~Misunderstand Love~ / PART 7

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T


Jam sudah menunjukan hampir pukul sembilan malam ketika Naruto belum juga pulang. Kushina dan Minato cemas. Sementara Menma menghubungi teman-teman Naruto. Tetapi, tidak ada yang tahu di mana adiknya itu setelah terakhir bertemu saat masih di sekolah sore tadi. Sasuke hanya menjawab seolah-olah ia tidak tahu apa yang telah terjadi dan hal itu yang mungkin membuat Naruto sampai belum pulang ke rumahnya. Kushina panik dan cemas karena Naruto tidak pernah pulang terlambat tanpa memberitahu mereka lebih dulu. Putra bungsunya itu pasti akan memberitahu kalau memang hendak pulang terlambat.

"Oniichan, coba hubungi Shion-chan" kata Minato setelah berpikir tentang siapa orang yang mungkin tahu keberadaan Naruto. Seakan baru teringat dengan Shion, Menma langsung menghubungi gadis itu. Bagaimana bisa ia lupa dengan Shion yang kemungkinan besar tahu keberadaan Naruto.

"Moshi-moshi, Shion-chan?" ujar Menma ketika Shion telah menjawab teleponnya.

"Oh, Menma-kun, kalau kau mau bertanya di mana Naruto, dia ada di sini sekarang, menginap" ujar Shion bahkan sebelum Menma bertanya. Mendengar pernyataan gadis itu membuat Menma sedikit lega. Pemuda itu langsung memberitahu orangtuanya. Minato dan Kushina tersenyum lega mendengar Naruto ternyata berada di rumah Shion. Setidaknya anak itu tidak berkeliaran sendirian.

"Aku mau bicara dengannya" kata Menma

"...Dia sudah tidur"

"Hah? Sudah tidur? Di jam seperti ini?" seru Menma kaget. Naruto tidak pernah tidur secepat ini.

"Umm, baiklah kalau begitu. Apa dia baik-baik saja? Kami cemas mengira ada sesuatu yang terjadi padanya. Maksudku, kau tahu Naruto selalu bilang kalau ingin menginap atau pulang terlambat"

"...Um, dia baik-baik saja"

"Syukurlah kalau begitu. Selamat malam"

"Menma!" seru Shion tiba-tiba dan cepat. Menma yang hampir saja ingin mematikan ponselnya langsung menempelkan lagi ponsel itu di telinganya.

"Ada apa?" tanyanya

"Ah! T-tidak apa-apa. Selamat malam." Menma menatap ponselnya heran begitu Shion memutuskan sambungan. Ada yang aneh. Cara gadis itu memanggilnya berbeda. Dan lagi, ada apa dengan Naruto? Pergi menginap di rumah Shion tanpa memberitahu siapapun dan membuat semua orang cemas. Menma sebenarnya ingin berbicara hal penting dengan Naruto begitu adiknya itu pulang. Tetapi, Naruto ternyata menginap di rumah Shion. Beberapa hal harus ia bicarakan dengan adiknya itu. Menma bahkan tidak mengira kalau perkembangannya akan sampai sejauh ini. Ia tidak ingin membuat segalanya berantakan. Hubungan mereka memburuk. Menma hanya ingin tahu bagaimana reaksi Naruto jika sudah mengetahui semuanya. Anak itu masih belum dewasa untuk menghadapi orang-orang dewasa atau bergaul baik dengan mereka. Menma hanya tidak ingin menyakiti Naruto dengan apapun itu. Namun, jika semuanya terjadi tidak sesuai dengan perkiraannya. Menma akan membantu semuanya untuk Naruto. Apapun yang bisa membuat adiknya itu merasa baik dan tetap menjadi Naruto yang selama ini bersamanya.


Kushina sedang menyiapkan sarapan pagi ketika pintu rumah diketuk dan saat ia membukanya, Naruto sudah berdiri dengan seragam lengkap dan senyum cerahnya. Kushina langsung memeluk putranya dengan wajah cemas dan segera menyuruh Naruto masuk.

"Ibu khawatir. Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau mau menginap di rumah Shion-chan?"

"Aku lupa. Aku mau menyiapkan buku untuk pelajaran hari ini dulu" kata Naruto sambil tersenyum lalu beranjak ke kamarnya. Kening Kushina mengerut melihat putra bungsunya itu. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap Naruto. Tetapi ia tidak tahu apa yang aneh itu. Naruto terlihat tetap seperti biasanya. Senyumnya. Semuanya. Aah, hanya sedikit yang berbeda, cara bicaranya terdengar lebih tenang. Setidaknya, itulah yang Kushina lihat berbeda pada putra bungsunya itu.

"Apa Naru-chan sudah pulang?" tanya Minato sambil menuruni anak tangga. Kushina mengangguk sambil menyiapkan sarapan di atas meja.

"Dia baik-baik saja?"

"Seperti biasa. Tapi Otousan, aku melihat ada yang aneh dengannya." Minato menatap ke arah istrinya yang sedang menyiapkan makanan di atas meja. Kushina balas menatap ke arah suaminya lalu berkata, "mungkin hanya perasaanku saja".

Menma turun kemudian dengan seragam yang juga sudah rapi dan langsung duduk untuk mulai sarapan. Lalu, Naruto turun beberapa menit kemudian.

"Naruto?" seru Menma kaget ketika melihat adiknya itu tiba-tiba sedang menuruni tangga.

"Ohayou, Oniisan. Aku baru saja pulang" sapa Naruto dengan senyum sepertia biasanya. Dia langsung mengambil tempat duduknya dan juga mulai sarapan. Minato dan Menma hanya diam melihat Naruto. Mereka semua merasakan hal yang sama bahwa ada yang aneh dengan sikap Naruto meskipun anak itu tetap bersikap seperti biasa. Minato melirik pada Kushina yang juga tepat melihat ke arahnya. Sementara Menma hanya memulai sarapannya sambil sesekali melirik ke arah Naruto. Terakhir kali Naruto bersikap aneh adalah ketika adiknya itu 'sepertinya' bertengkar dengan Hyuuga Hinata atau semacamnya. Sekarang, Naruto menjadi aneh lagi seperti sebelumnya tetapi anak itu mencoba untuk menutupinya. Itu yang Menma lihat untuk saat ini. Kecuali, jika itu hanya perasaannya saja karena mencemaskan Naruto yang semalam tidak pulang dan tidak memberitahu siapapun kalau ternyata dia menginap di rumah Shion.

Tepat ketika Naruto dan Menma keluar, Hyuuga Hinata sedang berjalan melewati rumah mereka seperti biasa. Gadis itu menyapa mereka seperti biasa. Dan seperti biasa juga, Menma dan Naruto balas menyapa. Tetapi, Menma melirik curiga ke arah adiknya selama mereka berjalan. Ia tahu kebiasaan Naruto menarik rambut Hinata setiap kali bertemu gadis itu. Pagi ini semuanya mendadak aneh. Hinata juga merasakannya. Sikap Naruto benar-benar berbeda dari biasanya. Gadis itu tidak tahu apa yang aneh. Tetapi, yang paling mencolok dan sangat disadarinya adalah, Naruto yang tidak menarik rambutnya seperti biasa.

"Oneechan, kau akan ikut Oniisan melihat turnamenku, bukan?" tanya Naruto memecahkan sunyi di antara mereka. Menma dan Hinata yang sejak tadi sibuk melamun langsung tersadar begitu mendengar suara Naruto.

"Oh? Eh? T-tentu saja" jawab Hinata. Naruto terseyum kecil lalu berhenti.

"Kalau begitu" kata Naruto sambil melambaikan tangan ke arah Menma dan Hinata kemudian berjalan menuju sekolahnya. Hinata dan Menma bahkan tidak sadar kalau mereka sudah sampai di pertigaan jalan. Mereka sedang memikirkan Naruto.

"Menma-kun, ngng...aku merasa ada yang aneh dengan Naruto-kun. Apa terjadi sesuatu?" tanya Hinata setelah Naruto menjauh.

"Sebenarnya, dia tidak pulang ke rumah kemarin. Kami semua cemas dan ternyata dia pergi menginap di rumah Shion-chan. Dia baru kembali pagi tadi dan sikapnya sedikit aneh meskipun dia mencoba untuk bersikap seperti biasa" jelas Menma. Kening Hinata mengerut. Naruto tidak pulang ke rumahnya dan menginap di rumah Shion?

"Kumohon jangan bicara apapun padanya" kata Hinata tiba-tiba. Menma menoleh kaget mendengar permintaan gadis itu. Hinata menatapnya dengan wajah sedih sambil menggeleng pelan lalu berkata lagi, "aku belum yakin apa aku bisa mengatasinya jika Naruto tahu. Aku sendiri belum yakin. Ini membuatku merasa aneh. Lagipula, kita tidak bisa hanya menebak dari apa yang kau pikirkan saja"

"Aku tahu dia menyukaimu" kata Menma. Hinata menatap pemuda itu kaget.

"Aku mengenalnya dengan baik. Kami bersaudara. Aku bisa tahu hanya dengan melihat bagaimana dia bersikap. Sekarang kau tinggal meyakinkan dirimu sendiri. Apa kau benar-benar menyukai menyukai adikku atau tidak" kata Menma. Hinata langsung menunduk malu mendengar Menma mengatakan hal itu lagi. Menma tertawa kecil melihat gadis itu. Sambil berjalan kembali, pemuda itu berbicara lagi, masih dengan tawa kecilnya.

"Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi. Maksudku, usia kalian. Bagaimana Naruto bisa menyukaimu yang seusia denganku, dan kau..."

"Berhenti terus mengungkit masalah usia" seru Hinata dengan wajahnya yang hampir memerah semua. Menma hanya mengulum senyumnya melihat tingkah gadis itu. Hyuuga Hinata. Apa yang membuat adiknya itu menyukai gadis yang jelas lebih tua darinya? Meskipun Naruto tidak pernah bercerita tentang bagaimana ia terhadap Hyuuga Hinata, tetapi Memna tahu Naruto menyukai gadis Hyuuga itu meskipun Menma sendiri bingung bagaimana adiknya bisa menyukai orang yang lebih tua darinya. Namun, apapun itu, ia harus melakukan yang terbaik untuk Naruto. Ini bukan masalah kecil kalau hanya menyangkut Hyuuga Hinata dan keluarga mereka. Tetapi, Menma tahu bagaimana keluarga gadis Hyuuga itu meskipun tidak mengetahui segalanya. Menma mengenal bagaimana Hyuuga Neji. Kakak laki-laki Hinata. Menma juga tahu tentang teman dekat Hinata bernama Sabaku Gaara. Menma bahkan beberapa kali pernah melihat Ayah gadis itu. Ia memang tidak pernah berbicara dengan beliau. Namun Menma tahu, bahwa Ayah Hinata benar-benar menakutkan. Hyuuga Hiashi adalah pria yang benar-benar harus dihindari jika mereka tidak ingin hidup mereka berakhir karena kehabisan oksigen. Melihat Hyuuga Neji saja Menma harus berpikir dua kali untuk berurusan langsung dengan pemuda Hyuuga yang dingin seperti dia. Menma tidak yakin apa anak-anak seperti Naruto bisa menghadapi tiga orang aneh seperti mereka yang selalu mengelilingi Hyuuga Hinata.


Sasuke menatap curiga pada gadis yang tiba-tiba datang menemui Naruto ke kelas mereka. Sasuke beberapa kali pernah melihatnya. Gadis bernama Sara itu sering melihat mereka. Tidak, bukan mereka, tapi Naruto. Kenapa sekarang gadis itu tiba-tiba berani datang dan menemui Naruto? Sasuke memang tidak mengenal gadis berambut merah itu, ia hanya tahu namanya karena setelah menyadari gadis itu sering memperhatikan Naruto, Sasuke langsung mencari tahu namanya. Sasuke tidak tahu kenapa. Hanya saja, ia tidak menyukai gadis itu. Ia seperti melihat sesuatu yang buruk jika melihat Sara.

"Ck!" Naruto berdecak kesal ketika melihat Sara datang menemuinya dan gadis itu sedang berdiri menunggunya di pintu kelas. Naruto sedang dalam suasan hati yang benar-benar buruk dan dia tidak ingin melihat gadis manapun datang menemuinya hanya untuk berbicara omong kosong. Hanya karena Naruto membalas satu pertanyaannya saat makan malam di rumah Shion tadi malam, gadis itu menjadi lancang dan berani untuk datang menemuinya sampai di kelas.

"Aku tidak menyukainya" kata Sasuke serius sambil melihat ke arah Sera yang sedang berdiri menunggu.

"Tentu saja, kau sudah punya Sakura-chan"

"Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak menyukai gadis seperti itu karena beberapa hal buruk yang aku pikirkan tentangnya. Dengarkan aku, seburuk apapun suasana hatimu sekarang, jangan pernah mempercayai seseorang yang baru kau kenal. Sekarang bicara saja dulu padanya" kata Sasuke. Dengan malas akhirnya Naruto beranjak dan menemui Sara. Gadis itu tersenyum begitu melihat Naruto akhirnya bersedia menemuinya.

"Ada apa?" tanya Naruto sambil berusaha tersenyum ramah pada gadis itu.

"A-apa kau berlatih karate setelah pulang sekolah?" tanya Sara

"...Iya"

"Aku ingin melihat latihanmu" kata gadis itu

"Huh? Kalau begitu datang saja" jawab Naruto tanpa memikirkan maksud permintaan Sara. Gadis itu langsung tersenyum lebar. Naruto mengangkat tangan kanannya kemudian masuk kembali ke kelas. Sara balas mengangkat tangan kanannya setelah Naruto masuk. Gadis itu kemudian pergi.

"Dia bicara apa?" tanya Sasuke

"Katanya ingin melihat latihanku" jawab Naruto malas.

"Oya, tadi malam Menma-niisan menelponku. Kau tidak pulang ke rumah?"

"Um. Aku menginap di rumah Shion-neechan"

"Naruto, menurutku, bagaimana kalau kau mengatakan yang sejujurnya saja pada Oneesan itu" usul Sasuke. Naruto langsung menatap marah ke arah Sasuke.

"Kau gila!" serunya kesal.

"Ap-apa? Kau tidak mungkin terus berdiam diri, bukan? Setidaknya, itu bisa membuatmu lebih tenang dan mungkin bisa melupakannya. Lagipula, kejadian kemarin itu, aku hanya mendengar Menma-niisan yang berbicara. Setelah itu aku langsung memberitahumu"

"Tanpa mendengar Hinata-neechan menjawab, aku sudah tahu bagaimana reaksinya. Kau tahu kalau gadis itu menyukai kakakku, bukan?" kata Naruto sambil berdiri dengan wajah kesalnya.

"Kau mau kemana? Pelajaran akan dimulai sebentar lagi" kata Sasuke

"Aku tidak ikut" kata Naruto lalu berjalan keluar dari kelas dengan wajah kesal. Sasuke langsung menghela nafas. Pemuda Uchiha itu lalu mengeluarkan ponselnya dan menatap benda mungil itu. Sakura berjanji akan menelpon sekitar pukul empat sore nanti. Gadis Haruno itu akan kembali dua hari lagi untuk melihat turnamen Naruto. Sasuke belum menceritakan apapun pada Sakura karena mereka belum berbicara lagi sejak terakhir kali gadis itu menelpon dan Naruto merebut ponselnya. Sasuke hanya ingin Sakura cepat kembali dan membantu berbicara dengan Naruto yang seperti kapan saja bisa membunuh orang. Seseorang harus segera membantu menenangkan pemuda itu sebelum dia benar-benar membunuh orang.


Menma sebenarnya ingin memberitahu semuanya pada Naruto. Tetapi, Hinata sudah memohon padanya berkali-kali untuk tidak memberitahu anak itu sampai Hinata sendiri benar-benar yakin pada perasaannya sendiri.

"Bagaimana latihanmu?" tanya Menma ketika Naruto sudah pulang.

"Baik-baik saja" jawabnya sambil memeluk Kushina yang duduk di samping kakaknya. Menma sedang membantu Kushina mencari informasi yang entah di dalam beberapa koran yang berada di atas meja. Naruto baru saja duduk di sofa di depan mereka ketika pintu rumah diketuk.

"Biar aku saja" kata Menma kemudian langsung menuju pintu depan rumahnya.

"Naru-chan, kau baik-baik saja?" tanya Kushina cemas. Naruto yang mendengar pertanyaan Ibunya lagsung mengangkat kepala dari atas koran-koran yang sedang ditatapnya.

"Huh? Aku baik-baik saja, Bu. Aku hanya merasa sedikit cemas karena turnamen yang tinggal tiga hari lagi" kata Naruto dengan senyumnya yang seperti biasa. Kushina hanya menatap putra bungsunya tetap khawatir meskipun Naruto sudah menjawab kalau ia baik-baik saja.

"Shion-neechan?" seru Naruto begitu melihat Menma ternyata masuk kembali bersama Shion. Gadis itu tersenyum lebar sambil menyapa Kushina.

"Aku mengkhwatirkanmu, karena itu aku datang lagi" kata Shion. Menma melihat gadis itu aneh. Shion menjadi aneh seperti Naruto. Meskipun Shion tampak lebih tenang. Tetapi, Menma tahu ada yang berbeda dari gadis itu. Mereka berteman dan saling mengenal sudah sangat lama. Jadi, Menma tahu jika tiba-tiba sikap Shion berubah.

"Neechan" panggil Naruto sambil berdiri dan langsung menaiki anak tangga. Shion langsung mengikuti Naruto. Menma hanya menatap dua orang itu dengan wajah tegang.


Hampir satu jam dan Menma tidak bisa menunggu karena terlalu penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan Naruto dan Shion yang bersikap aneh. Pemuda itu langsung mengetuk pintu kamar Naruto. Shion yang membuka.

"Aku mau bicara" kata Menma tegas lalu bergegas ke kamarnya. Shion yang sejak tadi berusaha bersikap biasa saja di depan pemuda itu langsung menutup kembali pintu kamar Naruto dengan wajah yang kembali sedih. Ia ingin menangis, tetapi tidak di depan Naruto.

"A-aku mau ke kamar Menma sebentar. Dia sepertinya ingin berbicara serius denganku"

"Jangan berbicara apapun tentangku" kata Naruto. Shion mengangguk. Gadis itu kemudian keluar dan berjalan menuju kamar Menma. Shion menghela nafasnya, lalu memegang wajahnya agar tetap terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Gadis itu kemudian membuka pintu kamar Menma dengan sangat pelan dan langsung tersenyum lebar begitu Menma melihat ke arahnya. Pemuda itu sedang duduk di kursi belajarnya. Shion menutup kembali pintu kamar setelah masuk. Gadis itu lalu duduk di pinggri tempat tidur. Menghadap ke arah Uzumaki Menma.

"Ada sesuatu yang penting?" tanya Shion

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku" kata Menma serius. Untuk sesaat raut wajah Shion berubah. Tetapi gadis itu langsung memasang wajah tidak mengerti.

"Sesuatu apa? Tidak ada apa-apa" kilahnya

"Kau dan Naruto bersikap aneh meskipun kalian mencoba menutupinya dariku"

"Aku dan Naruto? Tidak! Apa yang kau bicarakan? Kami baik-baik saja dan tetap seperti biasa." Menma menatap Shion kesal. Jelas sekali ada yang gadis itu sembunyikan. Cara bicaranya terdengar sedang mati-matian berusaha membohonginya.

"Kalian tidak mempercayaiku" kata Menma. Shion menatap pemuda itu kaget.

"Jangan berbicara hal yang tidak penting" seru Shion. Gadis itu tidak menyangka Menma sampai akan berkata seperti itu. Menma tidak pernah terlihat begitu kesal seperti itu sebelumnya. Shion tahu kalau Menma tentu saja akan menyadari sikap aneh apapun yang mungkin akan terjadi padanya maupun Naruto. Shion ingin memberitahu pemuda itu, bahwa Naruto sudah mengetahuinya semuanya. Shion juga ingin memberitahu Menma, bahwa pemuda itu telah begitu menyakiti perasaannya. Sakit yang lebih parah dari sebelumnya. Dan luka di hatinya yang semakin menganga. Shion ingin mengatakan semuanya. Tentang rasa sakitnya. Tetapi, Naruto tidak ingin kakaknya itu tahu kalau dia menyukai Hyuuga Hinata. Mungkin Shion seharusnya mengatakannya pada Menma. Namun bukan tentang Naruto yang menyukai Hinata karena itu adalah masalah Naruto sendiri. Shion harus menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa menyinggung apa yang telah Naruto peringatkan padanya.

"Maafkan aku" ujar Menma tiba-tiba. Pemuda itu menatapnya dengan wajah sedih dan menyesal.

"Aku menolak semua gadis yang menyukaiku karena aku tidak ingin menyakitimu. Aku tahu aku terus menyakitimu bahkan mungkin tanpa aku sadari. Karena itu, aku tidak ingin membuat hubungan dengan gadis manapun yang akan membuatmu membencimu. Aku ingin menjauhi mereka sampai kau bisa melupakan perasaanmu padaku. Tetapi, sepertinya caraku sama sekali tidak berhasil. Kau kembali ke Tokyo dan tetap mengatakan hal yang sama padaku. Aku membuat sedikit jarak di antara kita agar kau bisa menerimaku hanya sebagai sahabatmu. Namun, semua yang kulakukan tidak pernah berhasil dan pada akhirnya aku membuatmu menangis lagi..."

"Menma!" seru Shion yang mulai tidak tahan mendengar semua pengakuan Menma. Jadi, Menma sampai melakukan banyak hal hanya untuk bisa membuatnya lupa kalau ia pernah menyukai pemuda itu? Lalu, bagaimana dengan Hyuuga Hinata?

"Naruto tidak lagi berbicara denganku seperti biasa sejak pagi tadi. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku tidak tahu apa yang kalian sembunyikan dariku. Atau mungkin aku telah menyakiti kalian berdua. Aku mungkin tanpa sadar sudah membuat Naruto marah. Dan kau, aku bahkan sudah lelah untuk menghitung berapa kali aku membuatmu menangis"

"Kalau kau merasa bersalah padaku, kenapa kau tidak mau berusaha untuk menyukaiku?" suara Shion tiba-tiba terdengar sinis. Menma yang tadi menunduk langsung menatap ke arah gadis itu dengan kaget. Untuk pertama kalinya, Menma melihat Shion menatap marah ke arahnya seolah-olah gadis itu seperti sedang mencekiknya. Kali ini, kemarah Shion benar-benar meluap. Gadis itu akhirnya mulai merasakan bagaimana lelahnya menahan emosinya terhadap perasaannya pada Menma. Shion tidak ingin marah pada pemuda itu. Tetapi, mendengar Menma berkata dengan penuh penyesalan seperti itu memancing kemarahannya untuk menuntut pembalasan dari Menma yang terus mendiamkannya seolah tidak pernah terjadi apapun.

"Sudahlah. Apapun yang aku katakan tidak akan pernah sampai ke hatimu" kata Shion sambil menghapus air matanya yang sedikit meluap keluar. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Menma refleks berdiri sambil meminta maaf lagi pada gadis itu. Langkah Shion berhenti, namun gadis itu tidak menoleh. Bahkan ketika Menma memeluknya dari belakang dan terus mengucapkan kata maaf, gadis itu tetap tidak bergeming. Shion hanya berdiri membeku dan menangis lagi. Ingatannya tentang perkataan Naruto yang mengatakan kalau Menma menyukai Hyuuga Hinata dan sekarang pemuda itu memeluknya untuk meminta maaf membuat Shion merasa semakin sakit. Shion tidak tahu kenapa Menma tidak bisa menyukainya. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia ubah dari dirinya agar Menma bisa menatapnya tidak hanya sebagai teman masa kecil saja.

"Bagaimana kalau kau mencari cara agar aku berhenti menyukaimu? Karena aku sendiri sudah melakukan semua yang aku bisa untuk menghilangkan perasaan ini. Tetapi, kau melekat terlalu erat padaku, Menma. Bagaimana caranya kau membuatku bahkan sedetikpun tidak bisa menghilangkanmu dari kepala ini? Bukankah menurutmu itu sangat jahat ketika kau bahkan sedang sibuk berpikir tentang gadis lain?" Kata-kata Shion menjadi lebih sinis. Gadis itu melepas paksa kedua tangan Menma yang memeluknya. Shion akhirnya berbalik ke arah Menma lalu mencium pipi pemuda itu sekilas sebelum akhirnya gadis itu membuka pintu dan keluar.


Naruto akhirnya menemani Sara ketika gadis itu memintanya menemani ke suatu tempat yang entah. Naruto sebenarnya ingin menolak. Tetapi, menolak ajakan gadis itu akan membuat waktunya yang kosong akan terisi lagi dengan pikiran-pikirannya tentang Hyuuga Hinata. Padahal ia sudah memutuskan untuk mencari gadis lain atau apapun yang bisa mengalihkan pikirannya dari Hyuuga Hinata. Namun, keputusan itu sangat sulit untuk ia lakukan. Mencari gadis lain dan mencoba menyukai mereka. Sekarang, dan entah sampai kapan, tidak ada satu gadispun yang bisa menarik perhatiannya selain Hyuuga Hinata. Tidak ada gadis lain seperti Hyuuga Hinata. Tidak ada yang lebih indah dari Hyuuga Hinata. Tidak ada yang melebihi gadis itu di mata Naruto.

"Sasuke-san terlihat tidak menyukaiku" kata Sara ketika mereka sedang berjalan-jalan di tempat pejalan kali dengan toko-toko yang berjejer disepanjang jalan.

"Wajahnya memang seperti itu, bukan karena dia tidak menyukaimu" kata Naruto sambil melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Naruto mengingat tempat ini. Hanya tinggal beberapa meter lagi dan ia akan menemukan sebuah gedung les piano yang mewah dan cafe diseberang jalan yang terlihat nyaman. Cafe yang jika hujan sedang turun, angin yang membawa titik-titik hujan itu akan sampai pada dinding kaca yang bening dan mereka akan mengalir di sana. Seperti saat ia dan Hyuuga Hinata duduk dibalik dinding kaca itu dengan dua cangkir coklat panas di atas meja.

Naruto kaget ketika akhirnya mereka sampai di depan cefe tersebut dan Sara langsung duduk di bangku panjang yang berada di depan cafe. Naruto hendak melihat ke arah gedung les piano ketika Sara menarik tangannya sampai membuat Naruto terpaksa menghadap ke arah gadis itu.

"Ada apa?" tanya Naruto

"Apa kau bisa membantu meniupnya? Mataku seperti dimasuki debu" kata Sara sambil memegang mata sebelah kirinya. Gadis itu mencoba melihat lagi ke arah sosok yang berada diseberang jalan, sementara Naruto, dengan wajah setengah hati, akhirnya menunduk sedikit agar bisa meniup mata kiri gadis itu.

"Sudah?" tanya Naruto sambil memperhatikan mata Sara

"T-tidak, belum, sekali lagi" kata Sara sambil mendongak ke arah pemuda itu. Naruto meniup mata kiri gadis itu sekali lagi lalu kembali berdiri tegak.

"Sudah terasa lebih baik" kata Sara dengan senyum lebar. Gadis itu kembali melihat ke arah yang sama di seberang jalan. Lalu, senyumnya kembali mengembang. Ia kemudian berseru tiba-tiba, membuat Naruto kaget.

"Bukankah itu Hyuuga Oneesan?" katanya. Kaget, Naruto langsung menoleh ke arah pandang Sara dan menemukan Hyuuga Hinata, sedang berdiri di depan gedung lesnya sambil menatap ke arah mereka. Hari ini Hinata sepertinya sedang les seperti biasa. Kalau saja keadaan masih biasa-biasa saja seperti dulu, Naruto pasti akan langsung melambaikan tangan ke arah gadis itu sambil tersenyum lebar. Lalu, dengan segera menyebrangi jalan untuk menemui Hyuuga Hinata dan mengobrol seperti biasa. Sayangnya, semua keadaan telah berubah. Keadaan buruk yang terjadi pada Naruto membuat pemuda itu bahkan ingin menangis setiap kali melihat Hyuuga Hinata. Melihat Hinata membuat Naruto seperti ikut melihat kakaknya yang seolah selalu berdiri di sisi gadis itu.

"Aku akan kembali beberapa menit lagi, tunggulah di sini" kata Naruto lalu bergegas pergi dan menghilang dari pandangan Hyuuga Hinata yang terus menatapnya dari seberang jalan. Sara tersenyum kecil lalu pelan-pelan menyebrangi jalan untuk menghampiri Hyuuga Hinata yang masih menatap ke arah tempat Naruto menghilang.

"Konnichiwa, Oneesan" sapanya ketika sudah berada disamping Hinata. Hinata yang sejak tadi menatap ke arah tempat Naruto menghilang langsung tersadar dan menoleh ke arah Sara. Hinata tidak pernah tahu kalau Naruto bergaul dengan perempuan diluar sekolah. Hinata juga tidak pernah melihat gadis berambut merah itu bersama Naruto sebelumnya. Ketika Sara menyapanya, Hinata terpaksa harus tersenyum dan balas menyapa gadis itu. Kenapa gadis itu bersikap seolah-olah sudah mengenalnya?

"Oneesan, kau teman kakaknya Naruto-kun, bukan?" tanya Sara

"U-um. Kau?"

"Aku Sara. Kami sebenarnya sedang berkencan hari ini. Aku terpaksa ikut karena Naruto-kun memaksa dan aku akhirnya membatalkan janji bersama teman-temanku" ujar Sara dengan senyum ramahnya. Namun, Hinata menatap gadis itu berbeda. Senyum itu seperti sedang mencemoohnya. Dan kedua mata Sara sedang menatapnya penuh benci. Itu yang Hinata lihat dari ekspresi gadis itu. Namun, Hinata tidak tahu apakah pikirannya benar atau tidak. Tetapi, gadis itu hanya seperti sedang berpura-pura bersikap ramah padanya.

"Aku sering melihatmu bersama Naruto-kun" kata Sara kemudian.

"Aaah, itu karena aku berangkat sekolah selalu melewati rumahnya. Jadi, kami sering bertemu" sahut Hinata. Ada apa dengan gadis itu? Pikir Hinata heran. Kenapa ia begitu bersusah payah untuk bersikap ramah padahal wajahnya benar-benar terlihat jahat dengan senyum palsu itu. Mereka sedang berkencan katanya? Menma pasti tahu kalau memang Naruto pergi berkencan dengan seseorang, bukan? Menma juga tidak pernah bercerita tentang Naruto yang dekat dengan gadis bernama Sara.

"Oneesan, kau tahu? Sebenarnya Naruto-kun hanya senang denganmu" kata Sara

"Huh?"

"Iya. Dia hanya senang padamu. Tapi, dia tentu saja tidak sampai menyukaimu. Itu mustahil karena kau lebih tua darinya. Naruto pernah mengatakan padaku kalau dia tidak akan menyukai gadis yang lebih tua darinya. Bukankah itu juga termasuk Oneesan?." Kening Hinata mengerut mendengar ocehan gadis itu. Hinata belum benar-benar menyadari kalau sebenarnya Sara memang membencinya. Sara mengenal Hyuuga Hinata karena gadis itu sering melihat Naruto berangkat bersama dengannya. Meskipun hanya melihat dari jauh. Sara juga sering mendengar beberapa cerita dari teman-temannya kalau Uzumaki Naruto sangat menyukai gadis bernama Hyuug Hinata sampai pemuda itu berani untuk menemui Hinata langsung ke sekolah gadis Hyuuga itu. Awalnya, Sara tidak berani untuk mendekati Naruto karena pemuda itu selalu dikelilingi oleh teman-temannya, juga Uchiha Sasuke yang sudah jelas tidak menyukainya. Tetapi, ketika sebuah kebetulan terjadi saat ia melihat Naruto berada di rumah Shion malam itu, Sara berubah pikiran dan memberanikan dirinya untuk mendekati Naruto. Namun, gadis itu sangat berhati-hati terhadap Uchiha Sasuke.

Mereka kaget ketika Naruto tiba-tiba sudah berdiri bersama mereka. Hinata kaget karena Naruto tiba-tiba muncul. Sementara Sara kaget karena takut Naruto mendengar semua pembicaraannya dengan Hyuuga Hinata.

"Oneechan, kau dijemput?" tanya Naruto

"I-iya"

"Kalau begitu hati-hati. Kami harus pergi sekarang" kata Naruto dengan senyum kecil. Kedua tangannya mengepal untuk menahan dirinya agar tidak menarik rambut gadis itu. Naruto akhirnya tersenyum lagi lalu berjalan pergi setelah menyebut nama Sara.

"Di depan cafe tadi bukan ciuman pertama kami" bisik Sara tepat di telinga Hinata lalu akhirnya segera menyusul Naruto. Kedua mata Hinata membulat mendengar bisikan Sara yang terdengar begitu jelas di telinganya dan sekarang kalimat itu terus terulang dalam pikirannya. Hinata memang melihatnya. Beberapa menit yang lalu saat ia hendak memanggil Naruto ketika melihat pemuda itu. Namun, suaranya tetahan ketika menyadari Naruto tidak sendiri. Pemuda itu bersama seorang gadis yang tidak pernah Hinata lihat sebelumnya. Hinata juga melihatnya, ketika Naruto berdiri menghadap gadis bernama Sara itu, lalu menunduk sampai kepalanya hampir bersejajar dengan wajah gadis itu. Hinata tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang Naruto dan gadis itu lakukan. Tetapi, semuanya menjadi jelas setelah Sara mengatakan semuanya. Semuanya bahkan tentang ciuman tadi. Tentang Naruto yang tidak akan mungkin menyukai seseorang yang lebih tua darinya. Tentang mereka yang sedang berkencan. Tentang ciuman tadi. Tentang Naruto yang seperti sedang menghindar darinya dua hari terakhir ini. Dan tentang Hinata yang akhirnya merasa cemburu untuk pertama kalinya.

"Hinata, kau menangis?" tanya Neji yang baru saja sampai untuk menjemput adiknya itu.

"Huh? Me-menangis? Tidak" jawab Hinata yang kaget ketika pipinya sedikit basah. Gadis itu tidak menyadari bahwa ia baru saja menangis sambil menatap Naruto dan Sara yang sudah pergi entah kemana. Neji ikut melihat ke arah yang dipandang Hinata dan tidak melihat apapun yang mencurigakan.

"Sepertinya ada debu di sini" kata Hinata sambil berpura-pura mengucak matanya sementara beberapa butir air matanya kembali mengalir.


"Naruto!" Menma berseru kencang ketika melihat adiknya itu bersama Uchiha Sasuke baru saja pulang sekolah. Mereka berpapasan dari arah yang berbeda. Bukankah seharusnya Naruto latihan setelah pulang sekolah?

Naruto melihat kakaknya, bersama Hyuuga Hinata menunggu mereka. Sasuke melihat sebentar bagaimana ekspresi temannya itu, lalu melihat ke arah Menma dan Hinata.

"Kau pulang lebih awal? Latihanmu?" tanya Menma

"Latihannya sudah selesai kemarin. Aku disuruh istirahat yang cukup oleh Kakashi sensei untuk turnamen besok" jawab Naruto. Menma mengangguk.

"Ngng...Hinata-neesan, apa kau bisa ikut dengan kami?" tanya Sasuke tiba-tiba. Naruto dan Menma langsung melihat Sasuke dengan kening mengerut. Hinata juga kaget.

"Begini, aku dan Naruto mau menjemput Sakura. Dia pacarku dan dia ingin berkenalan dengan Hinata-neesan" jelas Sasuke untuk menghentikan tatapan aneh tiga orang itu terhadapnya. Naruto kaget mendengar penjelasan Sasuke. Kenapa Sasuke tidak memberitahunya kalau Sakura ingin bertemu Hinata?

"A-ada apa denganku? M-maksudku, kenapa aku?" tanya Hinata heran. Kenapa pacar Sasuke tiba-tiba ingin bertemu dengannya? Padahal mereka tidak pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya. Naruto melihat tajam pada Sasuke. Sasuke pasti sengaja tidak memberitahunya tentang Sakura yang ingin bertemu Hinata.

"Ikutlah Hinata-san" ujar Menma. Hinata langsung menoleh ke arah pemuda itu dengan kening mengerut. Hinata bukannya tidak ingin ikut atau menolak tawaran Sasuke. Tetapi, melihat sikap Naruto padanya dan tentang gadis bernama Sara yang ia kenal kemarin membuat Hinata entah kenapa merasa cemas pada dirinya sendiri.

"Aku tidak akan memberikan adikku padamu begitu saja kalau kau tidak yakin pada perasaanmu sendiri, Hinata-san" bisik Menma sangat pelan pada telinga gadis Hyuuga itu. Hinata langsung melihat kaget ke arah kakak Uzumaki Naruto itu. Apa yang baru saja Menma katakan padanya?

"Naruto, kau harus menjaganya baik-baik kalau ingin Hinata-san ikut dengan kalian" ujar Menma . Pemuda itu tersenyum lebar lalu segera berjalan pergi setelah menepuk pundak Hinata sekilas. Sasuke melihat sikap dua orang itu heran. Sikap Mennma dan Hinata. Kenapa mereka terlihat biasa saja? Seperti teman pada umumnya. Sayangnya, Naruto tidak melihat dan mengartikan situasi tersebut seperti Sasuke. Pemuda berambut kuning itu hanya bisa mengartikan dari apa yang ia lihat dan ia dengar saja. Seperti, kenyataan bahwa kakaknya dan Hyuuga Hinata terlihat lebih akrab seperti biasa. Menma sampai menyampaikan sesuatu pada Hinata dengan berbisik langsung di telinga gadis itu. Sesuatu yang penting dan pribadi. Dan lagi, Menma sempat menepuk pelan pundak Hinata. Sikap dan cara berpikir Naruto seperti itulah yang membuat beberapa hal menjadi salah paham. Anak itu tidak pernah jatuh cinta. Jadi, dia tidak tahu bagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta, bersikap dan melakukan sesuatu. Naruto hanya melihat segalanya dan apa yang terjadi di depan matanya.

Sasuke menahan senyumnya dan berpura-pura bersikap serius sambil mengajak Naruto dan Hinata kembali berjalan menuju halte. Sakura memang sengaja ingin bertemu dengan Hinata dan menyuruh Sasuke untuk tidak memberitahu Naruto dulu. Sakura ingin beberapa waktu yang akan Naruto dan Hinata lewatkan selama perjalanan menjemputnya dan saat perjalanan pulang nanti, menciptakan sebuah hubungan baru yang menjadi lebih baik atau setidaknya, mereka kembali bersikap seperti biasa. Sakura benar-benar geram mendengar cerita Sasuke tentang Naruto, Hinata, dan Menma. Gadis itu perlu bertemu langsung dengan si bodoh Naruto dan gadis bernama Hyuuga Hinata itu. Sakura tidak menyalahkan siapapun diantara Hinata dan Menma. Gadis itu malah berbalik mengomeli Sasuke karena terlalu gegabah dengan langsung memberitahu Naruto apa yang telah ia dengar. Sasuke sempat membela diri, namun, tuduhan Sakura padanya tak terbantahkan. Karena, menurut gadis Haruno itu, apa yang Sasuke dengar hanya satu persen dari seratus persen yang seharusnya pemuda Uchiha itu dengarkan.


"Apa sekarang sedang musim libur? Kenapa di sini ramai sekali?" kata Sasuke setelah mereka berdiri dan menunggu kereta Sakura yang akan sampai beberapa menit lagi. Naruto dan Hinata melihat disekeliling mereka. Keadaan stasiun memang sangat ramai dan hampir sesak. Sasuke melirik diam-diam pada Naruto dan Hinata yang berdiri masing-masing disisinya. Dengan suara lantang, Sasuke kemudian berseru dengan nada cemas.

"Hinata-neesan, berbahaya berdiri dipinggir sendirian, kemarilah..." Sasuke hampir saja memegang lengan Hinata untuk memegang gadis itu agar tidak berbenturan dengan banyak orang yang berlalu-lalang di stasiun. Namun, tangan Naruto tiba-tiba melewati punggungnya dengan sangat cepat dan menarik tubuh Hyuuga Hinata sampai berada tepat disampingnya. Sasuke cukup kaget meskipun itu adalah rencananya. Pemuda itu hanya tidak menyangk kalau reaksi Naruto akan sampai benaar-benar serius padahal Sasuke hanya memancingnya. Sambil menahan senyumnya, Sasuke kembali berpura-pura hanya melihat ke depan. Sekarang, posisi Hinata menjadi diantara Naruto dan Sasuke dengan jarak Sasuke yang sengaja dibuat tidak terlalu dekat untuk memberikan waktu pada dua orang itu.

Hinata sangat kaget dan mengira dirinya akan diculik oleh seseorang ketika gadis itu menyadari kalau Uzumaki Narutolah yang telah menariknya. Pemuda itu merangkul pinggangnya sangat erat sampai membuat Hinata sangat sulit bergerak. Sementara Naruto sedang menatap tajam pada beberapa pria yang menurutnya terlihat mencurigakan. Tangan kanannya yang merangkul pinggang Hinata semakin erat ketika pemuda itu melihat pria yang juga balas melihat ke arah mereka.

"Jangan menjauh!" kata Naruto tegas sambil tetap melihat-lihat keadaan disekelilingnya yang masih sangat ramai. Naruto hanya tidak ingin pria-pria jahat mendekati Hinata dan bahkan sampai berani menyentuh gadis Hyuuga itu.

"N-N-N-Naruto-kun..."

"Apa mereka ingin kubunuh? Berhenti menatap kesini, sialan!" umpat Naruto sambil menatap tajam ke arah beberapa pria yang memang terus melihat ke arah Hyuuga Hinata. Mereka seperti tidak pernah melihat gadis seperti Hyuuga Hinata. Gadis dengan mata lavender yang sangat indah.

Hinata bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena sikap Naruto padanya yang benar-benar mengejutkan. Naruto kemudian menoleh ke arah Hinata dengan wajah serius.

"Aku benci mereka menatapmu seperti itu. Menunduklah" kata Naruto sambil menaruh kepala Hyuuga di depan bahunya. Kedua mata Hinata melebar kaget. Naruto benar-benar memeluknya sekarang. Gadis itu bisa merasakan detak jantung Naruto yang cepat. Bukan hanya pemuda itu, Hinata bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


TBC