis itu.

"Aku harus makan malam di rumahku" kata Hinata dengan senyum kecil, melambaikan tangan ke arah Naruto, lalu berjalan keluar kamar. Naruto hanya menatap Hinata yang akhirnya pulang. Usahanya untuk melupakan gadis itu selama dua hari terakhir ini jelas sangat gagal. Bukannya bisa melupakan gadis Hyuuga itu, Naruto malah semakin menyukainya karena dua hari tidak menggoda gadis itu seperti biasa. Untuk saat ini, Hinata memang sudah mengatakan kalau ia mulai ragu dengan perasaannya pada Menma. Tetapi tidak ada yang bisa menjamin kalau perasaan tersebut benar-benar akan pergi sementara gadis itu dan kakaknya tetap bertemu satu sama lain setiap jam sekolah maupun saat kegiatan klub bahkan ketika berangkat dan pulang dari sekolah. Hinata dan Menma bertemu dan berbicara setiap hari kecuali saat hari libur. Sementara dengan Naruto, mereka hanya bisa bertemu jika berangkat sekolah, itupun jika Naruto tidak berangkat terlalu cepat, atau berangkat sangat terlambat. Atau terkadang saat pulang sekolah. Mereka bukan teman satu kelas dan bukan teman satu sekolah. Jadi, petemuan yang disengaja sangatlah tidak bisa dilakukan.

Naruto bahkan menjadi bingung pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada Hyuuga Hinata? Gadis yang seusia kakaknya. Bagaimana ia bisa menyukai gadis itu? Seumur hidupnya Naruto bahkan tidak pernah bermimpi atau membayangkan jika suatu saat nanti ia akan jatuh cinta pada orang yang lebih tua darinya. Tetapi Hinata berbeda, ada sesuatu dalam diri gadis Hyuuga itu yang begitu menarik perhatiannya.


Sasuke sebenarnya tidak ingin memberitahu Naruto masalah ini. Tetapi, Naruto berhak tahu tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Bahkan meskipun hal tersebut pasti akan menyakiti temannya itu. Namun, Sasuke hanya memberitahu. Ia tidak ingin pergi untuk menemani Naruto. Ia harus membiarkan sahabatnya itu memutuskan sendiri apa yang harus ia lakukan tanpa pendapat orang lain. Akhirnya, Naruto pergi sendiri dengan wajah yang sudah berubah menakutkan bahkan hanya dari mendengar pemberitahuan Sasuke. Naruto langsung meninggalkan latihannya dan membiarkan Kakashi Sensei berteriak memanggilnya. Naruto tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Tetapi, Sasuke tidak akan sampai kembali ke sekolah setelah pulang hanya untuk memberitahu sesuatu yang tak penting.

"...Aku mendengarnya, mereka sedang berbicara. Menma-niisan...menyukai Hinata-neesan." Kalimat Sasuke itu terus terngiang jelas di telingnya. Kenapa sekarang kakaknya malah menyukai Hyuuga Hinata juga? Bukankah dia sudah bilang kalau dia tidak menyukai Hyuuga Hinata? Kenapa kakaknya berbohong? Kalau saja sejak awal kakaknya memberitahu bahwa ia menyukai Hyuuga Hinata, Naruto mungkin tidak akan membiarkan perasannya semakin menguat seperti sekarang.

"Naruto-kun hanya anak kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana sesungguhnya orang dewasa melakukan sesuatu, memilih sesuatu, atau memutuskan beberapa hal dalam hidup mereka"

Langkah cepat Naruto langsung berhenti. Itu suara Hyuuga Hinata. Naruto berhenti tidak jauh dibalik pohon besar tempat Hinata dan Menma berdiri dan berbicara. Kedua tangan Naruto mengepal. Hanya anak kecil katanya? Naruto masih diam untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Tetapi, tidak ada yang terdengar lagi setelah itu. Beberapa menit kemudian, Naruto hanya melihat dari bayangan yang terpantul di atas tanah. Bayangan di atas tanah yang hampir berwarna jingga karena matahari yang mulai turun. Entah siapa yang memulai, tetapi, Hinata dan kakaknya saling memeluk. Naruto tidak bisa memikirkan apapun saat itu. Ia hanya ingin memukul sesuatu yang bisa melawannya agar ia bisa memukul lebih keras lagi. Baru saja beberapa hari berlalu sejak ia dan Hyuuga Hinata berbaikan. Masalah yang datang bahkan jauh lebih buruk dan mengerikan. Semua yang sudah menjadi sangatlah jelas sekarang. Naruto menyukai Hyuuga Hinata, tetapi gadis itu menyukai kakaknya, dan kakaknya juga menyukai gadis Hyuuga itu.

"Kami seharusnya mengatakan ini padamu sejak awal, Naruto. Bahwa tidak mungkin seorang gadis yang lebih tua dari laki-laki bisa saling menyukai. Mungkin pernah terjadi pada sebagain orang, tapi kau tidak termasuk. Jadi, kenapa kau tidak mencari gadis lain sesusia kita? Kau bisa mendapatkan mereka bahkan tanpa menggunakan cara seperti yang kau lakukan pada Oneesan itu. Anak-anak perempuan akan datang padamu tanpa kau undang" kata Kiba.

Sasuke langsung memberitahu keempat teman-temannya yang lain tepat ketika Naruto bergegas menemui Hyuuga Hinata dan Menma. Sasuke dan keempat temannya yang lain berpisah di pertigaan jalan dan saat itulah Sasuke tanpa sengaja melihat Hyuuga Hinata dan Uzumaki Menma sedang berbicara. Karena penasaran, Sasuke akhirnya mendekat dengan pelan sampai ia bisa mendengar pembicaraan dua orang tersebut.

"Kami mengkhawatirkanmu. Kau tahu? Kita tidak akan pernah bisa mengerti apa yang orang dewasa pikirkan" kata Ino sambil menepuk-nepuk pundakNaruto. Gadis itu juga ikut karena saat Sasuke menelpon, Sai memang sedang menjemput Yamanaka Ino dan sedang bersama teman-teman mereka yang lain. Mereka akhirnya menyusul Naruto dan menemukan pemuda itu sedang duduk di depan sebuah toko yang tutup sambil bersandar dan menatap ke arah langit mendung. Wajahnya bahkan terlihat lebih menyedihkan dari siapapun. Naruto pasti sudah mendengar sesuatu yang menyakitkan juga. Setidaknya, Naruto mungkin tidak mendengar lagi kakaknya menyatakan cinta pada Hyuuga Hinata. Kemungkinan buruk lainnya adalah, Menma mungkin mengatakan hal yang sama lagi ketika Naruto sudah berada di sana tanpa sepengetahuannya.

"Seharusnya malam itu aku tidak menyamar menjadi Oniisan" kata Naruto. Sasuke yang mendengarnya langsung teringat lagi kejadian yang sudah berlalu hampir dua bulan itu. Ya, Naruto benar, seandainya malam itu Naruto tidak menyamar menjadi kakanya, pasti kesalahpahaman antara ia dan Hyuuga Hinata tidak akan pernah terjadi. Naruto tidak akan ketagihan menggoda gadis itu yang berakhir pada kenyataan bahwa ia menjadi jatuh cinta pada Hyuuga Hinata. Dan seharusnya, Sasuke melarang Naruto malam itu, untuk tidak mempermasalahkan kesalahpahaman pernyataan cinta tersebut. Sekarang, Sasuke menyesal setelah melihat kondisi Naruto saat ini.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Shikamaru

"...Kupikir aku harus memiliki seseorang yang bisa menggantikan Oneesan itu" gumam Naruto yang bahkan tidak lagi menyebut nama Hinata dan panggilan 'Oneechan' yang biasa ia gunakan untuk memanggil Hinata. Naruto langsung berdiri tegak dengan wajah dinginnya dan berjalan kembali menuju sekolah, mungkin untuk mengganti seragam latihannya. Teman-temannya hanya melihat dengan tatapan iba. Mereka tidak pernah melihat Naruto seperti itu.

"Turnamennya tinggal empat hari lagi. Mudah-mudahan masalah ini tidak mengganggunya terlalu lama" gumam Ino cemas. Yang lain mengangguk. Sasuke ingin menghubungi Sakura tetapi tidak mungkin. Gadis itu tidak bisa dihubungi lebih dulu. Sakura harus tahu apa yang terjadi pada Naruto. Mungkin dia bisa berbicara pada Naruto dan membuat pemuda itu merasa sedikit membaik.


Shion sangat kaget ketika membuka pintu rumahnya dan mendapati Uzumaki Naruto berdiri dengan tubuh yang sudah basah kuyup dengan seragam yang masih lengkap dan tas sekolahnya. Shion menatap Naruto dengan kening mengerut. Ada apa dengan pemuda itu? Naruto terlihat sangat buruk. Naruto seperti sedang menangis. Wajahnya terlihat sangat sedih. Sinar matanya tidak ada. Yang berdiri di depannya sekarang seperti bukan Uzumaki Naruto yang dia kenal. Kondisinya jauh lebih buruk dari terakhir kali Naruto tiba-tiba bersikap aneh beberapa hari lalu. Shion tidak yakin apakah Naruto menangis atau tidak karena wajah pemuda itu basah. Di luar, hujan memang turun sangat deras. Hujan memang masih akan terus turun selama beberapa minggu ke depan.

"Naruto apa yang terjadi? Cepat masuk" kata Shion sambil menarik tangan Naruto. Pemuda itu membuka sepatunya yang basah dan kotor dengan kedua tangan yang tanpa tenaga.

"Shion, siapa?" seru Ibunya dari dapur yang sedang menyiapkan makan malam.

"Naruto, Bu"

"Oh? Naru-chan?" Ibu Shion langsung keluar dari dapur untuk melihat Naruto. Shion langsung melihat ke arah Ibunya sambil menggeleng pelan, tanda kalau Naruto belum bisa diajak mengobrol dengan kondisinya saat ini. Ibunya mengangguk pelan lalu kembali ke dapur. Shion sampai harus menuntun Naruto untuk berjalan karena Naruto hanya berdiri diam tanpa bergerak. Gadis itu membawa Naruto ke kamarnya. Shion kemudian membongkar lemarinya dan mencari apakah ada pakaian Menma atau Naruto yang berada di lemarinya karena beberapa pasang pakaian kakak-beradik tersebut memang selalu tertinggal di rumahnya setiap kali dulu mereka menginap dan Shion membawa pakaian-pakaian tersebut ke Tokyo ketika keluarga mereka pindah kembali ke kota ini.

"Cepat ganti pakaianmu, kau bisa sakit" suruh Shion sambil mendorong Naruto menuju kamar mandi. Pemuda itu tidak berkata apapun, hanya menuruti kata-kata Shion. Hampir lima menit berlalu dan Naruto akhirnya keluar dari kamar mandi dengan pakaian ganti tersebut. Pakaian Menma ketika masih kelas tiga SMP. Shion menggeleng pelan melihat kondisi Naruto yang bahkan mengganti pakaianpun memerlukan waktu lima menit.

"Duduk" kata Shion. Naruto duduk di atas lantai dan Shion duduk di pinggir tempat tidurnya. Gadis itu lalu mengeringkan rambut Naruto dengan handuk kecil di tangannya. Pemuda itu hanya menunduk dan masih tidak mengatakan apapun.

"Ada apa lagi? Masalah gadis yang tidak pernah kau ceritakan padaku itu?" tanya Shion

"Aku mau menginap di sini" kata Naruto akhirnya meskipun suaranya sangat pelan.

"Ada apa di rumah? Atau kau bertengkar dengan Menma?" tebak Shion. Naruto tidak menjawab. Beberapa menit kemudian setelah Shion menyingkirkan handuk dari kepala Naruto yang sudah mulai kering, gadis itu melihat lantai yang basah. Dan ketika Shion mengangkat kepala Naruto, gadis itu benar-benar kaget melihat pemuda itu menangis. Shion merasa ini seperti mimpi. Mulai dari melihat Naruto yang muncul dalam keadaan basah kuyup, wajah sedih, dan sekarang pemuda itu menangis tanpa suara.

"Astaga, Naruto, katakan padaku apa yang terjadi. Aku seperti hampir mau mati melihatmu tiba-tiba datang dalam kondisi yang...buruk? Ya, sangat buruk dan sekarang kau menangis seperti ini. Katakan kalau aku sedang bermimpi melihatmu menangis " kata Shion cemas sambil ikut duduk di lantai lalu memeluk Naruto. Mencoba menenangkan pemuda itu. Sesuatu yang benar-benar serius sepertinya telah terjadi sampai membuat Naruto berantakan seperti ini.

"Oniisan..." kata Naruto

"Menma?"

"...Oniisan...menyukai Hyuuga Hinata" lanjut Naruto. Seperti tertimpa sebuah batu yang sangat besar, Shion merasa tubuhnya hancur dan seluruh tenaganya hilang. Kedua tangannya yang tadi memeluk Naruto langsung jatuh begitu saja. Sakit di hatinya yang memang sudah ada sejak awal langsung kembali menganga semakin lebar. Shion akhirnya menangis juga. Tetapi, gadis itu langsung sadar bahwa sekarang Naruto juga berada dalam suasana hati yang tidak baik. Setelah berusaha mengumpulkan lagi tenaganya, gadis itu kembali menepuk-nepuk pelan punggung Naruto sementara dirinya sendiri tidak bisa menghentikan air matanya yang terus keluar. Ia ingin menangis dan berteriak, tetapi, ia tidak mau membuat keadaan Naruto semakin memburuk. Shion sudah menduganya sejak awal, bahwa Menma mungkin telah jatuh cinta pada gadis bernama Hyuuga Hinata itu. Tetapi, Shion tidak menyangka bahwa sakitnya akan sampai seperti ini. Ia tidak boleh sedih karena Naruto juga sedang berada dalam masalah...masalah? Shion langsung menghapus air matanya dan melepas pelukannya dari Naruto. Anak itu juga sudah berhenti menangis.

"Naruto, jujur padaku, gadis yang kau sukai itu...bukan Hyuuga Hinata, kan?" tanya Shion sambil menatap Naruto.

"Huh? Tidak ada yang lain lagi" jawab Naruto yang sudah sedikit merasa lebih tenang karena akhirnya bisa menangis. Ia datang ke tempat yang benar. Ia tahu kalau Shion selalu bisa menenangkannya. Seandainya ia memiliki kakak perempuan juga.

Mendengar jawaban Naruto, Shion menatap Naruto dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya. Gadis itu sangat kaget. Bagaimana...bagaimana kakak-beradik itu bisa menyukai gadis yang sama? Bukan, bukan itu masalahnya. Bagaimana Naruto bisa jatuh cinta dengan gadis yang sesusia dengan kakaknya? Meskipun perbedaan tersebut hanya dua tahun, tetapi tetap saja aneh jika perempuanlah yang lebih tua dari pria. Ini masalah besar. Sepertinya Menma belum tahu kalau Naruto menyukai Hinata. Tetapi, bagaimana jika pemuda itu tahu kalau adiknya menyukai gadis yang juga ia sukai? Mereka akan bertengkar? Shion jadi cemas memikirkan masalah Naruto dan Menma sampai lupa kalau dirinya juga sedang sangat sakit hati.

"Tapi aku tahu aku tidak akan bisa menang dari Oniisan"

"Hah? Maksudmu?"

"Dilihat dari sudut manapun, Oniisan jauh lebih baik dariku. Dan lagi, ini seharusnya tidak wajar. Aku mungkin terlalu terbawa suasana sampai bisa jatuh cinta pada Oneesan itu. Kupikir aku harus mendapatkan seseorang yang bisa meyakinkanku kalau perasaanku beberapa saat terkahir hanya karena terbawa suasana saja" ujar Naruto dengan senyum kecil. Kening Shion mengerut. Dalam hatinya gadis itu berteriak tidak percaya pada kalimat yang baru saja keluar dari mulut Naruto. Bagaimana Naruto bisa begitu cepat menyerah dan bahkan sudah langsung berpikir untuk mencari gadis lain? Anak itu bahkan menyadari kalau dirinya, jika dibangingkan dengan Menma, sangat jauh berbeda. Karena kakaknya itu memang hampir sempurna dalam segala hal. Shion hampir saja mempercayai semua kata-kata menyerah dari Naruto dan senyumnya itu ketika ia menatap lebih serius ke arah pemuda itu. Tepat pada kedua matanya. Tidak ada apapun di sana kecuali kesedihan. Tidak ada mata yang tersenyum. Hanya kedua bibirnya saja yang membentuk senyum palsu. Bagaimana bisa Shion hampir tertipu hanya karena melihat Naruto tersenyum.

"Shion, makan malamnya sudah siap. Ibu juga sudah siapkan makanan kesukaan Naru-chan" seru Ibu Shion tiba-tiba.

"Sebentar lagi kami turun" sahut Shion. Gadis itu lalu menyuruh Naruto untuk berdiri sementara pikirannya sendiri masih berkecamuk dengan Menma dan Hyuuga Hinata. Ia memang sudah merasakan sakitnya sejak Menma tidak membalas perasannya. Tetapi, sakit kali ini benar-benar hampir membusuk. Shion tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan perasaannya pada Uzumaki Menma. Terkadang, gadis itu berpikir untuk melupakan saja perasaanya pada Menma. Tetapi, entah kenapa usaha tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil. Ia tidak bisa berhenti menyukai Menma meskipun sampai saat ini pemuda itu masih menolaknya. Namun, sakitnya, jika dibandingkan dengan Naruto, Shion tahu pemuda itu lebih sakit. Karena ia tahu ini pertama kalinya Naruto jatuh cinta. Anak itu tidak pernah merasakan apa itu rasa sakit ketika orang yang kau sukai tidak berbalik menyukaimu. Naruto bahkan ditolak ketika ia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Berbeda dengan Shion, meskipun Menma bukan orang pertama yang ia sukai, tetapi, hanya Menma satu-satunya orang yang sangat ingin ia miliki.

"Hah? Sara-chan?" ujar Shion ketika ia dan Naruto sudah berada di ruang makan. Gadis itu kaget mendapati Sara, tetangganya, berada di rumahnya saat makan malam seperti ini. Biasanya, Sara hanya datang di waktu lain.

"Konbanwa, Neechan" sapa gadis berambut merah tersebut. Shion hanya tersenyum lalu menyuruh Naruto yang terus menundukan kepalanya dengan wajah sedih untuk duduk. Gadis bernama Sara itu adalah tetangga Shion dan orang pertama yang mengajak keluarga Shion berkenalan.

"Uzumaki-san?" ujar Sara tiba-tiba. Shion langsung menoleh kaget ke arah gadis itu. Sementara Naruto langsung mengangkat kepalanya dan melihat Sara dengan wajah muramnya. Ia cukup kaget ketika namanya dipanggil dan baru saja menyadari kalau di ruang makan, bukan hanya ada dirinya, Shion, dan Ibu Shion. Tetapi, ada orang lain. Orang yang sepertinya mengenalnya tetapi Naruto sama sekali tidak pernah tahu kalau ia mengenal gadis dengan rambut merah itu.


TBC